JPAP 9 . ISSN (Ceta. : 2548-6233. ISSN (Onlin. : 2548-6241 Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan https://jurnalpasca. id/index. php/jpap/index Evaluasi Program Unggulan MABIT (Malam Bina dan Taqw. di TKIT Anak Sholeh Mataram Menggunakan Model Evaluasi CIPP Yunita Sari1*. Abdul Kadir Jaelani1 Program Studi Magister Administrasi Pendidikan. Pascasarjana. Universitas Mataram. Mataram. Indonesia. DOI: 10. 29303/jpap. Sitasi: Yunita Sari, & Kadir Jaelani. Evaluasi Program Unggulan MABIT (Malam Bina dan Taqw. di TKIT Anak Sholeh Mataram Menggunakan Model Evaluasi CIPP. JPAP (Jurnal Praktisi Administrasi Pendidika. , 9. , 113Ae118. https://doi. org/10. 29303/jpap. *Corresponding Author: Yunita Sari. Program Studi Magister Administrasi Pendidikan. Pascasarjana. Universitas Mataram. Mataram. Indonesia. Emai: yunitasarii98765@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan program Malam Bina dan Taqwa (MABIT) di TKIT Anak Sholeh Mataram dengan menggunakan model evaluasi CIPP (Context. Input. Process. Produc. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Informan terdiri dari kepala sekolah, guru, orang tua, dan peserta didik. Hasil evaluasi pada komponen konteks menunjukkan bahwa pelaksanaan program MABIT dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk menanamkan nilai-nilai karakter religius sejak usia dini sebagai bagian dari misi sekolah. Pada komponen input, program didukung oleh tenaga pendidik yang kompeten, sarana prasarana yang memadai, dan kurikulum yang berbasis nilai-nilai Islam. Evaluasi proses menunjukkan bahwa kegiatan MABIT dilaksanakan secara sistematis melalui aktivitas seperti salat berjamaah, tadabbur alam, pembacaan kisah islami, dan muhasabah. Komponen produk menunjukkan bahwa program ini berkontribusi positif terhadap pembentukan karakter religius peserta didik, seperti peningkatan kedisiplinan, kepedulian, dan kebiasaan ibadah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa program MABIT berjalan secara efektif dan relevan dalam mendukung visi sekolah, namun masih perlu peningkatan dalam aspek pelibatan orang tua dan kesinambungan kegiatan pascaprogram. Kata Kunci: Evaluasi Program. MABIT. Karakter Religius. Model CIPP. Anak Usia Dini. Pendahuluan Pada era modern saat ini, pendidikan tidak lagi berfokus hanya pada pencapaian akademik semata, melainkan juga menekankan pentingnya pembentukan karakter, terutama sejak usia dini. Karakter religius merupakan salah satu dimensi penting dalam pendidikan karakter karena menjadi pondasi moral Lickona menyatakan bahwa pendidikan karakter religius merupakan upaya untuk menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual yang akan membimbing anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berakhlak. Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan fase kritis dalam pembentukan nilai-nilai dasar Di usia ini, anak-anak sedang berada dalam tahap perkembangan yang sangat cepat dan sensitif terhadap pengaruh lingkungan. Oleh karena itu, pendidikan pada jenjang ini harus dirancang dengan pendekatan yang tidak hanya kognitif, tetapi juga afektif dan spiritual. Isjoni . menegaskan bahwa lembaga pendidikan anak usia dini memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai agama melalui kegiatan pembiasaan yang menyenangkan dan bermakna. Salah satu bentuk kegiatan pembiasaan religius yang dilaksanakan di lembaga pendidikan Islam, khususnya di TK Islam Terpadu (TKIT), adalah program Malam Bina dan Taqwa (MABIT). MABIT dirancang sebagai program unggulan untuk memberikan pengalaman spiritual yang lebih mendalam kepada anak-anak melalui kegiatan seperti sholat berjamaah, membaca Al-QurAoan, mendengarkan kisah islami, serta berbagai permainan edukatif bernuansa keislaman. Sauri . menyebutkan bahwa kegiatan berbasis A 2025 Published by Posgraduate Mataram University. This open access article is