Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . http://journal. id/index. php/keraton Studi Analisis Pemikiran Muhammad Abduh tentang Modernitas Beragama dan Pembaharuan Pendidikan Islam Zahra Mevia Aimerly a,1. Asri b,2. Marwah Novi Dwiyanti c,3. Mayrani Putri Altaf d,4. Suci Nur Awalin e,5. Fahri Hidayat f,6 UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto. Purwokerto. Indonesia UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto. Purwokerto. Indonesia UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto. Purwokerto. Indonesia UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto. Purwokerto. Indonesia UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto. Purwokerto. Indonesia UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto. Purwokerto. Indonesia zahraaimerly129@gmail. 2 asriasri101@gmail. 3 marwahnovi9@gmail. 4 mayranialtaf@gmail. suciawalin55@gmail. 6 fahrihidayat@uinsaizu. * Corresponding Author. Zahra Mevia Aimerly Received 10 November 2025. accepted 30 November. published 12 Desember 2025 KEYWORDS ABSTRACT This research seeks to examine Muhammad AbduhAos perspectives on religious modernity and the renewal of Islamic education as an effort to overcome the intellectual and social stagnation faced by Muslims from the 19th century up to the present time. The study adopts a qualitative descriptive method using a library research approach, drawing on primary references from AbduhAos own writings such as Risalah al-Tauhid and Tafsir al-Manar, alongside secondary sources from scholarly books and academic journals. The results indicate that Abduh prioritized the role of rational thinking, the revitalization of ijtihad, the harmonization of religious sciences with modern knowledge, and the structural reform of educational institutions. For Abduh, modernity does not involve copying Western civilization blindly, but rather harmonizing Islamic teachings with contemporary realities through reasoned and contextual interpretation. His reformist ideas continue to hold strong relevance today, especially in curriculum development, pedagogical innovation, educational governance, and the cultivation of learnersAo moral character in the era of globalization. Consequently. AbduhAos intellectual legacy serves as a pivotal framework for shaping an Islamic education model that is dynamic, balanced, and forward-looking. Islamic Education. Muhammad Abduh. Religious Modernity. This is an openaccess article under the CCAeBY-SA Pendahuluan Pendidikan merupakan upaya yang disengaja dan sistematis untuk menciptakan lingkungan pembelajaran serta proses belajar-mengajar sehingga siswa dapat aktif mengembangkan potensinya guna memperoleh kekuatan spiritual religius, kontrol diri, karakter, kecerdasan moral yang tinggi, serta keterampilan yang dibutuhkan oleh individu dan masyarakat(Rahman et al. , 2. Akan tetapi, pendidikan masa kini telah mengalami pembaruan yang dicirikan oleh kemajuan digitalisasi, yang menyediakan berbagai kemudahan dalam menjalankan kegiatan pendidikan(Indra & Hasan, 2. Pendidikan Islam merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter dan akhlak mulia umat Muslim, yang secara substantif dimulai sejak turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, dalam konteks modernitas yang ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi, pendidikan Islam sering kali dihadapkan pada tantangan untuk menyelaraskan nilai-nilai religius dengan tuntutan zaman. Modernitas beragama, sebagai respons terhadap kemunduran umat Islam pada abad 32585/keraton. pendidikansejarahunivet@gmail. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . ke-19, menjadi isu krusial yang memerlukan pembaharuan agar Islam tetap relevan dan mampu mengatasi problem sosial serta personal yang muncul akibat arus modernisasi. Pada satu sisi, terlihat bahwa arus modernisasi yang terjadi berdampak positif bagi kehidupan umat manusia, namun di sisi lain ternyata telah melahirkan dampak yang kurang menguntungkan bagi kehidupan umat manusia, yaitu dengan menggejalanya berbagai problem yang semakin kompleks, baik yang bersifat personal atau sosial, sehingga terkadang modernisasi telah memperdaya manusia modern dengan produk pemikirannya sendiri, karena kurang mampu mengontrol efek sampingnya, yaitu rusaknya lingkungan yang disadari atau pun tidak telah memporakporandakan kenyamanan hidupnya Modernitas pertama kali memasuki dunia Islam melalui Mesir, dibawa oleh Napoleon saat ekspedisi militernya dari tanggal 2 Juli 1798 hingga 31 Agustus 1801 M. Dalam ekspedisi itu. Napoleon tidak hanya membawa pasukan, tetapi juga 500 orang sipil dan 500 wanita. Dari 500 orang sipil tersebut, terdapat 167 pakar dari berbagai disiplin ilmu, yang dilengkapi dengan peralatan observasi dan 2 set mesin cetak dengan huruf Latin. Arab, dan Yunani. Muhammad Abduh berhasil membuka pintu ijtihad untuk menyelaraskan Islam dengan tuntutan era modern (Jaelani, 2. Muhammad Abduh berhasil membuka pintu ijtihad untuk menyelaraskan Islam dengan tuntutan era modern (F. Hidayat. Muhammad Abduh merupakan figur pemikir Muslim asal Mesir yang muncul pada abad ke-19 Masehi. Pada abad itu, umat Islam mengalami kemerosotan yang nyata, yang bertolak belakang dengan kemajuan dunia Barat. Pada tahun 1798 M. Napoleon berhasil menguasai Mesir setelah mengalahkan pasukan Mamluk dalam pertempuran. Muhammad Abduh, sebagai tokoh pemikir Muslim Mesir abad ke-19, muncul di tengah kemunduran peradaban Islam yang kontras dengan kemajuan Barat. Pengaruh modernitas pertama kali masuk ke dunia Islam melalui ekspedisi Napoleon ke Mesir pada 1798-1801 M, yang membawa ilmu pengetahuan dan teknologi Barat. Abduh merespons tantangan ini dengan membuka pintu ijtihad, menyesuaikan ajaran Islam dengan kebutuhan modern tanpa meninggalkan esensi keagamaan. Pemikirannya tentang modernitas beragama menekankan harmonisasi antara tradisi Islam dan kemajuan zaman, sementara pembaharuan pendidikan Islam ia wujudkan melalui reformasi di Universitas Al-Azhar, seperti perubahan kurikulum dan metode pengajaran yang lebih progresif. Pembaharuan Abduh ini, yang disebarkan melalui majalah Al-ManAr dan Al-AoUrwah al-WutsqA, tidak hanya berdampak di Mesir tetapi juga menginspirasi dunia Islam, termasuk Indonesia. Namun, realitas pendidikan Islam saat ini sering kali menunjukkan kemunduran, seperti kekerasan pada peserta didik dan hilangnya jati diri dalam membentuk akhlak mulia di tengah digitalisasi. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan menganalisis pemikiran Muhammad Abduh tentang modernitas beragama dan pembaharuan pendidikan Islam, guna memberikan wawasan bagi pengembangan pendidikan Islam yang lebih adaptif dan bermakna di era kontemporer. Analisis ini diharapkan dapat menjawab tantangan pendidikan Islam agar tetap mampu membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia Metode Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kajian pustaka . ibrary researc. sebagai pendekatan yang tepat. Metode kajian pustaka dilakukan dengan menelusuri, memilih, dan menganalisis berbagai sumber literatur yang relevan seperti buku, jurnal ilmiah, dan artikel yang membahas pemikiran Muhammad Abduh tentang modernitas beragama dan pembaharuan pendidikan Islam. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk memahami secara komprehensif gagasan Abduh mengenai rasionalitas, pembaruan pendidikan, serta relevansinya terhadap perkembangan pendidikan Islam di era modern. Dengan memanfaatkan sumber-sumber literatur yang kredibel dan mutakhir, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah dalam memperkaya kajian keislaman dan pendidikan Islam kontemporer. Sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari karya-karya autentik Muhammad Abduh. Adapun data sekunder diperoleh dari berbagai Zahra Mevia Aimerly. Asri. Marwah Novi Dwiyanti. Mayrani Putri Altaf. Suci Nur Awalin. Fahri Hidayat (Studi Analisis Pemikiran Muhammad Abduh tentang Modernitas Beragama dan Pembaharuan Pendidikan Isla. Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. December 2025, pp. literatur pendukung seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, dan hasil penelitian yang membahas pemikiran Abduh. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis isi . ontent analysi. Metode ini bertujuan untuk menafsirkan makna, nilai, dan prinsip modernitas yang terkandung dalam pemikiran Abduh, serta bagaimana pemikiran tersebut dapat diterapkan dalam pengembangan pendidikan Islam Dengan demikian, metode penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan pemahaman yang komprehensif mengenai relevansi pemikiran Muhammad Abduh dalam membangun paradigma modernitas beragama serta kontribusinya terhadap pembaharuan pendidikan Islam. Hasil dan Pembahasan Konsep Modernitas Beragama dalam Pemikiran Muhammad Abduh Muhammad Abduh menegaskan bahwa Aureformasi untuk kebaikan tidak pernah lahir dari revolusiAy, melainkan melalui perbaikan cara berpikir umat dan pembentukan lembaga ilmiah yang menelaah persoalan umat Islam (Muhammad, 2. Pandangan ini menegaskan bahwa perubahan sosial dan keagamaan tidak dapat dilakukan secara instan atau destruktif, tetapi melalui transformasi intelektual yang mendasar. Muhammad Abduh menempatkan modernitas bukan sebagai penolakan terhadap agama, melainkan sebagai kesempatan untuk renewal . yang menjembatani nilainilai Islam dengan tuntutan rasionalitas, sains, dan perubahan sosial. Inti pemikirannya meliputi: Ijtihad berkelanjutan sebagai antidot terhadap taqlid, agar ajaran Islam tidak berhenti pada penafsiran masa lalu, tetapi terus hidup dan berkembang seiring perubahan social (Prasetyo et al. Menurut Muhammad Abduh, taqlid kepada ulama terdahulu tidak perlu dipertahankan bahkan harus dilawan, karena justru menjadi salah satu penyebab utama kemunduran umat Islam dan penghambat kemajuan berpikir. Abduh dengan tegas mengkritik para ulama yang menumbuhkan budaya taqlid tanpa ijtihad, sebab hal itu menjauhkan umat dari semangat intelektual Islam awal yang dinamis dan rasional. Sikap umat Islam yang terlalu bergantung pada pendapat ulama klasik dipandang Abduh sangat berbeda dengan generasi Islam pertama yang menjadikan akal dan wahyu berjalan Al-QurAoan dan Hadis sendiri melarang umat Islam untuk bersikap taqlid buta terhadap manusia, karena setiap individu memiliki kewajiban untuk berpikir dan memahami ajaran agama secara kontekstual (Nasution et al. , 2. Rasionalisme, menurut Muhammad Abduh, merupakan sarana utama dalam memahami wahyu secara kontekstual, karena akal dan wahyu tidak berada dalam posisi yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam membangun peradaban yang ilmiah dan berkemajuan. Dalam sistem teologi yang ia kembangkan, wahyu memiliki fungsi ganda, yaitu memberikan konfirmasi terhadap kebenaran rasional dan memberikan informasi yang melampaui jangkauan akal manusia. Oleh sebab itu, wahyu dipandang sebagai penyempurna pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Bagi Abduh, akal dan wahyu memiliki hubungan yang erat dan harmonis. akal membutuhkan wahyu sebagai pedoman moral dan spiritual, sementara wahyu tidak mungkin bertentangan dengan akal yang sehat. Jika secara lahiriah tampak ada pertentangan antara keduanya, maka Abduh memberikan ruang bagi akal untuk menafsirkan