KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Analisis Deskriptif terhadap Penerapan Motif Ragam Hias Poso Pada Karya Seni Kriya Jans G. Mangare1. Glory Binalai2*. Meyer W. Matey3 . Jurusan Pendidikan Seni Rupa. Fakultas Bahasa & seni. Universitas Negeri Manado. Indonesia. *) Korespondensi: glorychrisygabrielabinalai@gmail. Sejarah Artikel: Dimasukkan: 26 Februari 2025 Derivisi: 21 Maret 2025 Diterima:12 Agustus 2025 KATA KUNCI ABSTRAK Seni Kriya. Ragam Hias Poso. Analisis Deskriptif. Warisan Budaya. Motif ragam hias Poso merupakan salah satu warisan budaya yang kaya dan beragam di Indonesia. Motif ini memiliki ciri khas yang unik dan merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Poso. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis penerapan motif ragam hias Poso sebagai budaya daerah Kabupaten Poso pada karya seni kriya. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan atau menguraikan fenomena. Lokasi penelitian ini adalah di Kabupaten Poso. Sulawesi Tengah. Waktu penelitian ini berlangsung selama 4 bulan, mulai dari Agustus hingga November 2024. Sumber data penelitian ini diperoleh melalui wawancara dengan Bapak Senang Joyodimejo, seorang pengrajin kayu hitam/eboni. Bapak Trivon Glorya Sonora, selaku majelis adat Poso. serta Bapak Nestor Binalai, sebagai pemilik buku ragam hias Poso. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi studi literatur, wawancara terstruktur, dan observasi partisipatif. Data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan teknik deskriptif, yaitu analisis kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan motif ragam hias Poso pada karya seni kriya dapat memberikan nilai tambah pada produk kerajinan, sehingga dapat meningkatkan daya saing produk kerajinan Poso di pasar nasional dan internasional. Oleh karena itu, penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pengembangan strategi pemasaran dan promosi produk kerajinan Poso yang berbasis pada kekayaan budaya dan tradisi daerah. KEYWORDS ABSTRACT Craft Arts. Ornamental Motifs of Poso. Descriptive Analysis. Cultural Heritage. The ornamental motifs of Poso are one of IndonesiaAos rich and diverse cultural These motifs possess unique characteristics and represent a vital part of the cultural identity of the Poso community. This study aims to describe and analyze the application of Poso ornamental motifs, as a regional cultural asset of Poso Regency, in craft artworks. This research employs a descriptive method, which seeks to illustrate or explain phenomena. The study was conducted in Poso Regency. Central Sulawesi, over a period of four months, from August to November 2024. The data sources for this research include interviews with Mr. Senang Joyodimejo, a blackwood/ebony craftsman. Mr. Trivon Glorya Sonora, a member of the Poso traditional council. and Mr. Nestor Binalai, the owner of a book on Poso ornamental motifs. Data collection techniques involved literature review, structured interviews, and participatory The collected data were analyzed using descriptive qualitative The findings of this study indicate that incorporating Poso ornamental motifs into craft artworks can add value to the products, thereby enhancing the competitiveness of Poso handicrafts in both national and international markets. Therefore, this research may serve as a reference for developing marketing and promotional strategies for Poso crafts based on the richness of regional culture and tradition. Copyright A 2025 by Authors. Published by Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Manado This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Mangare. Binalai & Matey. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 PENDAHULUAN Seni kriya adalah cabang seni rupa yang berfokus pada pengembangan keterampilan tangan dan teknik untuk menciptakan karya seni yang fungsional dan estetis. Menurut Suparman . , seni kriya merupakan suatu bentuk ekspresi diri yang menggunakan media bahan alami atau sintesis, seperti kayu, logam, keramik, tekstil, dan lain-lain. Dalam proses penciptaan, seni kriya menggabungkan elemen-elemen estetika seperti bentuk, warna, tekstur, dan komposisi untuk menghasilkan karya seni yang unik dan memiliki nilai estetika tinggi (Rahmawati, 2. Selain itu, seni kriya juga dapat berfungsi sebagai sarana untuk melestarikan budaya dan tradisi, serta sebagai media untuk mengungkapkan gagasan dan emosi (Sulistiyowati, 2. Indonesia memiliki kekayaan budaya yang beragam, dan budaya ragam hias Poso termasuk di Poso, yang merupakan salah satu kabupaten tertua di Sulawesi Tengah, memiliki nilai budaya luhur yang kuat dan berperan dalam menjaga persatuan di wilayahnya. Salah satu nilai adat yang dipunyai masyarakat Poso adalah Sintuwu Maroso, yang berasal dari kata sintuwu yang berarti persekutuan, persatuan, dan kesederhanaan, serta maroso yang berarti kuat, sehingga secara keseluruhan menggambarkan konsep persekutuan hidup yang kuat. Masyarakat Poso juga dikenal hidup dalam harmoni dan menjunjung tinggi toleransi, serta selalu mengedepankan semangat kebersamaan dan kedamaian sebagai cita-cita bersama dari masa ke masa, sebagaimana diungkapkan oleh Lariwu . Dengan demikian, budaya Poso menjadi contoh nyata dari keberagaman budaya Indonesia yang kaya dan beragam. Salah satu contoh kebudayaan Poso yang kaya dan unik adalah motif ragam hias . yang menjadi ciri khas dan identitas budaya masyarakat Poso. Ornamen atau ragam hias merupakan bagian integral dari seni rupa, yang memiliki ciri dan karakter yang mewakili budaya dan identitas suatu bangsa. Sebagaimana diungkapkan oleh Gustami . , ornamen memiliki kontribusi yang signifikan dalam memperkaya akar identitas suatu bangsa. Dalam konteks ini, ornamen Poso memiliki keistimewaan tersendiri karena masih sangat tradisional dan memiliki berbagai macam ragam hias yang sangat banyak, serta peninggalan-peninggalan pada masa prasejarah yang masih terjaga dengan baik. Menurut Suryana . , masyarakat Kabupaten Poso juga masih sangat melestarikan kebudayaan-kebudayaan dan adat istiadat yang masih ada hingga saat ini, sehingga ornamen Poso tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Poso. Dengan demikian, ornamen Poso tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga memiliki nilai budaya dan historis yang sangat penting dalam memahami identitas dan kebudayaan masyarakat Poso. Ragam hias atau ornamen merupakan warisan budaya yang sangat berharga, karena dapat menjadi jembatan bagi kita untuk mengenal kehidupan di masa yang lampau dan mengetahui nilai-nilai luhur dari konsepsi kehidupan masa lalu. Sebagaimana diungkapkan oleh Binalai . , penggambaran di ornamen-ornamen yang diterapkan pada arsitektur, candi, relief, dan lainnya dapat memberikan gambaran tentang kehidupan di masa lalu. Dalam konteks ini, ornamen Poso sebagai salah satu contoh ragam hias yang khas dan unik, dapat diterapkan pada berbagai bentuk seni kerajinan, seperti souvenir atau cenderamata, yang dapat menjadi salah satu ciri khas Kabupaten Poso yang dilestarikan dalam bentuk seni kerajinan. Dengan demikian, ornamen Poso tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga memiliki nilai budaya dan historis yang sangat penting. Seni kriya merupakan aktivitas menciptakan suatu produk atau benda dengan keterampilan tangan yang mempunyai nilai estetika serta fungsi praktis, sehingga mempunyai nilai ekonomi (Gaby, 2. Dalam konteks ini, kerajinan tangan sebagai bagian dari seni kriya menitikberatkan pada keterampilan manual dalam proses pembuatannya, yang memerlukan ketelatenan, kreativitas, dan kemampuan Kualitas produk kerajinan tangan yang semakin baik akan berbanding lurus dengan nilai jualnya, sehingga mempunyai potensi ekonomi yang signifikan. Secara umum, kerajinan tangan memiliki dua fungsi utama, yakni fungsi pakai dan fungsi hias (Gaby, 2. Fungsi hias menggambarkan karya kerajinan yang penekanannya lebih pada aspek estetika dibanding kegunaan, seperti dekorasi, ornamen, atau karya seni yang hanya untuk dinikmati keindahannya. Sementara itu, fungsi pakai lebih mengutamakan nilai fungsional dibanding unsur keindahan, seperti peralatan rumah tangga, furniture, atau produk lain yang memiliki kegunaan praktis (Sendari, 2. Poso, sebagai bagian dari suku bangsa di Indonesia yang terletak di Sulawesi Tengah, memiliki ornamen atau ragam hias yang unik dan mempunyai daya tarik tersendiri dalam suatu mata rantai kekayaan ragam hias di Nusantara (Ulrich, 2. Iklim kreativitas dalam proses penciptaan seni secara objektif dipengaruhi oleh faktor geografis, budaya, agama serta kepercayaan, flora-fauna, juga pola kehidupan masyarakat Poso (Koentjaraningrat, 1. Peninggalan-peninggalan benda bersejarah merupakan bukti kreativitas para senirupawan masa lampau . yang hingga kini masih ada (Soekmono, 1. Bentuk-bentuk yang digunakan pada ornamen Poso juga cukup beragam, mulai dari ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Mangare. Binalai & Matey. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 ornamen dengan bentuk flora, fauna, dan figuratif, yang menunjukkan adanya pengaruh dari berbagai kebudayaan yang berhubungan dengan ornamen Poso (Danasasmita, 1. Pembuatan ornamen atau ragam hias awalnya hanya diperuntukkan untuk hal-hal tertentu seperti kepercayaan dan religius, namun kemudian berkembang untuk digunakan pada alat-alat kebutuhan sehari-hari (Sunaryo, 2. Ragam hias Poso, yang semula hanya berupa titik dan garis kaku, lamakelamaan berkembang menjadi bentuk-bentuk yang tersusun rapi dan indah (Lariwu, 2. Sebagai ide dalam penciptaan karya seni kriya, ragam hias Poso dapat meningkatkan kesadaran dan penghargaan masyarakat terhadap budaya dan tradisi Poso, serta mempromosikan pariwisata Poso (Binalai, 2. Selain itu, penerapan motif ragam hias Poso pada karya seni kriya dapat menciptakan karya seni yang unik dan khas, sehingga dapat meningkatkan nilai jual dan daya saing di pasar seni. Dalam pembuatan motif ragam hias Poso, terdapat tiga aspek yang penting, yaitu aspek kebaruan, kreativitas, dan estetika (Lariwu, 2. Aspek kebaruan meliputi penggunaan motif ragam hias Poso yang unik dan kombinasi motif ragam hias Poso dengan gaya seni modern (Binalai, 2. Aspek kreativitas meliputi penggunaan warna dan tekstur yang kreatif serta penggunaan teknik yang inovatif (Sunaryo, 2. Sementara itu, aspek estetika meliputi keseimbangan dan harmoni, serta kecantikan dan keunikan dalam penerapan motif ragam hias Poso pada karya seni rupa (Lariwu, 2. Penelitian mengenai ragam hias telah banyak dilakukan, salah satunya oleh Lariwu . yang menyoroti aspek pelestarian ragam hias Sangihe Talaud. Namun, penelitian tersebut tidak mencakup penerapan motif ragam hias Poso dalam karya seni kriya. Sementara itu. Binalai . secara khusus membahas ragam hias Poso, tetapi fokus kajiannya belum menjangkau analisis deskriptif mengenai penerapan motif tersebut dalam seni kriya. Berdasarkan tinjauan terhadap kedua penelitian tersebut, tampak adanya kekosongan kajian yang mengintegrasikan analisis deskriptif dengan penerapan motif ragam hias Poso dalam konteks karya seni kriya. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada upayanya untuk mengisi celah tersebut dengan menyajikan analisis deskriptif yang komprehensif mengenai penerapan motif ragam hias Poso dalam seni kriya. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam memperkaya khazanah keilmuan, khususnya dalam bidang seni rupa dan pelestarian budaya lokal. Berdasarkan uraian di atas, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis penerapan motif ragam hias Poso, sebagai budaya daerah Kabupaten Poso, pada karya seni kriya. Dari segi manfaat teoretis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat agar mampu memperkenalkan ciri khas ragam hias daerah melalui penerapan pada karya seni kriya. Sementara dari segi manfaat praktis, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya dengan mengungkapkan nilai-nilai budaya yang terkait dengan motif ragam hias Poso dan karya seni rupa Poso. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, metode analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan penerapan motif ragam hias Poso pada karya seni rupa, dengan menggunakan data yang diperoleh melalui observasi dan dokumentasi. Menurut Sugiyono . , analisis deskriptif adalah metode penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan atau menguraikan fenomena atau gejala yang ada, tanpa melakukan pengujian hipotesis atau membuat generalisasi. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan pengetahuan tentang penerapan motif ragam hias Poso pada karya seni rupa, serta memberikan informasi yang lebih rinci dan mendalam, sehingga dapat membantu memperkaya pemahaman tentang kekayaan budaya dan seni rupa di Poso. Penelitian ini dilakukan di Poso. Sulawesi Tengah, pada bulan Agustus sampai November 2024. Pemilihan lokasi ini dilakukan karena Poso merupakan daerah yang kaya akan budaya dan seni rupa, serta memiliki motif ragam hias yang unik dan khas. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas tiga jenis, yaitu studi pustaka, observasi, dan dokumentasi. Studi pustaka dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai motif ragam hias Poso, termasuk sejarah dan makna di baliknya. Observasi dilakukan secara langsung pada lokasi-lokasi yang memiliki penerapan motif ragam hias Poso, seperti bangunan perkantoran, dekorasi panggung, rumah adat, dan tugu. Dokumentasi dilakukan dengan mengambil foto dan mencatat temuan motif ragam hias di lokasi tersebut. Penelitian ini juga menggunakan data dari informan yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu, yaitu: memiliki pengetahuan yang luas tentang motif ragam hias Poso dan budaya Poso. memiliki pengalaman yang relevan dengan motif ragam hias Poso, seperti seniman, pengrajin, atau peneliti. bersedia berbagi informasi dan pengetahuan yang dimiliki. Berdasarkan kriteria tersebut, penulis memilih lima orang informan yang terdiri atas: seorang seniman yang memiliki pengalaman dalam ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Mangare. Binalai & Matey. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 menciptakan karya seni menggunakan motif ragam hias Poso. seorang pengrajin yang membuat kerajinan berbasis motif Poso. seorang peneliti yang memiliki wawasan luas mengenai budaya Poso. seorang tokoh masyarakat yang memahami nilai-nilai budaya dan tradisi lokal. serta seorang guru yang mengajarkan tentang motif ragam hias Poso dalam konteks pendidikan budaya lokal. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif, yaitu suatu metode yang bertujuan untuk menguraikan dan menjelaskan data secara sistematis, faktual, dan akurat sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Dalam konteks penelitian ini, teknik analisis deskriptif digunakan untuk menginterpretasikan temuan-temuan lapangan terkait bentuk visual, fungsi, makna simbolik, serta konteks kultural dari penerapan motif ragam hias Poso pada karya seni rupa. Analisis dilakukan dengan cara mengklasifikasikan jenis-jenis motif yang ditemukan, mendeskripsikan media dan teknik penerapannya, serta menggali nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya berdasarkan informasi dari observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan informan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menyajikan gambaran yang utuh dan mendalam mengenai bagaimana motif ragam hias Poso tidak hanya menjadi unsur dekoratif, tetapi juga mencerminkan identitas budaya masyarakat Poso dalam karya seni kriya yang dihasilkan. HASIL PENELITIAN Ragam hias atau motif merupakan bentuk hiasan yang dibuat secara berulang untuk membentuk pola tertentu dalam karya seni atau kerajinan. Motif ini dapat diterapkan melalui berbagai teknik seperti menggambar, memahat, atau mencetak, dengan tujuan memperindah tampilan sekaligus menambah nilai estetis dan artistik pada suatu objek atau karya seni. Talenan Kayu Talenan umumnya digunakan sebagai alat dapur yang sangat penting dan sering digunakan sehari-hari. Fungsi utama dari talenan adalah sebagai alas ketika memotong berbagai macam bahan makanan seperti buah-buahan, sayur-sayuran, daging, dan ikan. Serat kayu yang khas memberikan tampilan yang alami, setiap talenan memiliki pola serat yang unik sehingga membuat talenan kayu terlihat seperti karya seni. Tampak depan Tampak belakang Gambar 1. Hasil Penerapan Motif To Pebato dan motif Peira Mbojo pada karya kerajinan talenan kayu (Sumber: Foto Glory Binalai, 2. Proses pembuatan talenan kayu relatif mudah dan dapat dilakukan secara mandiri dengan beberapa tahapan sederhana. Langkah pertama adalah memilih jenis kayu yang sesuai. dalam hal ini, penulis menggunakan kayu maple karena memiliki tekstur yang kuat dan tahan lama. Kayu yang dipilih harus dalam kondisi baik, bebas dari cacat seperti retakan atau lubang. Setelah itu, kayu dipotong sesuai ukuran yang diinginkan. Proses selanjutnya adalah pengamplasan permukaan kayu dimulai dengan amplas kasar untuk menghilangkan permukaan yang tidak rata, lalu dilanjutkan dengan amplas halus agar menghasilkan permukaan yang lebih licin dan rata. Pengamplasan sebaiknya dilakukan searah dengan serat kayu agar hasilnya lebih rapi. Setelah pengamplasan selesai, permukaan talenan diolesi dengan minyak food-grade secara merata. Minyak ini berfungsi untuk melindungi kayu dari noda, bakteri, serta meningkatkan daya tahan talenan. Minyak dibiarkan meresap selama beberapa jam, lalu sisa minyak dibersihkan dengan kain bersih sebelum talenan digunakan. ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Mangare. Binalai & Matey. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 Motif talenan kayu merupakan pola visual yang terinspirasi dari tekstur dan bentuk alami kayu, dan sering digunakan dalam berbagai bidang seperti desain grafis, tekstil, dan arsitektur untuk menciptakan kesan alami dan organik. Penggunaan motif ini memberikan sejumlah kelebihan, seperti menciptakan nuansa alami yang memperkuat kedekatan dengan alam, menambahkan tekstur yang menarik dan dinamis, serta memberikan kesan vintage atau klasik yang membuat objek tampak lebih unik dan Beberapa contoh motif yang dapat diterapkan pada talenan kayu antara lain: Motif To Pebato, yaitu motif yang menyerupai ikat kepala wanita atau tali bonto, serta Motif Peira Mbojo, yang terinspirasi dari bentuk daun bambu. Motif-motif ini tidak hanya memperindah tampilan talenan kayu, tetapi juga mengandung nilai budaya yang memperkaya makna dari karya seni kriya tersebut. Gasing Kayu Gasing kayu merupakan permainan tradisional yang sangat digemari oleh anak-anak remaja, bahkan sampai orang dewasa. Permainan ini memiliki banyak manfaat, yaitu menumbuhkan rasa solidaritas dan kerukunan sosial, membangun rasa tanggung jawab, serta menumbuhkan sikap dan perilaku jujur, sportif dan egaliter yang membuat anak-anak lebih bahagia dalam hal pertumbuhan Sebelum konflik komunal Poso, beberapa permainan masih dimainkan terutama yang dimainkan secara bekelompok, gasing dapat dimakinkan secara individu atau kelompok, pemenangnya adalah pemain dengan putaran gasing terpanjang, selain itu putaran yang lebih panjang akan memengaruhi emosi para pemain untuk dapatkan putaran terpanjang. Cara memainkannya pun cukup mudah yaitu dengan melilitkan tali dibagian atas gasing kemudian melempar gasing dan menarik kembali tali setelah dilempar. Tampak Depan Tampak Atas Tampak Bawah Gambar 2. Hasil penerapan motif Pewokoe Ntjuai. Pesuno Bingka, dan motif Peira Mbojo pada karya kerajinan gasing kayu dengan media kayu hitam. (Sumber: Foto Glory Binalai, 2. Gasing tradisional yang terbuat dari kayu di Kabupaten Poso umumnya menggunakan jenis kayu hitam, yang lebih dikenal masyarakat setempat sebagai kayu eboni. Kayu eboni merupakan pohon endemik Sulawesi Tengah yang banyak tumbuh di desa Lembomawo dan desa Tambarana. Proses pembuatan gasing kayu diawali dengan menyiapkan alat dan bahan seperti mesin bubut kayu, pahat ukir berbagai ukuran, gergaji besi, kertas amplas, kayu hitam, cat akrilik, kuas, air, dan pelapis akhir berupa phylox clear. Tahap awal meliputi pemotongan kayu sepanjang A10 cm, yang kemudian dipasang pada mesin bubut. Saat kayu berputar, pengrajin memahatnya secara perlahan hingga membentuk siluet gasing lengkap dengan pahatan pada ujungnya. Setelah bentuk dasar terbentuk, permukaan gasing diamplas hingga halus. Motif ragam hias Poso kemudian digambar menggunakan cat dasar putih dan kuas, lalu diberi warna-warna khas seperti merah, putih, hitam, hijau, dan kuning. Sebagai sentuhan akhir, pelapis phylox clear disemprotkan agar hasil akhir tampak mengilap dan Penerapan motif pada Gasing Kayu tidak hanya memperindah tampilan, tetapi juga memperkaya nilai budaya yang terkandung dalam karya tersebut. Motif pada gasing memperkuat kesan tradisional karena gasing sendiri merupakan permainan rakyat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kayu sebagai bahan utama memberi kesan alami dan organik, sementara pola motif menambahkan nilai visual yang dinamis dan estetis, terlebih saat gasing berputar cepat. Warna-warna cerah dan pola yang kontras memperkuat tampilan visualnya, membuat gasing tampak hidup dan penuh makna. Beberapa motif khas yang sering digunakan pada gasing kayu antara lain: motif berbentuk bunga yang melambangkan kuncuai atau biji buah ketimun. motif Pesuno Bingka, yang terinspirasi dari bentuk bakul ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Mangare. Binalai & Matey. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 tradisional khas Poso. serta motif Peira Mbojo, yaitu motif daun bambu yang menggambarkan kelenturan dan keindahan alam. Tempat Pulpen Tempat pulpen merupakan tempat penyimpanan seperti pulpen dan pensil yang terbuat dari kayu salah satunya memakai jenis kayu hitam atau yang disebut dengan kayu eboni. Selain digunakan sebagai tempat penyimpanan pulpen dan pensil, tempat pulpen kayu juga seringkali dijadikan sebagai elemen dekoratif yang menambah keindahan pada meja kerja atau meja belajar. Selain itu tempat pulpen kayu juga memiliki nilai estetika dengan tekstur dan warna alami kayu menambah kesan hangat, elegan, dan alami pada ruangan, tempat pulpen kayu juga terlihat sangat unik karena setiap potongan kayu memiliki pola serut yang unik, membuat tempat pulpen kayu menjadi karya seni tersendiri, dan juga ramah lingkungan. Gambar 3. Hasil penerapan motif Petondo Baula. Pesuno Bingka, dan motif Pengisi Garango pada karya kerajinan tempat pulpen dengan media kayu hitam. (Sumber: Foto Glory Binalai 2. Proses pembuatan kerajinan tempat pulpen dari kayu dimulai dengan pemilihan bahan dasar berupa kayu hitam atau kayu eboni, yang dikenal kuat dan memiliki nilai estetika tinggi. Setelah itu, kayu dipotong menggunakan mesin pemotong sesuai pola yang telah dirancang, yaitu berbentuk peta Pulau SulawesiAisebagai simbol kekayaan budaya dan sumber daya alam di kawasan tersebut, khususnya Kabupaten Poso. Setiap bagian diukur dengan cermat agar hasilnya presisi dan simetris. Selanjutnya, permukaan kayu diamplas agar halus dan rata, kemudian bagian-bagian tersebut disatukan menggunakan lem kayu. Pada bagian atasnya dilubangi menggunakan bor sebagai tempat menaruh pulpen atau pensil. Setelah bentuk dasar selesai, tahap berikutnya adalah menerapkan desain motif ragam hias Poso menggunakan teknik lukis dengan kuas. Proses ini diawali dengan aplikasi cat dasar putih, lalu ditimpa dengan warna-warna khas seperti merah . , kuning . emegahan dan kesejahteraa. , dan hitam . eperkasaan dan keabadia. Sebagai tahap akhir, digunakan pelapis phylox clear agar permukaan terlihat mengilap dan tahan lama. Tempat pulpen tidak hanya berfungsi sebagai wadah penyimpan alat tulis, tetapi juga sebagai media ekspresi seni yang dapat memperkaya nilai estetika ruang kerja atau belajar. Penerapan motif ragam hias pada tempat pulpen dapat menghadirkan berbagai kesan visual, mulai dari nuansa minimalis yang tenang dan sederhana, hingga kesan dekoratif yang cerah dan menyenangkan. Selain itu, pola motif juga dapat membantu menciptakan kesan yang rapi dan terorganisir, memperkuat sisi fungsional dari objek tersebut. Beberapa contoh motif khas Poso yang dapat diterapkan antara lain Motif Petondo ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Mangare. Binalai & Matey. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 Baula . anduk kerba. Pesuno Bingka . akul khas Pos. , serta Motif Gigi Buaya atau Pengisi Garango, yang kesemuanya mengandung makna filosofis yang mencerminkan identitas budaya masyarakat Poso. Tempat Tusuk Gigi Karya selanjutnya adalah tempat tusuk gigi. Tempat tusuk gigi merupakan sebuah wadah penyimpanan tusuk gigi yang terbuat dari kayu yang menggunakan jenis kayu hitam atau yang disebut dengan kayu eboni, selain berfungsi sebagai tempat tusuk gigi agar tetap higenis dan mudah dijangkau, wadah ini juga memiliki nilai estetika yang tinggi. Gambar 4. Penerapan motif Pesuno Bingka. Peweti Asoe, dan motif Pengisi Garango pada karya kerajinan tempat tusuk gigi dengan media kayu hitam. (Sumber: Foto Glory Binalai, 2. Proses pembuatan tempat tusuk gigi dari kayu diawali dengan menyiapkan bahan dan alat seperti kayu hitam . sebagai media utama, gergaji, pahat, amplas, gerinda, bor, lem kayu, pensil, dan pernis untuk tahap akhir. Langkah pertama adalah menentukan bentuk yang akan dibuat, lalu membuat sketsa sebagai panduan visual. Setelah itu, kayu diukur sesuai sketsa dan dipotong menggunakan Bagian dalam tempat tusuk gigi kemudian dibor untuk menciptakan ruang penyimpanan yang cukup nyaman. Tutup wadah dibuat dengan ukuran yang sesuai dan juga dilubangi agar mudah dibuka. Seluruh permukaan kayu kemudian diamplas menggunakan amplas kasar dan gerinda, lalu dilanjutkan dengan amplas halus agar hasil akhir lebih rata dan halus. Bentuk tempat tusuk gigi kayu ini terinspirasi dari buah taku, sejenis tumbuhan yang hanya tumbuh di wilayah tertentu seperti Poso dan Morowali. Dahulu, masyarakat Poso memanfaatkan buah taku sebagai wadah untuk menampung air. Inspirasi dari bentuk alami tersebut tidak hanya memberikan nilai estetis dan