Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2021 Vol. AoRobohnya Sastra KamiAo: Studi Kasus Pudarnya Sastra di Jurusan Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret Surakarta Yuyun Kusdianto* Universitas Sebelas Maret. Surakarta Alamat Surel yuyunkusdianto@staff. *Penulis Korespondensi Kata Kunci sastra Inggris. Abstrak Tren enam tahun terakhir menunjukkan mahasiswa Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret Surakarta semakin kehilangan ketertarikan terhadap sastra ketika mereka menjejak semester lanjut. Sebuah ironi yang nyata: pukulan telak bagi institusi ketika nama Sastra Inggris disandang mentereng namun tak ada mahasiswa yang meminati sastra. Sastra limbung dan roboh di rumahnya sendiri. Artikel berbasis penelitian etnografi ini bisa jadi bersifat lokal namun berpretensi ambisius. AoInsidenAo yang terjadi di jurusan Sastra Inggris UNS senyatanya paralel dengan kondisi aktual disiplin sosial humaniora di tingkat global, di mana bidang ilmu STEM (Science. Technology. Engineering. Mat. merajai lanskap pendidikan. Berkaca pada realitas obyektif tersebut, yang nyata-nyata tidak berpihak pada ilmu sosialhumaniora, makalah ini berambisi memproduksi AokejutanAo di tengah keputusasaan massal atas makin terbonsainya disiplin sosial-humaniora. Makalah yang akan saya suguhkan ini tidak hanya berusaha menjawab pertanyaan lokal sepele: Aumengapa peminatan sastra semakin ditinggalkan mahasiswa di jurusan Sastra Inggris UNS?Ay, melainkan juga berusaha menautkan persoalan lokal tersebut dengan dua teka-teki besar yang lebih krusial: pertama. Auapakah makin memudarnya pamor sastra di Sastra Inggris UNS itu merupakan ekses dari dinamika sosial budaya di tengah masyarakat Jawa dan Indonesia yang semakin antipati terhadap segala hal yang berbau AuWesternAy Barat?Ay, kedua: Aumungkinkah menurunnya peminatan sastra di level lokal itu terkait dengan arus deras kebijakan pendidikan yang makin lekat dengan komodifikasi dan komersialisasi?Ay Pendahuluan Memulai kertas kerja ilmiah dengan menyuguhkan data lokal yang mungkin remeh adalah sesuatu yang terkesan janggal, tetapi kalau data AoentengAo itu kemudian dijadikan titik tolak untuk menyibak kompleksitas dan komplikasi akut yang terjadi di sebuah institusi sosial, tak ada salahnya untuk Hal itu pula yang akan saya lakukan sepanjang lembar demi lembar kertas kerja ini, dimana data-data lokal akan saya taut-eratkan dengan realitas yang lebih luas: nasional dan bahkan global. Data dalam tabel berikut menggambarkan pilihan mahasiswa Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret Surakarta semester 6 selama rentang 6 tahun terakhir, terkait pemilihan disiplin mainstreaming yang rutin dilakukan. Angkatan Sastra Linguistik Jumlah Kajian Amerika Penerjemahan Apabila periode waktu ditarik mundur jauh ke belakang, hasilnya kurang lebih senada. Tren mahasiswa memilih sastra semakin menurun dari waktu ke waktu. Angka dalam tabel tersebut terkesan sangat remeh, dengan signifikansi dan kebermanfaatan mungkin hanya pada skala lokal institusi, tidak cukup kuat untuk dipakai untuk menggeneralisir persoalan serupa pada level yang lebih luas. Tetapi menjadi teka-teki menarik yang melatarbelakangi riset yang saya lakukan adalah persoalan yang terjadi di jurusan sastra Inggris UNS terkait minat mahasiswa . an dose. terhadap Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Jakarta Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 100 sastra yang semakin merosot terjadi bersamaan dengan kebijakan nasional pendidikan Indonesia yang tidak memberi ruang yang lebar untuk disiplin sosial humaniora serta juga paralel dengan realitas global terkait disiplin sastra dan humaniora yang semakin terjerembab dalam kubang AopembusukanAo. Kalau realitas lokal itu dianggap sebagai pucuk dari gunung es yang secara kasat terlihat oleh mata, penelitian yang melatarbelakangi kertas kerja ini adalah bagian dari upaya untuk menelisik AokeruwetanAo kompleksitas gunung es yang tidak bisa dilihat secara sekilas oleh pengamatan tanpa detail penyelidikan. Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya saya berikan dulu gambaran yang lebih jelas perihal tabel di atas. Jurusan Sastra Inggris UNS sejak awal 2000 menerapkan kebijakan 4 mainstreaming untuk mahasiswa semester 6. Mainstreaming di sini diartikan sebagai disiplin spesialisasi, dan empat yang ditawarkan adalah Sastra. Linguistik. Kajian Amerika, dan Penerjemahan: dua tersebut pertama (Sastra dan linguisti. sudah ada sejak jurusan pertama kali didirikan bersamaan dengan pendirian UNS pada tahun 1976, sedangkan dua tersebut terakhir (Kajian Amerika dan Penerjemaha. baru muncul belakangan. Kajian Amerika ditawarkan sekitar tahun 1997-an, sementara Penerjemahan masuk opsi pada awal tahun 2000-an. Mahasiswa dibiarkan memilih disiplin mainstreaming secara bebas, dan setelah pemilihan kemudian mereka mendapatkan berragam mata kuliah spesifik sesuai disiplin dan terakhir bermuara pada penulisan skripsi yang juga sejalan dengan disiplin mainstream yang dipilih. Data terbaru mahasiswa angkatan 2018 yang melakukan proses mainstreaming semester kemarin menunjukkan tak ada satupun mahasiswa yang memilih sastra sebagai disiplin mainstream pilihan. Bagi kami yang mengamati tren pudarnya sastra di institusi kami tersebut, nol mahasiswa sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya. Minat yang menurun hingga terkulminasi pada angka nol bisa dimaknai sebagai deklarasi simbolik atas runtuhnya pamor sastra di institusi lokal yang sejatinya menyandang nama mentereng AuSastra InggrisAo. Ironis karena Sastra dalam Sastra Inggris termaktub dalam buku prospektus jurusan dan diedarkan setiap jelang ujian masuk perguruan tinggi, juga dipamerkan saat orientasi mahasiswa baru. Deklarasi simbolik itu ternyata seiring sejalan dengan sekaratnya disiplin sastra dan humaniora di level global. Pada ranah global, banyak pemikir telah melontarkan gagasan terkait merosotnya Sastra Inggris (Englis. Banyak pula komentator yang mendedah analisa betapa ilmu humaniora secara global tengah terlindas oleh arus deras STEM-ifikasi. Sebagai contoh. Robert Scholes . pakar tersohor di khasanah Sastra Inggris di wilayah Amerika dalam bukunya AoThe Rise and Fall of EnglishAo menunjukkan pada kita bagaimana Sastra Inggris bermula diajarkan, berkembang dari waktu ke waktu dalam rentang siklus evolusi dinamik, terdistribusi secara global, dominan dan menjadi hegemonik hingga pada satu waktu pada periode 1990-an mulai menurun dan akhirnya mengalami proses yang disebut Scholes sebagai proses pembusukan . ecaying prose. Sementara itu. Paul Jay dalam bukunya berjudul The Humanities in Crisis and the Future of Literary Studies . menjelaskan pada kita bagaimana disiplin humaniora terus menerus digerus oleh nilai-nilai kontrahumaniora yang secara simultan terjadi bersamaan cengkeraman hegemoni sistem kapitalisme Dalam konteks lokal di tempat kami, berragam penelitian telah dilakukan untuk mendeteksi musabab serta menjelaskan kenapa krisis AosastraAo terus saja terjadi. Penelitian-penelitian tersebut lantas bermuara dalam satu suara yang sama: bahwa memang terjadi ketidaktertarikan mahasiswa untuk memilih sastra sebagai disiplin pilihan, dengan berragam alasan variatif yang AonormatifAo. Dalam kertas kerja ini, saya tidak hendak berargumentasi melawan hasil-hasil penelitian terdahulu, tetapi saya akan memakai perspektif yang berbeda, lebih melebarkan ruang gerak analisa hingga pada spasi yang lebih luas lagi. Jika saya menambatkan analisa saya pada dimensi AoteknisAo dari persoalan krisis disiplin sastra tersebut: seperti persoalan materi, sumber daya manusia, metode pembelajaran, kurikulum, mungkin penelitian ini juga bakal berakhir dengan satu simpulan klise. Namun, jika saya menginvestigasi fenomena tersebut dalam konteks sosio-kultural yang lebih luas, terutama dinamika masyarakat Jawa kontemporer, ideologi dan policy pendidikan tinggi kita, serta tensi dan kontestasi sosial-ekonomi-politik di level global, kita mungkin akan mendapatkan hasil yang berbeda. Saya juga bisa mendapatkan clue apakah fenomena mainstreaming institusi lokal bisa dipakai untuk menyibak tiga bahasan penting: . dinamika sosial-budaya di level instusi serta masyarakat Jawa kontemporer, . ekses sosial-budaya dari policy dan ideologi AoneoliberalisasiAo pendidikan tinggi kita, dan . proses pengerdilan serta pembusukan disiplin English di level global. Bertolak dari latar belakang di atas, tujuan pokok dari makalah ini adalah mengurai sekaligus menjelaskan kompleksitas dibalik memudarnya pamor disiplin sastra di Jurusan Sastra Inggris UNS, 101 | Y. Kusdianto sekaligus menginvestigasi kemungkinan keterkaitan fenomena institusi tersebut dengan dinamika di tingkat sosio-politiko-kultural yang lebih luas: lokal masyarakat, nasional dan global. Metode Makalah ini berbasis pada penelitian yang dilakukan dalam kurun formal 6 bulan, namun secara AoinformalAo pengumpulan data berlangsung bahkan sejak pertama kali saya masuk menjadi tim pengajar Jurusan Sastra Inggris UNS. Penelitian ini bernaung di bawah disiplin antropologi dan menggunakan etnografi sebagai landasan metodologis. Observasi partisipan menjadi kunci dari metode etnografi, dimana saya dan tim peneliti . elibatkan dosen lain dan mahasisw. berinteraksi secara intensif dengan objek penelitian selama rentang periode yang telah disebutkan. Metode lain yang digunakan adalah wawancara terhadap beberapa responden, terutama untuk memperjelas atau mengklarifikasi poin-poin penting yang terendus lewat metode observasi. Survey dan kuesioner juga dilakukan sebagai strategi untuk memperkaya pemerolehan data, dan juga sebagai teknik komparatif untuk berbagai temuan pada sesi observasi atau wawancara. Selain itu, penelisikan arsip dan dokumen juga dilakukan. Yang tak kalah penting, di luar rentang observasi formal dan teknik pengumpulan data disebutkan diatas, penelitian ini juga bercorak semi autoethnography, karena tim peneliti menjadikan diri selain sebagai subyek penelitian sekaligus juga obyek penelitian. Dengan kata lain, kami menjadikan diri sebagai sumber data penelitian. Pengalaman masing-masing dari kami di luar rentang waktu formal penelitian, kami jangkau kembali, dan kami kumpulkan dan letakkan dalam kerangka kerja dan proses reflektif, untuk mendapatkan detail pemahaman sekaligus dan kedalaman data. Konteks dan Setting Sastra Inggris dalam masyarakat Jawa yang berubah Dalam konteks sosio-kultural, keberadaan Sastra Inggris UNS menjadi menarik karena entitas Inggris ada di teritori kultural yang notabene adalah episentrum budaya Jawa. Perbedaan entitas budaya itu menarik untuk ditelisik dan bisa menuntun kita pada pemahaman yang lebih komprehensif atas pertanyaan pokok dari makalah ini. Terkhusus bagaimana dua entitas budaya itu dimediasi dan dinegosiasi oleh para agensi . yang berperan di dalam arena kultural tersebut. Pada dua dekade terakhir, dinamika masyarakat Jawa kontemporer semakin dipengaruhi oleh gerakan massif Islamisasi . aik itu internalisasi dan institusionalisas. di setiap lini sosial-budaya, menjadikan mayoritas orang Jawa semakin meninggalkan aspek-aspek AoabanganAo mereka, juga mistisisme AoJawaAo mereka demi menggapai identitas sebagai muslim yang taat agama . ious mosle. Sebagai konsekuensi