SHR : Jurnal Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1 . Juni 2023 PENGETAHUAN DAN PERILAKU KELUARGA SADAR GIZI PADA IBU BALITA STUNTING DI WILAYAH PUSKESMAS PERAWATAN LUBUK DURIAN BENGKULU UTARA Yosika Wulandari. Yunita. , dan Ayu Pravita Sari. Jurusan Gizi. Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Jln Indragiri Padang Harapan No. Kecamatan Gading Cempaka. Kota Bengkulu, 38225 E-mail: yosikawulandari09@gmail. ABSTRACT Nutritional problems are one of the causes of morbidity and mortality in children under five. According to the RDA, at this point there is a very rapid growth and development process that requires children to consume high-quality food in the right amount. One of the chronic nutritional problems caused by long-term malnutrition causes stunting in early childhood. A nutrition-aware family (Kadarz. is a family that can identify, prevent and overcome nutritional problems in each family. The nutritionaware family independent program is one of the efforts made to improve nutrition as an alternative to overcome nutritional problems. The purpose of this study was to determine the knowledge and behavior of nutrition-conscious families in mothers of stunting toddlers in the area of the Lubuk Durian Health Center. North Bengkulu. The type of research used is descriptive quantitative with a cross sectional study design. With the method of filling out a questionnaire to a sample of mothers with stunting toddlers aged 24-59 months, there were 57 samples. The results showed that the knowledge of the mothers of children under five about Kadarzi was mostly in the less category as many as 48 people . 2%) and Kadarzi's behavior was categorized as lacking as many as 31 people . 3%). Thus, it can be concluded that how to overcome the occurrence of nutritional problems in toddlers, parents should pay more attention to the intake consumed by implementing the Kadarzi lifestyle in order to reduce the risk of nutritional problems, especially stunting problems in toddlers. Keywords: Kadarzi. Stunting. Toddler. Knowledge. Behaivor ABSTRAK Masalah gizi merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian pada balita. Menurut AKG pada titik ini terjadi proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat yang mengharuskan anak untuk mengkonsumsi makanan berkualitas tinggi dalam jumlah yang tepat. Salah satu masalah gizi kronis yang disebabkan oleh kekurangan gizi jangka panjang menyebabkan stunting pada anak usia Keluarga sadar gizi (Kadarz. adalah keluarga yang dapat mengidentifikasi, mencegah dan mengatasi masalah gizi pada setiap keluarga. Program mandiri keluarga sadar gizi merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk perbaikan gizi sebagai alternatif untuk menanggulangi permasalahan Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengetahuan dan perilaku keluarga sadar gizi pada ibu balita stunting di wilayah puskesmas perawatan lubuk durian bengkulu utara. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan rancangan studi cross sectional. Dengan metode pengisian kuesioner terhadap sampel ibu balita stunting usia 24-59 bulan sebanyak 57 sampel. Hasil analisis univariat menunjukan bahwa pengetahuan ibu balita tentang Kadarzi mayoritas berada pada kategori kurang sebanyak 48 orang . ,2%) dan perilaku Kadarzi yang dikategorikan kurang sebanyak 31 orang . ,3%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa cara mengatasi terjadinya masalah gizi pada balita hendaknya para orang tua lebih memperhatiakan asupan yang dikonsumsi dengan menerapkan pola hidup Kadarzi agar dapat mengurangi resiko terjadinya masalah gizi terutama masalah stunting pada balita. Kata Kunci: Kadarzi. Stunting. Balita. Pengetahuan. Perilaku Yosika, dkk | 12 SHR : Jurnal Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1 . Juni 2023 PENDAHULUAN Program mandiri keluarga sadar gizi merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk perbaikan gizi sebagai alternatif untuk menanggulangi permasalahan gizi. Salah satu tujuan program perbaikan gizi Indonesia sehat adalah mewujudkan lima indikator program