MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 1 Maret 2025 https://ejournal. id/index. php/MM POLA ASUH. MAKAN DAN SANITASI PADA KEJADIAN STUNTING DI DESA REBALAS WILAYAH PUSKESMAS GRATI KABUPATEN PASURUAN 1,2,3 Olivia Febi Safitri1. Agustin Dwi Syalfina2. Dwi Helynarti Syurandhari3 Prodi S1 Kesehatan Masyarakat. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Majapahit Mojokerto ABSTRACT Stunting is a chronic nutritional problem. In the future they will experience difficulties in achieving optimal physical and cognitive development. Stunting is influenced by food availability, parenting style, and environmental sanitation. The purpose of this study was to determine the effect of parenting, eating patterns, and sanitation patterns on stunting in Rebalas Village. Grati Health Center Region. Pasuruan Regency. This research was casecontrol. Population was grouped between stunted and normal under-five children with a sample of 47 respondents and a ratio of 1:1, sample was taken by purposive sampling. The independent variables were parenting, eating patterns, and sanitation patterns, while the dependent variable was the incidence of stunting. The data that has been collected then processed through editing, coding, scoring, and data tabulation. Then analyzed using the ChiSquare test Based on the results of the study, it was found that respondents with parenting, eating patterns, and sanitation patterns in the unfavorable category for their children, almost half had stunted children. Chi-Square test obtained a probability value = 0. 0000 <0. 05 so that H1 was accepted, which mean that there was an influence of parenting patterns, eating patterns, and sanitation patterns. Under-five children with normal height . ot stunte. have better parenting patterns, eating patterns, and sanitation patterns than stunted children with the same family economic background. Improving nutritional problems by empowering the community as preventive and promotive efforts to change family habits and recognizing the positive habits of under-five children mothers and being able to spread these positive habits to other mothers. Keywords: Parenting Pattern. Diet. Sanitation Pattern. Stunting PENDAHULUAN Stunting adalah masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Anak yang menderita stunting akan lebih rentan terhadap penyakit dan ketika dewasa berisiko untuk mengidap penyakit Dampak stunting tidak hanya pada segi kesehatan tetapi juga mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. dan mengindikasikan adanya gangguan pada organAaorgan tubuh. Salah satu organ yang paling cepat mengalami kerusakan pada kondisi gangguan gizi ialah otak. Otak merupakan pusat syaraf yang sangat berkaitan dengan respon anak untuk melihat, mendengar, berpikir, serta melakukan gerakan (Picauly dan Magdalena, 2. Pada tahun 2017 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami stunting. Namun angka ini sudah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan angka stunting pada tahun 2019 yaitu 27. (Studi Kasus Gizi Balita, 2. Angka di Indonesia lebih tinggi dibandingkan Korea Selatan . ,2%). Jepang . ,5%). Malaysia . ,9%). China . ,7%). Thailand . %). Filipina . ,7%), dan Kenya . ,4%). Meski begitu, persentase stunting di Indonesia lebih rendah dari di Kongo . ,8%). Ethiopia . ,3%), dan Rwanda . ,6%). Prevalensi Balita stunting turun dari 37,2% pada tahun 2013 menjadi 30. pada tahun 2018. Prevalensi Baduta stunting juga mengalami penurunan dari 32. 8% pada tahun 2013 menjadi 29,9% pada tahun 2018. (Berdasarkan hasil Strategi Nasional MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 1 Maret 2025 https://ejournal. id/index. php/MM Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2. Berdasarkan prevalensi data stunting secara nasional sebesar 27,67% sedangkan prevalensi data stunting di Jawa Timur 26,86 %. Berdasarkan prevalensi stunting jawa timur menurut Riskesdas tahun 2018 sebesar 32,81%. Sedangkan prevalensi stunting jawa timur menurut SSGBI tahun2019 sebesar 26,9%. Berdasarkan data hasil Riskedas tahun 2018 menunjukkan prevalensi stunting di Jawa Timur berada di atas angka ratarata Indonesia, yaitu sekitar 31%. Mengyngat di Jawa Timur, jumlah balitanya cukup banyak maka jumlah balita yang mengalami stunting pun juga cukup tinggi. Persentase balita stunting di Kabupaten Pasuruan pada tahun 2021 sebesar 20. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Grati prevalensi stunting 5 tahun terakhir yaitu tahun 2017 sebesar 25% , tahun 2018 sebesar 24,6 %, tahun 2019 sebesar 27%, tahun 2020 sebesar 22,3% dan tahun 2021 sebesar 22%. Dari data diatas Wilayah Puskesmas Grati memiliki 9 Desa wilayah kerja diantara nya di tetapkan desa lokus stunting desa Rebalas Kecamatan Grati dikarenakan prevalensi stunting paling besar diantara 8 desa lainnya berdasarkan data bulan timbang tahun 2021 sebesar 29,5%. Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. Permasalahan stunting dipengaruhi oleh banyak faktor. Dalam The United Nation Children Fun, digambarkan bahwa faktor yang mempengaruhi status gizi secara langsung adalah asupan gizi dan keadaan penyakit infeksi. Apabila asupan gizi makin baik maka semakin baik juga status gizi serta imunitas akan semakin tinggi sehingga tidak mudah terkena Dalam keadaan asupan gizi yang tidak baik, maka akan sangat rentan terkena penyakit terutama penyakit infeksi sehingga akan berujung pada masalah gizi. Pada konsep ini juga disebutkan bahwa status gizi juga dipengaruhi secara tidak langsung oleh berbagai faktor seperti ketersediaan pangan, pola asuh, sanitasi lingkungan dan pelayanan kesehatan. Ketersediaan pangan, sanitasi dan pelayanan kesehatan pada dulu mempengaruhi asupan gizi dan penyakit infeksi sedangkan pola asuh selain melalui alur tersebut juga dapat secara vertikal langsung mempengaruhi statu gizi. Sehingga pola asuh perlu untuk diperhatikan dan tidak dapat diabaikan dalam upaya peningkatan status gizi Faktor lingkungan yang menyangkut aspek alam, sosial maupun binaan merupakan factor tidak langsung yang mempengaruhi status gizi. Berbagai penelitian menyebutkan status gizi dapat disebabkan oleh kondisi medis status sosial ekonomi keluarga, dan sosial Faktor pola asuh yang tidak baik dalam keluarga merupakan salah satu penyebab timbulnya permasalahan gizi. Pola asuh meliputi kemampuan keluarga untuk menyediakan waktu, perhatian dan dukungan dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental dan sosial dari anak yang sedang tumbuh dalam keluarga. Pola asuh terhadap anak dimanifestasikan dalam beberapa hal berupa pemberian ASI dan makanan pendamping, rangsangan psikososial, praktek kebersihan/hygiene dan sanitasi lingkungan, perawatan anak dalam keadaan sakit berupa praktek kesehatan di rumah dan pola pencarian pelayanan kesehatan. Kebiasaan yang ada didalam keluarga berupa praktik pemberian makan, rangsangan psikososial, praktik kebersihan/hygiene, sanitasi lingkungan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting anak usia 24 Ae59 bulan. MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 1 Maret 2025 https://ejournal. id/index. php/MM Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, perilaku serta kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dalam setiap daur kehidupan manusia. Kekurangan gizi pada kelompok rawan yaitu balita, ibu hamil, ibu menyusui dan remaja akan berdampak terhadap kualitas Sumber Daya Manusai (SDM) dalam persaingan global. Untuk itu masalah kekurangan gizi harus ditanggulangi secara bersama dengan melibatkan lintas sektor dan lintas program agar memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Sehingga di perlukan penelitian untuk mengidentifikasi AuPola Asuh. Makan dan Sanitasi Pada Kejadian Stunting Wilayah Desa Rebalas Puskesmas Grati Kabupaten PasuruanAy. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik. Penelitioan analitik merupakan penelitiann yang ditujukan untuk menguji hipotesis dan mengadakan interprestasi yang lebih dalam tentang hubungan Ae hubungan variable bebas dan variable terikat (Nazir. Penelitian ini disebut penelitian analitik karena menganalisis Pola Asuh. Makan dan Sanitasi Pada Kejadian Stunting Wilayah Desa Rebalas Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini termasuk penelitian Case control karena pengumpulan variabel sebab dan akibat dilakukan bersama- sama dalam waktu yang bersamaan dan sekaligus (Notoadmodjo, 2. Selain itu pemilihan desain case control ini dikarenakan lebih mudah dilakukan, lebih efisien, dari segi waktu, dan hasilnya dapat diperoleh dengan lebih cepat, serta sesuai dengan tujuan penelitian yakni mengetahui hubungan antara variabel independen Pola Asuh. Makan dan Sanitasi Pada Kejadian Stunting Di Desa Rebalas Wilayah UOBF Puskesmas Grati Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Usia. Pendidikan dan Jenis Kelamin Tabel 1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur Ibu. Pendidikan ibu dan Jenis Kelamin di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan No. Karakteristik Frekuensi . Persentase (%) Umur 20-35 tahun 36-45 tahun >45 tahun Pendidikan Ibu SD-SMP Menengah Tinggi Jenis Kelamin Balita Laki- laki Perempuan Jumlah Pada tabel diatas dapat dijelaskan bahwa dari seluruh responden sebagian besar adalah ibu responden berusia 20-35 tahun yaitu 48 . ,1%). dari seluruh responden sebagian besar adalah ibu responden memiliki pendidikan Tamat Sekolah dasar (SD) sampai Tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yaitu 67 . ,3%), dan seluruh responden sebagian besar balita adalah berjenis kelamin laki-laki yaitu 49 . ,1%). MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 1 Maret 2025 https://ejournal. id/index. php/MM Pola Asuh Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pola Asuh di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan No. Pola Asuh Frekuensi . Persentase (%) Kurang Baik Baik Jumlah Pada tabel 2 dapat dijelaskan bahwa dari seluruh ibu responden sebagian besar pola asuh dalam kategori kurang baik yaitu 50 . ,3%) Pola Makan Tabel 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pola Makan di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan No. Pola Makan Frekuensi . Persentase (%) Kurang Baik Baik Jumlah Pada tabel 3 dapat dijelaskan bahwa dari seluruh ibu responden sebagian besar pola makan dalam kategori kurang baik yaitu 55 . ,%). Pola Sanitasi Tabel 4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pola Sanitasi di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan No. Pola Sanitasi Frekuensi . Persentase (%) Kurang Baik Baik Jumlah Pada tabel 4 dapat dijelaskan bahwa dari seluruh ibu responden sebagian besar pola sanitasi dalam kategori yang baik yaitu 57 . ,6%). Kejadian Stunting Tabel 5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kejadian Stunting di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan No. Status Stunting Frekuensi . Persentase (%) Stunting Normal Jumlah Pada tabel 5 dapat dijelaskan bahwa dari seluruh responden, setengahnya memiliki status stunting yaitu 47 . %) dan setengahnya lainnya memiliki status normal yaitu 47 . %). MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 1 Maret 2025 https://ejournal. id/index. php/MM Pola Asuh Pada Kejadian Stunting Di Desa Rebalas Wilayah UOBF Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan Tabel 6 Tabulasi Silang Pola Asuh Pada Kejadian Stunting Di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan Kejadian Stunting Pola Asuh Stunting Normal 95%CI Total Kurang 45 95,7 5 10,6 50 53,2 189,000 34,774 Baik 1027,238 Baik 2 4,3 42 89,4 44 46,8 Jumlah 0,000 Dari tabel 6 diatas dapat dijelaskan bahwa dari seluruh responden ibu dengan pola asuh yang kurang baik terhadap balitanya hampir seluruh memiliki balita stunting yaitu 45 . ,7%) Berdasarkan hasil perhitungan uji statistik Chi Square dengan taraf signifikan = 0,05 dengan responden seluruh responden didapatkan nilai Asymp. sig sebesar 0,000 < . menunjukkan bahwa ada pola asuh pada kejadian stunting. Ibu yang memiliki pola asuh yang kurang baik berisiko 189,000 kali terjadi stunting di bandingkan ibu yang memiliki pola asuh baik (OR:189,000 95%CI:34,7741027,. Pola Makan Pada Kejadian Stunting Di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan Tabel 7 Tabulasi Silang Pola Makan Pada Kejadian Stunting Di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan Kejadian Stunting Pola Total Makan Stunting Normal 95%CI Kurang Baik Baik Jumlah 37 78,7 18 38,3 55 58,5 5,961 2,3920,000 10 21,3 29 61,7 39 41,5 Dari tabel 7 diatas dapat dijelaskan bahwa dari seluruh ibu responden dengan pola makan yang kurang baik terhadap balitanya hampir seluruh memiliki balita stunting yaitu 37 . ,7%). Berdasarkan hasil perhitungan uji statistik Chi Square dengan taraf signifikan = 0,05 dengan responden 94 responden didapatkan nilai Asymp. sig sebesar 0,000 < . menunjukkan bahwa ada pola asuh pada kejadian stunting. Ibu yang memiliki pola asuh yang kurang baik berisiko 5,961 kali terjadi stunting di bandingkan ibu yang memiliki pola asuh baik (OR: 5,961 95%CI: 2,392-14. MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 1 Maret 2025 https://ejournal. id/index. php/MM Pola Sanitasi Pada Kejadian Stunting Di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan Tabel 8 Tabulasi Silang ola Sanitasi Pada Kejadian Stunting Di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan Kejadian Stunting Pola No Sanitasi Stunting Normal Total 95%CI Kurang 32 68,1 5 10,6 37 39,4 17,920 5,8960,000 Baik 54,469 Baik 15 31,9 42 89,4 57 60,6 Jumlah 47 100 47 100 94 100 Dari tabel 8 diatas dapat dijelaskan bahwa dari seluruh responden ibu dengan pola sanitasi yang kurang baik terhadap balitanya sebagian besar memiliki balita stunting yaitu 32 . %). Berdasarkan hasil perhitungan uji statistik Chi Square dengan taraf signifikan = 0,05 dengan responden 94 responden didapatkan nilai Asymp. sig sebesar 0,000 < . menunjukkan bahwa ada pengaruh pola asuh terhadap kejadian stunting. Ibu yang memiliki pola asuh yang kurang baik berisiko 17,920 kali terjadi stunting di bandingkan ibu yang memiliki pola asuh baik(OR: 17,920 95%CI: 5,896-54,. Pembahasan Pola Asuh di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati Dari seluruh ibu responden sebagian besar pola asuh dalam kategori kurang baik yaitu 50 . ,3%). Setiap keluarga memiliki pola asuh yang berbeda dalam mendidik seorang anak dan biasanya diturunkan oleh pola asuh yang diterima dari orang tua sebelumnya. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik . eperti makan, minum dan lain-lai. dan kebutuhan psikologis . eperti rasa aman, kasih sayang dan lain -lai. , serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya (Latifah, 2. Responden pada penelitian ini ibu responden sebagian besar pola asuh dalam kategori kurang baik. Dalam memberikan pengasuhan dan pendidikan kepada anak, setiap keluarga memiliki pola asuh yang tidak sama antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. Pengasuhan yang diberikan oleh orang tua banyak menentukan, mengharuskan, menekankan dan memberi peringatan menu makan yang akan di konsumsi anak. Sehingga sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan perilaku anak. Karakter dan perilaku yang dibentuk sangat menentukan kematangan seseorang dalam melakukan sebuah tindakan ataupun penyelesaian Oleh sebab itu pola