PRIMA: Journal of Community Empowering and Services. , 24-31, 2025 URL:https://jurnal. id/prima/issue/view/94570 DOI: https://doi. org/10. 20961/prima. Introduksi Teknologi Tepat Guna pada Industri Rumah Tangga (IRT) AuRambak EcoAy Surakarta untuk Meningkatkan Efisiensi Proses Produksi dan Kualitas Produk Setyaningrum Ariviani1,2*. Lia Umi Khasanah1,2. Dwi Ishartani1,2. Siswanti1,2. Windi Atmaka1,2. Gusti Fauza1,2. Dimas Rahadia Aji Muhammad1,2. Muhammad Zulfan Hawari1 Program Studi Ilmu Teknologi Pangan. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Indonesia Riset Grup Food Product Development. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Indonesia *Corresponding Author : setyaningrum_ariviani@staff. Dikirim: 29-10-2024. Diterima: 22-05-2025 ABSTRAK Industri Rumah Tangga (IRT) AuRambak EcoAy merupakan produsen kerupuk rambak mentah yang dijual kiloan dan rambak yang sudah digoreng. IRT AuRambak EcoAy memiliki kendala kapasitas produksi yang masih terbatas, yaitu sebesar 10 kg tepung per hari, sehingga belum mampu memenuhi permintaan pasar. Terbatasnya kapasitas produksi ini disebabkan oleh rendahnya efisiensi proses produksi khususnya proses pengirisan kerupuk yang masih menggunakan peralatan manual berupa pisau dan talenan. Selain itu. IRT AuRambak EcoAy juga mengalami kendala terkait mutu produk yang tidak konsisten. Mutu produk kerupuk yang tidak konsisten disebabkan oleh rendahnya pemahaman UKM terhadap Cara Produksi Pangan yang Baik (CPPB), pengemasan produk secara manual dengan kemasan kantong plastik PE tanpa dilengkapi label kemasan, serta pengirisan kerupuk secara manual sehingga ketebalan produk tidak seragam. Kegitan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menyelesaikan permasalah IRT AuRambak EcoAy melalui introduksi alat perajang kerupuk semi otomatis, pelatihan CPPB-IRT, introduksi kemasan dan labeling. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan, kegiatan pengabdian yang dilakukan berhasil meningkatkan efisiensi proses produksi kerupuk pada IRT AuRambak EcoAy dan juga peningkatan kualitas produk. Efisiensi proses ditunjukkan dengan waktu perajangan kerupuk yang semula 30 menit/ Kg menjadi 10 menit/ Kg dan waktu pengeringan yang semula 9 jam menjadi 4 jam. Peningkatan kualitas produk meliputi bentuk dan ukuran kerupuk yang seragam dan produk kerupuk mentah maupun matang yang terkemas dengan kemasan yang menarik dan dilengkapi dengan label yang informatif. Kata Kunci: CPPB IRT, kemasan, labeling, pengabdian masyarakat, perajang kerupuk semi Introduction of Appropriate Technology at Home Industry (HI) AuRambak EcoAy Surakarta to Increase the Production Process Efficiency and Product Quality ABSTRACT The home industry (HI) "Rambak Eco" produces unfried and fried crackers. IRT "Rambak Eco" has limited production capacity, reaching 10 kg of flour per day, so it has been unable to meet market This limited production capacity is caused by the low efficiency of the production process, especially the cracker-slicing process, which still uses manual equipment consisting of knives and cutting boards. Apart from that, the IRT "Rambak Eco" also experienced problems related to inconsistent product quality. The inconsistent quality of cracker products is caused by the low understanding of Good Manufacturing Practices (GMP) for the Home Industry, manual packaging using PE plastic bags without labeling, and the manual slicing process, which impacts the thickness of the products and is not Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 This community service activity aims to resolve the "Rambak Eco" home industry problems through introducing a semi-automatic cracker slicer. GMP training, and packaging and labeling. Based on the evaluation, the community service activities increased the efficiency of the AurambakAy cracker production process and improved product quality at the "Rambak Eco" HI. The process efficiency was demonstrated by reducing the cracker's slicing process