FORMULASI DAN UJI STABILITAS FISIK SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL DAUN SIRSAK (Annona muricata L. ) MENGGUNAKAN VARIASI KONSENTRASI HPMC FORMULATION AND PHYSICAL STABILITY TEST OF ETHANOL SIRSAK LEAF EXTRACT GEL (Annona muricata L. ) USING VARIATIONS CONCENTRATIONOF HPMC Yasminatul Sakdiyah*. Prayoga F. Yuniarto. Datin An Nisa Program Studi S-1 Farmasi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Kadiri Kediri Universitas Kadiri e-mail: *yasminatul. sakdiyah08@gmail. ABSTRAK Obat jerawat yang mengandung antibiotik sintetik dapat menimbulkan berbagai efek yang tidak diinginkan seperti iritasi dan resistensi. Daun sirsak (Anona muricata ) mengandung golongan senyawa metabolit sekunder yang memiliki efek antiinflamasi dan antibakteri yang berpotensi sebagai antijerawat. Dibutuhkan sediaan yang lebih praktis dan awet dalam penyimpanan. Gel dipilih karena memberi sensasi rasa dingin pada kulit dan mudah diaplikasikan di kulit. Gelling agent berpengaruh pada stabilitas gel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi HPMC (Hydroxy Propyl Methyl Cellulos. yang menghasilkan sediaan gel yang stabil dan hasil stabilitas fisik gel yang diperoleh. Sediaan gel dibuat dengan konsentrasi ekstrak daun sirsak 12% dengan variasi konsentrasi Hydroxy Propyl Methyl Cellulose yaitu 2,5%, 3% dan 3,5%. Konsentrasi Hydroxy Propyl Methyl Cellulose ditentukan secara trial and error. Masingmasing formula dibuat dan dilakukan uji sifat fisik yang meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya lekat dan daya sebar. Gel ekstrak daun sirsak diperoleh stabil selama 3 siklus pengujian meliputi organoleptis, homogenitas, viskositas, daya lekat dan daya sebar. pH gel stabil selama 3 siklus untuk konsentrasi Hydroxy Propyl Methyl Cellulose 2,5% dan 3,5% namun pada formula dengan konsentrasi Hydroxy Propyl Methyl Cellulose 3% pH gel tidak stabil selama 3 siklus. Kata kunci : Formulasi dan stabilitas, gel, ekstrak daun sirsak. HPMC (Hydroxy Propyl Methyl Cellulos. ABSTRACT Acne medication containing synthetic antibiotics can cause various side effects such as irritation and resistance. Sirsak leaves exxtract (Anona muricata L. ) contain a class compounds of secondary metabolite that have antiinflammatory and antibacterial effects that have the potential as antiacne. It takes preparations that are more practical and durable in storage. The gel was chosen because it gives a cooling sensation to the skin and easy to apply on the skin. Gelling agent affects the stability of the gel. This study aims to determine the concentration of HPMC (Hydroxy Propyl Methyl Cellulos. which produces a stable gel preparation and the results of the physical stability of the gel The research carried out is experimental. Gel preparations were made with a concentration of 12% sirsak leaf extract and variations of Hydroxy Propyl Methyl Cellulose concentrations of 2. 5%, 3% and 3. The Hydroxy Propyl Methyl Cellulose Article Information Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022 concentration was determined by trial and error. Each formula was made and tested for physical properties which included organoleptic, homogeneity, pH, viscosity, adhesion and spreadability. The results of the sirsak leaf extract gel stability test were obtained stable for cycling test including organoleptic, homogeneity, viscosity, adhesion and The pH of the gel was stable for cycling test for the concentration of Hydroxy Propyl Methyl Cellulose 2. 5% and 3. 5%, but in the formula with a concentration of Hydroxy Propyl Methyl Cellulose 3% the pH of the gel was unstable for cycling test. Keyword : Formulation and stability, gel, sirsak leaf extract. HPMC (Hydroxy Propyl Methyl Cellulos. PENDAHULUAN Salah satu penyakit yang umum terjadi yaitu penyakit kulit. Penyakit kulit umumnya terjadi karena kurangnya kesadaran untuk menjaga kesehatan sehingga berpotensi terpapar berbagai mikroorganisme. Penyakit kulit yang umum terjadi yaitu jerawat (Widyawati et al. , 2. Jerawat merupakan penyakit kulit obstruktif serta peradangan kronik yang terjadi pada folikel sebasea. Jerawat ditandai dengan adanya komedo, papula, dan pustule. Jerawat bisa menyerang pada berbagai usia (Setiawan dan Nurdianti, 2. Salah satu faktor penyebab timbulnya jerawat yaitu infeksi akibat koloni bakteri gram positif (Lake et al. , 2. Bakteri tersebut adalah Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus (Apriliana dan Syafira, 2016. Padaleti. Mbulang. dan Lutsina, 2. Jerawat pada umumnya dapat disembuhkan dengan pemberian obat topikal yang mengandung antibiotik. Obat jerawat yang mengandung antibiotik sintetik dapat menimbulkan berbagai efek yang tidak diinginkan misalnya, iritasi, resistensi, kerusakan organ, hingga imunohipersensitivitas. Dibutuhkan alternatif pengganti dari bahan alami yang mudah ditemukan dan dapat digunakan untuk mengatasi jerawat (Wardani, 2. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa ada beberapa tanaman yang bisa digunakan sebagai antijerawat. Hal ini didukung oleh tren back to nature yang kian berkembang di masyarakat. Tiap tanaman memiliki kandungan senyawa kimia yang berbeda beserta kadar yang berbeda pula. Kandungan senyawa di tanaman memiliki manfaat masingAemasing. Pemanfaatan tanaman yang ada di Indonesia perlu Penggunaan secara tradisional membutuhkan waktu penyiapan yang lama sehingga dibutuhkan formulasi sediaan yang lebih praktis dan awet atau stabil dalam penyimpanan (Sayuti, 2. Tanaman sirsak (Annona muricata L. ) merupakan tanaman yang telah dikenal berbagai macam khasiatnya sebagai obat. Bagian dari tanaman sirsak (Annona muricata ) yang dibuktikan bisa berkhasiat sebagai antibakteri adalah daunnya. Menurut Febriani et al. , . , simplisia dan ekstrak daun sirsak mengandung golongan senyawa alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, kuinon, triterpen/steroid, monoterpen/seskuiterpen dan polifenol. Menurut Lilbaiq, . pelarut yang digunakan untuk maserasi adalah etanol 96% karena mampu menarik senyawa baik polar maupun non polar sehingga senyawa yang terkandung dalam sampel simplisia daun sirsak dapat terekstrak lebih banyak. Berdasarkan hasil, ekstrak daun sirsak (Annona muricata L. ) Memiliki efektivitas terhadap pertumbuhan Propionibacterium acnes pada konsentrasi 80%, 60%, 40%, dan 20%. Menurut data hasil penelitian Zai et al. , . pada konsentrasi ekstrak 20% diperoleh rata-rata diameter zona hambat 9,7 mm. Konsentrasi 40% diperoleh ratarata 13,7 mm. Konsentrasi 60% diperoleh rata-rata zona hambat 15,7 mm. Konsentrasi 80% diperoleh rata-rata 16,3 mm. Berdasarkan penelitian Widyawati et al. , . Article Information Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022 mengenai formulasi sediaan gel hand sanitizer ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L. ) sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus diperoleh hasil pada konsentrasi 12% dalam sediaan gel 100 g dengan berat ekstrak 12 g memiliki daya hambat sebesar 22 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Menurut penelitian (Kholisatunnisa, 2. Salep dengan ekstrak daun sirsak sebanyak 2,5 g dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Pada penelitian de Sousa et al. , . , menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L. ) yang diujikan terhadap hewan memiliki aktivitas Edema kaki pada hewan berkurang setelah pemberian peroral ekstrak etanol daun sirsak dengan dosis 200 mg/kg . 16% dan 29. 33%) dan 400 mg/kg . 50% dan 37. 33%). Dosis 200 mg/kg dan 400 mg/kg yang diberikan secara peroral empat jam sebelum injeksi karagenan dapat mengurangi volume eksudat . 25% dan 74%) serta migrasi leukosit . 19% dan 27. 