MODERATION: Journal of Islamic Studies Review Volume. 03, Number. 02, Agustus 2023 p-ISSN: 2776-1193, e-ISSN: 2776-1517 Hlm: 103-118 Journal Home Page: http://journal.adpetikisindo.or.id/index.php/moderation/index KIRI ISLAM HASAN HANAFI Akso dan Faridah STAI Muslim Asia Afrika dan Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon akso011258@gmail.com Abstract: Islam is a praxis that seeks to dismantle oppressive and discriminatory social order. It is in this context that Islamic theology has always been synonymous with liberation theology. Hasan Hanafi used leftist Islam in the context of a social structure in which there were two opposing social classes. The first class, the established elite class (right class). It controls both the means of production and the means of political power, and seeks to exploit other classes. The other class, the majority, (the left). In such a social order, the Islamic left is meant to defend the interests of the majority in order to restore the rights of the poor from the rich, to defend the weak in the face of the strong, and to make humanity all equal. Even today the social order still reflects clashes between the elite and the majority. For this reason, liberation theology is still relevant to apply. Keyword: Islamic Left; Hasan Hanafi Akso dan Faridah: [Kiri Islam Hasan Hanafi]103 | Akso dan Faridah PENDAHULUAN Hasan Hanafi lahir di Kairo, ibu kota Republik Mesir, tanggal 13 Pebruari 1935 M. Keluarganya berasal dari Provinsi Banu Swif, salah satu Provinsi di Mesir bagian selatan. Kakek Hasan Hanafi berasal dari Maghrib (Maroko), neneknya berasal dari kabilah Bani Mur. Gamal Abdul Nasser, Presiden Mesir sebelum Anwar Sadat, berasal dari kabilah itu. Pada usia sekitar lima (5) tahun, Hanafi mulai menghafal Al-Qur’an dibawah bimbingan Syaikh Sayyid. Sentuhan awal Hasan Hanfi dengan Al-Qur’an itu berlangsung di jalan al-Banhawi kompleks Bab al-Sya’riyah, pinggiran kota Kairo bagian selatan. Pendidikan dasarnya ia selesaikan selama lima tahun di Madrasah Sulayman Ghawish, Bab al-Futuh, suatu daerah yang berbatasan dengan Benteng Salahuddin. Setamat dari sekolah itu, Hanafi masuk ke sekolah pendidikan guru AlMu’allimin, namun ketika mau memasuki tahun kelima, tahun terakhir disekolah tersebut, ia pindah mengikuti jejak kakeknya ke sekolah Silahdar. Di sekolah itu pula Hanafi banyak belajar bahasa asing. Pendidikan menengah atasnya ditempuh Hanafi disekolah Menengah Atas Khalil Agha. Sekolah barunya itu berada dikomplek alHakim bi Amrillah. Gelar kesarjanaannya ia raih pada tanggal 11 Oktober 1956 dari kulliyat adab (fakultas sastra) jurusan filsafat Universitas Kairo Mesir. Setelah itu Hanafi pergi ke Perancis untuk memperdalam Filsafat di Universitas Sorbonne dengan spesialis filsafat Barat moderen dan pra-modern, selama kurang lebih sepuluh (10) tahun. Hanafi menyusun disertasi yang berjudul Essai sur Ia methode d’Exegese (esei tentang metode penafsiran). Disertasinya setebal 900 halaman memperoleh penghargaan untuk penulisan karya ilmiyah terbaik di Mesir pada tahun 1961. Setelah meraih gelar Doktor, Hanafi kembali ke almaternya, Universitas Kairo Mesir, dan mengajar di fakultas sastra, jurusan filsafat. Ia mengajar mata kuliah pemikiran kristen abad pertengahan dan filsafat Islam. Reputasinya, pada tahun 1969, Hanafi menjadi Profesor tamu di Perancis, mengajar di Belgia (1970), Amerika Serikat (1971-1975), Kuait (1979), Maroko (19821984), Jepang (1984-1985), dan Uni Emirat Arab (1985). Hanafi juga pernah mengunjungi beberapa Negara seperti; Belanda, Swedia, Portugal, Spanyol, India, Sudan Saudi Arabia dan juga Indonesia. Kunjungankunjungan tersebut antara tahun 1980-1987. Dalam berbagai kunjungan tersebut Hanafi banyak bertemu dengan para pemikir ternama, yang kemudian memberi sumbangan pada keluasan tentang persoalan hakiki yang dihadafi oleh umat manusia umumnya dan umat Islam khususnya. Terdapat beberapa karya-karya dari Hasan Hanafi yang perlu di rujuk dan menjadi bahan referensi, antara lain: 1) Revolusioner dan Progresif. Karya Hasan Hanfi seperti: Al-Din wa al-Tsawrah fi Mishr 1952-1981 (Agama dan Revolusi di Mesir 1952-1981. Buku itu dikemas dalam delapan volume: volume I: Agama dan Kebudayaan Bangsa, Vol. II: Agama dan Pembebasan Kebudayaan, Vol. III: Agama dan Perjuangan Nasional, Vol. IV: Agama dan Pembangunan Bangsa, Vol. V: Gerakan-gerakan Keagamaan Kontemporer, Vol. VI: Fundamentalis Islam, Vol VII: Kanan dan Kiri dalam Pemikiran Islam Vol. VIII: Kiri Islam dan Kesatuan Nasional. Dan Minal ‘Aqidah ila al-Tsawrah. 104 | MODERATION: Vol. 03 No. 02, Agustus 2023 MODERATION: Vol. 03 No. 02, Agustus 2023 | Agenda wawasan progresif beliau: Al-Taurats wa Al-Tajdid, mempunyai 3 (tiga) sasaran utama: pertama: Mauwqifuna min al-Taurfats al-Qadim yaitu: merekontruksi warisan (khazanah) Islam klasik dengan cara melakukan tafsir ulang secara kritis dan terpadu serta dihadapkan langsung dengan persoalan nyata umat. Dari situ paling tidak ada 7 (tujuh) garapan: (1) Min al-Aqidah ila al-Tsawrah (2) Min al-Naql ila al-Ibda, (3) Min al-Fana ila al-Baqa, (4) Min al-Nash ila al-Waqi, (5) Min al-Naql ila al-Aql (6) Al-Aql wa alThabi’ah, dan (7) al-Insan wa al-Tarikh. Sasaran yang lain yaitu: Mawqifuna min al-Turiats al-Gharbi. Itu dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana kita seharusnya, sebagai kaum Muslim dan bangsa Timur, melihat dan menyikapi tradisi dan peradaban Barat. Disini ada 3 (tiga) Garapan: (1) mashadir al-wa’y