Analysis Phytochemicals and Antioxidant (IC. of Dried and Fresh Mangrove (Rhizopora racemos. Leaves Ectracted Through Infusing Technique as Herbal Drink Base Prayitno. Utami, and Putri Phytochemicals Analysis and Antioxidant (IC. Value of Dried and Fresh Mangrove (Rhizopora racemos. Leaves Extract for Herbal Drink Base Analisis Fitokimia dan Antioksidan (IC. Ekstrak Daun Kering dan Basah Mangrove (Rhizopora racemos. Sebagai Bahan Dasar Minuman Herbal Sutrisno Adi Prayitno1*. Dwi Retnaningtyas Utami1. Silvy Novita Antrisna Putri2 1Program Studi Teknologi Pangan. Universitas Muhammadiyah Gresik. Jl. Sumatera No. Gresik. Jawa Timur, 61121. Indonesia 2Program Studi Hasil Pertanian. Universitas Widyagama Malang. Jl. Borobudur No. Malang. Jawa Timur, 65142. Indonesia OPEN ACCESS ISSN 2541-5816 *Correspondence: Sutrisno Adi Prayitno sutrisnoadi2007@umg. Received: 20-12-2024 Accepted: 11-01-2025 Abstract. The use of mangrove leaves as a functional ingredient is associated with secondary metabolites such as steroids, saponins, tannins, phenols, flavonoids, antioxidants, magnesium, sodium, potassium and calcium. This research determined the total phenol content (TPC), total flavonoid content (TFC) and antioxidants (IC. in dry and fresh mangrove leaf infusion extracts. The method used was infusion extraction. The materials used are fresh mangrove leaves and dried leaves . ried in the ove. The data obtained then discussed descriptively based on the average obtained in the calculations. The research results showed that the type or condition of leaves used has an influence on TPC. TFC and Antioxidants (IC. Oven drying can produce higher levels of secondary metabolites compared to fresh leaf infusion (TPC, 36 mg GAE/g. TFC 4. 12 mg QE/g. IC50 225,706 pp. Dried leaf extraction has better potential in producing secondary metabolic compounds and antioxidants. The choice of extraction method and type of solvent is highly recommended for further research objectives, because it suits research interests. It is recommended that when making functional drinks . from mangrove leaves, to add other sources of ingredients such as dried lemon or mint leaves so that the resulting flavor is fresher and provides a better linking assessment of preferences. Keywords: mangrove, bioactive, phenol, flavonoid, antioxidant, infusa Published: 13-01-2025 Citation: Prayitno SA,Utami DR, and Putri SNA. Analysis Phytochemicals and Antioxidant (IC. of Dried and Fresh Mangrove (Rhizopora racemos. Leaves Ectracted Through Infusing Technique as Herbal Drink Base. Journal of Tropical Food and Agroindustrial Technology 06:01 doi: 10. 21070/jtfat. Abstrak. Penggunaan daun mangrove sebagai bahan fungsional dikaitkan dengan senyawa metabolit sekunder seperti steroid, saponin, tanin, fenol, flavonoid, antioksidan, magnesium, natrium, kalium, serta kalsium. Penelitian ini difokuskan pada penentuan kadar total Fenol (TPC), kadar total Flavonoid (TFC) dan Antioksidan (IC. pada ekstrak infusa daun mangrove kering dan segar. Metode yang digunakan adalah ekstraksi infusa. Bahan yang digunakan adalah daun mangrove segar dan daun kering . ikeringkan dengan Data yang diperoleh kemudian dibahas dengan cara deskripstif berdasarkan ratarata yang diperoleh dalam perhitungan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi daun yang digunakan memberikan pengaruh terhadap TPC. TFC dan Antioksidan (IC. Pengeringan menggunakan oven menghasilkan kadar metabolit sekunder yang lebih tinggi dibandingkan dengan infusa daun segar (TPC, 36 mg GAE/g. TFC 4. 