from 30 minutes/Kg to 10 minutes/Kg and the drying process from 9 to 4 hours. Improving product quality includes uniform shape and size of crackers and unfried and fried cracker products packaged in attractive packaging with informative labels. Keywords: a semi-automatic cracker slicer, community service. GMP training, labeling, packaging PENDAHULUAN Kerupuk adalah makanan kering berbahan pati tinggi yang mengalami pengembangan volume menjadi produk berpori dengan densitas rendah selama proses penggorengan (Karjoa et , 2. Karakteristik produk kerupuk diantaranya bertekstur renyah, gurih, kering, ringan, dan berpori (Khamidah et al. , 2. Kerupuk merupakan produk turunan tapioka ataupun terigu yang biasa dikonsumsi sebagai camilan maupun pendamping makan nasi. Kerupuk banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena harganya yang terjangkau, bahan penyusun yang melimpah dan mudah diperoleh serta proses pembuatannya yang relatif sederhana (Wati & Lubis, 2. Tepung tapioka sebagai salah satu bahan penyusun kerupuk, berperan dalam membentuk tekstur renyah, semakin tinggi proporsi tepung tapioka akan menghasilkan kerupuk yang lebih renyah. Selain itu, kadar amilopektin yang lebih tinggi membuat daya kembang kerupuk semakin tinggi (Razak & Apriyanto, 2. Secara diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu kerupuk berbahan baku nabati dan kerupuk berbahan tambahan hewani. Kerupuk berbahan baku nabati meliputi produk seperti kerupuk rambak . , kerupuk singkong, kerupuk bawang, rempeyek, emping melinjo, karak beras, dan kerupuk kedelai. Sementara itu, kerupuk berbahan tambahan hewani mencakup kerupuk udang, kerupuk ikan, dan kerupuk rambak kulit (Rosiani et al. , 2015. Azhar et al. Kerupuk rambak terbuat dari campuran tepung tapioka yang menghasilkan tekstur yang ringan dan renyah, sedangkan kerupuk rambak kulit memiliki tekstur yang lebih padat dan cita rasa gurih yang khas akibat kandungan lemak dari kulit hewan (Nugroho, 2. Kerupuk rambak merupakan salah satu jenis kerupuk yang dapat digunakan sebagai pendamping saat makan ataupun sebagai snack. Oleh karenanya, konsumsi kerupuk rambak disinyalir mampu meningkatkan asupan zat gizi karena mampu meningkatkan nafsu makan seseorang (Adhar & Mashuri, 2. Ketika rambak dikonsumsi sebagai pendamping makan nasi, secara tidak langsung akan meningkatkan asupan nasi beserta sayur dan lauk-pauknya yang merupakan sumber zat gizi penting bagi Kerupuk rambak dibuat dengan cara mencampurkan tepung, air dan bumbu-bumbu kemudian diuleni sampai kalis dan dikukus sehingga diperoleh AulontonganAy. AuLontonganAy selanjutnya didinginkan, diiris-iris, dijemur dan setelah kering digoreng menjadi kerupuk rambak yang mengembang. Untuk mempermudah pengirisan, ke dalam adonan kerupuk sering ditambahkan bahan tambahan sehingga AulontonganAy yang dihasilkan lebih kenyal dan mudah diiris. Hal ini sesuai dengan penjelasan Amiroh & Isyanto . bahwa proses produksi kerupuk rambak terdiri dari pencampuran tepung, bumbu, dan bahan tambahan, diikuti dengan pengukusan hingga matang. Setelah itu, adonan didinginkan, diiris tipis, dan dijemur menggunakan sinar matahari atau oven. Penggorengan dapat menggunakan dua wajan secara bertahap agar hasilnya lebih optimal. Setelah penggorengan, kerupuk dikemas sesuai permintaan pasar. Faktor-faktor yang memengaruhi kualitas kerupuk rambak meliputi kualitas bahan baku, pengirisan, pengeringan, dan pengemasan. Bahan baku yang buruk dapat menyebabkan adonan mengeras sehingga kerupuk mudah Oleh karena itu, dengan bahan berkualitas tinggi dapat meningkatkan kekenyalan adonan dan mengurangi kerapuhan produk akhir (Rufaidah & Rosyidi, 2. Pengirisan yang tidak konsisten menyebabkan ketebalan irisan menjadi tidak seragam sehingga berpengaruh terhadap kadar air dan tingkat kemekaran kerupuk (Amelia et al. , 2. Pengeringan harus dilakukan pada suhu dan waktu yang Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 sudah ditentukan untuk mencapai kadar air sekitar < 12% sehingga kerupuk dapat mengembang sempurna dan hasil organoleptik sesuai yang diinginkan (Nugroho & Sukmawati. Pengemasan berperan penting dalam menghambat penyerapan uap air oleh produk pangan, mencegah kerusakan, melindungi dari pencemaran dan gangguan fisik, mekanis, kimia, dan biologis sehingga dapat memperpanjang umur simpan dan mempertahankan kualitas produk yang dikemas (Akilie, 2. IRT AuRambak EcoAy merupakan salah satu IRT produsen kerupuk rambak mentah maupun goreng yang beralamatkan di RT 01 RW 01 Dusun Joso. Desa Triyagan. Kecamatan Mojolaban. Kabupaten Sukoharjo. Berdasarkan survey awal yang telah dilakukan, diperoleh beberapa informasi dari pemilik IRT yaitu Bapak Kristanto. IRT AuRambak EcoAy pada awalnya merupakan usa ha keluarga yang ditekuni sejak tahun 2003, saat ini. IRT ini memiliki karyawan sebanyak 4 orang . ermasuk pimpinan IRT). Permintaan pasar terhadap produk AuRambak EcoAy semakin meningkat, terutama pada saat hari raya keagamaan. Konsumen banyak yang menghendaki membeli kerupuk rambak sebagai oleh-oleh. Namun, naiknya permintaan pasar ini belum bisa dipenuhi IRT AuRambak EcoAy karena tidak efisiennya proses produksi, khususnya pengirisan kerupuk. Sehingga waktu proses terlalu lama, perlu banyak tenaga keja dan pada akhirnya berdampak pada kapasitas produksi yang mentok pada 10 kg tepung per hari. Kendala lain yang dihadapi oleh mitra adalah mutu produk yang tidak konsisten. Faktor penyebabnya antara lain ketebalan irisan yang tidak bisa seragam, kondisi adonan kerupuk siap potong yang belum padat, kekurangpahaman mitra IRT terkait CPPB-IRT (Cara Pengolahan Pangan yang Baik bagi Industri Rumah Tangg. untuk menghasilkan pangan yang berkualitas dan aman sesuai dengan perka BPOM NOMOR HK. HK. 2206 Tahun 2012 dan pengemasan yang kurang melindungi produk, kurang menarik dan tidak dilengkapi label Produk AuRambak EcoAy yang sudah digoreng saat ini dikemas secara manual menggunakan plastik PE (Polietile. dengan ketebalan 0,001 inchi dan pada ujung plastik kemasan diikat secara manual, sehingga produk mudah melempem selama penyimpanan. Proses penutupan pengemas yang kurang rapat berpengaruh pada mutu dan umur simpan produk kerupuk rambak yang dikemas. Oksigen dan uap air akan mudah menembus kemasan sehingga kerupuk lebih cepat tengik dan Kegiatan pengabdian yang dilakukan ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi proses produksi dan kualitas produk IRT AuRambak EcoAy dengan cara introduksi alat perajang kerupuk semi otomatis, pelatihan CPPB-IRT serta introduksi kemasan dan METODE Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi mitra IRT AuRambak EcoAy maka tim pengabdian ini memberikan solusi berikut: Introduksi teknologi tepat guna mesin perajang untuk meningkatkan efisiensi konsistensi mutu produk Introduksi teknologi tepat guna (TTG) alat perajang adonan lontongan kerupuk elektrik semi otomatis diharapkan akan berdampak pada proses produksi kerupuk IRT AuRambak EcoAy menjadi lebih efisien sehingga kapasitas dan omzet mitra dapat ditingkatkan. Penerapan perajang kerupuk ini juga sekaligus menjadi salah satu solusi supaya mutu produk lebih konsisten karena dangan penggunaan TTG ini selain prosesnya menjadi lebih efisien, sekaligus menghasilkan irisan kerupuk dengan bentuk dan ketebalan yang seragam. Menurut peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan asam borat dan senyawanya . ermasuk boraks yang merupakan garam dari asam bora. dinyatakan sebagai bahan yang dilarang untuk digunakan sebagai bahan tambahan pangan (Kemenkes RI. Boraks digunakan oleh IRT AuRambak EcoAy sebagai pengenyal adonan agar mudah Dengan pendinginan sebelum pengirisan dan penggunaan alat pengiris elektrik yang bisa disetting ketebalan irisannya, maka kendala terkait pengirisan adonan kerupuk dapat diatasi tanpa harus menggunakan boraks. Introduksi kemasan dan labeling untuk meningkatkan mutu produk Sebagaimana menyebabkan kurang konsistennya mutu produk adalah proses pengemasan yang masih dilakukan Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 secara manual dengan mengikat bagian ujung plastic kemasannya. Untuk mengatasi kerusakan mutu produk kerupuk supaya tidak mudah melempem karena menyerap air dan terciumnya bau tengik akibat reaksi oksidasi, maka melalui kegiatan pengabdian ini diintroduksikan kemasan pouch yang dilengkapi dengan label. Dengan penggunaan kemasan ini maka kemasan produk akan tertutup rapat dan informasi terkait produk juga dapat diberikan dengan jelas Pelatihan CPPB-IRT (Cara Produksi Pangan yang Baik untuk Industri Rumah Tangg. untuk menjaga konsistensi mutu Pelatihan CPPB perlu dilakukan kepada seluruh pekerja agar dimengerti, dipahami, dan diterapkan oleh semua pihak yang terlibat dalam proses produksi AuRambak EcoAy, sejak bahan baku hingga produk jadi. Penerapan CPPB di IRT akan menjamin produk yang dihasilkan sesuai dengan standar mutu yang diterapkan dan HASIL DAN PEMBAHASAN Penyelesaian permasalahan IRT AuRambak EcoAy diawali dengan koordinasi dan validasi kegiatan pengabdian dengan mitra IRT AyRambak ecoAy. Koordinasi Pengabdian Validasi Berdasarkan koordinasi dengan mitra IRT AuRambak ecoAy (Gambar . , introduksi TTG yang disepakati berupa alat perajang kerupuk meningkatkan efisiensi proses maupun kualitas hasil potongannya. Alat perajang kerupuk lontongan yang diintroduksikan merupakan alat perajang semi otomatis dengan sumber tenaga listrik yang memungkinkan alat beroperasi secara kontinyu dengan beberapa lontongan sekaligus dalam sekali potong . inimal 3 lontonga. , rangka besi, dan bagian yang kontak langsung dengan adonan berbahan stainless steel untuk menjaga kualitas produk. Introduksi Alat Perajang Kerupuk Untuk menyelasaikan masalah mitra terkait proses produksi yang kurang efisien dan juga kualitas hasil potongan kerupuk yang tidak konsisten maka dilakukan introduksi teknologi tepat guna berupa alat perajang kerupuk meliputi penyerahan alat, pelatihan penggunaan alat dan evaluasi pemahaman pihak mitra untuk mengoperasikan alat tersebut. Gambar 2 menunjukkan kegiatan introduksi TTG alat perajang lontongan kerupuk di mitra AuRambak EcoAy. Pada kegiatan introduksi tersebut diketahui alat dapat berkerja dengan baik, mitra berlatih mengoperasikan alat dan mampu mengoperasikan alat sesuai prosedur. Kegiatan Gambar 1. Koordinasi . dan sosialisasi . kegiatan pengabdian dengan mitra IRT AuRambak EcoAy Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 Gambar 2. Introduksi . iri ata. , uji coba . anan ata. dan pelatihan . iri bawa. penggunaan TTG alat perajang kerupuk di mitra IRTAy Rambak EcoAy serta irisan kerupuk yang dihasilkan . anan Pelatihan CPPB IRT, Pengemasan dan Labeling Introduksi Pelatihan CPPB IRT dilakukan untuk membekali mitra IRT AuRambak EcoAy terkait cara memproduksi pangan yang baik sehingga produk yang dihasilkan aman dan berkualitas (Gambar . Materi pelatihan yang diberikan mengacu pada peraturan Kepala BPOM nomor HK. 2206 Tahun 2012 tentang cara produksi pangan yang baik untuk industri rumah tangga (BPOM RI, 2. Bersamaan dengan kegiatan tersebut juga dilakukan introduksi dan sosialisasi terkait kemasan dan labeling (Gambar . Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mitra IRT memperoleh wawasan terkait bagaimana cara memproduksi pangan yang aman dan berkualitas, penggunaan kemasan yang tepat dan fungsi kemasan sebagai pelindung produk, sarana promosi, serta persyaratan label pada produk pangan terkemas. Gambar 4 memperlihatkan produk kerupuk mentah sebelum dan setelah introduksi kemasan dan labeling. Efisiensi Proses dan Kualitas Produk Dampak dari introduksi TTG yang meliputi alat perajang kerupuk semi otomatis, pelatihan CPPB IRT, introduksi pengemas dan labelling pada IRTAo Rambak ecoAy dievaluasi berdasarkan efisiensi proses dan kualitas produk sebagai indikator keberhasilan. Hasil evaluasi (Tabel . menunjukkan bahwa terjadi peningkatan efisiensi proses yang diindikasikan dengan waktu perajangan dan waktu pengeringan yang lebih singkat meskipun tidak berpengaruh pada waktu penggorengan. Berdasarkan tahapan proses pembuatan kerupuk rambak yang meliputi pembuatan adonan, pengukusan, pengirisan, pengeringan dan penggorengan (Amiroh & Isyanto, 2. , maka penggunaan alat perajang kerupuk semi otomatis ini mampu meningkatkan efisiensi proses secara signifikan. Efisiensi proses perajangan/ pengirisan kerupuk meningkat 3 kali lipat, dari 30 menit per Kg adonan menjadi 10 menit per Kg adonan. Proses pengeringan yang semula memerlukan waktu 9 jam, dengan penggunaan alat perajang kerupuk semi otomatis yang menghasilkan hasil irisan yang lebih tipis dan seragam, sehingga waktu pengeringan yang diperlukan lebih cepat yaitu 4 Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 Gambar 3. Pelatihan CPPB-IRT . , introduksi kemasan dan labelling . engah dan kana. di mitra IRT Au Rambak EcoAy Gambar 4. Produk kerupuk rambak sebelum . dan setelah introduksi kemasan dan labeling . Tabel 1. Peningkatan efisiensi proses dan kualitas produk Indikator Sebelum Introduksi TTG Waktu perajangan Waktu pengeringan Waktu penggorengan Efisiensi proses 30 menit per kg adonan 9 jam 10 menit per kg rambak Kualitas produk dan Tidak seragam Keseragaman bentuk Kemasan produk kerupuk Kemasan kerupuk matang Setelah introduksi TTG 10 menit per kg adonan 4 jam 10 menit per kg rambak Seragam Curah/ dikemas kantung plastik, diikat tanpa label Dikemas kecil-kecil dalam kantung PP, kantung plastik PP yang lebih besar, diikat Introduksi TTG yang dilakukan juga terbukti mampu meningkatkan kualitas produk yang ditunjukkan dengan keseragaman bentuk dan ukuran kerupuk dan produk kerupuk mentah maupun kerupuk goreng terkemas dalam kemasan pouch yang dilengkapi dengan zip lock dan label kemasan yang memuat informasi sesuai standar labelling (Tabel . Ketebalan irisan yang tidak seragam berpengaruh terhadap 400 gram per kemasan pouch dilengkapi dengan label Dikemas seperti sebelumnya menggunakan plastik pouch 200 gram perkemasan pouch, dilengkapi label kadar air kerupuk hasil pengeringan dan tingkat kemekaran kerupuk saat digoreng (Amelia et al. Menurut Nugroho & Sukmawati . , kadar air kerupuk setelah dikeringkan akan mempengaruhi pengembangan kerupuk saat digoreng dan karakteristik sensori produk kerupuk pasca digoreng. Kerupuk dengan kadar air dibawah 12% dapat mengembang sempurna saat digoreng dan memiliki karakteristik sensoris Copyright A 2025 PRIMA: Journal of Community Empowering and Services PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 9. , 2025 e-ISSN 2579-5074 yang diinginkan. Pengemasan berfungsi untuk mempertahankan kualitas produk yang dikemas (Akilie, 2. Firmansyah . menyatakan bahwa kemasan memiliki fungsi protektif dan fungsi promosional. Menurut PerKa BPOM Nomor 20 Tahun 2021, label kemasan pangan wajib memuat keterangan nama produk, daftar bahan yang digunakan, berat bersih atau isi bersih, nama dan alamat pihak yang memproduksi atau mengimpor, halal bagi yang tanggal dan kode produksi, keterangan kedaluwarsa, nomor izin edar, dan asal usul bahan pangan tertentu (BPOM RI. KESIMPULAN Introduksi alat perajang kerupuk lontongan elektrik semi otomatis dan pelatihan CCPB IRT serta introduksi pengemas dan labeling terbukti mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh IRT AuRambak EcoAy. Efisiensi produksi meningkat dengan waktu perajangan dan pengeringan yang signifikan lebih pendek. Waktu perajangan tiga kali lebih cepat, dari 30 menit berkurang menjadi 10 menit per Kg Waktu pengeringan 2,25 kali lebih cepat, dari 9 jam menjadi 4 jam. Peningkatan mutu produk ditunjukkan dengan ukuran dan bentuk kerupuk yang seragam dan dikemas dengan menggunakan plastik pouch dengan klip segel kuat dilengkapi dengan labeling informatif sesuai standar pelabelan pangan olahan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Sebelas Maret atas pendanaan kegiatan pengabdian melalui hibah pengabdian grup riset (HGR) non APBN UNS 1/UN27. 22/PT. 03/2024. DAFTAR PUSTAKA