PENELITIAN ASLI PENGARUH KECENDERUNGAN KEPRIBADIAN CONSCIENTIOUSNESS DAN SELF-EFFICACY TERHADAP SOCIAL LOAFING PADA MAHASISWA Nurhafita Rahmawati1*. Dewi Lutfianawati1. Supriyati1 Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati Bandar Lampung. Lampung 35152. Indonesia Info Artikel Abstrak Riwayat Artikel: Latar belakang: Dunia perkuliahan adalah tahap Tanggal Dikirim: 21 Agustus 2025 penting bagi pengembangan diri mahasiswa. Salah satu Tanggal Diterima: 27 Agustus 2025 sarana pembelajaran adalah kerja kelompok, yang Tanggal Dipublish: 01 Desember 2025 bertujuan melatih kemandirian, rasa tanggung jawab, dan kerja sama. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh kepribadian Kata kunci: conscientiousness. selfconscientiousness dan self-efficacy terhadap perilaku social loafing. social loafing mahasiswa. Metode: menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik quota sampling terhadap 150 mahasiswa aktif Universitas Malahayati dari 15 program studi Penulis Korespondensi: menggunakan analisis data regresi linier berganda. Nurhafita Rahmawati Hasil: menunjukkan bahwa conscientiousness dan selfEmail: hafitarahma@gmail. efficacy secara simultan berpengaruh signifikan Secara conscientiousness berpengaruh negatif signifikan terhadap social loafing, begitu pula self-efficacy yang juga memiliki pengaruh negatif signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan kedisiplinan, tanggung jawab, dan keyakinan diri mahasiswa berkontribusi pada penurunan perilaku social loafing. Kesimpulan: kepribadian conscientiousness dan self-efficacy menjadi perhatian serius untuk menunjang prestasi dan efektivitas kerja kelompok mahasiswa, khususnya dalam merancang intervensi untuk meningkatkan motivasi dan kerja sama mahasiswa dalam pembelajaran kelompok di perguruan tinggi. Jurnal Psychomutiara e-ISSN: 2615-5281 Vol. 8 No. 2 Desember, 2025 (Hal 115-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/Psikologi DOI: https://doi. org/10. 51544/psikologi. How To Cite: Rahmawati. Nurhafita. Dewi Lutfianawati, and Supriyati. AuPengaruh Kecenderungan Kepribadian Conscientiousness Dan Self-Efficacy Terhadap Social Loafing Pada Mahasiswa. Ay Jurnal Psychomutiara 8 . : 115Ae25. https://doi. org/https://doi. org/10. 51544/psikologi. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi: Psikologi Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International Licens. Pendahuluan Social loafing adalah kondisi ketika individu dalam kelompok cenderung mengurangi usaha atau kontribusinya dibandingkan ketika bekerja secara individu (Karau & Williams, 1. Fenomena ini sering muncul dalam kerja kelompok mahasiswa, padahal kerja kelompok dirancang untuk mendorong kolaborasi dan pembagian tugas. Namun, keberadaan anggota lain justru dapat membuat sebagian mahasiswa merasa tanggung jawab dapat dibagi, sehingga menurunkan dorongan untuk berusaha (Pratama & Wulanyani, 2. Kondisi ini berpotensi mengurangi kesempatan mahasiswa mengembangkan kemampuan akademik maupun sosial, serta menurunkan efektivitas kelompok dalam mencapai tujuan pembelajaran (Pratama & Aulia, 2. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa social loafing merupakan masalah nyata di lingkungan pendidikan tinggi. Mello . 3, dalam Pratama & Aulia, 2. menemukan adanya keluhan mahasiswa Northeastern University terkait anggota kelompok yang tidak Piezon dan Ferree . juga melaporkan bahwa 35,7% dari 227 mahasiswa di sebuah universitas di Amerika Serikat mengalami situasi serupa. Indonesia, penelitian oleh Paksi. Okfrima, dan Mariana . memperlihatkan bahwa 70% mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Padang mengalami penurunan motivasi dalam proses tugas kelompok dan lebih memilih mengerjakan secara individu. Hidayati . juga mengidentifikasi alasan mahasiswa menjadi pasif, antara lain kurang percaya diri, kesibukan, pembagian tugas yang tidak jelas, hingga menganggap tugas terlalu mudah. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa social loafing menjadi persoalan serius yang mengganggu efektivitas pembelajaran kolaboratif. Hasil pre-survei yang dilakukan peneliti melalui wawancara dan observasi terhadap mahasiswa Universitas Malahayati juga memperlihatkan kecenderungan serupa. Dari 10 responden, tujuh di antaranya menunjukkan perilaku pasif karena merasa kontribusinya tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil akhir. Observasi lapangan memperkuat temuan ini, di mana dalam kelompok beranggotakan 4-6 orang sering terdapat 1-2 anggota yang terlibat minimal, bahkan ada yang tidak hadir. Hal ini searah dengan teori George . , yang menyatakan social loafing timbul karena persepsi rendah terhadap kontribusi individu dan kecenderungan membebankan tugas kepada anggota lain. Berbagai faktor telah diidentifikasi berkontribusi terhadap social loafing. Sarwono . menyebutkan faktor kepribadian, jenis pemerhati, dan harga diri, sementara penelitian lain menunjukkan bahwa rendahnya self-efficacy juga berperan (Aulia & Saloom, 2. Dari berbagai faktor tersebut, kepribadian menjadi salah satu prediktor penting (Libarnes. Cataquez. Bombales. Khua, & Cuarte, 2. Teori Big Five Personality Traits menjelaskan bahwa conscientiousness, yaitu sifat bertanggung jawab, disiplin, terorganisir, dan teliti, berhubungan erat dengan perilaku kerja kelompok (McCrae & John, 1. Individu dengan conscientiousness tinggi cenderung dapat dipercaya, berperan aktif, dan memberi kontribusi besar, sementara yang rendah cenderung ceroboh dan kurang bertanggung jawab (Budiningsih, 2018. Erzen & Ozabaci, 2. Beberapa penelitian mendukung hubungan negatif antara conscientiousness dan social loafing (Tan & Tan, 2008. Mammadov, 2022. Yang. Tu, & He, 2. , tetapi ada juga temuan yang tidak signifikan (Barry & Stewart, 1. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan keduanya belum konsisten. Selain itu, faktor psikososial seperti self-efficacy juga berperan. Self-efficacy merujuk pada keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas (Bandura. Tingkat self-efficacy yang tinggi membuat seseorang lebih mantap dalam kepercayaan dirinya, tekun, serta termotivasi dalam kerja kelompok (Themanson & Rosen, 2. Penelitian Titisemita . dan Narotama & Rustika . menemukan bahwa self-efficacy memiliki keterkaitan yang berlawanan arah dengan social loafing sedangkan penelitian Hayaton . justru menemukan hubungan positif. Perbedaan ini mengindikasikan adanya ketidakkonsistenan hasil penelitian, sehingga perlu diteliti lebih Dengan mempertimbangkan pemaparan sebelumnya, maka disimpulkan variabel conscientiousness dan self-efficacy merupakan faktor penting yang memengaruhi social loafing, namun temuan penelitian sebelumnya belum konsisten. Sebagian besar penelitian terdahulu juga hanya meneliti salah satu variabel secara terpisah. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk menguji kedua variabel tersebut secara bersamaan dalam konteks mahasiswa Indonesia, khususnya di Universitas Malahayati. Penelitian ini diharapkan dapat memperluas pemahaman mengenai variabel-variabel yang memengaruhi social loafing sekaligus menjadi dasar rekomendasi strategi pembelajaran kolaboratif yang lebih efektif di perguruan tinggi. Metode Dalam penelitian ini digunakan metode kuantitatif dengan analisis data menggunakan regresi linier berganda, guna menguji kebenaran hipotesis mengenai hubungan variabel independen conscientiousness (XCA) dan self-efficacy (XCC) terhadap variabel dependen social loafing (Y) pada mahasiswa. Pendekatan kuantitatif berlandaskan filsafat positivisme, yaitu menekankan kajian pada populasi atau sampel tertentu dengan instrumen terstruktur, serta proses analisis data menggunakan teknik statistik (Sugiyono. Dwitanti & Churiyah, 2. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh mahasiswa aktif di Universitas Malahayati Bandar Lampung yang berjumlah A6. 915 orang. Karena jumlah populasi cukup besar. Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan menerapkan rumus Slovin pada tingkat kesalahan tertentu . argin of erro. sebesar 8% dan tingkat kepercayaan 95% (Budiwaskito, 2. Berdasarkan perhitungan, jumlah sampel yang diperoleh adalah 150 Teknik pengambilan sampel menggunakan quota sampling, dengan alokasi 10 responden dari masing-masing 15 program studi D3 dan S1. Pemilihan teknik ini dimaksudkan untuk menjamin keterwakilan setiap program studi. Data dikumpulkan menggunakan instrumen berbentuk skala Likert yang menerapkan lima kategori jawaban, mulai dari Sangat Sesuai (SS = . hingga Sangat Tidak Sesuai (STS = . (Azwar, 2. Instrumen yang digunakan terdiri dari: Skala Social Loafing, diadaptasi dari George . dan Agung . Instrumen awal terdiri dari 24 item, kemudian diuji coba pada 60 mahasiswa. Hasil uji menunjukkan 21 item valid dengan reliabilitas 0,942. Item terbagi ke dalam empat aspek: persepsi usaha, pengurangan usaha, membiarkan orang lain bekerja lebih, dan mengandalkan orang lain. Skala Conscientiousness, menggunakan dimensi conscientiousness dari IPIP Big Five Factor Markers (Akhtar & Azwar, 2. , terdiri dari 10 item. Reliabilitas instrumen mencapai 0,811 berdasarkan uji CronbachAos Alpha, sedangkan daya beda item berada pada rentang 0,376 sampai 0,597. Skala Selfefficacy yang diterapkan dalam penelitian ini menggunakan General Self-Efficacy Scale (GSES) dari Schwarzer & Jerusalem . yang telah disesuaikan ke bahasa Indonesia oleh Novrianto. Marettih et al . Instrumen ini terdiri dari 10 item dengan reliabilitas CronbachAos Alpha 0,75Ae0,91. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner berbentuk skala kepada responden yang telah ditentukan. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara kuantitatif menggunakan statistik inferensial untuk menguji hubungan antarvariabel yang diteliti. Analisis data dilakukan menggunakan IBM SPSS 22, mencakup uji asumsi klasik . ormalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisita. , serta penggunaan regresi linier berganda untuk menilai pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen, uji hipotesis, koefisien determinasi, serta sumbangan efektif dan relatif. Hasil Tabel 1 Frekuensi Responden Berdasarkan Program Studi Nama Universitas Jumlah Responden Presentase Pendidikan Dokter (S. 6,67% Ilmu Keperawatan (S. 6,67% Farmasi (S. 6,67% Psikologi (S. 6,67% Teknik Sipil (S. 6,67% Teknik Mesin (S. 6,67% Teknik Industri (S. 6,67% Teknik Lingkungan (S. 6,67% Manajemen (S. 6,67% Akuntansi (S. 6,67% Kesehatan Masyarakat (S. 6,67% Ilmu Hukum (S. 6,67% Kebidanan (S. 6,67% Kebidanan (D. 6,67% Analisis Farmasi dan Makanan 6,67% (D. Total Ditinjau dari data pada tabel, dapat diketahui bahwa setiap program studi di Universitas Malahayati berkontribusi secara merata dan proporsional terhadap jumlah responden dalam penelitian ini. Masing-masing dari program studi menyumbangkan sekitar 6,67% dari total partisipan, yang secara keseluruhan berjumlah 150 orang. Tabel 2 Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Responden Presentase Wanita Pria Total Berdasarkan data pada tabel Mayoritas responden penelitian ini berasal dari kelompok perempuan dengan jumlah 97 orang . %), sedangkan responden laki-laki sebanyak 57 orang . %). Data tersebut memperlihatkan bahwa keterlibatan perempuan lebih dominan dalam penelitian ini dibandingkan laki-laki. Tabel 3 Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Usia Jumlah Responden Presentase 23,3% 20,6% 24,6% 31,3% Total Berdasarkan distribusi usia responden, rentang usia partisipan dalam penelitian ini adalah antara 20 hingga 23 tahun. Kelompok usia dengan proporsi tertinggi adalah usia 23 tahun, yaitu sebesar 31,5%, diikuti oleh usia 22 tahun . ,6%), usia 20 tahun . ,3%), dan usia 21 tahun . ,6%). Tabel 4 Hasil Koefisien Regresi Linier Berganda Model Unstandardized Coefficients Std. Error (Constan. (X. Conscientiousness (X. Self Efficacy Tabel ini menunjukkan persamaan regresi linier berganda: Y= 101. 259 (-0. XCA . XCC A yang menggambarkan setiap kenaikan satu unit pada variabel conscientiousness berkontribusi terhadap penurunan social loafing sebesar -0,584, sedangkan peningkatan satu unit pada self-efficacy berdampak pada penurunan social loafing sebesar -1,005. Model Regression Residual Total Tabel 5 Hasil Uji F (Simulta. Mean Square Sig. Nilai uji F sebesar 168. 483 menunjukkan tingkat signifikansi . -valu. 0,000, yang berarti conscientiousness (XCA) dan self-efficacy (XCC) berpengaruh signifikan secara simultan terhadap social loafing (Y). Mendukung tujuan penelitian pertama. Tabel 6 Hasil Uji T (Parsia. Model Sig. (Constan. Conscientiousness Self efficacy Pada uji t menunjukan nilai koefisien regresi () sebesar -0,311 dengan nilai t -4,372 dan p-value 0,000, terbukti bahwa conscientiousness memiliki pengaruh signifikan dengan arah negatif terhadap social loafing pada mahasiswa. Artinya mendukung tujuan penelitian kedua dan ketiga. Tabel 7 Hasil R-Square Std. Error Adjusted R R Square the Estimate Square Nilai koefisien determinasi (R Squar. sebesar 0,692. Hal ini menunjukkan bahwa variabel conscientiousness (XCA) dan self efficacy (XCC) secara simultan mampu menjelaskan variasi pada social loafing (Y) sebesar 69%. Sementara itu, sebesar 31% sisanya dipengaruhi oleh faktor eksternal yang tidak dimasukkan dalam model penelitian. Tabel 8 Hasil Sumbangan Efektif dan Sumbangan Relatif Model Variabel SE (Efekti. SR (Relati. Conscientiousness 23,32% 33,52% Self Efficacy 46,25% 66,48% Total 69,57% Tabel ini menunjukkan bahwa self-efficacy memiliki kontribusi lebih dominan . ,25% 66,48% relati. dibandingkan conscientiousness . ,32% efektif. 33,52% relati. terhadap social loafing, mendukung analisis pengaruh kedua variabel baik secara terpisah maupun bersama-sama. Pembahasan Penelitian ini melibatkan 150 mahasiswa yang masih terdaftar aktif pada beragam program studi di Universitas Malahayati Bandar Lampung. Teknik yang digunakan dalam pemilihan responden adalah quota sampling, dengan maksud memastikan keterwakilan dari masing-masing program studi secara proporsional. Sebanyak 15 program studi berpartisipasi, masing-masing menyumbangkan 10 responden, antara lain Pendidikan Dokter. Ilmu Keperawatan. Farmasi. Psikologi. Teknik Sipil. Teknik Mesin. Teknik Industri. Teknik Lingkungan. Manajemen. Akuntansi. Kesehatan Masyarakat. Ilmu Hukum. Kebidanan (S1 dan D. , serta Analisis Farmasi dan Makanan (D. Distribusi responden ini mencakup berbagai bidang keilmuan secara merata, sehingga hasil penelitian diharapkan dapat merepresentasikan dinamika perilaku mahasiswa dari berbagai program studi dalam konteks kerja kelompok dengan lebih komprehensif. IBM SPSS versi 24 for Windows digunakan sebagai alat bantu dalam menganalisis