keluarga dengan perilaku KADARZI (Devy and Arum, 2. Perilaku gizi belum baik yang masih banyak terjadi di masyarakat merupakan salah satu faktor utama yang dapat mempengaruhi status gizi balita. Gambaran perilaku gizi yang belum baik ditunjukkan dengan masih rendahnya pemanfaatan fasilitas pelayanan oleh masyarakat (Simatupang, 2. Status gizi balita juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial terdekat. Selain itu, keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian anak. Pola asuh yang benar akan sangat membantu anak mengatasi kondisi lingkungan dimasa depan (Riana, 2. Salah satu masalah gizi kronis yang disebabkan oleh kekurangan gizi jangka panjang menyebabkan Stunting pada anak usia dini, hal ini ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih rendah dari standar usia . ilai Z-Score TB/U ) (Aditianti. Sri and Hermina, 2. Menurut Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018, prevalensi stunting di Indonesia terbagi menjadi sangat pendek dan pendek sebesar 11,5% dan 19,3%. Prevalensi ini lebih rendah dari hasil Riskesdas pada tahun 2013, namun masih tergolong tinggi dibandingkan kendala permasalahan jika dibandingkan dengan sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019. Menurut WHO (Stuntin. dimana 20% merupakan keadaan gizi yang sangat pendek tetap menjadi pokok masalah penting karena efek berkelanjutan Stunting sangat merugikan, tidak hanya bagi individu tetapi juga negara (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan prevalensi data Provinsi Bengkulu termasuk dalam urutan ke 21 tertinggi kasus stunting di Indonesia setelah Banten di posisi ke 20 dengan . ,6%) Bengkulu ke 21 dengan . ,4%) dan Jawa Barat dengan ke 22 dengan . ,2%), kejadian stunting mengalami peningkatan setiap tahunnya, 36% . , 31,6% . , dan 40% . Kabupaten Bengkulu Utara merupakan urutan pertama tertinggi angka status gizi balita dengan stunting yaitu 35,8%. Laporan pemantauan status gizi Kabupaten Bengkulu Utara Pada bulan juni 2018 terdapat 1. 289 balita . ,03%) yang diukur status gizi dalam status gizi stunting. Puskesmas Lubuk Durian Yosika, dkk | 13 SHR : Jurnal Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1 . Juni 2023 merupakan Puskesmas tertinggi ke dua dengan jumlah balita stunting yang setiap tahunnya mengalami peningkatan pada tahun 2019 didapatkan hasil 6,81% dan pada tahun 2020 mengalami peningkatan menjadi 9,67% (Rahayu A. Yulidasari F. Putri Andini O, 2. Berdasarkan besaran masalah tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian bagaimana gambaran pengetahuan dan perilaku keluarga sadar gizi pada ibu balita stunting di wilayah puskesmas perawatan lubuk durian bengkulu METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan deskriptif Pengambilan data dilakukan pada bulan Januari 2022 di wilayah Puskesmas Perawatan Lubuk Durian Bengkulu Utara. Pengambilan data terdiri dari data primer yaitu berdasarkan karakteristik responden, pengetahuan dan perilaku Kadarzi pada ibu balita Stunting. Data diperoleh dengan cara wawancara menggunakan kuesioner. Pengambilan data sekunder diambil dari data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu. Dinas Kesehatan Bengkulu Utara serta petugas gizi di Puskesmas Perawatan Lubuk Durian Bengkulu Utara. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita Stunting yang berjumlah 66 orang. Sampel dalam penelitian ini berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah dilakukan berjumlah 57 balita Stunting yang berusia 24-59 bulan. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara Purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang dipilih berdasarkan kriteria-kriteria yang telah Penelitian ini dilakukan setelah mendapatkan persetujuan pelaksanaan penelitian dari Komite Kode Etik Penelitian (KEKP) Poltekkes Kemenkes Bengkulu yang tertuang dalam surat No. KEPK. 042/01/2022. Teknik analisis data menggunakan analisis univariat yang dilakukan terhadap setiap variabel dalam analisis penelitian. Analisis univariat ini mendeskripsikan setiap variabel penelitian, hasil analisis univariat dalam penelitian ini adalah variabel pengetahuan dan perilaku Kadarzi pada ibu balita stunting. Yosika, dkk | 14 SHR : Jurnal Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1 . Juni 2023 HASIL Penelitian ini telah dilakukan di Wilayah Puskesmas Perawatan Lubuk Durian Bengkulu Utara diketahui karakteristik keluarga balita stunting dengan kategori umur ibu balita, pendidikan orang tua, status pekerjaan orang tua dan jumlah anak. Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Keluarga Balita Berdasarkan Umur Ibu Balita Umur (Tahu. <20 >35 Jumlah Frekeunsi . Persentase (%) 5,3% 70,2% 24,5% Berdasarkan Tabel 1 diatas terlihat bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok usia 20-35 tahun yaitu sebanyak 70,2% . Tabel 2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Keluarga Balita Berdasarkan Pendidikan Pendidikan Orang tua Ayah Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Jumlah Ibu Berdasarkan Tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa responden memiliki tingkat pendidikan SMP yaitu 22 orang . ,5%). Tabel 3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Keluarga Balita Berdasarkan Pekerjaan Pekerjaan Orang tua Ayah Tani IRT Wiraswasta Guru Jumlah Ibu Berdasarkan Tabel 3 diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden adalah ibu rumah tangga yaitu sebanyak 64,9% . dan Tani sebanyak 63,3% . Yosika, dkk | 15 SHR : Jurnal Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1 . Juni 2023 Tabel 4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Keluarga Balita Berdasarkan Jumlah Anak Jumlah anak Jumlah Frekeunsi . Persentase (%) 33,4% 50,8% 15,8% Berdasarkan Tabel 4 diatas terlihat bahwa keluarga memiliki jumlah anak 2 yaitu 29 orang . ,8%). Tabel 5 Hasil Analisis Univariat Pengetahuan KADARZI Ibu Balita Stunting di Wilayah Puskesmas Perawatan Lubuk Durian Bengkulu Utara Pengetahuan Kurang Baik Jumlah Frekeunsi . Persentase (%) 84,2% 15,8% Berdasarkan Tabel 5 diatas dapat terlihat bahwa pengetahuan keluarga sadar gizi pada ibu balita yang kurang sebanyak 48 . ,2%) dan 9 . ,8%) pengetahuan keluarga sadar gizi pada ibu balita baik. Tabel 6 Hasil Analisis Univariat Perilaku KADARZI Ibu Balita Stunting di Wilayah Puskesmas Perawatan Lubuk Durian Bengkulu Utara Perilaku Kurang Baik Jumlah Frekeunsi . Persentase (%) 54,3% 45,7% Berdasarkan Tabel 6 diatas dapat dilihat bahwa sebanyak 31 . ,3%) perilaku keluarga sadar gizi pada ibu balita kurang dan 26 . ,7%) perilaku keluarga sadar gizi pada ibu balita baik. Yosika, dkk | 16 SHR : Jurnal Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1 . Juni 2023 PEMBAHASAN Umur ibu secara tidak langsung menjadi faktor yang memperngaruhi status gizi pada balita, dimana umur kehamilan ibu secara langsung dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi yang menentukan tercapainya potensi genetik yang optimal, sebagian besar ibu balita di wilayah Puskesmas Perawatan Lubuk Durian Bengkulu Utara rentan berusia 20-35 tahun yaitu sebanyak 40 orang . ,2%). Hasil penelitian (Fitriana, 2. menyatakan bahwa ibu dengan usia kurang dari 20 tahun mempunyai resiko 4,2 kali lebih besar terjadinya berat badan lahir rendah (BBLR) serta akan beresiko mengalami anemia, gangguan tumbuh kembang janin, keguguran, prematurasi, gangguan persalinan, preeklamsia dan perdarahan antepartum serta ibu yang terlalu muda biasanya belum siap dengan kehamilannya dan tidak tahu bagaimana menjaga dan merawat kehamilan sedangkan ibu dengan usia kehamilan terlalu tua . sia lebih dari 35 tahu. biasanya staminanya sudah menurun dan semangat dalam merawat kehamilan sudah berkurang (Fitriana, 2. Pendidikan merupakan sesuatu yang dapat membawa seseorang untuk meraih wawasan dan pengetahuan seluas-luasnya. Tingkat pendidikan mempengaruhi seseorang dalam menerima informasi, dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan lebih mudah menerima informasi dari pada orang dengan tingkat pendidikan yang kurang (Nugroho. Sasongko and Kristiawan, 2. Hasil penelitian (Vinsensius dkk, 2. menunjukan bahwa Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi pola konsumsi makan pada anak