Jurnal Vokasi. Vol 2 No. 2 Oktober 2018 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat PELATIHAN MEMBACA UNTUK PENGENTASAN BUTA AKSARA DI WILAYAH KOTA LANGSA Joko Hariadi1*. Allif Syahputra Bania2. Muhammad Taufik Hidayat3 Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Universitas Samudra Email : jokohariadi@rocketmail. Abstrak Pemberantasan buta aksara merupakan salah satu program pendidikan non formal yang menjadi upaya pemerintah untuk mengentaskan masyarakat dari kebodohan dan kemiskinan. Buta aksara adalah ketidakmampuan seseorang untuk membaca dan menulis. Hal ini menjadi masalah yang dihadapi oleh masyarakat Kota Langsa. Adapun beberapa faktor penyebab buta aksara dapat diidentifikasi dari kemiskinan penduduk, putus sekolah dasar (SD), dan kondisi lingkungan sosial masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimanakah metode/teknik pelatihan membaca yang efektif untukpengentasan buta aksara di wilayah kota langsa. Sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat Kota Langsa yang mengalami buta aksara. Potensi yang dimiliki adalah memberikan pengetahuan kepada warga yang mengalami buta aksara tentang pentingnya pendidikan. Kemudian, mengurangi jumlah warga yang mengalami buta aksara di wilayah Kota Langsa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ceramah, tanya-jawab, dan latihan Kegiatan ini diawali dengan pelatihan teknik/metode membaca untuk mengaplikasikan materi pelatihan yang telah diberikan. Setiap peserta yang mengalami buta aksara mempraktikkan cara membaca. Metode ini digunakan dalam melakukan pemberdayaan masyarakat buta aksara agar memperoleh pelajaran pendidikan secara bermutu sehingga menjadi insan yang produktif dan meningkat kesejahteraannya. Hasil penelitian ini ditemukan informasi tentang pemahaman masyarakat Kota Langsa terhadap teknik, cara, dan metode-metode yang bermanfaat dalam membaca. Teknik, cara, dan metode- metode yang bermanfaat dalam membaca yang diberikan oleh masyarakat Kota Langsa memperlihatkan hal Semua kegiatan yang direncanakan telah berhasil dilaksanakan dan mendapat dukungan yang sangat baik dari semua pihak. Kata kunci: pelatihan, pengentasan buta aksara, membaca. Kota Langsa bervariasi sesuai dengan jenis teks dan tujuan membaca . Senada dengan hal tersebut, referensi . mengemukakan bahwa membaca merupakan proses. Membaca bukanlah proses yang tunggal melainkan sintesis dari berbagai proses yang kemudian berakumulasi pada suatu perbuatan Membaca diartikan sebagai pengucapan kata-kata, mengidentifikasi kata dan mencari arti dari sebuah teks. Kemampuan penting karena melibatkan pembelajaran berkelanjutan oleh seseorang sehingga orang tersebut dapat mencapai tujuannya, dimana hal ini berkaitan langsung PENDAHULUAN Membaca adalah kegiatan meresepsi, menganalisis, dan menginterpretasi yang dilakukan oleh yang hendak disampaikan oleh penulis dalam media Kegiatan hakikatnya suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir. Pembaca yang efektif menggunakan strategi membaca yang sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengonstruk makna ketika membaca. Strategi ini Jurnal Vokasi. Vol 2 No. 2 Oktober 2018 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat pengetahuan, menggali potensinya, dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat yang lebih luas. Membaca menghasilkan manfaat yang besar, itu fakta yang tidak dapat dipertanyakan oleh siapa pun. Ini adalah alasan kita harus memahami pentingnya membaca dan menulis dan dapat berpengalaman dengan kegiatan ini . Masalah buta aksara adalah masalah Bahkan UNESCO Deklarasi Dakkar mengdeklarasikan bahwa masalah tuna aksara adalah Panyandang aksara terbanyak berada di dunia ketiga atau di negara Indonesia katagori ngara berkembang. Dengan demikian Indonesia harus bertanggung jawab untuk menuntaskan penduduknya yang masih terpapar buta aksara. Provinsi Aceh penurunan tajam jumlah buta aksara dibanding tahun yang lalu termasuk di kota langsa. Jika dilihat besaran angka pada tahun 2010 dengan