Education Achievment: Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Journal Homepage: http://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr Sinergi Progresivisme dan Esensialisme dalam Filsafat Pendidikan: Integrasi Nilai. Inovasi dan Implementasinya dalam Pembelajaran Kurikulum Merdeka Salman Ahyani1. Qurrota Akyunin2. Amril3. Liana Novita4 1 IAI Daar Al-Ulum Asahan. Indonesia 2,3,4 UIN Suska Riau. Indonesia Corresponding Author: : salmanahyani@iaidu-asahan. ABSTRACT Key Word Perkembangan pendidikan di era modern menuntut adanya pembaruan sistem pembelajaran yang adaptif terhadap perubahan zaman, perkembangan teknologi, serta dinamika kebutuhan peserta Namun demikian, pembaruan tersebut tidak boleh mengesampingkan nilai-nilai moral dan spiritual yang menjadi fondasi utama pendidikan, khususnya dalam konteks pendidikan Islam. Tantangan ini semakin relevan seiring dengan implementasi Kurikulum Merdeka yang menekankan kemandirian belajar, kreativitas, pembelajaran bermakna, serta penguatan karakter peserta didik secara holistik. Oleh karena itu, diperlukan landasan filosofis yang mampu menjembatani tuntutan modernitas dengan nilai-nilai keislaman yang esensial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis serta mengintegrasikan dua aliran filsafat pendidikan, yaitu progresivisme dan esensialisme, dalam kerangka pendidikan Islam, serta menelaah relevansinya terhadap penerapan Kurikulum Merdeka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka . ibrary researc. melalui penelaahan berbagai sumber literatur berupa buku, artikel jurnal ilmiah, dokumen kebijakan pendidikan, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan topik Hasil penelitian menunjukkan bahwa progresivisme sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang berorientasi pada peserta didik, pembelajaran aktif, kontekstual, dan berbasis proyek. Sementara itu, esensialisme berperan penting dalam menjaga nilai-nilai fundamental Islam seperti akhlak, disiplin, tanggung jawab, serta penguasaan pengetahuan pokok. Integrasi kedua aliran ini menciptakan keseimbangan antara inovasi dan pelestarian nilai, sehingga mampu melahirkan model pembelajaran pendidikan Islam yang dinamis, relevan dengan zaman, dan berakar kuat pada nilai spiritual Islam. Progresivisme. Esensialisme. Kurikulum Merdeka How to cite https://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr ARTICLE INFO Article history: Received 01 November 2025 Revised 05 December 2025 Accepted 20 December 2025 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Pendidikan merupakan proses yang sangat penting dalam membentuk kepribadian dan peradaban manusia. Dalam perspektif Islam, pendidikan tidak hanya Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1092-1099 berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga bertujuan membentuk insan yang beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan pribadi maupun sosial. Namun, dinamika zaman yang ditandai oleh percepatan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat membawa perubahan besar sangat dalam dunia Sistem pendidikan saat ini dituntut untuk mampu beradaptasi dengan tantangan globalisasi, revolusi digital, dan perubahan sosial yang sangat cepat, tanpa kehilangan arah nilai dan jati dirinya. Di Indonesia, perubahan paradigma pendidikan diwujudkan melalui penerapan Kurikulum Merdeka. Dalam kurikulum lahir sebuah respon yang memenuhi kebutuhan akan sistem pembelajaran yang lebih fleksibel yang mana pusatnya terletak pada peserta didik, serta menumbuhkan kemandirian belajar. Konsep Aumedeka belajarAy sangat didukung dalam kurikulum ini yang menekankan akan pentingnya memberikan ruang kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi, kreativitas, dan minat belajar yang kontekstual. Pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learnin. , pembelajaran diferensiasi, dan penguatan Profil Pelajar Pancasila menjadi sebuah ciri utama yang mencerminkan semangat kebebasan berpikir dan kemandirian belajar. Secara filosofis, semangat Kurikulum Merdeka terkait dengan tradisi progresivisme dalam filsafat pendidikan. Aliran ini menganggap pendidikan sebagai proses rekonstruksi pengalaman dan menekankan siswa sebagai pusat kegiatan belajar. John Dewey, salah satu tokoh penting dari tradisi progresivisme ini, berpendapat bahwa pendidikan harus disesuaikan dengan dirinya sendiri dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Sebaliknya, kebebasan berpikir dan inovasi bukanlah satu-satunya prioritas sistem Agar pembelajaran tidak kehilangan