Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 501-511 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Strategi Guru Dalam Pengelolaan Kelas Inklusi di Raudhatul Athfal Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang Fauriyatul Ilma1. Laili Ramadani2. Sri Intan Wahyuni3. Mega Cahya Dwi Lestari4 Info Artikel Abstract Keywords: Inclusive education is a system that provides equal learning opportunities for students with disabilities and those with special talents in general classroom The researcher chose RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang because the school accepts children with special needs without discrimination. This study aimed to explore teachersAo strategies in managing inclusive classrooms and to identify supporting and inhibiting factors. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed through data collection, reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings show that teachersAo strategies include planning, implementation, and evaluation. Lesson plans are the same for all students, though teaching strategies are adjusted to childrenAos needs. Evaluation is conducted through domain-based assessments of studentsAo development. Classroom management does not differ between regular and special-needs students, except that children with special needs receive more frequent guidance. Supporting factors include cooperation with health centers and therapists, while inhibiting factors include the absence of training for teachers on inclusive Teacher Strategies. Classroom Management. Inclusive Education. Kata kunci: Strategi Guru. Pengelolaan Kelas. Pendidikan Inklusi. Abstrak Pendidikan inklusi adalah sistem pendidikan yang memberikan kesempatan belajar yang setara bagi peserta didik berkebutuhan khusus maupun yang memiliki bakat istimewa dalam lingkungan kelas reguler. Penelitian dilakukan di RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang karena sekolah ini menerima anak berkebutuhan khusus tanpa diskriminasi. Tujuan penelitian adalah mengetahui strategi guru dalam pengelolaan kelas inklusi serta faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui pengumpulan, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. RPPH disusun sama untuk semua anak, namun strategi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Evaluasi dilakukan melalui penilaian berbasis domain terhadap perkembangan anak. Pengelolaan kelas tidak berbeda antara anak reguler dan ABK, kecuali ABK diberi pengingat dan bimbingan lebih sering. Faktor pendukung adalah kerja sama dengan puskesmas dan terapis, sedangkan faktor penghambat adalah belum adanya pelatihan guru terkait pengelolaan pendidikan inklusi. 1 Pendidikan Islam anak usia dini. STIT Diniyyah Puteri Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang. Indonesia Email: fauriyatulilma@gmail. 2 Pendidikan Islam anak usia dini. STIT Diniyyah Puteri Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang. Indonesia Email: lailiramadani86@gmail. 3 Pendidikan Islam anak usia dini. STIT Diniyyah Puteri Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang. Indonesia Email: sriintanwahyuni204@gmail. 4 Pendidikan Islam anak usia dini. STIT Diniyyah Puteri Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang. Indonesia Email: megacdlestari@gmail. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 15 November 2025 11 Desember 2025 16 Desember 2025 17 Desember 2025 Cara Mensitasi Artikel: Ilma. Ramadani. Wahyuni. , & Lestari. Strategi Guru Dalam Pengelolaan Kelas Inklusi Di Raudhatul Athfal Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang. Jurnal Ar-Raihanah, 5 . , 501-511, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Fauriyatul Ilma, fauriyatulilma@gmail. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana yang bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran dan proses pendidikan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya dan memiliki sifat-sifat spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, mulia akhlak, dan keterampilan yang dimilikinya, masyarakat umum, dan bangsa memerlukannya. Pendidikan merupakan komponen penting dalam konstruksi (Makkawaru. Menurut Ki Hajar Dewantara mendefinisikan bahwa AuPendidikan yaitu tuntutan didalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Ay Pendidikan merupakan sebuah proses humanisme yang selanjutnya dikenal dengan istilah memanusiakan manusia. Pendidikan anak usia dini sebagaimana yang termasuk dalam Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa: Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Batasan lain mengenai usia dini pada anak berdasarkan psikologi perkembangan yaitu antara usia 0 Ae 8 tahun (Saputra. Setiap anak tentu telah dibekali potensi luar biasa sejak lahir, pontensi ini harus dikembangkan dan digali dengan cara pemberian stimulasi yang sesuai. Begitu juga dengan anak yang berkebutuhan khusus yang harus juga mendapatkan stimulasi yang sama dengan anak-anak biasanya untuk mencapai tahap perkembangan pada dirinya. Anak berkebutuhan khusus (ABK) menurut Permendikbud No. 157 Tahun 2014 adalah anak atau peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus dan memiliki kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan sosial. Terlepas dari keterbatasan yang ABK miliki, mereka tetap memiliki hak yang sama dengan anak sebayanya dalam segala bidang kehidupan, termasuk untuk menerima pembelajaran di sekolah. Hal yang membedakannya adalah bahwa ABK tersebut membutuhkan layanan dan bimbingan pendidikan yang spesifik sesuai dengan jenis hambatan belajar yang dimilikinya baik secara fiisik maupun mental (Rosnaningsih, dkk. Pendidikan inklusi adalah termasuk hal yang baru di Indonesia umumnya. Ada beberapa pengertian mengenai pendidikan inklusi, di antaranya pendidikan inklusi merupakan sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi sistem pendidikan dengan meniadakan hambatanhambatan yang dapat menghalangi setiap siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan. Hambatan yang ada bisa terkait dengan masalah etnik, gender, status sosial, kemiskinan, dan lain-lain. Dengan kata lain pendidikan inklusi adalah pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang di didik bersama-sama anak lainnya . untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Falsafah Inklusi dikembangkan dari sistem pendidikan terintegrasi dengan tujuan untuk memastikan murid-murid dengan kebutuhan khusus mendapat akses pendidikan mereka dengan anakanak istimewa di dalam ruang lingkup terkecil. Sejalan dengan implementasi ini, semua lapisan masyarakat harus sadar bahwa anak-anak istimewa ini juga adalah bagian dari mereka. Dalam Islam pendidikan inklusi bagi anak yang berkebutuhan khusus (ABK) menjadi salah satu perhatian dalam penyelenggaraan pendidikan, seperti yang tertulis dalam surat Abasa ayat 1-10 bahwa pendidikan itu sudah seharunya diberikan kepada setiap anak tanpa memandang perbedaan. Allah SWT a eo A EaNA a eA)OaI Oa e aOA a eA)aIAu(Aa eIA e A) acI aI aIA(A)aeO Oa ac acE a a eI aA aNa E c eE OA(AE Ea aEacN OaaccE eOA a (A)a eI aeaNa eEa e IOA( A aOa aOcEA a a AA )(A aeINa aEa cN oOA a A)OaI aEaeOA a eA)aIA(A)OaN aO aOe OA aa a (A)O acI aI eI aa aE Oa e OA a (AE aaceE OaaccEOA a (AA cOA Artinya: . Dia (Muhamma. bermuka masam dan berpaling, . Karena Telah datang seorang buta kepadanya . Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya . ari dos. , . Atau dia . mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? . Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup . Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada . atasmu kalau dia tidak membersihkan diri . Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera . ntuk mendapatkan pengajara. , . Sedang ia takut kepada (Alla. Maka kamu Berdasarkan ayat di atas pendidikan seharusnya dilaksanakan dan diberikan kepada setiap individu tak terkecuali anak yang menyandang disabilitas atau anak berkebutuhan khusus (ABK). Islam memberikan perhatian yang besar terhadap anak berkebutuhan khusus agar mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak umum lainya untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki secara optimal (Sumantri. Dalam pelaksanaan pendidikan inklusi, memerlukan keahlian guru untuk mengelola pembelajaran dengan baik karena dapat mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran. Hal itu mengacu pada bagaimana strategi guru dalam menyusun rencana pembelajaran, mengelola proses pembelajaran, dan melakukan evaluasi pembelajaran di dalam kelas. Maka dari itu agar guru mampu mengelola pembelajaran dengan baik. Guru dituntut untuk memiliki pemahaman, dan keterampilan serta dapat mengaplikasikan berbagai strategi pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Selain itu, guru juga harus mampu bekerja sama dengan siswa untuk menangani permasalahan siswa dan menjalankan kegiatan akademik dengan baik. Pendidikan inklusi sangat diperlukan karena keberadaan anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam lingkungan sekolah formal semakin meningkat seiring dengan berkembangnya kesadaran masyarakat terhadap hak pendidikan bagi semua anak. Pendidikan inklusi memberikan kesempatan yang setara bagi setiap anak untuk belajar bersama dalam satu ruang kelas tanpa adanya diskriminasi. Namun, dalam praktiknya, pelaksanaan pendidikan inklusi masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari segi strategi guru, sarana prasarana, kurikulum, maupun kompetensi tenaga pendidik. RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang adalah salah satu sekolah RA yang menerima anakanak berkebutuhan khusus. RA Rahmah El Yunusiyyah berlokasi di Jl. Abdul Hamid Hakim No. Ps. Usang. Kec. Padang Panjang Barat. Kota Padang Panjang. Sumatera Barat 27118. RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang untuk penerimaan anak berkebutuhan khusus itu sudah lama namun tidak sebanyak pada saat ini, terhitung banyaknya anak berkebutuhan khusus yaitu pada tahun 2018. RA Rahmah El Yunusiyyah ini dinamakan inklusi tidak juga karena tidak ada perlengkapan khusus, ruangan khusus dan guru pendamping khusus yang berlatar belakang Pendidikan luar biasa. Namun jika ada anaknya yang didaftarkan berkebutuhan khusus itu diterima. Dan untuk jumlah siswa di RA Rahmah El Yunusiyyah pada tahun ajaran 2024/2025 berjumlah sekitar 91 siswa dan 3 diantaranya merupakan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) 2 yang hambatan berbahasa dan berbicara, 1 dengan gangguan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan pada tahun ajaran 2025/2026 sekarang ini berjumlah 93 siswa dan 2 diantaranya speech delay, dan ada 3 anak lagi dalam proses pemeriksaan. yang mana anak-anak ini memerlukan pelayanan khusus pada setiap proses pembelajarannya. Hal ini bedasarkan penuturan dari kepala sekolah RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang yaitu ibu Yanti Gusvita. Ma pada saat diwawancarai. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas juga yaitu ibu Annisa Fadilah Hanum. Pd di RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang, beliau menyampaikan pengelolaan kelas inklusi hampir sama seperti sekolah pada umumnya. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara bersama-sama antara anak reguler dan ABK di dalam satu kelas. Yang membedakan adalah pendekatan yang dilakukan oleh guru dan pengulangan terhadap ABK, dan strategi yang diberikan kepada anak ABK tidak terdapat strategi yang tertulis secara terstruktur hanya strategi yang muncul ketika perubahan apa yang akan dilakukan kedepannya untuk perkembangan ABK (Hanum. Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah diatas sekolah inklusi menjadi hal yang menarik untuk diteliti, karena sekolah inklusi adalah sekolah yang menggabungkan antara anak reguler dan ABK dalam satu kelas. Untuk mendapatkan proses pembelajaran yang efektif. Sehingga peneliti ingin meneliti lebih dalam bagaimana pengelolaan kelas inklusi di RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang. Dengan demikian, peneliti mengambil judul AuStrategi Guru Dalam Pengelolaan Kelas Inklusif Di RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif karena peneliti berupaya memahami secara mendalam strategi guru dalam mengelola kelas inklusi di RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti memperoleh gambaran apa adanya mengenai fenomena yang terjadi di lapangan melalui data berupa kata-kata, tindakan, dan dokumen. Menurut Pradoko, penelitian kualitatif dilakukan oleh peneliti sebagai instrumen utama yang terlibat langsung dalam pengumpulan dan pemaknaan data (Pradoko, n. Pendekatan deskriptif digunakan karena penelitian bertujuan memaparkan strategi guru dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran secara terperinci berdasarkan fakta yang ditemukan. Penelitian ini dilaksanakan di RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang, sebuah lembaga pendidikan anak usia dini yang menerima peserta didik berkebutuhan khusus. Lokasi sekolah yang berada di Jl. Abdul Hamid Hakim No. Kelurahan Pasar Usang. Kecamatan Padang Panjang Barat, dipilih karena karakteristik lembaga yang menerapkan pendidikan inklusi. Keberadaan siswa berkebutuhan khusus di sekolah ini menjadi dasar relevansi penelitian, sehingga peneliti dapat mengamati langsung bagaimana strategi guru diterapkan dalam proses pembelajaran inklusif. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan dua jenis sumber, yaitu sumber primer dan Sumber primer diperoleh melalui wawancara dan observasi langsung dengan kepala sekolah, 10 orang guru kelas atau guru sentra, serta 1 orang guru pendamping khusus yang bertugas pada tahun ajaran 2025/2026. Mereka menjadi informan kunci karena terlibat langsung dalam penyelenggaraan pembelajaran inklusif. Sementara itu, sumber sekunder diperoleh melalui dokumen sekolah seperti profil lembaga, data guru, data peserta didik, modul ajar, perangkat penilaian, serta berbagai literatur yang relevan seperti jurnal, buku, dan laporan terkait pendidikan inklusi. Data sekunder ini digunakan untuk memperkuat dan melengkapi data primer sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif. Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen utama yang menentukan keberhasilan pengumpulan data. Untuk mendukung perannya, peneliti menggunakan instrumen tambahan berupa pedoman wawancara, pedoman observasi, alat perekam, kamera telepon genggam, dan buku catatan. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Pedoman wawancara disusun berdasarkan fokus penelitian yaitu strategi guru dalam mengelola kelas inklusi, sehingga proses wawancara berlangsung terarah namun tetap fleksibel. Selama wawancara berlangsung, peneliti merekam percakapan untuk memastikan keakuratan data ketika transkripsi Sementara itu, observasi dilengkapi dengan catatan lapangan dan dokumentasi berupa foto Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan untuk menggali informasi mendalam mengenai strategi guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran di kelas inklusi. Wawancara dipandang sebagai teknik penting karena memungkinkan peneliti memahami pandangan dan pengalaman guru secara lebih intens. Selain itu, peneliti melakukan observasi terhadap proses pembelajaran, interaksi guru dan peserta didik, serta kondisi lingkungan belajar. Menurut Marshall sebagaimana dikutip dalam karya Sutrisno, observasi memungkinkan peneliti memahami perilaku dan makna yang melekat pada perilaku tersebut melalui pengamatan langsung (Sutrisno, n. Teknik dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tertulis maupun visual terkait kegiatan sekolah yang mendukung analisis penelitian. Analisis data dalam penelitian ini mengikuti model Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles & Huberman, dalam Sugiyono, 2. Pada tahap reduksi data, peneliti menyeleksi dan memfokuskan data sesuai kebutuhan penelitian sehingga data yang tidak relevan dieliminasi. Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian naratif agar pola hubungan antar-temuan dapat terlihat dengan jelas. Setelah itu, peneliti melakukan penarikan kesimpulan secara bertahap. Kesimpulan awal bersifat sementara dan akan diperkuat melalui verifikasi data tambahan pada tahap berikutnya. Jika kesimpulan awal terbukti konsisten, maka kesimpulan akhir dapat dianggap kredibel. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Teknik ini dilakukan dengan membandingkan data dari berbagai sumber, teknik pengumpulan, dan waktu. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi dari kepala sekolah, guru kelas, dan guru pendamping khusus. Triangulasi teknik dilakukan dengan mencocokkan data hasil wawancara dengan observasi dan dokumentasi. Sementara itu, triangulasi waktu dilakukan dengan pengulangan pengumpulan data pada waktu yang berbeda sehingga memastikan konsistensi dan validitas data (Sugiyono, 2. Melalui triangulasi, keandalan dan kredibilitas temuan penelitian dapat terjaga dengan baik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Strategi Guru dalam Pengelolaan Kelas Inklusi Berdasarkan hasil penelitian, strategi guru dalam pengelolaan kelas inklusi di RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang dilaksanakan melalui tiga tahap utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap perencanaan, guru memulai dengan memahami karakter setiap anak melalui observasi, asesmen berkelanjutan, dan wawancara dengan orang tua. Pemahaman mendalam ini menjadi dasar bagi guru dalam menyesuaikan modul ajar, meskipun belum tersedia RPPH khusus bagi anak berkebutuhan khusus. Guru mengintegrasikan kebutuhan ABK ke dalam lesson plan umum, lalu menyesuaikan tahapan kegiatan berdasarkan kemampuan anak. Perencanaan ini semakin matang melalui kerja sama intensif dengan guru pendamping khusus (GPK) serta diskusi informal yang dilakukan secara rutin untuk meninjau kebutuhan anak dan strategi pengajaran yang tepat. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Pada tahap pelaksanaan, guru mengadaptasi metode pembelajaran agar seluruh peserta didik, termasuk ABK, dapat terlibat aktif. Guru memberikan pengulangan pijakan, instruksi yang lebih sederhana, dan pendampingan intensif terutama bagi anak dengan hambatan komunikasi . peech dela. ataupun ADHD. Media pembelajaran seperti kartu kata, kartu gambar, papan tulis, dan alat manipulatif digunakan untuk membantu anak memahami materi sesuai tahap perkembangannya. Penataan posisi duduk juga disesuaikan. misalnya, anak ADHD ditempatkan dekat guru pendamping untuk meminimalkan distraksi, sedangkan anak speech delay digabungkan dengan teman sebaya untuk membantu komunikasi sosial. Dalam pembelajaran sentra, guru tetap menyatukan kegiatan antara anak reguler dan ABK namun memberikan arahan tambahan atau pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing anak. Hal ini menegaskan bahwa strategi dalam pelaksanaan bersifat fleksibel, adaptif, dan berfokus pada kenyamanan serta keberhasilan belajar anak. Pada tahap evaluasi, guru menggunakan pendekatan penilaian berbasis individu dengan mengacu pada domain perkembangan seperti BB (Belum Berkemban. MB (Mulai Berkemban. BSH (Berkembang Sesuai Harapa. , dan BSB (Berkembang Sangat Bai. Evaluasi dilakukan melalui observasi perilaku, asesmen berkelanjutan, wawancara dengan orang tua, serta identifikasi capaian perkembangan dari waktu ke waktu. Meskipun format penilaian sama untuk anak reguler dan ABK, guru memberikan toleransi, pendekatan personal, dan perhatian penuh dalam menilai proses dan capaian belajar anak berkebutuhan khusus. Tantangan seperti anak yang sulit fokus atau sulit merespon instruksi menjadi pertimbangan penting dalam penyusunan penilaian. Evaluasi berfungsi tidak hanya untuk mengetahui capaian anak, tetapi juga sebagai dasar penyesuaian strategi pengelolaan kelas di hari berikutnya. Faktor Pendukung dan Penghambat Faktor pendukung utama dalam pelaksanaan strategi pengelolaan kelas inklusi di RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang adalah adanya kerja sama yang baik antara guru kelas, guru pendamping khusus, orang tua, serta pihak luar seperti puskesmas dan tenaga ahli terapi. Kolaborasi ini memungkinkan pemetaan kebutuhan anak secara lebih komprehensif, terutama melalui pemeriksaan tumbuh kembang (DDTK) dan program terapi totok punggung yang melibatkan dokter atau tenaga profesional. Selain itu, suasana kelas yang nyaman, komunikasi terbuka antara guru dan orang tua, serta komitmen guru untuk melakukan pendampingan intensif menjadi faktor yang sangat mendukung keberhasilan pendidikan inklusi. Guru menunjukkan kesediaan untuk berdiskusi, menyesuaikan pembelajaran, dan mengelola kelas sesuai kondisi setiap anak, termasuk anak berkebutuhan khusus. Namun demikian, penelitian menemukan beberapa faktor penghambat yang memengaruhi optimalisasi pengelolaan kelas inklusi. Hambatan yang sering dijumpai guru adalah kesulitan dalam menghadapi perilaku tertentu, seperti tantrum atau kondisi anak yang tidak stabil secara emosional. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Tantangan semakin besar ketika guru pendamping tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus (PLB) dan tidak pernah mendapatkan pelatihan formal terkait pendidikan inklusi. Keterbatasan sarana prasarana khusus untuk ABK juga menjadi kendala, karena sekolah masih belum memiliki ruang, media, atau alat bantu yang secara khusus dirancang untuk kebutuhan anak berkebutuhan khusus. Selain itu. RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang belum berstatus sebagai sekolah inklusi secara resmi, sehingga belum mendapatkan dukungan struktural seperti pendanaan khusus atau fasilitas standar Hambatan-hambatan ini membuat guru harus bekerja lebih keras, mengandalkan kreativitas, improvisasi, serta pengalaman lapangan dalam menangani ABK secara tepat. Pembahasan Strategi Guru dalam Pengelolaan Kelas Inklusi Pengelolaan kelas merupakan upaya penting yang dilakukan pendidik untuk menciptakan serta mempertahankan kondisi belajar yang kondusif sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal. Upaya ini bukan hanya mencakup pengaturan ruang kelas secara fisik, tetapi juga pembinaan iklim sosial emosional yang positif dan pengendalian perilaku peserta didik agar tetap Dalam konteks pendidikan inklusi, pengelolaan kelas menjadi lebih kompleks karena guru harus menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kebutuhan beragam peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Hasil penelitian di RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang menunjukkan bahwa strategi guru dalam mengelola kelas inklusi dilakukan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang saling berkesinambungan. Pada tahap perencanaan, sekolah telah berupaya menyusun pengelolaan kelas inklusi secara sistematis meskipun belum sepenuhnya memenuhi standar formal sekolah inklusi. Upaya ini terlihat sejak proses penerimaan peserta didik baru melalui penerapan deteksi dini tumbuh kembang (DDTK). Melalui formulir pendaftaran, wawancara dengan orang tua, dan pengamatan langsung, guru dapat mengenali riwayat kesehatan, perkembangan, serta kebutuhan awal setiap anak. Langkah ini menunjukkan kesadaran sekolah terhadap pentingnya asesmen awal sebagai dasar perancangan pembelajaran yang relevan dan bermakna. Perencanaan ini semakin diperkuat dengan adanya kerja sama antara sekolah dan Puskesmas Bukit Surungan dalam memantau perkembangan anak secara berkala. Data hasil DDTK dijadikan bahan diskusi antara guru, orang tua, dan tenaga kesehatan untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat. Walaupun belum berstatus sebagai sekolah inklusi. RA Rahmah El Yunusiyyah menunjukkan komitmen kuat dalam menciptakan lingkungan ramah anak dan menerima ABK untuk belajar bersama peserta didik reguler. Namun, perencanaan masih menghadapi kendala berupa keterbatasan sarana dan prasarana khusus bagi ABK. Guru belum memiliki dokumen RPPH khusus untuk anak berkebutuhan khusus, sehingga perencanaan pembelajaran masih menggunakan dokumen umum yang sama untuk semua Penyesuaian dilakukan secara fleksibel di lapangan melalui observasi dan asesmen berkelanjutan terhadap kebutuhan tiap anak. Guru juga menjalin kolaborasi dengan guru pendamping khusus (GPK) serta orang tua untuk merumuskan strategi pembelajaran yang aman, nyaman, dan sesuai karakteristik peserta didik. Melalui identifikasi awal dan komunikasi berkelanjutan, guru dapat memahami kekuatan serta kelemahan masing-masing anak sehingga perencanaan menjadi lebih terarah dan individual. Pada tahap pelaksanaan, guru menerapkan pembelajaran yang adaptif dan fleksibel sesuai kebutuhan peserta didik. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk seluruh anak, namun guru memberikan instruksi berulang, pendampingan lebih intensif, dan pendekatan individual bagi anak507 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 anak yang membutuhkan. Media pembelajaran dimodifikasi berdasarkan kondisi anak, misalnya menggunakan kartu kata dan kartu bergambar untuk peserta didik dengan hambatan bicara . peech dela. , serta menggunakan papan tulis untuk memperjelas visualisasi kegiatan. Penataan tempat duduk pun menjadi strategi penting, di mana anak dengan ADHD ditempatkan lebih dekat dengan guru pendamping agar tetap terkontrol, sedangkan anak dengan speech delay diletakkan bersama teman seusianya guna mendukung interaksi sosial. Seluruh upaya ini menunjukkan bahwa guru berusaha mengakomodasi kebutuhan belajar setiap peserta didik agar proses pembelajaran tetap berlangsung aman, nyaman, dan partisipatif. Tahap evaluasi dilakukan secara individual berdasarkan kemampuan dan perkembangan tiap anak tanpa melakukan perbandingan antarpeserta didik. Guru menggunakan kategori penilaian BB. MB. BSH, dan BSB untuk menggambarkan pencapaian perkembangan anak. Tantangan terbesar dalam evaluasi anak berkebutuhan khusus adalah kesulitan anak dalam memusatkan perhatian atau merespons instruksi. Untuk mengatasinya, guru melakukan pengulangan instruksi, observasi perilaku secara berkelanjutan, serta melibatkan orang tua dalam pelaporan perkembangan anak. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip penilaian dalam pendidikan inklusi yang harus bersifat fleksibel, berorientasi proses, dan dilakukan secara menyeluruh. Secara keseluruhan, strategi guru dalam pengelolaan kelas inklusi di RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang menunjukkan pendekatan yang adaptif, kolaboratif, dan berfokus pada kebutuhan anak. Meskipun terdapat keterbatasan dari segi fasilitas dan dokumen perencanaan, komitmen dan kreativitas guru mampu menghadirkan suasana belajar yang kondusif serta memberikan kesempatan belajar yang setara bagi semua peserta didik. Faktor Pendukung dan Penghambat Pengelolaan Kelas Inklusi Pendidikan inklusi tidak dapat berjalan secara efektif tanpa adanya dukungan dari berbagai Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sejumlah faktor pendukung yang berperan penting dalam keberhasilan pengelolaan kelas inklusi di RA Rahmah El Yunusiyyah Padang Panjang. Salah satu faktor utama adalah kolaborasi yang terjalin antara guru, orang tua, dan guru pendamping khusus. Kerja sama ini memungkinkan penyusunan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak serta pemantauan perkembangan yang berkelanjutan baik di sekolah maupun di rumah. Selain itu, dukungan layanan kesehatan dan terapi juga menjadi aspek penting, di mana sekolah bekerja sama dengan puskesmas dan tenaga profesional, termasuk