Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis. Vol. 1 No. 2 Edisi Desember 2018 PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI. JAGUNG DAN KEDELAI MELALUI PROGRAM UPSUS PAJALE DI KABUPATEN GARUT Improving Rice. Corn and Soybean Productivity Through Upsus Pajale Program in Garut Municipally Tri Ratna Saridewi* Jurusan Penyuluhan Pertanian Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor *Korespondensi Penulis: E-mail trsdewi74@yahoo. Diterima: Maret 2018 Disetujui terbit: Mei 2018 ABSTRACT Garut is one of the districts that beneficiaries of Upsus Pajale program which has potential agricultural development. An important factor of the successful program are the result of policy, participation of community and public perception of government program. The objectives of the study were to analyze the productivity of rice, corn and soybean commodities, public perceptions of government programs and the policy. This research used descriptive analysis of rice, corn and soybean productivity before and after program implementation. The results of the analysis show that UPSUS PAJALE increased agricultural productivity. Farmers' perceptions of the program remain favorable and support the implementation of the program despite the expectation of management program is improved. Using Context. Input. Process dan Product (CIPP) model approach, the weakest part of the program is on the process evaluation. Keyword : productivity, partisipation, perception. CIPP model. ABSTRAK Garut merupakan salah satu kabupaten yang penerima bantuan program Upsus Pajale yang berpotensi dalam pengembangan pertanian. Faktor penting dalam keberhasilan program adalah hasil kebijakan, partisipasi dan persepsi masyarakat. Tujuan penelitian adalah menganalisis produktivitas komoditas padi, jagung dan kedelai, persepsi masyarakat terhadap program dan analisis kebijakan Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif terhadap produktivitas usahatani padi, jagung dan kedelai sebelum dan sesudah dilaksanakannya program. Hasil analisis menunjukkan bahwa Program UPSUS PAJALE dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Persepsi petani terhadap program tetap baik dan mendukung pelaksanaan program meskipun mengharapkan perbaikan pengelolaan program. Dengan pendekatan model Context. Input. Process dan Product (CIPP) dapat diketahui bahwa faktor terlemah dari kebijakan adalah pada evaluasi proses. Kata kunci : produktivitas, partisipasi, persepsi. CIPP model. PENDAHULUAN Kabupaten Garut kabupaten yang berperan penting dalam pengembangan pertanian Jawa Barat, terutama bagian selatan. Keberadaan sawah tadah hujan seluas 11. 530 ha, berada pada urutan ke tujuh dibandingkan kabupaten lain di Jawa Barat. Keberadaan tegal/kebun seluas 63. 774 ha, terluas kedua setelah Sukabumi. Rata-rata produksi padi sawah sebesar 58, 23 kw/ha dan padi ladang sebesar 40,88 kw/ha sedikit di bawah rata-rata produksi padi sawah dan padi ladang di Jawa Barat. Selain itu, lapangan pekerjaan utama bidang pertanian sebanyak 310. merupakan nilai terbesar kedua setelah Cianjur (BPS, 2. Dalam Kabupaten Garut, merupakan sektor yang paling dominan, terdiri dari sub sektor tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan dan Tanaman Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis. Vol. 1 No. 2 Edisi Desember 2018 dihasilkan berupa padi, palawija, sayuran buah-buahan. Sebagian penduduk Garut bekerja di sektor pertanian yaitu sebanyak 33,63% lebih tinggi dibandingkan sektor jasa ,20%), ,92%), dan industri . ,71%) (BPS, 2. sektoral menuntut adanya keterkaitan fungsional yang sinergis antarsektor pembangunan, sehingga setiap kegiatan sektoral dilaksanakan dalam kerangka pembangunan wilayah (Rustiadi, et al. Berdasarkan potensi yang dimiliki tersebut, pemerintah telah menjalankan beberapa kebijakan yang berkaitan dengan Kebijakan Kementerian Pertanian pada tahun 2015 adalah menetapkan Kabupaten Garut sebagai salah satu kabupaten yang mendapat bantuan Program UPSUS (Upaya Khusu. Padi. Jagung dan Kedelai (PAJALE). Program UPSUS PAJALE meliputi kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT), Gerakan Pemberdayaan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT). Percepatan Optimasi lahan (POL), dukungan alat dan mesin pertanian . , penanaman padi dengan System of Rice Intensification (SRI) dan Perluasan Areal Tanam (PAT) untuk komoditas kedelai dan jagung. Program UPSUS Pajale merupakan program yang menjadi fokus Kementerian Pertanian dalam upaya mewujudkan Pemerintah mengerahkan berbagai upaya demi suksesnya program tersebut. Beberapa penelitian terkait kebijakan pemerintah telah ada, diantaranya adalah penelitian Abro . Bartolini and Viaggi . dan Brooks . Penelitian Abro . tentang kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan pengurangan kemiskinan di Ethiopia. Kebijakan tersebut berupa percepatan investasi publik untuk mempercepat transformasi ekonomi. Bartolini and Viaggi . menganalisis kebijakan pemerintah tentang The Common Agricultural Policy (CAP), yaitu kebijakan berkaitan dengan perlindungan terhadap lahan pertanian. Brooks . melakukan penelitian ketahanan pangan pada negara-negara anggota OECD (Organization for Economic Co-operation Developmen. , menjelaskan bahwa kebijakan peningkatan memperhatikan kelestarian sumberdaya, pembatasan limbah dan pembatasan konsumsi yang berlebih. Penelitian terdahulu tersebut menganalisis kebijakan di bidang pertanian secara global. Analisis terhadap Kebijakan UPSUS PAJALE lebih menekankan pada analisis terhadap individu petani. Program UPSUS memberikan dampak positif terhadap masyarakat Kabupaten Garut, apalagi dengan melihat sektor pertanian sebagai sektor paling dominan. Sektor pertanian sebagai sektor yang paling dominan di Kabupaten Garut, perkembangan perekonomian masyarakat secara menyeluruh. Pengembangan keterpaduan sektoral, spasial, serta keterpaduan antar pelaku pembangunan di dalam dan antar wilayah. Keterpaduan Manfaat yang diperoleh petani dari Program UPSUS PAJALE, diharapkan perekonomian masyarakat, diantaranya adalah produktivitas sektor pertanian. Proses perekonomian wilayah sejalan dengan perubahan struktur masyarakat. Kegiatan yang difasilitasi pemerintah seringkali PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI. JAGUNG DAN KEDELAI MELALUI PROGRAM UPSUS PAJALE DI KABUPATEN GARUT. Tri Ratna Saridewi memberikan dampak perbaikan yang cepat terhadap perekonomian wilayah, tetapi tidak berkelanjutan dan seringkali tidak kesejahteraan masyarakat. Faktor penting dalam keberhasilan program adalah partisipasi dan persepsi masyarakat dalam Dampak program terhadap kondisi nyata di lapangan yang didekati dengan peningkatan produktivitas dan persepsi masyarakat terhadap program merupakan faktor penting untuk menyusun kebijakan pembangunan pertanian agar Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah . menganalisis produktivitas pertanian, khususnya komoditas padi, jagung dan kedelai sebelum dan sesudah . terhadap Program UPSUS PAJALE dan . menganalisis kebijakan pengembangan pertanian Kabupaten Garut. Kabupaten Garut. Dinas Pertanian dan BP4K kabupaten Garut dan literatur dan beberapa penelitian terdahulu sebagai bahan rujukan bagi penelitian. METODE PENELITIAN Penentuan responden menggunakan three stage sampling, yaitu . penentuan kecamatan lokasi penelitian, . penentuan kelompok tani dan . penentuan petani sebagai responden. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive, berdasarkan kecamatan dengan jumlah kelompok tani terbesar, yaitu kecamatan Kadungora. Pasirwangi dan Cilawu. Sebanyak 100 petani responden dibagi di tiga kecamatan, dan untuk mengantisipasi kesalahan data, maka setiap kecamatan dikumpulkan sebanyak 40 responden. Pada tahap kedua, kelompok tani yang dipilih adalah kelompok tani yang memperoleh bantuan. Responden di setiap kelompok dipilih secara acak. Penelitian ini dilaksanakan antara Bulan Mei sampai Desember 2016 di Kabupaten Garut. Kabupaten Garut merupakan salah satu Kabupaten yang meendapatkan program UPSUS PAJALE dan juga menjadi lokasi pendampingan mahasiswa dalam mendukung kegiatan UPSUS PAJALE. Data penelitian ini meliputi data primer dan Data primer diperoleh dari observasi langsung di lapangan dan wawancara langsung dengan petani menggunakan susunan pertanyaan yang telah disiapkan dalam bentuk kuesioner. Petani sebagai responden, terdiri dari dua kelompok yaitu petani yang mengikuti/ mendapatkan program UPSUS PAJALE mendapatkan program. Data sekunder diperoleh dari BPS Provinsi jabar. BPS Penentuan responden menggunakan rumus slovin (Riduwan dan Akdon, 2. Populasi penelitian ini adalah petani penerima bantuan program PAJALE. Berdasarkan Dinas Pertanian Garut . , kelompok tani penerima bantuan program UPSUS PAJALE pada Tahun 2015 di Kabupaten Garut sebanyak 895, terdiri dari 400 kelompok tani untuk budidaya jagung, 450 kelompok tani untuk kedelai dan 45 kelompok untuk padi. Data menunjukkan bahwa rata-rata anggota kelompok tani adalah 25 orang petani per kelompok, sehingga total petani penerima program Dengan menggunakan rumus slovin, pada tingkat kesalahan 10%, maka jumlah responden adalah 100 orang. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif karakteristik petani responden. Analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis produktivitas usahatani sebelum dan Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis. Vol. 1 No. 2 Edisi Desember 2018 sesudah adanya program UPSUS PAJALE perbedaan antara sebelum dan sesudah Produktivitas usahatani ditentukan oleh nilai produksi yang dihasilkan dan merupakan penerimaan usahatani. Ukuran keberhasilan usahatani dapat dinyatakan dalam bentuk income statement . nalisis Komponen penerimaan/pendapatan (Yolynda, dkk, 2. Berdasarkan hal tersebut, maka produktivitas pertanian penerimaan usahatani. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani adalah lahan, tenaga kerja, modal dan manajemen (Rahim dan Hastuti, 2. Analisis usahatani meliputi besaran bibit . , besaran pupuk urea . , pupuk NPK . , pupuk TSP . dan biaya pupuk (R. , biaya tenaga kerja (R. , biaya total (R. , panen . , penerimaan (R. dan R/C rasio terhadap komoditas padi, jagung dan kedelai baik sebelum program dan sesudah program. Untuk mengetahui dampak program UPSUS PAJALE, maka hasil panen sebelum dan sesuah program dianalisis menggunakan uji beda dengan uji t. Berdasarkan kuesioner, 42 kuesioner dapat diolah untuk analisis usahatani padi, 9 kuesioner untuk analisis usahatani jagung dan 9 kuesioner Responden berbeda, karena setiap responden hanya mendapatkan satu jenis bantuan. Analisis kebijakan secara deskriptif, dengan pendekatan model CIPP . ontext, input, process dan produc. Meskipun awalnya CIPP digunakan pada ranah pendidikan, tetapi saat ini telah banyak dimodifikasi untuk berbagai disiplin ilmu (Stufflebeam and Shinkfield. Context kebutuhan, harus dapat menjawab AuApa yang harus dilakukanAy. Input merupakan jawaban dari pertanyaan Aubagaimana harus dilakukanAy. Process pada prinsipnya harus menjawab Auapakah dikerjakanAy dan product menjawab Auapakah kebijakan berhasilAy. HASIL DAN PEMBAHASAN Bantuan Program UPSUS PAJALE Kegiatan UPSUS PAJALE dalam pengembangan komoditas padi, jagung dan kedelai berupa bantuan benih dan Berdasarkan penyuluh setempat, fasilitasi pemerintah untuk UPSUS PAJALAE berupa bantuan benih dan pupuk yang diberikan kepada kelompok penerima bantuan. untuk padi, bantuan benih yang diberikan sebanyak 25 kg/ha, sedangkan pupuk yang diberikan berupa pupuk urea sebanyak 75 kg/ha dan NPK sebanyak 50 kg/ha. Untuk kedelai, bantuan benih yang diberikan sebanyak 50 kg/ha, sedangkan pupuk yang diberikan berupa pupuk urea NPK sebanyak 150 kg/ha. Bantuan benih jagung yang diberikan sebanyak 15 kg per ha, sedangkan pupuk yang diberikan berupa pupuk urea sebanyak 75 kg/ha dan NPK sebanyak 50 kg/ha. Pada tanaman jagung dan kedelai, bentuk dukungan pada program UPSUS dalam bentuk perluasan areal tanam (PAT). PAT Jagung dapat dilaksanakan di lahan sawah/ tanah hujan/ lahan kering dan sebagainya, diprioritaskan pada daerah bukan endemis hama dan penyakit, bebas dari bencana kekeringan dan sengketa. PAT kedelai dapat dilaksanakan di lahan sawah atau lahan kering, pembukaan lahan baru, pembukaan lahan perhutani, dan sebagainya. Selain itu, untuk PAT kedelai juga dapat dilaksanakan secara tumpang sari di lahan komoditas lain. PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI. JAGUNG DAN KEDELAI MELALUI PROGRAM UPSUS PAJALE DI KABUPATEN GARUT. Tri Ratna Saridewi Karakteristik petani responden Beberapa variabel yang digunakan dalam menganalisis karakteristik petani responden yaitu usia, pendidikan, jumlah anggota keluarga, lama berusaha tani dan luas lahan. Karakteristik petani responden disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik petani responden berdasarkan persentase pengelompokan kriteria Usia . < 35 > 55 4,17 65,83 30,00 Pendidikan SMP OuSMA 57,50 25,00 17,50 Jumlah Anggota Keluarga 53,33 35,00 11,67 Lama berusaha Luas lahan . <10 >30 < 0,3 0,3 - 1 10,83 61,67 27,50 40,00 39,17 20,83 Sumber : data primer, diolah Usia dapat mempengaruhi fungsi biologis dan psikologis petani dalam menjalankan usahatani. Semakin tua usia menurunnya kemampuan petani dalam menjalankan usahatani. Usia petani responden bervariasi dari usia 31 tahun sampai 82 Tahun. Sebagian besar usia petani termasuk dalam usia produktif, yaitu usia 35-55 tahun sebanyak 65,83%, usia di atas 55 tahun cukup banyak, yaitu 30%, sedangkan usia dibawah 35 tahun sangat sedikit yaitu 4%. Data ini sesuai dengan BPS . yang menyatakan bahwa petani pada kelompok 35-44 tahun hanya Usia produktif yang tinggi menunjukkan bahwa kegiatan pertanian dikembangkan, karena petani yang ada masih memiliki kemampuan fisik yang kuat. Namun demikian, rendahnya jumlah petani yang berusia muda menunjukkan bahwa minat pemuda untuk bekerja di semtor pertanian rendah, dan hal ini di masa depan akan mengancam keberlanjutan Rendahnya kelompok usia muda yang bekerja di sektor pertanian karena selama ini sektor pertanian dianggap sektor yang tidak menjanjikan dan bukan sektor yang menarik secara Tingkat pendidikan petani pada umumnya berpengaruh terhadap cara berfikir dan kemampuan terhadap adopsi Tingkat semakin tinggi maka semakin terbuka pemikirannya dalam menerima informasi dan teknologi baru. Sebagian besar petani memiliki pendidikan Sekolah Dasar, yaitu 57,50%, dan pendidikan petani pada tingkat SMA ke atas hanya 17,50%. Pendidikan petani yang rendah dapat diatasi dengan kegiatan penyuluhan kepada petani, karena petani yang berpendidikan SD pada umumnya adalah petani yang telah berusia lanjut sehingga tidak mungkin untuk melanjutkan sekolah. Perluasan pendidikan dasar dan layanan penyuluhan pertanian sangat penting untuk meningkatkan output pertanian, dan partisipasi terhadap kegiatan penyuluhan sangat elastik dengan nilai riil dari output pertanian (Abro, et al. , 2. Pengalaman ketrampilan petani dalam mengelola Seringkali petani yang pengalaman yang cukup besar dalam Sebagian besar petani telah menjalani profesinya selama 10 hingga 30 tahun, yaitu sebanyak61,67%. Petani yang telah berusaha tani lebih dari 30 tahun sebanyak 27,50% dan yang kurang dari 10 tahun sebanyak 10,83%. Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis. Vol. 1 No. 2 Edisi Desember 2018 Jumlah anggota keluarga yang besar keluarga dalam memenuhi kebutuhan Jumlah tanggungan keluarga menentukan jenis usahatani. Semakin banyak tanggungan semakin besar pula biaya yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup,memilih usahatani yang memberikan pendapatan tinggi dan beresiko kecil. Sebagian besar petani memiliki anggota keluarga maksimal 4 orang, sebanyak 53,33%. Jumlah anggota keluarga sebanyak 4 sampai 6 orang sebanyak 35% dan sisanya 11,67%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga petani memiliki anak dua Jumlah anak yang sedikit berarti beban keluarga petani tidak terlalu berat, sehingga cenderung untuk lebih mudah menerima inovasi teknologi maupun program pemerintah. Kepemilikan lahan petani sebagian besar dibawah 0,3 ha, yaitu sebesar 40%, antara 0,3-1 ha sebanyak 39,17% dan sisanya di atas 1 ha. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani tergolong petani kecil. Kepemilikan lahan yang rendah menyebabkan usahatani yang dijalankan tidak efisien, yang memberikan keuntungan yang rendah. Hal ini mendorong konversi lahan pertanian menjadi pengunaan lain. Pada tahun 2003, rumah tangga pertanian yang memiliki luas garapan kurang dari 1000 m2 paling banyak, yaitu 9,38 juta rumah tangga dan sebanyak 6,63 juta memiliki luas lahan garapan antara 2. dalam kurun waktu sepuluh tahun, petani yang memiliki lahan diatas 10. 000 ha sedikit meningkat (BPS, 2. Produktivitas Usahatani Padi Analisis produktivitas usahatani padi dilakukan dengan analisis usahatani sebelum dan sesudah mendapatkan UPSUS PAJALE. Luas lahan yang diusahakan petani sebelum program ratarata 0,75 ha dan sesudah program menjadi 06 ha. Rata-rata penguasaan lahan responden lebih besar dari rata-rata kepemilikan lahan sawah kabupaten Garut sebesar 0,2 ha . abupaten Garut, 2. maupun Provinsi Jawa Barat (BPS, 2. Tabel 2. Analisis usahatani padi sebelum dan sesudah program Keterangan Luas lahan . Bibit . g/h. Urea . g/h. NPK . g/h. TSP . g/h. Pupuk (Rp/h. Pestisida (Rp/h. Tenaga Kerja (Rp/h. Biaya Total (Rp/h. Panen . on/h. Harga jual (Rp/to. Penerimaan (Rp/h. R/C Sebelum program Rata-rata Simpangan baku Sesudah program Rata-rata Simpangan baku Sumber : data primer, diolah Penggunaan bibit sebelum program rata-rata sebesar 36,48 kg/ha, lebih besar dari bibit yang disubsidi yaitu sebesar 25 kg/ha. Penggunaan pupuk urea dan NPK sebelum program jauh lebih besar jika dibandingkan dengan sesudah program. Sebelum program, pupuk urea yang digunakan oleh petani sebesar 148 kg/ha. PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI. JAGUNG DAN KEDELAI MELALUI PROGRAM UPSUS PAJALE DI KABUPATEN GARUT. Tri Ratna Saridewi sedangkan pupuk NPK sebesar 337 kg/ha. Komponen biaya usahatani terbesar adalah dari biaya tenaga kerja, yaitu 7,09 juta/ha sebelum program dan 7,2 juta/ha sesudah program. Biaya yang lebih besar sesudah program karena pengelolaan usahatani harus mengikuti anjuran, baik dalam cara tanam maupun pemeliharaan. Namun demikian, biaya total sesudah program juga lebih rendah dibanding sebelum program, yaitu 13,3 juta rupiah/ha sesudah program dan 13,9 juta rupiah/ha sebelum program. Nilai ini lebih besar dari rata-rata biaya produksi usahatani padi sawah Indonesia, yaitu sebesar 12,68 juta rupiah/ha (BPS, 2. Produktivitas usahatani sebelum program adalah 4,96 ton/ha dan meningkat menjadi 5,28 ton/ha. Penerimaan sebelum program sebesar 23,5 juta/ha dan meningkat menjadi 24,9 juta rupiah/ha. Penerimaan program lebih tinggi dari rata-rata Indonesia, yaitu sebesar 17,17 juta rupiah/ha (BPS, 2. Perbandingan penerimaan dan biaya (R/C rati. sebelum program sebesar 1,68 sedangkan sesudah program menjadi 1,86. Nilai tersebut lebih tinggi rata-rata R/C usahatani padi sawah Indonesia, yaitu sebesar 1,35 (BPS, 2. Data Program PAJALE dapat meningkatkan produktivitas padi di Kabupaten Garut. Berdasarkan terhadap responden, dapat diketahui bahwa pemahaman petani terhadap usahatani padi masih sangat beragam, berdasarkan nilai simpangan baku setiap komponen usahatani yang cukup besar, baik sebelum dan sesudah program. Perbedaan tersebut juga menunjukkan bahwa teknologi yang digunakan oleh anggota kelompok tani masih sangat beragam dan kemampuan dalam usahatani juga bervariasi. Hal tersebut berpengaruh terhadap biaya produksi dan hasil produksi. Data simpangan baku sebelum dan sesudah program disajikan pada Tabel 2. Hasil panen sebelum dan sesudah program menunjukkan ada peningkatan, dari 3,44 ton menjadi 3,53 ton. Hasil uji beda dengan taraf nyata 5% menunjukkan adanya perbedaan antara sebelum dan sesudah program. Abro et al. , . menjelaskan bahwa untuk meningkatkan produksi jangka pendek, diperlukan peningkatan jumlah input yang digunakan. Peningkatan penggunaan pupuk bersamasama peningkatan penggunaan irigasi dapat meningkatkan output. Namun, petani tidak memiliki kemampuan yang tanpa batas dalam meningkatkan penggunaan input. Solusi jangka panjang untuk meningkatkan peningkatan produksi dilakukan dengan peningkatan efisiensi penggunaan input yang tersedia dan memperkenalkan teknik Menurut Ruskandar . , teknologi padi hibrida oleh petani tidak mudah dan masih lambat. Pada umumnya petani selalu ingin melihat, mengetahui, dan membuktikan sendiri keunggulan varietas padi hibrida dibandingkan dengan varietas inbrida yang mereka tanam. Produktivitas Usahatani Jagung Analisis mendapatkan UPSUS PAJALE. Luas lahan yang diusahakan petani sebelum program rata-rata 0,52 ha dan sesudah program menjadi lebih kecil, yaitu 0,36 ha. Penggunaan bibit sebelum program ratarata sebesar 25,6 kg/ha, lebih besar dari besaran bibit yang disubsidi yaitu sebesar 15 kg/ha. Penggunaan pupuk urea dan NPK sebelum program jauh lebih besar jika dibandingkan dengan sesudah program. Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis. Vol. 1 No. 2 Edisi Desember 2018 Sebelum program, pupuk urea yang digunakan oleh petani sebesar 240,51 kg/ha, sedangkan pupuk NPK sebesar 164,94 kg/ha. Komponen biaya usahatani terbesar adalah dari biaya tenaga kerja, yaitu 8,16 juta/ha sebelum program dan 9,32 juta/ha sesudah program. Namun demikian, biaya total sesudah program lebih rendah dibanding sebelum program, yaitu 15 juta rupiah/ha sesudah program dan 11 juta rupiah/ha sebelum program. Nilai ini lebih besar dari rata-rata biaya produksi usahatani jagung di Indonesia, yaitu sebesar 9,14 juta rupiah/ha (BPS. Penerimaan sebesar 14,96 juta/ha dan menurun menjadi 9,48 juta rupiah/ha. Penerimaan sebelum lebih tinggi dari rata-rata Indonesia, yaitu sebesar 12,05 juta rupiah/ha (BPS, 2. Perbandingan penerimaan dan biaya (R/C rati. sebelum program sebesar 1,11 sedangkan sesudah program menjadi 1,36. Nilai R/C sesudah program tersebut lebih tinggi rata-rata R/C usahatani jagung Indonesia, yaitu sebesar 1,31 (BPS, 2. Tabel 4. Analisis usahatani jagung sebelum dan sesudah program Keterangan Luas lahan . Bibit . g/h. Urea . g/h. NPK . g/h. TSP . g/h. Pupuk (Rp/h. Pestisida (Rp/h. Tenaga Kerja (Rp/h. Biaya Total (Rp/h. Panen . on/h. Harga jual (Rp/to. Penerimaan (Rp/h. R/C Sebelum program Rata-rata Simpangan baku 807,380. 645,100. 274,007. 198,677. 8,164,319. 7,162,660. 15,026,679. 6,978,229. 2,695,833. 625,181. 14,964,745. 9,903,910. Sesudah program Rata-rata Simpangan baku 909,225. 103,636. 162,251. 42,768. 9,324,892. 7,280,880. 11,080,884. 900,976. ,445,471. ,516,123. 9,480,555. 4,846,548. Sumber : data primer, diolah Berdasarkan terhadap responden, dapat diketahui bahwa pemahaman petani terhadap usahatani jagung masih sangat beragam, hal tersebut dapat diketahui dari nilai usahatani yang cukup besar, baik sebelum dan sesudah program. Data komponen usahatani serta simpangan baku sebelum dan sesudah program disajikan pada Tabel 4. Hasil panen sebelum dan sesudah program menunjukkan ada peningkatan, dari 5,53 ton/ha ton menjadi 6,07 ton/ha. Hasil uji beda dengan taraf nyata 5% menunjukkan adanya perbedaan antara sebelum dan sesudah program. Hal tersebut menunjukkan bahwa Program Pajale dapat meningkatkan produktivitas usahatani di Kabupaten Garut. Pengembangan intensif, penggunaan benih unggul dan bermutu tinggi menjadi salah satu upaya yang terus dikaji dan disebarluaskan ke Penyebarluasan yang intensif harus dilakukan untuk merubah kebiasaan petani dalam budidaya jagung yang masih menggunakan benih yang ditanam turun Benih merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budidaya tanaman yang perannya tidak dapat digantikan oleh faktor lain (Amin & Zaenaty, 2. Oleh sebab itu kajian tentang adopsi teknologi dalam hal pemilihan benih jagung juga menjadi hal yang menarik. PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI. JAGUNG DAN KEDELAI MELALUI PROGRAM UPSUS PAJALE DI KABUPATEN GARUT. Tri Ratna Saridewi Produktivitas Usahatani Kedelai Analisis produktivitas usahatani mendapatkan UPSUS PAJALE. Luas lahan yang diusahakan petani sebelum dan sesudah program rata-rata 0,42 ha. Ratarata penguasaan lahan responden lebih besar dari rata-rata kepemilikan lahan sawah kabupaten Garut sebesar 0,2 ha (Kabupaten Garut, 2. maupun Provinsi Jawa Barat (BPS, 2. Kepemilikan lahan responden tidak merata, dengan perbedaan yang mendekati 0,5 ha. dalam cara tanam maupun pemeliharaan. Biaya total sebelum program sebesar 8,55 juta rupiah/ha meningkat menjadi 9,23 juta rupiah/ha Nilai usahatani sesudah program lebih besar dari rata-rata biaya produksi usahatani jagung di Indonesia, yaitu sebesar 9,02 juta rupiah/ha (BPS, 2. Penerimaan sebesar 9,34 juta/ha dan menurun menjadi 9,11 juta rupiah/ha sesudah proigram. Perbandingan penerimaan dan biaya (R/C rati. sebelum program sebesar 1,10 sedangkan sesudah program menjadi 1,16. BPS . menyatakan bahwa nilai hasil produksi usahatani kedelai seringkali lebih rendah dari biaya produksi, dan hal tersebut bisa dikatakan bahwa budidaya kedelai mempunyai resiko yang lebih besar dari usahatani komoditas pangan lainnya. Oleh karena itu jarang petani yang tertarik menanam kedelai. Penggunaan bibit sebelum program rata-rata sebesar 51,38 kg/ha, lebih besar dari besaran bibit yang disubsidi yaitu sebesar 50 kg/ha. Penggunaan pupuk urea dan NPK sebelum program jauh lebih besar jika dibandingkan dengan sesudah Sebelum program, pupuk urea yang digunakan oleh petani sebesar 122,74 kg/ha, sedangkan pupuk NPK sebesar 137,5 kg/ha. Penggunaan pupuk TSP sebelum program sebesar 107,14 ha, sedangkan sesudah program sebesar 126,98 kg/ha. Berdasarkan terhadap responden, dapat diketahui bahwa pemahaman petani terhadap usahatani jagung masih sangat beragam, hal tersebut dapat diketahui dari nilai usahatani yang cukup besar, baik sebelum dan sesudah program. Data komponen usahatani serta simpangan baku sebelum dan sesudah program disajikan pada Tabel 6. Komponen biaya usahatani terbesar adalah dari biaya tenaga kerja, yaitu 2,97 juta/ha sebelum program dan 3,1 juta/ha sesudah program. Biaya yang lebih besar sesudah program karena pengelolaan usahatani harus mengikuti anjuran, baik Tabel 6. Analisis usahatani kedelai sebelum dan sesudah program Sebelum program Keterangan Rata-rata Luas lahan . Bibit . g/h. Urea . g/h. NPK . g/h. TSP . g/h. Pupuk (Rp/h. Pestisida (Rp/h. Tenaga Kerja (Rp/h. Biaya Total (Rp/h. Panen . on/h. Harga jual (Rp/to. Penerimaan (Rp/h. R/C Sumber : data primer, diolah 260,866. 341,628. 2,965,986. 8,546,904. 8,400,000. 9,340,714. Simpangan baku 138,583. 335,311. 944,783. 1,474,434. 1,312,032. 1,245,939. Sesudah program Rata-rata 1,150,238. 298,015. 3,100,555. 9,230,158. ,775,935. 9,111,111. Simpangan baku 611,201. 161,546. 843,553. 1,558,750. ,863,903. 485,912. Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis. Vol. 1 No. 2 Edisi Desember 2018 Hasil panen sebelum dan sesudah program menunjukkan ada peningkatan, dari 1,14 ton/ha ton menjadi 1,17 ton/ha. Hasil uji beda dengan taraf nyata 5% menunjukkan adanya perbedaan antara sebelum dan sesudah program. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Program Pajale dapat meningkatkan produktivitas usahatani kedelai di Kabupaten Garut. Sesungguhnya, inovasi teknologi menerus dilakukan, baik melalui perbaikan varietas maupun teknik budi daya, mulai (Ruskandar, 2. Sayangnya, antara ilmu dan teknologi yang telah dihasilkan masih belum dapat diadopsi secara penuh oleh para petani. Akses petani terhadap informasi, inovasi, dan teknologi relatif terbatas sehingga perlu adanya sosialisasi dan pemberian pemahaman kepada Lebih lanjut, pemahaman suatu inovasi teknologi juga membutuhkan tahapan proses mental dari individu petani sendiri dalam mengambil keputusan untuk Faktor pengetahuan atau pendidikan dapat menjadi determinan petani untuk adopsi teknologi. Persepsi petani terhadap Program UPSUS PAJALE Kendala yang dihadapi petani selama berhubungan dengan masalah benih, baik mutu benih yang buruk sehingga tidak tumbuh maupun keterlambatan dalam pengadaan benih. Sebanyak 16 petani padi atau 40% mengalami kendala berkaitan dengan benih, petani jagung sebanyak 14 orang atau 36% dan petani kedelai sebanyak 10 orang atau 100%. Kendala lain adalah adanya hama penyakit selama proses budidaya. Petani padi mengalami masalah hama penyakit sebanyak 7 orang atau 14% dan petani kedelai sebanyak 9 orang atau 39%. Selain kedua hal tersebut, sebagian petani menghadapi kendala dengan transportasi, pupuk maupun harga jual yang murah. Kendala utama usaha tani padi adalah pengganggu tanaman. Sebanyak 32,4% petani menyatakan OPT merupakan kendala utama dalam berusaha tani, 32,7% petani kedelai dan51,5% petani jagung (BPS, 2. Berdasarkan data tersebut, permasalahan kualitas benih yang rendah dan proses distribusi benih yang lambat seharusnya dapat diatasi dan Meskipun mengalami kendala dalam pelaksanaan program, tetapi sebagian besar petani yang telah mendapatkan bantuan dari program UPSUS PAJALE menyatakan bersedia berpartisipasi untuk mengikuti program sejenis. Petani yang secara tegas menolak mengikuti program sejenis di tahun mendatang sebanyak 8 orang atau 8%. Petani yang menolak berpartisipasi pada tahun selanjutnya merupakan petani yang memperoleh bantuan benih kedelai. Alasan mereka menolak berpartisipasi lagi karena produksi menguntungkan, sehingga mereka ingin menanam komoditas lain seperti padi, cabai atau tomat, atau tetap menanam kedelai tetapi secara polikultur. Alasan berpartisipasi terhadap program sejenis, karena bantuan benih yang mereka terima sehingga meringankan beban mereka dalam berusahatani. Dengan adanya bantuan tersebut, petani juga menyatakan bahwa mereka lebih termotivasi untuk berusahatani karena merasa diperhatikan oleh pemerintah. Beberapa harapan petani untuk program sejenis, sebagian besar mengharapkan kualitas benih yang lebih baik dan dapat diterima tepat waktu sesuai kalender tanam. Beberapa petani menginginkan bantuan yang diberikan PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI. JAGUNG DAN KEDELAI MELALUI PROGRAM UPSUS PAJALE DI KABUPATEN GARUT. Tri Ratna Saridewi bukan hanya benih, tetapi juga sarana produksi lain seperti pupuk dan alat Hasil yang menarik dari penelitian ini adalah partisipasi petani yang cukup Meskipun mengalami banyak kendala, tetapi petani tetap bersedia ikut dalam program sejenis, dan hanya sedikit petani yang secara tegas menolak program Analisis terhadap usahatani padi diberikan sangat kecil, yaitu hanya subsidi benih dan pupuk. Biaya produksi lainnya juga membutuhkan biaya yang sangat besar, seperti biaya tenaga kerja, pengolahan lahan, perawatan maupun Data di atas menunjukkan bahwa subsidi yang diberikan rata-rata sebesar Rp 417 ribu, namun nilai tersebut sangat berarti bagi petani. Meskipun nilai tersebut kurang dari 2% penerimaan petani padi, tetapi masih tetap diminati oleh petani. Komponen pengeluaran terbesar usaha ani padi adalah upah pekerja dan jasa pertanian yang mencapai 48,23 %, selanjutnya adalah pengeluaran untuk pengolahan lahan sebesar 29,86%, pengeluaran untuk pupuk sebesar 10,40% dan pengeluaran untuk benih dan pestisida relatif kecil (BPS,2. Uniknya. BPS . menyatakan bahwa faktor penyuluhan juga memiliki penggunaan bibit varietas berteknologi ini. Artinya, penyuluhan belum efektif dalam mensosialisasikan padi hibrida. Ada beberapa faktor penyebabnya, misalnya: Bisa jadi berasal dari sumber lain, missal kelompok tani yang notabene dalam kajian ini memiliki pengaruh yang besar dalam penggunaan bibit padi hibrida. Alasan lainnya yang memungkinkan adalah mekanisme penyuluhan sendiri yang biasanya dilakukan saat inovasi baru diperkenalkan, sehingga seiring dengan waktu semakin banyak petani yang mengetahui informasi ini dari mulut ke Penyuluhan juga tidak cukup jika faktor lain tidak dipenuhi dengan baik, misalnya kesesuaian materi yang disampaikan, media komunikasi yang menarik perhatian, kompetensi dan pengalaman penyuluh, serta frekuensi atau intensitas diadakannya Hasil tersebut berbeda dengan Kwayu et al. yang menyatakan berpartisipasi di Negara berkembang dipengaruhi oleh ukuran lahan, akses terhadap informasi, desain program dan perubahan dalam pengelolaan lahan. Berdasarkan hal tersebut Kwayu et al. menjelaskan bahwa pelayanan penyuluhan sangat penting untuk proses Dukungan masyarakat akan berjalan dengan baik jika masyarakat memahami mekanisme kontrak (Lapayre. Penjelasan mengenai hak dan kewajiban harus disampaikan secara Hak masyarakat yang bersedia mengikuti program adalah memperoleh Insentif ini merupakan cara yang efisien untuk menarik minat masyarakat berperan aktif dalam program. Analisis Kebijakan Produktivitas Pertanian Berdasarkan hasil analisis data, context dalam Program UPSUS PAJALE adalah pemberian bantuan benih dan Bantuan tersebut telah diberikan kepada petani terpilih yang tergabung dalam kelompok tani. Input yang terlibat dalam program adalah sumberdaya manusia, anggaran, proposal kegiatan. Sumber daya manusia yang terlibat adalah aparat dinas pertanian, penyuluh dan Process pemberian bantuan telah dilaksanakan, tetapi beberapa hal tidak Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis. Vol. 1 No. 2 Edisi Desember 2018 dilaksanakan dengan baik. Seperti identifikasi lokasi yang dipilih, beberapa responden menjawab bahwa lahan mereka tidak sesuai dengan komoditas dalam Dalam process, pemberian benih terlambat dan tidak sesuai dengan jadwal tanam. Produk yang lebih menekankan pada pertanyaan Auapakah program ini berhasilAy, hasil analisis Ketidakberhasilan diketahui bahwa produktivitas menurun setelah ada program, dan bahkan beberapa petani responden gagal panen karena benih tidak tumbuh dan adanya hama penyakit. Context evaluation Input evaluation Process evaluation Product evaluation Subsidi input pertanian dalam upaya mencapai swasembada pangan komoditas strategis C Input fisik (Aparat dinas, petani, penyuluh, laha. C Input kebijakan . edoman, dat. Aturan main dan dilaksanakan Peningkatan pertanian secara Inisiasi dan membangun struktur kebijakan Subsidi input pertanian dalam upaya mencapai swasembada pangan komoditas strategis Hasil analisis data sebagaimana tersebut diatas digunakan sebagai dasar untuk menyusun rencana pengembangan produktivitas pertanian. Tahap pertama dalam menyusun rencana pengembangan General Framework CIPP Model Analysis, dengan mengacu pada Tseng et al. sebagaimana disajikan pada Gambar 1. Operasional kebijakan Subsidi input pertanian dalam upaya mencapai swasembada pangan komoditas strategis Gambar 1. General framework model peningkatan produktivitas pertanian Berdasarkan general framework yang telah dibangun di atas, dibangun sejumlah pertanyaan yang menghubungkan antara kebutuhan petani dengan feedback yang diharapkan oleh pemerintah (Tseng et al. Berdasarkan data, bagian terlemah dari kebijakan adalah pada process Setelah subsidi disalurkan, petugas teknis seringkali menganggap kegiatan telah selesai. Menurut Abro . kebijakan pertanian yang tepat adalah desain intervensi kebijakan tentang peningkatan produktivitas yang disertai dengan proteksi terhadap aset dan memperkuat akses pasar terhadap rumah tangga di perdesaan. Ke depan kebijakan pertanian perlu menekankan adanya good farming sebagai penjaga kultur masyarakat dalam proses adopsi teknologi dan tentu implementasi kebijakan pemerintah secara praktis (Huttunen and Peltomaa, 2. SIMPULAN DAN SARAN Program UPSUS PAJALE Tahun 2015 dapat meningkatkan produktivitas pertanian, baik padi, jagung maupun Persepsi petani terhadap program tetap baik dan mendukung pelaksanaan perbaikan pengelolaan program. Bagian terlemah dari program ini adalah pada process evaluation. Pelaksanaan program ke depan harus memperhatikan kualitas benih yang akan didistribusikan dan waktu distribusi menyesuaikan dengan kalender PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI. JAGUNG DAN KEDELAI MELALUI PROGRAM UPSUS PAJALE DI KABUPATEN GARUT. Tri Ratna Saridewi Berdasarkan hasil penelitian ini, maka pemberian program peningkatan produksi dapat berhasil dengan baik jika Pemberian bantuan berupa benih dan pupuk harus disertai dengan diseminasi teknologi dan pencatatan usaha tani, sehingga penyuluh dan petani dapat mengevaluasi hasil secara bersama-sama. DAFTAR PUSTAKA