dengan tingkat pendidikan yang baik maka semakin baik pula pemahaman ibu dalam memilih bahan makan dalam hal kualitas dan kuantitas. fakta menunjukkan bahwa ibu yang berpendidikan dapat menjadi roda penggerak setiap perubahan karena ibu yang berpendidikan dapat mengambil keputusan-keputusan yang erat kaitannya dengan pencegahan masalah gizi pada anak sejak dini seperti usia ideal untuk menikah, mengatur jarak kehamilan dan kelahiran serta pemanfaatan layanan kesehatan (Vinsensius. Marinda and Herliana, 2. Pekerjaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi sosial ekonomi dalam sebuah keluarga. Hasil penelitian (Lutfiana, 2. menyatakan bahwa kecenderungan balita stunting lebih banyak pada orang tua yang tidak bekerja karena pekerjaan erat hubungannya Yosika, dkk | 17 SHR : Jurnal Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1 . Juni 2023 dengan status ekonomi keluarga yang berkaitan dengan pemenuhan gizi. Pengaruh pendapatan per kapita pada defisit pertumbuhan dapat dihubungkan dengan kepentingannya untuk pembelian makanan serta benda-benda lain yang berguna bagi kesehatan anak, sebagian besar di wilayah Puskesmas Perawatan Lubuk Durian Bengkulu Utara ibu balita rentan memiliki pekerjaan sebagai Ibu rumah tangga yaitu sebanyak 64,9% . dan Tani sebanyak 63,3% . (Lutfiana, 2. Faktor yang mempengaruhi kondisi gizi lainnya diantaranya demografi keluarga yakni jumlah anggota keluarga. Berdasarkan penelitian (Wahid dkk, 2. menyebutkan bahwa jumlah anggota keluarga tidak secara signifikan mempengaruhi Stunting. hal ini dapat disebabkan oleh faktor lain seperti faktor ekonomi dimana kebutuhan yang dibelanjakan tidak sesuai dengan pemasukan sehingga keluarga dengan ekonomi rendah namun memiliki keluarga kecil belum tentu sepenuhnya memberikan nutrisi yang baik terhadap anaknya dikarenakan pemasukan yang kurang membuat mereka memberikan makanan yang sederhana dan seadanya meskipun kurang bergizi. Sebaliknya keluarga dengan ekonomi yang memadai belum tentu bisa membagi secara adil kebutuhan nutrisi pada setiap anak (Wahid et al. , 2. Pengetahuan yang dimiliki seseorang merupakan dasar untuk bertindak, dimana dengan kemampuan seseorang dapat melakukan sesuatu dengan pengetahuan yang dimiliki (Notoatmodjo, 2. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan kepada 57 ibu Balita Stunting diketahui bahwa banyak ibu balita dengan pengetahuan kurang dibandingkan dengan ibu pengetahuan baik yakni terdapat 84,2% . ibu balita dengan pengetahuan kurang dan 15,8% . ibu balita dengan pengetahuan baik. Pengetahuan kurang berdasarkan kuesioner terdapat pada pengetahuan penimbangan dan pemberian vitamin A pada balita stunting. Berdasarkan asumsi peneliti, kurangnya pengetahuan ibu balita terhadap pengetahuan penimbangan dan pemberian vitamin A sesuai dengan cakupan data yang ada di Puskesmas Perawatan Lubuk Durian untuk penimbangan didapatkan hanya 59,9% balita yang ditimbang berdasarkan D/S dan masih kurangnya penyuluhan mengenai vitamin A pada balita yang dilakukan di Posyandu. Berdasarkan penelitian ( Putri dkk, 2. dijelaskan bahwa 80% ibu di Indonesia menggunakan Posyandu sebagai salah satu alternatif sumber pengetahuan, melalui Yosika, dkk | 18 SHR : Jurnal Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1 . Juni 2023 pendidikan penyuluhan dan pengetahuan mengenai stunting para ibu diharapakan untuk dapat memahami dan mengetahui serta bersedia dan mampu untuk menerapkan Lima Indikator KADARZI agar dapat mencegah stunting (Putri. Mardiah and Yulianita, 2. Penelitian (Devy and Arum, 2. menyebutkan jika seorang ibu mengetahui dan memiliki pengetahuan yang baik tentang Keluarga Sadar Gizi serta pentingnya mengetahui status gizi balita dengan rutin setiap bulannya maka ibu dapat melakukan sesuatu untuk meningkatkan kesehatan anaknya, sehingga pengetahuan yang dimiliki ibu balita merupakan dasar untuk melakukan perubahan, karena itu kemampuan seseorang melakukan sesuatu tergantung dari pengetahuan yang dimiliki (Devy and Arum, 2. Kadarzi merupakan keluarga yang mampu memahami dan menerapkan perilaku gizi seimbang sehingga