al-Urubi, (2) bidayah al-Wa’y al-urubi dan (3) Nihayah al-Wa’y al-Urubi. Satu sasaran pokok lainnya adalah Mawqifuna minal-Waqi, yakni menjelaskan bagaimana kita seharusnya menyikapi realitas. Oleh Hanafi sasaran tersebut dinamai juga sebagai Nazhriyah al-Tafsir, yaitu upaya untuk membangun teori tafsir (hermeneutika Al-Qur’an) yang didalamnya dilibatkan dimensi kebudayaan dalam skala global dengan menjadikan Islam sebagai basis ideologis bagi era kemanusiaan modern. Menurut Hanafi, teori yang ia tawarkan sepadan dengan Ulum Al-Qur’an dalam wacana klasik. Dengan begitu dapat disebut bahwa agenda Mauqifuna minal-Waqi adalah reformulasi Hanafi untuk Ulum Al-Qur’an. Sasarannya adalah untuk menangkap logika wahyu (mathiq al-wahy).1 2) Gerakan Pemikiran Rasional Pada agenda pertama, Mawqifuna min al-Turats al-Qadim, Hanafi menulis buku: Min al-Aqidah ila al-Tsawrah dalam lima Volume. Vol. I. Al-Muqaddimat al-Nazhriyah, berisi dasar-dasar teoritis bagi bahasan-bahasan dalam volume berikutnya, Vol. II. atTauhid, berisi pembahasan tuntas tentang ilmu ushuluddin klasik, sesperti, nama, sifat dan perbuatan Tuhan, yang ia tafsir ulang sejalan dengan tuntutan dan dinamika zaman. Vol. III. Al-‘Adl, memuat kajian Hanafi tentang masalah-masalah yang sering diperebutkan oleh ulama-ulama kalam klasik, seperti tentang keadilan Tuhan takdir dan kehendak bebas manusia, pentingnya wahyu, baik dan buruk, kemaslahatan dan sebagainya. Di penghujung kejiannya, Hanafi mempertanyakan mengapa pembahasan tentang manusia dan sejarah menjadi hilang dalam teologi klasik. Vol. IV, AnNubuwwah, berisi pembahasan tentang kenabian, perkembangan wahyu, mukjizat para Nabi, mukjizat Al-Qur’an, risalah dalam arti kerasulan dan substansi risalah. Vol. V, AlMa’ad, memperbincangkan masalah-masalah eskatologi, seperti kematian, kehidupan alam qubur, kebangkitan, tanda-tanda hari qiyamat, penghitungan dan timbangan amal (hisab dan mizan), surga dan neraka, serta lainnya. Agenda kedua: Mauqifuna min al-Turats al-Gharbi, Hanafi menulis buku Muqaddimah fi ‘Ilm al-Istighrab. Di dalam buku ini Hanafi menawarkan oksidentalisme sebagai tandingan Orientalisme. Oksidentalisme diproyeksikan sebagai suatu kajian yang menjadikan Barat sebagai obyek studinya. Barat dipelajari perkembangannya, budaya, tradisi dan strukturnya. Dan pada Oksidentalisme dimaksudkan untuk menghilangkan dominasi Barat atas Timur (Islam).2 Agenda yang terakhir, Mauqifuna minal-Waqi, Hanafi berupaya merumuskan metodologi tafsir baru sebagai upaya pelestarian dan pengembangan ‘Ulum Al-Qur’an. 1 Abad Badruzaman, Kiri Islam Hasan Hanfi, cet. Ke-I (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005), 41-52. 2 Abad Badruzaman, Kiri Islam Hasan Hanfi, cet. Ke-I (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005), 53. Akso dan Faridah: [Kiri Islam Hasan Hanafi]105 | Akso dan Faridah Namun demikian Hanafi belum sempat mempublikasikan buku khusus, selain beberapa artikel yang membahas hermeneutika Al-Qur’an dan tafsirannya atas tematema tertentu dalam Al-Qur’an. Dilihat dari periodesasi, karya-karya Hasan Hanafi dapat diklasifikasikan kedalam tiga periode. Periode pertama, berlangsung pada tahun 60-an, periode kedua, pada tahun 70-an dan periode terakhir tahun 80-an sampai 90an.3 3) Gerakan Nasionalis. Periode Pertama: dipengaruhi oleh paham-paham dominan yang berkembang di Mesir, yakni Nasionalistik, sosialistik, populistik yang dirumuskan sebagai idiologi PanArabik. E. Kusnadiningrat; Selama periode itu Hanafi sedang menempuh studi di Universitas Sorbone (Perancis); karya-karyanya antara lain: Les Metode d’Exegese, essai sur La Science des Fondament de la Comprehensen, ‘Ilm Ushul al-Fiqh (1965); L’ Exegese de la Phenomenologie L’etat actuel de la methode phenomenologique et son application ua phenomene religiux (1965); dan La Phenomenologie d L’Exegese essai d’une hermeneutique existentille a parti du Nouvea Testanment (1966).4 4) Revitalisasi Khazanah Klasik. Pada periode kedua (tahun 70-an), Hanafi memberikan perhatian utama pada sebab-sebab kekalahan bangsa Arab ketika berperang melawan Israel pada tahun 1967. Pada periode itu tulisan-tulisannya lebih populis. Dan beliau menerbitkan buku dengan judul “Qadhaya Mu’ashirah fi fikrina al-Mu’ashirah.” Buku itu merupakan repleksi Hanafi atas realitas dunia Arab dengan segala problematikanya, dengan penekanan pentingnya pembaharuan pemikiran Islam dalam kerangka revitalisasi khazanah klasik Islam dalam kancah kehidupan modern. 5) Kajian Pemikir dan Pemikiran Barat. Kemudian Hanafi menerbitkan buku dengan judul “Qadhaya Mu’ashirah fi al-fikr al-Gharbi al-Mu’ashir.” Buku ini mendiskusikan pemikiran para pemikir Barat untuk melihat bagaimana mereka memahami persoalan masyarakat dan kemudian mengadakan pembaharuan. Para pemikir Barat yang dikaji pemikirannya itu antara lain: Spinoza, Voltaire, Immanuel Kant, Hegel, Karl Jaspers, Max Weber, Edmund Hussel dan Herbert Marcus. Karya lain yang ditulis pada periode ini adalah: Religious Dialogue and Revolution dan Dirasat Islamiyah, memuat deskripsi dan analisis pembaharuan atas ilmu-ilmu keislaman klasik seperti ushul fikih, ushuluddin dan filsafat. Juga menulis, Al-Turats wa al-Tajdid, yang memuat landasan teoritis bagi dasar-dasar pembaharuan dan langkah-langkahnya. Al-Yasar al-Islami, merupakan manifesto Hanafi yang paling utuh, karena embrio gagasannya telah semaikan sejak pergumulan Hanafi dengan suasana sosialpolitik yang penuh gejolak selama hamper 35 tahun, sejak tahun 1946-1981. Karya lainnya: Dirasat Falsafiah, Min al-Aqidah ila al-Tsawrah, Hiwar al-Masyriq wa al-Maghrib, Islam in the Modern word, Humum al-Fikr wa al-Wathan, Jamaluddin al-Afghani dan Hiwar alAjyal. Dan masih banyak lagi buku-buku Hasan Hanafi.5 Hasan Hanafi tercatat sebagai pelopor berdirinya organisasi perhimpunan para filosof Mesir yang berdiri tahun 1986. Karya-karyanya tidak dapat disebutkan secara keseluruhan, karena saking banyak tulisanya. 