jumlah penduduk usia 15-59 terdapat 95,21 persen penduduk Aceh yang melek aksara atau juga disebut dengan melek huruf . emampuan membaca dan menuli. Pada tahun 2014 terdapat 2,5 persen jumlah warga aceh buta aksara, namun pada tahun ini angkanya hanya 1, 75 persen seluruh aceh. Ini artinya krisis buta aksara di Aceh terus mengecil dari tahun ke tahun. Untuk tahun 2015 terjadi penurunan tajam buta aksara di Aceh dibanding tahun lalu. Dinas pendidikan Aceh menargetkan pada tahun 2017. Aceh benar-benar terbebas dari buta Pemerintah Aceh berharap khususnya di kota Langsa ini mampu untuk menuntaskan buta aksara . Seperti yang terjadi di kota langsa provinsi Aceh dari jumlah penduduk 895 jumlah penduduk, dengan jumlah 98. 000 penduduk dewasa sebanyak 20% penduduknya adalah penduduk buta aksara diantaranya ada yang benar-benar mengenyam pendidikan sama sekali, dan ada pula yang putus sekolah. Banyaknya buta aksara tersebut adalah seperti yang telah dijelaskan diantaranya adalah disebabkan karena keterbatasan dalam hal ekonomi. zaman dulu, sekolah merupakan hal yang hanya bisa didapat oleh orang-orang yang beruang. Hal tingginya tingkat putus sekolah yang berimbas pada tingginya jumlah buta aksara yang sebagian besar adalah ibu-ibu dan warga hampir lanjut usia di wilayah kota Langsa. Buta aksara terdiri dari dua kata yakni buta dan aksara. Buta diartikan sebagai tidak dapat melihat, mengenali sesuatu dalam bentuk dan warna dengan cara melihat sedangkan aksara adalah sistem tanda grafis atau sistem tulisan yang digunakan manusia untuk berkomunikasi . Dengan sistem tulisan ini, manusia dapat menyimpan kekayaan akal budinya serta mengingat berbagai Karena daya ingat manusia terbatas, memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam pencatatan sejarah dan peristiwa dalam kehidupan manusia. Tanda-tanda grafis yang digunakan untuk pencatatan tersebut adalah huruf. Buta aksara dalam arti terbatas, yang berarti ketidakmampuan untuk membaca atau menulis kalimat sederhana dalam bahasa apapun . Pada tahun 1980 penuntasan pemberantasan buta aksara semakin intensif dan terus menerus dilakukan dengan berbagai upaya dan cara. Pelibatan kenyataannya program ini samakin hari semakin tidak ada hasilnya, atau bahkan boleh dikatakan Auberjalan di tempatAy. Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda beberapa alasan mengapa penuntasan Buta Aksara di daerah tidak berkembangdan cenderung tidak menunjukkan hasil yang Pertama, masyarakat dilakukan secara terpusat, penyelenggaraan pendidikan sangat bergantung pada keputusan Kebergantungan kebijakan pusat ini, adakalanya apa yang diinstruksikan tidak sesuai dengan kondisi kebutuhan yang ada di masyarakat. Kondisi inilah yang menyebabkan Jurnal Vokasi. Vol 2 No. 2 Oktober 2018 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat kemandirian dalam pendidikan hilang, motivasi dan inisiatif untuk belajar menjadi musnah seiring berakhirnya program kegiatan. Kedua, peran masyarakat khususnya pemerhati penyelenggaraan pendidikan keaksaraan selama ini dirasa sangat minim. Ketiga, penyelenggaraan program pemberantasan buta aksara, terutama pada hambatanhambatan struktural berpengaruh terhadap kebijakan yang akan di ambil. Kurangnya minat masyarakat dalam mengikuti kegiatan belajar tidak lepas masyarakat dalam memperkenalkan dan pada masyarakat kurang maksimal dilakukan, akibatnya program inipun tidak lepas dari pandangan miring dari beberapa praktisi pendidikan di Kabupaten Kota Langsa, yang hanya melihat dari sisi kuantitas di banding dari sisi kualitas . Salah satu dari masyarakat yang mengalami buta aksara adalah kemiskinan. kemiskinan adalah faktor utama yang membuat seseorang menjadi buta aksara karena untuk makan sehari-hari juga masih sulit apalagi untuk mengenyam bangku sekolah, meskipun sekarang sudah yang namanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tapi dana tersebut banyak di korupsi oleh pihak yang tidak bertanggung Faktor struktural juga merupakan faktor cukup dalam menciptakan masyarakat buta huruf karena layanan pendidikan yang jauh juga menjadi faktor seseorang menjadi buta aksara, contohnya saja di daerah pedalaman atau daerah terpencil sangat jauh ke sekolah dasar sekalipun, apalagi ke sekolah Mereka yang di daerah harus berangkat pagi-pagi sekali atau jam lima pagi karena jarak rumahnya dengan sekolah sangat jauh. Selain itu orang tua menganggap bahwa sekolah itu tidak penting. Pendidikan merupakan bimbingan terhadap perkembangan manusia menuju ke arah cita-cita tertentu, maka yang pokok bagi pendidikan ialah memilih arah atau tujuan yang ingin dicapai . Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Hal yang menjadi permasalahan pelik saat ini salah satunya adalah krisis ekonomi yang berdampak buruk untuk jutaan pekerja sehingga ribuan anaka terpaksa meninggalkan sekolah untik bekerja. Pekerja anak adalah masalah serius di Indonesia, setidaknya sebanyak 2,3 juta anak berusia 10-14 tahun dan 3,8 juta anak berusia 15-18 tahun bekerja guna membantu keluarga mereka. Walaupun tingkta melek aksara di Indonsia adalah 91%, tingkat putus sekolah di negeri ini cukup tinggi sebayak 50% untuk sekolah dasar 6 tahun terakhir. Guna mengatasi persoalan buta aksara tersebut, pemerintah menerapkan pemberdayaan perempuan yaitu dengan adanya pendidikan kelompok belajar keaksaraan mandiri sebagai kelanjutan dari program keaksaraan yang sudah ada. Kasus buta aksara lebih tinggi di kalangan perempuan, yakni 64 persen. Oleh karena itu, pemerintah menerapkan afirmatif bagi perempuan dalam pemberantasan buta aksara. Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Departemen Pendidikan Nasional Hamid Muhammad. Senin . , mengatakan, jumlah perempuan buta aksara sekitar 6,3 juta orang, sekitar 70 persen di antaranya berusia di atas 45 tahun. Adapun jumlah lakilaki buta aksara sebanyak 3,4 juta Total jumlah warga buta aksara 9,7 juta atau 5,97 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Jumlah itu lebih rendah ketimbang pada tahun 2004 sebesar 10,7 persen . Mendikbud mengatakan Pemerintah telah melakukan berbagai usaha dalam Jurnal Vokasi. Vol 2 No. 2 Oktober 2018 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat rangka meningkatkan keberaksaraan, salah satunya adalah melalui Permendikbud No. 2015 mengenai Penumbuhan Budi Pekerti (PBP), dimana Permendikbud tersebut adalah semua warga sekolah baik siswa, guru, tenaga pendidikan, dan kepala sekolah wajib membaca buku selain buku teks pelajaran selama 15 menit sebelum hari AuTujuannya jelas yakni menggiatkan budaya membaca dan menghapus AuGenerasi Nol BukuAy. Tantangan keberaksaraan kita kini tentu dengan tantangan Kita tak hidup dalam ruang vakum, maka persaingan dan tantangan era ini juga penting untuk kita jawab,Ay jelasnya. II. METODE PELAKSANAAN Metode adalah cara yang fungsinya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Makin baik metode itu, makin efektif pula pencapaian tujuan . Metode dalam penelitian ini adalah metode ceramah, tanya- jawab, dan latihan mandiri. Metode yang digunakan dalam pencapaian tersebut adalah pelatihan membaca bagi masyarakat Kota Langsa yang mengalami buta aksara. Kegiatan ini akan dilakukan melalui 3 tahap yaitu: Sosialisasi dan Penjaringan Anggota Kelompok Mitra Sosialisasi dilakukan di daerah tujuan masyarakat dengan melibatkan aparat desa target masyarakat yang dijadikan sebagai mitra adalah masyarakat usia produktif yang memiliki keinginan untuk membaca, namun kemampuan khusus dalam membaca. kegiatan sosialisasi program peserta dibagi dalam dua ruangan dan dalam masingmasing ruangan itu terdapat dua Sebelum memasuki ruangan, peserta dibekali buku panduan membaca untuk lebih memaksimalkan program Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Langsa melalui Susenas Tahun 2015 anak laki-laki yang tidak mempunyai ijazah SD sebanyak 3,43 % dan perempuan sebanyak 8,35 %, siswa laki-laki SMP/MTsS/SMPLB/Paket B sebanyak 21,00 % dan perempuan 15,87%, selanjutnya siswa laki-laki SMA/MAS/SMPLB/Paket C 38,75%, perempuan 35,40% sedangkan masyarakat