JURNAL JENDELA MATEMATIKA Jurnal Jendela Matematika Volume 3 No 02 Juli 2025 ISSN: 2986-7134 (Prin. / ISSN: 2985-9875 (Onlin. The article is published with Open Access at: https://w. id/index. php/JJP Eksplorasi Etnomatematika Pada Bangunan Masjid AlKaromah Syekh Syarief Abdurrahman Dendi Aditama A. Universitas Muhammadiyah Cirebon Jajang Rahmatudin. Universitas Muhammadiyah Cirebon Arwanto. Universitas Muhammadiyah Cirebon A dendiaditama8@gmail. Abstract: This study aims to explore the concept of ethnomathematics in the architecture of the AlKaromah Mosque of Syekh Syarief Abdurrahman in Cirebon. West Java. The mosque holds high spiritual value and reflects the richness of local culture and knowledge passed down through A descriptive qualitative method is used, with data collected through direct observation, interviews with the mosque caretaker, photo documentation, and field notes. The main objective is to reveal how mathematical elements are applied naturally within the mosqueAos The findings show that various mathematical concepts are present in the architectural Geometric concepts appear in two- and three-dimensional forms, such as rectangular floor patterns, hemispherical domes, and carved ornaments that show symmetry. Geometric transformations, including reflection, rotation, and translation, are visible in the arrangement and decorative patterns inside and outside the mosque. Additionally, the use of ratio and proportion in the buildingAos design reflects a deep understanding of balance and mathematical aesthetics. The AlKaromah Mosque stands as a clear example of the integration of religious values, cultural heritage, and mathematical knowledge through architectural expression. Keywords: ethnomathematics, geometry, symmetry, transformation, mosque. Cirebon culture Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi konsep etnomatematika pada bangunan Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman di Cirebon. Jawa Barat. Masjid ini tidak hanya memiliki nilai spiritual tinggi, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya dan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung, wawancara dengan juru kunci masjid, dokumentasi foto, dan catatan lapangan. Tujuan utama penelitian ini adalah mengungkap penerapan unsurunsur matematika dalam struktur arsitektur masjid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep matematika diterapkan secara alami dalam berbagai elemen bangunan. Konsep geometri tampak pada bentuk bangun datar dan ruang, seperti pola lantai persegi panjang, kubah setengah bola, dan ornamen ukiran yang menunjukkan prinsip simetri. Transformasi geometri seperti refleksi, rotasi, dan translasi juga tampak dalam susunan dan pola hiasan di bagian dalam maupun luar masjid. Selain itu, konsep rasio dan proporsi pada perancangan menunjukkan adanya pemahaman mendalam masyarakat terhadap estetika dan keseimbangan matematis. Masjid ini menjadi contoh nyata integrasi antara nilai religius, budaya, dan ilmu matematika dalam bentuk arsitektur. Kata kunci: etnomatematika, geometri, simetri, transformasi, masjid, budaya Cirebon Received 13 Mei 2025. Accepted 5 Juni 2025. Published 20 Juli 2025 Citation: Aditama. Rahmatudin. , & Arwanto. Eksplorasi Etnomatematika Pada Bangunan Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman. Jurnal Jendela Matematika, 3 . , 87100. Copyright A2025 Jurnal Jendela Matematika Published by CV. Jendela Edukasi Indonesia. This work is licensed under the Creative Commons Attribution-Non Commercial-Share Alike 4. 0 International License. Aditama. Rahmatudin. Arwanto PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari ribuan pulau dengan keberagaman budaya, bahasa, agama, dan suku bangsa yang sangat kaya (Akhmad. Kekayaan ini tidak hanya terbatas pada sumber daya alam, namun juga sumber daya manusia yang beragam dan menciptakan kebudayaan yang khas di berbagai daerah (Nurhuda & Setyaningtyas, 2. Terdapat 714 suku dan lebih dari 1. 001 bahasa daerah yang tersebar di Indonesia (Muftiyah & Sudihartinih, 2. Meskipun beragam, bangsa Indonesia tetap bersatu dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika (Asiyah & Hakim, 2. Keberagaman ini turut mendorong perkembangan dalam berbagai aspek kehidupan seperti sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan (Sari et al. , 2. Kebudayaan sendiri merupakan hasil karya manusia yang mencakup ilmu pengetahuan, kesenian, hukum, dan Keberagaman budaya yang tercermin dalam kehidupan masyarakat merupakan wujud dari interaksi sosial yang melahirkan pola pikir dan kebiasaan berbeda (Astriandini & Kristanto, 2. Namun, keberagaman ini juga bisa menjadi potensi konflik bila tidak dikelola dengan baik (Lintang & Najicha, 2. Dalam Al-Qur'an, keberagaman diakui sebagai kehendak Ilahi sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Hujurat ayat 13, bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan untuk berselisih. Artinya: Wahai manusia! Sesungguhnya kami telah menciptakan kalian menjadi laki-laki dan perempuan, dan . engan menciptakan manusia berpasanga. kami telah jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling bertakwa diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Maha teliti. Secara geografis. Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau menyebabkan terjadinya keragaman budaya. Kata "budaya" sendiri berasal dari bahasa Sanskerta buddhayah yang berarti segala hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia (Syakhrani & Kamil. Kebudayaan memengaruhi tindakan manusia dalam kehidupan sosial (Dewi. Menurut Bhikhu Parekh, kebudayaan adalah sistem makna dan keyakinan yang membentuk kehidupan individu maupun kolektif (Effendi, 2. Setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas budayanya sendiri, mencerminkan identitas lokal masyarakatnya (Naupal & Sugeng, 2023. Aswir & Misbah, 2. Salah satu daerah yang mencerminkan keberagaman budaya adalah Cirebon. Letaknya yang strategis, berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, dekat laut dan gunung, menjadikannya titik temu berbagai suku dan budaya seperti Jawa. Sunda. Arab, dan Tionghoa (Khotimah, 2. Sejarah panjang interaksi ini menghasilkan masyarakat yang heterogen dan budaya yang berakulturasi sejak masa kuno hingga kini (Manulu, 2023. Pelabuhan et al. , 2. Cirebon memiliki kekayaan budaya yang tercermin dalam seni, tradisi, hingga Keberagaman ini lahir dari interaksi masyarakat lokal dengan para pendatang sejak zaman perdagangan di abad ke-13 (Dienaputra et al. , 2. Bangunan masjid menjadi salah satu wujud nyata warisan budaya yang mencerminkan nilai sejarah dan arsitektur khas, seperti Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Masjid Panjunan. Masjid At-Taqwa, hingga Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman yang belum banyak dikenal karena letaknya yang terpencil. Keberagaman budaya dalam masyarakat juga mencerminkan adanya konsep matematika di dalamnya. Konsep ini dikenal sebagai etnomatematika, yaitu kajian tentang bagaimana unsur matematika hadir dalam budaya suatu masyarakat. Etnomatematika mencakup penerapan matematika dalam artefak budaya seperti alat musik, pakaian, batik, ukiran, hingga arsitektur bangunan (Fitriyah & Syafi, 2. Matematika dalam budaya Aditama. Rahmatudin. Arwanto tidak sekadar ilmu hitung, namun juga mencakup struktur, pola, simetri, dan geometriAi terutama dalam bentuk fraktal, seperti dijelaskan oleh Mandelbrot (Sari & Juniati, 2. Masjid sebagai objek arsitektur budaya tidak hanya tempat ibadah, namun juga mencerminkan nilai-nilai matematika. Kubah setengah bola, simetri dalam ornamen, hingga transformasi geometri adalah bentuk penerapan etnomatematika dalam arsitektur Islam (Hasanah, 2. Konsep inilah yang menjadi dasar berkembangnya penelitian tentang etnomatematika dalam arsitektur masjid. Berbagai penelitian sebelumnya telah mengeksplorasi etnomatematika dalam bentuk bangunan, seperti Masjid Al-Alam Marunda (Faturrahman & Soro, 2. , batik Keraton Surakarta (Astriandini & Kristanto, 2. , hingga Masjid Soko Tunggal (Putra et , 2. Namun, belum banyak penelitian yang mengangkat etnomatematika dalam bangunan masjid di Cirebon, khususnya Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman yang sarat akan nilai sejarah dan budaya lokal. Etnomatematika merupakan kajian yang menghubungkan antara budaya dan praktik matematika dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks arsitektur masjid, berbagai elemen bangunan mencerminkan konsep-konsep matematika yang kaya akan nilai budaya dan spiritual. Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman, sebagai salah satu masjid bersejarah di Indonesia, menawarkan peluang untuk mengeksplorasi bagaimana konsep matematika terintegrasi dalam desain arsitekturnya. Berdasarkan uraian tersebut, penulis merasa perlu melakukan penelitian lebih lanjut terkait penerapan konsep etnomatematika pada arsitektur Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman. Penelitian ini diharapkan dapat memperluas pemahaman tentang keterkaitan antara matematika dan kebudayaan serta mendukung pembelajaran kontekstual yang mengangkat kearifan lokal. KAJIAN TEORI Etnomatematika Etnomatematika merupakan ilmu disiplin yang mulai diminati setelah beberapa ilmuwan memperkenalkan etnomatematika menjadi salah satu bagian penting dari matematika (Andriono, 2. Menurut Turmudi . , secara bahasa etnomatematika terdiri dari kata AuEthnoAy yang berarti suatu hal yang tertuju pada konteks sosial-budaya. AuMathemaAy yang berarti melakukan kegiatan seperti pengkodean, menjelaskan, mengetahui, mengukur, dan menyimpulkan. Serta AuTicsAy yang berasal dari kata techne dengan arti teknik. Sedangkan secara istilah, etnomatematika adalah ilmu antropologi budaya yang digunakan terhadap matematika dan pendidikan matematika (J. Pratiwi & Heni, 2. Etnomatematika diperkenalkan pertama kali oleh Ubiratan DAo Ambrosio pada tahun 1977, yaitu seorang guru sekaligus matematikawan asal brazil (JTabarearno et al. , 2. Etnomatematika ikut berperan penting dalam pembentukan kebudayaan manusia yang terus berkembang seiring jaman mengikuti dengan peradaban manusia itu sendiri. Etnomatematika di Indonesia sudah dikenal dan bukanlah suatu ilmu pengetahuan baru (Putri, 2. Etnomatematika terus berkembang mengikuti perkembangan manusia di tiap-tiap daerahnya yang memiliki kebiasaan berbeda-beda. Sehingga tiap daerahnya memiliki ciri khas masing-masing daerahnya. Serta dalam penerapan etnomatematika pada pembelajaran lebih ditujukan untuk menambah pemahaman peserta didik akan budaya daerahnya serta dapat memaknai bahwa matematika merupakan ilmu dasar yang dapat diterapkan dan menjadikan ilmu matematika lebih mudah di pahami oleh masyarakat luas, serta tidak memandang usia untuk dapat memahaminya. Menurut Sirate . , etnomatematika diterapkan dengan tujuan untuk memotivasi serta menstimulasi siswa agar dapat mengatasi kejenuhan dan kesulitan dalam belajar matematika (Ajmain et al. , 2. Etnomatematika bukan hanya sekedar ilmu yang mempelajari matematika pada kebudayaan melainkan ilmu yang dapat kita lihat dan rasakan keberadaannya. Etnomatematika memiliki tujuan konteks budaya yang tidak Aditama. Rahmatudin. Arwanto asing dengan pengetahuan dan pengalaman awal peserta didik dan dapat digunakan dalam pembelajaran matematika agar dalam proses pembelajaran menjadi lebih variatif. Selain itu etnomatematika dapat menambah wawasan bagi peserta didik tentang memaknai matematika yang ada di lingkungan mereka dengan sudut pandang yang berbeda (Astriandini & Kristanto, 2. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa etnomatematika merupakan penerapan konsep matematika yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga konsep matematika dapat lebih mudah dipahami oleh peserta didik dengan adanya etnomatematika serta memudahkan tenaga pengajar dalam menyampaikan materi pembelajaran matematika di sekolah. Indikator Etnomatematika Menurut Kencanawaty & Irawan . Penerapan etnomatematika dilakukan dengan penanaman teori tentang matematika yang terkandung dalam unsur budaya, seperti mempelajari bangun ruang maka peserta didik harus diberikan gambaran dengan konteks nyata pada benda yang mengandung unsur budaya yang bentuknya sama atau menyerupai dengan bangun ruang yang ada di sekitarnya (K. Pratiwi et al. , 2. Menurut Putri . Etnomatematika menggunakan konsep matematika yang lebih luas terkait dengan berbagai aktivitas matematika, meliputi aktivitas mengelompokkan, berhitung, mengukur, merancang bangunan, benda, permainan, dan menentukan lokasi (Sihombing & Simanjuntak, 2. Menurut Mulyani . , permainan tradisional merupakan suatu permainan peninggalan nenek moyang yang wajib dijaga dan dilestarikan karena dalam permainan tradisional mengandung nilai-nilai kearifan budaya lokal yang khas serta memiliki peran besar dalam proses pembelajaran matematika (Rohmatin, 2. Berdasarkan beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa etnomatematika merupakan sebuah pendekatan yang mencerminkan hubungan erat antara budaya dan konsep matematika yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Konsep ini mencakup berbagai aktivitas seperti mengelompokkan, menghitung, mengukur, merancang bangunan atau alat, bermain, hingga menentukan posisi, yang seluruhnya berakar pada praktik budaya lokal. Menurut Dayang . , geometri terbagi dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu, "geo" yang memiliki arti bumi dan "metro" yang memiliki arti ukuran (Maulana, 2. Geometri sering dikaji dalam konteks budaya dikarenakan pada geometri mempelajari konsep bangun datar, bangun ruang, sudut, dan garis secara visual yang menjadi dasar dari suatu bentuk pada konsep pembuatan bangunan atau benda (Agustiarini & Permata Wijaya, 2. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa etnomatematika merupakan pendekatan yang mengkaji konsep-konsep matematika yang tersembunyi dalam budaya dan kehidupan sosial masyarakat, sehingga menjadikan matematika lebih kontekstual dan dekat dengan realitas sehari-hari. Melalui etnomatematika, matematika tidak lagi dipandang sebagai ilmu yang sepenuhnya abstrak, melainkan sebagai bagian dari tradisi, kebiasaan, dan aktivitas lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Menurut Mandelbrot, geometri fraktal merupakan geometri alam yang mendeskripsikan pola pada alam yang tidak biasa dan berupa pecahan-pecahan, sehingga geometri klasik atau Euclidean dianggap kurang tepat untuk menggambarkan berbagai macam bentuk di alam seperti awan, pegunungan, garis pantai, atau pohon (Sari & Juniati. Menurut Widodo . , geometri fraktal merupakan salah satu bidang yang mengkaji ilmu geometri non-Euclid. Geometri Euclid membahas geometri pada ruang yang memiliki dimensi bilangan bulat seperti dimensi dua dan dimensi tiga, sedangkan geometri fraktal atau geometri non-Euclid mengkaji matematika dalam geometri yang memiliki ruang berdimensi pecahan, seperti 1/3, 2/3, dan 5/2 (Koneng & Sumenep. Geometri fraktal merupakan bentuk ilmu geometri yang mempelajari tentang keunikan dari suatu pola dan desain fraktal yang memiliki bentuk tak terhingga dan serupa (A. Pratiwi, 2. Aditama. Rahmatudin. Arwanto Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa geometri fraktal merupakan cabang dari geometri non-Euclid yang dikembangkan untuk menggambarkan bermacam-macam pola tidak beraturan yang ditemukan di alam, seperti awan, pegunungan, garis pantai, dan pohon. Berbeda dengan geometri Euclid yang terbatas pada ruang berdimensi bilangan bulat seperti dua atau tiga dimensi, geometri fraktal mempelajari bentuk-bentuk dalam ruang berdimensi pecahan, seperti 1/3, 2/3, atau 5/2. Mengenali dan memahami indikator matematika dalam etnomatematika membuat kita dapat lebih memahami bagaimana ilmu matematika yang telah diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Hal ini diharapkan dapat mengembangkan pendekatan pembelajaran matematika yang lebih inklusif dan relevan secara budaya, menghubungkan teori matematika dengan praktik dunia nyata. Pembelajaran yang mengaitkan konteks budaya akan meningkatkan minat dan pemahaman siswa karena materi yang diajarkan terasa lebih dekat dan bermakna. Budaya Dalam kamus besar bahasa Indonesia . , budaya atau culture dapat diartikan sebagai pikiran, adat istiadat yang sudah berkembang dan menjadi kebiasaan yang sulit untuk diubah. Pengertian budaya dan tradisi biasanya disinonimkan pemakaian sehari-hari di lingkungan masyarakat yang menjadikan tradisi diartikan sebagai kebiasaan masyarakat yang tampak atau terlihat (Syakhrani & Kamil, 2. Menurut koentjaraningrat . , kebudayaan merupakan suatu definisi dari segenap ide, aksi, dan hasil karya manusia melalui proses belajar dalam kehidupannya (Arrovia, 2. Sehingga dapat disimpulkan bahwa budaya merupakan hasil dari proses panjang perkembangan pikiran, kebiasaan, dan nilai-nilai yang melekat dalam kehidupan masyarakat, yang sulit untuk diubah karena telah menjadi bagian dari keseharian. Budaya mencakup berbagai aspek kompleks seperti agama, sistem politik, adat, bahasa, seni, pakaian, hingga bangunan. Menurut pandangan antropolog, budaya adalah hasil dari proses belajar manusia dalam kehidupannya, bukan sesuatu yang diwariskan secara biologis, melainkan melalui proses adaptasi, pembelajaran, dan interaksi sosial. Globalisasi secara mendasar mulai mengubah suatu kebiasaan bahkan budaya yang sukar dan mengakar di lingkungan masyarakat, dimulai dari perubahan gaya hidup bahkan mempengaruhi norma dan selera masyarakat yang terlibat dengan globalisasi itu sendiri (Jadidah et al. , 2. Istilah globalisasi budaya sendiri, mulai dikenal pada akhir tahun 1980-an, yang membahas tentang konvergensi dan perluasan hubungan budaya diantara masyarakat antar negara. Proses globalisasi budaya ditandai dengan konsumsi budaya melalui media, dimana konsumsi budaya ini turut mendorong pertukaran dan penyebaran budaya ke seluruh dunia (E. , 2. Oleh karena itu budaya memiliki potensi munculnya budaya baru dari satu daerah ke daerah lainnya. Budaya lokal yang dibawa manusia dari suatu daerah menuju daerah lainnya dapat menghasilkan sebuah budaya baru yang diadaptasi dari budaya yang dibawa dengan menyesuaikan budaya didaerah tempat yang akan mereka tempati. Masjid Masjid merupakan sebuah tempat untuk melaksanakan ibadah bagi umat muslim di Masjid juga biasa dikenal sebagai surau atau langgar. Menurut asal usul kata, masjid didefinisikan sebagai tempat bersujud. Sedangkan menurut bahasa Arab, masjid berasal dari kata masjidun yang berarti tempat bersujud atau tempat yang digunakan untuk menyembah Allah (Fauzi, 2. Menurut Kamus al-Munjid . 6: . , masjid dalam bahasa Arab yang berasal dari kata sajada, yasjudu, sujudan yang memiliki arti sebagai tempat sujud atau tempat beribadah (Tamuri, 2. Menurut Gazalba . , masjid dalam Bahasa Inggris diterjemahkan sebagai mosque yang memiliki arti prostration atau sujud khususnya untuk hari JumAoat (Mirdad et al. , 2. Sehingga dapat disimpulkan masjid merupakan tempat umat islam di seluruh dunia untuk menunaikan kewajiban bersujud kepada Tuhan. Masjid selain sebagai tempat beribadah umat Islam Aditama. Rahmatudin. Arwanto untuk menunaikan tugas manusia sebagai hamba kepada Allah SWT juga berfungsi sebagai simbol persatuan dan identitas peran mereka dalam memperkuat ikatan sosial dalam bermasyarakat. Pada zaman Rasulullah S. W masjid memiliki banyak peran dan fungsi seperti tempat pelaksanaan peribadatan, tempat pertemuan, tempat berkonsultasi, tempat kegiatan sosial, pendidikan, menumbuhkan aktivitas ekonomi, tempat pengobatan orang tempat pembinaan umat dan dakwah Islamiyah (Purwaningrum, 2. Fenomena pendirian masjid yang ada di kota-kota besar telah menampilkan peran dan fungsinya yang tidak hanya dijadikan sebagai sarana pendukung ibadah saja, namun sebagai tempat tempat kajian ilmu, tempat membaca kitab, pendidikan, kegiatan sosial, balai nikah hingga sebagai objek wisata religi (Caniago, 2. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia di sekitar lingkungan masjid dapat dilihat dari tingkat kemakmuran Masjid bukan hanya menjadi tempat fisik untuk beribadah, tetapi juga tempat umat Islam bertumbuh secara spiritual dan moral. Mendirikan masjid memiliki manfaat untuk umat islam memperoleh pahala yang besar dan menjadi bekal di akhirat kelak, pahala membangun masjid seperti membangun rumah di surga dan memiliki amal jariyyah yang tidak pernah usai (Lestari et al. , 2. Masjid merupakan instrumen pemberdayaan masyarakat atau umat yang memiliki peranan sangat strategis dalam upaya peningkatan kualitas masyarakat (Miftahus Salam. Oleh karena itu, masjid menjadi elemen penting yang membawa manfaat duniawi dan ukhrawi bagi umat Islam. Di Indonesia masjid banyak didirikan dengan keunikan daerahnya masing-masing. Dalam hal ini membuktikan bahwa masjid juga bagian dari kebudayaan suatu daerah. Sehingga kita dapat melihat suatu budaya dari suatu daerah dari bangunan masjid yang masih melestarikan keaslian dari bangunan sejak awal berdiri. Salah satu masjid yang masih melestarikan keaslian dari bangunannya adalah Masjid AlKaromah Syekh Syarief Abdurrahman. Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman merupakan salah satu masjid tertua di Cirebon. Masjid ini terletak di Blok Pesarean. Kelurahan Pasalakan. Keberadaan masjid ini belum banyak diketahui oleh masyarakat Cirebon. Masjid ini memiliki warna putih pada bagian luar dan warna merah pada bagian dalam masjid. Di sekitar lingkungan masjid terdapat pemakaman umum dan pohon-pohon yang masih rimbun sehingga para jamaah bisa merasakan ketenangan dalam melaksanakan kegiatan ibadah. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua dan sekaligus bukti sejarah tentang masa awal penyebaran Islam di tanah Cirebon (Sasongko, 2. Syekh Syarief Abdurrohman mengembara dan berdakwah ke Cirebon sekitar 753 tahun sebelum zaman Wali Songo (Garis, 2. Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman dulunya sering menjadi tempat berkumpul para ulama di tanah Cirebon tak terkecuali para Walisongo untuk membahas berbagai masalah (Sasongko, 2. Banyaknya masyarakat Cirebon yang masih belum mengetahui keberadaan masjid ini membuat penulis tergerak untuk melakukan kajian pada bangunan masjid, serta memperkenalkan masjid bersejarah di Cirebon, tidak hanya Masjid Merah Panjunan dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Jika dilihat dari lamanya bangunan masjid ini berdiri. Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman menyimpan banyak sejarah yang belum banyak diketahui masyarakat. METODE Metodologi penelitian adalah ilmu yang digunakan untuk memperoleh suatu kebenaran dengan tata cara tertentu, tergantung dari penelitian yang dikaji (Efendi & Sesmiarni. Menurut Moleong . penelitian kualitatif merupakan prosedur dalam penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari perilaku tiap orang dapat diamati oleh peneliti (Wicaksono, 2. Menurut Husaini Aditama. Rahmatudin. Arwanto dan Purnomo . , penelitian deskriptif kualitatif ialah penelitian yang menguraikan pendapat responden sesuai pertanyaan penelitian, kemudian dianalisis menggunakan kata-kata yang menjadi dasar dari perilaku responden seperti melakukan reduksi, triangulasi, simpulkan, dan diverifikasi (Wicaksono, 2. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian kualitatif deskriptif ini adalah etnografi. Desain penelitian ini kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode penelitian etnografi, karena penelitian ini pemahaman yang lebih mendalam serta digambarkan dengan beberapa kalimat untuk mengetahui data yang dibutuhkan dalam penerapan konsep matematika pada bangunan Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman. Data yang diperoleh meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi yang didapat dari hasil lapangan. Penelitian yang dilakukan pada bangunan Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman memerlukan sumber data yang saling berkaitan yaitu data primer dan data Data primer yang diperoleh merupakan data yang didapat dari juru kunci Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman. Sedangkan, data sekunder didapat melalui media perantara berupa dokumentas-dokumentasi selama peneliti melakukan observasi pada Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman. Berdasarkan sumber data yang diperlukan untuk diolah, sehingga pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik studi pustaka dan studi lapangan. Data diperoleh dengan cara mempelajari dan mengkaitkan literatur yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi yakni literatur tentang etnomatematika pada bangunan Langkah ini dilakukan sebagai landasan teoritis serta pedoman dalam menganalisa data yang didapat. Sedangkan pada teknik studi lapangan peneliti melakukan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pada penelitian ini wawancara dilakukan dengan cara tanya jawab dengan pihak juru kunci dan pengurus masjid yang berhubungan langsung dengan Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman. Berikut pedoman wawancara : Tabel 1. Pedoman Wawancara No. Aspek yang diteliti Historis Budaya Indikator Identitas Tata letak dan geografis Keberlanjutan tradisi Arsip Filosofis Arsitektur Artefak Pada observasi peneliti melakukan pengamatan pada bangunan Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman yang memiliki keterkaitan dengan etnomatematika secara Kemudian, dokumentasi dilakukan dengan cara membaca data atau catatan yang didokumentasikan mengenai bangunan Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu sesuai dengan apa yang diungkapakan oleh Miles dan Huberman agar penelitian ini lebih terfokus serta dilakukan secara terus menerus hingga mencapai data jenuh terhadap apa yang menjadi tujuan penelitian. Pada analisis data Miles dan Huberman terdapat beberapa langkah yaitu, pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada proses pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu, dokumentasi bangunan masjid serta melakukan wawancara kepada narasumber yang berkaitan langsung dengan Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman. Aditama. Rahmatudin. Arwanto Pada proses reduksi data, data yang diperoleh dari Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman akan dianalisis melalui reduksi data atau yang berarti juga merangkum, memilih hal-hal yang penting, serta lebih memfokuskan pada tujuan penelitian ini. Pada proses penyajian data, data yang disajikan berbentuk narasi, visual seperti gambar, grafik, atau tabel. Tujuan utama dari penyajian ini adalah untuk menggabungkan berbagai informasi agar mampu mencerminkan situasi atau kondisi yang sedang diteliti. Untuk mempermudah pemahaman terhadap keseluruhan data maupun bagian-bagian tertentu, peneliti disarankan untuk menggunakan bentuk penyajian seperti naratif, matriks, atau grafik. Kesimpulan tidak hanya diambil di akhir, tetapi juga selama proses penelitian berlangsung, sebagaimana dalam tahapan reduksi data. Ketika data sudah mulai terkumpul dan dirasa cukup, peneliti dapat menyusun kesimpulan