Jurnal Rekayasa Sistem Industri Volume 14 No 2 - Oktober 2025 http://journal. id/index. php/jrsi/index ISSN 2339-1499 . Ae ISSN 0216-1036 . Disampaikan : 15 Juli 2025 Direview : 28 Juli 2025 Diterima : 11 Agustus 2025 Intensi Konsumen dalam Menggunakan BBM yang Lebih Ramah Lingkungan berdasarkan UTAUT2 dengan Mempertimbangkan Aspek Keberlanjutan Marvel Gideon Trisnadi Pangaribuan1. Hotna Marina Sitorus2 1,. Pusat Studi Sistem Enterprise. Program Studi Teknik Industri. Universitas Katolik Parahyangan Jl. Ciumbuleuit 94. Bandung 40141 Email: marvelpangaribuan13@gmail. com1, nina@unpar. Abstract This research aims to identify the factors influencing the intention to use more environmentally friendly fuel for private vehicles. According to the regulations of the Ministry of Energy and Mineral Resources (ESDM), environmentally friendly fuel is fuel with a minimum octane rating of 91 or a minimum cetane rating of 51. Although the Indonesian government has encouraged the public to use environmentally friendly fuel, the public has not yet made this fuel their primary choice. This study examines the intention to adopt environmentally friendly fuel based on the Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT. In line with the characteristics of environmentally friendly fuel, this research enriches the UTAUT2 model with a sustainability perspective through the variables of environmental knowledge and environmental friendliness, which are the theoretical contributions of the study. The developed research model was evaluated using Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) based on 129 data collected from residents of major cities in Indonesia who refuel their vehicles. The results of this study found that environmental knowledge, habit, and price value significantly influence the public's intention to use environmentally friendly fuel. This research also offers practical contributions for stakeholders in the form of recommendations such as socialization and economic promotion to increase the use of more environmentally friendly fuel in Indonesia. Keywords: adoption intention, environmentally friendly fuel. UTAUT 2, environmental knowledge, sustainability Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang memengaruhi intensi masyarakat dalam menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang lebih ramah lingkungan untuk kendaraan pribadi. Sesuai ketentuan Kementerian ESDM. BBM ramah lingkungan adalah BBM dengan nilai oktan minimal 91 atau nilai cetan minimal 51. Meski pemerintah Indonesia sudah mengajak masyarakat untuk menggunakan BBM ramah lingkungan, masyarakat masih belum menjadikan BBM ini sebagai pilihan utama. Penelitian ini mengkaji intensi adopsi BBM ramah lingkungan berdasarkan model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT. Sesuai dengan karakteristik BBM ramah lingkungan, penelitian ini memperkaya model UTAUT2 dengan perspektif keberlanjutan melalui variabel pengetahuan lingkungan dan tingkat keramahan lingkungan, yang merupakan kontribusi teoretis Model penelitian yang dikembangkan dievaluasi dengan Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) berdasarkan 129 data yang diambil dari penduduk kota besar di Indonesia yang mengisi BBM untuk kendaraan pribadi. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pengetahuan lingkungan, kebiasaan, dan nilai harga secara signifikan memengaruhi niat masyarakat menggunakan BBM ramah lingkungan. Penelitian ini juga menawarkan kontribusi praktis bagi para pemangku kepentingan berupa rekomendasi seperti sosialisasi dan promosi ekonomis untuk meningkatkan penggunaan BBM yang lebih ramah lingkungan di Indonesia. Kata kunci: niat adopsi. BBM ramah lingkungan. UTAUT2, pengetahuan lingkungan, keberlanjutan Pendahuluan negara yang tingkat emisi karbonnya tinggi akibat dari ketergantungan terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) (Ramadan et al. , 2. Oleh karena itu guna mengurangi emisi karbon yang tercipta, masyarakat Berdasarkan laporan dari International Energy Agency (IEA). Indonesia merupakan salah satu DOI: https://doi. org/10. 26593/jrsi. Indonesia sebaiknya menggunakan BBM yang ramah lingkungan. Pemerintah Indonesia telah berupaya melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengkampanyrkan penggunaan BBM ramah lingkungan, di mana menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) BBM yang termasuk ramah lingkungan memiliki spesifikasi minimal nilai Oktan 91 dan nilai Cetane 51 (Permen LHK No. 20, 2. Upaya ini dilakukan guna mencapai target pengurangan emisi karbon sebesar 29% pada tahun 2030. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan penggunaan BBM ramah lingkungan adalah pembatasan penggunaan BBM dengan nilai oktan di bawah 91. Dimana pertamina Pertalite menerapkan kebijakan barcode. Permasalahan BBM ramah lingkungan adalah jenis BBM ini belum menjadi pilihan utama dari masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dari data penjualan BBM oleh pertamina yang mencapai 105 juta kl . ilo lite. , dimana hanya 43 juta kl yang merupakan BBM ramah lingkungan. BBM ramah lingkungan perlu menjadi pilihan utama masyarakat karena manfaat yang dihasilkan untuk keberlanjutan lingkungan baik dan untuk memenuhi target pengurangan karbon emisi pada tahun 2030. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor yang memengaruhi intensi masyarakat dalam menggunakan BBM ramah lingkungan. Penelitian - penelitian terdahulu masih berfokus pada faktor harga dari BBM ramah lingkungan, keunggulan dari BBM ramah lingkungan untuk kendaraan, sikap lingkungan terhadap penggunaan BBM ramah lingkungan dan juga pengetahuan terhadap produknya. Seperti penelitian Widodo & Wahid . sikap lingkungan memegaruhi niat beli ulang terhadap BBM ramah lingkungan dalam penelitian ini pertamax. Kemudian pada penelitian Khoiruman et al. harga dan pengetahuan produk memengaruhi niat beli BBM ramah pada penelitian ini BBM yang dijadikan penelitian adalah Pertamax Turbo. Pada penelitian Haryanto et al. harga dan pengetahuan produk memengaruhi niat adopsi BBM ramah lingkungan, yang pada kasus ini Pertalite. Penelitian ini mempertimbangkan juga aspek keberlanjutan dalam penggunaan BBM ramah lingkungan karena belum ada penelitian yang mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Aspek tersebut akan ada di faktor environmental Aspek ini akan menguji apakah semakin keberlanjutan maka niat beli BBM ramah lingkungan akan meningkat. Pada penelitian sebelumnya juga BBM yang diuji hanya 1 tipe secara spesifik seperti Pertalie. Pertamax, dan Pertamax Turbo. Penelitian ini akan mengkaji BBM yang beredar di Indonesia yang memenuhi peraturan dari pemerintah yaitu, nilai Oktan minimal 91 dan nilai Cetane 51. Metodologi Pengembangan Model Model penelitian yang digunakan dikembangkan dari model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT. yang - dimodifikasi dengan penambahan beberapa faktor. Faktor yang ditambahkan adalah environmental friendliness dan environmental knowledge. Model penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. Model UTAUT 2 ini biasa dipakai untuk mengukur niat adopsi sebuah teknologi baru (Venkatesh et al. Terdapat mengembangkan model UTAUT 2 untuk teknologi berkelanjutan (Neves et al. , 2. Penelitian Ae penelitian tersebut yang dijadikan acuan untuk model penelitian kali ini. Berdasarkan beberapa penelitian tentang niat adopsi teknologi tersebut dibuat beberapa hipotesis untuk niat adopsi BBM ramah lingkungan pada penelitian ini. Menurut Kurnia & Sitorus . performance expectancy terbukti memengaruhi secara positif niat Penggunaan mobile wallet sebagai alternatif pembayaran dapat mempermudah transaksi yang Manfaat menggunakan teknologi tersebut. Oleh karena itu dapat dirumuskan hipotesis untuk BBM ramah lingkungan sebagai berikut : H1: Performance Expectancy secara positif memengaruhi niat adopsi BBM ramah lingkungan. Effort expectancy merupakan tingkat kemudahan dalam menggunakan suatu teknologi (Neves et al. Tingkat kemudahan dalam menggunakan suatu teknologi dapat memengaruhi niat adopsi atau niat adopsi seseorang. Menurut Selvi . effort expectancy memengaruhi niat adopsi kendaraan listrik secara positif sehingga semakin mudah kendaraan listrik digunakan maka niat adopsi dapat Berdasarkan hal tersebut maka dapat dibuat hipotesis : H2 : Effort expectancy secara positif memengaruhi niat adopsi BBM ramah lingkungan Social Influence dapat diartikan sebagai tingkat kepercayaan seseorang terhadap orangAeorang terdekatnya bahwa mereka harus menggunakan suatu teknologi. Menurut Huang . social influence menjadi salah satu faktor yang signifikan DOI: https://doi. org/10. 26593/jrsi. niat adopsi pasien terhadap digital service di rumah Hal ini menunjukkan opini orang terdekat dapat membuat seseorang menerima suatu teknologi baru untuk mereka gunakan. Oleh karena itu dapat dirumuskan hipotesis untuk niat adopsi BBM ramah lingkungan sebagai berikut : H3 : Social Influence secara positif memengaruhi niat adopsi BBM ramah lingkungan Facilitating kepercayaan seseorang terhadap suatu teknologi berdasarkan sumber daya dan fasilitas yang tersedia untuk menggunakan teknologi tersebut. Wang et al. menyatakan bahwa facilitating condition memengaruhi niat adopsi kendaraan listrik di China. Banyaknya infrastruktur yang mendukung China meningkatkan niat adopsi masyarakatnya untuk mulai menggunakan kendaraan elektrik. Hal ini didukung juga dengan banyaknya brand kendaraan listrik yang berasal dari China sehingga fasilitas yang mendukung mobil listrik menjadi banyak di China. Berdasarkan hal tersebut dapat dirumuskan hipotesis untuk niat adopsi BBM ramah lingkungan sebagai berikut: H4 : Facilitating condition secara positif memengaruhi niat adopsi BBM ramah lingkungan Hedonic motivation merupakan rasa senang yang dialami seseorang saat menggunakan suatu teknologi (Venkatesh et al. , 2. Utami . menyatakan bahwa hedonic motivation merupakan faktor yang memengaruhi niat adopsi teknologi QRIS. Semakin menggunakan teknologi tersebut maka semakin meningkat niat untuk menggunakan teknologi Pengalaman dalam menggunakan teknologi ini yang dianggap menyenangkan oleh Berdasarkan hal tersebut dapat dirumuskan hipotesis untuk niat adopsi BBM ramah lingkungan sebagai berikut : H5 : Hedonic motivation secara positif memengaruhi niat adopsi BBM ramah lingkungan. Price value dapat didefinisikan sebagai keuntungan yang didapat seseorang dibandingkan dengan harga yang dia bayarkan untuk menggunakan teknologi tersebut (Venkatesh et al. Menurut Kurnia & Sitorus . Price value memengaruhi niat adopsi mobile wallet secara Keuntungan dari menggunakan mobile wallet dengan fitur Ae fitur dan kemudahan yang ditawarkan dan juga biaya yang minim bahkan gratis membuat seseorang menganggap bahwa penggunaan mobile wallet sangat baik secara nilai yang didapat dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan oleh Berdasarkan contoh tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis untuk niat adopsi BBM ramah lingkungan sebagai berikut: H6 : Price value secara positif memengaruhi niat adopsi BBM ramah lingkungan. Menurut Venkatesh . , habit adalah tingkat seseorang melakukan perilaku yang sama secara otomatis setelah menggunakan suatu teknologi. Menurut Kurnia & Sitorus . habit memengaruhi niat adopsi mobile wallet. Kebiasaan menggunakan mobile wallet akan terbentuk ketika konsumen sudah merasakan hasil yang memuaskan pada setiap kesempatan memakai mobile wallet. Berdasarkan hal tersebut dapat dirumuskan hipotesis untuk niat adopsi BBM ramah lingkungan sebagai berikut : H7 : Hedonic motivation secara positif memengaruhi niat adopsi BBM ramah lingkungan. Menurut Rabindra friendliness adalah karakteristik yang menunjukkan bahwa suatu produk, layanan, atau teknologi dibuat dan digunakan dengan cara yang meminimalkan dampak buruk pada lingkungan, menghemat sumber daya alam, dan berkelanjutan. Pada Rabindra friendliness menjadi faktor yang memengaruhi niat adopsi penggunaan eAescooter. Niat adopsi konsumen meningkat karena produk eAescooter merupakan produk yang ramah lingkugan. Berdasarkan hal tersebut dapat dirumuskan hipotesis untuk niat adopsi BBM ramah lingkungan sebagai berikut: H8 : Environmental friendliness secara positif memengaruhi niat adopsi BBM ramah lingkungan. Environmental knowledge adalah pengetahuan mengenai energi dan lingkungan yang berhubungan dengan keberlanjutan (Neves et al. , 2. Penelitian Neves et al. juga membuktikan environmental knowledge menjadi faktor yang Semakin seseorang mengetahui tentang teknologi berkelanjutan maka niat adopsi atau menggunakan orang tersebut akan semakin Berdasarkan hal tersebut dapat dirumuskan hipotesis untuk niat adopsi BBM ramah lingkungan sebagai berikut: H9 : Environmental Knowledge secara positif memengaruhi niat adopsi BBM ramah lingkungan. Hipotesis untuk penelitian ini menggunakan referensi dari penelitian di luar Indonesia dan juga objek penelitian yang berbeda dari BBM ramah lingkungan, tetapi hipotesa ini tetap bisa digunakan karena penelitian Ae penelitian yang dijadikan referensi merupakan penelitian tentang niat adopsi suatu teknologi yang baru dimana masyarakat DOI: https://doi. org/10. 26593/jrsi. belum biasa untuk menggunakan teknologi baru Untuk konteks BBM ramah lingkungan dapat digunakan hipotesis tersebut karena banyak masyarakat Indonesia yang belum terbiasa menggunakan BBM ramah lingkungan, oleh karena itu BBM ramah lingkungan dapat dianggap sebagai suatu teknologi yang baru bagi masyarakat Indonesia. BBM ramah lingkungan mengikuti model UTAUT 2 dan sedikit modifikasi sesuai dengan kebutuhan Penelitian ini menggunakan masyarakat Indonesia yang pernah mengisi BBM untuk kendaraan pribadi sebagai subjek penelitian. Butir pengukuran performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating condition, hedonic motivation, dan price valuediambil dari penelitian Venkatesh et al. dan Neves et al. Kemudian environmental friendliness diambil dari penelitian Rabindra . dan environmental knowledge diambil dari penelitian Neves et al. Terakhir Behavior Intention diambil dari penelitian Venkatesh et al. dan Neves et al. Total terdapat 31 buah butir pengukuran. Butir pengukuran tersebut akan diukur dengan skala Likert 1 sampai 5. Nilai 1 menandakan sangat tidak setuju, 2 tidak setuju, 3 netral, 4 setuju, dan 5 sangat Pengumpulan data menggunakan kuesioner daring disebarkan di Indonesia kepada masyarakat yang pernah mengisi BBM ramah lingkungan. Penyebaran kuesioner dilakukan selama 9 hari . Juli 2025 Ae 11 Juli 2. dengan 129 responden. Berikut merupakan profil responden yang dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Profil Responden Faktor Jenis Kelamin Usia . Butir Jumlah Pria Wanita > 45 Hasil dan Pembahasan Model penelitian dievaluasi dengan Partial Least Squares Ae Structural Equation Modeling (PLS-SEM), menggunakan perangkat lunak SmartPLS 4. Terdapat 2 langkah yang perlu dilakukan dalam evaluasi model menggunakan PLS-SEM. Langkah pertama adalah evaluasi model pengukuran, kemudian diikuti dengan evaluasi model struktural. Gambar 1. Model Penelitian Pengumpulan Data Pada penelitian ini data dikumpulkan dengan metode survei menggunakan kuesioner daring. Butir pengukuran yang digunakan di penelitian niat adopsi Evaluasi Model Pengukuran Evaluasi model pengukuran diawali dengan memperhatikan nilai outer loading dari setiap Menurut Hair et al. , indikator yang melebihi nilai 0,708 dinyatakan reliabel. Dapat dilihat pada Tabel 2, semua indikator dalam model pengukuran reliabel. Kemudian terdapat reliabilitas DOI: https://doi. org/10. 26593/jrsi. komposit dan validitas konvergen dari model penelitian yang dinilai berdasarkan nilai composite reliability (CR) dan average variance extracted (AVE) dengan nilai minimum masingAemasing 0,708 dan 0,5. Berdasarkan tabel 2 maka nilai CR dan AVE seluruh variabel telah memenuhi syarat. Tabel 2. Outer loadings. AVE, dan CR Konstruk Performance Expectancy Effort Expectancy Social Influence Facilitating Conditions Hedonic Motivation Price value Habit Environmental Friendliness Environmental Behavioral Intention AVE Dapat dilihat pada gambar, model pengukuran sudah memenuhi kriteria tersebut. Tabel 3. Fornell-lacker criterion BI EE EF EK FC HM HT PE PV SI BI 0. EE 0. EF 0. EK 0. FC 0. HM 0. HT 0. PE 0. PV 0. SI 0. Item Loadings PE1 PE2 PE3 PE4 EE1 EE2 EE3 SI1 SI2 SI3 FC1 FC2 FC3 HM1 HM2 HM3 H2:EE -> BI -0,070 PV1 H3:SI -> BI PV2 PV3 HT1 Evaluasi Model Struktural Evaluasi model struktural dapat dilakukan dengan menguji hipotesis pada PLS-SEM, yang dapat dilihat pada Tabel 3. Hipotesis dapat diuji disimpulkan bahwa 3 hipotesis diterima, yang dapat dilihat dari nilai p<0,05. Hipotesis yang diterima adalah EK. HT, dan PV. Tabel 4. Analisis jalur Path Hipotesis H1:PE -> BI 0,025 P values Kesimpulan Ditolak Ditolak -0,059 Ditolak H4:FC -> BI 0,038 Ditolak H5:HM -> BI -0,077 Ditolak H6:PV -> BI 0,213 Diterima HT2 H7:HT -> BI 0,589 Diterima HT3 H8:EF -> BI -0,010 Ditolak EF1 H9:EK -> BI 0,360 Diterima EF2 EF3 EK1 EK2 EK3 BI2 BI3 Kemudian terdapat validitas diskriminan yang dievaluasi berdasarkan Fornell-larcker criterion. Menurut Hair et al. Fornell-lacker criterion merupakan metode yang dapat digunakan untuk menguji validitas diskriminan pada PLS-SEM, dimana nilai akar AVE antara sebuah variabel dan variabel itu sendiri harus lebih tinggi dari nilai korelasi dengan variabel lainnya (Hair et al. , 2. Selain itu berdasarkan hasil evaluasi model struktural didapatkan nilai koefisien determinasi model (R. adalah sebesar 0,747. Kemudian terdapat nilai VIF untuk seluruh konstruk lebih kecil dari 5 dan dapat disimpulkan bahwa tidak ada permasalahan kolinearitas. Oleh karena itu evaluasi model struktural dapat dilakukan. Nilai hasil VIF dapat dilihat pada Tabel 5. Pembahasan Berdasarkan pengujian hipotesis yang dilakukan terdapat 3 dari 9 hipotesis yang diterima. Environmental knowledge ditemukan signifikan berpengaruh positif terhadap niat adopsi BBM ramah lingkungan. Hasil ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa semakin tinggi DOI: https://doi. org/10. 