12 mg QE/g. IC50 706 pp. Ekstraksi daun kering memiliki potensi yang lebih baik dalam menghasilkan senyawa metabolit sekunder dan antioksidan. Pemilihan metode ekstraksi dan jenis pelarut sangat disarankan dari tujuan penelitian selanjutnya, karena menyesuaikan dengan kepentingan penelitian. Disarankan dalam pembuatan minuman fungsional . dari daun mangrove untuk ditambahkan sumber bahan lain seperti lemon kering atau daun mint agar flavor yang dihasilkan lebih segar dan memberikan penilaian kesukaan yang lebih baik. Kata kunci: mangrove, bioaktif, fenol, flavonoid, antioksidan, infusa Journal of Tropical Food and Agroindustrial Technolog. https://jtfat. id/index. php/jtfat Month. 20xx/Volume January 2025/Volume xx/Issue 06/Issuex Analysis Phytochemicals and Antioxidant (IC. of Dried and Fresh Mangrove (Rhizopora racemos. Leaves Ectracted Through Infusing Technique as Herbal Drink Base Prayitno. Utami, and Putri PENDAHULUAN Tanaman mangrove (Rhizopora racemos. seringkali ditemukan di negara Indonesia, khususnya di daerah pesisir pantai (Azian et al. , 2. Habitat tanaman ini juga bergantung pada iklim, substrat pada tanah, kondisi salinitas, perubahan iklim yang drastis . enaikan curah hujan, badai, dan peningkatan suhu permukaan lau. juga mempengaruhi kehidupan pada mangrove (Hamdan, 2. Tumbuhan ini banyak memiliki nilai ekonomis yang sangat berguna bag kehidupan manusia (Hamzah et al. , 2. Tanaman mangrove berperan dalam pelindung terhadap gelombang, menyediakan habitat bagi reptil, burung, ikan dan sebagainy (Chiavaroli et al. , 2. Tanaman mangrove memiliki nilai penting dalam habitatnya (Tshiaba et al. , 2. dan dapat digunakan sebagai tanaman yang dapat menjaga keseimbangan lingkungan (Cherigo et al. , 2. Bagian akar pada tanaman mangrove memiliki peran dalam perlindungan wilayah pesisir, peningkatan rantai makanan laut, penginkatan kualitas air (Othman et al. , 2. serta dapat berfungsi dalam menjaga keseimbangan ekosistem (Bandaranayake, 2. Kayu tanaman mangrove dapat digunakan sebagai arang, kayu bakar ataupun tiang atau atap dalam pembuatan rumah, peralatan dapur, furniture dan sebagainya (Ramya et al. , 2. Tumbuhan umumnya memiliki berbagai sumber senyawa aktif yang berpotensi baik untuk manusia . iu et al. Biokatif tidak hanya terdapat pada tanaman, akan tetapi juga terdapat pada hewan termasuk di dalamnya adalah hasil laut (Izougu et al. , 2. Metabolit sekunder memiliki aktivitas biologis yang beragam dengan struktur molekul yang unik (Sopalun et al. , 2. Tumbuhan Rhizopora racemosa juga memiliki potensi dalam senyawa metabolit sekunder diantaranya adalah alkoloid, flavonoid, steroid, terpenoid (Mitra et al. , 2. , tanin (Egwunatum et , 2. , asam fenolat, kuinon, tetralon, xanton benzopiranon (Sopalun et al. , 2. Tanaman ini juga berperan dalam bidang obat Aeobatan dan bidang toksikologi serta bidang ekologi yang sangat penting (Sader et al, 2. Tanaman mangrove diyakini memiliki sifat untuk kesehatan yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit (Angalabiri and Isrima, 2. , diantaranya dapat menyembuhkan rematik, kencing manis, gigitan ular, (Musara et al. , 2. asma, penyakit kulit, sakit tenggorokan, diare, demam, cacingan, dan lain-lain (Sur et al. Senyawa aktif pada tanaman mangrove juga memiliki peran dalam bidang kesehatan lainnya seperti sebagai agen anti bakteri, antiprotozoa, antivirus (Cadamuro et al. , 2. dan anti fungsi (Lagunes et al. , 2. , antibiotik (Jia et al. , 2. Dalam penelitian lain juga disebutkan bahwa tanaman mangrove ini juga terkandung beberapa senayawa aktif lainnya, seperti imonosupresan kuat, antiparasit, antisitotoksik dan antioksidan (Chatterjee & Abraham, 2. METODE BAHAN Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun mangrove basah dan kering, akuades, asam galat. Etanol P. Na2CO3, reagen Folin-Ciocalteau. NaNO2. AlCl3. NaOH. DPPH . ,2-difenil-1-pikrilhidrazi. ALAT