sementara. Setelah seluruh data terkumpul secara menyeluruh dan sesuai dengan tujuan penelitian, maka peneliti menyusun kesimpulan akhir yang mencerminkan hasil akhir dari proses HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada Masjid Syekh Syarief Abdurrahman terdapat beberapa aktivitas etnomatematika yang terkandung di dalamnya seperti, konsep geometri dan aktivitas menentukan lokasi. Konsep Geometri Bangunan masjid mengandung berbagai konsep matematika yang diterapkan dalam perancangan dan konstruksinya. Salah satu konsep utama yang digunakan adalah geometri, yang terlihat pada bentuk dasar masjid seperti persegi, segitiga, atau lingkaran yang sering digunakan dalam denah dan ornamen. Selain geometri dua dimensi biasanya terdapat geometri tiga dimensi yang dapat kita lihat pada beberapa bagian bangunan masjid ini. Simetri dan proporsi juga menjadi aspek penting dalam desain masjid, terutama untuk menciptakan keseimbangan visual, seperti pada tata letak pintu, jendela, dan kubah. Konsep trigonometri sering digunakan dalam menentukan kemiringan atap, kubah, atau menara agar memiliki kestabilan dan keindahan proporsional. Selain itu, pola fraktal yang berulang sering ditemukan pada motif kaligrafi dan ukiran, mencerminkan konsep tak terhingga yang melambangkan kebesaran Tuhan. Penerapan konsep matematika pada bangunan masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi karya arsitektur yang penuh dengan nilai estetika dan ketelitian ilmiah serta dapat dilihat pada table 2 berikut: Tabel 2. Konsep Geometri pada bangunan Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman No. Arsitektur Masjid Pagar masjid Konsep Matematika Geometri Keterangan Pada pagar terdapat bentuk geometri prisma segi empat, limas segi empat. Pilar-pilar pagar sejajar satu sama lain, menunjukkan konsep garis sejajar dalam Aditama. Rahmatudin. Arwanto No. Arsitektur Masjid Konsep Matematika Keterangan Atap masjid Geometri dan pola Pada atap masjid terdapat 2 bentuk 3 dimensi geometri yaitu Atap utama berbentuk limas segi empat, yang merupakan salah satu bentuk geometri yang ada pada bangunan tradisional dan bagian puncak atap memiliki struktur tambahan yang berbentuk prisma segi Struktur atap yang bertingkat ini pengulangan bentuk dalam ukuran yang lebih kecil, yang merupakan salah satu karakteristik konsep fraktal dalam Atap memiliki simetri rotasi sekitar pusatnya, karena jika diputar pada sumbu vertikal, bentuknya tetap Gapura masjid Geometri Setiap tingkat pada gapura ini memiliki bentuk prisma segi empat, yang disusun secara bertingkat sehingga memberi efek visual yang khas. Gapura ini memiliki struktur bertingkat, yang terdiri dari balok-balok dengan ukuran yang semakin mengecil ke atas. Bentuk balok bertingkat dengan pola berulang ini menunjukkan bahwa terdapat konsep pola fraktal yang sering ditemukan dalam arsitektur tradisional, seperti candi atau gapura khas Jawa. Selain itu, gapura ini juga mengandung konsep transformasi Transformasi geometri yang dimaksud ialah refleksi dimana bentuk gapura utara dan selatan memiliki bentuk yang sama dan saling berhadapan dengan jalan sebagai sumbu tengahnya. Sumur Geometri Bentuk sumur yang tampak memiliki dasar mendekati persegi dengan sudut membulat menunjukkan penerapan konsep geometri. Sedangkan pada jeruji besi yang menutupi sumur terdapat konsep matematika kesejajaran. Aditama. Rahmatudin. Arwanto No. Arsitektur Masjid Pintu dalam masjid Tiang ruangan Tiang ruangan Beduk masjid Konsep Matematika Geometri Keterangan Lengkungan dibagian atas menunjukkan konsep busur lingkaran atau kurva. Desain lengkungan pada atas pintu memperhatikan proporsi agar seimbang dengan keseluruhan bentuk pintu. Ukuran pintu dan bingkai mengikuti konsep perbandingan agar terlihat estetis dan fungsional. Geometri Pada tiang dalam masjid ini terdapat konsep geometri persegi panjang dan bentuk prisma segi empat pada bagian Selain memiliki bentuk prisma segiempat, tiang ruangan dalam masjid ini juga memiliki bentuk yang sebangun atau kesebangunan dan kekongruenan karena memiliki ukuran dan sudut yang bersesuaian sama besar yang berfungsi untuk memperkuat atap masjid. Geometri Pada tiang tengah masjid terdapat bentuk geometri betuk persegi Panjang. Selain memiliki bentuk yang sebangun atau kesebangunan tiang tengah masjid ini juga memiliki kekongruenan karena memiliki ukuran dan sudut yang bersesuaian sama besar. Geometri Pada sisi depan dan belakang bedug merupakan bagian dari konsep geometri dua