BARTH, PRZYWARA, DAN KONSEP ANALOGIA ENTIS Andreas Himawan Pendahuluan Dalam catatan sejarah teologi, Karl Barth dikenal sebagai tokoh yang gencar mempolemikkan natural theology dalam Roma Katolik. Hal ini berkaitan dengan polemiknya mengenai konsep analogia entis (analogy of being), yang ia anggap sebagai konsep inti dalam Roma Katolik dan yang menjadi dasar bagi natural theology Roma Katolik dan dasar bagi pemahaman “grace perfecting nature” yang umum terdapat dalam teologi Katolikisme. Dalam perbincangan konsep analogi ini, Barth bergulat dengan seorang pemikir Katolik yang cukup berpengaruh, Erich Przywara—yang mengajukan istilah analogia entis. Tulisan ini mencoba mengungkapkan sedikit dari kisah teologis di suatu era ketika pergulatan masih berkisar antara teologi natural dan wahyu khusus di dalam Yesus Kristus. Secara khusus, tulisan ini akan mengupas konsep analogia entis yang disampaikan oleh Przywara dan kritik Barth atas pandangan tersebut, yang dianggapnya sebagai pandangan prinsip dari Roma Katolik. 26 Jurnal Amanat Agung Barth, Przywara dan Roma Katolik Przywara (1889-1972) adalah seorang Yesuit keturunan Polandia. Pada tahun 1923 dia menulis sebuah artikel untuk jurnal teologi Katolik, Stimmen der Zeit, yang mengupas pandangan teologi kontemporer, termasuk teologi Barth. Judul artikel tersebut adalah “God in us or above us? (Immanence and Transcendence in Todays’s Spritual Life).” Przywara menganalisis kondisi teologi kontemporer dan meyakini bahwa problem terutama pada saat itu adalah problem mengenai konsep Allah. Tetapi ia juga meyakini bahwa apa yang diajukan oleh Barth sebagai jawaban atas problem tersebut bukanlah jawaban yang memadai. Baginya, teologi Barth terlalu bersifat objektifis, suatu teologi yang menihilkan imanensi Allah. Menurut Przywara, Allahnya Barth adalah Allahnya Luther yang semata-mata transenden. Konsep Allah yang demikian, menurutnya, adalah kontras dengan konsep Allah yang lebih tepat yang dianut oleh Roma Katolik, seperti yang direpresentasikan oleh Agustinus yang memandang Allah bukan hanya sebagai Allah di atas kita, tetapi juga Allah di dalam kita. Pandangan Agustinus ini ia namai sebagai “analogis entis.”1 Dia mengatakan, Jika analogia entis dalam pandangan Katolik tentang Allah adalah suatu ketegangan misterius antara serupa dan tak serupa—yang sejajar dengan konsep Allah di dalam kita dan di atas kita—maka dalam pandangan Protestan tentang Allah, ‘keserupaan’ itu sama 2 sekali sudah dihilangkan. Pandangan Barth, oleh Przywara, dianggap sebagai “the rebirth of genuine Protestantism,” suatu pandangan yang menegasi semua 1. Menurut Bruce McCormack, istilah ini bukan dibentuk oleh Przywara. Kata ini telah dipakai oleh skolastisisme abad ke-15, tetapi melalui Przywara Barth bertemu dengan konsep ini. Bruce L. McCormack, Karl Barth’s Critically Realistic Dialectical Theology: Its Genesis and Development 1909 – 1936 (New York: OUP, 1995), 385. 2. Dikutip oleh McCormack, Karl Barth’s Dialectical Theology, 320-321. Barth, Przywara, dan Konsep Analogia Entis 27 bentuk analogi Allah dan ciptaan. Akibatnya, teologi Barth dianggap tidak memadai dalam memberi tempat bagi doktrin inkarnasi, bahkan cenderung menolak doktrin ini.3 Barth sangat serius menanggapi kritik dari Przywara. Pada dasarnya ia memang sangat menghormati Przywara dan menghargai pandangannya. Dia melihat Przywara seperti “satu manekin kecil dengan kepala yang luar biasa,” seseorang yang sanggup “memberi jawaban yang pintar, relevan, dan kena sasaran, dan dengan cara yang sangat lembut, terhadap segala sesuatu yang dipertanyakan kepadanya. Dia seperti tupai yang berlompatan dari pohon ke pohon, selalu dengan Konsili Trent dan Konsili Vatikan di punggungnya, memahami Agustinus dengan hati dan luar-dalam.”4 Dalam salah satu suratnya, Barth mengomentari Przywara: “Formula ‘Allah di dalam dan di atas manusia dari sudut pandang Allah’ selalu menjadi moto eksistensinya dan sekaligus pengakhiran terhadap semua kebodohan Protestan, modernis, transendentalis dan imanentis, dan puas berada dalam kedamaian analogia entis.”5 Pada awal tahun 1929 dia mengundang Przywara memberikan kuliah di kelasnya di Münster dengan tajuk, “The Catholic ChurchPrinciple.” Kemudian dia juga menghadirkan teolog Katolik ini untuk diajak berdebat dalam salah satu seminarnya mengenai teologi Aquinas. Przywara mengatakan bahwa kesempatan seperti ini adalah suatu upaya untuk “memahami sejelas mungkin pendirian-pendirian yang bertolak-belakang *antara kaum Protestan dan Katolik+.”6 Bagi Barth, ini adalah suatu tradisi “bertemu muka dengan muka” sekalipun berada dalam pendirian yang berbeda. Dia berkata, “In the sixteenth and seventeenth centuries Catholics and Protestants still looked each 3. McCormack, Karl Barth’s Dialectical Theology, 321. 4. Dikutip oleh Eberhard Busch, Karl Barth: His Life from Letters and Autobiographical Texts (London: SCM, 1976), 183. 5. Dikutip oleh McCormack, Karl Barth’s Dialectical Theology, 383. 6. Dikutip oleh Busch, Karl Barth, 183. 28 Jurnal Amanat Agung other in the eye—angrily, but in the eye. They talked with each other, sharply and harshly; but they really talked.”7 Menanggapi kritik Przywara, Barth melakukan banyak pendalaman untuk membangun doktrin inkarnasi yang dianggap kurang oleh teolog Yesuit itu. Bruce McCormack mengatakan bahwa kritik tersebut telah menjadi “satu poin yang segera mendapatkan perhatian serius dari Barth. Adalah sulit untuk menghindari kesan bahwa kritik Przywara telah memberi arah yang dibutuhkan Barth untuk pengupasan-pengupasan berikutnya.”8 Przywara juga menye-diakan suatu istilah dan konsep penting buat Barth, yakni analogia entis, yang kemudian, secara negatif, akan memiliki peranan besar dalam metodologi teologi Barth, khususnya dalam kritiknya terhadap teologi Roma Katolik. Dan ajaran kontras yang ia munculkan, analogia fidei, akan menjadi karakteristik paling menonjol dalam keseluruhan teologi Barth. Karena itu, menurut John Webster, Przywara telah menjadi salah satu dari dua teolog Roma Katolik terpenting yang menjadi dialog partner Barth. (Teolog lainnya adalah Hans Urs von Balthasar.)9 Dari sangat awal, Barth telah meresponi pandangan Przywara, dan konsep analogia entis telah menjadi bahan pembahasan dalam kuliah-kuliahnya. Misalnya, pada tahun 1929 juga, ia memberi kuliah dengan topik “The Holy Spirit and the Christian Life,” yang secara panjang lebar menanggapi doktrin ini seperti yang diajarkan oleh Przywara dan menelusuri akar ajaran ini hingga pada pandangan Agustinus.10 Penolakan yang sangat keras muncul dalam bukunya, 7. Karl Barth, Theology and Church: Shorter Writings 1920 – 1928 (London: SCM, 1962), 272. 8. McCormack, Karl Barth’s Dialectical Theology, 321. 9. John Webster, “Balthasar and Karl Barth,” dalam The Cambridge Companion to Hans Urs von Balthasar, ed. Edward T. Oakes, S.J. dan David Moss (Cambridge: CUP, 2004), 241. 10. Karl Barth, The Holy Spirit and the Christian Life (Louisville: WJK Press, 1993), 3 – 17. Barth, Przywara, dan Konsep Analogia Entis 29 Church Dogmatics jilid pertama yang terbit pada 1932. Dia mengatakan bahwa doktrin analogia entis adalah penemuan anti-kristus.11 Pada dasarnya Barth memang sangat keras menentang teologi Roma Katolik, khususnya terhadap pandangan Katolik yang ia anggap berupaya mengontrol kebebasan Allah yang transenden dan membuat Allah menjadi setara dengan manusia. Bahkan Hans Kung, yang adalah seorang Katolik, mengatakan bahwa kuliah dan