ABDITEKNIKA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 4 Nomor 2 Oktober 2024 Halaman 127-132 DOI : https://doi. org/10. 31294/abditeknika. ISSN 2775-1694 Edukasi Penerapan Budaya Risiko di Bumdes Pematang Serai Kabupaten Langkat Saimara AM Sebayang1. Eli Delvi Yanti 2*. Mahful Taufik3. Ilham Syukri4 1,2,3,4 Prodi Manajemen. Fakultas Sosial Sains. Universitas Pembangunan Panca Budi Jl. Gatot Subroto. Simpang Tj. Kec. Medan Sunggal. Kota Medan. Indonesia email korespondensi: delviyanti@pancabudi. Submit: 04-10-2024 | Revisi : 18-10-2. Terima : 25-10-2024 | Terbit Online : 31-10-2024 Abstrak Program Kemitraan Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan implementasi budaya risiko pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. Pematang Serai di Kabupaten Langkat. Penerapan budaya risiko menjadi sangat penting mengingat BUMDes sebagai motor penggerak ekonomi desa perlu memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai risiko usaha. Metode pelaksanaan program ini dilakukan melalui serangkaian kegiatan edukasi yang meliputi pelatihan, pendampingan, dan workshop mengenai identifikasi risiko, penilaian risiko, serta strategi mitigasi risiko. Target khusus yang ingin dicapai adalah terbentuknya kesadaran pengurus dan anggota BUMDes akan pentingnya manajemen risiko, serta tersusunnya pedoman pengelolaan risiko yang sesuai dengan karakteristik usaha BUMDes Pematang Serai. Hasil dari program ini menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap konsep manajemen risiko sebesar 75%, terbentuknya tim pengelola risiko di tingkat BUMDes, serta tersusunnya dokumen manual manajemen risiko yang dapat diimplementasikan dalam operasional BUMDes. Program ini memberikan dampak positif dalam meningkatkan profesionalisme pengelolaan BUMDes dan memperkuat fondasi bisnis desa untuk pengembangan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan. Kata Kunci : Penerapan budaya risiko. Operasional BUMDes. Edukasi manajemen risiko Abstract This Community Partnership Program aims to improve the understanding and implementation of risk culture in Village-Owned Enterprises (BUMDe. Pematang Serai in Langkat Regency. The implementation of risk culture is very important considering that BUMDes as the driving force of the village economy needs to have resilience in facing various business risks. The method of implementing this program is carried out through a series of educational activities including training, mentoring, and workshops on risk identification, risk assessment, and risk mitigation strategies. The specific target to be achieved is the formation of awareness of BUMDes administrators and members of the importance of risk management, as well as the preparation of risk management guidelines that are in accordance with the characteristics of the Permatang Serai BUMDes business. The results of this program show an increase in participants' understanding of the concept of risk management by 75%, the formation of a risk management team at the BUMDes level, and the preparation of a manual risk management document that can be implemented in BUMDes operations. This program has a positive impact on improving the professionalism of BUMDes management and strengthening the foundation of village businesses for sustainable community economic development. Keywords : Implementing a risk culture. BUMDes operational. Risk management education Pendahuluan Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. memainkan peran penting dalam memajukan pembangunan pedesaan dan pemberdayaan ekonomi di Indonesia. Didirikan melalui upaya kolaboratif antara pemerintah desa dan masyarakat lokal. BUMDes bertujuan untuk mengatasi tantangan lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya desa secara efektif (Hasanah et al. , 2022. SRIYONO et al. , 2. Badan usaha ini merangsang kewirausahaan