Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol 3. No. September 2021, pp. E-ISSN 2686-2042 Terites. Kuliner Ekstrim Khas Karo Sebagai Daya Tarik Wisata Kuliner Mulya Sari Hadiati a,1,*. Muhamad Mirum Sapat Surbakti b,2 Program Studi Pariwisata. Universitas Gunadarma. Depok Program Studi Pariwisata. Universitas Gunadarma. Depok mulyahadiati@yahoo. com* sapatsurbakti@gmail. * corresponding author ARTICLE INFO Article history Received Revised Accepted Keywords Terites Extreme Culinary Culinary Tourism ABSTRACT . PT) The Batak tribe, which is divided into several tribes, is the majority population domiciled in North Sumatra Province. Including the Karo Tribe, who mostly live in Tanah Tinggi Karo. The Batak people still carry out their ancestral cultural traditions. In traditional ceremonies of the Karo Tribe, food is an important part. There are foods that are only available at traditional ceremonies. Karo's typical cuisine is unique in terms of the use of ingredients, it can even be said to be extreme. One of them is terites, grass contained in the stomach of cows. Terites already qualifies as a culinary tourism attraction, but the taste is bizare. This is the problem in this study. The purpose of this research is to find out whether terites as extreme culinary can be accepted by the tastes of the non-Karo people. This scientific writing uses the journal review method, namely reviewing several previous journals, theses and hedonic test. find out the level of preference of non-Karo people towards terites, a hedonic test was carried out on four trained panelists who live in Jakarta. Hedonic test results: taste, appearance, and texture are acceptable. However, a scent that too pungent is unacceptable. Pendahuluan Provinsi Sumatra Utara terletak di bagian barat Indonesia merupakan provinsi dengan wilayah terluas dengan penduduk terbanyak pada urutan keempat. Sebuah provinsi yang menggambarkan keragaman bangsa Indonesia, karena terdapat 11 etnis yang tentunya memiliki kekhasan budaya masing-masing. Di antara kesebelas etnis tersebut, suku Batak. Melayu, dan Nias merupakan terbanyak dari populasi penduduk. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2019, terdapat 44,75% penduduk bersuku Batak, angka tersebut menunjukkan suku Batak adalah jumlah etnis terbanyak. Suku Batak pun masih terbagi-bagi dalam beberapa etnis, yang dibedakan berdasarkan wilayah tinggal mereka. Suku Batak Karo mendiami dataran tinggi Karo, suku Batak Mandailing di Kabupaten Mandailing-Natal, suku Batak Simalungun di Kabupaten Simalungun, suku Batak Pakpak berada di Kabupaten Pakpak Barat, suku Batak Mandailing, di Kabupaten Mandailing, dan suku Batak Toba di wilayah Kabupaten Toba Samosir. Suku Batak sangat menjunjung budaya leluhur, bahkan hingga saat ini masih menjalankan tradisi adat istiadatnya. Tradisi dan upacara ritual banyak diterapkan pada upacara daur kehidupan, yaitu perkawinan, kehamilan, kelahiran, masa bayi, remaja, hingga kematian. Upacara ritual juga dilakukan saat menyelenggarakan beberapa kegiatan, seperti memasuki rumah baru, bertanam, dan kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan. Makanan seringkali menjadi bagian penting dalam sebuah upacara adat. Para leluhur percaya makanan adalah sesuatu yang harus dihargai karena untuk mendapatkan makanan harus bekerja keras terlebih dahulu (Petra, 2. Melalui makanan dapat terlihat status sosial masyarakat dalam adat Batak. Suku Karo termasuk suku yang menjadikan makanan sebagai bagian penting dalam upacaraupacara adat. Misalnya Cipera . asakan berkuah berisi ayam dengan tepung jagung khusus yang http://ojs. journaldestinesia@gmail. E-ISSN 2686-2042 Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol 3. No. September 2021, pp. disebut tepung ciper. dan Tasak Telu . aging ayam dimasak bersama darah aya. adalah makanan yang harus disuguhkan pada upacara perumah begu . emanggil arwa. dan mbesur-mbesuri . esta