orientasi moral dan spiritual, pendidikan juga memerlukan pondasi nilai yang kuat. Ini adalah di mana esensialisme menjadi penting. William C. Bagley, seorang tokoh esensialisme, berpendapat bahwa pendidikan harus menanamkan nilai-nilai universal yang menjadi dasar bagi pembentukan karakter dan kebudayaan, serta nilai-nilai dasar seperti disiplin, moralitas, dan pengetahuan fundamental. Dalam pendidikan Islam, prinsip-prinsip penting ini sejalan dengan prinsip ta'dib . embentukan ada. , tazkiyah . enyucian jiw. , dan ta'lim . emberian ilm. Prinsip-prinsip ini merupakan inti dari tujuan pendidikan Islam. Semangat esensialisme dan progresivisme saling menguntungkan. Esensialisme mengimbangi kebebasan dengan nilai-nilai moral dan spiritual, sedangkan progresivisme mendorong inovasi dan kebebasan belajar. Keduanya dapat berfungsi dalam konteks pendidikan Islam untuk membangun sistem pembelajaran yang mengimbangi aspek kognitif, afektif, dan spiritual. Oleh karena itu, integrasi esensialisme dan progresivisme dalam filsafat pendidikan Islam merupakan langkah Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1092-1099 strategis untuk memperkuat pendidikan Islam agar tetap relevan dan berdaya saing di tengah transformasi global. Selain itu, lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah, pesantren, dan sekolah berbasis Islam, memiliki tanggung jawab yang signifikan untuk menerapkan nilai-nilai Kurikulum Merdeka secara sesuai dengan konteksnya. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah menciptakan metode pembelajaran yang inovatif dan kreatif sambil tetap berbasis pada prinsip-prinsip akhlak dan akidah Islam. Banyak guru masih menghadapi dilema antara mempertahankan prinsip-prinsip Islam tradisional yang penuh moral dan menerapkan metode pembelajaran modern yang berbasis teknologi. Ketundukan pada nilai dan kemajuan dapat menjadi solusi untuk integrasi progresivisme dan esensialisme melalui pendekatan filosofis. Pendidikan Islam yang ideal adalah pendidikan yang menghidupkan nilai selain mengajarkan pengetahuan. Diharapkan bahwa pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka dapat menumbuhkan kemampuan untuk berpikir kritis dan kreatif . spek progresivisti. dan menanamkan nilai-nilai moral dan tanggung jawab sosial . spek Peserta didik diharapkan cerdas, berkarakter, dan memiliki kesadaran spiritual yang kuat setelah integrasi kedua aliran ini. METODE PENELITIAN Studi ini menggunakan metodologi kualitatif. Pendekatan ini dipilih untuk jenis penelitian kepustakaan . ibrary researc. karena penelitian ini tidak melakukan observasi lapangan atau eksperimen, tetapi menelaah, mengkaji, dan menganalisis berbagai sumber pustaka yang relevan dengan subjek penelitian. Fokus utama penelitian ini adalah untuk menelusuri, memahami, dan mensintesis konsep filosofis progresivisme dan esensialisme dari sudut pandang pendidikan islam, serta mengaitkannya dengan penggunaan kurikulum merdeka dalam pendidikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hakikat Progresivisme dalam Filsafat Pendidikan Islam Filosofi pendidikan progresivisme, juga dikenal sebagai pragmatis, berasal dari gerakan reformasi umum di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke20. Aliran ini muncul sebagai tanggapan terhadap gagasan pendidikan konvensional yang dipromosikan oleh perenialisme dan esensialisme (Abdurrahmansyah, 2. Menurut Brubacher, inti dari ajaran filsafat progresivisme terkandung dalam namanya sendiri: "Kemajuan" atau "Progresif" merupakan sesuatu yang alamiah dan berarti "perubahan", yang berarti "baru". Sesuatu yang "baru" harus benar-benar ada dan bukan hanya pemahaman tentang realitas yang sebenarnya. (Brubacher, 1. Secara ontologis, progresivisme menganggap kehidupan manusia sebagai kenyataan alam semesta, jadi pengalaman adalah kunci pengertian manusia tentang Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1092-1099 segala sesuatu. Oleh karena itu, pengalaman dapat memainkan peran penting dalam evolusi peradaban. Progresivitas berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan adalah menghasilkan suatu proses kemajuan yang menghasilkan pembaharuan yang Progresivitas menganggap guru sebagai fasilitator yang membimbing dan mendidik siswanya untuk memiliki kemampuan untuk mencari pengetahuan melalui pengalaman pribadi mereka sendiri. Progresivisme disebut sebagai "jalan yang liberal menuju budaya". Mereka menggambarkan diri mereka sebagai "liberal", "curious", "toleran", "ingin tahu", "ingin mendidik", dan "terbuka". Ini dilihat dalam teori