MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT DIABETES MELLITUS TIPE II DI PUSKESMAS BENU-BENUA KECAMATAN KENDARI BARAT KOTA KENDARI Risk Factors Incidence Diabetes Mellitus Type II In Community Health Center City BenuBenua Kendari Nur Haisa,1 La Djabo Buton,2 Hartian Dode3 Program Studi Kesehatan Masyarakat STIKES Mandala Waluya Kendari . urhaisa@gmail. com No. Hp:085397408. ABSTRAK Jumlah Penderita Diabetes Mellitus Tipe II di wilayah Puskesmas Benu-Benua Kota Kendari terjadi peningkatan kasus tahun 2015 sebesar 1,70%, 2016 sebesar 1,72% dan 2017 sebesar 1,75%, target dan pencapaian pengobatan Diabetes Mellitus 100% -60%, belum optimal karena penderita diperoleh secara pasif. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor risiko kejadian Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas Benu-Benua Kota Kendari. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain Case Control Study. Populasi penelitian yaitu semua pasien Diabetes Mellitus Tipe II yang terdapat dalam rekam medik di Puskesmas Benu-Benua Kota Kendari berjumlah 63 pasien. Sampel penelitian yaitu sebagian pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas Benu-Benua Kota Kendari periode bulan Januari sampai Juli 2018 terdiri dari kasus berjumlah 54 dan kontrol berjumlah 54. Analisis Odds Rasio (OR). Hasil penelitian stres berisiko menderita Diabetes Mellitus Tipe II sebesar 6 kali lebih besar di bandingkan dengan responden yang tidak stres, responden yang obesitas berisiko menderita Diabetes Melitus tipe II sebesar 3 kali lebih besar dibandingkan dengan responden yang normal, dan responden yang ada riwayat keluarga menderita Diabetes Melitus tipe II berisiko sebesar 7 kali lebih besar dibandingkan dengan responden yang tidak ada riwayat keluarga. Kata Kunci : Diabetes Mellitus Tipe II. Stres. Obesitas. Riwayat keluarga ABSTRACT The amount of People with Diabetes Mellitus Type II in community health center Benu-Benua Kendari increased prevalence in 2015 amounted to 1,70%, 2016 amounted to 1,72% and 2017 amounted to 1,75%. The aim of research to identify risk factors the incidence of Diabetes Mellitus Type II in community health center Benu-Benua Kendari. This research method is quantitative research design with Case Control Study. The population was all Type II Diabetes Mellitus patients found in medical records at Benu-Benua Public Health Center in Kendari City totaling 63 patients. The sample of the study were some patients with Type II Diabetes Mellitus at Benu-Benua Public Health Center in Kendari City from January to July 2018 consisting of 54 cases and 54 controls. Analysis Odds Ratio (OR). The results of the study diet is a risk factor affecting the incidence of Diabetes Mellitus Type II with OR = 6. % CI 2. , obesity is a risk factor affecting the incidence of Diabetes Mellitus Type II OR = 2. % CI 1. and a family history of suffering from Diabetes Mellitus Type II is a risk factor affecting the incidence of Diabetes Mellitus Type II with OR = 7. 429 (CI 95% 3,17017. it was concluded that respondents who were at risk of suffering were 6 times greater than respondents who were not stressed, respondents who were obese had a risk 3 times greater than normal respondents and respondents who had a family history at risk were 7 times greater than respondents who did not exist family history. Keywords : Diabetes Mellitus Type II. Stress. Obesity. Family history MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 Diabetes Mellitus di dunia dengan 1/3 jumlah PENDAHULUAN Organization (WHO), penderita Diabetes Mellitus Tipe II Survei World Health tahun 2000 di Dunia tercatat 175,4 juta orang Data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi dan tahun 2010 menjadi 279,3 juta orang dengan Tenggara prevalensi 5,1%, jika tidak ada tindakan lanjut Diabetes Mellitus Tipe II pada tahun 2015 untuk penanganan, diperkirakan tahun 2020 sebanyak 1271 orang dengan prevalensi sebesar menjadi 300 juta orang, prevalensi 6,0% dan 1,0%, pada tahun 2016 penderita Diabetes tahun 2030 menjadi 5526 juta orang dengan Mellitus Tipe II sebanyak 2512 orang dengan prevalensi 6,3%. Urutan penderita dengan prevalensi sebesar 1,1%, dan pada tahun 2017 jumlah tertinggi adalah India. Cina. Amerika dari 17 wilayah kabupaten/kota meningkat Serikat dan Indonesia menempati urutan ke-4 menjadi 3824 orang dengan prevalensi sebesar terbesar di Dunia. Peningkatan jumlah penderita 1,5%. Tahun 2015 Diabetes Mellitus Tipe II di Diabetes Mellitus Tipe II di Dunia berkaitan urutan ke-9 dan pada tahun 2017 urutan tersebut dengan jumlah populasi yang meningkat, life bergeser di urutan 5 jenis penyakit tidak menular yang masuk dalam daftar 10 besar penyakit di meningkat dan kegiatan fisik yang kurang. Sulawesi Tenggara. Hal tersebut secara eksplisit Data WHO jumlah Diabetes Mellitus terbanyak yaitu Diabetes Mellitus Tipe II menunjukkan meningkatnya jumlah penderita hipertensi dan DM. diantara tipe-tipe Diabetes Mellitus lainnya yang Data Dinas Kesehatan Kota Kendari dari terjadi 90-95% populasi Diabetes Mellitus, di penderita kasus baru penyakit Diabetes Mellitus Indonesia Diabetes Mellitus tipe II mencapai 85- Tipe II pada tahun 2015 terdapat sebanyak 452 90% dari total Diabetes Mellitus, untuk itu kasus baru dengan prevalensi 1,6%, pada tahun diperlukan upaya pengendalian, pencegahan dan 2016 terdapat sebanyak 602 kasus baru dengan Diabetes 1,7%. Mellitus tipe II. Jumlah prevalensi penderita meningkat sebanyak 873 orang kasus baru Diabetes Mellitus Tipe II di Indonesia antara dengan prevalensi 1,9%. Tahun 2017 dari 15 kasus baru dan total kasus baru dan lama terus Puskesmas di Kota Kendari, dengan prevalensi tertinggi yaitu di Kecamatan Kendari Barat prevalensi sebesar 5,6% yang meningkat tahun sebesar 1,6%. Tahun 2018 periode Januari 2016 mencapai 5,7%, dan diperkirakan tahun sampai dengan Mei berjumlah 63 penderita. 2030 peningkatan sekitar 3 kali lipat menjadi Berdasarkan data tersebut prevalensi penderita 16,8% dari jumlah penduduk dan menempati Diabetes Mellitus Tipe II cenderung mengalami urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Pada MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 Data di wilayah Puskesmas Benu-Benua dengan berat badan rendah. Adapun faktor yang Kota Kendari, penderita Diabetes Mellitus Tipe dapat dimodifikasi yaitu faktor lingkungan dan II pada tahun 2015 berjumlah 100 penderita gaya hidup yang tidak sehat, makanan berlemak kasus baru dengan prevalensi sebesar 1,70%. berlebihan, kurang aktivitas fisik dan stress Pada tahun 2016 berjumlah 116 penderita kasus baru dengan prevalensi sebesar 1,72%. Pada Diabetes Mellitus. tahun 2017 berjumlah 122 penderita kasus baru Studi pendahuluan pada bulan Juli 2018 dengan prevalensi sebesar 1,75%. Berdasarkan pada 10 penderita Diabetes Mellitus yang data tersebut terjadi peningkatan kasus Diabetes dominan penyebabnya yaitu dari 10 orang Mellitus. Periode Januari sampai Juli 2018 penderita Diabetes Mellitus diperoleh 5 orang berjumlah 63 penderita kasus baru, sementara itu . %) mengalami obesitas. Berdasarkan stres target pengobatan 100% tetapi cakupan hanya terdapat 6 orang memiliki gejala stres seperti 60% karena penderita diperoleh secara pasif sering mengalami ketegangan bagian leher, yang berkunjung. gangguan tidur, detak jantung meningkat, dan Diabetes Mellitus Tipe II mempunyai fase terdapat 6 kasus . %) yang memiliki riwayat pra klinis asimtomatik yang panjang sehingga keluarga dari orangtua yaitu ayah riwayat sering tidak terdeteksi. Saat diagnosa, pada menderita Diabetes Mellitus. Berkaitan dengan umumnya lebih separuh mempunyai satu atau pemantauan kadar glukosa dari 10 orang lebih komplikasi. Diabetes Mellitus Tipe II, ini penderita Diabetes Mellitus tersebut tidak rutin jenis yang umum terjadi dan bisa menyerang memantau kadar gula darahnya. siapa saja dari segala usia. Beberapa faktor Berdasarkan risiko terjadinya penyakit Diabetes Mellitus Tipe penulis telah melakukan penelitian dengan judul. II yaitu riwayat keluarga, umur, obesitas, stres. AyFaktor Risiko Kejadian Penyakit Diabetes pola komsumsi makanan, dan aktifitas kurang. Mellitus Tipe II di Puskesmas Benu-Benua oleh karena itu, upaya pencegahan penyakit Kecamatan Kendari Barat Kota KendariAy. Diabetes Mellitus Tipe II perlu mendapat perhatian yang serius, jika tidak dampak penyakit ini akan membawa komplikasi pada tekanan darah tinggi, gagal ginjal dan kerusakan sistem saraf. Faktor risiko Diabetes Mellitus terdiri dari faktor yang tidak dapat dimodifikasi yaitu umur, riwayat keluarga atau genetik, riwayat lahir METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain Case Control Study penyakit Diabetes Mellitus Tipe II. Desain Case Control Study adalah perbandingan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status . Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 9 MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 Agustus 2018 sampai dengan 10 September berjumlah 54 responden . ,0%) terdiri dari Penelitian ini telah dilaksanakan di kontrol yaitu tidak menderita DM Tipe II dan Puskesmas Benu-Benua Kota Kendari. kasus yaitu menderita DM Tipe II masing- Populasi adalah wilayah generalisasi yang masing 27 responden . ,0%), sedangkan terdiri dari obyek atau subyek yang menjadi terendah pada kelompok umur 26-35 Tahun berjumlah 4 responden . ,7%) terdiri dari kontrol yaitu tidak menderita DM Tipe II dan Populasi kasus yaitu menderita DM Tipe II masing- dalam penelitian ini adalah semua penderita Diabetes Mellitus Tipe II yang terdapat dalam masing 2 responden . ,9%). Dari 108 responden berdasarkan jenis rekam medik di Puskesmas Benu-Benua Kota Kendari periode bulan Januari sampai Juli 2018 berjumlah 70 responden . ,8%) terdiri dari berjumlah 63 penderita. Maka diambil sampel kontrol yaitu tidak menderita DM Tipe II dan kasus yaitu pasien menderita Diabetes Mellitus kasus yaitu menderita DM Tipe II masing- Tipe II diambil berjumlah 54 orang dan kontrol masing 35 responden . ,6%) dan laki-laki pasien tidak menderita Diabetes Mellitus Tipe II berjumlah 38 responden . ,2%) terdiri dari diambil berjumlah 54 orang, sehingga jumlah kontrol yaitu tidak menderita DM Tipe II dan seluruh sampel yang diteliti yaitu 108 orang, kasus yaitu menderita DM Tipe II masing- Teknik pengambilan sampel yang digunakan masing 19 responden . ,6%). Dari 108 yaitu Simple Random Sampling yaitu setiap responden berdasarkan pendidikan kontrol yaitu pasien yang datang di Puskesmas Benu-Benua tidak menderita DM Tipe II terbanyak SD sesuai rekam medik suspek menderita Diabetes berjumlah 24 responden . ,2%) dan kasus yaitu Mellitus Tipe II sampai jumlahnya mencukupi menderita DM Tipe II terbanyak SMP berjumlah 108 orang. Matching adalah penyetaraan antara 19 responden . ,6%), sedangkan terendah kasus dan kontrol agar mendapatkan data dari kontrol yaitu tidak menderita DM Tipe II subjek yang homogen dalam hal ini matching pendidikan SMA berjumlah 3 responden . ,8%) kasus dan kontrol yaitu umur dan jenis kelamin dan kasus yaitu menderita DM Tipe II Uji statistic yang digunakan analisis pendidikan Perguruan Tinggi berjumlah 8 odds rasio (OR). ,4%). Menunjukkan bahwa dari 108 responden berdasarkan pekerjaan responden terbanyak bekerja Swasta/Karyawan berjumlah HASIL PENELITIAN Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 108 54 responden . ,0%) terdiri dari kontrol yaitu tidak menderita DM Tipe II berjumlah 29 responden pada kelompok umur 36-45 Tahun responden . ,9%) dan kasus yaitu menderita MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 DM Tipe II berjumlah 25 responden . ,1%) berjumlah 11 responden . ,2%) dan kasus yaitu dan jumlah terendah Pegawai Negeri Sipil menderita DM Tipe II berjumlah 7 responden berjumlah 18 responden . ,7%) terdiri dari . ,5%). kontrol yaitu tidak menderita DM Tipe II Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur. Jenis kelamin. Tingkat pendidikan. Pekerjaan di Wilayah Puskesmas Lainea Kab. Konawe Selatan Tahun 2018 Karakteristik Kasus Umur Jumlah Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Jumlah Pendidikan SMP SMA Pergiuruan Tinggi Jumlah Pekerjaan IRT Wiraswasta PNS Jumlah Sumber: Data Primer, 2018 Kontrol Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 108 Jumlah . ,9%) dan yang tidak Ada Riwayat berjumlah 53 responden . ,1%). berjumlah 78 responden . ,2%) dan yang termasuk stres berjumlah 30 responden . ,8%). Dari 108 responden berdasarkan penilaian Indeks Massa Tubuh berjumlah 62 responden . ,4%) dan yang termasuk obesitas berjumlah 46 responden . ,6%). Dari 108 responden terbanyak yang ada riwayat keluarga berjumlah 55responden MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 Tabel 2. Distribusi Frekuensi Stress. Obesitas. Riwayat Keluarga Pada Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Benu-Benua Kota Kendari Tahun 2018 Frekuensi Stress Stress Tidak Sress Jumlah Obesitas Obesitas Normal Jumlah Riwayat Keluarga Ada Riwayat Tidak Ada Tiwayat Jumlah Sumber: Data Primer, 2018 Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 108 Wilayah Kerja Puskesmas Benu-Benua Kota responden terdapat 78 responden yang tidak Kendari, sehingga dapat disimpulkan bahwa stres terdiri dari tidak menderita DM Tipe II 48 responden yang stres berisiko menderita DM responden . ,9%) dan 30 responden . ,6%) Tipe II sebesar 6,4 kali lebih besar dibandingkan menderita DM Tipe II. Selanjutnya dari 30 dengan responden yang tidak stres. responden yang stres terdapat 6 responden Berdasarkan Tabel 3 bahwa dari 108 . ,1%) tidak menderita DM Tipe II dan 24 responden terdapat 62 responden normal terdiri responden . ,4%) menderita DM Tipe II. dari 38 responden . ,4%) tidak menderita DM Sehingga dapat disimpulkan bahwa responden Tipe II dan 24 responden . ,4%) menderita yang tidak stres lebih banyak tidak menderita DM Tipe II. Selanjutnya dari 46 responden yang dibandingkan yang menderita dan responden obesitas terdapat 16 responden . ,6%) tidak yang stres menderita DM Tipe II dan 30 responden dibandingkan yang tidak menderita. Hasil uji . ,6%) menderita DM Tipe II. Sehingga dapat disimpulkan bahwa responden yang normal diperoleh hasilnya nilai OR > 1 yaitu 6,400 lebih banyak tidak menderita dibandingkan yang dengan tingkat kepercayaan CI 95% lower limit menderita dan responden yang obesitas lebih 2,345 dan upper limit 17,470. Hal tersebut banyak yang menderita dibandingkan yang tidak menunjukkan bahwa uji OR signifikan atau Hasil uji statistik hasil analisis bermakna artinya hipotesis nol ditolak dan menggunakan OR diperoleh hasilnya nilai OR > hipotesis alternatif diterima yaitu ada risiko stres 1 yaitu 2,969 dengan tingkat kepercayaan CI terhadap kejadian Diabetes Mellitus Tipe II di 95% lower limit 1,343 dan upper limit 6,563. lebih banyak MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 Hal tersebut menunjukkan bahwa uji OR Benu-Benua Kota Kendari, sehingga dapat signifikan atau bermakna artinya hipotesis nol disimpulkan bahwa responden yang obesitas ditolak dan hipotesis alternatif diterima yaitu ada berisiko menderita DM Tipe II sebesar 2,969 risiko obesitas terhadap kejadian Diabetes kali lebih besar dibandingkan dengan responden Mellitus Tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas yang normal. Tabel 3. Faktor Risiko Stres. Obesitas. Riwayat Keluarga pada Kejadian Diabetes Mellitus Tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Benu-Benua Kota Kendari Tahun 2018 Kejadian Diabetes Millitus Kasus Kontrol Variabel Stress Stress Tidak Stress Jumlah Obesitas Obesitas Normal Jumlah Riwayat Keluarga Ada Riwayat Tidak Ada Riwayat Jumlah Sumber: Data Primer, 2018 Jumlah Nilai IK 95% (LowerUppe. Limit 2,345 -17,470 6,400 2,969 7,429 1,343 -6,563 3,170 Ae 17,406 yang menderita dan responden yang memiliki Berdasarkan tabel 3 bahwa dari 108 riwayat keluarga menderita DM Tipe II lebih responden terdapat 53 responden tidak memiliki banyak yang menderita dibandingkan yang tidak riwayat keluarga menderita DM Tipe II terdiri Hasil uji statistik hasil analisis dari 39 responden . ,2%) tidak menderita DM menggunakan OR diperoleh hasilnya nilai OR > Tipe II dan 14 responden . ,9%) menderita 1 yaitu 7,429 dengan tingkat kepercayaan CI DM Tipe II. Selanjutnya dari 55 responden yang 95% lower limit 3,170 dan upper limit 17,406. ada riwayat keluarga menderita DM Tipe II Hal tersebut menunjukkan bahwa uji OR terdapat 15 responden . ,8%) tidak menderita signifikan atau bermakna artinya hipotesis nol DM Tipe II dan 40 responden . ,1%) ditolak dan hipotesis alternatif diterima yaitu ada Tipe II. Sehingga bahwa responden yang tidak Diabetes Mellitus Tipe II di Wilayah Kerja memiliki riwayat keluarga menderita DM Tipe Puskesmas Benu-Benua Kota Kendari, sehingga II lebih banyak tidak menderita dibandingkan dapat disimpulkan bahwa responden yang ada MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 riwayat keluarga menderita DM Tipe II berisiko Responden yang stres tidak menderita DM menderita DM Tipe II sebesar 7,429 kali lebih sebesar 6 responden . ,1%), hal ini karena besar dibandingkan dengan responden yang tidak hanya stres dapat menyebabkan terjadinya tidak ada riwayat keluarga menderita DM Tipe penyakit DM, oleh sebab itu dipertimbangkan II. adanya penyebab lain yang dapat mempengaruhi PEMBAHASAN kejadian DM. Walaupun stres apabila insulin Stress merupakan keadaan seperti tertekan, masih baik maka seseorang belum menderita murung, dendam, takut dan rasa bersalah dapat DM tetapi apabila secara terus menerus stres mengangsang timbulnya hormon adrenalin dan dapat berisiko terjadi DM dimasa mendatang, memicu jantung berdetak lebih cepat sehingga sehingga perlu mempertimbangkan berbagai hal memicu peningkatan tekanan darah, keadaan seperti, risiko DM yang dapat dirubah seperti pola hidup sehat, oleh sebab bagi petugas Diabetes Mellitus Tipe II, oleh sebab itu perlu Puskesmas Benu-Benua seseorang mengelola stress. Hasil penelitian upaya untuk pencegahan mengurangi stres diperoleh dari 108 terdapat 30 responden . ,8%) yang stres, hal ini terjadi karena sesuai kejadian DM. dengan penelitian diperoleh bahwa skor gejala Selanjutnya terdapat 24 responden . ,4%) stres > 14 menunjukkan adanya stres responden tidak stres menderita DM dengan jumlah berdasarkan penelitian diperoleh bahwa terdapat cenderung lebih besar dibandingkan kontrol, hal gejala stres yang lebih dari 14 gejala tingkat ini membuktikan bahwa bukan faktor stres yang stres yang diukur dengan instrumen penilaian menyebabkan terjadinya DM, seperti kelainan stres menggunakan skala Hamilton Rating Scale pada produksi insulin sehingga dapat berisiko for Anxiety (HRS-A). Unsur yang dinilai dalam terjadinya DM selain itu dapat pula disebabkan alat ukur HARS (Hamilton Anxiety Rating Scal. yaitu perasaan ansietas, ketegangan, rendah lemak dan mengurangi garam, olahraga teratur, dan menghentikan kebiasaan merokok kecerdasan, perasaan depresi, gejala somatik, dan menghindari minuman beralkohol gejala respirasi, gejala gejala kardiovaskuler. Sesuai teori bahwa stres dapat menyebabkan gejala respirasi, gejala gastrointestinal, gejala produksi hormon vasokonstriksi yang besar urinaria, gejala otonom, gejala tingkah laku. sehingga meningkatkan tekanan darah, dalam Kejadian stres ini dapat terjadi karena pasien waktu lama dapat berisiko terjadi penyakit terdiagnosa menderita DM sehingga gejala- degeneratif seperti DM, salah satu cara untuk gejala stres tersebut terjadi. mencegah adalah dengan mengatur tekanan darah dan stress hormon yang terdiri dari MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 kortisol, epinephrine, adrenaline, dopamine dan tidak stres terdapat 48 responden . ,9%) tidak growth hormon. Selain itu reaksi tubuh terhadap menderita DM Tipe II hal ini menunjukkan stresor, bahaya atau tantangan dimulai dengan kecenderungan bahwa tidak stres dapat terhindar reaksi awal di hipotalamus yang memulai reaksi dari penyakit DM Tipe II. Responden yang tidak stres menderita DM biokimiawi, selanjutnya melalui sistem saraf Tipe II sebesar 30 responden . ,6%) terjadi perubahan di seluruh tubuh. Individu menjadi menyebabkan terjadinya DM Tipe II, seperti waspada penuh, dan tersedia energi untuk adanya riwayat keluarga yang menderita DM. menghadapi tantangan, baik untuk nenghadapi Kejadian penyakit DM Tipe II merupakan ancaman bahaya maut, berlomba, atau hanya penyakit degeneratif sehingga terjadinya melalui Terjadi proses yang relatif lama, walaupun seseorang peninggian tekanan darah, denyut jantung, tidak stres, apabila ada gangguan metabolisme intake oksigen, dan aliran darah ke otot, dan hormon insulin maka orang tersebut dapat terhimpunlah tenaga, energi dan konsentrasi mengalami DM Tipe II, oleh sebab itu untuk pikir yang diperlukan. Tipe Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa mempertimbangkan berbagai hal tidak hanya dari 24 responden . ,4%) stres yang menderita menjaga stres saja tetapi harus diimbangi dengan DM, aktivitas fisik yang teratur dan menjaga berat disebabkan oleh faktor stres tetapi dapat badan agar tetap ideal. disebabkan oleh berbagai faktor risiko lain Hasil analisis OR diperoleh responden yang karena berkaitan dengan perilaku pencegahan stres berisiko menderita DM Tipe II sebesar 6,4 penyakit yang dilakukan dalam sehari-harinya. kali lebih besar dibandingkan dengan responden Penyakit DM tidak hanya disebabkan oleh stres yang tidak stres. Berkaitan dengan DM Tipe II saja, tetapi dapat disebabkan oleh faktor lainnya seperti kesadaran dan perilaku individu dalam pengetahuan mengenai penyakit DM Tipe II sehari-harinya yang menyebabkan berisiko, merupakan hal penting karena seseorang dapat selain itu DM cenderung pada umur disebabkan oleh faktor hormonal. melakukan perilaku yang sehat, hal tersebut Tipe Selanjutnya terdapat 78 responden . ,2%) menunjukkan kecenderungan seseorang yang yang tidak stres, hal tersebut karena sesuai memiliki gejala stres berlebihan cenderung dengan penelitian diperoleh bahwa skor gejala menderita DM Tipe II dan sebaliknya seseorang stres < 14 menunjukkan tidak adanya stres, yang tidak memiliki gejala stres cenderung tidak karena gejala tersebut terlatif sedikit, dari 78 menderita DM Tipe II. Penelitian ini sejalan MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 dengan penelitian yang dilakukan. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Efendi perempuan pada umur tersebut kurang dalam . responden mempunyai stres ringan, adanya obesitas, selanjutnya terkait pekerjaan terbanyak hubungan stres dengan kejadian diabetes melitus pada wiraswasta dan karyawan, pada pekerja hubungan kuat antara stres dengan kejadian mengkonsumsi makanan siap saji yang berada . disekitar lokasi pekerjaan sehingga kurang diperoleh bahwa sebagian besar responden dalam kontrol asupan makanan, karena secara terus menerus maka dapat terjadi penimbunan responden kadar gula darahnya buruk, ada lemak dan terjadilah obesitas. Selanjutnya hubungan antara tingkat stres