data. Penelitian ini mengkategorikan tingkat Social Loafing ke dalam tiga kategori, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Ditinjau dari usia, responden penelitian berada dalam rentang 20Ae23 tahun, dengan distribusi sebagai berikut: usia 23 tahun sebanyak 47 orang . ,3%), usia 22 tahun sebanyak 37 orang . ,6%), usia 20 tahun sebanyak 35 orang . ,3%), dan usia 21 tahun sebanyak 31 orang . ,6%). Hasil uji hipotesis melalui uji F . menghasilkan nilai F sebesar 168,483 dengan signifikansi 0,000 . < 0,. , yang berarti conscientiousness (XCA) dan self-efficacy (XCC) berpengaruh signifikan secara simultan terhadap social loafing (Y) mahasiswa. Koefisien determinasi (RA) sebesar 0,696 menunjukkan bahwa kedua variabel independen tersebut bersama-sama mampu menjelaskan 69,6% variasi social loafing, sementara sisanya . ,4%) dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Uji parsial memperlihatkan bahwa conscientiousness memiliki pengaruh negatif signifikan . = 0,. , sehingga semakin tinggi conscientiousness mahasiswa, semakin rendah kecenderungan mereka melakukan social loafing dalam kerja kelompok. Hasil ini sejalan dengan temuan NurAoaini . , yang menyatakan bahwa mahasiswa dengan tingkat conscientiousness tinggi menunjukkan tanggung jawab yang lebih baik, disiplin, dan terorganisir dalam menyelesaikan tugas Hal ini menyebabkan mereka memberikan kontribusi yang maksimal dan mengurangi kecenderungan untuk melakukan social loafing. Selain itu. Feist dan Feist . juga menegaskan bahwa individu dengan conscientiousness yang kuat cenderung fokus pada pencapaian tujuan dan memiliki kemampuan pengendalian diri yang baik, sehingga berperan signifikan dalam menekan perilaku pengurangan usaha dalam kerja Sementara itu, untuk variabel self-efficacy terbukti memiliki pengaruh negatif yang signifikan dengan nilai signifikansi 0,000 . < 0,. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat self-efficacy mahasiswa, semakin rendah kecenderungan mereka untuk melakukan social loafing dalam kerja kelompok. Temuan ini konsisten dengan penelitian Titisemita . , yang menegaskan bahwa keyakinan individu terhadap manfaat kinerjanya bagi kelompok mendorong mahasiswa dengan self-efficacy tinggi untuk menghindari perilaku social loafing. Selaras dengan teori Bandura . , self-efficacy merupakan keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya untuk mengorganisasi dan melaksanakan tindakan yang diperlukan agar berhasil mencapai tujuan. Individu yang memiliki self-efficacy tinggi cenderung lebih gigih, termotivasi, dan tidak mudah menyerah, yang secara langsung berkontribusi dalam menekan kecenderungan mereka untuk mengurangi usaha atau kontribusi dalam kerja kelompok. Namun, hasil penelitian Hayaton . menunjukkan temuan yang berbeda, dimana self-efficacy berhubungan positif dengan social loafing pada siswa MAN 3 Banda Aceh, yang mungkin dipengaruhi oleh faktor-faktor situasional seperti dinamika kelompok, persepsi tanggung jawab, dan konteks pendidikan yang spesifik pada populasi tersebut. Berdasarkan hasil analisis data variabel Social Loafing, mayoritas responden sebanyak 66 responden . %) berada pada kategori tinggi, sementara kategori rendah sebanyak 50 orang . ,3%), dan kategori sedang sebanyak 34 orang . ,7%). Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa cenderung menunjukkan tingkat Social Loafing yang tinggi, yang mengindikasikan adanya kecenderungan mengurangi usaha atau kontribusi dalam kerja kelompok, meskipun ada juga yang menunjukkan tingkat yang lebih rendah. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Anggraeni & Alfian, 2. , yang menunjukan bahwa kehadiran perilaku social loafing dalam kelompok mampu mengurangi efektivitas kelompok sebagai sarana yang efektif dalam meraih sasaran Selanjutnya, berdasarkan hasil analisis data variabel X1 yaitu Conscientiousness, sebagian besar responden berada dalam kategori tinggi, yaitu sebanyak 55 orang . ,6%), diikuti oleh kategori rendah sebanyak 50 orang . ,3%), dan kategori sedang sebanyak 45 orang . %). Kondisi ini menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat conscientiousness yang cukup tinggi, mencerminkan karakteristik yang teliti, bertanggung jawab, dan teratur dalam melaksanakan tugas atau aktivitas sehari-hari. Kondisi ini selaras dengan hasil Mammadov . yang menjelaskan bahwa tingkat conscientiousness yang memadai berkontribusi pada keseriusan dan konsistensi individu dalam berkontribusi pada aktivitas kelompok dengan merencanakan dan mengorganisir kerja secara efisien. Sementara itu, pada variabel X2 Self-Efficacy, mayoritas responden berada dalam kategori rendah, yaitu 60%, diikuti oleh kategori tinggi 35,3%, dan kategori sedang sebesar 4,7%. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa banyak mahasiswa menunjukkan keyakinan diri yang relatif rendah dalam menyelesaikan tugas atau menghadapi tantangan sehari-hari. Selaras dengan peneltitian oleh (Aulia & Saloom, 2. yang menunjukkan bahwa apabila self-efficacy rendah, maka kecenderungan terhadap social loafing menjadi lebih tinggi. Selain itu penelitian oleh Narotama dan Rustika . menunjukan bahwa mahasiswa dengan self-efficacy rendah berpotensi kurang percaya diri mengambil inisiatif dan bertanggung jawab dalam tugas kelompok, sehingga meningkatkan social Tingkat self-efficacy umumnya dihubungkan dengan motivasi yang meningkat dan kecenderungan untuk aktif berusaha secara optimal, sebagaimana diuraikan dalam teori Bandura . Pendalaman terhadap masing-masing variabel dilakukan melalui analisis aspek-aspek yang menyusunnya. Pada variabel conscientiousness yang terdiri dari lima aspek utama menurut McCrae dan Costa . , yaitu Competence. Orderliness. Dutifulness. SelfDiscipline, dan Deliberation, ditemukan bahwa aspek Orderliness menempati posisi tertinggi dengan rata-rata skor 3. Hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa cenderung memiliki sifat teratur dan terorganisir, yang merupakan ciri khas individu dengan tingkat conscientiousness tinggi. Aspek lainnya seperti Competence 2. Dutifulness 2. Self-Discipline 2. 79, dan Deliberation 2. 77 menunjukkan bahwa mahasiswa juga memiliki rasa tanggung jawab dan ketelitian, meskipun tidak setinggi aspek keteraturan. Pada variabel self-efficacy, yang meliputi aspek Level. Strength, dan Generality berdasarkan teori Bandura . , aspek Level memiliki nilai rata-rata tertinggi sebesar 2,66, menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki keyakinan diri dalam menghadapi tugas dengan tingkat kesulitan tertentu. Aspek Strength dan Generality masing-masing memiliki nilai rata-rata 2. 62 dan 2. 61, yang mengindikasikan bahwa mahasiswa menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang cukup stabil sekaligus tingkat generalitas kepercayaan yang sebanding, yang berarti mereka konsisten dalam mempercayai kemampuan diri mereka dan tingkat generalitas kepercayaan tersebut hampir sama. Sementara itu, analisis aspek pada variabel social loafing berdasarkan model dari George . menunjukkan bahwa aspek Membiarkan orang lain melakukan Lebih 3. 26 dan Mengandalkan orang lain 3. 