PENGARUH LEADER MEMBER EXCHANGE DAN SELF EFFICACY KARYAWAN TERHADAP EMPLOYEE VOICE BEHAVIOR DI PT. INTERNASIONAL PRIMA COAL SAMARINDA Rahmaniah Walidi1 Diana Imawati2 Ayunda Ramadani3 Fakultas Psikologi. Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Jl. Ir. H Juanda. Samarinda. Indonesia No. 80 Telp: . 743390 Fax: . 741997 Email: Rahmaniahwalidi@gmail. ABSTRSCT This study aims to find out whether there is an influence of Leader Member Exchang and Employee Self Efficacy on Employee Voice Behavior. so there are 3 influences that will be investigated in this study, namely: . Leader Member Exchang. Self Efficacy of employees. Employee Voice Behavior. This research was conducted on employees of PT. Internasional Prima Coal Samarinda where the company is engaged in coal mining. The subjects in this study were 51 employees. sampling in this study using saturated sampling technique where all populations are used as samples because of the relatively small population. The data analysis technique used is multiple linear regression analysis. The results of the regression analysis of this study are R = 0. R2 = -0. F regression = 0. 598, it shows that there is no positive and significant influence from Leader Member Exchang and employee Self Efficacy on Employee Voice Behavior. Keywords : Leader Member Exchang. Employee Self Efficacy. Employee Voice Behavior Type article : Research paper PENDAHULUAN Komunikasi dalam konteks organisasi memiliki peran yang sangat penting karena berhubungan dengan interaksi atasan, bawahan dan rekan kerja di perusahaan. Komunikasi didalam organisasi terjadi setiap hari baik antar bawahan, bawahan dengan atasan dan begitu pula sebaliknya. Adanya komunikasi yang baik dan efektif maka tujuan perusahaan akan mudah dicapai sesuai dengan apa yang telah Hal tersebut diperkuat oleh teori dari Handoko (Prihantina, 2. yang mengatakan bahwa dengan terjalinnya komunikasi yang baik diantara karyawan dapat menimbulkan kinerja yang lebih baik sehingga mengurangi tingkat penurunan kinerja dari Disisi Perkembangan pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang tiada henti sangat mempengaruhi perkembangan dan juga perubahan industri baik industri nasional maupun industri multinasional. Sehingga meningkatkan unjuk kerja dan performanya di era yang kompetitif ini agar mampu bersaing. Salah satu upaya untuk meningkatkan unjuk kerja dan performa kerja untuk mencapai tujuan perusahaan adalah menciptakan suatu kerja sama yang baik antar karyawan atau pegawai dalam perusahaan. Oleh sebab itu Menciptakan kerja sama yang baik sangat dibutuhkan dalam sebuah perusahaan, untuk menciptakan suatu kerja sama yang baik maka dibutuhkan suatu bentuk komunikasi yang efektif di dalam satu perusahaan atau organisasi. Mengingat pentingnya interaksi sosial dengan komunikasi yang efektif oleh karena itu karyawan atau pegawai haruslah dapat bersifat terbuka dalam mengemukakan pendapat atau ide serta isu-isu di dalam perusahaan dengan maksud dan tujuan untuk meningkatkan performa perusahaan dan dapat juga membawa perubahan di perusahaan Sehingga dalam hal ini karyawan dituntut untuk memiliki employee voice Employee voice behavior adalah suatu peran karyawan yang sukarela memberikan ide, isu-isu pelanggaran dan sebagainya di perusahaan, semua itu dilakukan dengan tujuan unuk meningkatkan mutu perusahaan. Pada hakekatnya employee voice behavior adalah suatu cara karyawan atau pegawai memberikan tanggapan ke atas sehingga ide dan tanggapan dari karyawan atau pegawai dapat menjadi sebuah inovasi dan perubahan yang baik bagi perusahaan dan meningkatkan performa perusahaan. Employee voice behavior menjadi inovasi proaktif yang harus terus dikembangkan oleh perusahaan (Kulkarni. Rahmawati et. al, 2. Selain dari pada itu apabila seorang karyawan melakukan voice behavior dan ditanggapi dengan positif oleh atasan, juga akan berdampak baik bagi karyawan sehingga menguntungkan perusahaan dan membuat karyawan merasa nyaman dan puas bekerja diperusahaan tersebut. Pernyataan tersebut seperti yang diungkapkan oleh Parker (Andyasari, et. al, 2. Perilaku suara juga memiliki efek positif pada individu karyawan, karyawan, penurunan stres, dan kenaikan