panen atau syukuran ketika bulir padi mulai berisi dan upacara ketika wanita memasuki masa Kuliner khas suku Karo memiliki beberapa makanan tradisional yang unik, bahkan cenderung ekstrim. Meski dianggap cukup ekstrim bagi kebanyakan orang, namun merupakan makanan favorit bagi masyarakat Karo. Sebagian masyarakat Karo mengonsumsi laba-laba . yang ada di persawahan. Kemudian kidu atau ulat dari pohon sagu atau enau yang terkadang dikonsumsi dalam keadaan mentah, atau dimasak arsik . ejenis pepe. Ada pula yang mengonsumsi anjing tanah . yang ada di persawahan, serta cibet . etamorfosis dari capun. Tak kalah unik. Sup Hijau yang terbuat dari bahan terites, yaitu rumput yang masih berada di dalam lambung sapi (Azhar. Keunikan terites dalam Sup Hijau yang hanya dapat ditemui dalam beberapa upacara adat dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata kuliner. Ini selaras dengan pendapat Wolf . dalam Syarifuddin dkk, 2018 yang menyatakan bahwa: AuWisata kuliner bukanlah sesuatu yang mewah Wisata kuliner menekankan pada pengalaman gastronomi yang unik dan menegaskan, bukan pada kemewahan restoran maupun kelengkapan jenis makanan maupun minuman yang Ay Ditambahkan oleh Muksin, 2016, tiga sifat yang dimiliki suatu daerah untuk menjadi daya tarik wisata yaitu keunikan, keaslian dan kelangkaan. Ketiga sifat itu dimiliki terites. Pernyataan Damanik dan Weber . dalam Syarifuddin, 2018 makin menguatkan alasan untuk menjadikan kuliner khas Karo, khususnya terites sebagai daya tarik wisata. Dikatakan, bahwa daya tarik wisata yang baik sangat terkait dengan empat hal, yaitu memiliki keunikan, originalitas, otentisitas, dan keragaman. Suku Batak, terutama suku Karo yang masih menjunjung tinggi budaya leluhur dan memiliki ragam kuliner unik bahkan cenderung ekstrim menjadi latar belakang penulis melakukan penelitan berjudul Terites. Kuliner Ekstrim Khas Karo Sebagai Daya Tarik Wisata Kuliner. Meski terites sudah memenuhi persyaratan untuk dijadikan sebagai daya tarik wisata kuliner, namun cita rasa dan penampilannya tidak lazim. Hal tersebut menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini. Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah terites sebagai kuliner ekstrim dapat diterima oleh selera wisatawan atau masyarakat bukan suku Karo. Konsep Teoritis Pengertian Terites Terites, makanan khas asal Karo ini terbuat dari bahan yang memang tidak lazim digunakan dalam masakan pada umumnya, yaitu terbuat dari rumput yang berasal dari lambung . Terites merupakan salah satu makanan yang menurut orang-orang di luar suku Karo adalah hal yang aneh dan mungkin menjijikkan. Makanan ini mempunyai nama lain, yaitu pagit-pagit Aopahit-pahitAo yang merupakan arti yang sangat mencerminkan rasa dari masakan ini sendiri. Sapi sebagai hewan memamah biak . pemakan tumbuhan atau herbivora mencerna makanan dalam dua Tahap pertama, makanan dikunyah di dalam mulut, lalu masuk ke dalam rumen sebagai tempat penampungan sementara makanan yang ditelan. Tahap kedua, makanan yang sudah setengah dicerna dikeluarkan ke dalam mulut, kemudian dikunyah kembali, selanjutnya baru masuk ke dalam Nutrisi makanan pada rumen belum berubah, karena di dalam rumen hanya terjadi proses penguraian selulase. Penyerapan sari-sari makanan baru terjadi pada usus halus dan kotoran sebenarnya ada di usus besar. Hal tersebut membuktikan bahwa kekhawatiran orang yang mengira terites merupakan kotoran sapi adalah tidak beralasan. Secara biologis makanan yang terdapat dalam rumen memungkinkan masih banyak kandungan nutrisi dan enzim (Azhar. Karena itu pula masyarakat Karo percaya, terites bermanfaat bagi kesehatan . epercayaan masyarakat, belum dibuktikan dalam medi. dapat mengobati berbagai macam penyakit, seperti penyakit maag, masuk angin, dan penambah nafsu makan. Selain bermakna sebagai makanan kesehatan, masyarakat Karo memaknai terites sebagai budaya . eneruskan tradisi secara turun temuru. Terites tidak mudah didapatkan untuk konsumsi sehari-hari karena hanya tersedia pada saat perayaan upacara adat. Makanan terites akan disuguhkan pada pesta adat yang menyenangkan, seperti merdang merdem . esta tahunan ketika semua keluarga yang berada jauh berkumpul untuk syukuran atas pane. , dan kerja erdemu bayu . eluarga besar pengantin dari kedua belah pihak berkumpul untuk melangsungkan pesta adat tersebu. Hadiati dan Surbakti (Terites. Kuliner Ekstrim Khas Karo Sebagai Daya Tarik Wisata Kuline. Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol 3. No. September 2021, pp. E-ISSN 2686-2042 Pembuatan terites umumnya didasarkan atas proses tolong-menolong yang dapat memupuk rasa persaudaraan yang lebih erat. Dalam menyajikan terites di dalam pesta adat pada umumnya masyarakat Karo akan saling membantu dalam hal pengumpulan biaya karena penyediaan terites memerlukan biaya yang besar (Azhar. Terites memiliki rasa pahit yang kuat, maka diperlukan keahlian khusus dalam mengolahnya untuk mengurangi rasa pahit. Rasa pahit pada terites membuatnya juga dinamai pagit-pagit, artinya pahit. Sebutan lain untuk masakan hasil olahan terites adalah sup hijau, karena berwarna hijau dari sari terites dan daun singkong. Gambar 2. 1 Proses pencernaan rumput pada sapi. Sumber: fredikurniawan. Pengolahan Terites Bahan yang Digunakan dalam Pembuatan Terites C Terites Rumput yang terdapat di dalam perut besar sapi. Cara pengambilan terites adalah saat sapi sudah disembelih, lalu terites diambil dari bagian lambung sapi. Tulang sapi Tulang dari sapi saat direbus akan memberikan cita rasa gurih pada masakan. Daging giling Daging sapi merupakan sumber protein bermutu tinggi karena mampu menyumbangkan asam amino esensial lengkap. Selain mengandung protein tinggi, daging sapi segar merupakan pangan bergizi tinggi. Kandungan nutrisi daging segar adalah 75% air, 19% protein, dan 2,5% lemak (Syamsir, 2008 dalam Raharjo, 2010. Untuk memperoleh daging giling, bagian daging dimasukkan ke dalam mesin penggiling daging. Daging yang sudah digiling, menurut Soputan . memiliki kandungan air lebih tinggi dibanding daging iris, karena perlakuan saat proses penggilingan mengakibatkan air terurai keluar. Santan Daging kelapa parut yang diperas meski tanpa penambahan air, akan menghasilkan cairan berwarna putih yang disebut santan. Semakin banyak jumlah cairan yang dicampurkan ke dalam daging kelapa parut saat pemerasan, akan memberikan tekstur yang lebih encer. Santan kental atau santan encer akan sangat memengaruhi cita rasa makanan, maka tingkat kepekatan santan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis makanannya. Peranan santan dalam produk sangat penting, karena berfungsi sebagai penambah aroma, flavor, cita rasa, sumber gizi, dan memperbaiki tekstur suatu bahan pangan. Hadiati dan Surbakti (Terites. Kuliner Ekstrim Khas Karo Sebagai Daya Tarik Wisata Kuline. E-ISSN 2686-2042 Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol 3. No. September 2021, pp. Daun Jeruk Purut Jeruk purut dengan nama latin Citrus hystrix D. memiliki permukaan kulit tidak mulus dan terdapat lekukan-lekukan. Air perasan jeruk purut tidak banyak dimanfaatkan dalam masakan karena cita rasanya cenderung agak getir, namun justru daunnya yang lebih sering Daun jeruk purut memberi aroma khas pada masakan. Agar aroma daun jeruk terasa kuat, daun jeruk diiris-iris atau disobek dan dibuang tulang daunnya. Serai Serai banyak tumbuh alami di negara beriklim tropis, merupakan tumbuhan yang masuk ke dalam famili rumput-rumputan. Serai memiliki aroma yang kuat, harumnya menyerupai jeruk lemon, maka disebut lemongrass dalam bahasa Inggris. Terdapat dua jenis tanaman serai yang tumbuh di Indonesia, yaitu serai dapur (Cymbopogon citratu. dan serai wangi (Cymbopogon nardus L. Serai termasuk jenis tanaman rimpang, akarnya besar dan Batang serai bergerombol dan berumbi, teksturnya lunak dan berongga. Bagian pangkal serai lebih lunak, yang