Jurnal Emasains: Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume IX Nomor 2 September Tahun 2020 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 5281/zenodo. Potensi Antibakteri Pegagan (Centella asiatic. Terhadap Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif Antibacterial Potential of Pegagan (Centella asiatic. Against Gram Positive and Gram Negative Bacteria Ella Yunitaa,*Dyah Ratna Ayu Puspita Sarib* Akademi Kesehatan Bintang Persada Jalan Gatot Subroto barat No 466A. Denpasar. Indonesia *Pos-el: ellayunita2203@gmail. Abstrak: Infeksi merupakan salah satu faktor penyebab utama morbiditas dan mortalitas diseluruh dunia. Terapi utama infeksi yaitu dengan penggunaan antibiotik. Namun penggunaan antibiotik sintetis dikaitkan dengan efek samping dan perbaikan progresif resistensi Oleh karena itu, diperlukan alternatif dalam terapi infeksi yaitu dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Centella asiatica yang dikenal dengan nama pegagan di Indonesia. Pegagan biasa digunakan dalam pengobatan tradisional dan telah terbukti memiliki berbagai aktivitas farmakologi, salah satunya sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antibakteri pegagan terhadap berbagai bakteri, baik gram negatif maupun positif. Hasil dari review ini menyatakan bahwa ekstrak pegagan memiliki potensi dalam menghambat pertumbuhan bakteri gram positif maupun negatif. Kata-Kata Kunci : Pegagan. Antibakteri. Gram Positif. Gram Negatif Abstract: Infection is one of the main causes of morbidity and mortality worldwide. The main therapy of infection is antibiotics. However, the use of synthetic antibiotics is associated with side effects and progressive improvement antimicrobial resistance. Therefore, an alternative infection treatment is needed by utilizing existing natural resources. Centella asiatica is well known plant in Indonesia by the name Pegagan. Pegagan commonly used in traditional medicine and has been shown to have a variety of pharmacological activities, one of them as an antibacterial. This study aimed to determine the antibacterial potential of pegagan against gram negative and positive bacteria. The results showed that pegagan extract had the potential to inhibit the growth of Gram positive and negative bacteria. Key Words: Pegagan. Antibacterial. Gram Positive bacteria. Gram Negative bacteria Jurnal Emasains: Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume IX Nomor 2 September Tahun 2020 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 5281/zenodo. dari Asiatic acid. Madecassic acid. Asiaticoside Madecassoside (Jasmansyah et al. ,2020. Somchit et al. Komposisi minyak atsiri pegagan yang utama minyak . ,4%) adalah asetat terpenik yang tidak teridentifikasi, b-caryophyllene, trans-b-farnesene, dan germacrene D (Oyedeji dan Afolayan. PENDAHULUAN Infeksi oleh berbagai patogen menjadi salah satu ancaman utama bagi kesehatan masyarakat terutama di negara Adapun pengobatan infeksi yang selama ini digunakan yaitu Penggunaan antibiotik untuk menyebabkan timbulnya resistensi. Namun, penggunaan obat-obatan yang tidak tepat meningkatkan frekuensi resistensi patogen terhadap antibiotik di seluruh dunia, sehingga keefektifan antibiotik berkurang (Mandal dan Syahmapada, 2. Oleh karena itu diperlukan strategi alternatif dalam penemuan antibakteri dari sumber lain, yang dapat diperoleh dari tumbuhan. Tumbuhan merupakan sumber yang kaya akan berbagai kandungan fitokimia seperti vitamin, terpenoid, asam fenolik, lignin, stilbena, tanin, flavonoid, kuinon, kumarin, alkaloid, amina, betalain, dan metabolit lainnya. Salah satu tumbuhan yang banyak tradisional yaitu pegagan. Pegagan berasal dari famili Apiaceae. Pegagan ditemukan di Asia Tropis sampai daerah sub tropis, mulai dari dataran rendah sampai tinggi 100-2500 m diatas permukaan laut (Bermawie et al. , 2. Pegagan merupakan salah satu tanaman yang mudah dijumpai dan telah digunakan dalam pengobatan tradisional Indonesia. Pegagan farmakologi digunakan untuk mengobati luka, gangguan neurologis, antioksidan, imunomodulator, antibakteri, antifungal, antidepresan, dan anti kanker (Hashim et ,2011. Mali dan Hatapakki, 2008. Sieberi at al. , 2. Pegagan memiliki triterpenoid, flavonoid, dan minyak Kandungan triterpenoidnya terdiri METODE PENELITIAN Metode penelitian ini merupakan review Studi literatur dilakukan secara online dari jurnal dan artikel penelitian primer yang dipublikasi baik international maupun nasional dengan kriteria inklusi yaitu jurnal dan artikel yang membahas tentang potensi antibakteri pegagan terhadap bakteri gram positif maupun negatif, kandungan kimia pegagan yang berpotensi sebagai antibakteri. Metode analisis data secara kualitatif dengan mendeskripsikan aktivitas antibakteri beberapa ekstrak pegagan terhadap bakteri yang termasuk golongan gram positif dan negatif serta kandungan kimia pegagan yang berpotensi sebagai antibakteri. HASIL DAN PEMBAHASAN Aktivitas Antibakteri Minyak atsiri dari pegagan telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri dengan spektrum luas. Penelitian yang dilakukan oleh Oyedeji dan Afolayan . , membuktikan bahwa minyak atsiri pegagan dengan konsentrasi 5mg/ml dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram-positif (Bacillus Staphylococcus aureu. dengan nilai MIC masing-masing 1,25 mg/ml dan Gram-negatif (Escherichia Pseudomonas aeruginosa. Shigella sonne. dengan nilai MIC berturut-turut adalah 0,039 mg/ml, 0,313 mg/ml, 0,625 mg/ml. Minyak atsiri pegagan lebih aktif Jurnal Emasains: Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume IX Nomor 2 September Tahun 2020 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 5281/zenodo. dibandingkan gram negatif. Aktivitas antibakteri ini diduga disebabkan oleh kandungan germacrene yang tinggi pada minyak atsiri pegagan. Penelitian lain juga menguji aktivitas antibakteri minyak atsiri pegagan terhadap bakteri Staphylococcus Pseudomonas aeruginosa. Nilai MIC pada bakteri S. epidermidis pada O 0,2%, aeruginosa pada konsentrasi 50%. penghambatan minyak atsiri pegagan lebih baik terhadap bakteri S. dibandingkan bakteri P. Aktivitas disebabkan oleh peran dari komponen kimia penyusun (Jasmansyah et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh Dash et al . membuktikan bahwa ekstrak herba pegagan berpotensi sebagai antibakteri spektrum luas dimana, ekstrak petroleum eter (PE), etanol, kloroform, n-heksan, dan air herba pertumbuhan bakteri Proteus vulgaris. Staphylococcus aureus. Bacillus subtilis dan Escherichia coli. Penghambatan paling besar ditunjukkan oleh ekstrak PE, etanol dan klorofom dengan rata-rata zona hambat sebesar 12-19 mm sedangkan untuk ekstrak n-heksan dan air sebesar 8-14 mm. Namun ekstrak nheksan penghambatan terhadap bakteri E. Coli. Penelitian oleh Polash et al . ekstrak etanol batang pegagan memiliki sensitivitas yang lebih besar terhadap bakteri E. coli dengan zona hambat 11,21 A 0,62 mm, diikuti oleh B. subtillis 7,95 A 0,41 mm dan S. typhi 7,5 A 0,33 mm. Ekstrak etanol daun pegagan memiliki zona penghambatan