95%) secara signifikan. Berdasarkan pembahasan hasil penelitian diatas, daun sirsak (Annona muricata L. ) dapat digunakan sebagai antibakteri dan antiinflamasi maka dapat dikatakan daun sirsak memiliki potensi sebagai antijerawat. Pemilihan sediaan gel juga didasarkan pada kandungan senyawa dalam daun sirsak yang bersifat polar dan nonpolar sehingga sesuai jika dibuat dalam bentuk sediaan gel (Lilbaiq, 2. Upaya memformulasikan ekstrak daun sirsak (Annona muricata L. ) dalam bentuk sediaan gel yakni agar lebih mudah digunakan dan memiliki penyebaran yang mudah. Penyebaran yang mudah bisa menghantarkan obat dengan baik (Adrianti, 2. Gel memiliki efek yang lebih baik dibandingkan dengan krim, karena gel memiliki jumlah air yang lebih banyak dan dapat menghidrasi stratum korneum. Tingginya hidrasi membran dapat memudahkan penetrasi karena sifat permeabilitasnya tinggi (Jafar et al. , 2. Sediaan gel yang bersifat hidrofil dapat berpenetrasi dengan mudah melalui rute penetrasi transepidermal dan transappendageal (Haque dan Talukder, 2. Untuk mendapatkan gel dengan hasil yang bagus, gel diformulasikan dengan suatu basis yang bisa digunakan sebagai gelling agent. Pemilihan gelling agent dapat mempengaruhi sifat fisika dari hasil akhir sediaan (Dewi dan Saptarini, 2. HPMC berpengaruh meningkatkan daya lekat sedangkan karbopol menurunkan daya lekat. Daya lekat menunjukkan kemampuan gel untuk kontak dengan kulit. Gel yang memiliki daya lekat tinggi akan menempel lebih lama sehingga efektivitas terapinya semakin optimal (Tambunan dan Sulaiman, 2. Berdasarkan teori diatas maka dilakukan pembuatan formulasi dan pengujian stabilitas fisik sediaan gel ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L. ) dengan konsentrasi 12% dalam sediaan gel 100 g seperti penelitian Widyawati et al. , . yang memiliki daya hambat pada Staphylococcus Peneliti memformulasikan gel variasi konsentrasi HPMC bertujuan mengetahui berapakah konsentrasi HPMC yang dapat menghasilkan sediaan gel ekstrak daun sirsak (Annona muricata L. ) dengan stabilitas fisik yang baik dan mengetahui hasil stabilitas fisik gel ekstrak daun sirsak (Annona muricata L. ) yang menggunakan gelling agent HPMC. Untuk kestabilan fisika sediaan gel dilakukan uji stabilitas dipercepat menggunakan Cycling test. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang akan peneliti gunakan yaitu metode penelitian Populasi pada penelitian ini yaitu tanaman sirsak yang ada di area UPT Laboratorium Herbal Materia Medika Batu. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah daun sirsak berwarna hijau tua. Teknik sampling yang digunakan adalah Article Information Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022 purposive sampling. Teknik purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang dilakukan atas dasar pertimbangan peneliti semata yang menganggap bahwa unsur-unsur yang dikehendaki telah ada dalam anggota sampel yang diambil, yaitu dengan menggunakan daun segar berwarna hijau tua. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia dan Bahan Alam. Laboratorium Farmasetika serta Laboratorium Teknologi dan Instrumentasi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kadiri. Kediri. Jawa Timur. Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah nampan, bejana maserasi, blender, mesh 60, timbangan digital (OHAUS), hotplate stirer, moisture analyzer Ohaus MB25, beaker glass (Pyre. , gelas ukur, tabung reaksi, batang pengaduk, pipet, cawan porselin, gelas arloji, mortir, stamper, sendok tanduk, pH meter, kaca preparat, botol timbangan, anak timbang (PROTIS), oven (B-One(OV-. ), dan viscometer stormer VS-50-DG. Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak daun sirsak, etanol 96% pa , kertas saring, logam Mg. HCl Pekat, kloroform, asam asetat glasial (JRP), asam sulfat pekat (JRP), pereaksi FeCl3 (JRP), pereaksi mayer, dragendrorf. HPMC (Aloi. TEA, gliserin. Nipagin (Aloi. , dan Aqua destilata (Aloi. Pembuatan Ekstrak Pembuatan ekstrak daun sirsakpada penelitian kali ini dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% . :7,. selama 3x24 jam dan dilanjutkan remaserasi menggunakan pelarut etanol 96% . selama 2x24jam (Baud et al. , 2. Skrining Fitokimia Ekstrak kental yang telah diperoleh dilakukan identifikasi fitokimia meliputi flavonoid, tannin, saponin, triterpen/steroid, dan alkaloid Formulasi Gel Formula gel 100 g ditentukan konsentrasinya menggunakan acuan dari beberapa jurnal dan Handbook of Pharmaceutical Excipient Tabel 1 Formula gel ekstrak daun sirsak Konsentrasi (%) Baha Kegunaan Ekstrak daun sirsak 12 Bahan Aktif HPMC 2,50 3,0 3,50 Basis Gelling agent Trietanolamin Penjernih, humektan Gliserin Humektan Nipagin Pengawet Aqua destilata ad 100 100 100 Pelarut Pembuatan Gel Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Siapkan mortir panas dan aqua destilata panas. Masukkan aqua destilata panas kedalam mortir. Timbang HPMC. Taburkan HPMC diatas aqua destilata yang sudah dipanaskan. Aqua destilata yang dibutuhkan adalah perbandingan . dengan HPMC. HPMC yang sudah ditabur diaduk cepat hingga terbentuk massa gel dan ditambahkan TEA sebanyak 2,5 g. Metil paraben ditimbang sebanyak 0,2 g dan dilarutkan dalam aqua destilata sebanyak 5 mL, dimasukkan ke dalam mortir, diaduk sampai homogen. Gliserin 10 ml ditambahkan kedalam mortir, diaduk sampai homogen. Ekstrak daun sirsak 12 g yang telah dilarutkan dalam aqua destilata masukkan mortir diaduk sampai homogen hingga membentuk gel. Sediaan dibuat triplo (Widyawati et al. , 2. Uji Stabilitas Gel Tiap siklus disimpan 24 jam di kulkas dengan suhu 40C kemudian dipindahkan ke dalam oven dengan suhu 400C selama 24 jam. Setiap selesai 1 siklus, dilakukan uji Article Information Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022 fisik yang meliputi daya sebar, daya lekat, pH dan viskositas (Tambunan dan Sulaiman. Pengujian yang dilakukan adalah uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya lekat dan daya sebar gel. Pengujian gel dilakukan setelah dua hari karena dianggap sudah tidak ada lagi pengaruh gaya atau energi yang diberikan selama proses pembuatan sediaan yang dapat mempengaruhi gel (Wulandari, 2. Uji Organoleptis Pemeriksaan organoleptis dilakukan dengan cara melakukan pengamatan terhadap bentuk tampilan fisik dari sediaan yang meliputi bentuk, warna, dan bau. (Tambunan dan Sulaiman, 2. Uji Homogenitas Homogenitas gel diamati secara visual dengan mengoleskan gel pada permukaan kaca objek. Diamati apakah terdapat butiran kasar atau bagian yang tidak tercampur dengan baik. Jika tidak ditemukan berarti homogen. Dilakukan uji triplo (Tambunan dan Sulaiman, 2. Uji pH Pemeriksaan pH dilakukan menggunakan stick pH, warna yang muncul dibandingkan dengan standar warna pada kisaran pH yang sesuai. Dilakukan uji triplo (Tambunan dan Sulaiman, 2. Uji Viskositas Sediaan gel diletakkan pada bagian bawah alat uji pada viskometer stromer, kemudian celupkan spindle hingga tenggelam pada sediaan. Atur kecepatan yang digunakan dan viscometer stormer dijalankan, kemudian viskositas dari gel terbaca. Nilai viskositas gel yang baik berada pada rentang 2000-4000 cPs, karena dengan kekentalan tersebut gel mampu menyebar dengan baik saat diaplikasikan. Dilakukan uji triplo (Forestryana et al. , 2. Uji Daya Lekat Gel ditimbang 0,1 g. Oles di atas kaca objek yang ditandai dengan luas 2 x 2 cm. Kaca objek lain diletakkan di atas gel tersebut. Beri beban 1 kg di atas kaca objek selama 5 menit, kemudian kaca objek dipasang pada alat uji daya lekat yang telah diberi beban 80 g. Waktu dicatat setelah kedua objek tersebut memisah. Dilakukan uji triplo (Tambunan dan Sulaiman, 2. Uji Daya Sebar Gel 0,5 g diletakkan di tengah cawan petri yang telah ditempeli dengan kertas millimeter blok. Penyebaran gel diukur dengan diameter gel yang menyebar dari dua sisi setelah dibiarkan selama 1 menit. Pengukuran diameter gel dimulai tanpa beban, kemudian ditambahkan beban 50 g, 100 g, 150 g, 200 g, dan dicatat diameter penyebaran gel setelah 1 menit. Dilakukan uji triplo (Tambunan dan Sulaiman, 2018. Yuniarto et al. , 2. Analisis Data Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dilakukan dengan cara menghitung rata-rata dan formula yang diuji diantaranya uji pH, viskositas, daya sebar, daya lekat. Data yang diperoleh pada pengujian evaluasi kemudian dianalisa menggunakan SPSS. Uji statistik yang dilakukan adalah uji normalitas, homogenitas kemudian dilanjutkan dengan menggunakan analisis variansi satu arah (ANOVA) dengan taraf kepercayaan 95% ( = 0,. untuk melihat adanya perbedaan antar kelompok formula gel (Forestryana et al. , 2. Jika data berdistribusi tidak normal, maka dianalisis menggunakan KruskalWallis (Sayuti, 2. Article Information Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022 HASIL DAN PEMBAHASAN Sampel daun sirsak yang digunakan pada penelitian ini diperoleh dari UPT Laboratorium Herbal Materia Medica Batu. Daun sirsak yang diambil adalah keseluruhan daun segar berwarna hijau tua. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling yakni atas dasar pertimbangan peneliti semata yang menganggap bahwa unsur-unsur yang dikehendaki telah ada dalam anggota sampel yang diambil, yaitu dengan menggunakan daun segar berwarna hijau tua. Daun sirsak dipetik pada pagi menjelang siang hari. Daun sirsak dipetik sekitar pukul 10. 00Ae12. 00 WIB di bawah sinar matahari yang cukup karena terjadi proses fotosintesis yang maksimal pada waktu tersebut (Asmonie et al. , 2. Daun sirsak yang terlalu muda belum banyak mengandung senyawa yang terbentuk, sedangkan kandungan pada daun yang terlalu tua sudah mulai rusak sehingga kadarnya berkurang. Daun sirsak untuk pengobatan sebaiknya dipilih daun yang tidak terlalu tua maupun terlalu muda (Lubis, 2. Daun sirsak segar yang diperoleh dilakukan sortasi basah dengan cara daun segar sirsak dicuci menggunakan air mengalir. Tujuan sortasi basah adalah untuk memisahkan kotoran-kotoran yang menempel di daun sirsak dengan menggunakan air bersih yang mengalir (Widyawati et al. , 2. Daun sirsak yang sudah disortasi kemudian dilakukan penirisan, perajangan dan pengeringan. Penirisan bertujuan untuk mengurangi air bilasan dan pengotor yang ada di air bilasan. Perajangan bertujuan untuk memperluas permukaan bahan atau simplisia agar dapat mempermudah proses pengeringan (BPOM, 2. Semakin tipis simplisia yang akan dikeringkan maka semakin cepat penguapan air yang terjadi (Sudrajad, 2. Proses pengeringan dapat mempengaruhi kualitas simplisia (Winangsih et al. , 2. Tujuan pengeringan adalah agar dapat mengurangi kadar air dan daun sirsak terhindar dari pertumbuhan mikroba sehingga diperoleh simplisia yang awet serta tidak mudah rusak. Simplisia dapat disimpan dalam jangka waktu yang relatif lebih lama (Lilbaiq, 2. Potongan daun sirsak yang diperoleh dikeringkan pada tenda pengeringan simplisia yang terdapat di materia medika pada suhu 40-50oC selama 4 hari. Pengeringan ini merupakan pengeringan yang menggunakan tenda surya dengan aliran udara yang diatur serta pada area yang terbebas dari kontaminasi (BPOM, 2. Simplisia daun sirsak dilakukan penyerbukan. Proses penyerbukan dapat mempengaruhi mutu ekstrak (BPOM, 2. Sampel simplisia yang diperoleh untuk penelitian ini adalah serbuk simplisia daun sirsak sebanyak 1500 g dengan kode produksi atau No batch 200907. SRS. Serbuk simplisia yang diperoleh diayak lagi menggunakan mesh 60 dan diperoleh serbuk halus seberat 1420 g. Serbuk simplisia diayak bertujuan untuk memperkecil ukuran partikel simplisia. Semakin kecil ukuran serbuk maka serbuk semakin halus sehingga luas permukaan semakin besar. Semakin besar luas permukaan serbuk akan memperbesar kontak serbuk simplisia dengan larutan penyari sehingga penyari lebih mudah dalam menarik senyawa aktif (Aji, 2. Ekstrak yang diperoleh ialah 208,8 g dari 1200 g simplisia daun sirsak. Rendemen ekstrak yang diperoleh ialah 17,4 %. Berdasarkan hasil skrining fitokimia. Ekstrak daun sirsak mengandung golongan senyawa flavonoid, tannin, triterpen, steroid, saponin, dan alkaloid Tabel 1. Hasil Skrining Fitokimia Identifikasi Keteranga Flavonoid Tanin Article Information Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022 Triterpen Steroid Saponin Alkaloi Formulasi Gel Pembuatan gel ekstrak daun sirsak dibuat pada mortir hangat. HPMC dikembangkan dengan cara diaduk dalam air yang telah dipanaskan sehingga terbentuk gel yang diinginkan (Dewi dan Saptarini, 2. Sebelum dilakukan mixing, metil paraben dilarutkan terlebih dahulu pada aqua destilata. Secara berurutan. TEA ditambahkan pada masa gel, metil paraben yang telah larut dan gliserin diaduk hingga Kemudian ekstrak daun sirsak yang telah larut dimasukkan ke mortar dan diaduk hingga terbentuk gel (Widyawati et al. , 2. Pada 48 jam pertama gel disimpan pada suhu ruangan untuk diuji siklus 0. Selanjutnya gel disimpan dalam kulkas dengan suhu 4oC selama 24 jam lalu gel dimasukkan dalam oven dengan suhu 40oC dan diuji siklus yang pertama. Begitu seterusnya hingga 3 siklus tercapai. Uji Stabilitas Gel Cycling test atau uji freeze and thaw adalah metode uji yang disarankan untuk sediaan cair dan semisolid. Uji siklus ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas suatu sediaan dengan berbagai pengaruh suhu. Cycling test gel pada formula ekstrak daun sirsak dilakukan selama 3 siklus (Tambunan dan Sulaiman, 2. Sediaan yang dapat melewati tahap ini dapat dikatakan stabil. Uji siklus ini dilakukan bertujuan untuk menunjukkan bahwa sediaan stabil selama masa distribusi maupun penyimpanan (Yogesthinaga, 2. Pengujian yang dilakukan adalah uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya lekat dan daya sebar gel. Pengujian gel dilakukan setelah dua hari karena dianggap sudah tidak ada lagi pengaruh gaya atau energi yang diberikan selama proses pembuatan sediaan yang dapat mempengaruhi gel (Wulandari, 2. Uji Organoleptis Hasil uji organoleptis menunjukkan setelah uji siklus 0 sampai siklus 3 tidak mengalami perubahan secara organoleptis, yakni berdasarkan warna, bau, bentuk maupun kejernihan. Hal ini dapat dikatakan bahwa gel sudah cukup stabil selama Bau khas gel berasal dari ekstrak. Warna hijau kecoklatan diperoleh dari warna ekstrak kental daun sirsak, sehingga mempengaruhi warna keseluruhan gel (Damayanti, 2. Gel pekat dikarenakan penambahan ekstrak kental, sehingga menimbulkan bekas warna bila dioleskan. Sriarumtias et al. , . menyatakan bahwa hasil yang paling stabil yaitu pada ekstrak daun sirsak 9% karena lebih encer dan warnanya lebih transparan, hal itu karena penambahan ekstrak daun sirsak yang tidak terlalu banyak. Sehingga penambahan esktrak berpengaruh terhadap kejernihan sediaan Tabel 2. Hasil uji organoleptis Pengamatan organoleptis Karakterisa Formula siyang Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Hijau Hijau Hijau Hijau Warna kecoklata kecoklata Formula Aroma ,5%) Aroma Aroma Aroma Bau Bentuk Semisoli Semisoli Semisoli Semisoli Article Information Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022 Kejerniha Warna Formul Bau Bentuk Kejerniha Warna Formul ,5%) Bau Bentuk Kejerniha Pekat Pekat Pekat Pekat Hijau Hijau Hijau Aroma Semisoli Pekat Aroma Semisoli Pekat Aroma Semisoli Pekat Hijau Aroma Semisoli Pekat Hijau Hijau Hijau Aroma Semisoli Pekat Aroma Semisoli Pekat Aroma Semisoli Pekat Hijau Arom Semisoli Pekat Uji Homogenitas Hasil uji homogenitas gel dinyatakan homogen karena tidak terbentuk butirbutir kasar. Menurut pengujian visual gel ekstrak daun sirsak memenuhi kriteria sediaan yang baik dari segi homogenitas. Homogenitas penting dalam sediaan gel karena berkaitan dengan keseragaman kandungan jumlah zat aktif dalam setiap penggunaan (Wulandari, 2. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan zat aktif ekstrak daun sirsak memiliki keseragaman kandungan dan bahan-bahan telah tercampur merata. Diharapkan tiap olesan gel yang digunakan memiliki efek yang sama. Berdasarkan Tabel dapat dikatakan bahwa HPMC mampu menghasilkan gel yang stabil secara homogenitas dari siklus 0 hingga siklus 3. Tabel 3. Hasil Uji Homogenitas Pengamatan homogenitas Karakterisa Formula Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Formula I . ,5%) Homogenitas Homoge Homoge Homoge Homoge Formula II . %) Homogenitas Homoge Homoge Homoge Homoge Formula i Homogenitas Homoge Homoge Homoge Homoge . ,5%) Uji pH Gel ekstrak daun sirsak yang diperoleh dari masing-masing konsentrasi gel selama 4 siklus masuk kedalam rentang pH kulit yang telah ditentukan yaitu antara 4,56,5 sehingga aman digunakan dan dapat diterima konsumen. Berdasarkan standar SNI 16-4399-1996, nilai pH pada ketiga formula tersebut masuk kedalam rentang nilai pH yang dianjurkan untuk sediaan topikal yaitu 4,5 Ae 8,0 (Jafar et al. , 2. pH gel yang terlalu asam dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan apabila pH gel terlalu basa maka dapat menyebabkan kulit bersisik (Widyawati et al. , 2. Article Information Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022 Formula Tabel 4. Hasil Uji pH Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 6,33A0,03 6,24A0,06 6,26A0,08 6,36A0,03 6,35A0,01 6,32A0,05 6,5A0,06 6,37A0,01 6,43A0,03 Siklus 3 Formula I . ,5%) 6,26A0,05 Formula II . ,%) 6,22A0,01 Formula i 6,41A0,06 . ,5%) Pada uji ANOVA F1 dan F3 memiliki nilai p >0,05 serta F2 <0,05. F1 dan F3 mengalami kenaikan dan penurunan pH, namun kenaikan dan penurunan ini masih dikatakan stabil. Pada F2 terjadi tidak stabil dan mengalami penurunan pH namun masih memenuhi rentang pH fisiologis. Karena gel HPMC memiliki kisaran pH 5-8, maka pH 6 tidak akan merusak komponen-komponen yang digunakan. Penurunan pH kemungkinan karena perubahan suhu serta kondisi penyimpanan pada waktu pengamatan (Rahmawati, 2. Menurut Astuti, . penurunan pH tersebut dapat disebabkan faktor lingkungan seperti suhu dan penyimpanan yang kurang baik. Uji Viskositas Tabel 5. Hasil Uji Viskositas Viskositas Pada Siklus Formula . Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Formula I . ,5%) 1794,83A257, 1739,04A350,6 1513,2A0 1850,62A292. Formula II . %) 1065,54A128, 1149,94A49,5 981,1867A96, 1094,107A83. Formula i 737,11A29,2 720,22A29,2 703,5967A50, 703,5967A50, . ,5%) Parameter viskositas gel yang baik adalah 2000-4000 cPs (Forestryana et al. Berdasarkan tabel, rata-rata viskositas F1 hampir mendekati rentang yang Viskositas sediaan gel dipengaruhi oleh faktor seperti pencampuran atau pengadukan ketika proses pembuatan sediaan gel, pemilihan basis dan humektan, serta ukuran partikel. Berdasarkan tabel, terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi HPMC maka viskositasnya semakin meningkat (Dewi dan Saptarini, 2. Peningkatan konsentrasi HPMC bisa meningkatkan jumlah serat polimer sehingga semakin banyak juga cairan yang tertahan dan terikat oleh gelling agent. Hal ini mengakibatkan viskositas sediaan gel menjadi meningkat (Yulin, 2. Pada Anova diperoleh hasil nilai >0,05, maka F1. F2 dan F3 stabil selama penyimpanan secara Pada F2, pHnya tidak stabil namun memiliki viskositas yang stabil. Hal ini dikarenakan HPMC dapat stabil pada pH 3 sampai 11, bersifat netral, serta vikositasnya stabil walaupun disimpan dengan jangka waktu yang lama (Dewi dan Saptarini, 2. Menurut Tambunan dan Sulaiman, . HPMC tidak dipengaruhi oleh pH untuk terjadi gelling. Uji Daya Lekat Gel ekstrak daun sirsak memiliki hasil yang memenuhi syarat yaitu lebih dari 1 detik (Irianto et al. , 2. Semakin lama gel melekat pada kulit maka semakin banyak zat aktif yang berdifusi ke dalam kulit, sehingga makin efektif penggunaannya (Budi et Article Information Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022 al. , 2. Daya lekat berbanding lurus dengan viskositas. Jika viskositas kecil maka daya lekat juga akan menurun. Viskositas yang kecil cenderung cair sehingga kemampuan melekat akan lebih kecil atau dalam waktu yang singkat (Uchti dan Wahyuningsih, 2. Berdasarkan hasil ANOVA, diperoleh hasil bahwa F1. F2 dan F3 memiliki nilai p >0,05. Dapat dikatakan bahwa daya lekat gel ekstrak daun sirsak stabil selama masa penyimpanan. Tabel 6. Hasil Uji Daya Lekat Daya lekat Formula . Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Formul I . ,5%) 10,45A0,173 10,56A0,90 10,23A0,37 10,213A0,481 Formula II . %) 19,636A1,13 19,35A1,10 19,67A1,64 19,27A0,775 Formula II . ,5%) 30,82A0,996 30,52A0,39 30,99A0,44 30,40A0,445 Uji Daya Sebar Hasil uji daya sebar yang diolah untuk analisis data adalah pada uji yang ditimpa beban 200 g karena dianggap merupakan daya sebar yang konstan dan Uji daya sebar merupakan uji yang penting dilakukan, beban yang digunakan pada uji ini daya sebar dapat mempengaruhi luas penyebaran gel, semakin besar beban yang diberikan maka semakin lebar daya sebar yang dihasilkan. Kemampuan daya sebar gel yang semakin besar maka akan memudahkan sediaan gel saat diusapkan (Widyawati et al. , 2. Berdasarkan hasil rata-rata uji daya sebar formula I dengan konsentrasi HPMC 2,5%, formula II 3% memiliki daya sebar diatas 5 cm dan formula i 3,5% yang diperoleh dibawah 5 cm. F1 dan F2 termasuk dalam gel semicair dan F3 termasuk dalam gel semikaku. Menurut Garg et al. , . jika diameter daya sebar kurang dari 5 cm maka sediaan gel tergolong dalam sediaan yang semikaku . , jika diameter daya sebar antara 5-7 cm, maka gel tergolong dalam sediaan yag semicair . Menurut Garg et al. , . daya sebar sediaan semipadat yang baik untuk penggunaan topical berkisar pada diameter 3-5 cm, sehingga gel dalam penelitian ini memenuhi syarat Garg et al. , . Daya sebar yang dikehendaki adalah pada rentang 3-5 (Aeni et al. , 2012. Yogesthinaga, 2. Daya sebar berbanding terbalik dengan viskositas dan daya lekat, semakin besar nilai viskositas serta daya lekat maka daya sebar akan menurun (Damayanti, 2. Pada uji ANOVA diperoleh hasil >0,05 maka dinyatakan bahwa F1. F2 dan F3 stabil selama penyimpanan 3 siklus. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan HPMC dengan konsentrasi 2,5%, 3% dan 3,5% dapat menghasilkan sediaan gel ekstrak daun sirsak (Annona muricata L. ) dengan stabilitas fisik yang baik. Gel ekstrak daun sirsak dengan variasi konsentrasi HPMC sebagai gelling agent stabil selama penyimpanan 3 siklus secara organoleptis, homogenitas, viskositas, daya lekat dan daya sebar. pH gel stabil selama 3 siklus untuk konsentrasi HPMC 2,5% dan 3,5% namun pada formula dengan konsentrasi HPMC 3% pH gel tidak stabil selama 3 siklus. Saran Perlu dilakukan pengujian aktivitas antibakteri dan antiinflamasi gel ekstrak daun Article Information Received August 25,2022 | Revised September 22,2022 | Accepted October 25,2022 sirsak untuk mengonfirmasi khasiat gel ekstrak daun sirsak sebagai antijerawat. Perlu dilakukan optimasi formulasi optimum untuk gelling agent HPMC. Perlu memodifikasi konsentrasi HPMC dengan penurunan konsentrasi atau dengan penambahan humektan selain gliserin seperti propilenglikol agar dapat menurunkan viskositas dan memperluas daya sebar. Perlu memperhatikan kondisi lingkungan seperti suhu dan CO2 saat pembuatan atau pengujian gel. UCAPAN TERIMA KASIH