kepuasan dan motivasi. Hal demikian membuat employee voice behavior sangat penting didalam sebuah organisasi atau perusahaan, akan tepati walaupun employee voice behavior sangat penting dalam sebuah perusahaan namun masih banyak karyawan yang enggan untuk melakukan voice behavior kepada managemen. Kebanyakan dari karyawan merasa takut atau bahkan tidak perduli dengan apa yang terjadi di Namun terkadang hal demikian terjadi karena atasan yang tidak kooperatif menanggapi aspirasi dari bawahan, sehingga bawahan merasa tidak perlu untuk memberi tanggapan keatas. Penelitian yang dilakukan oleh Souba. Lucey. Way. Sedmak & Notestine (Morrison, 2. yang berhubungan dengan komunikasi pegawai dengan managemen, pada orang yang bekerja di sekolah kesehatan di Amerika menemukan bahwa 69% orang setuju bahwa mereka lebih memilih diam ketika menemukan permasalahan di tempat kerja. Ketika karyawan atau pegawai lebih memilih untuk diam atau menahan informasi dan ide yang terbilang penting dan potensial, dan tidak dapat mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran mereka, maka hal ini disebut dengan istilah silent behavior. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Marisson. See dan Caitlin . yang menyatakan bahwa pabila seorang dihadapkan pada pilihan apakah ingin mengungkapkan isu yang terjadi pada perusahaannya atau tidak, maka karyawan cenderung lebih memilih untuk Adapun di Indonesia sendiri permasalahanpermasalahan komunikasi keatas yang terjadi diperusahaan manufaktur dan jasa menjadi indikasi adanya permasalahan employee voice Permasalahan ini terjadi pada perusahaan industri jasa di Sumatera Utara. Madura. Jambi. Kalimantan Timur, dan Jawa Barat dan industri manufaktur di Bali. Jawa Timur dan Jawa tengah. Pernyataan tersebut dikutip dari penelitian yang dilakukan oleh (Rahmawati. Sumiyati & Masharyono, 2. Alasan rendahnya employee voice behavior yang terjadi dibeberapa perusahaan tersebut disebabkan karena adanya kesenjangan komunikasi antara atasan bawahan akibatnya komunikasi kurang efektif dan karyawan segan untuk melakukan voice behavior kepada atasan atau kepada managemen. Adapun dampak dari karyawan yang lebih memilih diam dari pada mengekspresikan tanggapan kepada organisasi antara lain perusahaan akan sulit berinovasi karena tidak adanya ide baru. Hal tersebut di dukung oleh penelitian Susilowati . pada 157 karyawan produksi PT Indoprima Gemilang Plant II Surabaya bahwa apabila karyawan memiliki silent behavior yang tinggi maka perilaku inisiatif karyawan yang berguna bagi perusahaan tersebut menurun, maka perusahaan akan kehilangan ide-ide baru, pengalaman, solusi kreatif, dan usaha karyawan yang lebih dari tugas biasanya. Oleh karena komunikasi dan hubungan kerja yang baik antara atasan dengan bawahan sangat penting, maka perusahaan harus menciptakan keakraban antara atasan dan Suatu konsep yang membahas dan mempelajari kualitas hubungan antara atasan dan bawahan dalam lingkungan organisasi dan bagaimana mereka dapat saling mempengaruhi dapat disebut dengan istilah leader member Menurut Yukl (Harthantyo & Rahardjo, 2. leader member exchange adalah hubungan saling mempengaruhi antara atasan dan bawahan, leader member exchange tidak melihat perilaku atasan atau bawahan saja namun lebih menekankan pada kualitas hubungan yang terbentuk dari interaksi Pada gaya kepemimpinan leader member exchange, pemimpin memberikan dukungan dan bimbingan kepada karyawan untuk membuat karyawan terlibat dan terikat dengan Sehingga diharapkan karyawan merasa nyaman untuk berbicara dan mengutarakan pendapat, ide, dan saran mengenai permasalahan yang tidak diketahui oleh atasan atau management secara langsung. Pernyataan diatas diperkuat oleh penelitian Zhao (Rahmawati et. al, 2. leader member exchange memliki peran penting dalam mempengaruhi perilaku suara karyawan atau employee voice behavior. Dan dalam penelitian (Rahmawati et. al, 2. menyatakan bahwa leader member exchange memiliki pengaruh yang cukup tinggi terhadap employee voice Serta Morroson . dalam penelitiannya menyatakan bahwa salah satu faktor kontekstual yang berpengaruh terhadap employee voice behavior adalah gaya kepemimpinan leader member exchange. Oleh