3 E. Kusnadiningrat, Teologi dan Pembebasan., 52. 4 Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan, 78. 5 Abad Badruzaman, Kiri Islam Hasan Hanfi, cet. Ke-I (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005), 55-56. Lihat, Hasan Hanafi, Qadhaya Mu’ashirah fi Fikrina al-Mu’ashir, cet. Ke-III (Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, 1988). 106 | MODERATION: Vol. 03 No. 02, Agustus 2023 MODERATION: Vol. 03 No. 02, Agustus 2023 | PEMBAHASAN Kiri Islam Hasan Hanafi 1) Kebangkitan Islam Bagaimana Islam harus bangkit, Hasan Hanafi membuat sebuah jurnal berkala yang diluncurkan pada tahun 1981. Nama lengkap jurnal itu adalah Al-Yasar al-Islami: Kitabat fi al-Nahdhah al-Islamiyah yang berisi sejumlah esai tentang kebangkitan Islam. Di dalam isu pertama jurnal itu, apa arti kiri Islam? Hasan Hanafi mendiskusikan beberapa isu penting berkaitan dengan kebangkitan Islam. Secara singkat diungkapkannya bahwa Kiri Islam bertopang pada tiga (3) pilar dalam rangka mewujudkan kebangkitan Islam, revolusi Islam (revolusi tauhid), dan kesatuan umat. Pertama, revitalisasi khazanah Islam klasik (turats). Hasan Hanafi menekankan perlunya rasionalisme untuk revitalisasi khazanah Islam itu. Rasionalisasi merupakan keniscayaan untuk kemajuan dan kesejahteraan Muslim serta untuk memecahkan situasi kekinian di dalam dunia Islam. Kedua, menantang peradaban Barat. Hanafi memperingatkan pembaca jurnalnya tentang bahaya imperialism kultural Barat yang cenderung membasmi kebudayaan bangsa-bangsa yang secara historis kaya. Ia mengusulkan Oksidentalisme sebagai jawaban (tandingan) “Orientalisme” dalam rangka mengakhiri mitos peradaban Barat. Ketiga, melakukan analisis terhadap realitas dunia Islam. Untuk analisis itu, Hanafi mengkritik metode tradisional yang bertumpu pada teks (nash), dan mengusulkan suatu metode tertentu, agar realitas dunia Islam dapat berbicara bagi dirinya sendiri. Hasan Hanafi melihat bahwa dunia Islam kini sedang menghadapi tiga ancaman yaitu: Imperialisme, Zionisme, dan Kapitalisme dari luar; Kemiskinan, Ketertindasan dan keterbelakangan dari dalam. Kiri Islam berfokus pada masalah-masalah itu. Kiri Islam adalah revolusi akal nalar dan realitas. Kiri Islam hendak mentransformasikan kesadaran itu dari kesadaran individual (al-wa’y al-fardi) menjadi kesadaran sosial (al-wa’y al-Ijtima’i) dari revolusi akal nalar menjadi revolusi realitas. Gerakan kebangkitan dan penyadaran yang lebih diarahkan ke internal tubuh umat Islam, agar mereka bangkit dan sadar dari kejumudan dalam memahami dan menafsirkan ajaran-ajaran Islam. Dan juga gerakan kebangkitan dan penyadaran agar umat Islam yang telah tercerahi sikap dan pola pikirnsya melahirkan sebuah revolusi untuk menumbangkan sistem sosial yang zalim, status quo, dan ketidakadilan para penguasa dan perangkat kekuasaannya. Sedangkan kiri Islam menghendaki revolusi keduanya secara berbarengan.6 6 Abad Badruzaman, Kiri Islam Hasan Hanfi, cet. Ke-I (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005), 62-63. Akso dan Faridah: [Kiri Islam Hasan Hanafi]107 | Akso dan Faridah Yudian Wahyudi, mengatakan bahwa menurut Hasan Hanafi, salah satu faktor terpenting penyebab kemunduran Islam adalah hilangnya semangat revoluisoner dalam kiri Islam, terugama ketika umat Islam jatuh dibawah pengaruh berbagai kekuatan kanan Islam yang pro kekuasaan atau pro kemapanan seperti Asyariyah, tasawuf dan Ghazalisme. Untuk menghidupkan kembali praksis Islam yang hilang, Hanafi menjadikan revolusi Khawarij sebagai model, yang dia anggap sebagai warisan kiri Islam.7 Kiri Islam menerima lima prinsip Muktazilah, dan berusaha menghidupkan kembali warisan Muktazilah itu yakni: (1) Al-Tawhid, (2) Al-Adl, (3) Al-Wa’ad wa alWa’id, (4) Al-Manzilah bayn al- Manzilatain, (5) Al-Amr bi al-Ma’ruf wa Nahy ‘an almunkar.8 Dalam filsafat hukum Islam, kiri Islam bukanlah aliran baru, karena tetap bersandar pada aliran pemikiran fikih klasik, namun secara selektif. Kiri Islam tidak mengikuti mazhab Hanafi, Syafi’i atau Hanbali, tanpa mendiskriditkan antara madzhab fikih yang satu dengan yang lainnya. Kiri Islam menyerukan agar kaum Muslimin menghidupkan kembali landasans Islam klasik. Karena pendahulu kita melakukan ijtihad, maka kitapun melakukannya. Mereka manusia seperti kita. Apa yang kita pertahankan adalah prinsip kesejahteraan kaum Muslim sesuai dengan yang dianut madzhab Maliki. Kita menerima pentingnya peran akal seperti dalam fikih yang dikembangkan Abu Hanifah. Kiri Islam menerima kesatuan akal dan realitas seperti dalam fikih yang dikembangkan mazhab Syafi’i. Kiri Islam juga mengikuti prinsip perlunya kembali ke sumber pertama, sesperti ditekankan oleh Ahmad Ibnu Hambal di mana kita bisa menemukan spontanitas akal dan suatu pandangan tentang realitas dalam teks. Tugas kiri Islam adalah merekontruksi semua teori hukum tradisional itu. Ijma’ masing-masing zaman hanya berlaku bagi zaman itu sendiri. Ijtihad terbuka bagi setiap zaman. Kalau kita memandang hukum lebih penting dari