KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 103-112 Ikatan Patron-Klien dalam Pertanian Kopi: Peran Toke dalam Kesejahteraan Petani Iga Lestari1, dan Ibnu Phonna Nurdin2* 1 Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh. Aceh. Indonesia 2 Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh. Aceh. Indonesia * Correspondence: iphonna@usk. Article Info Abstract Article history: Submitted : 13-02-2025 Accepted : 11-04-2025 Published : 14-04-2025 Human life is inherently shaped by social interactions, and this is particularly evident in agricultural activities, where coffee farmers are closely linked to social relationships with toke . In the context of coffee farming, farmers establish cooperative relationships with toke to market their crops. Additionally, farmers rely on various natural resources essential for sustaining their agricultural activities. Over time, this interaction evolves into a patron-client bond. This study aims to analyze and describe the development of patron-client relationships between coffee farmers in Panji Mulia I Village. Bukit District. Bener Meriah Regency. The research utilizes a descriptive qualitative approach, employing fieldwork to collect data. Methods of data collection included observations, interviews, and documentation, with purposive sampling techniques used to select the informants. The theoretical framework applied in this research is James C. Scott's PatronClient theory. The findings indicate that the five forms of patron-to-client flows provided by toke to farmers include: basic subsistence livelihood, crisis subsistence guarantee, protection, brokerage and influence, and collective patron Furthermore, there is also a flow from clients to patrons, with farmers offering labor and expertise in support of tokeAos activities. In conclusion, the patron-client relationship between toke and coffee farmers in Panji Mulia I Village is This relationship creates a reciprocal bond that benefits both parties, built upon mutual trust and loyalty. Keywords: Coffee Farmers. Patron Client. Toke Copyright & License: How to cite this article: Lestari I. , & Nurdin I. , . Ikatan PatronKlien dalam Pertanian Kopi: Peran Toke dalam Kesejahteraan Petani. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora. https://doi. org/10. 51135/kambotivol5issue2p PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang sebagian besar penduduknya bergantung pada sektor pertanian (Hanim & Nurdin, 2. Salah satu daerah yang sangat mengandalkan sektor ini adalah Kabupaten Bener Meriah, yang terletak di Provinsi Aceh. Kabupaten ini memiliki luas wilayah sebesar 941,61 kmA dan terdiri dari 10 kecamatan serta 233 desa. Di sektor pertanian, tanaman kopi menjadi komoditas utama dan penghasil terbesar dibandingkan dengan sub-sektor perkebunan lainnya (Ramadhan & Syarifudin, 2. Provinsi Aceh sendiri merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di Indonesia, setelah Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Lampung. Namun, sebagian besar biji kopi yang dihasilkan oleh petani hanya dapat dipasarkan dalam bentuk mentah atau cherry (Zainura et al. , 2. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bener Meriah, pada tahun 2022, jumlah produksi kopi di daerah ini mencapai 25,07 ribu ton (Mardhiah & Rumahorbo, 2. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 103-112 Pertanian, terutama kopi, merupakan sektor yang sangat penting bagi masyarakat di Kabupaten Bener Meriah. Di Desa Panji Mulia I. Kecamatan Bukit. Kabupaten Bener Meriah, bertani kopi telah menjadi kegiatan rutin yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat. Tanaman kopi umumnya dipanen dua kali setahun, dan pada saat panen, petani akan menjual hasilnya kepada tengkulak. Di desa ini, tengkulak sering disebut dengan istilah "toke". Melalui hubungan yang terjalin dengan toke, hasil panen kopi dapat dipasarkan lebih luas (Santoso, 2. Hubungan ini dikenal dengan istilah ikatan patron-klien, di mana toke berperan sebagai patron yang memiliki kekuasaan ekonomi, sementara petani kopi menjadi klien yang memiliki posisi lebih rendah dalam struktur sosial dan ekonomi (Maifianti et al. , 2. Dalam hubungan patron-klien, toke . memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan perlindungan dan bantuan kepada petani . Sebagai patron, toke sering memberikan pinjaman atau dukungan lainnya ketika petani