distributed under a Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan spiritual seperti ini mampu membentuk karakter religius anak melalui pendekatan langsung yang menyentuh aspek afektif dan emosional. TKIT Anak Sholeh Mataram merupakan salah satu lembaga yang secara aktif mengimplementasikan program MABIT dalam kurikulumnya. Program ini dilaksanakan secara berkala dan melibatkan semua unsur sekolah, termasuk guru, orang tua, dan pengelola Keunikan MABIT di TKIT Anak Sholeh terletak pada pelaksanaannya yang dilakukan dalam suasana hangat, menyenangkan, dan penuh kasih sayang, sehingga memberikan kesan mendalam bagi anak-anak serta memperkuat ikatan emosional dengan nilai-nilai Islam. Meski demikian, keberhasilan suatu program tidak dapat hanya dinilai dari pelaksanaannya semata, melainkan perlu adanya evaluasi yang sistematis dan berkelanjutan untuk memastikan bahwa program benar-benar efektif dan sesuai dengan tujuan. Stufflebeam dan Coryn . menegaskan bahwa evaluasi program pendidikan diperlukan untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, serta rekomendasi perbaikan yang dibutuhkan agar program terus berkembang secara optimal. Salah satu model evaluasi yang komprehensif dan banyak digunakan dalam konteks pendidikan adalah model CIPP (Context. Input. Process. Produc. Model ini dikembangkan oleh Stufflebeam dan memberikan pendekatan menyeluruh terhadap evaluasi program, mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan dan sumber daya, pelaksanaan kegiatan, hingga hasil atau dampak program (Stufflebeam, 2. Dengan demikian, evaluasi tidak hanya berfokus pada produk akhir, tetapi juga memperhatikan proses dan konteks program secara Dalam konteks program MABIT, model CIPP sangat relevan untuk digunakan karena mampu memberikan gambaran utuh mengenai latar belakang pelaksanaan, kesiapan sumber daya, kualitas implementasi, serta dampak yang dihasilkan terhadap perkembangan karakter religius anak. Evaluasi konteks dapat mengungkap alasan perlunya MABIT di TKIT. evaluasi input menilai kelayakan perencanaan dan keterlibatan stakeholder. evaluasi proses melihat kesesuaian pelaksanaan dengan rencana. evaluasi produk menilai perubahan perilaku dan karakter anak secara konkret. Selain itu, evaluasi program juga penting dalam pengambilan kebijakan berbasis data yang dapat mendukung pengembangan program ke depannya. Rossi. Lipsey, dan Freeman . menyatakan bahwa evaluasi yang dilakukan secara ilmiah dan sistematis tidak hanya meningkatkan efektivitas program, tetapi juga memperkuat akuntabilitas lembaga pendidikan Juli 2025. Volume 9. Nomor 2, 113-118 kepada orang tua dan masyarakat luas yang mempercayakan proses pendidikan anak kepada Lebih jauh lagi, program MABIT memiliki keterkaitan erat dengan kebijakan nasional dalam bidang pendidikan karakter. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter menegaskan bahwa pendidikan karakter harus menjadi bagian integral dari seluruh proses pembelajaran, termasuk di jenjang PAUD. Oleh karena itu, keberadaan program seperti MABIT perlu mendapatkan perhatian dan evaluasi yang serius agar selaras dengan arah kebijakan nasional serta mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembentukan generasi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Berdasarkan paparan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan program MABIT (Malam Bina dan Taqw. di TKIT Anak Sholeh Mataram menggunakan pendekatan model evaluasi CIPP. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang komprehensif tentang efektivitas program, faktor pendukung dan penghambat, serta pengembangan program pendidikan karakter religius anak usia dini secara berkelanjutan dan berbasis bukti. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan program MABIT (Malam Bina dan Taqw. di TKIT Anak Sholeh Mataram secara mendalam. Model evaluasi yang digunakan adalah CIPP (Context. Input. Process. Produc. Stufflebeam. Model ini dipilih karena dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang kebutuhan program, pelaksanaan, dan hasil yang dicapai. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat menggali data secara holistik dan kontekstual sesuai dengan realitas di Sumber data utama dalam penelitian ini meliputi kepala sekolah, guru pelaksana MABIT, orang tua murid, serta peserta didik TK kelompok B sebagai sasaran program. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan Observasi dilakukan selama kegiatan MABIT berlangsung, sedangkan wawancara dilakukan secara semi-terstruktur agar dapat menangkap pandangan dan pengalaman informan secara luas dan Dokumentasi digunakan untuk menelaah arsip-arsip seperti jadwal kegiatan, foto kegiatan, dan laporan internal sekolah. Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Untuk menjamin keterpercayaan data, dilakukan triangulasi sumber dan teknik, serta member check kepada informan utama. Validitas data diuji melalui pengamatan berulang, diskusi antarpeneliti, serta pencatatan reflektif agar data yang dikumpulkan benarbenar menggambarkan kondisi objektif di lapangan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis interaktif Miles & Huberman, yang terdiri dari tiga tahapan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Komponen evaluasi konteks dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang dan kebutuhan pelaksanaan program MABIT di TKIT Anak Sholeh Mataram. Indikator yang digunakan dalam evaluasi konteks meliputi: . kesesuaian program dengan visi dan misi sekolah, . relevansi program dengan kebutuhan karakter anak usia dini, . dukungan lingkungan terhadap pelaksanaan program, dan . persepsi stakeholder terhadap urgensi pembinaan karakter religius sejak dini. Komponen evaluasi input bertujuan untuk menilai sejauh mana kesiapan sekolah dalam melaksanakan program MABIT. Indikator yang digunakan antara lain: . kompetensi guru dalam membimbing kegiatan spiritual anak, . kesiapan kurikulum dan perangkat kegiatan MABIT, . dukungan sarana dan prasarana seperti tempat pelaksanaan, perlengkapan tidur, dan alat ibadah anak, serta . keterlibatan orang tua dalam persiapan dan pelaksanaan program. Penilaian pada aspek ini membantu melihat apakah program dirancang secara terstruktur dan layak untuk dijalankan. Komponen evaluasi proses menekankan pada bagaimana kegiatan MABIT diimplementasikan di Indikatornya meliputi: . pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana dan jadwal, . keterlibatan aktif anak dalam kegiatan, . penggunaan metode yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini . ermain, bercerita, menir. , . kenyamanan dan keamanan anak selama kegiatan berlangsung, serta . monitoring dan evaluasi internal oleh guru atau kepala sekolah selama kegiatan berlangsung. Evaluasi proses ini penting untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan dengan desain program. Komponen evaluasi produk bertujuan untuk melihat hasil atau dampak dari pelaksanaan program MABIT terhadap pembentukan karakter religius anak. Indikator utama yang digunakan antara lain: . peningkatan kebiasaan ibadah anak . holat, doa, dziki. , . peningkatan sikap jujur, disiplin, dan mandiri, . munculnya empati dan sikap saling tolong-menolong antar teman, . peningkatan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, serta . kesan dan pengalaman positif anak dan orang tua terhadap program. Penilaian ini Juli 2025. Volume 9. Nomor 2, 113-118 dilakukan secara deskriptif melalui hasil observasi dan testimoni orang tua. Peneliti terstruktur dan pedoman wawancara yang disusun berdasarkan keempat komponen CIPP. Selain itu, dokumen program seperti silabus kegiatan MABIT, absensi peserta, dan laporan pelaksanaan juga dianalisis sebagai data pendukung. Kegiatan analisis dilakukan secara simultan selama proses