Alat yang digunakan adalah tabung reaksi, erlenmeyer, gelas ukur, pipet volume, mikro pipet, kertas saring, spektrofotometer, vortex, inkubator. DESAIN PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang diulang sebanyak 2 kali. TAHAPAN PENELITIAN Tahapan Pelaksanaan Penelitian Pengeringan Daun Mangrove Daun segar mangrove sebanyak 1 kg dicuci bersih dengan air mengalir, kemudian ditiriskan untuk 20 menit. Kemudian dikeringkan dengan angin angin selama 2 jam dan dilanjutkan dengan pengeringan menggunakan oven selama 12 jam dengan suhu 70 AC. setelah kering, simplisia di hancurkan kasar . ukan dalam bentuk serbu. dan hasilnya disimpan dalam wadah kedap udara. Ekstraksi Influsa Dalam penelitian ini menggunakan dua jenis kondisi daun mangrove yang berbeda yaitu daun kering dan daun Sebanyak masing Ae masing 100 gram daun kering yang sudah disiapkan sebelumnya dan daun segar . ang sudah dicaca. dimasukkan ke dalam bejana infusa . anci bersusu. dan diisi air sebanyak 1000 mL sebagai media Panaskan hingga mencapai suhu 90 AC selama 15 menit, jika suhu dan waktu sudah tercapai matikan alat perapian dan saring untuk mendapatkan ekstrak . infusa dan kemas dalam wadah tertutup dan simpan beberapa saat agar dingin dan lakukan pengujian air ekstrak infusa tersebut. Metode Analisis Investigasi Kadar Total Fenol (Prayitno et al. , 2. Sebanyak 0,025 g asam galat ditimbang secara analitis dalam kertas timbang lalu dimasukkan dalam beaker glass 100 ml. Ditambahkan 0,2 ml etanol p. a kemudian ditambahkan akuades hingga mencapai volume 100 ml Journal of Tropical Food and Agroindustrial Technolog. https://jtfat. id/index. php/jtfat Month. 20xx/Volume January 2025/Volume xx/Issue 06/Issuex Analysis Phytochemicals and Antioxidant (IC. of Dried and Fresh Mangrove (Rhizopora racemos. Leaves Ectracted Through Infusing Technique as Herbal Drink Base Prayitno. Utami, and Putri . idapatkan larutan asam galat 250 pp. Kemudian dilakukan homogenisasi dengan pengocokan. Larutan ini selanjutnya sebagai larutan induk asam galat. Dibuat larutan standar asam galat dengan berbagai konsentrasi 50. 200, 250 ppm dengan mengambil masing-masing larutan induk asam galat sebanyak 0. 8 ml dan dimasukkan ke dalam labu takar ukuran 10 ml kemudian ditambahkan akuades hingga mencapai volume 10 ml. Sebanyak 0,4 mL larutan asam galat standar dipipet secara analitis, kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 10 mL lalu ditambahkan 0,4 ml reagen Folin-Ciocalteu dan kemudian dikocok. Setelah lima menit, ditambahkan 4 ml 7% Na2CO3 . dan ditambahkan akuabides hingga mencapai mencapai volume 10 ml lalu dikocok dan diinkubasi selama 90 menit pada suhu 23 AC. Pengukuran absorbansi larutan standar asam galat pada -max dengan spektrofotometer . idapatkan absorbansi maksimum pada 760 n. Pembuatan kurva standar antara absorbansi . ebagai sumbu . dengan konsentrasi . ebagai sumbu . dengan satuan ppm. Dihitung persamaan kurva regresi linier dihasilkan persamaan : Y = ax b . Y = absorbansi sampel, x = konsentrasi sampel . Investigasi Kadar Total Flavonoid (Prayitno et al. , 2. Analisa pada ekstrak mangrove dengan menggunakan spektrofotometri. Standar yang dipakai adalah quercetin dengan konsentrasi 20, 40, 60, 80 dan 100 ppm. 1 ml sampel ekstrak infusa ditambahkan dengan akuades 4 ml dan 0,3 ml NaNO2 5% ke dalam tabung reaksi dan divortek hingga homogen, kemudian diinkubasi selama lima menit. Setelah 5 menit kemudian ditambahkan 0,3 ml AlCl 3 dan diinkubasi ulang selama 6 menit dan ditambahkan 2 ml NaOH 1 M dan akuades hingga mencapai volume 10 ml dan divortek hingga homogen. Nilai serapan sampel diukur dengan panjang gelombang 510 nm dengan menggunakan persamaan garis linear y = ax b dimana sumbu