mengalami krisis, seperti panen yang gagal atau penurunan produksi akibat cuaca buruk. Namun, dampak negatif dari hubungan ini adalah rendahnya harga yang diterima oleh petani, karena toke seringkali menetapkan harga yang lebih rendah untuk hasil panen mereka (Anita et al. Scott, . mengemukakan beberapa bentuk bantuan yang diterima oleh klien dalam hubungan patron-klien, antara lain penghidupan subsistensi dasar, jaminan krisis subsistensi, perlindungan, serta pengaruh dalam pemasaran dan akses ke sumber daya lainnya. Studi sebelumnya, seperti oleh Damayanti et al. , . Cahyanto et al. , . Masdelina & Hijjang, . Nuraini et al. , . Purba & Marnelly, . mengidentifikasi ketergantungan yang kuat antara petani dan tengkulak dalam menjaga kelangsungan hidup mereka, terutama di daerah pedesaan. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian tersebut terbatas pada aspek ekonomi dan pemasaran tanpa mendalami secara lebih rinci bagaimana hubungan ini terjalin turun-temurun dan melibatkan banyak aspek kehidupan petani kopi. State of the art dalam kajian ini mengarah pada pemahaman yang masih terbatas tentang kedalaman dan kompleksitas hubungan patron-klien, khususnya yang berfokus hanya pada aspek ekonomi. Penelitian ini menawarkan kebaharuan dengan menggali hubungan patron-klien yang lebih luas, tidak hanya terkait dengan pemasaran, tetapi juga mencakup bagaimana toke membantu memenuhi kebutuhan hidup petani, terutama dalam masa krisis. Selain itu, kajian ini lebih mendalam dalam mengeksplorasi bentuk arus patron ke klien dan sebaliknya, memberikan perspektif baru terhadap dinamika hubungan patron-klien yang berkembang di komunitas petani kopi. Kehadiran toke di Desa Panji Mulia I sangat penting bagi para petani kopi. Selain memasarkan hasil panen, toke juga membantu petani dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka, terutama di masa-masa sulit. Oleh karena itu, hubungan yang telah terjalin lama ini sangat bergantung pada prinsip memberi dan menerima antara toke dan petani kopi, di mana kedua belah pihak saling mengisi dan melengkapi (Syahputra & Jonyanis, 2. Toke dan petani kopi berusaha mempertahankan hubungan ini agar dapat memenuhi kebutuhan dan tujuan mereka, baik dari sisi ekonomi maupun sosial. Namun, seperti yang terjadi pada petani kopi di banyak daerah, para petani di Desa Panji Mulia I juga kerap menghadapi masa krisis, seperti paceklik, yang disebabkan oleh faktor cuaca yang tidak menentu, penyakit tanaman, atau hama. Masa-masa paceklik ini mengakibatkan penurunan hasil panen kopi. Selain itu, petani juga sering mengalami kesulitan dalam memperoleh modal untuk perawatan tanaman sebelum panen. Dalam kondisi seperti ini, petani kopi biasanya mencari bantuan dari toke, karena mereka kesulitan mendapatkan dana dari sumber lain. Oleh karena itu, ikatan patron-klien ini menjadi alternatif yang penting bagi para petani kopi di Desa Panji Mulia I untuk bertahan dalam masa-masa sulit tersebut. Masalah penelitian yang muncul dari uraian tersebut adalah bahwa meskipun sudah banyak penelitian yang membahas hubungan patron-klien dalam sektor pertanian, belum banyak yang mengkaji bagaimana hubungan ini berkembang secara turun-temurun dan melibatkan berbagai aspek kehidupan petani kopi secara menyeluruh, terutama di masa krisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis lebih mendalam ikatan patron-klien yang terjadi antara toke dan petani kopi di Desa Panji Mulia I. Fokus utama tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bentuk arus patron ke klien dan arus klien ke patron, serta dampak sosial-ekonomi yang timbul dari hubungan ini, terutama ketika para petani menghadapi masa krisis. Dengan tujuan ini, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih menyeluruh mengenai hubungan patron-klien dalam konteks pertanian kopi, serta memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih baik tentang dinamika sosial-ekonomi yang terjadi di https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 103-112 komunitas pedesaan II. METODE Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilakukan di kalangan masyarakat petani kopi di Desa Panji Mulia I. Kecamatan Bukit. Kabupaten Bener Meriah. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif, di mana data diperoleh melalui observasi langsung di lapangan serta wawancara Fokus utama dari observasi adalah untuk memahami proses terbentuknya ikatan patron-klien antara toke dan petani kopi, baik dalam konteks aktivitas pertanian maupun dalam kegiatan keseharian Wawancara mendalam dilakukan dengan 6 informan yang terdiri dari petani kopi dan toke. Pemilihan informan ini menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut: petani kopi yang secara rutin menjual hasil panen kepada toke, petani yang telah menjalin hubungan dengan toke selama minimal 5 tahun, serta petani yang memiliki lahan pribadi. Sedangkan kriteria untuk pemilihan toke adalah toke yang sudah menjalankan usaha selama lebih dari 5 tahun, toke yang hanya membeli hasil panen kopi, dan toke yang memiliki hubungan jangka panjang dengan petani kopi. Teknik analisis data dilakukan melalui tiga tahapan utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan Pada tahapan reduksi data, peneliti memilah data yang relevan dengan fokus penelitian. Selanjutnya, pada tahapan penyajian data, informasi disusun agar mudah dipahami, terstruktur, dan Pada tahap akhir, yaitu penarikan kesimpulan, seluruh hasil penelitian disajikan secara komprehensif, memberikan pemahaman yang mendalam terkait ikatan patron-klien yang terjadi antara toke dan petani kopi di Desa Panji Mulia I. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Demografi dan Latar Belakang Penduduk Desa Panji Mulia I Desa Panji Mulia I terletak di dataran tinggi Gayo. Kecamatan Bukit. Kabupaten Bener Meriah. Provinsi Aceh. Desa ini memiliki tanah yang subur dan suhu udara yang sejuk, menjadikannya sangat cocok untuk pertanian, terutama tanaman kopi, yang kini menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Bener Meriah. Iklim yang mendukung serta kondisi geografis yang baik menjadikan Desa Panji Mulia I sebagai salah satu lokasi utama untuk pengembangan pertanian dan perkebunan bagi masyarakat setempat. Desa ini berbatasan dengan beberapa desa lain, yakni di sebelah utara berbatasan dengan Desa Waq Pondok Sayur, di sebelah timur berbatasan dengan Desa Panji Mulia II, di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Bale Redelong, dan di sebelah barat berbatasan dengan Desa Mupakat Jadi. Desa Panji Mulia I memiliki iklim tropis dengan dua musim utama, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan biasanya berlangsung antara bulan November hingga April, yang menghasilkan curah hujan tinggi dan kelembapan yang cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, musim kemarau terjadi antara bulan Mei hingga Oktober, dengan curah hujan yang lebih rendah dan suhu yang cenderung lebih tinggi, menyebabkan tanah menjadi lebih kering. Desa ini terletak pada ketinggian sekitar 900-1. meter di atas permukaan laut. Ciri khas wilayah ini adalah lereng yang curam dan lembah yang cukup dalam, yang mempengaruhi pola permukiman serta penggunaan lahan pertanian. Para petani lebih memilih lokasi yang datar untuk bercocok tanam guna menghindari risiko longsor di lereng yang curam. Luas wilayah Desa Panji Mulia I mencapai sekitar A 280 hektar, yang mencakup area permukiman penduduk, lahan pertanian, dan fasilitas lainnya. Pada tahun 2023, jumlah penduduk desa ini tercatat 088 orang, dengan rincian 547 laki-laki dan 541 perempuan. Penduduk Desa Panji Mulia I berasal dari berbagai latar belakang etnis dan suku. Mayoritas penduduk desa ini berasal dari suku Jawa, yang awalnya didatangkan sebagai tenaga kerja kontrak untuk perkebunan dari Pulau Jawa pada tahun 1981 dan kemudian menetap di desa ini. Selain suku Jawa, terdapat juga penduduk yang berasal dari suku Gayo dan suku Aceh. Mata pencaharian utama masyarakat Desa Panji Mulia I adalah bertani kopi. Aktivitas bertani kopi telah https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 103-112 dilakukan sejak masa penjajahan Belanda dan terus berlanjut hingga saat ini. Masyarakat di desa ini sangat bergantung pada lahan pertanian sebagai sumber utama penghasilan mereka. Kondisi geografis desa yang sangat mendukung untuk pertumbuhan tanaman kopi, seperti tanah yang subur dan iklim yang sejuk, membuat kopi menjadi komoditas utama yang dikelola oleh mayoritas penduduk. Oleh karena itu, lebih banyak masyarakat Desa Panji Mulia I yang bekerja di sektor perkebunan kopi dibandingkan dengan sektor PEMBAHASAN Proses Terjadinya Ikatan Patron Klien Arus Patron ke Klien Masyarakat di Desa Panji Mulia I umumnya bermata pencaharian sebagai petani kopi. Para petani tentunya akan melakukan