26593/jrsi. Tabel 5. Nilai VIF pemahaman seseorang terhadap environmental knowledge, maka semakin tinggi niat adopsi atau menggunakan teknologi yang ramah lingkungan (Neves et al. , 2. Hal ini menunjukkan jika tingkat pemahaman masyarakat terhadap lingkungan dan keberlanjutan tinggi, maka niat masyarakat untuk membeli BBM ramah lingkungan juga akan Hal ini disebabkan kurangnya informasi yang sampai ke masyarakat mengenai BBM ramah Pemerintah kurang gencar dalam mensosialisasikan dampak dari pencemaran lingkungan yang dapat terjadi karena emisi karbon dari BBM yang tidak ramah lingkungan. Penelitian ini juga menemukan bahwa price value secara signifikan memengaruhi secara positif niat adopsi BBM ramah lingkungan. Hal ini konsisten dengan penelitian terdahulu dimana semakin tinggi nilai manfaat suatu barang maka akan semakin tinggi niat adopsi atau adopsinya (Kurnia & Sitorus. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai manfaat dari BBM ramah lingkungan maka semakin tinggi niat adopsi masyarakat. Hipotesis price value berpengaruh secara signifikan disebabkan oleh pandangan masyarakat terhadap nilai yang didapatkan dari menggunakan BBM ramah lingkungan masih rendah jika dibandingkan dengan opsi BBM tidak ramah lingkungan yang lebih Masyarakat belum mengetahui nilai lebih yang ditawarkan dari produk BBM ramah lingkungan terhadap kendaraannya dan juga lingkungan. Kemudian hipotesis terakhir yang diterima adalah Habit berpengaruh positif secara signifikan terhadap niat adopsi BBM ramah lingkungan. Hasil ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang menyatakan semakin sering atau semakin terbiasa seseorang menggunakan suatu barang, maka semakin tinggi menggunakan barang tersebut (Kurnia & Sitorus. Untuk penelitian ini maka semakin terbiasa orang membeli BBM ramah lingkungan, maka niat adopsi BBM ramah lingkungan dapat meningkat. Faktor habit belum tumbuh di masyarakat ini menggunakan BBM ramah lingkungan secara jangka panjang sehingga niat adopsinya belum Penelitian ini tidak menunjukkan signifikansi dari beberapa hipotesis. Untuk faktor Effort expectancy dimana tingkat kemudahan dalam membeli BBM ramah lingkungan memengaruhi niat adopsi terbukti tidak signifikan. Hal ini menandakan mudah tidaknya membeli BBM ramah lingkungan tidak berpengaruh terhadap niat adopsi. Hal ini disebabkan SPBU di Indonesia menyediakan opsi BBM ramah lingkungan dan tidak ramah lingkungan sehingga tingkat kemudahannya sama. Kemudian untuk performance expectancy dimana tingkat efisiensi dan kinerja mesin setelah menggunakan BBM ramah lingkungan dapat memengaruhi niat adopsi terbukti tidak signifikan. Hasil tersebut menandakan performa kendaraan setelah menggunakan BBM ramah lingkungan tidak memengaruhi niat adopsi. Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena masyarakat Indonesia tidak terlalu memerhatikan perbedaan performa dari kendaraannya saat menggunakan BBM ramah lingkungan dan tidak ramah lingkungan. Kemudian hipotesis social influence juga ditolak pada penelitian ini, hal tersebut menandakan pandangan orang sekitar dan masyarakat tidak berpengaruh pada niat adopsi BBM ramah Social influence tidak signifikan disebabkan lingkungan masyarakat Indonesia belum memandang pemakaian BBM ramah lingkungan sebagai suatu hal yang baik. Kemudian dengan ditolaknya hipotesis hedonic motivation, maka tingkat kesenangan dan kepuasan seseorang saat membeli BBM ramah lingkungan tidak memengaruhi niat adopsi BBM ramah lingkungan. Hal ini Indonesia kesenangan/kebanggaan menggunakan BBM ramah lingkungan. Hipotesis facilitating condition juga ditolak, hal tersebut menandakan lengkapnya sarana dan prasarana BBM ramah lingkungan tidak memengaruhi niat adopsi BBM ramah lingkungan. Hal ini juga disebabkan oleh keadaan SPBU di Indonesia yang menyediakan kedua opsi dari BBM ramah lingkungan dan BBM tidak ramah lingkungan. Kemudian hipotesis terakhir yang ditolak adalah environmental friendliness yang menandakan tingkat keramahan terhadap lingkungan dari BBM tidak berpengaruh pada niat adopsi BBM ramah DOI: https://doi. org/10. 