dengan kadar gula darah pada penderita DM kategori sedang. menderita DM, hal ini menunjukkan bahwa Peningkatan kadar gula darah salah satunya obesitas terbukti merupakan salah satu penyebab disebabkan oleh stres. Diharapkan stres yang atau merupakan faktor risiko terjadinya DM, terjadi pada penderita DM harus dijadikan karena lebih besar jumlahnya dibandingkan yang sebagai sesuatu yang positif, bahwa masalah tidak menderita DM. Penelitian Irfan dapat dicarikan penyelesaiannya. ,6%) Selanjutnya dari 108 responden terdapat 62 Responden yang mengalami obesitas tidak responden . ,4%) berdasarkan IMT normal, menderita DM sebesar 16 responden . ,6%), karena berdasarkan hasil pengukuran diperoleh hal ini dapat terjadi karena DM tidak hanya indeks massa tubuh < dari 27 kg/m, dari 62 responden yang normal terdapat 38 responden berbagai faktor yang dapat berisiko terjadinya . ,4%) DM. Seperti kondisi metabolisme insulin dari menunjukkan kecenderungan bahwa seseorang seseorang yang baik, walaupun kondisi tubuh dengan IMT normal tidak menderita DM dengan berat badannya termasuk obesitas tetapi karena metabolisme insulinnya baik, maka orang menderita DM, hal ini menunjukkan bahwa tersebut tidak akan menderita DM. dengan status normal hasil pengukuran IMT. DM. Berdasarkan karakteristik responden terkait sehingga dapat dinyatakan memiliki berat badan obesitas diperoleh bahwa yang mengalami yang ideal, dengan kondisi tersebut seseorang obesitas lebih banyak yang berumur 46-55 memiliki fungsi tubuh yang cenderung baik tahun, hal ini terjadi karena kurangnya kontrol salah satunya metabolisme insulin yang baik sehingga berdampak tidak menderita DM. obesitas, terkait jenis kelamin cenderung terjadi MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 Responden yang memiliki IMT normal dengan responden yang indeks massa tubuhnya menderita DM sebesar 24 responden . ,4%), normal yaitu < dari 27 Kg/m. Sejalan dengan hal ini terjadi karena tidak hanya obesitas yang penelitian variabel obesitas yang dilakukan dapat menyebabkan terjadinya penyakit DM. Sartini . tentang faktor risiko DM di karena adanya penyebab lain yang dapat Kabupaten Majalengka menunjukkan nilai OR mempengaruhi kejadian DM seperti pola hidup sebesar 3,60 bahwa responden yang memiliki dan faktor lainnya seperti riwayat keluarga yang berat badan dalam kategori gemuk dengan IMT perlu dipertimbangkan. Pada seorang dengan IMT DM. Penelitian Taufik . metabolisme insulin yang diturunkan dari diperoleh hasil penelitian ada hubungan yang orangtua kecenderungan pasti menderita DM, signifikan antara obesitas dengan kejadian oleh sebab itu seseorang perlu rutin untuk Diabetes Mellitus. Kesimpulan dalam penelitian mengukur IMT, karena IMT lebih dari normal ini terdapat hubungan yang signifikan antara dengan kata lain mengalami kegemukan, sesuai obesitas dengan kejadian Diabetes Mellitus. Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat kegemukan maka konsumsi makanan sebaiknya disimpulkan bahwa obesitas merupakan risiko dikurangi sekitar 20-30% bergantung kepada terjadinya DM di Puskesmas Benu-Benua Kota Kendari, oleh sebab itu disarankan perlunya konsumsi makanan sekitar 20-30% sesuai Puskesmas Benu-Benua agar meningkatkan dengan kebutuhan untuk meningkatkan BB, untuk tujuan penurunan berat badan jumlah kepada masyarakat untuk pencegahan dengan kalori yang diberikan paling sedikit 1000-1200 mengontrol berat badan minimal sebulan sekali kkal perhari untuk wanita dan 1200-1600 kkal agar tidak mengalami obesitas dan agar lebih perhari untuk pria. Makanan sejumlah kalori baik pengetahuannya dalam mencegah kejadian terhitung dengan komposisi tersebut di atas DM. Bila dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi Riwayat keluarga dalam penelitian ini adalah . %), siang . %) dan sore . %) serta 2-3 riwayat kejadian penyakit DM dalam keluarga porsi makanan ringan . -25%). inti responden, yaitu kedua orang tua, maupun Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kakek dan nenek dari jalur kedua orang tua. risiko yang bermakna antara obesitas dengan Hasil penelitian diperoleh dari 108 responden terdapat yang ada riwayat keluarga menderita mengalami obesitas dengan indeks massa tubuh DM berjumlah 55 responden . ,9%), hal ini > 27 Kg/m memiliki peluang berisiko menderita terjadi karena ada riwayat keluarga pernah DM. DM sebesar 2,969 kali lebih besar dibandingkan MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 mengidap DM dari jalur Ayah. Ibu, kakek dan tubuh yaitu metabolisme hormon insulin yang nenek dari jalur ibu menderita penyakit DM. tidak normal maka walaupun tidak ada riwayat Responden DM seseorang dapat menderita DM yang dapat menderita DM tetapi tidak menderita DM disebabkan hal lain terutama tidak melakukan sebesar 15 responden . ,8%), hal ini karena upaya pencegahan terjadinya penyakit DM. tidak selamanya seseorang yang memiliki Sesuai teori bahwa faktor genetik memegang riwayat keluarga pernah mengidap DM, karena peranan dalam proses terjadinya resistensi walaupun ada riwayat keluarga menderita DM Penderita DM yang mewarisi penyakit tetapi apabila kondisi metabolisme insulin baik DM terjadi karena merupakan suatu predisposisi disertai dengan melaksanakan upaya pencegahan atau kecenderungan genetik kearah terjadinya maka dapat terhindar dari penyakit DM. Diabetes Mellitus. Berdasarkan hal tersebut oleh Selanjutnya terdapat 40 responden . ,1%) ada sebab itu dipertimbangkan adanya penyebab lain riwayat keluarga menderita DM dan terbukti yang mempengaruhi kejadian Diabetes Melliitus menderita DM, hal ini menunjukkan bahwa seperti faktor risiko yang dapat dirubah seperti pola hidup sehat dengan konsumsi kalori yang merupakan penyebab terjadinya DM. Selanjutnya terdapat yang tidak ada riwayat seimbang dan aktivitas fisik teratur. Berdasarkan karakteristik responden yang keluarga menderita DM berjumlah 53 responden memiliki riwayat keluarga . ,1%), hal ini menunjukkan bahwa sebagian jumlahnya lebih banyak berumur 36-45 tahun, responden tidak memiliki riwayat keluarga hal ini menunjukkan bahwa seseorang yang pernah mengidap DM, dari 53 responden yang memiliki riwayat keluarga menderita DM akan memiliki riwayat keluarga menderita DM lebih berisiko menderita DM, oleh sebab itu tersebut terdapat 39 responden . ,2%) tidak dengan adanya riwayat keluarga menderita DM menderita DM, hal ini menunjukkan bahwa seseorang harus melakukan upaya pencegahan tidak hanya riwayat keluarga yang dapat seperti pola hidup sehat dengan aktivitas teratur, menyebabkan terjadinya penyakit DM, oleh mengelola stres dengan baik dan sebagainya. sebab itu dipertimbangkan adanya penyebab lain Berdasarkan jenis kelamin pada perempuan yang dapat mempengaruhi kejadian DM seperti lebih banyak memiliki riawayat menderita DM, faktor risiko yang dapat dirubah seperti pola oleh sebab itu pada perempuan agar lebih hidup sehat dengan konsumsi kalori yang Sesuai teori bahwa risiko untuk seimbang dan aktivitas fisik teratur. mendapatkan DM dari ibu lebih besar 10-30% Responden yang tidak ada riwayat keluarga menderita DM dari pada ayah dengan DM, hal ini karena menderita DM ternyata menderita DM sebesar 14 responden . ,9%), hal ini karena kondisi kandungan lebih besar dari ibu. MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 dengan pola hidup yang sehat dan mengontrol KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan penelitian di Puskesmas berat badan melalui pemantauan berat badan Benu-Benua Kecamatan Kendari Barat Kota Kendari, maka dapat diambil kesimpulan yaitu: Stres merupakan faktor risiko kejadian penyakit Diabetes Mellitus Tipe II karena seseorang yang DAFTAR PUSTAKA