sebab itu dalam penelitian ini, peneliti akan menguji kembali sejauh mana leader member exchange berpengaruh terhadap employee voice behavior dan dengan karakteristik sampel yang berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya. Secara bersamaan peneliti ingin menguji faktor kontekstual dan faktor internal seperti penelitian sebelumnya. Faktor internal yang akan diuji oleh peneliti adalah self efficacy. Pada penelitian sebelumnya self efficacy telah diteliti, namun penelitian tersebut lebih kepada self efficacy managerial. Seperti dalam penelitian yang dilakukan oleh Fast. Burris & Bartel . terhadap para supervisor dari berbagai perusahaan di Amerika menyatakan bahwa self efficacy manager sangat berpengaruh terhadap employee voice behavior Manager yang memiliki keyakinan diri yang tinggi mampu untuk mempengaruhi karyawannya untuk selalu memberikan ide-ide Berbeda dari penelitian sebelumnya, pada penelitian ini Self efficacy yang akan diteliti adalah self efficacy pada karyawan. Self efficacy merupakan suatu kepercayaan yang muncul karena memiliki keyakinan diri atas menjalankan suatu pekerjaannya, sehingga mampu memperoleh suatu keberhasilan (Putri & Wibawa, 2. Oleh sebab itu karyawan yang memiliki self efficacy yang tinggi tentunya memiliki keyakinan diri yang tinggi untuk maju dan berkembang meraih kesuksesan, sehingga diharapkan karyawan yang memiliki self efficacy yang tinggi akan lebih mudah untuk melakukan employee voice behavior kepada atasan atau managemen. Penelitian ini akan dilakukan di PT. Internasional Prima Coal Samarinda. PT. Internasional Prima Coal adalah salah satu perusahaan tambang batu bara yang berlokasi di Samarinda. Pada studi pendahuluan peneliti menemukan bahwa di PT. Internasional Prima Coal Samarinda memberikan peluang seluas-luasnya bagi karyawan untuk menyampaikan ide, pendapat dan tanggapan serta menerapkan prosedur keluh kesah sebagai wadah bagi karyawan untuk menyampaikan keluh kesah dan memberikan kritik. Penyampaian gagasan, ide serta pendapat yang membangun dari karyawan kepada atasan dilakukan dengan beberapa cara diantaranya adalah cara formal seperti pada saat meeting, pada saat seperti ini atasan membuka seluasluasnya apabila karyawan ingin memberikan gagasan, ide serta pendapat yang membangun bahkan diwajibkan untuk melakukan hal Selain pendapat yang membangun ada LANDASAN TEORI Morrison . mendefiniskan employee voice behavior sebagai komunikasi informal dimana karyawan memiliki kebebasan dalam mengkomunikasikan ide, saran, kekhawatiran, atau pendapat mengenai isu-isu yang meningkatkan fungsi organisasi. LePine dan van Dyne (Morrison, 2. prilaku suara karyawan atau employee voice behavior adalah bentuk komunikasi dengan manajemen, tapi juga sebagai sarana komunikasi berorientasi perubahan yang dimaksudkan memperbaiki situasi. Employee kebebasan karyawan memberikan saran, ide, memberikan informasi mengenai masalah di dalam perusahaan atau dalam hubungan dengan rekan kerja terhadap orang yang memiliki wewenang untuk mengambil keputusan dengan maksud untuk membawa perubahan yang lebih baik (Detert & Burris. Morrison, 2. juga pendapat yang menjatuhkan. Pendapat yang menjatuhkan bisa dilakukan melalui prosedur keluh kesah yang disediakan oleh perusahaan. Adapun cara informal yaitu dengan langsung menghubungi atasan dengan telephone atau sosial media. Disamping itu perusahaan ini memiliki salah satu budaya organisasi yang diterapkan yaitu Maka perusahaan ini sangat membutuhkan ide-ide baru bahkan keluh kesah dari karyawannya untuk dapat menciptakan inovasi-inovasi baru agar mampu bersaing dengan competitor lainnya. Adapun dari penjelasan tersebut maka peneliti menarik judul penelitian ini yaitu Pengaruh leader member exchange dan self Efficacy karyawan terhadap employee voice behavior di PT. Internasional Prima Coal Samarinda. Adapun salah satu konsep kepemimpinan dalam hal hubungan antara atasan dan bawahan biasa disebut dengan leader member exchange (Iilham & Herawati, 2. Pendapat lain menyatakan Leader member exchange menurut Graen dan Uhl-Bien (Anshari. Basit & Hamid, 2. adalah sebuah hubungan berdasarkan pada pendekatan kepemimpinan yang berfokus pada hubungan dua arah . antara