terhadap E. Coli sebesar 10,33 A 0,98 mm. subtillis 9,8 A 0,36 mm dan S. typhi 8,5 A 0,67 mm. Ekstrak etanol batang pegagan memiliki sensitivitas yang lebih besar terhadap E. coli, sedangkan ekstrak etanol daun lebih sensitif terhadap S. typhi dan B. Perbedaan dalam aktivitas antibakteri ekstrak ini disebabkan oleh komposisi dinding sel yang berbeda dari gram negatif seperti E. coli dan gram positif seperti B. Perbedaan ini mungkin konstituen fenolik dan metabolit sekunder lainnya di batang dan ekstrak Penelitian lain yang dilakukan oleh Azzahra dan Hayati . menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun pegagan terhadap bakteri penyebab karies gigi yaitu Streptococcus mutans yang menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun pegagan dengan konsentrasi 10%, 20%, 40%, 60%, 80% efektif Streptococcus Rata-rata diameter zona hambat tertinggi pada konsentrasi 80% yaitu 19. 5 mm dengan kategori kuat, sedangkan rata-rata diameter zona hambat paling rendah pada konsentrasi 10% yaitu 10,3 mm dengan kategori kuat. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri ekstrak daun pegagan paling efektif pada konsentrasi 80%. Sedangkan rata-rata diameter zona hambat pada kontrol klorheksidin yaitu 43 mm dengan kategori sangat kuat. Aktivitas antibakteri ekstrak PE, aseton, dan metanol daun pegagan diujikan terhadap bakteri gram negatif Proteus mirabilis dengan zona hambat terbesar ditunjukkan oleh ekstrak metanol dan aseton, masing-masing 67 mm dan 13. 33 mm. pada bakteri gram positif yaitu B. subtillis menunjukkan zona hambat yang kecil yaitu 8,33 mm. Ekstrak aseton dan metanol daun pegagan menunjukkan Jurnal Emasains: Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume IX Nomor 2 September Tahun 2020 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 5281/zenodo. aktivitas maksimum terhadap semua strain bakteri sedangkan ekstrak PE tidak menunjukkan aktivitas terhadap semua bakteri yang diuji. Kontrol positif ampisilin menunjukkan aktivitas yang mirip dengan ekstrak metanol. Ekstrak metanol daun pegagan menunjukkan zona phambat tertinggi dibandingkan dengan ekstrak PE dan aseton (Jayaprakash dan Nagarajan, 2. Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak daun pegagan dengan pelarut yang berbeda oleh Dash et al . juga dilakukan terhadap bakteri Proteus Staphylococcus Bacillus subtilis dan Escherichia coli. Ekstrak PE memiliki zona hambat maksimum terhadap P. vulgaris dan B. sedangkan zona hambat minimum terhadap E. Ekstrak etanol paling efektif terhadap B. vulgaris dan S. dan E. Ekstrak kloroform sangat aktif terhadap keempat bakteri uji dengan zona hambat terhadap P. Subtilis . Aureus . , dan E. Ekstrak n-heksana cukup efektif terhadap P. Subtilis . Aureus . namun tidak aktif terhadap E. Ekstrak air kurang efektif terhadap S. dan B. Subtilis . tetapi menunjukkan hasil moderat terhadap P. dan E. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak PE, etanol, dan kloroform pegagan memiliki aktivitas antibakteri yang lebih tinggi . ata-rata zona hambat 12-19 m. dibandingkan ekstrak nheksana dan air . ata-rata zona hambat 8-14 m. Kontrol positif yang digunakan adalah ciprofloxacin . AA. memiliki zona hambat terhadap P. Aureus . Subtilis . Aktivitas antibakteri pegagan diduga disebabkan oleh kandungan senyawa fenolik dan terpenoid. Amilah et al . menyatakan bahwa kandungan kimia yang dimiliki pegagan adalah alkaloid, glikosida, saponin, tanin, flavonoid, terpenoid, dan fenol. Mekanisme senyawa fenolik sebagai antibakteri pada konsentrasi rendah adalah merusak membran sitoplasma yang menyebabkan kebocoran inti sel, sedangkan pada konsentrasi tinggi adalah mengkoagulasi protein seluler (Volk dan Wheller, 1. Mekanisme bereaksi dengan protein transmembran . pada membran luar dinding sel bakteri, membentuk ikatan polimer yang kuat yang Kerusakan Porin akan mengurangi permeabilitas dinding sel bakteri yang akan mengakibatkan defisiensi nutrisi, sel bakteri, sehingga pertumbuhan bakteri terhambat atau mati (Cowan SIMPULAN DAN SARAN Pegagan terbukti memiliki potensi dalam bakteri baik dari golongan bakteri gram positif maupun negatif. Oleh karena itu, pegagan dapat menjadi salah satu sumber agen antibakteri yang memiliki spektrum Aktivitas disebabkan oleh adanya kandungan kimia seperti senyawa fenolik dan terpenoid. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menguji aktivitas antibakteri pegagan terhadap jenis bakteri gram positif dan negatif lainnya. DAFTAR RUJUKAN Amilah. Sukarjati. Rachmatin. , & Masruroh. Leaf and Petiole Extract of Centella Asiatica Jurnal Emasains: Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume IX Nomor 2 September Tahun 2020 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI : 10. 5281/zenodo. are Potential for Antifertility and Antimicrobial Material. Folia Medica Indonesiana, 55. , 188-197. Azzahra. , & Hayati. Uji Aktivitas Ekstrak Daun Pegagan (Centella Asiatica (L). Ur. Terhadap Pertumbuhan Streptococcus B-Dent: Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah, 5. , 9-19. Bermawie. Purwiyanti. , & Mardiana. Keragaan sifat morfologi, hasil dan mutu plasma nutfah pegagan (Centella asiatica (L. ) Urban. Cowan. Plant products as Clinical microbiology reviews, 12. , 564582. Dash. Faruquee. Biswas. Alam. Sisir. , & Prodhan. Antibacterial and antifungal activities of several extracts of Centella asiatica L. against some human pathogenic Life Sciences Medicine Research, 2011, 1-5. Hashim. Sidek. Helan. Sabery. Palanisamy. , & Ilham. Triterpene composition and bioactivities of Centella asiatica. Molecules, 16. Jasmansyah. Fitriyani. Sujono. Aisyah, . Antimicrobial Activity of Essential Oil from Centella asiatica (L. ) Urb Plant. Jurnal Kartika Kimia, 3. Jayaprakash. , & Nagarajan. Studies on the bioactive activities of medicinal plant Centella asiatica (Lin. Journal of Medicinal Plants Studies, 4. , 181-85. Mali. , & Hatapakki. An in vitro study of effect of Centella asiatica on phagocytosis by International journal of pharmaceutical sciences and nanotechnology, 1. , 297-302. Mandal. , & Mandal. Honey: its medicinal property and antibacterial activity. Asian Pacific journal of tropical biomedicine, 1. Oyedeji. , & Afolayan. Chemical composition and antibacterial activity of the essential oil of Centella asiatica. Growing in SouthAfrica. Pharmaceutical biology, 43. , 249-252. Polash. Saha. Hossain. & Sarker. Investigation of the phytochemicals, antioxidant, and antimicrobial activity of the Andrographis paniculata leaf and Advances Bioscience and Biotechnology, 8. Sieberi. Omwenga. Wambua. Samoei. , & Ngugi. Screening of the Dichloromethane: Methanolic Extract of Centella asiatica for Antibacterial Activities Salmonella typhi. Escherichia coli. Shigella sonnei. Bacillus subtilis, and Staphylococcus The Scientific World Journal, 2020. Somchit. Sulaiman. Zuraini. Samsuddin. Somchit, . Israf. , & Moin. Antinociceptive antiinflammatory effects of Centella Indian Journal Pharmacology, 36. , 377. Volk. , & Wheeler. Mikrobiologi Erlangga. Jakarta.