digunakan untuk masakan. Cara pengunaannya dengan dimemarkan agar mengeluarkan aroma yang kuat. Aroma serai yang khas sering digunakan Asia. Indonesia. Vietnam Thailand . ttp://cybex. id/artikel/92677/tanaman-serai-dan-manfaatnya/) C Cabai Rawit Hijau Beberapa daerah di Indonesia memiliki sebutan khas untuk cabai rawit dengan nama ilmiah Capsicum frutescens L. , bahasa Jawa menyebut cengis, mengkreng atau cempling. Di daerah Jawa Barat menyebutnya cengek. Lada limi dan pentek adalah sebutan cabai bagi orang Nias dan Gayo. Cabai rawit mengandung vitamin yang tinggi dan bermanfaat untuk kesehatan. Manfat cabai pada masakan selain membumbui masakan menjadi pedas sedap, sensasi rasa pedasnya dapat meningkatkan nafsu makan. Varietas cabai rawit terdiri dari cabai rawit kecil, cabai rawit hijau, dan cabai rawit putih. Cabai rawit hijau terasa lebih langu disbanding cabai rawit merah (Umah, 2. Bawang Putih Bawang putih (Allium sativum L. ) termasuk tanaman umbi, bagian umbi inilah yang dimanfaatkan sebagai bumbu. Masakan Indonesia banyak menggunakan bawang putih, baik diolah menjadi bumbu halus, bumbu iris, maupun dicincang. Bawang putih memberikan cita rasa gurih. Bawang Merah Bawang merah (Allium cepa L. ) merupakan bahan bumbu paling utama dalam masakan Indonesia, karena hampir semua masakan Indonesia menggunakannya. Bawang merah termasuk tanaman umbi berlapis, dapat dilihat lapisan berwarna ungu ketika bawang merah diiris atau dipotong. Kayu Batang Sikam Bentuknya menyerupai kayu manis, bagian kayu sikam yang dimanfaatkan sebagai bumbu masakan adalah kulit batang kayu. Digunakan dalam beberapa masakan khas suku Batak. Asam Patikala Asam patikala, atau asam cikala, atau kincung adalah bagian buah dari tanaman kecombrang atau rias. Semua bagian kecombrang, yaitu batang, bunga hingga buahnya dimanfaatkan dalam membumbui masakan. Tanaman ini memberikan cita rasa dan aroma yang sangat khas pada masakan. Sering digunakan dalam masakan Batak dan beberapa masakan Sunda. Kunyit Kurkuma domestica Val. adalah nama Latin dari kunyit, termasuk tanaman rimpang. Kandungan zat pigmen kurkuminoid pada kunyit yang memberikan warna jingga atau kuning pada masakan. Aroma kunyit dapat menghilangkan aroma amis pada masakan bahari. Cara penggunaan kunyit dihaluskan bersama bumbu lainnya. Sebaiknya sebelum dihaluskan, kunyit dibakar terlebih dulu, agar cita rasa masakan tidak berbau langu. Hadiati dan Surbakti (Terites. Kuliner Ekstrim Khas Karo Sebagai Daya Tarik Wisata Kuline. Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol 3. No. September 2021, pp. E-ISSN 2686-2042 Jahe Zingiber Officinale Roscoe atau jahe, memiliki citarasa pedas AopanasAo menyegarkan. Termasuk dalam keluarga tanaman rimpang atau akar. Bagian rimpang ini yang digunakan Seringkali digunakan dalam masakan protein seperti ikan, ayam, dan daging. Manfaatnya dapat menyamarkan rasa amis pada masakan. Jahe dapat langsung dihaluskan bersama bumbu, dapat juga hanya dimemarkan. Lengkuas Lengkuas atau laos mempunyai rimpang keras, berserat kasar dan beraroma khas. Penggunaannya dapat dimemarkan, diparut atau dihaluskan bersama bumbu-bumbu lain. Daun Singkong Umbi singkong merupakan sumber bahan pokok ketiga di Indonesia. Daunnya selain dimanfaatkan sebagai bahan sayuran, juga dapat digunakan sebagai pewarna hijau alami. Jeruk Nipis Jeruk nipis memiliki rasa asam yang kuat dan sangat khas, sehingga sering dimanfaatkan sebagai perisa minuman dan makanan. Aroma asam yang tajam ini dapat mengurangi aroma amis pada daging ayam dan ikan. Kemiri Termasuk tanaman keras, pohon kemiri dapat tumbuh hingga setinggi 15-25 meter. Kemiri muda berwarna hijau, saat sudah tua warnanya berubah menjadi coklat dan berkeriput. Buah kemiri saat sudah tua akan jatuh sendiri, di dalamya terdapat biji berbentuk bulat dengan alur berwarna putih kekuningan dan berkulit keras. Manfaat kemiri dalam masakan dapat memberi rasa gurih dan mengesankan kuah keruh