terapis totok punggung yang didampingi dokter, untuk membantu anak dari sisi kesehatan dan terapi. Komunikasi terbuka antara guru dan orang tua turut memperkuat implementasi pendidikan inklusi, karena hubungan yang harmonis dan transparan mempermudah pertukaran informasi serta memastikan adanya kesinambungan layanan bagi anak. Secara keseluruhan, faktor-faktor ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan inklusi sangat bergantung pada keterlibatan aktif semua pihak, termasuk keluarga dan komunitas sekitar. Di sisi lain, penelitian juga menemukan adanya sejumlah faktor penghambat dalam pelaksanaan pengelolaan kelas inklusi. Salah satu hambatan utama adalah kurangnya pelatihan dan kompetensi guru, khususnya guru pendamping yang sebagian belum memiliki latar belakang Pendidikan Luar Biasa (PLB) dan belum pernah mengikuti pelatihan khusus terkait penanganan anak berkebutuhan khusus. Akibatnya, mereka harus belajar secara mandiri untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak. Tantangan lain muncul dari perilaku anak, seperti tantrum atau kesulitan fokus, yang dapat mengganggu suasana kelas dan membutuhkan penanganan intensif dari guru. Selain itu, keterbatasan sarana dan prasarana khusus bagi ABK juga menjadi kendala yang cukup signifikan, karena belum tersedianya fasilitas dan program pembelajaran yang benar-benar dirancang untuk mendukung kebutuhan individual mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 meskipun pengelolaan kelas inklusi telah berjalan cukup baik, peningkatan kapasitas guru dan penyediaan fasilitas yang memadai tetap diperlukan agar pelaksanaan pendidikan inklusi dapat berlangsung lebih optimal. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas inklusi dilakukan melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang disesuaikan dengan kondisi peserta didik. Pada tahap perencanaan, guru terlebih dahulu memahami karakter setiap anak melalui observasi, wawancara, dan asesmen berkelanjutan, serta menjalin kerja sama dengan guru pendamping khusus untuk memastikan strategi yang dirancang sesuai kebutuhan anak. Meskipun demikian, penyusunan RPPH atau lesson plan tidak dibedakan antara anak reguler dan anak berkebutuhan khusus, sehingga penyesuaian dilakukan secara fleksibel dalam praktik pembelajaran. Pada tahap pelaksanaan, media dan kegiatan pembelajaran digunakan secara sama bagi semua anak, namun guru tetap menyesuaikan pendekatan dengan tahap perkembangan serta kebutuhan individual anak, termasuk dalam pengaturan tempat duduk yang didasarkan pada kenyamanan dan kondisi masing-masing peserta didik tanpa pengkhususan bagi ABK. Evaluasi dan penilaian juga dilakukan secara setara, dengan perbedaan hanya pada tingkat perkembangan atau ketercapaian kompetensi anak berkebutuhan khusus sesuai kemampuan masing-masing. Penelitian ini juga menemukan adanya faktor pendukung, seperti kerja sama sekolah dengan Puskesmas Bukit Surungan melalui program DDTK (Deteksi Dini Tumbuh Kemban. , kolaborasi dengan terapis totok punggung, serta komunikasi terbuka antara guru, guru pendamping, dan orang tua dalam memantau perkembangan anak secara berkelanjutan. Namun, terdapat pula beberapa hambatan dalam pengelolaan kelas, antara lain kesulitan menghadapi anak tantrum yang dapat mengganggu kondusivitas kelas, tidak tersedianya guru pendamping khusus yang memiliki keahlian di bidang pendidikan luar biasa, serta minimnya pelatihan yang mendukung kompetensi guru dalam menangani ABK sehingga proses penyesuaian pembelajaran memerlukan usaha ekstra. Secara keseluruhan, strategi pengelolaan kelas inklusi di RA Rahmah El Yunusiyyah telah mencerminkan komitmen guru dalam memberikan layanan pendidikan yang setara, meskipun masih membutuhkan penguatan dalam aspek kompetensi dan dukungan fasilitas. Bedasarkan kesimpulan yang diperoleh peneliti, masih ditemukan beberapa kendala, maka adapun saran yang dapat peneliti sampaikan adalah sebagai berikut: Bagi guru kelas dan guru pendamping khusus (GPK), sebaiknya guru membuat rencana pembelajaran individual (RPI) untuk anak berkebutuhan khusus, guru diharapkan terus meningkatkan kompetensi dalam memahami karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus melalui pelatihan, seminar, dan workshop pendidikan inklusi. Bagi pihak sekolah, sekolah perlu menyediakan fasilitas dan sarana pendukung pembelajaran inklusi, seperti alat bantu belajar, ruang belajar yang kondusif, dan tenaga profesional tambahan yang sesuai dengan bidang pendidikan anak berkebutuhan khusus. Untuk peneliti agar terus haus akan ilmu dam mempelajari hal yang terbaru mengenai pendidikan anak berkebutuhan khusus, baik dalam pengelolaan kelas inklusi maupun pengelolaan khusus terkait dengan pendidikan ABK. Untuk peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian tentang pengelolaan kelas inklusi diharapkan mampu menggali lebih dalam tentang pengelolaan kelas inklusi. DAFTAR KEPUSTAKAAN Achadah. Strategi guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas Vi di SMP Nahdhotul UlamaAo Sunan Giri Kepanjen Malang. Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan. Komunikasi dan Pemikiran Hukum Islam, 10. , 363. Afni. Juli . Wawancara pribadi dengan Fauri. Anggota IKAPI. Al-QurAoan & Tajwid (Cet. Bandung. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Armi Nia. Analisis kesulitan guru dalam pengelolaan kelas inklusi di PAUD Lenterahati Islamic Boarding School Jempong Baru Mataram. Armiati. Juli . Wawancara pribadi dengan Fauri. Aslamiah. Pratiwi. , dkk. Pengelolaan kelas (Cet. Depok: PT Rajagrafindo Persada. Buku ini ditulis oleh Dosen Universitas Medan Area. Januari . Hak cipta dilindungi dan telah dideposit ke Repository UMA. Dewi. Strategi guru dalam mendidik anak berkebutuhan khusus (ABK) pada masa pandemi Covid-19 di PAUD Alam Mahira Kota Bengkulu (Skrips. Hikmawati. Metodologi penelitian (Cet. Depok: Raja Grafindo Persada. Mukhyi. Metodologi penelitian: Panduan praktis penelitian yang efektif (Cet. Malang: PT Literasi Nusantara Abadi Grup. Gusvita. Juli . Wawancara pribadi dengan Fauri. Halim. Juli . Wawancara pribadi dengan Fauri. Hanum. Januari . Wawancara pribadi dengan Fauri. Helmanelly. Juli . Wawancara pribadi dengan Fauri. Ii. Pengertian strategi dan pengelolaan kelas. Dalam Pupuh Fathurrohman . 11Ae. Ilham. Kurniawan. , dkk. Strategi pembelajaran (Cet. Padang: PT Global Eksekutif Teknologi. Karoso. Handayani. Pujosisanto. , & Universitas Negeri Surabaya. Melalui pendekatan diferensiasi di SDS Aqil Global. Ai, 8. , 74Ae88. Zahroh. Pendekatan dalam pengelolaan kelas. Jurnal Keislaman, 1. , 186Ae201. https://doi. org/10. 54298/jk. Lubna. Aziz. Astuti. Hadi. Rizka. , et al. Buku ajar pendidikan inklusi. Mahmud. Hidayat. Jalal. Buchori. Fakhri. Nihaya. , et al. Inklusif. Makkawaru. Pentingnya pendidikan bagi kehidupan dan pendidikan karakter dalam dunia Jurnal Konsepsi, 8. , 1Ae4. Malang. , & Jakfar. Strategi guru dalam mengelola kelas inklusif di SDN (Skrips. Melinea. Strategi pembelajaran anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar inklusi (Studi kasus SD Pelita Bangs. Repository UIN Jakarta. Noviantia. Juli . Wawancara pribadi dengan Fauri. Pengertian pendidikan. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 4, 7911Ae7915. Rahmania. Pengelolaan kelas dalam kegiatan pembelajaran bagi siswa sekolah dasar pada masa pandemi Covid-19. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran, 7. , 30Ae43. https://doi. org/10. 17509/jpm. Remita. Juli . Wawancara pribadi dengan Fauri. RI Kementerian Agama. Juknis penyelenggaraan pendidikan inklusif RA. Rizky. , & Ali. Jenis kesimpulan dan saran metode A. Jenis Kesimpulan dan Saran Metode A, 3. , 1Ae15. Roselia. Juli . Wawancara pribadi dengan Fauri. Rosnaningsih. Puspita. , & Widiasih. Strategi guru dalam pengelolaan kelas inklusif di TK. Ai, 6356, 292Ae300. Rukhmana. Jurnal Edu Research: Indonesian Institute for Corporate Learning and Studies (IICLS), 2. , 28Ae33. Rukmailis. Juli . Wawancara pribadi dengan Fauri. Sahrudin. Djafri. , & Suking. Pengelolaan pendidikan inklusif. Jambura Journal of Educational Management, 4. , 162Ae179. Saputra. Pendidikan anak pada usia dini. At-TaAodib: Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam, 10. , 192Ae209. Saleh. Analisis data kualitatif (Cet. Bandung: Pustaka Ramadhan. Sugiyono. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Sumantri. Pendidikan inklusif dalam Surat Al-Hujurat ayat 10Ae13 dan Surat Abasa ayat 1Ae 10: Perspektif mufassir klasik dan kontemporer. The 2nd ICODIE Proceedings, 125Ae139. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Sumbulatim. Habbah. Husna. , dkk. Strategi guru dalam pengelolaan kelas yang efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Suryani. Juli . Wawancara pribadi dengan Fauri. Astari. Dewi. , & Yuliantoro. Keterampilan guru dalam pengelolaan kelas. Finger: Journal of Elementary School, 1. , 73Ae87. https://doi. org/10. 30599/finger. Yumnah. Strategi dan pendekatan pengelolaan kelas dalam pembelajaran. Pancawahana: Jurnal Studi Islam, 13. , 18Ae26. Zahroh. Pendekatan dalam pengelolaan kelas. Jurnal Keislaman, 1. , 186Ae201. https://doi. org/10. 54298/jk.