pengumpulan data berlangsung, sehingga peneliti dapat melakukan penyesuaian teknik pengumpulan data jika dibutuhkan. Teknik analisis data mengacu pada model interaktif Miles & Huberman, di mana data direduksi berdasarkan fokus komponen evaluasi CIPP, kemudian disajikan dalam bentuk matriks tematik, dan akhirnya disimpulkan dengan memperhatikan pola-pola temuan yang muncul. Dengan demikian, hasil evaluasi tidak hanya menggambarkan keberhasilan program, tetapi juga mengungkap area yang masih memerlukan Hasil dari evaluasi ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi strategis bagi sekolah, guru, dan yayasan dalam menyempurnakan pelaksanaan program MABIT. Rekomendasi tersebut akan disusun berdasarkan temuan di masing-masing komponen evaluasi, serta disesuaikan dengan karakteristik anak usia dini dan kondisi lingkungan sekolah. Hasil evaluasi juga dapat digunakan oleh lembaga sejenis sebagai model replikasi program pembinaan karakter religius yang kontekstual dan terukur. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan model evaluasi CIPP, penelitian ini memberikan gambaran utuh tentang efektivitas pelaksanaan program MABIT sebagai media pembentukan karakter religius anak usia dini. Penekanan pada indikatorindikator yang relevan memungkinkan penelitian ini menghasilkan temuan yang aplikatif, mendalam, dan bermanfaat bagi pengembangan program serupa secara Hasil dan Pembahasan Evaluasi terhadap program Malam Bina dan Taqwa (MABIT) di TKIT Anak Sholeh Mataram menunjukkan bahwa program ini telah memberikan kontribusi signifikan dalam membentuk karakter Islami peserta didik sejak usia dini. Program MABIT merupakan bagian dari upaya pendidikan karakter yang diarahkan pada pembentukan akhlak mulia, kemandirian, dan kebiasaan ibadah yang konsisten pada anak-anak. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan model CIPP yang mencakup empat komponen utama, yaitu konteks, input, proses, dan produk, untuk menggambarkan Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan ketercapaian dan hambatan pelaksanaan program secara menyeluruh. Pada aspek konteks, program MABIT dirancang berdasarkan kebutuhan nyata akan pendidikan karakter dan spiritualitas anak usia dini. Kebutuhan ini muncul sebagai respons terhadap tantangan moral dan perilaku peserta didik akibat pengaruh lingkungan luar, media, dan kurangnya kontrol nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari program ini sangat jelas, yakni membentuk karakter Islami melalui kegiatan pembiasaan ibadah dan interaksi sosial yang bernilai. Dengan demikian, program ini sejalan dengan visi TKIT Anak Sholeh Mataram dalam membentuk peserta didik yang berakhlak mulia sejak dini. Secara lebih rinci, tujuan program MABIT adalah menanamkan kebiasaan ibadah seperti shalat lima waktu, membaca Al-QurAoan, berdzikir, dan doa-doa Melalui kegiatan-kegiatan ini, peserta didik dilatih untuk memiliki rutinitas spiritual yang tertanam kuat, baik di sekolah maupun di rumah. Orang tua siswa turut merasakan manfaat program ini karena anak-anak menunjukkan perubahan positif dalam perilaku ibadah di rumah, seperti bangun lebih awal untuk shalat Subuh atau mengingatkan orang tua untuk berdoa bersama. Hal ini menjadi indikator keberhasilan konteks program MABIT. Selain itu, hasil observasi peneliti menunjukkan adanya kesesuaian antara tujuan program MABIT dengan visi misi sekolah. Visi sekolah yang mengarah pada pembentukan perilaku mulia sejak usia dini tercermin dalam kegiatan-kegiatan yang disusun dalam MABIT. Anak-anak dilatih untuk bersikap mandiri, disiplin, berempati, mencintai lingkungan, dan menjalin hubungan sosial yang baik dengan teman-temannya. Visi ini terealisasi secara nyata melalui aktivitas yang dilakukan sepanjang pelaksanaan program. Beralih ke komponen input, program MABIT ditunjang oleh sumber daya manusia yang kompeten dan memiliki pemahaman keagamaan yang baik. Guruguru yang terlibat dalam pelaksanaan program telah dibekali dengan keterampilan mendampingi anak usia dini serta memiliki kemampuan bacaan Al-QurAoan yang Mereka juga ditugaskan sesuai dengan kelompok usia anak agar proses pendampingan lebih optimal dan sesuai tahap perkembangan peserta didik. Dari segi sarana dan prasarana, pelaksanaan MABIT juga sangat terbantu oleh ketersediaan fasilitas yang aman dan nyaman. Ruang kelas, ruang tidur, kamar mandi, serta perlengkapan penunjang kegiatan berada dalam kondisi baik dan layak pakai. Hal ini sangat penting karena program MABIT menuntut anak untuk menginap di sekolah, sehingga kenyamanan dan keamanan menjadi faktor utama yang mendukung keberhasilan kegiatan. Peran orang tua dalam Juli 2025. Volume 9. Nomor 2, 113-118 membantu menyediakan logistik seperti makanan, minuman, dan perlengkapan tidur juga menjadi kontribusi nyata terhadap keberlangsungan program. Sumber pendanaan program berasal dari dua jalur utama, yaitu iuran rutin SPP dan donasi sukarela dari orang tua. Dana ini dikelola secara transparan oleh pihak sekolah untuk kebutuhan operasional program, termasuk konsumsi, perlengkapan kegiatan, serta pengadaan materi edukatif. Dengan adanya dukungan direncanakan dan dilaksanakan secara maksimal tanpa kendala berarti dari sisi keuangan. Pada aspek proses, pelaksanaan program MABIT dilakukan secara sistematis, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi. Pada tahap perencanaan, sekolah melakukan sosialisasi kepada orang tua, menyusun jadwal kegiatan, mempersiapkan logistik, dan membentuk tim pendamping. Orang tua diberikan pemahaman mengenai tujuan program serta teknis pelaksanaannya untuk memastikan dukungan penuh dari rumah. Selama pelaksanaan, kegiatan MABIT diisi dengan aktivitas ruhiyah seperti shalat berjamaah, dzikir, muhasabah, dan tilawah. Selain itu, kegiatan jasadiyah dan sosial seperti olahraga ringan, permainan kelompok, dan makan bersama juga diberikan sebagai selingan agar anak tidak merasa bosan. Pola ini menyesuaikan karakteristik anak usia dini yang senang belajar melalui bermain dan pengalaman langsung . earning by doin. Guru memegang peran penting sebagai fasilitator sekaligus teladan dalam kegiatan MABIT. Mereka membimbing anak-anak dengan pendekatan yang ramah, sabar, dan penuh kasih sayang. Pendekatan ini memperkuat hubungan emosional antara guru dan peserta didik, sehingga anak merasa aman dan nyaman mengikuti kegiatan meski tanpa didampingi orang tua. Evaluasi dilakukan secara berkala melalui catatan perkembangan, observasi langsung, serta umpan balik dari orang tua setelah kegiatan selesai. Dari sisi produk, hasil program MABIT menunjukkan adanya peningkatan perilaku positif pada peserta didik, baik dari sisi spiritual maupun sosial. Anak-anak menjadi lebih disiplin dalam beribadah, memiliki kebiasaan berdzikir, dan mulai memahami makna ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, mereka juga menunjukkan kemandirian seperti mampu bergantung pada orang tua dalam kegiatan rutin. Orang tua menyampaikan bahwa setelah mengikuti MABIT, anak-anak mereka menjadi lebih tenang, sopan, dan menunjukkan empati terhadap orang lain. Bahkan, beberapa orang tua menyebut bahwa anak-anak mulai mengingatkan anggota keluarga lain untuk beribadah Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan tepat waktu. Ini menunjukkan bahwa MABIT tidak hanya berdampak di lingkungan sekolah, tetapi juga membawa pengaruh positif dalam kehidupan keluarga. Faktor pendukung keberhasilan program MABIT antara lain adalah dukungan penuh dari manajemen sekolah yang memiliki komitmen kuat terhadap pendidikan karakter. Kepala sekolah dan jajaran manajemen memberikan ruang dan waktu yang cukup bagi program ini untuk berkembang dan berinovasi. Selain itu, kolaborasi antara guru, orang tua, dan siswa menjadi fondasi kuat bagi