25 memiliki skor tertinggi. Ini mencerminkan adanya kecenderungan mahasiswa untuk mengalihkan tanggung jawab kepada anggota kelompok lain, sebuah pola yang mendukung definisi social loafing mengacu pada pengurangan upaya pribadi saat seseorang berkontribusi dalam aktivitas kelompok. Aspek Mengurangi usaha dan Persepsi atas usaha menunjukkan skor yang lebih rendah, yang dapat diartikan bahwa mahasiswa cenderung tidak sengaja mengurangi usaha, namun persepsi terhadap efektivitas kontribusinya yang rendah turut mendorong perilaku Berdasarkan perhitungan sumbangan efektif dan relatif, variabel self-efficacy berkontribusi secara efektif sebesar 46,25% terhadap perilaku social loafing pada mahasiswa Universitas Malahayati. Artinya, hampir setengah variasi social loafing dapat dijelaskan secara langsung oleh tingkat keyakinan diri dalam menyelesaikan tugas. Sumbangan relatif self-efficacy sebesar 66,48% menunjukkan bahwa dari total pengaruh kedua variabel dalam model, self-efficacy memegang peranan dominan. Sebaliknya, variabel conscientiousness menyumbangkan kontribusi efektif sebesar 23,32% serta kontribusi relatif sebesar 33,52%. Meskipun signifikan, pengaruh conscientiousness hanya berkisar sepertiga dari pengaruh keseluruhan variabel. Berdasarkan hal tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa self-efficacy mempunyai. peran yang lebih besar dibandingkan conscientiousness dalam memengaruhi tingkat social loafing. Dengan demikian, temuan ini konsisten dengan grand teori yang telah diuraikan di mana social loafing merupakan perilaku pengurangan usaha dalam kelompok menurut George . , conscientiousness mencerminkan karakter pribadi yang tertib dan bertanggung jawab (McCrae & John, 1. , serta self-efficacy sebagai fondasi motivasi dan kemampuan individu menghadapi kesulitan (Bandura, 1. Artinya mahasiswa yang memiliki self-efficacy yang tinggi cenderung meyakini kemampuannya sendiri, sehingga lebih percaya diri, tekun, tidak mudah menyerah, dan cenderung mencari strategi alternatif ketika menghadapi tantangan. Oleh karena itu, pemahaman integratif terhadap ketiga variabel ini sangat penting untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran yang efisien dalam kerangka kolaborasi kelompok mahasiswa. Temuan-temuan ini memiliki relevansi teoritis dan empiris. Dalam kerangka teori, conscientiousness berperan sebagai prediktor negatif terhadap social loafing karena individu yang conscientiousness cenderung bertanggung jawab dan terlibat secara aktif dalam tugas. Self-efficacy juga berperan penting karena keyakinan individu terhadap kemampuannya sendiri mendorong partisipasi dan kontribusi yang konsisten. Hubungan ini semakin diperkuat dengan data kuantitatif dari hasil deskriptif, serta sesuai dengan hasil pra-survei, yang menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa mengakui pasif dalam kerja kelompok karena merasa kontribusinya tidak signifikan. Oleh karena itu, pembahasan ini menegaskan urgensi penguatan karakter conscientiousness dan selfefficacy menjadi strategi demi meminimalkan perilaku social loafing di lingkungan Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pengujian hipotesis, hasil penelitian mengungkapkan bahwa conscientiousness dan self-efficacy berdampak signifikan pada tingkat social loafing di kalangan mahasiswa. Secara simultan, kedua variabel menjelaskan 69,6% variasi perilaku social loafing, sedangkan 30,4% sisanya dipengaruhi variabel eksternal di luar lingkup penelitian. Secara parsial, conscientiousness berpengaruh negatif signifikan, yang berarti semakin tinggi sifat disiplin dan tanggung jawab mahasiswa, semakin rendah kecenderungan social loafing. Demikian pula, self-efficacy berpengaruh negatif signifikan, menunjukkan bahwa keyakinan diri yang tinggi mampu menekan perilaku social loafing, sedangkan self-efficacy rendah cenderung meningkatkan perilaku Referensi