pada realitas dalam memutuskan persoalan, itu perarti kita tidak menilai sesuatu atas dasar kemaslahatan (kesejahteraan). Kemaslahatan adalah landasan ketiga hukum Islam. Ijtihad adalah landasan keempat.9 Menurut Yudian Wahyudi, bahwa Hanafi cenderung menganggap kiri Islam sebagai permanen thesis, sehingga kiri Islam terlihat esensialis. Ini berbahaya, karena akan menjadi tudingisme alias pokok(nya)-isme, kita akan terjebak pada fisik, padahal kiri Islam adalah sifat atau prilaku. Umat Islam sudah menjadi korban pokokisme ini. Misalnya umat Islam anti filsafat. Semua yang berbau filsafat ditentang sampai tidak dapat membedakan antara metafisika dan fisika (eksperimental sciences; almujarabat, yang menjadi bahasa Indonesia tunggal mujarab).10 Selanjutnya Yudian mengatakan bahwa Kiri Islam Hasan Hanafi bertekad memperkenalkan kembali Muktazilah dalam menangkal efek negative kanan Asyariah. Menurut Hanafi bahwa Muktazilah sebagai solusi untuk mengatasi kemunduran Islam karena Muktazilah, pada dasarnya merupakan revolusi pemikiran, revolusi alam fisik dan revolusi kebebasan berkehendak.11 7 Wahyudi, Yudian, Jihad Ilmiah: Dari Tremas ke Harvard, (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2007), 158. 8 Abad Badruzaman, Kiri Islam Hasan Hanfi, cet. Ke-I (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005), 70. 9 Abad Badruzaman, Kiri Islam Hasan Hanfi, cet. Ke-I (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005), 71-72. 10 Wahyudi, Yudian, Jihad Ilmiah: Dari Tremas ke Harvard (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2007), 134. 11 Wahyudi, Yudian, Jihad Ilmiah: Dari Tremas ke Harvard (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2007), 139. 108 | MODERATION: Vol. 03 No. 02, Agustus 2023 MODERATION: Vol. 03 No. 02, Agustus 2023 | 2) Metode Pembaharuan Turats a) Reaktualisasi Khazanah Keilmuan Islam (turats) Kiri Islam juga berupaya merekontruksi khazanah klasik Islam. Tujuannya adalah untuk membangun kembali paradigma ilmu pengetahuan Islam setelah sekian waktu luput dari agenda kehidupan umat Islam. Uapaya kearah itu dinamai Tajdid Turas (reaktualisasi khazanah keilmuan Islam), dan cara-cara yang mesti ditempuh dalam upaya ini antara lain: Pertama, metode hermeneutika, yakni membuat formulasi yang tepat untuk mengidentifikasi cabang-cabang ilmu pengetahuan yang mungkin didapat dari teks-teks agama dengan cara pemahaman lewat hipotesa dan uji coba empiris terhadap nas-nas yang pengertian lahirnya jelas (mukhkamah), atau lewat penafsiran linguistik dan atau penafsiran persepektif atas nas-nas yang pengertian lahirnya tidak jelas (mutasyabih). Penafsiran-penafsiran model itu dilakukan sambal memperhatikan konteks serta situasi waktu yang melingkupi atau menjadi sebab turunnya teks-teks tersebut. Upaya seperti ini dinamai dengan “Logika Tafsir” (mantiq al-tafsir). Metode ini dapat juga dinamai dengan metode hermeneutik. Hermeneutik merupakan salah satu tema penting dalam pemikiran Hasan Hanfi. Bahkan ia menjadi bagian integral dari wacara pemikirannya baik dalam filsafat maupun teologi untuk memahami suatu teks. Hermeneutik yang dikembangkan Hanafi dipengaruhi oleh hermeneutik kontemporer Barat. hermeneutik berkaitan erat dengan masalah pemahaman dan intrepretasi. Bagi Hanafi, hermeneutik bukan hanya berarti ilmu “intrepretasi”, yakni suatu teori pemahaman, tetapi juga berarti ilmu yang menjelaskan penerimaan wahyu sejak tingkat perkataan sampai ke tingkat dunia. Ilmu tentang proses wahyu dari huruf sampai kenyataan, dari logos sampai praksis, dan transpormasi wahyu dari pikiran Tuhan kepada kehidupan manusia. Lebih jauh Hanafi berpendapat bahwa proses pemahaman hanya menduduki tempat kedua. Yang pertama adalah kritik kesejarahan, yang menjamin keaslian kitab suci dalam sejarah. Pemahaman tidak mungkin terjadi bila tidak ada kepastian bahwa apa yang dipahami adalah asli secara historis. Di sinilah hermeneutik muncul sebagai ilmu pemahaman dalam artinya yang paling tepat, terutama berkenaan dengan bahasa dan keadaan-keadaan kesejarahan yang melahirkan kitab-kitab suci itu. Setelah mengetahui arti teks tersebut secara tepat, kemudian memasuki langkah ketiga yakni proses menyadari arti ini dalam kehidupan manusia. Itulah tujuan akhir wahyu Allah. Dalam Bahasa Fenomenologis, menurut Hanafi, dapat dikatakan bahwa hermeneutik adalah ilmu yang menentukan hubungan antara kesadaran dengan obyeknya. Dalam hal ini obyeknya adalah kitab suci. Tahap pertama yang terjadi adalah pemilikan kesadaran historis yang menentukan keaslian teks dan tingkat kepastiannya. Selanjutnya yang terjadi adalah munculnya kesadaran elektik yang menjelaskan makna teks sekaligus menjadikan teks tersebut rasional. Yang terakhir adalah timbulnya kesadaran praktis yang menggunakan makna tersebut sebagai dasar teoritis bagi tindakan dan mengantarkan wahyu pada tujuan akhirnya dalam kehidupan manusia di dunia ini sebagai struktur ideal yang mewujudkan kesempurnaan dunia. Akso dan Faridah: [Kiri Islam Hasan Hanafi]109 | Akso dan Faridah Selanjutnya Hanafi menegaskan bahwa hermeneutik merupakan aksiomatika yang berarti diskripsi proses hermeneutik sebagai ilmu pengetahuan yang rasional, formal, obyektif dan universal. Hubungan antara hermeneutisk dengan Kitab suci harus seperti hubungan antara aksiomatika dan matematika. Kedua, metode logika fenomena, yakni menunjukkan proses kerja akal nalar yang menentukan karakteristik fenomena pemikiran yang ada dibalik wujud bangun ilmu pengetahuan klasik. Proses ini merupakan suatu aktivitas akal yang terdapat pada setiap peradaban yang berasal dari sumber pokoknya yaitu wahyu. Dengan pengetahuan tentang ini kita dapat merekonstruksi ilmu-ilmu pengetahuan klasik–yang kini sudah beralih nama menjadi turats–menjadi ilmu-ilmu baru sejalan dengan perkembangan dan perimbangan kekinian, sambil tetap melestarikan sem angat yang dikandung oleh turats-turats yang direkontruksi tersebut. Langkah ini dapat dinamai dengan “Logika Fenomena” (mantiq al-zhawahir). Ketiga, metode elektik (logika) penilaian yakni memilih unsur-unsur mana yang positif dan mana yang negatif dalam setiap cabang ilmu pengetahuan, seraya memahami kerangka teoritis yang dikandung oleh masing-masing unsur baik yang positif maupun yang negatif. Unsur yang negatif pun mesti dipelajari dan dipahami sumber-sumber kekeliruannya, sebab-sebab kelahirannya, sejauhmana keterasingannya dari teks-teks agama, serta sampai sejauhmana unsur tersebut menjauh dari kebenaran yang diharapkan. Jika telah diketahui mana yang positif dan mana yang negatif, selanjutnya dipilih dan diambil unsur-unsur yang positif dari semuanya. Cara itu dapat kita namai dengan Logika Penilaian” (mantiq al-taqyin). Metode itu juga dinamai dengan “Metode Eklektik”. Eklektik adalah filsafat atau teori yang tidak asli, tetapi memilih unsur-unsur dari berbagai teori atau sistem. Metode ini dipakai Hasan Hanafi untuk membangun pemikirannya (reaktualisasi), dengan cara memilih-memilih pemikiran suatu mazhab seperti kecenderungan Hanafi pada teologi Muktazilah, filsafat Ibn Rusy, dan fikih Hanafi. Dengan demikian pilihan terhadap model-model pemikiran di atas, sesungguhnya diorientasikan kedalam kerangka pembangunan ideologi gerakan yang transformatif. Keempat, metode logika pembaharuan; yakni mentransformasikan semua kerangka teoritis yang telah disebutkan terdahulu, setelah sebelumnya dikritisi dan disarikan sejalan dengan kerangka teoritis modern agar memuat demensi-demensi baru, baik dalam aspek kebahasaannya yang merupakan alat pengungkap isi yang dikandung, maupun dalam hal kemampuannya, dalam menyingkapi dan menganalisis persoalanpersoalan baru, serta dalam hal kemampuannya memberi materi-materi pemikiran bagi realitas baru yang berkembang. Langkah terakhir ini dapat kita namai dengan “Logika Pembaruan.” Turats bukanlah museum pemikiran yang dapat kita banggakan. Bukan pula sesuatu yang berada dihadapan tempat kita berdiri dan dengan rasa bangga kita mengajak dunia untuk Bersama-sama melihat dan mengembara dalam pemikiran. Alan tetapi turats merupakan suatu teori untuk aksi dan membimbing moral serta merupakan asset bangsa yang dapat disingkap dan dieksploitasi serta dikembangkan guna merekontruksi manusia dan hubungannya dengan alam sekitar. 110 | MODERATION: Vol. 03 No. 02, Agustus 2023 MODERATION: Vol. 03 No. 02, Agustus 2023 | Dengan demikian reaktualisasi turats keilmuan Islam dimaksudkan Hanafi sebagai reaktualisasi untuk mengkonfrontasikan ancaman-ancaman baru yang datang ke dunia dengan menggunakan konsep yang terpelihara murni dalam sejarah. Tradisi yang terpelihara itu menetukan lebih banyak lagi pengaktifan untuk dituangkan ke dalam realitas duniawi yang sekarang. Rekonstruksi diri (al-‘Ana) yakni tradisinya sendiri yang berupa khazanah Islam klasik dan telah dilakukan lebih awal-adalah landasan yang jauh lebih penting sebelum kemudian melakukan reformulasi terhadap yang lain (al-Ahbar, the other) berupa respons terhadap Barat dan realitas. Kelima, metode pembaharuan 3 (tiga) pemikiran turats, antara lain: 1. Pembaharuan Turats Fiqih Menunjukkan adanya beberapa kerancuan yang terdapat pada turats klasik, seperti dalam turats fikih. Hanafi berpendapat bahwa turats fikih diliputi dengan perdebatan teoritis yang tidak mampu mendukung perubahan realitas, bahkan diwarnai dengan perdebatan paham yang sekedar permainan kata-kata bohong, serta fanatisme atau pengakuan sepihak untuk menyerapahkan lawan. Turats fikih dipenuhi dengan teori-teori kaku, sementara realitas tetap saja tidak berubah. Turats fikih mencerminkan kelihaian para intelek dan pengarangnya dalam mengolah dan merajut kata, jargon-jargon tentrang keadilan yang dikemukakan, sementara kezaliman merebak di mana-mana. Wejangan-wejangan tentang nilai-nilai keutamaan berserakan, sementara kenistaan moral menjamur disekitarnya. 2. Pembaharuan Ilmu-ilmu rasional dari khazanah klasik Kiri Islam juga menemukan akarnya pada ilmu-ilmu rasional dari khazanah klasik. Ilmu-ilmu itu lahir karena akal, transendensi telah mampu memberi kekuatan kepada rasio untuk menuju kepada yang tak terbatas. Kata Hanafi, karena pendahulu kita menggunakan rasio dan sikap apresiatif terhadap alam dan hukum-hukumnya, maka mampu menguasai teori-teori ilmiah dalam matematika, fisika, arsitektur, kimia, kedokteran, biologi, farmasi, dan sebagainya, yang hampir setara dengan ilmu-ilmu modern. Kiri Islam bertendensi untuk mengangkat ilmu-ilmu klasik secara bertahap, sehingga tidak lagi tergantung pada penemuan-penemuan orang lain. Ilmu pada dasarnya adalah bagaimana mengaktifkan rasio dan memandang alam. Ilmu bukanlah barang jadi, yang hanya diterapkan dan dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. 3. Pembaruan mengembangkan Ilmu-ilmu sosial Kiri Islam juga mempunyai akar dalam ilmu-ilmu tradisional, dan menemukan makna kontemporer di dalamnya. Kiri Islam mampu mengembangkan ilmu sejarah, ideologi dan sistem ekonomi serta politik. Banyak ahli tafsir malakukan penafsiran secara historis, seolah-olah Al-Qur’an hanya berbicara untuk realitas, ruang dan waktu tertentu karena hanya menampilkan peristiwa-peristiwa masa lalu. Sedangkan kiri Islam membangun tafsir persfektif (altafsir al-syu’uri) bahwa Al-Qur’an, tugasnya di dunia, kedudukannya dalam sejarah, membangun sistem sosial Islam, dunia, manusia dan sistem sosial. Akso dan Faridah: [Kiri Islam Hasan Hanafi]111 | Akso dan Faridah Hasan Hanafi mempertanyakan kenapa pembahasan tentang manusia dan sejarah luput dari khazanah klasik kita. Padahal, kata Hanafi, wahyu yang merupakan sumber utama turats serta pengarah terkuat perilaku keseharian kita, sangat menonjolkan manusia dan menjadikannya sebagai tema pembahasan tersendiri. Di dalam Al-Qur’an disebutkan setidaknya 65 kali kata al-Insan yang menunjukkan lima hakekat inti yang dimiliki manusia yaitu: (1) Bahwasanya manusia adalah makhluk yang diadakan dari tidak ada. (2) Bahwa setengah dari hakekat manusia adalah jiwa. (3) Bahwasanya manusia dihadapkan pada tantangan dari musuhnya yang mengingkari nilai yang dimilikinya, Nampak kehormatan yang disandangnya, dan enggan mengakui keutamaan kapabilitas yang dimilikinya, juga berusaha menafikan martabat dan derajat yang didudukinya. (4) Bahwasannya manusia adalah makhluk yang harus memikul tanggungjawab dan amanat, karena ia telah menerima tanggungjawab tersebut sesuai dengan keinginan dan pilihannya sendiri. (5) Bahwasannya jika empat hakekat terdahulu telah terpenuhi maka keadaannya akan berubah. b) Metode Pembaharuan: aksidentalisme lawan orientalisme peradaban Barat Kiri Islam hadir untuk menantang dan menggantikan kedudukan peradaban Barat. Jika al-Afghani memperingatkan tentang imperialism militer, maka kiri Islam pada awal abad ini telah menghadapi ancaman imperialism ekonomi berupa korporasi multi nasional, sekaligus mengingatkan akan ancaman imperialism kebudayaan. Kiri Islam memperkuat umat Islam dari dalam, dan tradisinya sendiri berdiri melawan pembaratan yang pada dasarnya bertujuan melenyapkan kebudayaan nasional dan memperkokoh hegemoni kebudayaan Barat. Meskipun, dilihat dari standar Barat, rakyat kita terbelakang, namun sebenarnya masih menyimpan unsur-unsur kekuatan dengan standar budaya khas milik sendiri. Seruan untuk menantang dan menggantikan peradaban Barat kemudian ditindaklanjuti oleh Hanafi dengan mengemukakan bahwa kita harus mengembangkan oksidentalisme (al-istighrab) yang merupakan tandingan (lawan) bagi orientalisme (alistisyraq). Untuk itu ia menerbitkan sebuah buku yang cukup tebal yaitu muqaddamah fi ‘Ilm al-Istighrab (pengantar ilmu oksidentalisme). Seperti yang dikatakan oleh orang Barat sendiri yakni Karl Steenbrink dalam periode kolonialisme dan imperalisme yang tidak kondusif sama sekali untuk era sekarang ini. Istilah halus Karl Steenbrink adalah adanya ambivalensi-ambivalensi baik dalam Islam maupun Kristen. Satu hal yang perlu juga kita camkan di sini. Jangan dikira bahwa kaum orientalis sendiri senang dengan sikap yang dianjurkan oleh Karl Steenbrink. Menurut paparan Prof. Arkoum Guru Besar Islamic Thought di Sorbon, kaum orientalis sendiri bergumam: mengapa sih orang Islam tidak mempelajari agama, budaya dan cara hidup Barat, katakanlah semacam occidentalism begitu, yang dapat dijadikan acuan untuk melihat kelebihan dan kekurangan budaya Barat sendiri. Apa dikira bahwa budaya Barat adalah budaya budaya yang final, sehingga nyaris tanpa cacat? Harusnya ada timbal balik kajian. Barat melihat Timur, dan Timur melihat Barat. 112 | MODERATION: Vol. 03 No. 02, Agustus 2023 MODERATION: Vol. 03 No. 02, Agustus 2023 | Sudah barang tentu semangat mempelajari kebudayaan dan agama orang lain untuk era globalisasi seperti sekarang ini, bukan logis seperti yang diacu oleh orientalisme pada zaman kolonialisme dan imperialisme sepertis dulu, tetapi lebih ditekankan pada sustainable development (dalam segala aspek kebudayaan manusia termasuk agamanya), hidup berdampingan secara damai, tanpa eksklusivitas Barat maupun Timur. Sayang studi occidentalisme masih jauh panggang dari api.12 Jalaluddin mengatakan dalam bukunya, bahwa anda telah menjadi korban proses belajar (learning) sepanjang hidup anda. Agar anda mendapatkan kembali kepribadian anda, lakukanlah proses mementahkan apa yang sudah ada pelajari itu (delearning). Yaitu dengan menolak setiap upaya orang lain untuk memaksanya kepada anda. Anda hanya boleh bertindak seperti yang anda ingini.13 Kiri Islam ingin memulai hidup baru yang berintikan wacana reformasi, vitralisasi, pencerahan, kebangkitan, transformasi sosial, dan revolusi. Dan secara praktis, Kiri Islam akan selalu memperjuangkan kemerdekaan tanah air dan kedaulatan bangsa-bangsa. Kiri Islam akan mengemas ideologi-ideologi pembebasan untuk penguatan tiga perempat warga umat manusia. Jika kesadaran Eropa telah mendominasi selama lima abad terakhir ini, maka Islam sesungguhnya telah mendominasi lima abad sebelumnya. c) Metode Pembaharuan Realita Dunia Islam Pemikiran kegamaan kita selama ini, menurut Hanafi, hanya bertumpu pada model “pengalihan” yang hanya memindahkan bunyi teks kepada realitas, seakan-akan teks-teks keagamaan adalah realitas yang dapat berbicara sendiri. Padahal metode teks seperti itu mempunyai banyak kelemahan. Satu teks adalah teks, bukan realita. Teks hanyalah deskripsi linguistik tentang realitas yang tidak dapat menggantikannya. Dan karena setiap argumentasi harus otentik, maka penggunaan teks sebagai