tercapainya tujuan program. Peran guru sebagai penggerak utama program juga menjadi kunci sukses. Guru yang memahami pendekatan pendidikan berbasis nilai spiritual mampu mengemas kegiatan menjadi menarik dan bermakna. Kurikulum sekolah yang telah terintegrasi dengan nilainilai keislaman membuat pelaksanaan MABIT menjadi bagian dari kesinambungan pembelajaran sehari-hari, bukan sesuatu yang terpisah dari rutinitas sekolah. Namun MABIT juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kesiapan emosional anak usia dini. Tidak semua anak siap untuk menginap jauh dari orang tua. Beberapa anak menangis, merasa takut, atau tidak mau tidur di Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk memberikan rasa aman dan pendekatan yang tepat agar anak mampu beradaptasi. Kendala lainnya adalah keterbatasan jumlah pendamping dibandingkan jumlah peserta. Ketika ada anak yang rewel atau mengalami kesulitan, mengabaikan peserta lain. Hal ini dapat mengganggu Penambahan jumlah pendamping atau pelatihan khusus menjadi solusi jangka panjang yang perlu dipertimbangkan pihak sekolah. Selain itu, faktor cuaca juga menjadi penghambat yang tidak bisa dikendalikan. Ketika cuaca buruk terjadi, seperti hujan deras atau angin kencang, beberapa kegiatan harus disesuaikan atau dipindah Ini membutuhkan fleksibilitas dalam manajemen kegiatan dan kesiapan logistik yang mendukung perubahan rencana secara cepat. Ada juga sebagian orang tua yang masih meragukan keamanan dan manfaat program MABIT. Mereka khawatir anak-anak belum siap secara fisik dan mental untuk mengikuti kegiatan menginap. Edukasi dan sosialisasi yang intensif perlu dilakukan agar semua orang tua memahami pentingnya pembiasaan spiritual sejak dini, serta membangun kepercayaan terhadap sistem yang disusun oleh pihak sekolah. Tantangan lainnya adalah kejenuhan anak terhadap kegiatan yang berlangsung hingga malam hari. Jika kegiatan tidak diselingi dengan permainan yang Juli 2025. Volume 9. Nomor 2, 113-118 menyenangkan atau hiburan edukatif, anak bisa merasa bosan dan kehilangan minat. Oleh karena itu, kreativitas guru dalam menyusun agenda kegiatan yang variatif sangat diperlukan untuk menjaga semangat dan antusiasme peserta didik. Berdasarkan seluruh komponen evaluasi CIPP dan pertimbangan faktor pendukung serta penghambat, dapat disimpulkan bahwa program MABIT di TKIT Anak Sholeh Mataram secara umum berjalan efektif dan memberikan dampak positif yang nyata bagi perkembangan karakter dan spiritualitas anak. Namun, upaya perbaikan terus-menerus tetap diperlukan, khususnya dalam mengatasi hambatan teknis dan meningkatkan kualitas pendampingan peserta didik selama kegiatan. Kesimpulan Berdasarkan hasil evaluasi program MABIT (Malam Bina dan Taqw. di TKIT Anak Sholeh Mataram CIPP (Context. Input. Process. Produc. , dapat disimpulkan bahwa program ini terlaksana secara efektif dan memberikan kontribusi positif dalam membentuk karakter Islami anak usia dini. Program ini dirancang berdasarkan kebutuhan nyata akan pendidikan karakter berbasis nilai keislaman yang sejalan dengan visi dan misi sekolah. Pelaksanaannya didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten, sarana prasarana yang memadai, partisipasi aktif orang tua, serta perencanaan kegiatan yang terstruktur dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Program ini berhasil membentuk kebiasaan positif seperti kedisiplinan ibadah, kemandirian, dan kemampuan bersosialisasi, baik di sekolah maupun di rumah. Meskipun terdapat keterbatasan pendamping, cuaca, dan kurangnya pemahaman sebagian orang tua, namun hal tersebut dapat diminimalkan dengan dukungan penuh dari pihak sekolah, guru, dan orang tua. Oleh karena itu, program MABIT layak untuk dipertahankan dan dikembangkan lebih lanjut sebagai salah satu strategi efektif dalam membangun karakter dan spiritualitas peserta didik sejak usia dini. Daftar Pustaka