x merupakan konsentrasi dan sumbu y merupakan absorbansi. Investigasi Antioksidan (Prayitno and Rahim, 2. Analisa aktivitas antioksidan (IC. ekstrak infusa dilakukan dengan metode DPPH . ,2-difenil-1-pikrilhidrazi. dengan menggunakan spektrofotometer. Konsentrasi yang dipakai adalah 25, 50, 75, 100 dan 125 ppm. Prosedur analisanya dengan memasukkan 2 ml sampel ekstrak infusa ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan dengan 1 ml larutan DPPH 200 M, kemudian divortek hingga homogen dan diinkubasi selama 30 menit. Nilai serapan sampel diukur pada panjang gelombang 517 nm dengan persamaan garis linear y = ax b, dimana sumbu y merupakan absorbansi sampel dan sumbu x merupakan konsentrasi standar yang digunakan. HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk mendapatkan senyawa aktif sebagai metabolit sekunder pada bahan alam diperlukan teknik ekstraksi yang sesuai peruntukannya. Ekstraksi memberikan hasil yang baik dan berkorelasi terhadap senyawa yang ada pada bahan yang diekstraksi. Pemilihan metode disesuaikan dengan tujuan dan fungsi dari ekstraksi tersebut. Dari hasil penelitian dapat dilihat perbedaan antara hasil ekstraksi infusa pada daun mangrove segar dan daun mangrove yang telah mengalami pengeringan. Pada Tabel 1. disajikan hasil penelitian tersebut. Perlakuan infusa Tabel 1. Rata-rata hasil investigasi senyawa ekstrak infusa Hasil analisis rata-rata TPC . g GAE/. TFC . g QE/. IC50 . Ekstrak infusa daun segar Ekstrak infusa daun kering Keterangan: TPC (Total Phenol Conten. TFC: (Total Flavonoid Conten. IC50: (Inhibition Concentratio. Kadar Total Fenol (TPC) Fenol merupakan senyawa biokatif yang tergolong metabolit sekunder. Senyawa ini terdapt pada bahan alam baik tanaman ataupun hewan termasuk hasil kelautan. Senyawa fenolik pada bahan alam dipengaruhi oleh adanya kondisi fisik dari bahan aslinya. Daun dan daun basah akan menghasilkan kadar fenol yang berbeda. Pada penelitian mengungkapkan bahwa dalam bahan yang mengalami proses pengeringan, mempengaruhi komposisi senyawa fenolik dalam ekstrak pada daun, yang berdampak pada jumlah senyawa antioksidan (Barros et al. , 2. Berdasarkan data pada Tabel 1. terdapat perbedaan kadar infusa pada dau kering dan daun basah. Pada kenyataannya daun kering ini memiliki kadar air yang lebih rendah dibandingkan pada daun basah. Pada daun kering ini sangat menguntungkan pada proses ekstraksi senyawa fenol. Kadar air yang rendah dapat menjadi penghalang terhadap pelarut organik yang digunakan dalam proses ekstraksi. Kecenderungan ini akan menghasilkan senyawa fenol . etabolit sekunde. yang lebih tinggi dibandingkan dnegan daun mangrove yang basah. Hal tersebut didukung oleh adanya penelitian yang menyatakan bahwa pada proses ekstraksi senyawa fenol secara kasar pada daun kering memberikan proses yang lebih efektif dibandingkan dengan ekstraksi daun basah dikarenakan kondisi air yang rendah pada bahan dapat digunakan sebagai media untuk memfasilitasi ekstraksi senyawa fenolik yang lebih Journal of Tropical Food and Agroindustrial Technolog. https://jtfat. id/index. php/jtfat Month. 20xx/Volume January 2025/Volume xx/Issue 06/Issuex Analysis Phytochemicals and Antioxidant (IC. of Dried and Fresh Mangrove (Rhizopora racemos. Leaves Ectracted Through Infusing Technique as Herbal Drink Base Prayitno. Utami, and Putri tinggi (Wang et al. , 2. Sebaliknya pada ekstraksi infusa dengan menggunakan daun basah kan memberikan konsentrasi fenoliik yang didapatkan lebih rendah karena air yang terdapat pada daun mangrove dapat mengurangi kelarutan senyawa fenolik dalam pelarut organik, dan dapat mengurangi efisiensi dari ekstraksi infusi. Hal ini sejalan dengan penelitian Zhang et al. , . yang menyatakan bahwa ekstraksi senyawa metabolit sekunder . dari daun basah akan menghasilkan rendemen yang lebih rendah. Hal ini dipengaruhi oleh adanya pengaruh yang negatif kandungan air terhadap ekstraksi senyawa fenol tersebut. Alasan lain yang bisa menjadi penyebab perbedaan kadar fenol tersebut juga didukung oleh ulasan Barros et al. yang menyatakan bahwa kondisi fisik basah dan fisik kering pada daun dapat mempengaruhi stabilitas dan bioavailabilitas senyawa fenol yang terdapat pada ekstrak yang dihasilkan. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap potensi aktivitas biologisnya. Selain jenis bahan sebagai media yang berpengaruh dalam ekstraksi senyawa fenol metode pemilihan dalam ekstraksi akan berpengaruh juga dalam memperoleh hasil akhir, terutama senyawa fenolik. Metode maserasi, infusa atau MAE dengan pelarut tertentu akan memberikan hasil yang berbeda, tetapi juga tergantung dari konsisi fisik bahan . ering atau basa. Menurut ulasan yang ditulis oleh Fernandes et al. , . menyatakan bahwa ekstraksi yang dilakukan dengan metode atau teknik ultrasonik dapat meningkatkan kadar fenol pada daun kering dibandingkan dnegan daun basah. Kadar Total Flavonoid (TFC) Flavonoid banyak ditemukan pada bagian tanaman seperti pada buah, biji, daun, akar, batang, cabang dan sebagainya (Sahoo & Marar, 2. Perbedaan hasil ekstraksi infusa pada daun mangrove kering dan basah berpengaruh pada total flavonoid yang dihasilkan. Hal ini juga dipengaruhi adanya metode ekstraksi yang Metode ekstraksi berpengaruhi terhadap hasil ekstraksi. Kondisi bahan, baik daun mangrove basah ataupun kering tersebut juga mempengaruhi kadar flavonoid dari hasil ekstraksi infusa. Hal ini didukung oleh suatu penelitian yang menggunakan ekstraksi dengan sistem ultrasonik bahwa total flavonoid yang dihasilkan dipengaruhi oleh metode ekstraksi dan kondisi atau karakteristik bahan saat diekstraksi (Zhao et al. , 2. Ditegaskan juga dalam hasil penelitian daun kering jika diekstraksi akan menghasilkan kadar total fenol yang lebih tinggi dibandingkan dengan daun yang basah. Karena pada daun kering memungkinkan proses difusi dan osmosis terjadi dengan maksimal dalam penarikan senyawa yang diekstraksi (Saracoglu et al. , 2. Sedangkan pada daun basah jika diekstraksi akan menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang lebih rendah karena dipengaruhi oleh air pada bahan teh hijau, karena air mengganggu proses osmosis dan difusi ke dalam bahan yang diekstraksi . empengaruhi efisiensi pelarutan flavonoi. (Chu et al. , 2. Perbedaan daun mangrove dalam kondisi basah ataupun kering memiliki pengaruh pada kadar senyawa flavonoid yang dihasilkan. Senyawa flavonoid lebih stabil dalam keadaan pada daun kering dan mudah keluar dari sel sehingga memudahkan dan mempercepat proses ekstraksi. Hal ini juga didukung oleh proses pengeringan daun ginkgo bioloba yang mampu meningkat konsentrasi flavonoid yang lebih stabil (Xie et al. , 2. Sedangkan pada daun mangrove basah, kadar air tersebut mempengaruhi stabilitas senyawa flavonoid karena air pada bahan berkontribusi pada flavonoid yang memiliki sifat sensitif terhadap suhu dan kelembaban. Hal tersebut didukung oleh suatu penelitian pada tanaman herbal yang memiliki kadar flavonoid yang lebih rendah pada daun basah yang diekstrak karena sejumlah air menyebabkan terjadinya perubahan kimia yang tidak dikehendaki pada senyawa flavonoid (Pang et al. , 2. Antioksidan (IC. Dalam pemilihan jenis bahan daun mangrove kering atau daun mangrove basah dalam ekstraksi infusa harus mempertimbangkan faktor intrinsik ataupun ekstrinsik agar didapatkan hasil antioksidan (IC. yang optimal. Aktifitas antioksidan (IC. pada ektrak infusi memiliki perbedaan. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kadar air, stabilitas dari senyawa antioksidan, serta metode ekstraksi yang digunakan dan sebagainya. Kaitanya dengan kadar air merupakan sejumalah kandungan air yang terdapat dalam bahan dan berpengaruh terhadap total antioksidan pada ekstrak infusa . aun mangrove kering dan basa. Pada daun mangrove kering sudah pasti memiliki kadar air yang lebih rendah daripada daun mangrove yang basah. Ekstraksi daun kering akan memberingkan tingkat antioksidan yang tinggi karena mempengaruhi senyawa yang berperan dalam antioksidan termasuk tanin ataupun flavonoid yang terdapat pada daun mangrove. Hal ini didukung dalam penelitian spesies mangrove yang mengekstrak daun kering dan menunjukkan kadar flavonoid dan antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak spesies mangrove daun basah (Khotimchenko et al. , 2. Sedangkan pada ekstraksi daun mangrove yang basah masih memiliki kadar air yang tinggi dan mempengaruhi proses dan efisiensi dalam ekstraksi senyawa yang berpotensi pada antioksidan. Air ini berpengaruh terhadap degaradi atau kerusakan senyawa bioaktif yang ada dalam daun mangrove basah selama proses ekstraksi. Dalam suatu penelitian ekstrak mangrove basah disebutkan bahwa antioksidan memiliki stabilitas yang rendah jika dibandingkan dengan stabilitas ekstrak pada daun yang kering. Pada daun kering senyawa penunjang dari antioksidan lebih mudah untuk diekstraksi dan menghasilkan rendemen yang lebih tinggi (Wang et al, 2. Selain itu proses pengeringan memiliki pengaruh terhadap total antioksidan dan meningkatkan stabilitasnya (SimyAes et al. , 2. Hal ini berkebalikan dengan daun basah yang langsung diekstraksi, air dalam bahan . aun mangrove basa. dapat mendegradasi atau mendestruksi senyawa aktif selama penyimpanan atau pengolahan bahan (Chao et al. , 2. Metode ekstraksi juga berpengaruh terhadap kadar antioksidan yang dihasilkan. Ekstraksi Journal of Tropical Food and Agroindustrial Technolog. https://jtfat. id/index. php/jtfat Month. 20xx/Volume January 2025/Volume xx/Issue 06/Issuex Analysis Phytochemicals and Antioxidant (IC. of Dried and Fresh Mangrove (Rhizopora racemos. Leaves Ectracted Through Infusing Technique as Herbal Drink Base Prayitno. Utami, and Putri infusi berbeda dengan ekstraksi lainnya. Dalam ekstraksi infusa menggunaka pelarut berupa air, sedangkan dalam penelitian pendunkung tingginya aktivitas antioksidan dikarenakan mengesktrak bahan dengan pelarut organik . pada daun mangrove (Khan et al. , 2. Selain itu, meningkatnya kadar IC50 didukung dengan kenaikan total fenol dan flavonoid yang ada pada bahan yang diekstraksi (Widyawati et al. , 2. KESIMPULAN Ekstraksi dengan teknik infusa memberikan pengaruh terhadap total fenol, total flavonoid dan total antioksidan (IC. pada daun mangrove. Daun mangrove yang mengalami pengeringan menggunakan oven memiliki senyawa metabolik sekunder dan antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstraksi dengan daun basah (TPC, 36 mg GAE/g. TFC 4. 12 mg QE/g. IC50 225. 706 pp. Ekstraksi daun kering memiliki potensi yang lebih baik dalam menghasilkan senyawa metabolik sekunder dan antioksidan. Senyawa metabolit sekunder berperan untuk kesehatan manusia, seperti digunakan dalam pengembangan produk minuman simplisia . dengan berbagai formulasi. Pemilihan metode ekstraksi dan jenis pelarut sangat disarankan dari tujuan penelitian selanjutnya, karena menyesuaikan dengan kepentingan penelitian. Disarankan dalam pembuatan minuman fungsional . dari daun mangrove untuk ditambahkan sumber bahan lain seperti lemon kering atau daun mint agar flavor yang dihasilkan lebih segar dan memberikan penilaian kesukaan yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA