Volume 7, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 INSTITUT AGAMA ISLAM PANGERAN DIPONEGORO NGANJUK http://ejurnal. iaipd-nganjuk. MEMAKNAI DIGITAL DETACHMENT DALAM PERSPEKTIF HERMENEUTIK KEISLAMAN DI ERA MEDIA SOSIAL Alwi Mawardy Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Hikmah. Tulungagung alwi2644@gmail. Info Artikel Submit : 20 Agustus 2025 Revisi : 4 September 2025 Diterima : 19 September 2025 Publis : 22 Oktober 2025 Kata kunci Abstrak Fenomena digital detachment semakin mengemuka di tengah derasnya arus media sosial, ketika intensitas interaksi digital kerap menggeser perhatian manusia dari dimensi batiniah dan transendental. Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan fenomena tersebut melalui perspektif hermeneutik keislaman, dengan mengaitkan teks-teks keagamaan, tradisi tafsir, serta refleksi etika Islam dalam konteks kontemporer. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan hermeneutik, yaitu menelaah teks klasik dan wacana modern secara interpretatif untuk menemukan relevansi makna spiritual di tengah budaya digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digital detachment tidak hanya dipahami sebagai absennya praktik ritual, melainkan juga tereduksinya kesadaran religius akibat dominasi dunia maya. Media sosial dapat berfungsi sebagai ruang dakwah dan komunikasi, namun pada saat yang sama menimbulkan potensi alienasi spiritual apabila tidak dibarengi dengan etika penggunaan yang Islami. Kesimpulannya, digitaldetachment perlu dipahami secara kritis sebagai tantangan transendental melalui disiplin diri, refleksi, dan pemaknaan ulang spiritualitas dalam bingkai ajaran Islam. Digital Detachment. Hermeneutik Islam. Media Sosial. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital pada era modern telah membawa perubahan mendasar dalam kehidupan manusia. Seperti media sosial yang paling dominan dan kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Melalui media sosial, manusia Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 224 Volume 7, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 dapat membangun jejaring komunikasi, berbagi informasi, membentuk identitas diri, hingga melakukan aktivitas ekonomi. Namun, dibalik berbagai manfaat yang ditawarkan, media sosial juga menghadirkan tantangan serius khususnya dalam dimensi spiritual. Kehadiran manusia di dunia digital sering kali justru melahirkan bentuk ketidakhadiran lain, yakni absennya kedalaman batiniah. Fenomena inilah yang dalam kajian kontemporer disebut sebagai digital detachment, yaitu kondisi di mana individu begitu tenggelam dalam aktivitas digital sehingga kehilangan spiritual dan kesadaran transendental. Fenomena digital detachment dapat dipahami sebagai paradoks modernitas. Di satu sisi, media sosial menjanjikan keterhubungan tanpa batas. Akan tetapi, disisi lain, keterhubungan yang berlebihan itu melahirkan alienasi yang halus namun nyata. Manusia hadir dalam jaringan maya, tetapi kehilangan kedalaman diri. Ia tampak aktif dalam percakapan digital, namun batinnya kering dari pengalaman spiritual yang sejati. Akibatnya, individu terdorong untuk terus memproduksi konten, membentuk citra diri, dan mencari validasi sosial, sementara ruang hening yang seharusnya menjadi basis kesadaran spiritualnya semakin tersingkirkan. Dalam perspektif keislaman, spiritualitas memiliki posisi yang sangat fundamental. Iagama Islam tidak hanya menekankan pelaksanaan ibadah formal saja, tetapi juga menggarisbawahi pentingnya kesadaran batiniah yang meneguhkan hubungan manusia dengan Allah. Nilai-nilai seperti keikhlasan, khusyuk, dan muraqabah . esadaran akan pengawasan Alla. merupakan inti dari pengalaman religius. Apabila nilai-nilai tersebut hilang atau tergantikan oleh digital, maka yang tersisa hanyalah aktivitas lahiriah tanpa ruh Oleh karena itu, fenomena digital detachment tidak dapat dipandang sekadar sebagai persoalan yang sepele, melainkan juga sebagai problem teologis yang wajib untuk dikaji. Pendekatan hermeneutik keislaman menjadi relevan karena berupaya membaca teks suci dan tradisi tafsir dengan mempertimbangkan konteks sosial budaya yang Hermeneutik tidak berhenti pada penafsiran literal saja, melainkan 1 Vivia Zahira Afiani. AuIntegrasi Tasawuf Dalam Masyarakat Modern : Perspektif Sosiologi Agama,Ay Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi . 111Ae23, https://jurnal. id/index. php/dimensia/article/download/80063/pdf/231346. 2 Eni Pustakasari. AuImplikasi Ibadah Bagi Penguatan Spiritualitas Iman Kristen,Ay Gudang Jurnal Multidisiplin Ilmu 3, no. : 1086Ae93. 3 Endahing Noor Iman Pustakasari. AuHubungan Spiritualitas Dengan Resiliensi Survivor Remaja Pasca Bencana Erupsi Gunung Kelud Di Desa Pandansari-Ngantang-Kabupaten Malang,Ay Studi Medievali 3 . : 280. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 225 Volume 7, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 membuka ruang dialog antara teks, tradisi, dan realitas kekinian. 4 Dengan pendekatan ini, digital detachment dapat dipahami bukan hanya sebagai konsekuensi modernitas, tetapi juga sebagai tantangan teologis yang menuntut respon kreatif dari umat Islam. Beberapa penelitian terdahulu telah menyoroti dampak media sosial terhadap kehidupan beragama, seperti menurunnya kualitas interaksi tatap muka, pergeseran komunikasi dakwah, sampai munculnya praktik keagamaan baru yang berbasis digital. Namun, sedikit yang menekankan pada aspek absennya kehadiran spiritual sebagai konsekuensi dari keterikatan digital. Padahal, justru aspek inilah yang menentukan kualitas keberagamaan seseorang. Tanpa spiritual, aktivitas keagamaan berisiko berubah menjadi formalitas tanpa makna. Oleh sebab itu, penelitian ini menempatkan fenomena digitaldetachment sebagai pintu masuk untuk memahami kembali bagaimana ajaran Islam dapat menjaga dan memperkuat spiritualitas di tengah tantangan era digital. Harapan dari penelitian ini adalah memberikan kontribusi bagi pengembangan wacana keislaman kontemporer, khususnya dalam bidang etika bermedia dan spiritualitas Secara teoretis, penelitian ini diharapkan memperkaya kajian hermeneutik Islam dengan menghadirkan isu baru yang relevan dengan kehidupan modern. Sementara itu, secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi umat Muslim dalam mengelola keterlibatan digital tanpa kehilangan kedalaman spiritual. Dengan demikian, digital detachment tidak semata dipandang sebagai ancaman, tetapi juga sebagai peluang untuk menegaskan kembali pentingnya kehadiran spiritual melalui disiplin diri, kesadaran kritis, dan pemaknaan ulang ajaran Islam dalam konteks era media sosial. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Sumber data terdiri atas teks al-QurAoan, hadis, literatur tafsir klasik, serta kajian kontemporer mengenai media sosial dan spiritualitas. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik analisis isi . ontent analysi. melalui kerangka hermeneutik. Proses analisis dilakukan dengan membaca, mengklasifikasi, dan menafsirkan teks keagamaan, lalu menghubungkannya dengan fenomena digital detachment di era media sosial. Pendekatan Haposan Silalahi. AuHISTORICAL GRAMATICAL Sebuah Metode Hermeneutik Dalam Menemukan Makna Yang Tersembunyi Dalam Teks Teks Alkitab,Ay Te Deum (Jurnal Teologi Dan Pengembangan Pelayana. , 2018, 17Ae49, https://ojs. id/index. php/tedeum/article/download/43/26/. 5 Nurmawan. AuPergeseran Pola Komunikasi Dakwah Mubaligh Persis Dalam Menyiarkan Ajaran Islam,Ay Al-Ibanah . 1Ae37, https://journal. id/index. php/ibanah/article/view/17/12. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 226 Volume 7, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 hermeneutik dipilih agar penafsiran tidak berhenti pada aspek tekstual, melainkan menemukan makna yang relevan dengan kebutuhan spiritual masyarakat modern. Pembahasan Fenomena Digital Detachment di Era Media Sosial Era media sosial telah melahirkan bentuk kehidupan baru yang instan, kecepatan informasi, dan pergeseran ruang interaksi dari fisik ke virtual. Kehidupan manusia sekarang banyak dilakukan dengan aktivitas daring, mulai dari komunikasi, hiburan, sampai praktik Namun, di balik derasnya arus digital, keterhubungan yang tinggi justru menghasilkan keterasingan batin. Manusia hadir secara fisik dalam dunia digital, tetapi sering kali absen dalam dimensi spiritual. Gejala inilah yang dalam literatur kontemporer disebut sebagai digital detachment, yaitu absennya kehadiran spiritual yang telah digantikan oleh kehadiran semu dalam ruang maya. Fenomena ini dapat diamati dari perilaku keseharian. Banyak individu yang lebih sibuk memperbarui status, mengunggah aktivitas, ataupun membangun citra diri ketimbang menghayati pengalaman spiritualnya. Aktivitas ibadahpun kadang tersingkirkan oleh gawai, sehingga konsentrasi batinpun terganggu. Misalnya, seseorang yang sedang membaca alQurAoan tiba-tiba tergoda untuk membuka notifikasi media sosialnya, atau seseorang yang sedang berdoa terbesit memikirkan bagaimana membagikan momen itu di media sosial. Semua ini menunjukkan betapa ruang digital berpotensi kuat menggerus kehadiran spiritual. Dampak yang lebih jauh adalah munculnya bentuk alienasi. Manusia merasa sibuk dan penuh interaksi, tetapi hatinya kosong. Spiritualitas yang seharusnya menuntun ke arah kedamaian batin malah tergantikan oleh kegelisahan, kecemasan, dan ketergantungan pada respons orang lain di dunia maya. Inilah yang menjadikan digital detachment sebagai problem eksistensial yang menyentuh dalam diri manusia. Agama Islam memandang spiritualitas sebagai inti dari keberagaman. 6 Spiritualitas bukan hanya soal menjalankan ibadah lahiriah, melainkan juga menghadirkan kesadaran penuh bahwa setiap aktivitas manusia terhubung dengan Allah. Nilai-nilai seperti ikhlas, khusyuk, tawakal, dan muraqabah menekankan pentingnya kehadiran batiniah. Dalam al- 6 Indo Uleng and Andi Aderus. AuIslam Ditinjau Dari Berbagai Aspek Penggambaran Islam Yang Sebenarnya. Islam Sebagai Agama. Dan Islam Sebagai Tafsir Keagamaan,Ay Jurnal Andi Djemma I Jurnal Pendidikan . 1Ae10, https://w. id/index. php/andidjemma/article/download/3047/1392. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 227 Volume 7, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 QurAoan, berulang kali ditegaskan bahwa shalat, zakat, puasa, maupun ibadah lain tidak hanya bernilai ritual, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan kesadaran transendental. Fenomena ini relevan dengan peringatan al-QurAoan dalam Surah Al-Munafiqun ayat 9: aca AOeaaOacN Eac aOI IIO aE aeE aN aEI aIOEa aEI OaEea aOEa a aEI I a eE aA AEA a aAE aOEaA a AacEE aOaII Oa eA a eE aEA aa a a a e e a e ae e a a AEa a aO aIA e AaN aIA Artinya: AuWahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Ay7 Jika pada masa lalu harta dan anak-anak dapat melalaikan manusia, maka pada era modern, distraksi digital berfungsi mirip sebagai sesuatu yang melalaikan. Media sosial dapat menjadi bentuk lahwun . yang membuat manusia lupa dari tujuan utamanya, yaitu beribadah kepada Allah. Dengan demikian, fenomena digital detachment sekarang menjadi problem lama yang telah diingatkan oleh Allah dalam al-QurAoan. Tradisi agama Islam sebenarnya telah memberi panduan menghadapi situasi semacam ini. Seperti ulamaAo sufi yang menekankan pentingnya khalwah . dan zikrullah . engingat Alla. sebagai cara menjaga hati. Dalam konteks modern, praktik tersebut dapat dimaknai sebagai upaya menjaga jarak dari hiruk pikuk digital dan menata kembali ruang hening, serta menghidupkan kehadiran batiniah di tengah derasnya arus Pendekatan Hermeneutik Terhadap Digital Detachment Untuk memahami fenomena digital detachment secara lebih mendalam, pendekatan hermeneutik menawarkan perspektif yang relevan. Hermeneutik berangkat dari keyakinan bahwa teks keagamaan bukanlah sesuatu yang mati, melainkan selalu hidup dan dapat dimaknai ulang sesuai konteks. 8 Dalam tradisi Islam, penafsiran teks al-QurAoan dan hadis memang tidak pernah lepas dari konteks sosial-historis yang melingkupinya. Oleh karena OPI YENSI. AuAnak Sebagai Ziinatul-Hayaatid-Dun-Yaa Dan Implikasinya Dalam Al QurAoan (Studi Analisis Q. Al-Kahfi 46 Dalam Tafsir Al-Munir Karya Wahbah Az Zuhail. ,Ay 2024, http://repository. id/37102/1/SKRIPSI OPI YENSI . 8 Safrudin Edi Wibowo. AuHERMENEUTIKA Kontroversi Kaum Intelektual Indonesia,Ay 2019, file:///C:/Users/lenovo/Downloads/HERMENEUTIKA Kontroversi Kaum Intelektual Indonesia. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 228 Volume 7, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 itu, membaca ulang ajaran Islam melalui kerangka hermeneutik berarti menghubungkan makna-makna klasik dengan tantangan baru yang muncul di era digital. Dalam konteks digital detachment, hermeneutik membantu menjembatani jarak antara ajaran Islam tentang kesadaran batin dengan realitas masyarakat yang sibuk dalam dunia Misalnya, perintah untuk menghadirkan kekhusyukan dalam shalat dapat ditafsirkan lebih luas sebagai panggilan untuk melatih konsentrasi dan kesadaran di tengah distraksi Begitu pula ajaran tentang muraqabah . esadaran akan pengawasan Alla. dapat dipahami sebagai benteng agar manusia tidak larut dalam logika pencitraan diri di media Pendekatan hermeneutik juga mendorong kita untuk membaca ulang karya-karya klasik ulama. 9 Seperti pemikiran Al-Ghazali tentang hati sebagai cermin yang harus dijaga dari kekeruhan dapat diinterpretasikan kembali sebagai peringatan agar hati tidak dipenuhi dengan hiruk pikuk informasi digital. Demikian pula pandangan Ibnu Qayyim tentang pentingnya dzikrullah sebagai penyejuk hati dapat dipahami dalam konteks bagaimana seorang Muslim menyeimbangkan aktivitas digital dengan ruang refleksi spiritual. 10 Dengan cara ini, pendekatan hermeneutik membantu melahirkan pemaknaan baru yang relevan dengan kebutuhan umat di era modern. Dengan kita mempelajari pendekatan hermeneutik, dapat memberi peluang untuk menafsirkan ulang pesan-pesan al-QurAoan dan hadis dengan mengaitkannya pada fenomena Sebagai contoh, praktik khalwat yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW sendiri sebelum menerima wahyu sering melakukan tahannuts di gua Hira, yaitu menyepi dan beribadah jauh dari keramaian. Tradisi ini dapat dimaknai kembali sebagai kebutuhan manusia modern untuk melakukan Aupuasa digitalAy agar hati kembali jernih. Begitu juga dengan praktik zikrullah yang diajarkan al-QurAoan dapat dibaca sebagai ajakan untuk menghadirkan Allah dalam setiap momen. 12 Dalam era digital, zikrullah dapat menjadi benteng dari distraksi digital. Ketika seseorang menghadirkan dzikir sebelum 9 Didi Sunardi. AuHermeunetika Dalam Kajian Agama,Ay Jurnal Kemuhammadiyahan Dan Integrasi Ilmu 1, 2 . : 100Ae109, https://doi. org/10. 24853/jkii. 10 Tuti Maesaroh. AuZikir Sebagai Penenang Hati Menurut Pandangan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah Dan Al-Ghazali,Ay UIN Jakarta, 1Ae86, https://repository. id/dspace/bitstream/123456789/35636/1/TUTI MAESAROH-FU. 11 Lies Ambarsari et al. AuDigital Detox: Dampak Positif Puasa Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental Generasi Milenial Dan Gen Z,Ay AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional 7, no. : 110Ae21, https://doi. org/10. 54783/jin. 12 Mustaqim. AuPemikiran Islam Kontemporer: Konsep Dhikr Allah Dan Urgensitasnya Dalam Masyarakat,Ay Mabsut: Jurnal Studi Islam Dan Sosial . 77Ae105, https://w. id/index. php/almabsut/article/view/74/56. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 229 Volume 7, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 membuka media sosial atau menutup aktivitas digital dengan doa, maka ruang maya tidak lagi sepenuhnya sekuler, melainkan disinari kesadaran transendental. Hermeneutik dalam hal ini tidak menciptakan makna baru, melainkan menghadirkan kembali relevansi pesan klasik Islam dalam situasi kontemporer. Etika Bermedia dalam Perspektif Islam Islam memiliki prinsip etika yang sangat kuat, baik dalam relasi manusia dengan Allah maupun relasi antar manusia. Dalam konteks media sosial, prinsip ini dapat dijadikan pedoman agar umat Muslim tidak terjebak dalam alienasi spiritual. Beberapa nilai kunci yang relevan antara lain adalah amanah . ertanggung jawa. , shidiq . , iffah . enjaga dir. , dan hilm . Etika bermedia menurut Islam tidak hanya soal bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain, tetapi juga bagaimana menjaga integritas batin. Menggunakan media sosial dengan berlebihan, mengejar validasi dari publik, atau menampilkan identitas religius semata-mata demi popularitas bertentangan dengan semangat spiritualitas Islam. Oleh karena itu, etika Islami menuntut keseimbangan: memanfaatkan media sosial untuk dakwah, silaturahmi, dan berbagi ilmu, tetapi tetap menjaga kesadaran batin agar tidak hanyut dalam budaya konsumtif. Prinsip amar maAoruf nahi munkar, juga dapat diterapkan di ruang digital. 13 Namun, pelaksanaannya harus dengan cara yang bijak, tidak dengan kebencian atau provokasi. Media sosial dapat menjadi ladang kebaikan, asalkan digunakan dengan orientasi yang Sebaliknya, jika digunakan tanpa etika, ia justru akan memperdalam digital detachment karena yang tersisa hanyalah aktivitas kosong tanpa ruh spiritual. Rasulullah SAW bersabda: a a a a (A ) aaONa eEa a aO aOaI eEaIA e AA aIA e aI eI aE aI OaI aI aNEE aOeEOa eOI E a Aa eEOa aC eE aeOU aO EOA Artinya: AuBarangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam. Ay (HR. Bukhari dan Musli. Wahyuni R. AuAmar MaAoRuf Media Sosial Dalam Surat an Nahl125,Ay 2023, 1Ae74, http://etheses. uin-malang. id/50036/7/19240076. 14 Fakhrul Rahmadi. AuNilai-Nilai Pendidikan Perdamaian Dalam Kehidupan Bertetangga,Ay Rahmatan Lil Alamin Journal of Peace Education and Islamic Studies, 2016, https://repository. ar-raniry. id/1348/1/Fakhrul Rahmadi. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 230 Volume 7, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Hadits ini sangat relevan untuk dunia digital. Setiap unggahan, komentar, atau interaksi di media sosial harus mengandung kebaikan. Jika tidak, lebih baik ditahan. Prinsip ini bukan hanya menjaga hubungan sosial, tetapi juga melindungi hati dari kerusakan. Sebab setiap kata yang diucapkan, termasuk di ruang maya, akan meninggalkan bekas pada hati dan memengaruhi kondisi spiritual. Etika bermedia juga harus berlandaskan pada prinsip wasathiyah . Menggunakan media sosial tidak boleh berlebihan hingga mengganggu kewajiban ibadah, tetapi juga tidak harus ditolak sepenuhnya. 15 Keseimbangan inilah yang ditekankan alQurAoan dalam Surah Al-Furqan ayat 67: a AOEac aOI aaea aIe aA aCO aE O aO OaE O eC O OaE aI A AE Ca aO UIA a AeO EA a a a ea a a e a e e a e e ae a Artinya: AuDan orang-orang yang apabila membelanjakan . , mereka tidak berlebihan, dan tidak pula kikir, dan adalah . embelanjaan it. di tengah-tengah antara yang Ay16 Ayat ini secara prinsipil mengajarkan moderasi, yang dapat diperluas bukan hanya pada pengeluaran harta, tetapi juga penggunaan waktu dan perhatian. Dalam bermedia, seorang Muslim harus menjaga keseimbangan agar tidak jatuh dalam kelalaian spiritual. Kesimpulan Fenomena digital-detachment atau ketidakhadiran spiritual di era media sosial menunjukkan bagaimana kemajuan teknologi dapat memengaruhi kualitas batiniah Keterhubungan yang serba instan melalui berbagai platform digital ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kehadiran spiritual, bahkan sering kali melahirkan keterasingan dari nilai-nilai transendental. Melalui pendekatan hermeneutik keislaman, penelitian ini menemukan bahwa teks-teks al-QurAoan dan hadis, ketika dibaca dengan mempertimbangkan konteks zaman, mampu memberikan panduan yang relevan dalam memahami sekaligus mengatasi problem spiritualitas modern. Penekanan Islam terhadap 15 Nadila Putri Saharani et al. AuPenggunaan Media Sosial Dalam Perspektif Islam,Ay Jurnal Riset Rumpun Agama Dan Filsafat 1, no. : 116Ae25, https://doi. org/10. 55606/jurrafi. 16 Figa Nurul janna Edo. AuNilai-Nilai Pendidikan Akhlak Yang Terkandung Dalam Al-QurAoan Surat Al-Furqan Ayat 67-68 Dan Relevansinya Dalam Materi Pendidikan Islam,Ay Skripsi, 2018, 1Ae125, http://etheses. id/243/1/NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK YANG TERKANDUNG DALAM AL-QURAoAN SURAT AL-FURQAN AYAT 67-68 DAN RELEVANSINYA DALAM MATERI PE1. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf | 231 Volume 7, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 keseimbangan hidup, kewajiban menjaga hati dari kelalaian, serta dorongan untuk selalu menghadirkan kesadaran ilahiah dalam setiap aktivitas, menjadi dasar etis dan spiritual yang dapat menuntun umat Muslim dalam mengelola penggunaan media sosial. Dengan demikian, digital-detachment bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan isu spiritual yang menuntut refleksi mendalam dan upaya kolektif. Penelitian ini diharapkan dapat memperluas wacana keislaman kontemporer dengan menegaskan pentingnya etika bermedia dalam Islam, sekaligus menawarkan jalan bagi umat Muslim untuk tetap meneguhkan kehadiran spiritual di tengah derasnya arus digital. Hermeneutik keislaman memberikan ruang dialog antara tradisi dan modernitas, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam wahyu tidak berhenti sebagai teks, melainkan hadir sebagai pedoman praktis dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya, kajian ini mampu menginspirasi lahirnya pola hidup digital yang lebih bijak, seimbang, dan berorientasi pada pencarian makna spiritual yang autentik di tengah kompleksitas zaman modern. DAFTAR PUSTAKA