dimensi. Lingkaran pada bedug memiliki simetri putar dan simetri lipat, yang berarti dapat dibagi menjadi dua bagian yang sama. Bentuk utama bedug lingkaran sebagai alas dan tutup serta sisi lengkung sebagai selimutnya. Rangka penyangga bedug berbentuk balok, yang mendukung posisi tabung agar tetap Aditama. Rahmatudin. Arwanto No. Arsitektur Masjid Konsep Matematika Keterangan Tongkat cis masjid Geometri dan pola Tongkat cis ini memiliki bentuk dasar seperti tabung dengan bagian atas yang memiliki bentuk teratai kuncup. Selain bentuk tabung, pola fraktal juga dapat dilihat dari tongkat cis tersebut pada bagian atasnya yang menyerupai kuncup bunga teratai yang berulang dari bentuk terkecil hingga terbesar. Mimbar masjid Geometri Pada mimbar masjid ini memiliki bentuk persegi dan bagian atas mimbar yang memiliki bentuk kurva parabola yang dihiasi dengan beberapa nuansa islami dan kebudayaan yang masih melekat pada mimbar tersebut. Menentukan Lokasi Lokasi Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman terletak di Kelurahan Pasalakan. Kecamatan Sumber. Kabupaten Cirebon, tepatnya di Jalan Dusun Tuk Sari Kulon. Masjid ini berdiri di tengah-tengah pemukiman warga, memberikan suasana yang tenang dan khusyuk bagi para jamaah yang ingin beribadah. Keberadaannya yang jauh dari keramaian perkotaan menjadikan masjid ini sebagai tempat yang nyaman untuk menenangkan diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Akses menuju Masjid Al-Karomah cukup terbatas karena lokasinya yang tidak berada di jalur utama. Jalan menuju masjid ini hanya bisa dilalui oleh satu mobil, sehingga bagi jamaah yang ingin berkunjung harus lebih berhati-hati, terutama saat berpapasan dengan kendaraan lain. Meskipun begitu, lingkungan sekitar yang masih asri serta suasana khas perkampungan menambah daya atin tersendiri bagi siapa saja yang ating untuk beribadah ataupun sekadar berziarah. Aditama. Rahmatudin. Arwanto Gambar 1. Lokasi Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman SIMPULAN Masjid Al-Karomah Syekh Syarief Abdurrahman merupakan salah satu masjid bersejarah di Cirebon yang memiliki nilai budaya, arsitektur, dan filosofi yang mendalam. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan pendidikan Islam bagi masyarakat sekitar. Keberadaannya menjadi saksi perjalanan dakwah Islam di wilayah Cirebon serta mencerminkan perpaduan antara nilai-nilai keislaman dan tradisi lokal yang masih terjaga hingga kini. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa arsitektur masjid mengandung berbagai konsep etnomatematika, seperti geometri, kesejajaran, pola fraktal, dan transformasi Konsep-konsep ini terlihat pada struktur bangunan, seperti pagar, atap, gapura, serta sumur masjid, yang masing-masing memiliki pola dan bentuk yang menunjukkan penerapan ilmu matematika dalam seni arsitektur tradisional. Selain sebagai unsur estetika, penggunaan konsep ini juga mencerminkan kearifan lokal masyarakat Cirebon dalam membangun tempat ibadah yang kokoh dan indah. Keberadaan elemen-elemen tersebut menunjukkan bahwa masjid ini tidak hanya dibangun dengan pertimbangan fungsional, tetapi juga dengan nilai seni dan filosofi mendalam. Selain aspek arsitektur dan matematika, masjid ini juga memiliki nilai filosofis yang mencerminkan ajaran Islam serta budaya masyarakat setempat. Setiap elemen dalam masjid, mulai dari mimbar, pintu, hingga ukiran pada dinding, mengandung makna spiritual yang mengajarkan tentang ketakwaan, kebersamaan, dan kesederhanaan. Nilainilai ini mengingatkan para jamaah untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan Allah SWT serta menjunjung tinggi nilai-nilai sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian. Masjid Al-Karomah tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga pusat pembelajaran dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pelestarian masjid ini sangat penting untuk menjaga warisan sejarah dan budaya Islam di Cirebon. Dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah sangat diperlukan dalam upaya menjaga kebersihan, perawatan fasilitas, serta promosi masjid sebagai destinasi wisata religi. Selain itu, peningkatan kesadaran akan pentingnya warisan budaya ini dapat dilakukan melalui edukasi kepada generasi muda agar mereka turut menjaga dan melestarikan keberadaan masjid ini. Dengan langkah-langkah tersebut. Masjid AlKaromah diharapkan tetap lestari dan menjadi pusat keislaman yang terus memberikan manfaat bagi generasi mendatang. Aditama. Rahmatudin. Arwanto DAFTAR PUSTAKA