argumentasi harus merujuk kepada otentisitasnya di dalam realitas. Dua, berbeda dari rasio atau eksperimentasi yang memungkinkan manusia mengambil peran untuk turut menentukan teks justru menuntut keimanan a priori terlebih dahulu. Sehingga argumentasi teks hanya dimungkinkan untuk orang yang percaya. Din Syamsuddin mengatakan, bahwa pendekatan al-Qur’an, sebagai dasar pemahaman Islam, memerlukan pendekatan rasional dan kontekstual. Kendati pendekatan ini tidak berarti sama secara kualitatif dengan penakwilan, namun ia lebih dalam dari penafsiran tekstual dan literal. Jika yang terakhir sangat berorientasi kepada pengertian yang dimunculkan bahasa, maka penafsiran rasional dan kontekstual, disamping itu, juga mempertimbangkan kesimpulan-kesimpulan logika dan pesan-pesan moral dari konteks sosio-historis ketika ayat-ayat itu diturunkan, serta peluang-peluang dari konteks sosio-kultural dimana ia akan diterapkan. Pendekatan yang komprehensif dan holistik (hermeneutic) tentu dapat membawa pemahaman yang lebih luas dan utuh terhadap Al-Qur’an.14 12 Amin Abdullah, Studi Agama Normativitas atau Historisitas, cet. Ke-1 (Ttp: Pustaka Pelajar, 1996), 213-214. 13 Jalaluddin Rachmat, Islam Actual, cet. Ke-1 (Bandung: Mizan, 1991), 226. 14 Din Syamsuddin, Etika Agama dan Membangun Masyarakat Madani, cet. Ke-1 (Ttp: Logos Wacana Ilmu, 2002), 167. Akso dan Faridah: [Kiri Islam Hasan Hanafi]113 | Akso dan Faridah Yudian Wahyudi mengatakan; membaca treks dalam hubungannya dengan sumber-sumber ilmiah, bagi generasi dan zaman kita dapat bertumpu pada tiga jalur: Pertama, bertumpu pada turats Barat dengan mengambil bahan ilmiahnya dari situ. Bahan ini banyak sekali dalam filsafat kontemporer dalam hermeneutika. Di samping itu hermeneutika dalam bentuknya yang sekarang adalah ilmu Barat, khususnya filsafat kontemporer, kemudian memisahkan diri dari filsafat kontemporer maupun semua ilmu kemanusiaan dan sosial (walaupun materi ilmiahnya dan sebagian bentuk awalnya terdapat dalam setiap turas keagamaan dan setiap peradaban: Barat maupun Timur). Kedua, bertumpu pada turats klasik dengan segala materi ilmiah yang diseleksi, yang mengungkapkan metode dan orientasi dalam tafsir. Ketiga, adalah bertumpu pada logika murni dan mengalisis pengalaman bersama manusia dari orangorang yang menggeluti teks, apapun juga jenisnya, tanpa mentranfer ke dalam turats kita atau turats Barat. Keduanya penuh dengan materi ilmiah dengan tujuan mentransendensi pase penukilan menujun fase kreasi.15 Sejak era al-Afghani, terlebih selama perang Salib, sampai saat ini, imperialisme tetap merupakan isu terpenting yang dihadapi oleh dunia Islam. Zionisme juga masih menjadi ancaman laten bagi Islam dan kaum Muslimin. Akar-akarnya ada pada sukuisme Ibrani kuno sampai zionisme politik di abad kita ini. Ambisinya bukan saja penaklukkan bumi Palestina, tetapi telah merambah ke negeri-negeri sekitarnya. Ancaman terhadap dunia Islam lainnya adalah kapitalisme yang dibangun di atas landasan perilaku ekonomi bebas, dan diikuti dengan persaingan bebas. Bentuk kongkritnya adalah laba, rente, dan riba. Kapitalisme, selain mendatangkan dampak penindasan, juga turut andil dalam menumbudhkan nilai-nilai destruktif dan heddonisme utilitarian. Hal itu berujung pada penciptaan kelas-kelas sosial dan kesenjangan kesempatan, yang pada gilirannya mengakibatkan pemusatan otoritas ditangan pemilik modal. Islam secara obyektif menolak pemusatan modal dikalangan minoritas elit, 16 hak milik istimewa, kelas sosial, penindasan, riba. Namun Islam menyuarakan reformasi pemilikan, persamaan, kooperasi, tolong-menolong dan solidaritas sosial untuk kepentingan kesejahteraan umat. Misi Kiri Islam pada awal abad ke 15 H adalah: pertama, mewujudkan keadilan sosial di kalangan umat Islam, dan menciptakan masyarakat tanpa kelas agar jurang yang menganga di antara kaum miskin dengan orang kaya dapat terhapus, sejalan dengan petunjuk Al-Qur’an. Kedua, menegakkan masyarakat yang bebas dan demokratis, di mana setiap individu berhak mengungkapkan pendapat, menyuarakan kritik dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Ketiga, membebaskan tanah-tanah kaum muslimin dari kolonialisme. Keempat, membangun kesatuan Islam menyeluruh. Kelima, merumuskan sistem politik nasional yang bebas dari pengaruh super power. Keenam, mendukung gerakan revolusioner kaum terjajah dan tertindas. 15 Yudian Wahyudi, Hermeneutika Al-Qur’an Hasan Hanafi cet. Ke-2 (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009), 69-72. 16 QS. Al-Hasyr (59): 7. 114 | MODERATION: Vol. 03 No. 02, Agustus 2023 MODERATION: Vol. 03 No. 02, Agustus 2023 | d) Metode Teologi Pembebasan 1. Pembebasan Aqidah (tauhid) Tauhid merupakan inti dari seluruh pembahasan tentang ilmu kalam. Maka tak asing kalau akhirnya ilmu kalam kerap dinamai ilmu tauhid. Pembahasan utama ilmu tauhid (ilmu kalam) tak lepas dari itsbat (penetapan) keyakinan bahwa dzat, sifat dan af’al (perbuatan), semuanya milik Allah. Kitab-kitab ‘aqa’id klasik juga selalu memulai pembahasannya dengan tauhid, dan pembahasan-pembahasan lain selalu terkait dengannya, seolah tauhid merupakan tema inti sementara tema-tema lain selalu berada di sekelilingnya dan mengacu kepadanya.17 2. Pembebasan Akal (rasionalitas) Ketika membicarakan masalah akal dan naql, Hasan Hanafi memberikan prioritas lebih pada akal dari pada naql. Pentingnya akal adalah untuk membangun pengetahuan keagamaan dan menegakkan keadilan. Naql tanpa akal, menjadi pandangan semata, karena akal adalah basis naql. Bagi Hanafi, pertimbangan merupakan sesuatu keniscayaan bagi kesejahteraan muslim. 