kembali teks wahyu agar tetap sejalan dengan prinsip rasionalitas tanpa menghilangkan nilai-nilai ketuhanan(Nurlaelah, 2. Pemikiran modernitas beragama Muhammad Abduh yang menekankan rasionalitas dan integrasi ilmu selaras dengan karakter ilmuwan Muslim periode keemasan yang bersifat generalis dan multidisipliner (F. Hidayat, 2. Selain itu. Abduh menekankan pentingnya pembaruan sosial dan kelembagaan, terutama di bidang pendidikan dan hukum, guna mempersiapkan umat Islam menghadapi tantangan modernitas tanpa kehilangan substansi spiritual dan moral agamanya. Bagi Abduh, kemajuan umat tidak akan tercapai apabila sistem pendidikan Islam hanya berfokus pada pengajaran kitab-kitab tradisional yang menggunakan bahasa Arab dengan pendekatan teologi klasik . lmu kala. Umat Islam, menurutnya, perlu membuka diri terhadap ilmu pengetahuan modern, sains kontemporer, sejarah, dan kebudayaan Barat, agar dapat memahami faktor-faktor yang menyebabkan kemajuan bangsa lain dan kemudian menyesuaikannya dengan nilai-nilai Islam. Pandangan ini menunjukkan bahwa Abduh tidak memisahkan antara pendidikan agama dan pendidikan umum, melainkan mengintegrasikan keduanya Zahra Mevia Aimerly. Asri. Marwah Novi Dwiyanti. Mayrani Putri Altaf. Suci Nur Awalin. Fahri Hidayat (Studi Analisis Pemikiran Muhammad Abduh tentang Modernitas Beragama dan Pembaharuan Pendidikan Isla. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . agar melahirkan generasi Muslim yang rasional, ilmiah, dan berakhlak. Dalam konteks kelembagaan. Abduh juga menekankan perlunya reformasi manajemen pendidikan, termasuk peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik dan staf lembaga pendidikan Islam. Dengan kesejahteraan yang layak, para pendidik dapat fokus menjalankan tugasnya untuk mengajar dan mendidik tanpa harus mencari pekerjaan tambahan di luar. Gagasan ini relevan dengan semangat pengembangan lembaga pendidikan Islam modern di Indonesia saat ini, yang tidak hanya menekankan aspek spiritual, tetapi juga profesionalisme, efisiensi manajerial, dan mutu sumber daya manusia (Baharuddin et al. , 2. Pendekatan integratif dalam pendidikan Islam semakin relevan diterapkan karena terbukti mampu menghubungkan ilmu agama dengan disiplin modern secara konseptual dan praktis (F. Hidayat et al. Dengan demikian, konsep modernitas beragama yang ditawarkan Abduh bersifat reformatif, evolusioner, dan konstruktif, yaitu mengubah pola pikir dan struktur sosial umat dari dalam, bukan dengan meniru Barat secara membabi buta, tetapi dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam arus kemajuan modern. Pemikiran Muhammad Abduh tentang Pembaharuan Pendidikan Islam Pemikiran Muhammad Abduh mengenai pembaruan pendidikan Islam berakar pada pandangannya tentang pentingnya penyatuan antara ilmu agama dan ilmu umum. Ia menolak keras pemisahan antara keduanya, sebab hal itu dianggap menjadi penyebab kemunduran umat Islam. Menurut Muhammad Abduh. Islam mengajarkan bahwa seluruh pengetahuan yang membawa manfaat bagi kehidupan manusia bersumber dari Allah swt. , baik yang berasal dari wahyu maupun hasil olah piker manusia (Fahri Hidayat, 2. Karena itu, pendidikan yang ideal adalah yang dapat menyeimbangkan aspek spiritual dan intelektual peserta didik. Melalui integrasi ini. Muhammad Abduh mengharapkan munculnya generasi muslim yang beriman, berwawasan luas, dan berperan aktif dalam pembangunan peradaban. Pendidikan Islam tidak hanya harus menitikberatkan pada ilmu-ilmu keagamaan, tetapi juga membuka diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern agar umat mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri keislamannya. Dalam aspek metode pembelajaran. Muhammad Abduh mendorong adanya rasionalisasi dan inovasi dalam sistem pendidikan Islam. Ia mengkritik pola pendidikan tradisional yang terlalu menekankan hafalan dan ketaatan mutlak kepada guru, karena dianggap menghambat perkembangan nalar peserta didik. Menurutnya, proses belajar seharusnya menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan analitis sehingga siswa dapat memahami nilai-nilai Islam secara mendalam dan kontekstual. Bagi Muhammad Abduh, akal merupakan anugerah ilahi yang harus dioptimalkan untuk menggali makna ajaran agama. Oleh sebab itu, ia menyarankan agar metode pembelajaran lebih bersifat dialogis dan partisipatif melalui diskusi, observasi, dan penalaran logis. Dalam kerangka ini, guru berfungsi sebagai pembimbing yang memfasilitasi proses pencarian makna oleh peserta didik, bukan sebagai otoritas tunggal. Model pembelajaran demikian diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang aktif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan zaman modern (Nasution et al. , 2. Gagasan pembaruan Muhammad Abduh tidak hanya berhenti pada tataran konseptual, tetapi diwujudkan dalam langkah konkret melalui reformasi lembaga pendidikan. Ia melakukan modernisasi terhadap sistem pendidikan Islam, terutama di Universitas Al-Azhar Mesir yang kala itu dikenal kaku dan tertutup terhadap ilmu-ilmu kontemporer. Muhammad Abduh berupaya menjadikan lembaga pendidikan Islam sebagai pusat ilmu pengetahuan yang terbuka, progresif, dan sesuai dengan tuntutan masyarakat modern. Pembaruan yang dilakukan mencakup revisi kurikulum, pengembangan metode pengajaran, serta peningkatan profesionalisme tenaga pendidik. Ia memasukkan pelajaran sains, matematika, dan ilmu sosial ke dalam sistem pendidikan Islam, dengan tujuan agar peserta didik tidak hanya memahami ajaran agama tetapi juga menguasai pengetahuan umum. Meskipun mengalami perlawanan dari kelompok konservatif. Muhammad Abduh tetap teguh pada keyakinan bahwa reformasi pendidikan merupakan kunci kebangkitan umat Islam agar dapat kembali berperan dalam peradaban dunia. Zahra Mevia Aimerly. Asri. Marwah Novi Dwiyanti. Mayrani Putri Altaf. Suci Nur Awalin. Fahri Hidayat (Studi Analisis Pemikiran Muhammad Abduh tentang Modernitas Beragama dan Pembaharuan Pendidikan Isla. Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. December 2025, pp. Muhammad Abduh juga menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan pembentukan akhlak dan peningkatan kualitas umat. Ia berpandangan bahwa ilmu pengetahuan yang tidak disertai moralitas hanya akan melahirkan kerusakan sosial. Oleh sebab itu, pendidikan Islam harus menanamkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan kepedulian sosial. Muhammad Abduh menilai bahwa kemajuan umat Islam bergantung pada pendidikan yang mengajarkan keseimbangan antara penguasaan ilmu dan pembinaan akhlak. Melalui pendidikan yang berlandaskan moral, diharapkan lahir generasi yang mampu memperbaiki kondisi sosial, menciptakan keadilan, serta berkontribusi terhadap pembangunan bangsa. Pendidikan semestinya juga menumbuhkan kemandirian dan semangat pengabdian, sehingga peserta didik tidak hanya berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi juga memiliki kesadaran kolektif untuk memperjuangkan kemuliaan umat. Salah satu prinsip fundamental dalam pemikiran Muhammad Abduh adalah pentingnya kebebasan berpikir dan semangat ijtihad. Ia menolak tradisi taklid yang membelenggu akal dan menghambat kemajuan intelektual umat Islam. Pendidikan, menurut Abduh, harus menjadi wadah yang mendorong peserta didik berpikir kritis, mandiri, dan berani mencari solusi terhadap persoalan baru dengan berlandaskan ajaran Islam. Kebebasan berpikir bukan berarti keluar dari ajaran agama, melainkan memahami agama secara rasional dan sesuai konteks kehidupan modern. Dengan cara ini, pendidikan akan melahirkan generasi yang terbuka terhadap perubahan, kreatif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Muhammad Abduh yakin bahwa melalui semangat ijtihad, pendidikan Islam akan terus relevan sepanjang masa dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya (Halimah et al. , 2. Dalam keseluruhan gagasannya tentang pembaharuan pendidikan Islam. Muhammad Abduh menempatkan guru dan kurikulum sebagai dua unsur terpenting dalam keberhasilan pendidikan. memandang guru sebagai figur teladan yang tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan moral peserta didik. Guru dituntut memiliki integritas, kedisiplinan, dan semangat pembaruan agar mampu menciptakan suasana belajar yang kreatif dan inspiratif (Hafizh et al. , 2. Sementara itu, kurikulum pendidikan harus disusun secara seimbang antara ilmu agama dan ilmu umum, serta dirancang untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis, analitis, dan praktis. Kurikulum yang ideal adalah yang bersifat aplikatif, relevan dengan realitas sosial, dan menumbuhkan kesadaran spiritual. Menurut Muhammad Abduh, pendidikan yang baik adalah yang dapat memadukan kecerdasan akal dan kemurnian hati, sehingga menghasilkan generasi muslim yang beriman kuat, berilmu luas, dan mampu membawa kemajuan bagi umat manusia secara menyeluruh. Relevansi Pemikiran Muhammad Abduh terhadap Pendidikan Islam Kontemporer Pemikiran Muhammad Abduh memiliki dampak besar dan tetap relevan bagi pendidikan Islam di masa kini, terutama dalam menjawab tantangan globalisasi, modernisasi, serta kemajuan teknologi. Sebagai seorang pembaharu Islam. Muhammad Abduh berusaha menghidupkan kembali semangat ijtihad dalam dunia pendidikan agar umat Islam mampu berpikir kritis, terbuka, dan rasional. menolak sistem pendidikan tradisional yang hanya berfokus pada hafalan tanpa pemahaman yang mendalam(Irfindari et al. , 2. Dalam konteks pendidikan Islam modern, gagasan tersebut menjadi dasar lahirnya sistem pembelajaran yang lebih inovatif dan dinamis, yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga melatih peserta didik untuk memahami, menganalisis, dan menerapkannya secara logis dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu gagasan penting Muhammad Abduh yang sangat berpengaruh ialah integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum, modernisasi pendidikan, dan bagaimana pendidikan Islam harus adaptif terhadap perubahan zaman(Fian & Hidayat, 2. Kemunduran umat Islam disebabkan oleh pemisahan antara dua bidang ilmu tersebut, sehingga pendidikan Islam perlu menggabungkannya dalam satu kesatuan yang utuh (Muhammad, 2. Gagasan ini tampak dalam praktik pendidikan Islam masa kini, seperti di madrasah, sekolah Islam terpadu, dan perguruan tinggi Islam yang mengajarkan ilmu keagamaan berdampingan dengan sains dan teknologi. Tujuannya ialah mencetak Zahra Mevia Aimerly. Asri. Marwah Novi Dwiyanti. Mayrani Putri Altaf. Suci Nur Awalin. Fahri Hidayat (Studi Analisis Pemikiran Muhammad Abduh tentang Modernitas Beragama dan Pembaharuan Pendidikan Isla. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . generasi Muslim yang tidak hanya beriman dan bermoral, tetapi juga memiliki wawasan luas dan mampu bersaing di tingkat global tanpa mengabaikan nilai-nilai spiritual. Selain itu. Muhammad Abduh menekankan perlunya modernisasi metode pembelajaran. mengkritik sistem pengajaran pasif yang menonjolkan hafalan dan mendorong penerapan metode yang melibatkan peserta didik secara aktif. Pemikiran ini relevan dengan model pembelajaran modern seperti student-centered learning dan project-based learning, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pendidikan Islam kontemporer. Dengan penerapan metode tersebut, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta keterampilan kolaboratif yang sangat penting di era modern(Muhammad Sofiullah, 2. Dalam hal manajemen pendidikan. Muhammad Abduh berpendapat bahwa lembaga pendidikan harus dikelola secara profesional, transparan, dan inovatif. Gagasan ini masih relevan dengan kebutuhan pengelolaan pendidikan Islam saat ini yang menuntut akuntabilitas, efisiensi, dan keterlibatan masyarakat. Manajemen pendidikan yang baik tidak hanya meningkatkan kualitas lembaga, tetapi juga membangun budaya belajar yang sehat, adil, dan produktif. Upaya Abduh dalam mereformasi sistem pendidikan Al-Azhar menjadi bukti nyata penerapan prinsip-prinsip manajemen modern yang berbasis nilai-nilai Islam (Nur Widya Rahmawati, 2. Muhammad Abduh memandang pendidikan sebagai alat transformasi sosial dan moral. percaya bahwa kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada mutu pendidikannya, khususnya dalam membentuk karakter dan etika peserta didik. Gagasan ini sangat sesuai dengan arah pendidikan Islam modern yang menekankan pembangunan karakter, sikap moderat, dan kepedulian sosial. Pendidikan Islam tidak hanya diarahkan untuk mencetak peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia, toleransi tinggi, dan tanggung jawab sosial. Muhammad Abduh juga menyoroti pentingnya keadilan dan pemerataan akses pendidikan. menegaskan bahwa setiap individu, termasuk perempuan, berhak memperoleh pendidikan yang layak sebagai bagian dari upaya memajukan umat. Pandangan ini sejalan dengan prinsip pendidikan inklusif dalam dunia pendidikan Islam masa kini yang berusaha menghapus kesenjangan gender dan sosial. Pemikirannya telah menginspirasi munculnya berbagai kebijakan yang mendukung pemerataan pendidikan dan pemberdayaan Perempuan(Baharuddin et al. , 2. Dengan demikian, pemikiran Muhammad Abduh memiliki relevansi mendalam terhadap pendidikan Islam kontemporer karena menanamkan semangat pembaruan dalam aspek berpikir, kurikulum, metode, manajemen, dan tujuan pendidikan. Gagasannya menjadi penghubung antara nilainilai Islam klasik dan tuntutan modernitas, membentuk sistem pendidikan Islam yang adaptif, terbuka, serta berorientasi pada kemajuan. Dalam era digital dan globalisasi, pemikiran Abduh tetap menjadi fondasi penting dalam membangun pendidikan Islam yang melahirkan generasi berilmu, beriman, berakhlak, dan siap menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya. Simpulan Dari temuan penelitian ini dapat dipahami bahwa gagasan Muhammad Abduh mengenai modernitas dalam kehidupan beragama berlandaskan pada upaya menghidupkan kembali peran akal dan ijtihad sebagai sarana untuk membangkitkan umat Islam dari kemunduran intelektual maupun Abduh menentang praktik taqlid tanpa dasar pemikiran dan memandang pembaruan sistem pendidikan sebagai langkah utama dalam menciptakan perubahan sosial. Pandangan modernitas yang ia tawarkan bersifat bertahap sekaligus membangun, yakni dengan menyesuaikan ajaran Islam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika zaman, tanpa menanggalkan nilai spiritual dan Dalam dunia pendidikan Islam saat ini, pemikiran Abduh tetap memiliki relevansi kuat, terlihat dari upaya pengintegrasian ilmu agama dengan ilmu umum, pembaruan kurikulum dan strategi pembelajaran, pengelolaan lembaga pendidikan yang profesional, serta penguatan karakter peserta Oleh karena itu, kontribusi intelektual Abu Abduh menjadi landasan signifikan bagi lahirnya model pendidikan Islam yang responsif, bermartabat, dan mampu menghadapi perubahan zaman. Zahra Mevia Aimerly. Asri. Marwah Novi Dwiyanti. Mayrani Putri Altaf. Suci Nur Awalin. Fahri Hidayat (Studi Analisis Pemikiran Muhammad Abduh tentang Modernitas Beragama dan Pembaharuan Pendidikan Isla. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . References