AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Sejarah Lumbung Padi Menjadi Batu Di Kampung Alata Desa Kenarimbala Kecamatan Alor Timur Laut Kabupaten Alor Matheos E. Maure1. Mahalita S. Moban2. Juliana A. Mayopu3,Lodia M. Kemengko4. Loriance Tonu Weni5. Herlofina Manikafola6,Petrus Mau Tellu Dony7. Universitas Tribuanan Kalabahi Email: mauremateos@gmail. com 1, rinamoban46@gmail. com 2, tinamayopu@gmail. lodiakamengko@gmail. com4, loriancetonuweni@gmail. herlofinamanikafola@gmail. com6, petrusdony2@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkajikan sejarah Lumbung Padi menjadi batu di Desa Kenarimbala Kecamatan Alor Timur Laut Kabupaten Alor, makna Sejarah Lumbung Padi menjadi batu dan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam sejarah lumbung Padi menjadi Peneliti menggunakan metode kualitatif. Teknik analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilakukan di kampung Alata. Desa Kenarimbala. Kecamatan Alor Timur Laut. Informan dalam penelitian ini adalah Orang Tua Dari Kampung Alata. Hasil penelitian menunjukan bahwa: Sejarah lumbung padi menjadi batu di kampung alata membawa beberapa manfaat pada masyarakat setempat yaitu: memberikan kehidupan dalam bahan makanan berupa padi yang melimpah bagi masyarakat di kampung Alata . kebutuhan pangan lokal yang sangat melimpah berupa padi, jagung, labuh dan lain-lain. Hasil peneliti dapat disimpulkan bahwa proses pelaksanaan Sejarah lumbung Padi menjadi batu yang berada di kampung Alata Desa Kenarimbala merupakan Sejarah yang disempurnakan oleh cerita para leluhur. Kata Kunci : Lumbung Padi Menjadi Batu. Kampung Alata. Desa Kenarimbala PENDAHULUAN Negara Indonesia adalah negara majemuk yang terdiri dari berbagai suku, ras, bahasa, agama dan budaya yang berbeda. Ada banyak sekali keragaman yang ada di dalamnya, salah satunya yakni kebudayaan. Budaya merupakan keseluruhan cara hidup, sistem nilai, norma, tradisi, adat istiadat, bahasa, seni, dan teknologi yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat (Fitri Sari & Fatma, 2. Secara umum, budaya mencakup segala sesuatu yang diwariskan oleh satu generasi ke generasi berikutnya melalui proses sosial, pendidikan, dan Budaya bukan hanya tentang warisan masa lalu, tetapi juga mencerminkan cara individu dan kelompok beradaptasi dengan lingkungan mereka, membentuk identitas sosial, dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, budaya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Menurut Kontijaraningrat . 5: . kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu. Sebuah kebudayaan akan terus tercipta, dari tempat ke tempat, dari individu ke individu dan dari masa ke masa dalam menceritakan sebuah sejarah kepada generasi agar selalu mengingat sebuah sejarah yang disampaikan oleh nenek moyang. Sejarah desa masih menarik sejarawan untuk ditelusuri karena hampir semua peristiwa sejarah berawal atau terjadi di desa pedesaan. Desa sebagai kesatuan terkecil di indonesia, memiliki karakter tersendiri. Hal ini disebabkan karena masing-masing wilayah di indonesia terbentuk melalui proses sejarah panjang dan berbeda-beda. Petrus Mau Tellu Dony . demikian juga dengan Desa Kenarimbala Kecamatan Alor Timur Laut Kabupaten Alor. Perlu adanya sosialisasi dalam penyadaran arti pentingnya budaya lokal yang dapat membantu sebuah kampung menjadi terkenal dan dikenal, hal ini bukan berarti bahwa tidak boleh mengadopsi budaya asing, namun banyak budaya yang tidak sesuai dengan kepribadiaan bangsa. Kurangnya pembelajaran budaya merupakan salah satu sebab dari memudarnya budaya lokal bagi generasi muda. Oleh karena itu, pembelajaran tentang budaya, harus ditanamkan sejak dini. Namun sekarang ini banyak yang suda tidak menganggap penting pembelajaran budaya lokal. Kondisi yang kami dapati di tempat penelitian itu, kurangnya masyarakat setempat dalam mengelola dan menjaga kebudayaan secara baik. Dikarenakan pemerintah setempat kurang mendukung dalam mengembangkan kebudayaan dan sejarah tersebut, sehingga generasi muda saat ini lebih dominan ke budaya barat saat ini. Itu sangat membahayakan potensi budaya lokal, dan hilangnya sebuah sejarah yang suda ada sejak dulu dikarenakan generasi muda yang tidak mau untuk mencaritau tentang sebuah sejarah di kampung tersebut. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 METODE PENGABDIAN Penilitian ini mengunakan metode kualitatif. Analisis data penelitian menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Data yang digunakan dalam penilitian ialah data kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, yaitu observasi lapangan dan Peneliti mewawancarai dengan beberapa tokoh adat yaitu . Bapak Anus Kupeire . Bapak Semuel Lande dengan teknik analisis data yang digunakan, yaitu analisis deskripsi HASIL PENGABDIAN DAN PEMBAHASAN Pada zaman dahulu kala, ada seorang Raja yang datang dari Timor-Timor. Timor Likusama Maubara yang membawa sebuah peti emas. Mereka berlayar dengan perahu menuju timur melewati pantai Alor Timur (Kolan. , dan terus berlayar sampai di Laut Flores atau bagian Utara pantai Maubaka, yang dulunya tempat itu disebut dengan nama AoKaifiling Bilegai. Ketika raja itu sampai di bagian pantai Kaifiling-Bilegai, orang-orang di berbagai kampung mengetahui kedatangan Raja dari Liku Sama Maubara. Masing-masing kampung berusaha mengirim utusannya untuk menemui raja tersebut. Dengan berpakaian adat lengkap, masing-masing utusan tersebut menanti raja Maubara di tepi pantai. Namun sangat disayangkan raja tersebut tidak mau mendaratkan perahunya untuk bertemu dengan utusanutusan itu. Justru sebaliknya ia memutar haluan menjauhi mereka. Akhirnya utusan-utusan itu pulang ke kampung masing-masing. Sementara itu Nenek moyang kami yang bernama Langarang Mauarang pun angkat hati untuk mencoba menemui raja tersebut, dengan harapan semoga raja itu berkenan bertemu dengan dirinya dan menjadi sahabatnya. Namun pada masa itu nenek moyang kami sangat kesulitan dalam hal pakaian. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Sumber Foto: Pantai Maubaka 2025 Sumber Foto: Pakaian Dari Kulit Kayu 2025 Dengan demikian mereka berbusana cawat dan selendang dari kulit kayu. Langarang Maurang bersama isterinya Talsuket dan saudara perempuannya yang bernama Wellakkon, serta seekor Anjing yang bernama Mulingmu, turun ke pantai untuk menjumpai raja tersebut. Sebelum mengayun langkah menuju pantai. Langarang Mauarang mengucapkan semacam bahasa sumpah . yang menyatakan. Aojika benar-benar raja itu akan jadi sahabat kami, maka ketika kami keluar dari kampung ini, perahu itu balik haluan menuju pesisir PantaiAo. Dan apa yang diucapkannya itu benar-benar terjadi. Perahu itu balik haluan menuju pantai. Ketika mereka tiba di suatu tempat bernama Lata, langarang Mauarang kembali mengucapkan AowangeAo untuk keduakalinya, katanya : AuJika orang yang ada di perahu itu akan jadi sahabat saya, biarlah perahu itu berlayar menuju ke pesisir pantai Kaifiling BilegaiAy. Dan untuk keduakalinya apa yang diucapkannya itu terjadi. Perahu itu terus berlayar menuju pesisir Kaifiling Bilegai. Maka semakin yakinlah mereka bahwa raja itu pasti akan jadi sahabat mereka. Sesampainya mereka di suatu tempat yang bernama tanah putih, mereka bertemu dengan orang-orang utusan dari kampung lain yang sudah kembali dari pantai Kaifiling karena tidak diterima oleh raja Maubara. Mereka mencibir Langarang Mauarang, katanya : AoKami yang berpakaian adat lengkap saja kami tidak diterima oleh raja itu, apalagi kamu yang hanya mengenakan cawat dari kulit kayu?Ao. Maka Langarang Mauarang menjawab katanya : AoBiarlah kami mencoba untuk bertemu dulu, kalau kami juga yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 tidak diterima, biarlah kami cari Kenari busuk di pantai dan kembali pulang ke kampungAo,Lalu mereka melanjutkan perjalanan masing-masing. Ketika tiba di pantai tersebut. Langrang Mauarang melepaskan anjingnya Mulingmu, namun sebelum melepaskan Anjingnya, kembali ia mengucapkan wange yang ketiga kalinya, katanya: AoJika Anjing yang saya akan lepaskan ini berhasil berenang sampai masuk ke dalam perahu dengan selamat lalu menggonggong tiga kali, maka pastilah raja itu akan jadi sahabat sayaAo. Kemudian ia melepaskan Anjing tersebut, dan Anjing itu berhasil melewati arus dan gelombang dan berenang sampai masuk kedalam perahu raja, sebagai tanda hormat kepada raja. Anjing itu menggonggong tiga kali. Sementara itu di dalam perahu. Raja Maubara pun melakukan hal yang sama, ia melepaskan seekor Ayam jantan sambil berkata. Jika orang-orang yang ada di pesisir itu akan jadi sahabat saya. Ayam yang saya lepaskan ini terbang dengan selamat sampai di darat dan berkokok tiga kaliAo. Kemudian ia melepaskan Ayam jantan itu. Ayam itupun berhasil mendarat di pesisir pantai kaifiling-Bilegai di pohon Dilak dengan selamat, lalu ayam itu berkokok tiga kali Sumber Foto: Peti Bersejarah Berisi Bibit Padi 2025 Maka Raja mulai mendaratkan perahunya, lalu turun dari perahu. Raja itu datang mendekat ke sahabat barunya yaitu Langarang Mauarang dengan membawa sebuah peti emas, sambil berkata. AoJika engkau menjawab dengan benar apa sebenarnya yang ada di dalam peti ini, maka peti ini bersama isinya akan jadi milikmuAo, maka Langarang Mauarang menjawab katanya: AoAoMautan MaubakAoAo. Lalu raja itu menyerahkan peti emas itu kepada Langarang Mauarang dengan dua pesan yaitu, pertama peti itu tidak boleh dibuka selama yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 dalam perjalanan. Kedua. Langarang Mauarang tidak boleh kembali ikut jalan yang sama, tetapi ikut jalan yang berbeda. Sebagai tanda terima kasih sekaligus untuk mengikat persahabatan, maka Langarang Mauarang menyerahkan saudara perempuannya yang bernama Wellakkon, untuk menjadi isteri raja, yang nantinya dikenal dengan Ratu Welhelmina. Lalu Langarang Mauarang bersama isterinya. Talsuget pulang ke kampung dilmang Magamang melewati kali besar Ira Uri. Sedangkan raja Maubara kembali berlayar menuju Timor Aetimor bersama dengan isterinya. Pantai tempat Langarang Mauarang bertemu dengan sahabatnya raja Maubara dan menerima peti emas berisi Mautan Maubak itu dulunya bernama Kaifiling Bilegai sekarang bernama Maubaka. Maubaka dalam bahasa daerah Alata adalah AoMaubak, yaitu padi yang berbulir besar. Sumber Foto: Tempat Yang Bernama Pongtan Mangluk 2025 Ketika ditengah perjalanan mereka tiba di suatu kampung yang bernama pongtan mangluk, yakni kampung asal Talsuget, orang-orang disitu meminta agar Langarang Mauarang mau membuka peti itu agar mereka melihat apa isi peti itu. Didalam hati Langarang Mauarang merasa keberatan karena mengingat pesan dari sahabatnya tadi, namun karena orang-orang yang meminta itu tidak lain adalah kunyadu mantunya sendiri, maka dengan berat hati Langarang Mauarang membuka peti itu. Ketika peti emas itu dibuka,A sebagian padi yang berbiji halus, atau yang bersayap ringan terbang keluar dari peti, ada yang jatuh di kotoran burung, ada yang jatuh di kotoran babi, dan ada juga yang terbang ke berbagai tempat. Yang jatuh di kotoran Babi tumbuh dan berbuah menghasilkan padi atau yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 beras berwarna hitam seperti kotoran babi yang dalam bahasa daerah disebut Peiah, yang berarti tai Babi. Sekarang mereka sadar, mengapa tadi sahabatnya melarang agar peti itu jangan dibuka dalam perjalanan. Lalu mereka menutup kembali peti itu dengan cepat, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke kampung mereka Dilmang Magamang Setibanya mereka di kampung, mereka mengundang seisi kampung Dilmang Magamang. Binigeng Binie dan membuat acara penyambutan dengan menaruh gong, lego-lego dan makan bersama. Setelah itu mereka membuka untuk melihat bersama isi peti tersebut. Ketika dibuka. Peti itu berisi beberapa jenis padi dan makanan lain yang diberi nama oleh para leluhur Alata dengan sebutan bahasa kampung. Mautan Maubak. Lenlan Bautuk . Ari pie pang pie, wei sibi wang sibi, pat lamok bile. Yang artinya adalah Padi Maubaka, semua jenis botok, semua jenis Labu, semua jenis Deli, semua jenis jagung. Para leluhur menyimpan semua jenis makanan tersebut di gudang sementara mereka mulai menebas hutan untuk membuka kebun-kebun baru dengan Beberapa jenis bibit yang dibawah oleh nenek oyang SumberFoto:Padi. Jagung. Labu 2025 Konon pada masa itu, nenek moyang kita tidak perlu menanam, ataupun pungut, dan Karena setelah menebas hutan dan membakar kotoran rumput, padi jagung, dan semua bibit-bibit itu berjalan sendiri menuju kebun, atau lahan masing-masing. Begitu hujan turun, padi-jagung dan semuanya tumbuh dan berkembang hingga mengeluarkan buah, setelah itu makanan-makanan itu berjalan sendiri menuju ke kampung dengan sendirinya. Para leluhur Alata hanya menyiapkan bakul dan lumbung saja baik itu di kebun maupun di gudang di yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Selanjutnya, bakul-bakul dan lumbung-lumbung yang dikebun itu dengan sendirinya akan terisi makanan, lalu bakul-bakul makanan itu berjalan sendiri menuju kampung, dan selanjutnya bakul-bakul dan lumbung-lumbung yang di gudang pun akan terisi penuh dengan makanan, nenek moyang Alata tinggal mengolah dan menikmati. Namun sangat disayangkan, hal seperti ini terjadi hanya beberapa saat saja. Ini dikarenakan pada suatu saat ketika bakul-bakul makanan itu dalam perjalanan menuju ke kampung sampai di suatu tempat dekat kampung ada sekawanan burung Puyuh dan burung Pipit yang berusaha merampas makanan-makanan dalam bakul tersebut. Seketika itu juga semua bakul dan lumbung itu terhenti dan menjadi batu. Batu itu sampai sekarang dinamakan Saigabang. Sedangkan tempat batu-batu itu dinamakan usemang . ikul bakul berdir. , batu itu sebagai bukti sejarah hingga saat ini. Bukti sejarah yang lainnya ketika nenek moyang Alata bertemu raja dan menerima peti emas yang berisi padi adalah bersamaan dengan peti itu, diberikan juga kain seperti bendera merah putih tanpa jahitan. Hingga kini bendera itu masih ada, namun sudah sangat usang karena tersimpan berabad-abad lamanya di tangan keturunan dari nenek moyang Langarang Mauarang. Seiring bergulirnya waktu, maka nama kampung Dilmang Magamang juga menglami perubahan, awalnya Dilmang Magamang. Binigeng Binie, setelah nenek moyang bawa padi masuk kampung nama Dilmang Magamang menjadi AoEta atau AlataAo, yang artinya adalah Kampung Padi atau lumbung Padi. KESIMPULAN Hasil Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, di Desa Kenarimbala Kecamatan Alor Timur Laut, memiliki nilai-nilai budaya di setiap daerah masing-masing,dan sangat membantu dalam pelestarian budaya dan perkembangan budaya di tempat tersebut. Maka dari itu, kami peneliti mendapati Sebuah cerita yang sangat bermakna dan sangat bagus untuk diceritakan kepada generasi muda agar mereka dapat tahu tentang cerita Asal Usul Padi di Kampung Alata, penyampaian dari beberapa nara sumber bahwa sejarah asal usul padi ini membawa perubahan dan dampak yang besar pada kampung Alata dimana masyarakat di kampung tersebut masih dapat menanam beberapa jenis tanaman yang masih ada sampai saat ini diantaranya Padi,Jagung. Botok. Deli, dan Labu. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 2 Agustus 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 2. Agustus 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 SARAN Kebudayaan dan sejarah adalah keseluruhan sebuah sejarah yang ada di Desa Kenarimbala. Kecamatan Alor Timur Laut. Menurut kami masi kurangnya penanganan dari Desa Kenarimbala mengenai Budaya dan Sejarah yang suda ada sejak dulu kala. Maka dari itu kami sebagai peneliti sangat berharap kepada Orang Tua Adat yang ada di kampung Alata. Agar mereka selalu meceritakan sejarah Asal Usul Padi di kampung ETA ini kepada generasi muda agar sejarah itu ini tidak punah oleh perkembangan zaman saat ini. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Petrus Mau Tellu Dony selaku Dosen Pengasuh Mata Kuliah atas bimbinganya yang diberikan kepada kami para penulis. Para Nara Sumber yaitu Bapak Anus Kupeire Dan Bapak Semuel Lande, yang sudah memberikan data tentang sejarah Asal Usul Padi di Kampung Alata. Penulis sangat berharap kepada Orang Tua Adat, agar dapat meceritakan sejarah ini kepada generasi muda agar cerita tentang sejarah yang ada di kampung Alata tida hilang begitu saja. DAFTAR PUSTAKA