pemimpin dan bawahan. Adapun Leader member exchange menurut Yulk . alam Iilham & Herawati, 2. adalah hubungan antara atasan dan bawahan yang saling mempengaruhi satu sama lain. leader member exchange tidak hanya melihat perilaku atasan saja tetapi juga menekankan pada kualitas hubungan antara atasan dan Self efficacy merupakan suatu yang sangat penting terdapat didalam diri setiap insan karena self efficacy berhubungan dengan keyakinan bahwa diri, bahwa diri ini memiliki kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan (Alwisol, 2. Bandura (Ardi et. al, 2. menjelaskan Self Efficacy mencerminkan suatu keyakinan individu pada kemampuannya dalam melaksanakan suatu tugas pada tingkatan kinerja yang spesifik. Self Efficacy juga melibatkan suatu proses besar yang didalamnya terdapat kecakapan kognitif, kecakapan berperilaku yang diolah sehingga menghasilkan serangkaian tindakan yang menyatu untuk memenuhi berbagai tujuan (Asih & Dewi, 2. Adapun dalam literatur yang lainnya Bandura (Feist & Feis, 2. juga mendefinisikan self efficacy sebagai keyakinan manusia pada kemampuan mereka untuk melatih sejumlah ukuran pengendalian terhadap fungsi diri mereka dan kejadiankejadian dilingkungannya, dan dia juga yakin kalau self efficacy adalah fondasi keagenan Manusia yang percaya dapat melakukan sesuatu, memiliki potensi untuk mengubah kejadian-kejadian dilingkungannya, lebih suka bertindak dan lebih dekat pada kesuksesan daripada yang rendah self efficacynya. Gambar 1. Kerangka Penelitian Leader Member Exchange Employee Voice Behavior Self Efficacy Karyawan METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di PT. Internasiona Prima Coal Samarinda yang bergerak pada bidang batu bara. Dimana variabel bebas dalam penelitian ini adalah leader member exchange dengan dimensi Afeksi. Loyalitas. Kontribusi. Penghormatan Profesi dan self efficacy karyawan dengan level, generality. Strength. Sedangkan variabel terikat employee voice behavior dengan dimensi pro social voice, defensive voice dan acquiescet Dalam penelitian ini, populasi penelitian yang ada adalah seluruh karyawan PT. Internasional Prima Coal di Kalimantan Timur yang berjumlah 100 orang. Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan non Karakteristik sampel adalah berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, minimal lulusan SMA dan bekerja selama lebih dari satu tahun pada bagian tertentu di dalam HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil uji korelasi terhadap variabel independen diketahui bahwa seluruh variabel bebas berkorelasi dengan variabel terikat: leader member exchange dengan employee voice behavior . = - 0,020. p < 0,01: Berkorelasi lema. Variabel self efficacy karyawan mengenai employee voice behavior . = 0,096. p < 0,01: Berkorelasi Lema. Dari hasil yang ditemukan tersebut maka dapat dikatakan bahwa terdapat korelasi namun tidak signifikan atau bisa dikatakan memiliki korelasi yang lemah antara leader member exchange dan self efficacy karyawan dengan employee voice behavior. Setelah mengetahui bahwa semua variabel bebas berkorelasi dengan variabel terikat, maka perhitungan analisis regresi dapat dilanjutkan. Dari hasil analisis regresi dengan metode enter diperoleh nilai R = 0,156. R2 = - 0,16, nilai F regresi = 0,598 dan signifikansi 0,554. Nilai R dalam regresi berganda menunjukan adanya korelasi yang lemah antara dua variabel bebas dan variabel terikat. Nilai R yang diperoleh adalah 0,156, yang berarti bahwa korelasi antara leader member exchange dan self efficacy karyawan dengan employee voice behavior adalah sebesar 0,156. Nilai F regresi sebesar 0,598 dengan nilai p adalah 0. < 0,. yang berarti tidak Hal ini berarti bahwa variabel leader member exchange dan self efficacy karyawan secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap employee voice behavior. Hal ini berarti bahwa tidak ada sumbangan pengaruh variabel leader member exchange dan self efficacy karyawan terhadap employee voice Fatimah. , & Cangara. Pemanfaatan Saluran Komunikasi dalam Penyerapan Aspirasi Masyarakat Oleh Pusat Pelayanan Informasi dan Pengaduan ( Pind. Pemerintah Kabupaten Pinrang. Jurnal Komunikasi KAREBA. Vol. 5 No. Daftar Pustaka