pengasuhan menjadi hal yang penting untuk Responden pada penelitian ini ibu responden sebagian besar pola asuh dalam kategori kurang baik. Sehingga hampir setengahnya tergolong pada umur ibu 20-35 tahun yang berpendidikan SD-SMP. Faktor orang tua menentukan makanan, membatasi dan melarang anak dalam hal pemberian makanan memiliki dampak Sehingga ada pengaruh pola asuh orang tua terhadap kejadian stunting. Dampak dari pola asuh yang salah adalah anak menjadi manja, gizi buruk, anak tidak MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 1 Maret 2025 https://ejournal. id/index. php/MM bisa menentukan makanan yang terbaik untuk dirinya dan terganggu perkembangan Setiap tipe pola asuh mempunyai kelebihan dan kekurangan, sehingga tidak semua orang tua nyaman menerapkan pola asuh yang dianggap baik oleh oranglain,karena setiap orang mempunyai cara pandang yang berbeda-beda dalam mengasuh anaknya. Mungkin anak dengan tipe ini akan merasakan suasana rumah seperti militer atau sebaliknya. Pola Makan di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati Dari seluruh ibu responden sebagian besar pola makan dalam kategori kurang baik yaitu 55 . ,%). Pola makan adalah tingkah laku atau sekelompok manusia dalam memenuhi kebutuhan akan makan yang meliputi sikap, kepercayaan dan pilihan makanan yang terbentuk sebagai hasil dari pengaruh fisiologis, psikologis, budaya dan sosial. Pola makan yang seimbang, yaitu yang sesuai dengan kebutuhan disertai dengan pemilihan bahan makanan yang tepat akan melahirkan status gizi yang baik (Midwiferia,2. Responden pada penelitian ini ibu responden sebagian besar pola makan dalam kategori kurang baik. Akan tetapi factor umur ibu tidak berkaitan dengan pola makan akan tetapi ada factor lain yang mempengaruhi pola makan anak diantaranya factor ekonomi, social budaya, lingkungan. Faktor lingkungan cukup besar pengaruhnya terhadap pembentukan perilaku makan. Kebiasaan makan pada keluarga sangat berpengaruh besar terhadap pola makan seseorang, kesukaan seseorang terhadap makanan terbentuk dari kebiasaan makan yang terdapat dalam keluarga. Kebutuhan zat gizi juga berbeda antara laki-laki dan perempuan, terutama pada usia dewasa. Peneliti melihat teratur makan 3 kali sehari dilihat dari hasil kuisoner yang diisi oleh ibu balita, dan ada banyak juga balita yang pola makannya baik dengan ibu balita yang selalu memantau jadwal makan balita, setiap hari memberikan makan dengan ada sayur, buah, snack dan lauk mengandung protein, tidak lupa balita diberikan minum susu setiap selesai beraktivitas. Sedangkan terdapat balita yang pola makan defisit dikarenakan usia ibu 25-35 tahun yang pengetahuannya masih minim tentang pola makan yang teratur. Ibu yang bekerja swasta juga dapat mempengaruhi pola makan balita karena ibu balita yang sedang bekerja tidak memantau jadwal makan balita, frekuensi makan balita. Pola Sanitasi di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati. Dari seluruh ibu responden, sebagian besar memiliki pola sanitasi dalam kategori yang baik yaitu 57 . ,6%). Sanitasi adalah perilaku manusia yang disengaja untuk membudayakan kebiasaan hidup bersih dan sehat untuk mencegah manusia terkontaminasi langsung dengan bahan-bahan kotor dan berbahaya dengan harapan bisa menjaga dan memperbaiki tingkat kesehatan manusia. Sanitasi lingkungan memengaruhi status kesehatan anak balita. Sanitasi lingkungan yang bersih berdampak pada status gizi Salah satu penyebab stunting pada balita adalah sanitasi kurang. Anak yang tinggal di lingkungan dengan kualitas sarana sanitasi yang tidak memenuhi syarat berisiko 31,875 kali mengalami stunting. Faktor sanitasi lingkungan yang kurang baik di masyarakat atau keluarga seperti kebersihan lingkungan rumah baik di dalam maupun di luar dan tindakan membakar sampah, merupakan faktor penyebab kejadian