pendidikan John Dewey, yang menekankan pada proses kegiatan yang muncul dari anak sendiri sebagai "Subjek" dari proses pendidikan dan pembelajaran, sehingga semua kegiatan aktif dan selektif berasal dari anak. Dilihat dari perspektif John Dewy sebelumnya, sejalan dengan pembelajaran melalui tindakan, yang merupakan ciri khas aliran ini. Semangat pembaruan . dan pemikiran rasional . adalah komponen penting dari proses pendidikan yang dinamis dalam perspektif Islam. Ini menunjukkan bahwa progresivisme tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. sebaliknya, itu memperkuat upaya untuk membuat pendidikan yang fleksibel dan sesuai dengan zaman. Aliran progresivisme ini berpendapat bahwa potensi manusia adalah sesuatu yang tidak dikembangkan dan harus menjadi perhatian utama dalam pendidikan. Aliran ini mengutamakan kemerdekaan dan kebebasan siswa sehingga mereka dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya yang sudah ada tanpa terhalang oleh hambatan yang diciptakan oleh orang lain. Dikarenakan pendidikan yang otoriter akan menghentikan kreativitas, filsafat ini menentangnya (Arif Ahmad Fauzi dkk, 2. Kurikulum bebas dapat dikaitkan dengan progresivisme karena menekankan kebebasan belajar, kreativitas, dan pengalam belajar yang signifikan bagi siswa . emendikbudristek, 2. Oleh karena itu, progresivisme dalam pendidikan islam berarti pembelajaran yang berpusat pada pengalaman, relevan, dan kontekstual, dan mendorong kemajuan intelektual tanpa mengorbankan nilai-nilai moral. Hakikat Esensialisme dalam Filsafat Pendidikan Islam Esensialisme berasal dari kata "esensial", yang berarti "inti atau pokok," dan "isme", yang berarti "aliran atau mazhab. " Kedua filsafat ini, realisme dan idealisme, mendorong pendidikan untuk bersandar pada prinsip yang jelas dan permanen. Dengan mengajarkan keterampilan dasar seperti membaca, menulis, berbicara, dan berhitung, tujuan esensialisme adalah membuat orang menjadi ahli dan bermanfaat (Muslim 2. Dalam filsafat pendidikan, esensialisme adalah aliran yang menekankan betapa pentingnya memberikan pengetahuan dan nilai-nilai yang dianggap penting bagi Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1092-1099 kehidupan manusia. Aliran ini muncul sebagai tanggapan terhadap pendidikan progresif, yang dianggap terlalu dinamis dan tidak stabil. Esensialisme menekankan pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai yang telah diuji oleh waktu dan memberikan stabilitas (Rachmad 2. Gerakan pendidikan dan aliran filsafat pendidikan yang dikenal sebagai esensialisme dikenal sebagai pendidikan. Esensialisme dianggap sebagai tradisionalisme karena ia berusaha mencari dan mempertahankan hal-hal yang esensial, yaitu hal-hal yang berfungsi sebagai inti, hakikat fundamental, atau unsur mutlak yang menentukan keberadaan sesuatu. Oleh karena itu, esensial tersebut harus diajarkan kepada generasi muda agar mereka dapat terus hidup. Esensialisme didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah pada keduniawian, serba ilmiah dan materialistic. Karena berfokus pada memberikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda, esensialisme juga dikenal sebagai filsafat pendidikan konservatif. Aliran ini menentang pendidikan progresif karena dianggap dapat menghasilkan perspektif yang tidak stabil dan berubah-ubah (Sigli 2. Beberapa tokoh penting aliran esensialisme dalam filsafat pendidikan adalah: William T. Harris . Sebagai tokoh Amerika Serikat yang dipengaruhi oleh Heggel ini berusaha menetapkan idealisme objektif pada pendidikan umum. Menurus Harris, tugas pendidikan adalah mengizinkan terbukanya realita berdasarkan susunan yang tidak terelakkan . bersendikan kesatuan spiritual. Sekolah adalah lembaga yang memelihara nilai-nilai yang telah turun-menurun, dan menjadi penuntun penyesuaian orang kepada masyarakat. Johann Friedrich Herbart . Salah seorang murid Immanuel Kant, adalah tokoh yang selalu bersifat kritis. berpendirian bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan yang mutlak, yang berarti antara lain penyesuian dengan hukum-hukum kesusilaan. Proses untuk mencapai tujuan pendidikan ini oleh Herbart disebutkan pengajaran yang mendidik. Johann Amos Comenius . Adalah pendidik Renaisans pertama yang berusaha untuk mensistematisasikan proses pengajaran. Tokoh ini dengan menilik pandangan-pandangannya, dapat disebut seorang realis yang dogmatis. Ia berkata antara lain bahwa hendaklah segala sesuatu diajarkan melalui indera karena indera adalah pintu gerbang jiwa. Jadi pintu gerbang dari pengetahuan itu sendiri. Disamping itu. Comenius menpunyai pendirian bahwa karena dunia itu dinamis dan bertujuan, tugas kewajiban pendidikan adalah membentuk anak sesuai dengan kehendak Tuhan. Implementasi Progresivisme dan Esensialisme dalam Kurikulum Merdeka Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1092-1099 Dalam kurikulum merdeka, prinsip-prinsip esensialisme dan progresivisme bekerja sama untuk membentuk dasar pendidikan yang mengimbangi kemajuan dan prinsip moral. Menurut filsafat progresivisme, kurikulum bebas menawarkan pendekatan yang berpusat pada pengalaman langsung siswa dan keterlibatan aktif mereka dalam proses belajar mereka. Progresivisme mengatakan bahwa pembelajaran harus dinamis, inklusif, dan berpusat pada siswa. Kurikulum bebas menekankan pembelajaran yang berbasis pengalaman. Siswa diminta untuk berpartisipasi secara aktif dalam situasi nyata, mengerjakan proyek bersama, dan mempelajari materi pembelajaran. Metode ini memungkinkan siswa untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan praktis melalui pengalaman Kurikulum bebas memungkinkan siswa untuk memiliki lebih banyak kontrol atas pembelajaran mereka, memungkinkan mereka untuk membuat keputusan, menyuarakan pendapat mereka, dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran kelas. Kolaborasi dianggap penting dalam perspektif progresivisme. Kurikulum bebas mendorong siswa untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan berbagi ide. Proses ini membangun komunitas pembelajaran yang saling mendukung dan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Sementara aliran esensialisme dalam kurikulum Merdeka memiliki keterkaiatan, pendidikan esensialisme yang menjadi landasan Merdeka Belajar berfokus pada memberi siswa nilai-nilai budaya yang menjadi dasar peradaban selain mengajarkan mereka pengetahuan akademik. Merdeka Belajar bertujuan untuk memberikan kebebasan pada proses pendidikan, memandang pengetahuan sebagai kolaborasi antara pikiran dan kenyataan, dan menekankan Dalam kurikulum merdeka, progresivisme dan esensialisme digabungkan untuk memberikan pendidikan yang seimbang antara kemajuan dan prinsip moral. Hamalik . menekankan bahwa pendidikan modern harus dapat menyeimbangkan elemen kebebasan berpikir dan penguatan karakter agar siswa menjadi individu moral dan Bisa digunakan dalam pendidikan Islam ketika guru PAI mengajari siswanya untuk melakukan proyek kreatif, seperti membuat poster dakwah atau mensimulasikan kegiatan sosial. Mereka juga mengajarkan nilai-nilai seperti disiplin, kejujuran, dan kewajiban (Zuhairini, 2. Akibatnya. Kurikulum Merdeka memiliki kemampuan untuk mengimbangi potensi intelektual, spiritual, dan sosial siswa, sehingga menghasilkan generasi yang fleksibel, inovatif, dan unik. Landasan Filosofis Pendidikan Nasional (Tujuan Pendidikan. Profil Pelajar Pancasil. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1092-1099 Esensialisme Progresivisme A A A A A A A Peserta Didik sebagai Subjek Pembelajaran Kontekstual Proyek dan Pengalaman nyata Berdiferensiasi A A Kompetensi Inti Materi esensial Disiplin Akademik Standar Capaian Pembelajaran Guruh sebagai Pengarah Integrasi dalam Kurikulum Merdeka CP dan TP sebagai acuan Pembelajaran berbasis Asesmen formatif & Guru sebagai fasilitator dan pengarah Dampak Implementasi Kemandirian belajar Penguasaan kompetensi inti Pembelajaran bermakna Terwudnya Profil Pelajar Pancasila KESIMPULAN Dapat disimpulkan bahwa memasukkan progresivisme dan esensialisme ke dalam Kurikulum Merdeka adalah pendekatan yang relevan untuk pendidikan Islam. Sementara esensialisme mempertahankan penguasaan kompetensi inti dan menanamkan nilai moral dan budaya sebagai fondasi pendidikan, progresivisme mendorong pembelajaran berpusat pada pengalaman, berpusat pada peserta didik, dan berpikir kritis. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 1092-1099 Kurikulum Merdeka mampu mengembangkan potensi intelektual, spiritual, dan karakter peserta didik secara menyeluruh dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan zaman karena sinergi kedua aliran tersebut menghasilkan pembelajaran yang seimbang antara kebebasan dan keteraturan, inovasi, dan nilai. PENGAKUAN Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Filsafat Pendidikan Agama Islam yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi dalam proses penyusunan artikel ini. Penulis menyadari bahwa artikel ini masih memiliki keterbatasan, oleh karena itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk penyempurnaan kajian di masa yang akan DAFTAR PUSTAKA