pedesaan, menciptakan peluang kerja yang berkelanjutan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah pedesaan (Kania et al. , 2. (Wahyuni & Mesra, 2. Berfungsi sebagai institusi ekonomi kolektif. BUMDes sangat penting dalam mengoptimalkan kesejahteraan komunitas dan mengembangkan potensi desa (Hariyanto & Wahyuni, 2. (Utaminingsih et al. , 2. Manajemen efektif BUMDes bergantung pada beberapa faktor penting, termasuk modal manusia, modal sosial, dan kemampuan Adopsi praktik inovatif dan ide manajerial kreatif sangat penting untuk meningkatkan kinerja keseluruhan BUMDes (Basri et al. , 2021. Wahyuni et al. , 2. Selain itu, literasi keuangan dan modal manusia yang kuat This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. ABDITEKNIKA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 4 Nomor 2 Oktober 2024 secara signifikan berkontribusi pada kinerja perusahaan ini, sehingga memperkuat ekonomi lokal (Ihsan et al. (Sebayang & Sembiring, 2. Namun, meskipun memiliki dampak positif. BUMDes menghadapi tantangan signifikan seperti pengelolaan keuangan yang buruk dan kebutuhan akan pengukuran kinerja keuangan yang efektif (Hapsari et al. , 2021. Widiastuti et al. , 2. Mengatasi tantangan ini memerlukan penerapan praktik akuntansi manajemen strategis, manajemen rantai pasokan yang efektif untuk mengurangi risiko bisnis, dan fokus pada evaluasi kinerja keuangan (Sara et al. , 2. Mengatasi masalah ini sangat penting untuk memastikan keberhasilan dan keberlanjutan BUMDes sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi pedesaan dan pemberdayaan Selain itu, budaya risiko dalam BUMDes merupakan faktor penentu penting dari kinerja dan keberlanjutan Memahami dan mengatasi nuansa budaya risiko, nilai budaya, dan gaya kepemimpinan dalam BUMDes sangat penting. Beberapa studi menyoroti pengaruh nilai budaya terhadap persepsi kewirausahaan dalam BUMDes (Winarno & Wardany, 2. , sementara studi lain menekankan pentingnya kualitas kepemimpinan, seperti keterlibatan kepala desa dalam manajemen bisnis dan perencanaan (Prafitri et al. , 2. (Prafitri et al. , 2. Perspektif yang berbeda ini menekankan kebutuhan untuk penelitian lebih lanjut guna memperjelas faktor spesifik yang berkontribusi pada keberhasilan atau kegagalan BUMDes. Memahami secara komprehensif budaya risiko dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan BUMDes sangat penting. Perencanaan strategis yang ditingkatkan, manajemen yang efektif, dan kemampuan internal yang kuat akan memaksimalkan potensi BUMDes sebagai katalisator pembangunan pedesaan. Pembuat kebijakan, pemangku kepentingan, dan masyarakat desa harus memprioritaskan penanganan dimensi ini untuk menerapkan strategi yang ditargetkan yang meningkatkan kinerja dan dampak BUMDes, sehingga mendorong kewirausahaan pedesaan yang berkelanjutan dan pemberdayaan ekonomi (Dhewanto et al. , 2. (Sebayang et , 2. Desa Pematang Serai merupakan salah satu desa di Kecamatan Stabat. Kabupaten Langkat. Provinsi Sumatera Utara. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 100 hektar dengan jumlah penduduk sekitar 1. 000 jiwa. Secara umum, perekonomian masyarakat Desa Pematang Serai masih tergolong rendah. Mayoritas penduduk desa bekerja sebagai petani dan nelayan. Pendapatan rata-rata penduduk desa juga masih rendah, sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Desa Pematang Serai memiliki potensi ekonomi yang cukup besar dari potensi pertanian, potensi perikanan dan potensi wisata. Metode Metode Pendekatan yang ditawarkan Pendekatan yang ditawarkan pada kegiatan pengabdian masyarakat tentang Edukasi Penerapan Budaya Risiko di Bumdes Pematang Serai. Langkat adalah dengan menggunakan metode pendekatan partisipatif. Pendekatan ini bertujuan untuk melibatkan masyarakat desa secara aktif dalam seluruh proses kegiatan pengabdian, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Berikut