penjualan hasil panen mereka kepada toke terlebih dahulu, karena toke memiliki akses untuk menjual hasil panen petani langsung ke pabrik besar atau tempat pengumpulan yang akan di ekspor ke berbagai daerah. Sehingga, petani dan toke memiliki hubungan sosial yang lama-kelamaan membentuk suatu ikatan patron-klien yang menimbulkan adanya arus patron ke klien yang diberikan oleh toke kepada Berdasarkan teori James C Scott ada lima arus yang diberikan toke kepada petani yaitu, penghidupan subsistensi dasar, jaminan krisis subsistensi, perlindungan, makelar dan pengaruh, serta jasa patron kolektif (Scott, 1. Penghidupan Subsistensi Dasar Penghidupan subsistensi dasar merujuk pada cara hidup yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya. Namun, bagi para petani kopi di kawasan agraria, terutama di Desa Panji Mulia I, penghidupan subsistensi dasar tidak hanya mencakup kebutuhan primer, tetapi juga kebutuhan yang berkaitan dengan kegiatan pertanian mereka. Para petani kopi di desa ini sangat bergantung pada hasil pertanian mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Meskipun demikian, masih terdapat tantangan dalam memenuhi penghidupan subsistensi dasar, terutama dalam hal kebutuhan untuk mendukung aktivitas pertanian mereka. Salah satu kendala utama yang sering dihadapi adalah keterbatasan modal yang tersedia. Meskipun para petani telah berusaha maksimal untuk merawat tanaman kopi mereka, kekurangan modal tetap menjadi hambatan signifikan untuk meningkatkan hasil pertanian mereka. Dalam konteks ini, peran toke di Desa Panji Mulia I tidak hanya terbatas pada membeli hasil panen kopi, tetapi juga meluas untuk membantu petani dalam memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan pertanian. Para petani kopi kemudian menjalin hubungan kerja sama dengan toke, yang memberikan dukungan untuk kelangsungan aktivitas pertanian mereka. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mirajiani et al. , . yang menyebutkan bahwa orientasi utama dalam hubungan patronase adalah pemenuhan kebutuhan subsisten klien. Setiap keputusan ekonomi yang diambil dalam hubungan ini bertujuan untuk menciptakan harmoni, meskipun kedua belah pihak memiliki orientasi kepentingan ekonomi yang berbeda patron menginginkan keuntungan dan loyalitas klien, sementara klien berfokus pada pemenuhan kebutuhan mereka. Klien cenderung loyal kepada patronnya karena patron memberikan jaminan yang pasti atas kebutuhan subsistensinya. Bantuan yang diberikan oleh toke dalam hubungan ini beragam, termasuk penyediaan modal, sarana produksi, dan bantuan dalam pemasaran hasil panen. Toke memastikan bahwa petani dapat mempertahankan kegiatan pertanian mereka, bahkan di tengah kondisi sulit. Bantuan yang diberikan untuk mendukung penghidupan subsistensi dasar, seperti penyediaan pupuk, karung untuk wadah hasil panen, dan gunting pemangkas batang kopi, menunjukkan adanya hubungan ekonomi dan sosial yang saling terkait antara petani dan toke. Ketika petani menghadapi kekurangan modal, toke berperan sebagai penyedia modal untuk kegiatan pertanian. Peminjaman modal ini biasanya dibayar kembali oleh petani setelah mereka memperoleh hasil panen. Dukungan yang diberikan oleh toke menjadi sangat penting bagi para petani kopi di Desa Panji Mulia I. Selain itu, toke juga dapat memberikan pekerjaan tambahan kepada petani untuk membantu mereka mendapatkan penghasilan lebih selama masa panen kopi maupun di luar musim panen. Dengan demikian, https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 103-112 toke tidak hanya mendukung petani dalam bidang pertanian, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan petani dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jaminan Krisis Subsistensi Krisis subsistensi merupakan kondisi yang dihadapi oleh petani ketika mereka mengalami kesulitan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar mereka. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sofian et al. yang menyatakan bahwa dalam usaha pertanian, patron diharapkan dapat memberikan jaminan kepada petani, khususnya ketika mereka menghadapi situasi seperti kecelakaan kerja, sakit, atau kesulitan Kondisi serupa juga berlaku bagi petani kopi, yang sering menghadapi masalah dalam kegiatan pertaniannya, seperti panen yang gagal, harga jual yang rendah, atau faktor cuaca yang merugikan. Petani kopi di Desa Panji Mulia I sangat rentan terhadap fluktuasi harga kopi, baik di pasar lokal maupun pasar Menurut Nurdin, . , perubahan iklim yang ekstrem diperkirakan akan terus berlanjut, meningkatkan ketidakpastian bagi para petani. Selain itu, serangan hama dan cuaca ekstrem juga menjadi tantangan besar yang dapat merusak hasil tanaman mereka. Faktor-faktor ini sering kali menyebabkan petani tidak mampu menghasilkan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga mereka terjebak dalam kondisi paceklik. Penurunan hasil panen petani disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya cuaca ekstrem, serangan hama, atau masa panen yang telah selesai tanpa ada hasil panen lainnya. Misalnya, curah hujan yang tinggi dan terusmenerus selama musim panen dapat merusak kualitas biji kopi. Nurdin, . menyatakan bahwa kondisi ini dapat mempengaruhi efektivitas produksi pertanian, merugikan petani karena harga jual kopi akan Selain itu, toke juga mengalami kerugian karena tidak dapat mengelola kopi dan kesulitan dalam proses penjemuran, yang pada akhirnya menyebabkan harga pasar kopi menurun akibat kualitas biji kopi yang buruk. Sebaliknya, saat musim kemarau terjadi, biji kopi bisa kosong, yang juga berdampak pada produksi tanaman kopi dan pendapatan petani. Kondisi yang semakin sulit ini semakin memperburuk situasi para petani, terutama ketika mereka tidak memiliki akses untuk mendapatkan bantuan keuangan atau sumber daya lainnya untuk bertahan hidup. Untuk mengatasi masalah tersebut, para petani kopi biasanya mencari alternatif bantuan, salah satunya dengan meminjam uang dari toke langganan mereka. Ketika masa paceklik datang, petani akan melakukan peminjaman uang kepada toke dengan kesepakatan untuk selalu menjual hasil panennya kepada toke Sistem pembayaran pinjaman biasanya dilakukan setelah masa panen kopi, dengan cara memotong hasil penjualan kopi untuk pelunasan utang tersebut. Peran toke di Desa Panji Mulia I sangat penting, terutama sebagai patron yang dapat memberikan dukungan dalam bentuk bantuan ekonomi kepada petani kopi, khususnya saat mereka menghadapi krisis subsistensi seperti gagal panen atau kebutuhan mendesak lainnya. Menurut Nurdin, . , ikatan patronklien semakin kuat ketika kondisi lingkungan tidak mendukung komunitas petani. Toke di Desa Panji Mulia I menjadi alternatif utama bagi petani kopi yang membutuhkan bantuan keuangan, terutama dalam situasi Sebagai individu dengan sumber daya ekonomi yang lebih besar, toke dapat membantu petani kopi dengan memberikan pinjaman uang untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan mendadak. Adanya ikatan patron-klien ini sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga petani kopi, terutama ketika mereka menghadapi situasi sulit. Perlindungan Perlindungan adalah salah satu aspek penting yang diberikan oleh toke kepada para petani, yang berfungsi untuk memperkuat ikatan sosial dan ekonomi di antara mereka. Selain berperan sebagai pembeli hasil panen kopi, toke juga berfungsi sebagai pelindung bagi para petani yang menjadi kliennya. Toke bertindak untuk melindungi petani ketika mereka merasa terancam atau diperlakukan secara tidak adil, seperti dalam kasus kejahatan atau penindasan oleh pihak luar yang mencoba memanfaatkan atau merugikan Menurut Nurdin et al. , . , perlindungan yang diberikan oleh patron dianggap sebagai hal yang positif oleh petani. Perlindungan ini bisa berupa tindakan yang melindungi petani dari bahaya, menyelesaikan kasus pencurian kopi di kebun, atau menjadi mediator dalam konflik antar petani di Desa Panji Mulia I. Dengan demikian, peran toke sebagai pelindung tidak hanya mencakup aspek ekonomi, tetapi juga memastikan kesejahteraan dan keamanan bagi petani kopi yang telah menjadi kliennya. Toke memberikan perlindungan dengan membantu petani saat menghadapi ancaman, misalnya jika ada https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 103-112 orang yang berniat berbuat jahat. Selain itu, jika terjadi kasus pencurian di kebun petani, toke akan membantu menyerahkan pelaku ke pihak aparatur desa untuk diselesaikan. Tindakan ini menunjukkan komitmen toke dalam melindungi petani dan menjamin keselamatan mereka, baik dari segi ekonomi maupun masalah pribadi. Dengan demikian, peran toke bukan hanya sebagai pembeli hasil panen, tetapi juga sebagai pelindung dan penengah bagi para petani dalam menjaga keamanan mereka. Tindakan yang dilakukan oleh toke