lokalitas pada kerajinan ini, tetapi juga mengandung nilai budaya yang mendalam. Pemanfaatan kayu hitam sebagai bahan utama juga menunjukkan komitmen pada kualitas dan kelestarian bahan lokal yang bernilai tinggi. Dalam konteks desain, tempat tusuk gigi tidak hanya berfungsi sebagai wadah penyimpanan alat kebersihan mulut, tetapi juga sebagai objek dekoratif yang dapat dihias dengan motif-motif khas Poso. Motif ini dapat memberikan kesan minimalis, dekoratif, dan fungsional tergantung pola yang dipilih. Motif minimalis menghadirkan kesederhanaan dan ketenangan visual, sementara motif dekoratif menciptakan daya tarik visual yang cerah dan menyenangkan. Beberapa contoh motif yang dapat diterapkan meliputi Motif Pesuno Bingka . akul khas Pos. Peweti Asoe . elapak kaki anjin. , dan Pengisi Garango . igi buay. , yang semuanya mencerminkan kekayaan budaya lokal dan nilai-nilai simbolik masyarakat Poso. ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Mangare. Binalai & Matey. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 Pipa Rokok Kayu Pipa rokok kayu merupakan salah satu alat merokok tradisional yang telah digunakan sejak zaman dahulu dan kerap dianggap sebagai karya seni bernilai tinggi. Pipa ini dibuat dari jenis kayu pilihan, yakni kayu hitam atau kayu eboni, yang dikenal memiliki karakteristik unik seperti kekuatan, kepadatan, dan ketahanan terhadap panas. Selain sebagai alat merokok, pipa rokok kayu juga menyimpan nilai historis dan kultural yang kuat dalam berbagai tradisi, menjadikannya tidak hanya fungsional tetapi juga Tampak depan & Belakang Tampak Samping Gambar 5. Penerapan motif Cidu Pesuno Bingka pada karya kerajinan pipa filter rokok dengan media kayu hitam. (Sumber : Foto Glory Binalai, 2. Proses pembuatan pipa rokok kayu dimulai dengan memilih kayu hitam berkualitas sebagai bahan Kayu kemudian dipotong sesuai ukuran dan dibentuk menjadi tubuh pipa menggunakan pahat. Lubang dibuat dengan bor kecil untuk saluran asap dan bagian mulut pipa. Setelah bentuk dasar selesai, permukaan pipa dihaluskan menggunakan gerinda dan dilanjutkan dengan amplas untuk hasil yang lebih lembut. Motif ragam hias khas Poso digambar terlebih dahulu di atas kertas lalu dilukis pada permukaan pipa menggunakan cat akrilik dan kuas. Sebagai sentuhan akhir, karya disemprot dengan phylox clear agar tampil mengkilap dan terlindungi. Dalam konteks desain, pipa rokok kayu dapat dipercantik dengan berbagai motif yang memberikan nilai estetika sekaligus memperkuat identitas tradisionalnya. Motif yang digunakan bisa menciptakan kesan alami dan organik, sesuai dengan bahan kayu yang digunakan. Selain itu, motif tradisional memberi sentuhan klasik yang timeless, sementara pola-pola unik dapat menonjolkan keunikan bentuk pipa itu Contoh motif yang dapat diterapkan adalah Motif Pesuno Bingka, yakni pola yang terinspirasi dari bakul khas tanah Poso, yang mencerminkan kekayaan budaya lokal dan nilai simbolik yang PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motif ragam hias Poso memiliki makna simbolik yang mendalam dan erat kaitannya dengan budaya serta tradisi masyarakat Poso. Dalam perspektif semiotika, motif-motif ini dapat dipahami sebagai tanda atau simbol yang merepresentasikan maknamakna tertentu sesuai konteks sosial dan kulturalnya (Peirce, 1. Penggunaan simbol dalam motif ini tidak bersifat acak, melainkan berakar dari pengalaman kolektif dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat setempat. Secara khusus, motif ragam hias Poso mencerminkan nilai-nilai seperti kekuatan, keberanian, keselarasan, dan keharmonisan. Tabel 1. Ragam Hias karya Seni Kriya NAMA MOTIF Motif Daun Bambu /Peira Mbojo GAMBAR MOTIF ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi MAKNA Melambangkan kewibawaan, kekuatan dan kebangsawan, dan digunakan untuk rumah para Mangare. Binalai & Matey. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 Motif Menyerupai Bunga/Pesese Marisa Pesese Marisa atau motif menyerupai bunga Marisa yang merupakan salah satu tumbuhan yang hidup di daerah pegunungan Kabupaten Poso. Motif Pesigombingi Motif Pesigombongi atau yang berbentuk seperti mata angin. Motif telapak kaki anjing/Peweti Asoe Motif Dado Ular Hitam/Pedada oele Motif telapak kaki anjing atau dalam bahasa Poso disebut Peweti Asoe yang melambangkan kekuatan Motif Dado ular hitam/ Pedada oele woeri, yang merupakan hewan yang hidup di hutan daerah pegunungan Kabupaten Poso yang melambangkan kekuatan dan keberanian Motif Petondo Baula/motif menyerupai tanduk Kerbau Melambangkan kekuatan, kejantanan, dan keberanian. Motif Pewoea Boetoengi/ Motif menyerupai bunga buah butungi/Jongi Pewoea Boetoengi/ menyerupai buah butungi/Jongi. Motif ikat kepala wanita/tali (To Pebat. To Pebato atau motif ikat kepala wanita atau yang disebut dengan tali bonto ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Mangare. Binalai & Matey. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 Motif sambungan lengan baju/ motif Morao Motif Morao atau motif yang digunakan pada lengan baju Motif Pewoekoe Ntjoeai/motif biji buah Pewu kuncuai atau biji buah ketimun melambangkan Motif Poso, rantai/tali Diartikan sebagai ikatan tali Motif Pesuno bingka Motif Pesuno Bingka, orang tua dahulu membagikan makanan kepada orang lain disaat Molimbu atau acara makan bersama menggunakan bingka, bingka merupakan bakul khas yang berasal dari tanah Poso, yang artinya siapa pun yang datang pasti akan disambut. Motif gigi buaya/ pengisi garanggo Gigi buaya atau dalam bahasa Poso disebut Pengisi Garango melambangkan kekuatan dan Motif menyerupai mata burung/ pemata Pemata Mpoene atau motif yang menyerupai mata burung Simbol-simbol tersebut berfungsi sebagai identitas kultural yang memperkuat rasa kebanggaan masyarakat Poso terhadap warisan budayanya. Temuan ini sejalan dengan penelitian Lariwu . , yang juga mengemukakan bahwa motif-motif ini berkaitan erat dengan struktur budaya dan tradisi lokal. Namun, penelitian ini memperluas pemahaman dengan menunjukkan dimensi makna yang lebih kompleks dalam ragam hias tersebut. Tidak hanya merepresentasikan nilai-nilai keberanian dan kekuatan seperti yang dijelaskan dalam penelitian sebelumnya, motif ragam hias Poso dalam temuan terbaru ini juga mencakup nilai keselarasan sosial dan keharmonisan dengan alam serta lingkungan sekitar. Hal ini menunjukkan bahwa ragam hias Poso memiliki kedalaman filosofis yang lebih luas, menjadikannya sebagai media ekspresi budaya yang tidak hanya estetis, tetapi juga sarat makna. Dari sisi teoritik, hasil penelitian ini dapat dianalisis melalui kombinasi teori semiotika dan teori budaya. Teori semiotika membantu dalam menafsirkan motif sebagai sistem tanda yang mengandung makna simbolik (Peirce, 1. , sementara teori budaya (Geertz, 1. memberikan kerangka untuk memahami konteks historis dan sosiokultural yang melatarbelakangi penciptaan dan penggunaan motif tersebut. Dengan pendekatan ini, makna motif ragam hias Poso dapat dipahami secara lebih menyeluruh, baik sebagai representasi simbolis maupun ekspresi identitas budaya masyarakat Poso. ISSN (Onlin. : 2797-9970 - ISSN (Ceta. : 2337-3504 Laman Jurnal: https://ejurnal. id/index. php/kompetensi Mangare. Binalai & Matey. KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni Vol. No. Maret 2025 KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motif ragam hias Poso memiliki makna yang mendalam dan berkaitan erat dengan budaya serta tradisi masyarakat Poso. Melalui simbol-simbol visual yang sarat makna, ragam hias ini mencerminkan nilai-nilai, kepercayaan, dan jejak sejarah yang hidup dalam Setiap motif tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan identitas kultural yang khas dan memperkuat rasa kebanggaan terhadap warisan Penerapan motif ragam hias Poso dalam karya seni kriya berperan penting sebagai representasi identitas daerah sekaligus sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada khalayak luas. Temuan ini menegaskan bahwa pelestarian ragam hias Poso tidak hanya menjadi tanggung jawab pelaku seni dan peneliti, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan upaya konkret seperti penelitian dan dokumentasi berkelanjutan, penciptaan karya seni kriya berbasis ragam hias lokal, serta promosi aktif melalui berbagai media untuk menjaga kelestarian dan relevansi ragam hias Poso di tengah perkembangan zaman. UCAPAN TERIMA KASIH Diucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam proses penyusunan tulisan ini baik secara langsung maupun tidak langsung. KONFLIK KEPENTINGAN Pada penelitian ini peneliti menyatakan bahwa peneliti tidak memiliki konflik dengan pihak-pihak lain yang bersifat merugikan baik secara finansial atau non finansial. REFERENSI