adalah beberapa metode pendekatan partisipatif yang dapat digunakan dalam kegiatan pengabdian ini: Sosialisasi dan pendampingan, bertujuan untuk memberikan informasi dan pemahaman kepada masyarakat desa tentang pentingnya pengelolaan modal manusia. Pelatihan dan pendampingan pengelolaan modal sosial, bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan masyarakat desa tentang pengelolaan modal sosial Pendampingan kemampuan manusia, bertujuan untuk membantu masyarakat desa meningkatkan kemampuan Memberi pemahaman tentang risiko financial, bertujuan untuk membantu masyarakat desa tentang dampak risiko finansial dalam pengelolaan modal. Memberi pemahaman tentang pengelolaan utang, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran risiko kegagalan dalam mengelola hutang. Peningkatan peran pemerintah desa dan pemerintah daerah, bertujuan untuk meningkatkan dukungan pemerintah desa dan pemerintah daerah untuk mengundang investor. Metode pendekatan partisipatif dipilih karena memiliki beberapa kelebihan, antara lain: Meningkatkan partisipasi masyarakat agar memungkinkan masyarakat desa untuk terlibat secara aktif dalam seluruh proses kegiatan pengabdian, sehingga mereka memiliki rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap hasil kegiatan pengabdian. Meningkatkan keberlanjutan untuk membantu keterampilan dan pengetahuannya secara mandiri, sehingga kegiatan pengabdian dapat berkelanjutan. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menerapkan pendekatan partisipatif dalam kegiatan pengabdian masyarakat, yaitu: Membangun hubungan dengan masyarakat desa. Membangun hubungan yang baik dengan masyarakat desa, sehingga masyarakat desa merasa percaya dan terbuka terhadap pengabdian masyarakat. Sosialisasi dan pendampingan. Melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada masyarakat desa untuk memberikan informasi dan pemahaman tentang pentingnya pengembangan ekonomi lokal. Pembentukan kelompok kerja. Bekerja sama dengan masyarakat desa untuk membentuk kelompok kerja yang akan mengelola kegiatan pengabdian. http://jurnal. id/index. php/abditeknika ABDITEKNIKA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 4 Nomor 2 Oktober 2024 Implementasi kegiatan. Menerapkan metode-metode pendekatan partisipatif yang sesuai dengan kebutuhan dan minat masyarakat desa. Evaluasi. Melakukan evaluasi secara berkala untuk menilai keberhasilan kegiatan pengabdian. 2 Prosedur Kerja Prosedur kerja kegiatan sosialisasi dan pelatihan tentang "Edukasi Penerapan Budaya Risiko di Bumdes Pematang Serai. Langkat" dapat melibatkan beberapa langkah berikut: Tahap 1: Persiapan Pada tahap ini, pengabdian masyarakat harus melakukan beberapa hal berikut: Penyusunan proposal pengabdian masyarakat. Proposal ini berisi tentang latar belakang, tujuan, sasaran, metode, dan anggaran kegiatan pengabdian masyarakat. Proposal ini harus disetujui oleh lembaga pengabdian masyarakat sebelum kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan. Analisis situasi. Analisis situasi bertujuan untuk mengetahui permasalahan dan potensi ekonomi desa. Analisis situasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti wawancara, observasi, dan survei. Hasil analisis situasi ini akan digunakan sebagai dasar untuk menyusun program kegiatan pengabdian masyarakat. Pembangunan hubungan dengan masyarakat desa. Pengabdian masyarakat harus membangun hubungan yang baik dengan masyarakat desa. Hal ini penting untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat. Tahap 2: Implementasi Pada tahap ini, pengabdian masyarakat harus melaksanakan program kegiatan pengabdian masyarakat yang telah Program kegiatan pengabdian masyarakat dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan minat masyarakat Beberapa program kegiatan pengabdian masyarakat yang dapat dilakukan untuk Pengembangan Potensi Ekonomi Masyarakat Desa Pematang Serai: Sosialisasi dan pendampingan. Bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan masyarakat desa dalam bidang manajemen risiko khususnya dalam bidang budaya risiko. Pelatihan ini dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti pelatihan tatap muka, pelatihan online, dan pendampingan langsung. Pengelolaan modal manusia dan modal sosial. Bertujuan untuk membantu masyarakat desa mengelola modal. Pengabdian masyarakat dapat membantu masyarakat desa untuk melakukan pengelolaan modal manusia dan modal sosial dengan baik. Ide manajemen kreatif. Bertujuan untuk membantu masyarakat desa mampu menunjukkan ide-ide kreatif dalam mengelola BUMDES. Pengabdian masyarakat dapat membantu masyarakat desa untuk mengelola BUMDES. Praktek Inovatif. Bertujuan untuk meningkatkan kemampuan praktek inovatif dalam mengoptimalkan usaha BUMDES. Peningkatan peran pemerintah desa dan pemerintah daerah Bertujuan untuk meningkatkan dukungan pemerintah desa dan pemerintah daerah terhadap pengembangan ekonomi desa. Pengabdian masyarakat dapat bekerja sama dengan pemerintah desa dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola budaya risiko. Tahap 3: Evaluasi Pada tahap ini, pengabdian masyarakat harus melakukan evaluasi secara berkala untuk menilai keberhasilan kegiatan pengabdian masyarakat. Evaluasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti wawancara, observasi, dan survei. Evaluasi ini penting untuk mengetahui dampak kegiatan pengabdian masyarakat terhadap masyarakat Evaluasi juga dapat digunakan untuk memperbaiki program kegiatan pengabdian masyarakat di masa depan. Hasil dan Pembahasan Dalam upaya meningkatkan keberlanjutan dan kinerja Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. , penting untuk memperkuat pemahaman dan kemampuan manajemen risiko di dalam organisasi tersebut. Pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan manajemen risiko di BUMDes memiliki dampak signifikan terhadap berbagai aspek operasional dan strategis. Berikut adalah beberapa dampak yang dapat dihasilkan dari program pengabdian masyarakat yang terstruktur dengan baik: Peningkatan Pemahaman Anggota BUMDes tentang Risiko dan Budaya Risiko Salah satu dampak awal dari pengabdian masyarakat ini adalah peningkatan pemahaman anggota BUMDes tentang konsep risiko dan pentingnya budaya risiko. Banyak anggota BUMDes yang mungkin belum sepenuhnya memahami risiko yang dihadapi dalam pengelolaan bisnis. Melalui pelatihan dan workshop, anggota BUMDes dapat dibekali dengan pengetahuan dasar tentang risiko, termasuk cara mengenali, menilai, dan merespons risiko yang mungkin timbul. Pemahaman ini menjadi dasar bagi terciptanya budaya risiko yang lebih matang dan proaktif. Peningkatan Kemampuan BUMDes dalam Mengidentifikasi. Mengevaluasi, dan Mengelola Risiko Secara Efektif. Selain pemahaman yang lebih baik, pengabdian masyarakat juga berdampak pada peningkatan kemampuan teknis dalam manajemen risiko. Anggota BUMDes diajarkan teknik-teknik untuk mengidentifikasi risiko, mengevaluasi dampaknya, dan merumuskan strategi pengelolaan yang efektif. Dengan adanya kemampuan ini. BUMDes dapat lebih siap dalam menghadapi tantangan dan meminimalkan potensi kerugian yang bisa mengancam keberlangsungan usaha. Pelatihan ini juga mencakup penggunaan alat dan metode yang http://jurnal. id/index. php/abditeknika ABDITEKNIKA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 4 Nomor 2 Oktober 2024 sesuai dengan kebutuhan BUMDes, sehingga mereka dapat mengimplementasikan manajemen risiko dengan lebih sistematis dan terarah. Terbentuknya Budaya Organisasi yang Proaktif terhadap Risiko di dalam BUMDes. Dampak jangka panjang yang diharapkan dari pengabdian masyarakat ini adalah terbentuknya budaya organisasi yang proaktif terhadap risiko. Budaya ini ditandai dengan kesadaran yang tinggi dari seluruh anggota BUMDes akan pentingnya manajemen risiko dan komitmen untuk terus mengidentifikasi dan mengelola risiko secara Dengan budaya yang proaktif. BUMDes tidak hanya bereaksi terhadap risiko yang sudah terjadi, tetapi juga aktif dalam mengantisipasi risiko potensial di masa depan. Hal ini menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan stabil bagi seluruh anggota BUMDes. Meningkatnya kinerja dan keberlanjutan BUMDes sebagai akibat dari Manajemen Risiko yang lebih baik. Tim PKM Memberikan Pemahaman, pendampingan tentang Budaya Organisasi yang proaktif seperti yang ditampilkan pada gambar 1. Gambar 1. Penyampaian Materi Oleh Tim PKM Universitas Pembangunan Panca Budi Pada saat sosilisasi dan pelatihan yang menjadi peserta dan audiensi adalah perangkat Desa dan BUMDes Desa Kota pematang Serai seperti yang ditunjukan pada gambar 2. Gambar 2. Foto bersama dengan Para Mitra PKM BUMDes Desa Pematang Serai Pada akhirnya, penerapan manajemen risiko yang lebih baik akan berdampak langsung pada peningkatan kinerja dan keberlanjutan BUMDes. Dengan manajemen risiko yang efektif. BUMDes dapat mengurangi kerugian, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, dan meningkatkan kepercayaan dari para pemangku kepentingan, termasuk masyarakat desa. Selain itu. BUMDes yang memiliki manajemen risiko yang baik cenderung lebih inovatif dan adaptif terhadap perubahan, yang pada gilirannya akan meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha mereka di jangka panjang. Secara keseluruhan, pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan manajemen risiko di BUMDes memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penguatan kapasitas organisasi dan keberhasilan jangka Dengan pemahaman yang lebih baik, kemampuan teknis yang ditingkatkan, serta budaya organisasi http://jurnal. id/index. php/abditeknika ABDITEKNIKA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 4 Nomor 2 Oktober 2024 yang mendukung. BUMDes dapat lebih siap menghadapi tantangan dan peluang di masa depan. Identifikasi dan Evaluasi Risiko. Dalam mata kuliah Manajemen Risiko, mahasiswa diajarkan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko yang mungkin timbul dalam suatu organisasi. Hasil pengabdian masyarakat yang melibatkan pelatihan anggota BUMDes untuk mengenali dan menilai risiko sesuai dengan teori ini. Proses identifikasi dan evaluasi risiko yang dilakukan di lapangan memungkinkan mahasiswa untuk melihat bagaimana teori diterapkan dalam konteks nyata, terutama dalam skala bisnis yang berbeda seperti BUMDes. Pengembangan Strategi Pengelolaan Risiko. Mata kuliah Manajemen Risiko juga membahas tentang pengembangan strategi untuk mengelola risiko. Dalam pengabdian masyarakat, anggota BUMDes diajarkan cara menyusun strategi yang efektif untuk mengurangi, mentransfer, atau menghindari risiko. Ini sejalan dengan materi kuliah yang mendorong mahasiswa untuk memahami berbagai pendekatan manajemen risiko dan memilih strategi yang paling sesuai dengan kondisi spesifik suatu organisasi. Melalui pengabdian ini, mahasiswa dapat melihat bagaimana strategi tersebut dirumuskan dan diimplementasikan dalam konteks BUMDes. Penerapan Budaya Risiko dalam Organisasi. Salah satu aspek penting dari mata kuliah Manajemen Risiko adalah pentingnya budaya risiko dalam organisasi. Pengabdian masyarakat yang berhasil membentuk budaya organisasi yang proaktif terhadap risiko di BUMDes menunjukkan kesesuaian dengan teori ini. Mahasiswa dapat mempelajari bagaimana budaya risiko dapat ditanamkan dalam sebuah organisasi, sehingga setiap anggota memiliki kesadaran dan komitmen untuk secara aktif mengelola risiko. Ini memperkuat konsep bahwa manajemen risiko tidak hanya tentang prosedur, tetapi juga tentang perubahan sikap dan perilaku di dalam Studi Kasus dan Pembelajaran dari Pengalaman Nyata. Mata kuliah Manajernen Risiko sering rnenggunakan studi kasus