kota langsa ditinjau dari umur 15 tahun ke atas yang buta huruf sebanyak 0,15% dan perempuan 1,60 % . Pelatihan membaca untuk pengentasan buta aksara di wilayah kota langsa sangat diperlukan sehingga pengentasan buta aksara agar terbentuk kesadaran pada pendidikan yang diterapkan untuk memenuhi persaingan global dan diharapkan akan timbul kader-kader yang tanggap akan permasalahan buta aksara yang seharusnya bisa ditekan dan Pelatihan pengentasan buta aksara merupakan sarana atau program yang diharapkan bisa menekan angka buta aksara yang terjadi di Aceh pada khususnya, wilayah Kota Langsa sebagai sasarannya, dengan tujuan agar mampu mendorong masyarakat Kota Langsa berpartisipasi dalam buta aksara kepada jaringan kecil . Pelatihan Membaca Tahap kedua dari kegiatan pengabdian pada masyarakat yang direncanakan adalah kegiatan pelatihan. pelatiha yang diberikan kepada mitra mempunyai tujuan untuk memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka meningkatkan kemampuan membaca. langkah- langkah dalam pelaksanakan pelatihan ini adalah sebagai berikut. merumuskan pelatihan materi yang relevan, . membuat jadwal pelatihan, . menyiapkan alat dan bahan pelatihan, . pembagian tugas instruktur, . pelaksanaan pelatihan, dan . melaksanakan evaluasi. Kegiatan pelatihan terdiri dari 2 . bentuk, yaitu pemberian materi . dan praktik. Kegiatan ini Jurnal Vokasi. Vol 2 No. 2 Oktober 2018 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat direncanakan berlangsung selama dua Metode Ceramah Metode ceramah digunakan untuk Kota Langsa metode/teknik membaca yang mengalami buta aksara. Metode ceramah ini sangat penting guna memberikan pemahaman kepada pemerintah Kota Langsa. Pendamp Kegiatan pendampingan dilakukan setelah pelatihan selesai dilaksanakan program pengabdian pada masyarakat ini berakhir . ekitar 3 bula. kegiatan pendampingan dilakukan setiap bulan sekali dengan cara mengunjungi tempat pelatihan membaca di wilayah Kota langsa. Pada setiap kunjungan, tim peneliti akan berdiskusi dengan mitra membaca, permasalahan yang dihadapi dan rencana tindak lanjut kemampuan Tim pendamping akan memberikan motivasi dan tambahan informasi terkait kemampuan membaca. Jumlah peserta pelatihan dalam pengentasan buta aksara adalah 20 orang. Semua peserta dikumpulkan di suatu pembinaan melalui metode/teknik cara membaca yang efektif. Penyusunan materi untuk kegiatan pembinaan seperti makalah. PPT, dan modul panduan kegiatan tersebut, tim peneliti sudah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Langsa agar diperoleh hasil yang maksimal. Tempat diadakan pelatihan tersebut, yaitu di Aula sekretariat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Langsa. Prosedur kerja yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut. tahap persiapan, . survei, . penentuan lokasi dan sasaran, dan . penyusunan materi untuk kegiatan pembinaan. Penyampaian materi dilakukan dengan penjelasan oleh pemateri dan disertai tanya-jawab dengan peserta. Kedua, tahap Pelaksanaan pembinaan dilakukan di aula Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Langsa. Selanjutnya, untuk melaksanakan kegiatan tersebut digunakan beberapa metode pembinaan yaitu: Metode Tanya Jawab Metode Tanya jawab tidak kalah penting dari metode ceramah. Metode Tanya jawab pada saat proses pelatihan dan saat praktik secara mandiri akan membuat masyarakat Kota Langsa yang mengalami buta aksara dapat memahami semua pengetahuan tentang membaca sehingga akan benar-benar paham dan Metode Latihan Mandiri Kegiatan praktik dilakukan untuk mengaplikasikan materi pelatihan yang telah diberikan. Setiap peserta yang mengalami buta aksara mempraktikkan cara membaca yang efektif. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah Kota Langsa mengalami buta aksara mampu membaca dan menulis serta melakukan perhitungan Hasil yang didapat selama pelatihan diharapkan mampu menjadi pemacu semangat bagi pihak warga permasalahan buta aksara. Program Pemberantasan Buta Aksara merupakan bentuk pelayanan pendidikan luar sekolah masyarakat penyandang buta aksara agar memiliki kemampuan menulis, membaca, menghitung, dan menganalisis yang berorientasi pada sehari-hari dengan memanfaatkan potensi yang ada di Pelaksanaan Jurnal Vokasi. Vol 2 No. 2 Oktober 2018 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat program Pemberantasan Buta Aksara yang masih terdapat berbagai kendala ini, maka perlu adanya evaluasi agar pemerintah ini dapat berjalan lebih baik. Dengan dilaksanakannya program Pemberantasan Buta Aksara maka dampak sosial yang diharapkan terjadi pada kehidupan masyarakat yaitu masyarakat berinisiatif dan memiliki kemandirian dalam kehidupannya sehingga tidak menggantungkan diri pada orang dan berpikiran untuk maju. Selain itu juga diharapkan masyarakat sudah memiliki kemampuan keaksaraan sehingga mampu melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan keaksaraan dan mampu mengakses informasi dalam bentuk tulisan seperti koran dan majalah. Pada kegiatan awal, penyampaian materi dilakukan dengan menampilkan power point. Penyampaian materi dilakukan sambil melakukan tanya-jawab dengan peserta. Materi yang diberikan adalah teknik dan metode membaca, pentingnya pendidikan dasar berupa membuat cara-cara baru dalam proses pembelajaran membaca, dan perlunya keterlibatan berbagai pemberantasan buta aksara. Peserta tampak senang dan antusias mengikuti pembelajaran tersebut. Pada dilanjutkan dengan pemberian materi tentang membaca dengan menggunakan teknik/metode Sama seperti pada pertemuan power point. Setelah semua materi telah disampaikan ke seluruh peserta, kegiatan dilanjutkan dengan mempraktikkan satu per satu teknik, cara, dan metode membaca di depan peserta yang hadir agar dapat mencontoh metode pembelajaran pembelajaran tersebut. Pada pertemuan terakhir/penutup, pemateri memberikan penjelasan terhadap kesalahan-kesalahan yang terdapat pada aspek kesalahan membaca. Kegiatan ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana pemahaman peserta terhadap kegiatan pengabdian yang telah dilakukan. Selama kegiatan ini berlangsung, tim pengabdi Pemateri mengarahkan dan membantu masyarakat Kota Langsa yang mengalami buta aksara dalam praktik tersebut guna mencapai hasil yang Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti, diperoleh informasi tentang pemahaman Kota Langsa terhadap teknik, cara, dan metode-metode yang bermanfaat dalam membaca. Teknik, cara, dan metode-metode yang bermanfaat dalam membaca yang diberikan oleh masyarakat Kota Langsa memperlihatkan hal tersebut. Semua kegiatan yang direncanakan telah berhasil dilaksanakan dan mendapat dukungan yang sangat baik dari semua pihak. IV. KESIMPULAN Kegiatan Pelatihan membaca bagi masyarakat yang mengalami buta aksara wajib dilaksanakan secara rutin agar mampu mengakses informasi dalam bentuk tulisan seperti di koran, majalah, buku, dan bahan pembelajaran relevan. Kegiatan membaca dan menulis yang bersifat fleksibel dalam pelaksanaannya membelajarkan masyarakat terutama penyandang buta aksara. Secara umum, apa yang menjadi tujuan program Pengentasan Buta Aksara ini telah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat penyandang buta aksara. Adanya kesesuaian tujuan pemerintah untuk memberantas buta aksara dan mengikuti proses pembelajaran agar dapat berhitung serta memperoleh keterampilan fungsional yang sesuai dengan potensi wilayah di daerahnya masing- masing. Kegiatan pelatihan membaca bagi masyarakat Kota Langsa diharapkan masyarakat mampu membaca sesuai dengan teknik dan metode membaca yang baik, mampu membuat cara-cara baru Jurnal Vokasi. Vol 2 No. 2 Oktober 2018 ISSN : 2548-9410 (Ceta. | ISSN : 2548-4117 (Onlin. Jurnal hasil-hasil Penerapan IPTEKS dan Pengabdian Kepada Masyarakat dalam proses pembelajaran membaca, dan mampu melibatkan berbagai pihak dalam upaya percepatan pemberantasan buta aksara. Selanjutnya, masyarakat Kota Langsa menyambut baik kegiatan yang dilaksanakan oleh tim pengabdi. Program ini tentunya akan diteruskan dan mengurangi angka penyandang buta REFERENSI