stunting. Anak dengan sanitasi lingkungan yang buruk memiliki risiko sebesar 4,6 kali terjadi stunting dibanding anak dengan status lingkungan baik (Jurnal Riset Kebidanan Indonesia,2. MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 1 Maret 2025 https://ejournal. id/index. php/MM Sanitasi lingkungan merupakan suatu upaya manusia dalam mengendalikan semua faktor lingkungan fisik sekitarnya yang dapat menimbulkan atau merugikan perkembangan fisik, daya tahan hidup dan kesehatan manusia itu sendiri. Cakupan sanitasi lingkungan adalah sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan tinja dan saluran pengelolaan air limbah. Responden pada penelitian ini ibu responden sebagian besar pola sanitasi dalam kategori baik. Sanitasi lingkungan memiliki kaitan dengan segala sesuatu yang mencakup perilaku semua orang yang berdiam di rumah atau lingkungan tinggal tersebut, misalnya perilaku yang membiasakan bahwa air minum yang dikonsumsi itu adalah merupakan air yang sudah diolah dengan baik. Kejadian Stunting di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati Dari seluruh responden, setengah balita memiliki status stunting yaitu 47 . %) dan setengah balita memiliki status normal yaitu 47 . %). Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi yang terjadi di dunia, khususnya di negara miskin dan berkembang termasuk di Indonesia. Masa balita merupakan periode penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, terjadi peningkatan secara pesat sehingga disebut periode emas dalam siklus kehidupan. Masa balita merupakan periode penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, terjadi peningkatan secara pesat sehingga disebut periode emas dalam siklus kehidupan. Tumbuh kembang balita tentunya membutuhkan asupan gizi yang cukup dan sesuai agar tidak terjadi permasalahan gizi. Buruknya kualitas asupan gizi pada balita dalam jangka panjang akan menimbulkan permasalahan serius yaitu stunting. Stunting merupakan indikasi masalah gizi yang bersifat kronis akibat dari kondisi tertentu yang berlangsung lama seperti kemiskinan, perilaku hidup tidak sehat dan asupan makan yang kurang dalam jangka waktu lama sehingga mengakibatkan anak menjadi pendek . (Bina generasi,2. Responden pada penelitian ini ibu responden sebagian besar pola sanitasi dalam kategori baik. Sanitasi lingkungan memiliki kaitan dengan segala sesuatu yang mencakup perilaku semua orang yang berdiam di rumah atau lingkungan tinggal tersebut, misalnya perilaku yang membiasakan bahwa air minum yang dikonsumsi itu adalah merupakan air yang sudah diolah dengan baik. Pola Asuh pada Kejadian Stunting di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan Dari seluruh responden ibu dengan pola asuh yang kurang baik terhadap balitanya hampir seluruh memiliki balita stunting sebesar 95,7%. Dengan jumlah jenis kelamin balita laki-laki dan perempuan yang sama , dan sebagian besar ibu responden berumur antara 20-35 tahun dan berpendidikan ibu SD-SMP. Pola asuh . adalah cara, gaya atau metode orang tua dalam memperlakukan, mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan anak dalam proses pendewasaan melalui proses interaksi yang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti budaya, agama, kebiasaan, dan kepercayaan sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan pengetahuan, nilai moral, dan standar perilaku yang berlaku di lingkungan sosial dan masyarakat. Pola asuh adalah pengasuhan dan pendidikan anak-anak di luar rumah secara komprehensif untuk melengkapi pengasuhan dan pendidikan anak yang diterima dari keluarganya (Morrison,2. Periode emas merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan, dimana periode ini terjadi pada umur 0-24 bulan. Pada usia ini dibutuhkan pemenuhan gizi yang adekuat, hal ini MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 1 Maret 2025 https://ejournal. id/index. php/MM dikarenakan akibat yang terjadi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi kembali. Terdapat beberapa faktor atau hubungan yang menyebabkan meningkatnya angka kejadian stunting, salah satunya yaitu pola asuh. Pola pengasuhan akan mempengaruhi status gizi anak secara tidak langsung. Menurut Engle. Menom dan Haddad . yang temasuk pengasuhan dilakukan ibu antara lain pemberian ASI (Air Susu Ib. dan MP ASI. ASI merupakan makanan alamiah terbaik yang dapat diberikan oleh seorang ibu kepada anakyang baru dilahirkan, disamping itu, komposisi ASI sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi yang berubah sesuai dengan kebutuhan bayi pada setiap saat. Selain itu, pengasuhan dapat dilakukan melalui praktik pemberian makanan, perawatan kesehatan anak, praktik sanitasi, dan stimulasi perkembangan psikososial anak. Pengasuhan ditentukan oleh sumber daya dalam keluarga antara lain pengetahuan, pendidikan, kesehatan ibu serta dukungan social. Faktor pola asuh yang tidak baik dalam keluarga merupakan salah satu penyebab timbulnya permasalahan gizi. Pola asuh meliputi kemampuan keluarga untuk menyediakan waktu, perhatian dan dukungan dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental dan sosial dari anak yang sedang tumbuh dalam keluarga. Pola asuh terhadap anak dimanifestasikan dalam beberapa hal berupa pemberian ASI dan makanan pendamping, rangsangan psikososial, praktek kebersihan/hygiene dan sanitasi lingkungan, perawatan anak dalam keadaan sakit berupa praktek kesehatan di rumah dan pola pencarian pelayanan kesehatan(Jurnal Gizi Indonesia, 2. Responden pada penelitian ini sebagian besar memberikan pola asuh yang kurang baik kepada anaknya, hampir setengah tergolong pada umur ibu 20-35 tahun yang berpendidikan SD-SMP. Sehingga ada pengaruh pola asuh terhadap kejadian Dampak dari pola asuh yang salah adalah anak menjadi manja, gizi buruk, anak tidak bisa menentukan makanan yang terbaik untuk dirinya dan terganggu perkembangan anak. Dari keadaan tersebut dapat dilihat bahwa pola asuh keluarga berperan besar terhadap kejadian stunting. Pola Makan pada Kejadian Stunting di Desa Rebalas Wilayah Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan Dari seluruh responden ibu dengan pola makan yang kurang baik terhadap balitanya hampir seluruh memiliki balita stunting yaitu 78,7% dengan jenis kelamin laki-laki, dan sebagian besar ibu responden berumur antara 20-35 tahun dan berpendidikan SD-SMP. Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan setiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyaraka tertentu (Sulistyoningsih, 2. Pengertian pola makan menurut Sri Handajani adalah tingkah laku manusia atau sekelompok manusia dalam memenuhi akan makanan yang meliputi sikap, kepercayaan, dan pilihan makanan, sedangkan menurut Suhardjo pola makan di artikan sebagai cara seseorang atau sekelompok orang untuk memilih makan dan mengonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh-pengaruh fisiologis, psikologis, budaya dan sosial. Sumber lain mengatakan bahwa pola makan di definisikan sebagai karateristik dari kegiatan yang berulang kali dari individu dalam memenuhi kebutuhannya akan makanan, sehingga kebutuhan fisiologis, sosial dan emosionalnya dapat terpenuhi (Sulistyoningsih, 2. Responden pada penelitian ini sebagian besar memberikan pola makan yang kurang baik kepada anaknya, hampir setengah tergolong pada umur ibu 20-35 tahun yang berpendidikan SD-SMP. Sehingga ada pengaruh pola makan terhadap kejadian MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 1 Maret 2025 https://ejournal. id/index. php/MM Untuk itu, pola cara pemberian makan yang sehat, makanan bergizi dan mengatur porsi yang dihabiskan akan meningkatkan status gizi anak. Makanan yang baik untuk bayi dan balita harus memenuhi syarat-syarat kecukupan energi dan zat gizi sesuai umur, pola menu seimbang dengan bahan makanan yang tersedia, kebiasaan dan selera makan anak, bentuk dan porsi makanan yang disesuaikan pada kondisi anak dan memperhatikan kebersihan perorangan. Pola Sanitasi pada Kejadian Stunting di Desa Rebalas Wilayah UOBF Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan Dari seluruh responden ibu dengan pola sanitasi yang kurang baik terhadap balitanya sebagian besar memiliki balita stunting yaitu 68,1%. Sanitasi adalah perilaku manusia yang disengaja untuk membudayakan kebiasaan hidup bersih dan sehat untuk mencegah manusia terkontaminasi langsung dengan bahan-bahan kotor dan berbahaya dengan harapan bisa menjaga dan memperbaiki tingkat kesehatan Sanitasi lingkungan memengaruhi status kesehatan anak balita. Sanitasi lingkungan yang bersih berdampak pada status gizi baik. Salah satu penyebab stunting pada balita adalah sanitasi kurang. Anak yang tinggal di lingkungan dengan kualitas sarana sanitasi yang tidak memenuhi syarat berisiko 31,875 kali mengalami Faktor sanitasi lingkungan yang kurang baik di masyarakat atau keluarga seperti kebersihan lingkungan rumah baik di dalam maupun di luar dan tindakan membakar sampah, merupakan faktor penyebab kejadian stunting. Anak dengan sanitasi lingkungan yang buruk memiliki risiko sebesar 4,6 kali terjadi stunting dibanding anak dengan status lingkungan baik (Jurnal Riset Kebidanan Indonesia. Responden pada penelitian ini sebagian besar memberikan pola sanitasis yang kurang baik kepada anaknya, hampir setengah tergolong pada umur ibu 20-35 tahun yang berpendidikan SD-SMP. hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian Sehingga ada pengaruh pola sanitasi terhadap kejadian stunting. Sanitasi lingkungan sehat secara tidak langsung mempengaruhi kesehatan anak balita yang pada akhirnya dapat mempengaruhi status gizi balita menurut sanitasi lingkungan sehat dan tidak sehat. Keadaan lingkungan fisik dan sanitasi disekitar rumah sangat memengaruhi kesehatan penghuni rumah tersebut. Lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan memungkinkan terjadinyaberbagai jenis penyakit antara lain diare, cacingan. ISPA dan infeksi saluran pencernaan. Keadaan rumah berpengaruh signifikan terhadap status gizi balita. Sanitasi lingkungan yang baik dapat melindungi anak terhadap kejadian stunting. Rendahnya sanitasi dan kebersihan lingkungan memicu gangguan pencernaan, yang membuat energy untuk pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh terhadap infeksi. Kesehatan lingkungan yang kurang baik berpotensi menimbulkan penyakit infeksi yang pada akhirnya akan berdampak pada gangguan masalah gizi. Infeksi klinis menyebabkan lambatnya pertumbuhan dan perkembangan sedangkan anak yang memiliki riwayat penyakit infeksi memiliki peluang mengalami stunting. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh pola asuh, pola makan, pola sanitasi terhadap kejadian stunting di Desa Rebalas Wilayah UOBF Puskesmas Grati Tahun 2022, maka dapat disimpulkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 94 responden dalam penelitian ini, setengahnya balita stunting dan setengahnya balita normal. dijelaskan bahwa ibu dengan pola asuh yang kurang baik terhadap balitanya di Desa MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 1 Maret 2025 https://ejournal. id/index. php/MM Rebalas Wilayah UOBF Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan. Hampir seluruh memiliki balita stunting ibu dengan pola makan yang kurang baik terhadap balitanya di Desa Rebalas Wilayah UOBF Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan hampir seluruh memiliki balita stunting. Ibu dengan pola sanitasi yang kurang baik terhadap balitanya di Desa Rebalas Wilayah UOBF Puskesmas Grati Kabupaten Pasuruan sebagian besar memiliki balita stunting. DAFTAR PUSTAKA