seperti bersantan, maka bagi orang yang menghindari makanan bersantan dapat menggunakan kemiri sebagai pengganti santan. Sangrai kemiri lebih dulu sebelum dimasak agar masakan bercita rasa lebih gurih. Gula Pasir Gula pasir berasal dari tanaman tebu, mengandung 98-99% sukrosa. Memberi rasa manis pada masakan, kue, dan minuman. Pembubuhan sejumput gula pasir pada masakan akan menyeimbangkan rasa asin dari garam, sehingga menjadi gurih. Garam Garam sebagai pemberi rasa asin digunakan dalam semua masakan, beberapa jenis minuman dan kue. Diperoleh dari hasil penguapan air laut. Selain pemberi rasa asin, garam bermanfaat mendorong kerja ragi dalam adonan roti menjadi mengembang dengan maksimal, menjaga kandungan mineral sayuran agar tidak larut dalam air, dan berfungsi sebagai pengawet makanan, seperti acar. Peralatan yang Digunakan dalam Pembuatan Terites C Baskom Digunakan sebagai wadah bahan-bahan. Baskom dalam beberapa ukuran untuk semua bahan-bahan berupa bumbu, tulang, daging giling, dan sayur daun singkong. Saringan Untuk menyaring dan meniriskan terites yang sudah dicuci. Pisau Untuk mengupas dan memotong bumbu. Hadiati dan Surbakti (Terites. Kuliner Ekstrim Khas Karo Sebagai Daya Tarik Wisata Kuline. E-ISSN 2686-2042 Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol 3. No. September 2021, pp. Ulekan/Blender Untuk menghaluskan bumbu-bumbu. Periuk tanah Wadah untuk memasak di atas kompor. Periuk dapat digantikan oleh panci. Kompor Api yang terdapat dalam kompor berfungsi untuk mematangkan makanan. Centong Sayur Untuk mengaduk masakan berkuah dan mengambil kuah sayuran. Mangkuk Saji Sebagai wadah penyajian Pagit-pagit yang siap disantap. Cara Pembuatan Terites A Bumbu-bumbu, yaitu bawang merah, bawang putih, cabai rawit hijau, kunyit, jahe, dan kemiri dihaluskan dengan menggunakan ulekan atau blender. A Terites diletakkan dalam baskom, ditambahkan 0,5 liter air, lalu diperas hingga airnya keluar. Sisihkan ampas terites. A Air perasan terites disaring dengan saringan santan. Dituangkan ke dalam panci, lalu dimasak dengan api yang tidak terlalu besar. A Daging giling dan tulang sapi dimasukkan ke dalam panci berisi sari terites, kemudian diaduk dan dimasak sampai daging lunak. A Ditambahkan bumbu yang sudah dihaluskan beserta daun jeruk, serai yang sudah dimemarkan, kulit batang sikam, lengkuas yang sudah dimemarkan dan asam patikala yang sudah dimemarkan. Bubuhi garam dan gula, lalu diaduk hingga merata. A Setelah bumbu matang dan tidak berbau langu, daun singkong dimasukkan bersama santan. A Aduk terus sambil dengan gerakan menimba-nimba, agar santan tidak pecah. A Masak hingga daun singkong empuk. Diangkat. Siap disajikan. Kuliner Ekstrim Definisi kata kuliner menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berhubungan dengan masak memasak. Sedangkan dalam Virna. N, 2007:2 disebutkan kata kuliner berasal dari bahasa Latin culinarius yang berarti sesuatu yang berhubungan dengan masak memasak atau dapur. Istilah kuliner bersumber dari produk yang berhubungan dengan masak memasak atau gastronomi sehingga kuliner dapat diserap sebagai a given practice of consumption, atau praktek konsumsi yang berbasis pada makanan/hidangan. Dikatakan oleh Simanjuntak . dalam Widiastuti 2013 kuliner ekstrim memang tidak lazim dikonsumsi, namun bukan berarti tidak layak dikonsumsi. Hal tersebut disebabkan sebagian besar masyarakat di daerah tertentu tidak terbiasa mengonsumsi makanan tersebut. Sebagai contoh, di Jawa daging tikus, daging monyet, dan daging anjing tidak lazim dikonsumsi, maka makanan-makanan tersebut dikategorikan sebagai makanan ekstrim bagi masyarakat Jawa. Sedangkan di Manado, makanan tersebut tidak dikatakan ekstrim, karena terbiasa dikonsumsi oleh masyarakat Manado. Hadiati dan Surbakti (Terites. Kuliner Ekstrim Khas Karo Sebagai Daya Tarik Wisata Kuline. Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol 3. No. September 2021, pp. E-ISSN 2686-2042 Daya Tarik Wisata Cooper dkk . mengemukan, salah satu komponen yang harus dimiliki oleh sebuah objek wisata, yaitu Atraksi (Attractio. , seperti alam yang menarik, kebudayaan daerah yang menawan, dan seni pertunjukan. Undang-undang No. 10 Tahun 2009 menguraikan objek dan daya tarik wisata sebagai segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata. Objek dan daya tarik wisata yang dimaksud adalah: Segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut destinasi pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, asesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Wisata Kuliner Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Sehingga pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung dengan berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, dan Pemerintah Daerah (UU RI No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataa. Kata wisata kuliner berasal dari bahasa Prancis, yaitu voyages culinaires atau dalam bahasa Inggris yaitu culinary travel yang artinya perjalanan wisata yang berkaitan dengan masak-memasak. Menurut Asosiasi Pariwisata Kuliner Internasional (International Culinary Tourism Association/ICTA), wisata kuliner merupakan kegiatan makan dan minum yang unik dilakukan oleh setiap pelancong yang Wisata kuliner menjadi bagian penting industri pariwisata, bermunculan terminologi selain wisata kuliner, seperti wisata gastronomi, wisata mencicipi, dan wisata makanan. Method 1 Ulasan Jurnal Metode penelitian ini dilakukan dengan mengulas jurnal-jurnal dan skripsi terdahulu yang memiliki kesamaan permasalahan, pembahasan atau teori. Tabel 3. 1 Penelitian Terdahulu Nama Peneliti Judul Rumusan Masalah Yachinta Azhari . Terites: Makanan Apakah terites? Tradisional Unik Masyarakat Batak Karo Di Provinsi Sumatera Utara. Rini Widiastuti . Motivasi Penikmat Kuliner Apa motivasi konsumen Ekstrim di Kabupaten menikmati kuliner ekstrim Bantul yang dapat dijadikan sebagai informasi untuk mengembangkan potensi pariwisata alternatif. isata kuline. yang ada di Kabupaten Bantul Rio Petra . Makanan Khas Batak Karo 1. Bagaimana cara membuat dalam Food Photography karya foto makanan khas Batak Karo yang keberadaannya sudah mulai Hadiati dan Surbakti (Terites. Kuliner Ekstrim Khas Karo Sebagai Daya Tarik Wisata Kuline. E-ISSN 2686-2042 Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol 3. No. September 2021, pp. Muhamad Mirum Sapat Surbakti . Analisis Penerapan Pembuatan Makanan Khas Karo Bagaimana mewujudkan makanan khas Batak Karo dalam bentuk karya food Bagaimana cara membuat foto makanan khas Batak Karo dengan penataan yang menggugah selera? Bagaimana cara pembuatan dan komposisi dari makanan terites (Sup Hija. tradisional khas Karo ? 2 Uji Hedonik Makanan terites yang unik dan tidak lazim ini perlu diuji rasa untuk mengetahui apakah dapat diterima oleh wisatawan, atau masyarakat di luar suku Karo. Maka diterapkan uji hedonik. Uji hedonik atau disebut juga uji kesukaan merupakan suatu kegiatan pengujian yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang panelis dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan atau ketidaksukaan konsumen terhadap suatu produk tertentu. Panelis diminta tanggapan pribadinya tentang kesukaan atau ketidaksukaan. Tingkat kesukaan ini disebut skala hedonik. Skala penilaian hedonik meliputi kurang, cukup, baik, dan sangat baik. Uji hedonik terhadap terites meliputi warna, aroma, dan tekstur. Adapun syarat dalam uji hedonik adalah sampel, panelis, dan pernyataan respon melalui kuesioner. Panelis adalah satu atau sekelompok orang yang bertugas untuk menilai sifat atau mutu benda berdasarkan kesan subjektif maupun objektif. Peneliti menggunakan tiga orang panelis terlatih, yaitu terdiri dari chef dan dosen ahli. Para panelis diminta untuk mencicip dan memberi penilaian mengenai rasa, penampilan/warna/tekstur dan aroma terites. Hasil penilaian para panelis ditulis dalam sebuah kuesioner yang dibuat oleh Tabel 3. 