mencerminkan rasa tanggung jawab dan memperkuat kepercayaan para petani terhadapnya. Keterlibatan toke dalam menyelesaikan konflik antar petani juga menjadi salah satu cara untuk mencapai kesepakatan bersama dan menghindari proses hukum yang panjang. Toke dapat menggunakan kekuatan dan posisinya untuk berkompromi dengan pihak terkait, sehingga penyelesaian konflik dapat dilakukan tanpa melalui jalur hukum. Hal ini sejalan dengan pendapat Firzan, . , yang menyatakan bahwa seorang punggawa seharusnya menganggap anak buahnya sebagai keluarga sendiri. Peran punggawa dalam konteks ini sangat besar, karena mereka harus berusaha melindungi anak buahnya dan segera menyelesaikan masalah, karena jika tidak, harga diri sang punggawa dapat turun di mata orang Makelar dan Pengaruh Hubungan kerjasama antara toke dan petani kopi di Desa Panji Mulia I tidak hanya terbatas pada transaksi jual beli kopi, tetapi juga sangat berpengaruh dalam menarik perhatian pihak luar untuk datang ke desa Salah satu upaya yang dilakukan toke untuk memberikan manfaat kepada petani adalah dengan mendatangkan orang-orang penting, seperti pejabat pemerintah, dinas pertanian, dan pihak terkait lainnya untuk melakukan kunjungan ke desa. Diharapkan, melalui kunjungan ini, petani dapat berinteraksi langsung dengan pihak-pihak yang memiliki pengaruh dalam pengembangan bidang pertanian. Kehadiran pejabat pemerintah dan berbagai pihak terkait lainnya menciptakan peluang besar bagi petani kopi untuk mendapatkan dukungan tambahan dalam pengembangan pertanian. Kehadiran mereka membuka akses bagi petani untuk mendapatkan berbagai program yang dapat mendukung keberlanjutan sektor pertanian di Desa Panji Mulia I, baik dari pemerintah maupun organisasi lain. Dengan demikian, toke tidak hanya berfungsi sebagai perantara dalam transaksi penjualan kopi, tetapi juga memainkan peran penting dalam menjembatani petani dengan berbagai pihak yang dapat memberikan dukungan. Tanpa adanya toke, petani akan kesulitan menjual hasil panennya, karena mereka tidak memiliki akses langsung ke pasar lokal atau internasional. Toke berperan sebagai jembatan yang menghubungkan transaksi penjualan kopi petani hingga akhirnya dapat diekspor ke luar daerah. Untuk mewujudkan hal ini, toke perlu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak lain, seperti koperasi kopi. Melalui pengaruh dan kemakelarannya, toke dapat mendatangkan pihak koperasi untuk memberikan pelatihan kepada petani mengenai cara merawat tanaman kopi, seperti pemupukan, pemangkasan, dan lainnya. Selain itu, koperasi juga dapat menyediakan alat dan bahan pertanian yang diperlukan oleh para petani kopi. Sebagai tambahan, menurut Samudera & Humsona, . , peran makelar dalam hubungan patron-klien juga mencakup pengurusan dokumen-dokumen atau surat penting yang dikeluarkan oleh pihak pemerintah untuk mendukung kegiatan keseharian klien. Hal ini juga relevan dalam konteks peran toke yang tidak hanya bertindak sebagai perantara penjualan, tetapi juga sebagai penghubung yang membantu para petani dalam mengakses berbagai fasilitas dan dukungan yang diperlukan untuk pengembangan pertanian mereka. Jasa Patron Kolektif Jasa patron kolektif adalah bentuk dukungan yang diberikan oleh toke kepada petani kopi dan masyarakat di sekitarnya, yang dapat memberikan manfaat bagi banyak orang. Salah satu tindakan toke dalam bentuk jasa patron kolektif ini adalah pemberian sumbangan. Toke memberikan sumbangan untuk membangun hubungan yang lebih kuat dengan petani dan masyarakat, sekaligus menunjukkan dukungannya terhadap Sumbangan yang diberikan oleh toke biasanya berupa uang tunai, yang digunakan untuk mendukung kegiatan sosial atau keagamaan di desa, seperti acara 17 Agustus. Maulid Nabi. Isra MiAoraj, dan Ini adalah salah satu bentuk partisipasi aktif toke terhadap masyarakat di lingkungan sekitar. Sumbangan tersebut biasanya diberikan kepada aparatur desa atau panitia acara. Adanya sumbangan ini tentu sangat bermanfaat, karena memberikan dana tambahan untuk melaksanakan acara keagamaan https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 103-112 maupun sosial yang penting bagi masyarakat di Desa Panji Mulia I. Selain memberikan uang tunai untuk kegiatan sosial dan keagamaan, toke juga memberikan bantuan berupa makanan pada acara Maulid Nabi dan Isra MiAoraj. Tidak hanya itu, toke juga menyumbangkan bahan material seperti semen untuk pembangunan masjid di desa. Hal ini menunjukkan sikap kepedulian yang tinggi dari toke terhadap masyarakat setempat. Toke di Desa Panji Mulia I sudah sangat dekat dan akrab dengan para petani yang rutin menjual hasil panen Oleh karena itu, hubungan antara mereka tidak hanya terbatas pada jual beli kopi saja, tetapi seiring waktu berkembang menjadi hubungan kekeluargaan yang saling mendukung. Misalnya, menjelang Hari Raya Idul Fitri, toke biasanya memberikan tunjangan kepada para petani yang telah berlangganan menjual hasil panen kepadanya. Tunjangan ini berupa sembako, seperti beras, gula, minyak, dan sirup, yang sangat membantu para petani dalam mempersiapkan kebutuhan untuk merayakan Idul Fitri. Pemberian tunjangan ini mempererat hubungan sosial antara toke dan petani, sekaligus memperkuat kerjasama yang telah terjalin. Selain memberikan jasa patron kolektif untuk kegiatan internal di desa, toke di Desa Panji Mulia I juga sering memberikan bantuan untuk orang-orang di luar desa, terutama saat terjadi bencana atau peristiwa yang memerlukan solidaritas. Misalnya, ketika terjadi kebakaran di desa tetangga, toke akan berpartisipasi memberikan sumbangan menggunakan sumber daya ekonomi pribadinya. Bantuan tersebut bisa berupa uang tunai, bahan makanan, pakaian, atau kebutuhan dasar lainnya yang sangat diperlukan oleh korban. Tindakan ini sangat membantu meringankan beban korban dan memastikan mereka dapat memenuhi kebutuhan primer selama musibah tersebut. Tindakan yang dilakukan oleh toke ini juga mencerminkan solidaritas yang mendalam antar sesama. Jasa patron kolektif yang diberikan oleh toke memberikan dampak positif yang bermanfaat tidak hanya bagi petani dan masyarakat desa, tetapi juga bagi mereka yang membutuhkan bantuan di luar desa. Arus Klien ke Patron Dalam ikatan patron-klien, berdasarkan teori James Scott, terdapat arus klien ke patron yang diberikan oleh petani kepada toke. Para petani tidak hanya menjual hasil panen kopi mereka, tetapi juga memberikan bantuan lainnya kepada toke, seperti kesediaan untuk menyumbangkan tenaga atau keahlian yang dimiliki mereka untuk kepentingan toke. Hal ini sejalan dengan pernyataan Muhammad Kurdi, . yang menegaskan bahwa sumber daya yang dapat diandalkan oleh petani untuk diberikan kepada patronnya atau pemilik modal meliputi tenaga kerja, kejujuran, dan loyalitas kerja. Bagian ini menggambarkan bagaimana petani memberikan bantuan untuk mendukung aktivitas toke, baik yang berkaitan dengan pertanian maupun kegiatan keseharian. Tindakan ini merupakan bentuk dukungan timbal balik dari petani atas bantuan yang telah diberikan oleh toke kepada mereka, menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Tenaga dan keahlian Selama musim panen kopi, toke seringkali membutuhkan tambahan tenaga untuk memetik buah kopi yang sudah matang, terutama jika jumlah produksi hasil panen cukup besar. Dalam situasi ini, toke sangat bergantung pada bantuan orang lain untuk melakukan pemetikan kopi. Karena para petani sudah akrab dengan toke, mereka sering diminta untuk membantu dalam berbagai proses pengelolaan kopi, seperti pemetikan, penggilingan, penjemuran, dan lain sebagainya. Keterlibatan tenaga dari petani yang sudah menjalin hubungan kerja sama dengan toke ini sangat penting, karena dengan bantuan mereka, proses pengelolaan kopi dapat dilakukan dengan lebih efisien dan baik. Di Desa Panji Mulia I, toke biasanya melibatkan baik petani laki-laki maupun perempuan dalam aktivitas Petani laki-laki diminta untuk membantu penggilingan kopi, menjemur kopi, serta melakukan pemangkasan tanaman kopi, sementara petani perempuan lebih sering diminta untuk memilah gabah kopi yang tidak layak untuk dipasarkan dan mengutip kopi di kebun toke. Permintaan bantuan yang dilakukan oleh toke ini menunjukkan kedekatan ikatan patron-klien antara kedua belah pihak. Peran toke tidak hanya sebatas membeli hasil panen, tetapi juga mempekerjakan petani untuk melakukan pekerjaan tertentu yang dibutuhkan dalam aktivitas pertanian. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 103-112 petani dan toke lebih dari sekadar jual beli. Mereka juga memiliki rasa solidaritas yang kuat, di mana petani membantu toke dengan memberikan tenaga dan keahlian mereka dalam berbagai aspek pengelolaan kopi. Menurut Sukri et al. , . , petani cenderung memberikan tindakan balas jasa kepada toke sebagai bentuk pengakuan atas bantuan yang telah mereka terima dari patron. Loyalitas petani terhadap toke juga dapat dilihat dari kenyataan bahwa mereka enggan mengalihkan penjualan hasil panen mereka kepada toke lain, meskipun harga yang ditawarkan lebih tinggi di tempat lain. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya hubungan patron-klien yang terjalin antara toke dan petani, yang tidak hanya didasarkan pada transaksi ekonomi, tetapi juga pada rasa saling mendukung dan menghargai. Tenaga dan Keahlian pada aktivitas keseharian Petani tidak hanya membantu toke dalam aktivitas pertanian, tetapi juga berkontribusi dalam aktivitas keseharian toke yang tidak terkait langsung dengan pertanian. Sebagai contoh, petani sering diminta untuk membantu memperbaiki bagian rumah toke yang rusak atau berpartisipasi dalam acara-acara tertentu yang diselenggarakan oleh toke, seperti pengajian, hajatan, dan sebagainya. Ketika toke mengadakan acara hajatan atau pengajian, petani biasanya diminta untuk membantu memasak dan melakukan berbagai kegiatan lainnya di rumah toke. Partisipasi petani dalam aktivitas-aktivitas tersebut menunjukkan bahwa peran mereka tidak hanya terbatas pada sebagai pemasok hasil panen, tetapi juga sebagai pihak yang berperan penting dalam mendukung keseharian toke. Keterlibatan petani dalam aktivitas non-pertanian ini mencerminkan bahwa hubungan antara petani dan toke lebih dari sekadar hubungan jual beli hasil panen. Hal ini juga menggambarkan adanya hubungan sosial yang saling menguntungkan di antara kedua belah pihak. Dengan demikian, hubungan ini menciptakan ikatan timbal balik, di mana petani memberikan tenaga dan waktu mereka untuk kepentingan toke sebagai bentuk imbalan atas bantuan yang mereka terima Keterlibatan petani dalam membantu toke tidak hanya mendukung dan memajukan kegiatan bisnis toke, tetapi juga memperkuat ikatan patron-klien yang telah terjalin antara keduanya. KESIMPULAN Ikatan patron-klien antara toke dan petani kopi di Desa Panji Mulia I terbentuk karena saling kebutuhan. Toke membutuhkan hasil pertanian petani untuk memenuhi permintaan pasar, sementara petani mengandalkan toke untuk pemasaran hasil panen mereka. Selain membeli hasil panen, toke juga memberikan lima jenis bantuan kepada petani, seperti penghidupan subsistensi dasar, jaminan krisis subsistensi, perlindungan, makelar, dan jasa patron kolektif. Ketika petani mengalami kesulitan seperti gagal panen atau cuaca buruk, toke dapat memberikan pinjaman untuk membantu mereka bertahan. Di sisi lain, petani memberikan tenaga dan keahlian untuk mendukung aktivitas toke, sebagai bentuk timbal balik atas bantuan yang diterima. Selain itu, loyalitas petani terlihat dalam komitmen mereka untuk terus menjual hasil panen kepada toke. Ikatan ini menciptakan hubungan kolaboratif yang saling Namun, untuk mencapai kemandirian petani, peran pemerintah dalam menyediakan sarana dan prasarana yang memadai sangat dibutuhkan untuk mendukung kedaulatan pangan. Saran Penelitian ini menunjukkan pentingnya dukungan modal bagi petani kopi di Desa Panji Mulia I, yang sering menghadapi kesulitan finansial dalam menjalankan aktivitas pertanian mereka. Oleh karena itu, baik toke maupun pemerintah perlu meningkatkan dukungan modal dan sarana pertanian untuk petani agar mereka dapat mengatasi masa paceklik dan meningkatkan produktivitas. Pemerintah juga harus memperkuat akses petani terhadap sumber daya, seperti alat pertanian dan pelatihan keterampilan, guna meningkatkan hasil pertanian. Di sisi lain, toke sebaiknya memperluas jaringan pemasaran dengan koperasi atau asosiasi petani untuk membantu petani menjangkau pasar yang lebih luas. https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 5. Nomor 2. Hal: 103-112 Keterbatasan dan Rekomendasi bagi Penelitian Selanjutnya Penelitian ini memiliki keterbatasan dengan hanya fokus pada Desa Panji Mulia I, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih luas dengan sampel yang lebih banyak dan melibatkan berbagai pihak, termasuk lembaga keuangan mikro dan organisasi pertanian. Penelitian mendatang sebaiknya juga mengeksplorasi pengaruh perubahan iklim terhadap produksi kopi, serta melakukan studi komparatif antara desa yang bergantung pada komoditas berbeda. Untuk meningkatkan kemandirian petani, peran pemerintah dalam menyediakan kebijakan yang mendukung akses modal dan pendidikan pertanian sangat diperlukan. DAFTAR PUSTAKA