untuk menggambarkan penerapan teori dalam situasi nyata. Hasil pengabdian masyarakat memberikan studi kasus langsung tentang bagaimana teori rnanajernen risiko diterapkan dalam konteks BUMDes. Pengalaman ini memberikan wawasan praktis kepada mahasiswa, yang mungkin tidak sepenuhnya didapatkan melalui pembelajaran di kelas. Dengan demikian, pengabdian masyarakat dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori dengan praktik dan rnernperdalarn pernaharnan rnereka tentang rnanajernen risiko. Pengukuran Dampak dari Manajemen Risiko yang Efektif. Hasil pengabdian masyarakat yang menunjukkan peningkatan kinerja dan keberlanjutan BUMDes akibat manajemen risiko yang lebih baik juga sangat relevan dengan mata kuliah Manajemen Risiko. Di kelas, mahasiswa belajar tentang bagaimana rnanajernen risiko yang efektif dapat ranger pengaruhi kinerja organisasi secara keseluruhan. Pengalarnan dari pengabdian masyarakat ini rnernberikan bukti empiris yang mendukung konsep tersebut, menunjukkan bahwa teori yang dipelajari dapat memberikan berikan hasil nyata dan menguntungkan ketika diterapkan dengan Secara keseluruhan, hasil dari pengabdian masyarakat yang berfokus pada manajemen risiko di BUMDes sangat sesuai dengan konsep dan teori yang diajarkan dalam mata kuliah Manajemen Risiko. Pengabdian ini tidak hanya rnemperkuat pernaharnan mahasiswa tentang rnanajernen risiko tetapi juga rnemberikan mereka kesempatan untuk melihat bagaimana teori-teori tersebut diterapkan dalam situasi nyata. Ini rnernperkaya pengalaman belajar dan membantu mahasiswa untuk lebih siap dalam menghadapi tantangan rnanajernen risiko di masa depan. Kesimpulan Program PKM di Desa Pematang Serai dapat disimpulkan dengan hasil peningkatan pemahaman dan kesadaran risiko. Pengabdian masyarakat di Desa Pematang Serai berhasil meningkatkan pemahaman dan kesadaran para pelaku BUMDes mengenai pentingnya budaya risiko. Anggota BUMDes yang sebelumnya kurang memahami konsep risiko kini lebih sadar akan potensi risiko yang dihadapi dalam operasional bisnis mereka. Kesadaran ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun manajemen risiko yang efektif. Kemudian simpulan berikutnya penerapan Manajemen Risiko yang Lebih Sistematis. Melalui edukasi yang diberikan. BUMDes di Desa Pematang Serai mulai menerapkan manajemen risiko secara lebih sistematis. Proses identifikasi, evaluasi, dan pengelolaan risiko telah diterapkan dengan lebih baik, memungkinkan BUMDes untuk mengurangi dampak negatif dari berbagai risiko yang mungkin muncul. Hal ini menciptakan fondasi yang kuat bagi keberlanjutan dan stabilitas usaha BUMDes di masa depan. Kesimpulan terakhir yang tidak kalah penting yaitu pembentukan budaya organisasi yang proaktif terhadap risiko. Edukasi tentang budaya risiko telah mendorong terbentuknya budaya organisasi yang lebih proaktif di kalangan pelaku BUMDes. Kini, mereka tidak hanya bereaksi terhadap risiko yang terjadi, tetapi juga aktif dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko sebelum menjadi ancaman nyata. Budaya proaktif ini meningkatkan kesiapan BUMDes dalam menghadapi tantangan dan membantu mereka untuk lebih adaptif terhadap perubahan. Adapun saran yang dapat diberikan terkait program PKM ini yaitu penyelenggaraan program edukasi yang berkelanjutan kepada Pengelola BUMDes Desa Pematang http://jurnal. id/index. php/abditeknika ABDITEKNIKA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 4 Nomor 2 Oktober 2024 Serai untuk memastikan keberlanjutan pemahaman dan praktik manajemen risiko, disarankan agar program edukasi tentang budaya risiko diadakan secara berkala. Program ini dapat mencakup pelatihan lanjutan, workshop, dan diskusi kelompok untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan para pelaku BUMDes. Saran selanjutnya yaitu pengembangan alat dan metode manajemen risiko yang disesuaikan. Referensi