1 Penilaian Makanan Trites (Sop Hija. Penilaian Rasa Penampilan/Warna Tekstur Aroma Keterangan Keterangan: 1 : Kurang 2 : Cukup 3 : Baik 4 : Sangat Baik Metode Analisis Data Analisis data menggunakan deskriptif kualitatif yaitu analisis tidak dilakukan dengan perhitungan statistika. Metode kualitatif lebih menekankan pada pengamatan fenomena dan lebih meneliti ke substansi makna dari fenomena tersebut. Analisis dan ketajaman penelitian kualitatif sangat terpengaruh pada kekuatan kata dan kalimat yang digunakan. Oleh karena itu. Basri . Hadiati dan Surbakti (Terites. Kuliner Ekstrim Khas Karo Sebagai Daya Tarik Wisata Kuline. Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol 3. No. September 2021, pp. E-ISSN 2686-2042 menyimpulkan bahwa fokus dari penelitian kualitatif adalah pada prosesnya dan pemaknaan Perhatian penelitian kualitatif lebih tertuju pada elemen manusia, objek, dan institusi, serta hubungan atau interaksi di antara elemen-elemen tersebut, dalam upaya memahami suatu peristiwa, perilaku, atau fenomena (Mohamed. Abdul Majid & Ahmad, 2010 dalam Surbakti, 2. Analisis deskriptif meliputi preferensi chef dan dosen terhadap terites. Pembahasan Mengolah Terites Pengolahan terites diperlukan berbagai macam bumbu, bertujuan untuk mengurangi rasa pahit. Ada perbedaan penggunaan bahan dalam setiap resep, namun ada bahan yang pasti digunakan, yaitu santan dan daun singkong. Tabel 4. 1 Resep Sup Hijau Nama Bahan Jumlah (Ukura. Terites 2 kg Tulang sapi 1 kg Daging cincang A kg Kelapa 2 butir Daun jeruk purut 5 lembar Serai 5 batang Cabe rawit hijau 2 gram Bawang putih 8 siung Bawang merah 8 siung Kulit kayu sikam (Bischofia javanika Blum. 5 ruas Jari Asam patikala 15 buah Kunyit 1 ruas Jari Jahe 1 ruas Jari Lengkuas 1 ruas Jari Daun singkong 2 ikat Gambar Hadiati dan Surbakti (Terites. Kuliner Ekstrim Khas Karo Sebagai Daya Tarik Wisata Kuline. E-ISSN 2686-2042 Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol 3. No. September 2021, pp. Jeruk nipis 1 buah Kemiri 15 butir Gula Secukupnya Garam Secukupnya Sumber Resep: Surbakti, 2020 Terites atau Sup Hijau Sumber: Surbakti, 2020 Hasil Uji Hedonik Untuk mengetahui tingkat kesukaan orang bukan suku Karo terhadap olahan terites, peneliti menunjuk empat panelis terlatih yang berdomisili di Jakarta. Peneliti membuat Sup Hijau dari terites, kemudian diujicobakan kepada para panelis. BIODATA RESPONDEN Tabel 4. 2 Penguji Makanan Tradisional Khas Karo Trites Nama Responden Deskripsi Michael Khrisna Aditya. Koordinator Kelompok Berpengalaman dengan SST. Par. Par sejarah yang ditunjukkan bekerja di industri Terampil dalam Katering. Makanan & Minuman. Pelatihan,Manajemen Hotel, dan Kuliah. Profesional pengembangan bisnis yang kuat dengan gelar Master of Tourism (M. Pa. yang fokus pada Perhotelan dan Pariwisata dari Institut Pariwisata Trisakti. Syaltut. Par Coordinator Groups Subjects F&B Service and Lecturer at Trisakti Institute of Tourism Chef Alifatqul Maulana. Asisten Ahli (Instructo. di Sekolah Tinggi SST. Par Pariwisata Trisakti Chairul Salim. SST. Par. Asisten Ahli (Instructo. di Sekolah Tinggi Par Pariwisata Trisakti Angket Penilaian Makanan Tabel 4. 3 Penilaian Makanan Trites (Sop Hija. Penilaian Rasa Penilaian Oo Keterangan Keterangan Rasa bumbunya sangat Hadiati dan Surbakti (Terites. Kuliner Ekstrim Khas Karo Sebagai Daya Tarik Wisata Kuline. Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol 3. No. September 2021, pp. Oo Rasa Penampilan/Warna E-ISSN 2686-2042 Rasa bumbunya sangat Oo Penampilannya seperti sayur pada umumnya Tekstur Aroma Oo Oo Aromanya kuat Panelis I : Michael Khrisna Aditya SST. Par Keterangan: : Kurang : Cukup : Baik : Sangat Baik Dari tabel 4. 