masyarakat Jawa yang semakin Islam, kita bisa melihat bagaimana proses AopembersihanAo nilai-nilai juga tengah terjadi di masyarakat: yang bertentangan semakin dikerdilkan dan ditinggalkan. Banyak contoh bagaimana adat, norma dan etika yang mencirikan kekhasan Jawa tidak lagi mendapatkan tempat, sementara pada era 1980-an ketika Barat dan Holywood begitu dominan, kini juga kian terpinggirkan. Sastra Inggris dalam setting Jawa yang berubah menjadi unik, lantaran Sastra Inggris bisa jadi menyandang beban nilai dan ideologi AoBaratAo yang tentu tidak berterima di kalangan Jawa yang kian Islam. Perlu dibedakan antara Sastra dan Bahasa Inggris. Sebagai Bahasa. Inggris masih dianggap diperlukan oleh masyarakat karena penguasaan Bahasa adalah bagian dari taktik dan strategi kultural dalam setiap kontestasi sosial-politik-budaya. Sementara Inggris sebagai sastra tentu lebih susah berterima dibanding Inggris sebagai Bahasa. Tentu karena sastra selalu erat terkait dengan nilai dan ideologi, dan sastra Inggris tentu membawa stigma ideologis AuBaratAy yang jelas kontra-produktif bagi masyarakat Jawa kontemporer. Pendidikan Tinggi dan Komodifikasi Global Diakui atau tidak, model pendidikan tinggi yang kini tengah digencarkan Indonesia jelas berpatron pada institusi pendidikan di Barat. Hal tersebut tidak hanya terjadi di tempat kita, melainkan juga serentak seragam di seluruh dunia. McDonaldisasi institusi pendidikan bukanlah isapan kosong yang tanpa dasar bukti pembenaran. McDonaldisasi tak hanya mencakup AohardwareAo dan AosoftwareAo institusi, tetapi juga tak kalah penting, arah dan orientasi dari pendidikan tinggi itu sendiri. Penyeragaman serentak atas model, tata kelola, praktek dan apparatus serta nilai-nilai juga tengah terjadi, mengalami proses setting, tune-up dan kalibrasi sedemikian rupa hingga lembaga terlihat homogen, sama rupa. Rejim Aopanopticon administrativeAo seperti akreditas dan system audit makin Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 102 dominan dan merajalela berbarengan dengan menyebarnya ilusi tentang sistem pemeringkatan institusi yang dianggap sebagai alat ukur absolut untuk menilai kualitas. Sementara itu, pada aras arah dan orientasi, pendidikan tinggi kerap dicap sebagai lembaga pendulang keuntungan dalam konstelasi bisnis pengetahuan antara pengguna/pelanggan . ser/custome. roducer/selle. Maka tak heran, istilah dan jargon komersialisasi dan komodifikasi sering menghampiri telinga kita pada satu dasawarsa terakhir. Disadari atau tidak, insitusi pendidikan tengah mengubah wajah menjelma institusi yang berorientasi pada pragmatism Metamorfosa itu seiring dan sejalan dengan apa yang terjadi di level global, ketika pendidikan tinggi bahkan sejak 1993 ditabhbiskan untuk Aodiperjual-belikanAo, dijadikan objek jualan dalam arena Aotransaksi ekonomi globalAo, melintasi batas negara-bangsa. Dengan memakai sudut pandang seperti itu, keseragaman institusi pendidikan tinggi di seantero jagat menjadi hal yang sangat bisa dipermaklumkan. Semakin meraksasanya pengaruh pragmatism ekonomi di arena pendidikan, juga berimplikasi pada prioritas dan fokus pendidikan tinggi di setiap negara-bangsa. Berbarengan dengan kompleksitas Aodivision of labourAo dari masyarakat modern yang terkonsentrasi pada wilayah hidup yang AoteknisAo dan AopraktisAo, maka institusi juga harus melayani perihal yang AoteknisAo dan AopraktisAo itu. Tak ayal, disiplin yang AopraktisAo dan AoteknisAo menancapkan dominasi dalam lingkup peradaban kontemporer, makin menguatkan peran STEM (Science. Technology. Engineering and Mat. dan juga berragam disiplin lain yang AopraktisAo dan AoteknisAo di satu sisi, dan tentu meminggirkan disiplin humaniora di lain sisi. Humaniora dan sastra adalah disiplin AuabstrakAy yang sungguh tidak menjual bagi institusi, sementara bagi pengguna sastra dan humaniora adalah disiplin kelas dua yang jelas kalah bergengsi dibanding beberapa disiplin yang ada di level utama. Hasil dan Pembahasan Mainstreaming di Sastra Inggris UNS: Agensi dan Politik Beberapa riset terdahulu mengeksplorasi berragam kemungkinan aspek yang menyebabkan AomemudarnyaAo pamor Sastra di kalangan mahasiswa Sastra Inggris UNS. Bermacam sebab yang bersifat kontradiktif disuguhkan oleh penelitian terdahulu, seperti: mahasiswa suka membaca novel, suka menulis puisi, tetapi untuk memilih sastra sebagai mainstream pilihan sepertinya tidak dilakukan. mahasiswa memahami bahwa sastra mengajarkan nilai-nilai yang baik, tetapi sastra juga terlalu abstrak bagi mahasiswa. dan berragam konstruksi kontradiktif lainnya. Penelitian terdahulu juga mengungkap bermacam diagnosa dan formula: Audosen atau pengajar mesti lebih kreatifAy. Aumateri ajar diusahakan menarik dan mampu menarik minat mahasiswaAy. Aukebiasaan dan intensitas membaca mahasiswa mesti lebih di tingkatkan dan di motivasi,Ay dan berragam nasihat AobijakAo serupa. Tak ada yang salah dengan hal-hal tersebut. Saya sepenuhnya setuju. Tetapi, insting AoantropologisAo saya berteriak meminta penjelasan yang lebih jauh, tentang deskripsi yang lebih AotebalAo atas persoalan yang terjadi, juga tentang kemungkinan lapis-lapis makna atas data yang telah ada yang tidak melulu ditafsir secara denotatif, atau kalau kita patuh pada Roland Barthes . , penjelasan atas makna lapis kedua juga sangat diperlukan. Dalam konteks antropologi/sosiologis, setiap institusi adalah semacam sosial arena, dimana individu sebagai agensi saling berkontes satu sama lain: entah dalam kerangka kerjasama atau juga dalam kerangka pertempuran ide dan pikiran. Satu hal yang mesti diingat, tak ada satu institusi masyarakat yang steril dari kepentingan AopertarunganAo antar agensi tersebut. Tak ada teritori institusi yang benar-benar bersih dari kepentingan AopolitikAo di antara agensi. Maka, mainstreaming sebagai salah satu praktek dalam institusi kami, juga merupakan arena representasi dari relasi dan kontestasi antar-individu yang bernaung didalamnya. Mainstreaming juga bisa diartikan sebagai kulminasi simbolik yang melibatkan kontestasi naratif dan kompetisi performatif, dimana mahasiswa telah AodigelontorAo narasi selama 2. 5 tahun dan dosen juga telah AoberpromosiAo selama rentang waktu Terlalu berlebihankah menganggap mainstreaming sebagai arena simbolis sebagaimana saya ungkap? Bisa ya, bisa tidak. Pernyataan berikut mungkin bisa memoderasi atmosfer hiperbolik yang mungkin disangkakan. Setiap aksi dalam arena sosial-budaya dimana tindakan, secara kumulatif di formulasikan AupilihanAy dan AopreferensiAo selalu berisikan motif AopolitikAo, apapun pilihan dan tindakan yang diambil. Lebih jelas terkait Aomotif politikAo bisa kita lihat dari ungkapan yang saya temukan selama observasi, sebagai berikut: 103 | Y. Kusdianto AuSaya memilih mainstream Z, karena jelas saya ingin lulus lebih cepat. Karena menurut cerita kakak tingkat, mahasiswa yang memilih mainstream Z banyak yang lulus lebih cepat. Ay AuSaya tidak memilih mainstream Y, karena kebanyakan teman-teman tidak memilih mainstream itu. Ay AuKarena saya ingin dapat pekerjaan yang sepertinya bisa dicapai jika saya memilih mainstream X, maka jelas saya akan pilih mainstream X tersebut. Ay Retorika memakai kata sambung AokarenaAo mengandung tujuan yang pada titik tertentu lekat dengan motif politik, jika kita menganggap politik adalah hal-hal yang berorientasi pada tujuantujuan tertentu. Atau lihat-bandingkan dengan ungkapan AopenyangkalanAo berikut ini: AuSaya menyukai sastra, tetapi disiplin itu terkenal sulit, dan saya takut kalau saya tidak bisa mengikuti perkuliahan di mainstream tersebut. Ay AuSaya sebenarnya menyukai sastra, tetapi memilih disiplin mainstream yang berbeda, karena bagi saya mungkin lebih mudah bagi saya mengikuti kuliah yang lebih konkret dan tidak abstrak. Ay Dua statemen yang didapat dari hasil observasi tersebut, juga mengandung Aomotif politikAo dari agensi mahasiswa. Menjadi lebih rumit lagi, ternyata mahasiswa tidak benar-benar secara otonom mempunyai kedaulatan untuk menjatuhkan pilihannya. Tetapi pilihan mahasiswa juga dipengaruhi oleh intervensi dari pihak lain, sebagaimana pernyataan berikut ini memberi penjelasan: AuSaya memilih mainstream X karena saya dapat informasi dari kakak tingkat bahwa bimbingan di mainstream tertentu jauh lebih susah, sedangkan di mainstream yang saya pilih ini, pembimbing skripsi banyak yang baik hati dan tidak menyusahkan mahasiswa. Ay AuSaya memilih mainstream Y karena menurut cerita dosen saya nanti bisa melanjutkan S2 yang juga tersedia di institusi ini. Ay AuSaya tidak memilih mainstream W, karena dosen di mainstream tersebut &*). Ay Dan banyak lagi pernyataan senada dari para mahasiswa. Apakah hal-hal tersebut sekadar gosip? Isapan jempol? Basa-basi? Fakta atau rumor? Tak menjadi soal apakah itu gosip, basa-basi, fakta, rumor, lantaran apapun namanya semua itu adalah realitas antropopologis, dan dalam sudut pandang antropologi hal yang remeh pun sebenarnya mempunyai makna yang bisa jadi Aotidak remehAy. Sama seperti ketika Antropolog James C Scott . menafsir bagaimana hentakan kaki yang pelan dari salah satu petani saat para petani dipaksa berjajar demi menyaksikan dan mengelukan penguasa politik yang sedang melintas bisa dimaknai sebagai bentuk resistensi dari mereka yang AolemahAo dan tidak punya posisi tawar yang memadai dalam konstelasi relasi kuasa. Logika yang sama bisa diterapkan. Dan kita mesti bisa menafsirnya, mengurai setiap lapis makna dari fakta yang remeh sekalipun, terkait mainstreaming itu. Pilihan mainstreaming para mahasiswa tentu dikonstruksi oleh citra Aososial-kultural-politikAy tertentu, yang kemudian mencetakkan stereotype, imaji positif atau pula kesan negatif. Citra dan stereotype itu lantas beredar sedemikian rupa, di kalangan mahasiswa: entah dalam bentuk bisikbisik antar mahasiswa, atau pernyataan yang lebih eksplisit, atau malah gestur dan respons spontan saat berdiskusi terkait Aomata kuliahAo dan Aodosen pengajarAo. Imaji dan stereotype itu kemudian menjelma bola liar yang menggelinding kemana saja dan bisa diAosepakAo dan diAogorengAo oleh siapapun agensi demi kepentingan AopolitikAo mainstreaming setiap agensi yang sedang berkontestasi. Hampir tidak mungkin citra dan stereotype itu nir-kepentingan. Citra dan stereotype bahkan acap di langgengkan demi kepentingan AokeseimbanganAo . tau ketimpangan?) relasi kekuasaan yang telah stabil terbangun. Sebagaimana pernah dijelaskan sosiolog Michel Foucault . bahwa setiap individu selalu akan berupaya untuk menaikkan posisi tawarnya dalam konfigurasi relasi kuasa, entah itu disadari atau tidak, dengan menggunakan berbagai taktik yang disebut Foucault sebagai Auteknologi politikAy. Mematuhi konsep di atas, lantas, apakah rumor, gosip, basa-basi atau apapun respon dari setiap agensi terkait mainstreaming adalah representasi dari teknologi politik yang dijalankan individual? Jelas demikian adanya. Di tengah atmosfer pendidikan tinggi yang semakin marak dan dipenuhi dengan pragmatisme politik yang dibawa oleh semangat jaman . kapitalisme global, dimana praktis-opportunis dan profit-akumulatif menjadi nilai-nilai yang diglorifikasi, teknologi politik agensi-pun tak bisa Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 104 dilepaskan dari kendali Aosemangat jamanAo tersebut. Dalam iklim pragmatisme politik, individu berorientasi pada hasil akhir, yang mana hasil akhir dinilai dan diukur berdasar angka atau numerik AoeksakAo. Dalam sergapan pragmatisme politik juga, individu dipaksa untuk seolah-olah harus berkontestasi dengan individu lain dan bahkan dengan dirinya sendiri untuk mencapai hasil akhir yang AodiwajibkanAo maksimal. Maka individu menjelma aktor-aktor pragmatis, yang mengedepankan hal-hal akhir yang praktis dan terukur. Teknologi politik yang di eksplorasi individu dalam arena sosial-budaya instusi lokal Sastra Inggris itu pun kini juga berkait erat dengan gegap gempita pragmatisme politik itu. Ungkapan-ungkapan mahasiswa yang telah dikutipkan diatas, bisa diteropong secara AokontekstualAo dalam kerangka pragmatisme politik, dan ekspresi mahasiswa berikut begitu mewakili bagaimana pragmatisme itu terucap: Ausaya suka sastra. TETAPI, sastra tidak memberi jaminan pada saya untuk lulus cepat. Ay Mainstreaming dapat juga dipahami sebagai pasar simbolik, dimana moda transaksi ada di sana: semua pilihan digelar agar dipilih, sementara promosi dan persuasi juga dilancarkan dalam setiap agitasi dan pembicaraan harian antar agensi individual yang terlibat. Agenda dari setiap agensi pasti berbeda dan bervariasi namun mereka disatukan oleh satu tujuan simbolik: menarik minat para AokonsumenAo mainstreaming dan memenangkan kontestasi mainstreaming. Maka, tak ada yang berbeda dari dua statement, yang sering beredar di kalangan mahasiswa: . Aumainstream kami sudah penuh dengan mahasiswa, jadi jika kalian masih tetap memilih mainstream kami, takutnya kalian nggak akan dapat perhatian yang maksimalAy dan . Saya punya banyak mahasiswa bimbingan, dan sebagian besar dari mereka bisa mengerjakan skripsi dengan baik dan mampu lulus cepat. Dua kalimat menggunakan pendekatan yang berbeda, satu Aomenakuti-nakutiAo sedangkan yang lain Aomenunjukkan kebanggaanAo. Meski terlihat berbeda di permukaan, kedua kalimat secara konotatif bertemu dalam satu titik persamaan, dan bahkan memproduksi efek yang sama di kalangan Kalau lapis makna konotatif itu di-rekonstruksikan dalam kalimat berikut, bisa jadi keduanya berakhir seperti berikut ini: AuLihat, disiplin kami selalu penuh dengan AopelangganAo, dan kita menjanjikan produk yang terbaik. Terserah kalian mau ikut kami atau tidak. Ay Tidak adanya regulasi dan aturan main yang ketat membuat mainstreaming di institusi kami tak ubahnya pasar bebas, dimana transaksi sosial-budaya tidak diatur dan dibatasi secara ketat dan fair. Dalih yang digunakan adalah kebebasan memilih disiplin yang dilakukan oleh mahasiswa tidak bisa dibatasi, karena jika dibatasi dan diatur itu tak ubahnya AomendzholimiAo mahasiswa. AuBiarkan mahasiswa memilih pilihan yang disukai mereka, tanpa perlu dibatasi dan diatur dengan kuota dan Ay Logika tersebut sama persis dengan logika Aofree marketAo yang kini menjadi nafas globalisasi Pasar bebas tidak boleh diatur. Pasar bebas tidak boleh diintervensi oleh negara. Karena mekanisme pasar akan menemukan jalan keseimbangannya sendiri, terutama lewat apa yang disebut sebagai invisible hands. Pasar yang tidak diatur, dan dibiarkan mengatur dirinya sendiri adalah pasar bebas . ree trad. , dan bukannya pasar yang adil . air trad. Alasan yang dipakai bahwa membatasi pilihan mahasiswa berarti membuat mahasiswa dalam posisi terkekang, sebenarnya juga bisa dibaca sebagai sesuatu yang sangat AopolitisAo yang mungkin diproduksi oleh agensi individual. Pasar bebas dipercaya membawa kebermanfaatan dengan model Autrickle down effect of wealthAy, di mana yang kaya, makmur dan sejahtera akan mengalirkan kesejahteraan kepada mereka yang papa. Pasar bebas juga dipercaya meningkatkan kemampuan daya saing dari para pelaku pasar. Dua rasionalisasi pasar bebas tersebut sekilas benar, tetapi pada kenyatannya, kita mendapatkan realitas yang berbeda. Pasar bebas memproduksi kesenjangan yang lebar, demikian pula dalam konteks mainstreaming, jurang yang lebar diproduksi sehingga disiplin sastra mendapatkan 0 mahasiswa, sedangkan di mainstream disiplin lain mahasiswa berdesak-desakan. Kemudian kalau dalih AopendzholimanAo pada mahasiswa jika ada aturan batas kuota dalam transaksi mainstreaming lantas berakibat pada salah satu disiplin mainstreaming yang melompok dan akhirnya runtuh, mungkin pembelaan itu bisa Apakah pasar bebas mainstreaming adalah kebijakan yang paling tepat? Mainstreaming di institusi kami serupa kaca benggala yang jernih, yang mungkin bisa memantulkan bayangan kenyataan di level global, di mana kini sudah menjadi kebenaran umum betapa pendidikan adalah item yang prospektif untuk diperdagangkan. Kita mengetahui bagaimana berbagai disiplin ilmu ditawarkan sekaligus dipasarkan, dan calon mahasiswa dan juga mahasiswa tak ubahnya menempati posisi sebagai konsumen. Kemampuan menarik konsumen sepenuhnya tergantung strategi pemasaran: bagaimana disiplin ilmu memasarkan diri, bagaimana disiplin ilmu menciptakan imaji positif pada kosumen, dan bagaimana disiplin ilmu melabeli diri mereka dengan 105 | Y. Kusdianto kualitas, dan juga tak kalah penting, bagaimana disiplin ilmu di kendalikan oleh obsesi dan keinginan pasar di satu sisi, sekaligus memanipulasi persepsi konsumen/pasar di sisi yang lain. Prioritas proyek STEM pada level Pendidikan Tinggi di dunia barat sudah dikenalkan sejak tahun 1990-an, dan terus dipuji karena, pertama, mendekatkan dunia industri dengan lembaga pendidikan kedua, mampu memberikan manfaat praktis-ekonomi pada manusia modern. Proyek STEMifikasi sendiri mempunyai logika dan pembenarannya sendiri: bahwa dunia membutuhkan teknologi yang lebih praktis dan membantu secara konkret persoalan manusia modern, maka dunia memerlukan lebih banyak disiplin yang mampu menyediakan hal-hal yang sesuai dengan keinginan Dunia lebih membutuhkan disiplin yang konkret dan dapat digunakan, mudah diaplikasikan, dibanding disiplin pengetahuan yang AomenjualAy nilai-nilai abstrak dan mungkin absurd. Tak heran, prioritas terhadap STEM langsung melejit sejak awal dideklarasikan dan hegemoni secara global terus berlangsung hingga saat ini. Bukan suatu hal yang kebetulan jika kemudian semakin popular dan puja-puji disiplin STEM berbarengan dengan merosotnya disiplin humaniora, termasuk Sastra Inggris di level global. Humaniora jelas bukan ilmu yang berterima bagi pasar global. Dan sangat susah menjual AopracticabilityAo dari disiplin humaniora, terutama Sastra Inggris (Englis. , dengan mengingat betapa setiap lini kehidupan manusia memprioritaskan diri pada hal-hal yang praktis-konkret-pragmatis. Pemerintah di berbagai negara pun juga menggenjot bagaimana mengisi celah-celah Aopraktis-konkert-pragmatisAo itu dengan menghadirkan semakin banyak pilihan disiplin yang merepresentasikan kebutuhan pasar. Humaniora, terkhusus sastra dan sastra Inggris, hanyalah pengisi senggang atau serupa selingan rekreatif bagi mereka yang kelebihan uang. Humaniora dan sastra mungkin tidak lagi dianggap penting, lantaran dunia sudah menemukan Aoiman baruAo mereka dalam segala hal yang berkait dengan trisula Aopraktis-konkret-pragmatisAo. Sebagai komoditas dalam dunia yang makin dirajai oleh logika pasar, humaniora dan sastra semakin terdegradasi nilai jualnya. Sastra Inggris menderita karena ketidakmampuan menjual prospeknya di tengah pasar global pendidikan tinggi. Global dan Lokal: Sastra Inggris dan Beban Ideologis Data remeh lain yang saya dapatkan dari hasi observasi dan mungkin bisa melengkapi analisa yang telah dilakukan diatas adalah terkait kontras yang terjadi di jurusan lain di Fakultas yang sama. Sebelumnya saya menyangka bahwa takdir AosastraAo di semua jurusan di Fakultas yang sama mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Tetapi saya sedikit terhenyak sekaligus terhentak ketika menemukan betapa di jurusan yang lain: Sastra Daerah. Sastra Arab, dan Sastra Indonesia, disiplin sastra bahkan malah berjaya. Di jurusan Sastra Indonesia, tren sejak dulu dan berlangsung sampai sekarang, minat mahasiswa paling tinggi pada mainstream disiplin linguistic, sedangkan sastra menempati urutan kedua dengan jumlah fluktuatif, sedangkan filologi gagal menarik minat mahasiswa dengan terus menempati uruan Kasus yang mengejutkan terjadi di Jurusan Sastra Jawa . dan Sastra Arab. Sastra menempati mainstream disiplin yang selalu teratas, dengan animo mahasiswa selalu membeludak. Pertanyaan yang menarik kemudian, apakah bisa diartikan bahwa yang terjadi di jurusan Sastra Inggris adalah persoalan Aolokal institusiAo belaka yang tentu tidak bisa dipakai untuk menggeneralisir kompleksitas faktual yang lebih luas? Secara makna lapis pertama, mungkin iya. Tetapi dari aspek lapis makna yang kedua, mungkin tidak juga. Mengapa problem pudarnya minat mahasiswa terhadap disiplin sastra hanya terjadi di institusi Sastra Inggris, dan tidak terjadi di jurusan yang lain? Responden dari Sastra Jawa merespon pertanyaan saya tersebut dengan menyebutkan kemungkinan masalah, yang semuanya juga bermuara pada persoalan Aoteknis institusiAo sebagaimana saya udar di awal makalah ini. Apakah benar cuma sekadar persoalan teknis belaka: materi, sumber daya, kurikulum, dsb dsb? Bisa jadi ya, bisa jadi juga tidak. Saya mesti keluar dari perangkap AomikroAo itu lagi untuk melebarkan pemahaman saya guna mendalami persoalan yang sebenarnya terjadi. Bagaimana kalau mengaitkan kejadian mikro tersebut dalam kaitannya dengan dinamika sosial-budaya di masyarakat Jawa kontemporer? Apakah kita bakal menemukan jejaring makna yang sama atau malah mungkin sebaliknya? Sebagaimana telah banyak disuarakan oleh peneliti baik asing maupun lokal, masyarakat Jawa mengalami perubahan yang sangat mendasar di segala lini beberapa dekade terakhir. Apa yang dulu pernah diteorikan oleh antropolog Clifford Geertz . terkait klasifikasi sosial masyarakat Jawa, mungkin sudah tak lagi relevan. Klasifikasi santri, priyayi, abangan, kini jelas tak lagi akurat untuk menyebut masyarakat Jawa yang semuanya telah menjelma AosantriAo dengan jumlah AoabanganAo Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 106 yang semakin menyusut, sementara kategori priyayi, tentu malah telah hilang kemana, atau bahkan mungkin bertransformasi menjadi entitas Aopriyayi hijauAy. Tradisi penting slametan yang menjadi AoruhAo dari lokalitas Jawa sejak beratus-ratus tahun, juga telah lesap dan digantikan dengan ritual Islam yang kini mendominasi lini hidup masyarakat Jawa. Tata berpakaian lokal Jawa juga mungkin di ambang kepunahan, bahkan dalam acara seremonial semacam pernikahan, mulai ada perpaduan antara Jawa dan Islam atau malah model rias pengantin Jawa sudah tak lagi menjadi preferensi sama sekali. Pada setting tahun ketika Geertz melakukan penelitian, saya melihat fenomena Aokeberagaman dalam keberagamanAo di mana seluruh warna dan aneka AorasaAo budaya dirayakan pada saat itu. Transisi budaya dan kontestasi narasi begitu riuh pada era 1960-an, setting waktu ketika Geertz melakukan penelitian di Mojokuto. Tetapi perubahan dramatis terjadi dengan sangat cepat. Hanya dalam rentang waktu 4 dekade, satu variabel keberagaman itu teringkus menjadi homogenitas, dan saya menyebut situasi yang terjadi di Jawa saat ini lebih dekat pada Aukeberagaman pada keseragamanAy. Jika kita mengikuti thesis yang dibangun MC Ricklefs . dan beberapa pengamat budaya lainnya, dan kemudian berbagai analisa tersebut bisa ditahbiskan dalam satu kalimat singkat dan tebal: bahwa proyek Islamisasi di Jawa telah berhasil dengan sukses. Saat ini identitas masyarakat Jawa seperti disatukan dalam satu stempel homogen AuIslamAy dan identitas lokal yang tadinya berragam kini mengarah pada proses homogenisasi itu. Dengan menyandarkan diri pada berbagai premis dan argumentasi diatas, saya kembali pada kasus kontradiktif terkait pilihan sastra di berbagai jurusan di UNS yang mengalami jumlah peminatan yang berbeda. Sementara di Sastra Inggris, disiplin sastra menjadi yang paling sepi peminat, di jurusan yang lain Sastra Arab dan Sastra Jawa, sastra menjadi yang paling popular. Dalam mendapatkan makna lapis kedua, sebagaimana Roland Barthes berargumen, pemaknaan dijalankan dengan menggunakan berragam apparatus pengetahuan di sekitar AoteksAo atau AotandaAo, selain juga beraneka data-data makro yang melingkupi teks dan tanda tersebut. Maka muncul dua kemungkinan terkait anomali disiplin sastra di Fakultas Ilmu Budaya UNS. Pertama. Sastra Jawa dan Sastra Arab di Fakultas Ilmu Budaya UNS bisa jadi lebih dekat pada identitas kultural masyarakat Jawa kontemporer yang semakin Islam, sementara Sastra Inggris semakin bergerak ke arah yang berlawanan, dimana patron Barat dengan budaya AoHolywoodAonya kian mendapatkan tantangan yang beraneka ragam. Jika penelitian ini diadakan pada awal 1990-an, hasilnya tentu akan berbeda, dan apapun pilihan mahasiswa terkait sastra di dua arena institusi lokal tersebut mungkin juga akan bisa memberikan gambara dinamika sosial budaya saat itu. Sama seperti ketika Suzanne Brenner . melalui penelitian pada mahasiswi di lingkup masyarakat Jawa yang sedang mengalami masa transisi antara memakai jilbab atau tidak. Pada saat itu, mahasiswa yang memakai jilbab masih minoritas, sementara mahasiswi yang belum mengenakan jilbab masih mendominasi pemandangan kampus. Pada rentang waktu itu pula, kalau saya menjangkau ingatan ke masa lalu: mahasiswa Sastra Inggris yang mengambil sastra sebagai disiplin mainstreaming masih lumayan banyak. Juga saya menyaksikan betapa fanatisme terhadap Barat dan Holywood masih begitu menyilaukan di kalangan mahasiswa. Barat adalah patron, mulai dari gaya berpakaian dan mungkin juga cara berbicara, menanamkan kesadaran tentang West yang superior di kalangan kita. Tetapi jaman berganti, dan preferensi berubah substansi. Pendulum bergerak ke arah yang berlawanan. Masyarakat kita sekarang mulai enggan menjadi kebarat-baratan. Seiring dengan arus deras Islamisasi yang mengubah wajah masyarakat Jawa kian Islamis. Barat bahkan sering diposisikan sebagai anti-tesis dari Islam. Maka tak mengherankan, apabila disiplin sastra pada institusi Sastra Inggris dalam arena sosial masyarakat Jawa dianggap sebagai bagian integral dari budaya Barat. Konsekuensinya sangat frontal. Sastra Inggris sebagai sebuah disiplin bisa jadi menyandang stigma yang sangat negatif. Banyak seminar dan konferensi diselenggarakan untuk merekonstruksi arah Sastra Inggris di Indonesia, dan mungkin salah satu pemicu maraknya pertemuan semacam itu adalah karena Inggris sebagai disiplin yang semakin mesti dijauhkan dari pemahaman masyarakat yang makin anti-Barat. Kita mungkin bisa menguji proposisi tersebut lebih jauh dengan penelitian lain yang lebih spesifik dan detail untuk memperkuat argumentasi yang telah diajukan. Tetapi, beruntunglah saya, hampir sebagian besar fakta sosial-budaya yang terjadi di lingkup institusi akademi menguatkan argumentasi tersebut: bagaimana Islam semakin dominan secara institusional di satu sisi, dan internalisasi nilai-nilai Islam itu sekarang telah mengubah tindak tanduk dan tata laku akademia di lingkup institusi akademik. Bagaimana dosen dan mahasiswa memulai kuliah yang berpengantar bahasa Inggris dengan mengucapkan salam bernuansa keagamaan . ssalamuAoalaiku. , untuk menggantikan English greetings seperti: Aogood morningAo atau how are you going? Dan berragam 107 | Y. Kusdianto tindak tanduk lain yang menunjukkan bagaimana karakter keagamaan lebih dikedepankan sekalipun itu dalam kuliah yang berbahasa Inggris. Kedua, sebagai disiplin, sastra Inggris di level lokal sangat mungkin memikul beban ideologis sehingga membendung ruang gerak yang tadinya lincah. Karena angin jaman yang tak lagi berpihak pada disiplin tersebut, manuver di level lokal menjadi sarat beban dan lamban. Ditambah lagi dengan keberadaan narasi bahwa sastra dan budaya Inggris berakar pada nilai-nilai kristianitas, sekuler, dan liberal, yang tentu tidak produktif bagi para individu di tingkat lokal yang mesti mengajarkan dan menjelaskan perihal nilai-nilai tersebut secara obyektif. Demikian pula bagi mereka yang hendak mempelajari Sastra Inggris sebagai sebuah disiplin yang mengandung nilai-nilai dan ideologi tertentu yang berbeda dengan nilai dan ideologi yang dianut. Tentu ada keengganan untuk memperdalam secara serius. Pada titik itu, keberadaan Sastra Inggris dalam ruang masyarakat Jawa kontemporer sungguh mengalami kemerosotan, baik dalam minat dari mereka yang mempelajari, sekaligus kehilangan daya tarik bagi mereka yang ingin mengajarkan. Simpulan Pahit memang untuk dikatakan bahwa memudarnya pamor disiplin sastra di jurusan Sastra Inggris UNS mencerminkan persoalan yang kompeks nan akut, yang dipengaruhi tak hanya soal kontestasi AoagensiAo di level lokal, tetapi juga dinamika sosial-budaya di lingkup masyarakat yang menaungi, serta ekses kebijakan Pendidikan tinggi yang berorientasi pada nilai-nilai neoliberalisme yang terus digencarkan oleh agensi global. Pertanyaannya kemudian, mungkinkan mengurai benang kusut kompleksitas tersebut, sehingga disiplin Sastra di Jurusan Sastra Inggris bisa kembali menemukan sinar pencerahannya? Paralel dengan pertanyaan lokal itu, pertanyaan kedua mengikuti: adakah kemungkinan menghentikan proses AopembusukanAo Sastra Inggris di level global sehingga pamor English kembali bisa berjaya? Pilihan jawabannya ada dua yakni: AumungkinAy dan AumustahilAy. Pada level global terlebih dahulu, kalau boleh jujur pada diri sendiri, saya akan mengatakan mustahil untuk mengembalikan kejayaan disiplin AuEnglishAy sebagaimana dulu pernah dialami. Hal ini mutlak disebabkan karena semakin tidak tertandinginya globalisasi neoliberal yang membawa nilainilai yang jelas tidak produktif bagi usaha membangkitkan kembali kejayaan Sastra Inggris dan juga disiplin humaniora secara global. Sama mustahilnya meminta institusi dan agensi neoliberal untuk menghentikan kampanye Aopasar bebasAo mereka. Impian untuk mengubah pasar bebas menjadi pasar yang adil pasti membutuhkan perjuangan yang sangat panjang dan melelahkan, dan bahkan akan menghabiskan harapan dari perjuangan itu sendiri. Namun kalau boleh sedikit berharap, disiplin humaniora, termasuk sastra, bisa memainkan peran untuk terus menyalakan lilin di tengah pijar dan bingar dari gemerlap kapitalisme global itu. Sampai batang parafin habis digerus oleh nyala api yang kian tak terlihat. Sampai sumbu api itu makin memendek, mengecil dan akhirnya api mesti padam, dan tak ada yang merisaukan soal padamnya api kecil itu. Untuk kompleksitas lokal mainstreaming, saya lebih bisa berharap, dibanding memelihara pesimisme yang berlebihan. Thomas Kuhn . mengajarkan pada kita tentang teorema Auparadigm shiftAy: betapa dalam situasi krisis, dimana paradigma yang lama tidak lagi mampu menyelesaikan kompleksitas yang terjadi, maka selayaknya kita membuka diri untuk merumuskan paradigma yang baru. Perumusan paradigma yang baru tersebut tentu akan berakibat adanya perubahan yang radikal, yang menjungkirbalikkan sesuatu yang telah kita anggap sebagai Aokebenaran umumAo. Tetapi itu, bagi Kuhn, adalah sebuah keniscayaan yang harus dijalani, agar ilmu terus bisa dikembangkan. Paradigma lama yang terus dianut di Sastra Inggris sejak mula didirikan adalah mahasiswa diajarkan untuk terus menerus bersikap AopasifAo dan AumengkonsumsiAo. Dengan kata lain, mahasiswa dan bahkan mungkin pengajarnya hanya menjadi agensi yang menerima, membaca dan AomerekonstruksiAo apa yang ada. Dan hal tersebut berlangsung menahun, mengakar, tanpa kita pernah mempertanyakan. Pergeseran paradigma adalah semestinya kami mengubah cara pandang dan tata laku kami: dari sebelumnya AupasifAy dan AumengkonsumsiAy, menjadi AuaktifAy dan AumemproduksiAy. Bagaimana perubahan paradigma itu dijelaskan lebih konkret. Sejak pertama kali didirikan, jurusan Sastra Inggris dengan berbagai mata kuliah sastra dan kemudian berakhir pada penulisan skripsi memprioritaskan pada pembacaan dan pengkajian karya sastra Inggris. Dengan perubahan paradigma, dari pasif mengkonsumsi, menjadi aktif memproduksi, mahasiswa dan dosen berdialektika dalam menuliskan karya sastra Inggris dalam versi lokal kami sendiri. Kami semestinya memberi peluang dan kemungkinan untuk menggantikan skripsi yang biasanya berakhir di rak buku Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 108 dan kemudian berdebu itu, atau mungkin tersembunyi di rerimbunan folder komputer atau server perpustakaan, dengan proyek akhir mahasiswa berupa penciptaan karya sastra seperti novel, puisi atau skenario drama/film dengan memakai Bahasa Inggris. Proses aktif memproduksi itu akan setidaknya akan memompa kembali semangat yang kendur di tengah mahasiswa yang makin pragmatis dan sekaligus juga memudakan kembali semangat pengajar yang sudah AomenuaAo bukan karena usia, melainkan lantaran terjebak dalam labirin metode dan moda yang begitu-begitu saja. Produksi karya sastra Inggris versi lokal itu semestinya menjadi proyek individual sekaligus proyek Mahasiswa belajar menulis, mengembangkan imajinasi dan logika pikiran kritis, serta menumpahkan segala daya kreatifnya dalam proses menulis karya sastra. Sementara pengajar juga terus aktif berdialog dalam proses kreatif tersebut, tentang sagala aspek intelektual dan kreativitas yang bisa dieksplorasi dalam proses penciptaan karya sastra itu. Hingga akhirnya proses tersebut mencapai puncaknya dalam penerbitan karya sastra Inggris versi lokal yang disponsori institusi, untuk di blow-up lewat berbagai kanal media. Dalam era kebebasan media seperti ini, tak ada waktu yang lebih tepat untuk menciptakan versi Aosastra InggrisAo lokal sendiri. Sastra Inggris yang bisa melepaskan diri dari beban ideologi AuBaratAy yang terus menerus ditentang dan dipertentangkan dengan ideologi Entah warna ideologi apa yang bakal diusung oleh berbagai karya sastra dalam balut Sastra Inggris lokal itu, yang jelas harapan akan kembalinya perayaan kemerdekaan dan heterogenitas itu akan mulai tersibak perlahan-lahan. Daftar Rujukan Barthes. Elements of semiology. New York: Hill and Wang. Brenner. Reconstructing self and society: Javanese Muslim women and Authe veilAy. American Ethnologist, 23. , 673Ae697. Foucault. Power: Essential works of Foucault 1954-1984. New York: The New Press. Geertz. Religion of Java. Chicago: The Free Press. Jay. The humanitis AocrisisAo and the future of literary studies. New York: Palgrave Macmillan Kuhn. The structure of scientific revolutions. Chicago: The University Chicago Press. Ricklefs. Mengislamkan Jawa. Jakarta: Serambi. Scholes. The rise and fall of English: Reconstructing English as a discipline. New Haven: Yale University Press.