dapat mengatasi masalah gizi dan kesehatan. Suatu Keluarga dianggap telah memiliki Perilaku Keluarga Sadar Gizi apabila telah menerapkan penimbangan berat badan secara teratur. ASI Eksklusif, konsumsi makanan yang beranekaragam, konsumsi garam beryodium, dan konsumsi suplemen gizi sesuai kebutuhan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan kepada 57 ibu Balita Stunting diketahui bahwa banyak ibu balita yang belum menerapakan perilaku KADARZI dibandingkan dengan ibu yang sudah berperilaku KADARZI yakni terdapat 54,3% . orang ) ibu balita dengan perilaku kurang dan 45,7% . ibu balita dengan perilaku Indikator perilaku KADARZI yang paling banyak ditemukan di wilayah Puskesmas Perawatan Lubuk Durian Bengkulu Utara adalah masih kurangnya penimbangan berat badan dan pemberian ASI Eksklusif. Berdasarkan cakupan data ASI-Eksklusif di wilayah Puskesmas Perawatan Lubuk Durian didapatkan hasil 66,7% balita yang mendapat ASIEksklusif dan 33,3% belum mendapatkan ASI-Eksklusif. Penelitian (Anita dkk, 2. menyebutkan bahwa air susu yang dihasilkan oleh ibu mengandung semua zat gizi yang diperlukan oleh bayi untuk kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan bayi. Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif merupakan bayi yang hanya menerima ASI saja sehingga tidak ada cairan atau padatan lainnya yang diberikan, bahkan air dengan pengecualian rehidrasi oral, atau tetes/sirup vitamin, mineral atau obat-obatan. Bayi yang mendapat susu formula memiliki risiko 5 kali lebih besar mengalami pertumbuhan yang tidak baik pada bayi usia Yosika, dkk | 19 SHR : Jurnal Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1 . Juni 2023 0-6 bulan dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI (Anita sampe, rindani toban. Indikator KADARZI kedua yang masih kurang berdasarkan penelitian yang dilakukan adalah penimbangan berat badan atau kunjugan Posyandu berdasarkan D/S yaitu hanya 59,9% balita yang ditimbang. Berdasarkan penelitian (Hadi dkk, 2. menjelaskan bahwa Peran posyandu dalam penanggulangan stunting di Indonesia sangatlah penting, khususnya upaya pencegahan stunting pada masa balita. Melalui pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita yang dilakukan satu bulan sekali melalui pengisian kurva KMS, balita yang mengalami permasalahan pertumbuhan dapat dideteksi sedini mungkin, sehingga tidak jatuh pada permasalahan pertumbuhan kronis atau stunting (Hadi. Anwary and Asrinawaty, 2. Menurut penelitian (Titis dkk, 2. semakin tinggi perilaku KADARZI yang diterapkan dengan baik maka akan semakin rendah angka balita dengan status gizi Stunting begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, kesadaran keluarga terhadap perilaku KADARZI sangat berpengaruh terhadap taraf kesehatan pada setiap anggota keluarganya, sehingga Stunting pada balita sangat berhubungan dengan keluarga sadar gizi (Titis. Essy and Diana. Penelitian (Riana, 2. bahwa indikator perilaku KADARZI yang paling berpengaruh adalah pemberian ASI Eksklusif dan konsumsi Makanan yang beragam. Pemberian konsumsi makanan yang beraneka ragam dapat menurunkan resiko terjadinya Stunting pada balita 13,175 kali dibanding konsumsinya yang kurang beragam. Kesadaran keluarga dalam menyediakan makanan yang beraneka ragam bagi balita sangat penting. Balita dengan konsumsi makanan beranekaragam memiliki kecenderungan status gizi baik (Riana, 2. KESIMPULAN Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa rata-rata pengetahuan Kadarzi ibu balita stunting di wilayah Puskesmas Perawtan Lubuk Durian Bengkulu Utara masih tergolong kurang serta perilaku sebagian besar belum menerapkan lima indikator Kadarzi. Hal ini disebabkan karena keaktifan ibu-ibu dalam mengikuti dan memanfaatkan kegiatan Posyandu masih kurang. Yosika, dkk | 20 SHR : Jurnal Svasta Harena Raflesia Vol. Nomor 1 . Juni 2023 UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini dapat dilaksanakan dengan baik berkat bantuan dari berbagai pihak, untuk itu peneliti mengucapakan terima kasih. Harapan peneliti semoga dengan penelitian ini bisa bermanfaat bagi semuanya. DAFTAR PUSTAKA