3 penilaian Panelis I terhadap terites, bumbu terasa sangat tajam, maka panelis menyarankan untuk mengurangi bumbu agar tidak terlalu tajam. Meski memang alasan penggunaan bumbu yang banyak ditujukan agar cita rasa pahit dari terites dapat disamarkan. Penampilan masakan terlihat sangat baik, karena sama dengan sayuran pada umumnya. Tekstur sayuran baik, dan aromanya sangat tajam. Tabel 4. Penilaian Rasa Keterangan Oo Sudah sangat baik karena rasanya unik Perlu dipertimbangkan lagi penampilan dan warna agar lebih menarik lagi Penampilan/Warna Oo Tekstur Oo Oo Aroma Sudah cukup baik Aroma terlalu kuat karena tidak semua orang suka Panelis II : Syaltut. Par Keterangan: : Kurang : Cukup : Baik : Sangat Baik Hadiati dan Surbakti (Terites. Kuliner Ekstrim Khas Karo Sebagai Daya Tarik Wisata Kuline. E-ISSN 2686-2042 Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol 3. No. September 2021, pp. Dari tabel 4. 3 panelis pencicip terites adalah Syaltut. Par dari STP Trisakti, komentar yang diberikan sangat baik karena rasanya unik. Saran yang diberikan adalah agar penampilan dan warna perlu dipertimbangkan agar lebih menarik sehingga banyak orang yang tertarik untuk mencoba makanan khas Karo ini. Aromanya terlalu kuat karena tidak semua orang suka dengan aroma dari bumbu dan bahan utama makanan tradisional khas Karo. Tabel 4. 4 Penilaian Trites Penilaian Rasa Penampilan/Warna Tekstur Oo Keterangan Oo Terlalu berminyak Oo Kualitas daun singkong dan daging sapi baik Oo Aroma Aroma daging sapi terlalu Panelis i : Chef Alifatqul Maulana. SST. Par Keterangan: : Kurang : Cukup : Baik : Sangat Baik Dari tabel 4. 4 di atas respon Panelis i mengenai makanan tadisional khas Karo terites memiliki rasa sudah baik, penampilan terlalu berminyak yang dihasilkan dari lemak daging sapi, tekstur sudah baik karena kualitas daun singkong dan daging sudah baik dan aroma yang dihasilkan terlalu bau daging sapi. Tebel 4. 5 Penilaian Terites No Penilaian Oo Rasa Keterangan Rasanya unik, cocok di lidah Penampilan/Warna Tekstur Aroma Oo Oo Oo Penampilan sudah baik Dagingnya cukup lembut Bau terlalu kuat Panelis IV : Chairul Salim. SST. Par. Par Keterangan: : Kurang : Cukup : Baik : Sangat Baik Hadiati dan Surbakti (Terites. Kuliner Ekstrim Khas Karo Sebagai Daya Tarik Wisata Kuline. Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol 3. No. September 2021, pp. E-ISSN 2686-2042 Dari tabel 4. 5 menjelaskan Panelis IV menyatakan rasanya unik dan cocok di lidah, penampilan warna sudah baik, tekstur cukup, namun aromanya kurang karena bau terlalu kuat. 3 Analisis Data Analisis dari hasil uji hedonik atau uji kesukaan yang dilakukan oleh empat panelis ahli terhadap terites dirangkum sebagai berikut: Rasa: Tiga panelis menilai baik, dan satu penilaian dari satu panelis sangat baik. Dapat dikatakan, rasa terites dapat diterima, karena penilaian yang diberikan adalah baik dan sangat Penampilan: Satu panelis mengatakan penampilan terites sangat baik, dua panelis mengatakan baik, dan hanya satu panelis menilai cukup. Dapat dikatakan bahwa penampilan terites dapat diterima karena tidak ada yang memberikan penilaian kurang. Tekstur: Tiga panelis memberikan penilaian baik untuk tekstur terites, dan satu panelis mengatakan cukup. Dapat dikatakan, tekstur terites dapat diterima, karena tidak ada yang memberikan penilaian kurang. Aroma: Dua panelis menilai aroma kurang, satu panelis menilai baik, dan satu panelis mengatakan aromanya sangat baik. Dapat dikatakan aroma terites kurang dapat diterima, karena dua panelis mengatakan aromanya kurang. Penutup Kesimpulan Berdasarkan hasil uji hedonik pada terites yang dilakukan oleh empat panelis terlatih, terites atau Sup Hijau kuliner khas suku Karo dapat diterima. Saran-Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, maka saran yang dapat diberikan yaitu sebagai berikut: Untuk mengurangi aroma terites yang sangat tajam dan kurang dapat diterima, disarankan untuk diberi tambahan bumbu atau bahan. Terites masih sangat tidak dikenal masyarakat di luar Karo, maka perlu dilakukan upaya untuk memperkenalkan terites. Hal ini dapat dijadikan sebagai bahan penelitian lebih lanjut. Referensi