3. Pembebasan Masyarakat (demokrasi dan keadilan sosial) Kebebasan dan demokrasi di negara-negara Muslim merupakan syarat utama bagi proses modernisasi (tahdis), dan modernisasi merupakan syarat utama bagi perubahan dan rekontruksi struktur sosial. Kini, kata Hanafi, kita hidup di dalam masyarakat yang diliputi dengan keterbelakangan. Tidaklah mungkin merubah struktur masyarakat seperti itu selain dengan menelusuri lalu mengikis habis akar-akar keterbelakangan itu. Dengan demikian pembahasan-pembahasan tentang kemajuan dan prasyaratnya di dalam masyarakat terbelakang merupakan syarat utama dan pertama dalam melancarkan perubahan sosial. 4. Pembebasan Budaya (independensi dan oksidentalisme) Sejak era al-Afghani bahkan masa-masa perang salib-sampai saat ini, imperialism tetap merupakan isu terpenting yang dihadapi oleh dunia Islam. Walaupun dalam berbagai ragam wujud, namun pada dasarnya imperialism, menurut Hanafi adalah perang salib baru. Di bidang ekonomi, imperialisme saat ini muncul dalam bentuk korporasi multinasional. Sementara dalam sektor budaya, imperialism muncul dalam bentuk pembaratan sebagai upaya pembunuhan semangat kreativitas bangsa dan pencabutan suatu bangsa dari akar-akar kesejahteraannya. Salah satu misi Kiri Islam adalah membangun sistem politik nasional yang independent, dan mempererat jalinan persahabatan dengan bangsa-bangsa Asia dan Afrika, yakni bangsa-bangsa Islam dan Dunia Ketiga. Selain itu juga mendukung Gerakan revolusioner kaum terjajah dan tertindas, karena sesungguhnya Islam hadir untuk mereka. Revolusi mereka identik dengan revolusi Islam. 17 Abad Badruzaman, Kiri Islam Hasan Hanfi, cet. Ke-I (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005), 107. Akso dan Faridah: [Kiri Islam Hasan Hanafi]115 | Akso dan Faridah 5. Teologi pembebasan sebagai alternatif Semua yang diterangkan di atas dimaksud untuk membangun suatu kerangka baru pemikiran teologi sebagai alternative daris kerangka teologis lama yang dinilai tidak lagi dapat merespons tuntutan zaman dan tidak menyentuh persoalan riil umat manusia. Pemikiran teologis disini bukan dalam pengertiannya yang sempit, yaitu pemikiran serta prinsip-prinsip tentang ketuhanan murni (ilmu ‘aqa’id). Tetapi pemikiran dasar yang melatarbelakangi semua gerakan dan aktivitas manusia dalam segala aspek kehidupannya, atau dengan kata lain, prinsip-prinsip ketuhanan dan kemanusiaan secara umum dan luas. Dalam hal ini aspek kedua (kemanusiaan) tidak lain merupakan kelanjutan atau cerminan dari sikap ketuhanan manusia. Artinya, pandangan serta persepsi ketuhanan mereka bakal teraktualisasikan dan diterjemahkan dalam tataran praktis mereka yang sifatnya kemanusiaan dan disertai dengan segala aspek yang dikandungnya.18 18 Abad Badruzaman, Kiri Islam Hasan Hanfi, cet. Ke-I (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005), 107-167. 116 | MODERATION: Vol. 03 No. 02, Agustus 2023 MODERATION: Vol. 03 No. 02, Agustus 2023 | KESIMPULAN Dunia Islam saat ini telah terkooptasi oleh Barat, baik sistem, kepentingan, struktur maupun kultur. Hal ini sebagai dampak kolonialisme dan imperialisme. Masyarakat Islam punya ketergantungan yang sangat besar terhadap Barat. Dunia Barat berusaha menghegemoni kultur Islam, termasuk tentang Islam itu sendiri. Barat mengupayakan pemahaman Islam versi Barat, supaya dapat diterima oleh dunia Islam. Itulah cara Barat untuk mencabut akar sejarah Islam dari sumber aslinya, Al-Qur’an dan As-Sunnah. Merespon kondisi tersebut, Hasan Hanafi dengan kiri Islamnya sangat menentang peradaban Barat, khususnya imperialisme ekonomi dan kebudayaan. Hasan Hanafi memperkuat umat Islam dengan memperkokoh tradisinya sendiri. Karena itu, tugas kiri Islam yang merupakan salah satu gagasan progresifnya adalah pertama, melokalisasi Barat pada batas-batas alamiyahnya dan menepis mitos dunia Barat sebagai pusat peradaban dunia serta menepis ambisi kebudayaan Barat untuk menjadi paradigma kemajuan bagi bangsa-bangsa lain. Kedua, mengembalikan peradaban Barat pada batas-batas kebaratannya, asal usulnya, kesesuaian dengan latar belakang sejarahnya, agar Barat sadar bahwa terdapat banyak peradaban dan banyak jalan menuju jalan kemajuan. Ketiga Hasan Hanafi menawarkan suatu ilmu untuk menjadikan Barat sebagai obyek kajian, yakni sebagaimana yang ia tulis dalam muqaddimah fi ‘Ilm al-istigshrab (pengantar oksidentalisme). Oksidentalisme bagi Hasan Hanafi merupakan suatu uapaya menandingi orientalisme dan meruntuhkannya hingga keakar-akarnya. Untuk mengembalikan citra Islam, ia memberikan jalan dengan melakukan reformasi agama, kebangkitan rasionalisme dan pencerahan. Akso dan Faridah: [Kiri Islam Hasan Hanafi]117 | Akso dan Faridah REFERENSI Abdullah, Amin, Studi Agama Normativitas atau Historisitas. cet. Ke-1, Ttp: Pustaka Pelajar, 1996. Badruzaman, Abad, Kiri Islam Hasan Hanafi, cet. Ke-1, Yogyakarta: Tirta Wacana, 2005. Rachmat, Jalaluddin, Islam Actual, Bandung: Penerbit Mizan, 1991. Syamsuddin, Din, Etika Agama dan Membangun Masyarakat Madani, cet. Ke-1, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002. Wahyudi, Yudian, Jihad Ilmiah: Dari Tremas ke Harvard, Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2007. Wahyudi, Yudian, Hermeneutika Al-Qur’an Hasan Hanafi cet. Ke-2, Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009. 118 | MODERATION: Vol. 03 No. 02, Agustus 2023