26593/jrsi. Hal ini disebabkan tingkat kepedulian masyarakat Indonesia terhadap tingkat keramahan lingkungan dari suatu produk masih rendah sehingga produk BBM ramah lingkungan yang tingkat ramah lingkungan cukup tinggi tidak menarik perhatian masyarakat untuk menggunakannya. Dari hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan BBM ramah lingkungan akan terus membeli BBM ramah lingkungan. Masyarakat juga menginginkan BBM ramah lingkungan yang nilai yang didapatkan dari membeli BBM ramah lingkungan sesuai dengan harga yang dibayarkan. Kemudian masyarakat yang sudah teredukasi tentang environmental knowledge yang membahas hal Ae hal seperti sustainability dan green product akan lebih memilih untuk membeli BBM ramah lingkungan. Kesimpulan Penelitian ini menemukan bahwa habit, environmental knowledge, dan price value secara signifikan memengaruhi niat adopsi BBM ramah Hal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah melalui Pertamina masih perlu melakukan upaya perbaikan agar niat adopsi BBM ramah lingkungan bisa meningkat. Environmental signifikan berarti masih banyak masyarakat di Indonesia yang belum teredukasi mengenai BBM ramah lingkungan dan manfaatnya terhadap kendaraan dan lingkungan. Pemerintah bisa melakukan lebih banyak sosialisasi penggunaan BBM ramah lingkungan agar lebih banyak masyarakat yang mengetahui BBM ramah Sosialisasi ini lebih baik diutamakan di daerah Ae daerah yang sudah tersedia BBM ramah lingkungan agar sosialisasi tepat sasaran. Kemudian dari segi price value, pihak Pertamina atau SPBU lain bisa memberikan promo pada setiap pembelian BBM ramah lingkungan. Misalnya setiap pembelian BBM dengan oktan lebih dari 95 dan BBM diesel dengan cetane lebih dari 51 bisa mendapatkan bonus atau merchandise. Hal ini dapat memicu masyarakat yang belum pernah membeli BBM ramah lingkungan. Untuk memancing persepsi masyarakat terhadap nilai yang didapatkan saat membeli BBM ramah lingkungan Untuk faktor habit, jika orang sudah terbiasa BBM lingkungan maka orang tersebut akan cenderung BBM Permasalahannya dari faktor habit ini adalah menumbuhkan habit tersebut kepada masyarakat yang belum terbiasa menggunakan BBM ramah Oleh karena itu dua faktor sebelumnya dapat dimaksimalkan dulu agar faktor habit ini bisa bertumbuh di masyarakat. Pemerintah juga dapat menumbuhkan habit dengan cara membuat kebijakan baru seperti menghilangkan opsi BBM yang tidak ramah lingkungan. Namun hal tersebut akan menimbulkan sentimen negatif bagi pemerintah karena dianggap memaksa untuk menggunakan BBM ramah lingkungan. Oleh karena itu rekomendasi yang dapat menggencarkan kegiatan sosialisasi mengenai manfaat dari penggunaan BBM ramah lingkungan. Tidak hanya manfaat untuk kendaraan, manfaat untuk keberlanjutan lingkungan juga perlu disosialisasikan untuk meningkatkan kesadaran Dengan dilakukannya sosialisasi ini diharapkan pengetahuan masyarakat akan manfaat penggunaan BBM ramah lingkungan terhadap keberlanjutan lingkungan akan meningkat dan banyak masyarakat yang mulai membiasakan diri menggunakan BBM ramah lingkungan. Kedua rekomendasi lain juga bisa dilakukan seperti memberikan promo dan membuat kebijakan baru, namun untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sosialisasi harus dilakukan dengan lebih gencar dan menjadi fokus utama pemerintah. Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu, sebaiknya penelitian berikutnya menambahkan beberapa faktor yang mungkin memengaruhi niat adopsi BBM ramah lingkungan. Selain itu, dapat juga pemerintah/pemerintah agar mengetahui kesulitan sebenarnya dari meningkatkan BBM ramah Daftar Pustaka