seminar yang disampaikan oleh Przywara pada 1929 sungguh-sungguh telah mengonfirmasi kepada Barth dalam keyakinannya bahwa sekalipun teologi dan gereja Katolik telah memelihara lebih banyak substansi kekristenan dibandingkan dengan Protestantisme liberalnya Schleiermacher, tetapi mereka sama-sama melakukan kesalahan dasar yang sama. Katolik juga berupaya menguasai wahyu Allah, mengontrol anugerah Allah, dengan cara sedemikian rupa sehingga Allah 12 tidak lagi menjadi Allah dan manusia tidak lagi menjadi manusia. Eberhard Busch juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, Barth melihat ada suatu garis pemisah yang nyata antara teologi Reformasi dan teologi Katolik, yakni “upaya Katolik mengontrol anugerah Allah alih-alih membiarkan anugerah itu menyatakan kuasa pengontrolan.”13 Teolog Katolik lainnya, Aidan Nichols, mengatakan hal yang serupa. Bagi Barth, menurut Nichols, ada tiga respon manusia modern dalam menghadapi kebenaran teologis. Yang pertama, adalah suatu respon yang buruk, yakni dari mereka yang menolak kebenaran itu secara gamblang; ini adalah respon kaum ateisme. Yang kedua adalah respon yang lebih buruk, yakni dari mereka yang mencoba menetralisir kebenaran. Ini adalah respon kaum liberalisme. Tetapi 11. Church Dogmatics I/1, xiii. Selanjutnya buku ini akan disingkat CD. 12. Hans Küng, Great Christian Thinkers (London: Continuum, 1994), 189. 13. Busch, Karl Barth, 178. 30 Jurnal Amanat Agung yang ketiga adalah respon yang paling buruk, yakni dari mereka yang mencoba mengontrol kebenaran. Ini adalah respon kaum Katolik.14 KONSEP ANALOGIA ENTIS Bagi Barth, analogia entis adalah dogma paling fundamental dalam Roma Katolik.15 Dalam pandangan Barth, analogia entis adalah “the guiding and all-determining formal principle…the touchstone for everything Catholic.”16 Dalam perkataan Gary Dorrien, Barth memandang analogia entis sebagai “kunci bagi pandangan Katolik mengenai bagaimana teologi seharusnya dilaksanakan.”17 Sebenarnya, dalam memandang analogia entis sebagai jantung doktrin Katolik, Barth hanyalah mengikuti pandangan Przywara. Sebab bagi Przywara, “the Catholic primal principle is the analogy of being.”18 Berkomentar tentang doktrin analogia entis dalam Przywara, Karl Rahner mengatakan, “Przywara berhasil mentransformasi analogia entis dari suatu istilah skolastik yang sempit menjadi suatu dasar struktur dari apa yang disebut sebagai Katolik.”19 Bagi Przywara, analogia entis adalah “the key principle of interpretation in Catholic thinking.”20 Konsep analogi digunakan bukan hanya sebagai jalan keluar dari anthropomorfisme dan agnostisime dalam berbicara tentang Allah, tetapi juga sebagai suatu cara untuk 14. Aidan Nichols, O.P., “A Catholic Commemoration of Karl Barth,” dalam Beyond the Blue Glass: Catholic Essays on Faith and Culture Vol. II (London: The Saint Austin Press, 2002), 108. 15. CD II/1, 243. 16. Hans Urs von Balthasar, The Theology of Karl Barth (San Francisco: Ignatius, 1992), 35. 17. Gary Dorrien, The Word as True Myth: Interpreting Modern Theology (Louisville: WJK, 1997), 94. 18. Thomas F. O’Meara, Erich Przywara, S.J.: His Theology and His World (Notre Dame: UNDP, 2002), 77; Lihat juga von Balthasar, Theology of Barth, 36. 19. O’Meara, Erich Przywara, 80. 20. John O’Donnell, S.J., Hans Urs von Balthasar (Collegeville: Liturgical Press, 1992), 4. Barth, Przywara, dan Konsep Analogia Entis 31 menggambarkan hubungan antara ciptaan dan Pencipta. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa doktrin analogi mengasumsikan adanya suatu hubungan kesamaan (similaritas) antara ciptaan dan Allah Pencipta, dalam artian bahwa semua ciptaan berasal dari Allah dan secara dinamis bergerak kepada Allah, dan dalam pengertian demikian, ciptaan dalam hal tertentu menyerupai Allah dan berpartisipasi dalam Allah. Memang Przywara selalu berusaha menjaga agar transendensi Allah tidak dikompromikan demi imanensi-Nya. Hal ini sesuai dengan maksim Konsili Lateran IV (1215) yang sering ia gunakan: “For between creator and creature there can be noted no similarity so great that a greater dissimilarity cannot be seen between them.”21 Walaupun ciptaan berpartisipasi secara dinamis dalam Allah Pencipta, tetapi ciptaan selalu menyadari adanya ketidak-samaan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kesamaan antara dirinya dan Allah. Tetapi Przywara juga tidak ingin memilih aspek transendensi itu sebagai yang utama. Seperti yang dikatakan oleh O’Meara: Przywara refused to choose between God over all and God in all. According to the principle of the analogia entis, the proper inner life of God transcends all human ideas and through faith this life corresponds a little to what the teaching about the triune forces of the divine Trinity would communicate. Human nature is full preparedness for God, a capability of receiving the special revelation 22 of God. Konsep utama dalam analogia entis Przywara adalah “partisipasi.” Baginya, analogia entis adalah “suatu ungkapan bahwa struktur 21. Norman Tanner (ed.), Decrees of the Ecumenical Councils, vol.1 (London: Sheed & Ward Limited, 1990), 232. 22. Thomas F. O’Meara, “Paul Tillich in Catholic Thought: The Past and the Future,” dalam Paul Tillich: A New Catholic Assessment, ed. Raymond F. Bulman dan Frederick J. Parella (Collegeville: Liturgical, 1994), 21. 32 Jurnal Amanat Agung makhluk sekalipun berbeda dari Allah tetapi juga partisipatif dalam Allah.”23 Karena itu, sifat dasar manusia, oleh kemampuan penyerapan intelektualnya, telah disiapkan untuk memahami struktur keberadaan (being) dan keberadaan-keberadaan (beings), untuk membuat kesimpulankesimpulan tentang Pencipta dan untuk mengerti berita khusus dari 24 Allah yang melakukan pewahyuan. Nichols mengatakan, secara esensial Przywara telah mengubah ide the analogy of being ke dalam suatu doktrin partisipasi, suatu doktrin mengenai manusia yang mengambil bagian dalam kehidupan ilahi. Partisipasi dalam kehidupan ilahi ini hadir secara melekat dalam keberadaan manusia, dan mendesak manusia untuk 25 dapat melampaui dirinya sendiri dan menuju Allah. von Balthasar berkomentar bahwa bagi Przywara, analogy of being mengandaikan “a totally objective availability of the creature for God and for the divine measure of the creature.”26 Pada dasarnya Przywara mengikuti Aquinas yang memandang doktrin analogi dalam artian kausalitas. “While the proper being and life of God transcend all human ideas, the divine creativity has left in the structure of being and in each existent real traces; the metaphysical and physical universe is a product of a divine artist whose mind and power are present in it.”27 Justo Gonzales membuat suatu ringkasan sederhana tentang penger-tian Aquinas mengenai analogi: 23. O’Meara, Erich Przywara, 80. 24. O’Meara, Erich Przywara, 75. 25. Aidan Nichols, O.P., The Word Has Been Abroad: A Guide through Balthasar’s Aesthetics (Edinburgh: T&T Clark, 1998), xiii-xiv. 26. von Balthasar, Theology of Karl Barth, 255. 27. O’Meara, Erich Przywara, 75. Barth, Przywara, dan Konsep Analogia Entis 33 Menurut Thomas dan teolog-teolog lain, analogi bukan saja suatu cara nyaman dan niscaya dalam berbicara tentang Allah. Jika kita dapat menggunakan analogi dalam berbicara tentang Allah, itu karena adanya analogia entis (analogi keberadaan) yang fundamental yang memahami bahwa ciptaan memiliki analogi (keseja-jaran) dengan Pencipta. Ini berarti bahwa dasar dari analogi bukanlah Allah 28 serupa dengan ciptaan, tetapi bahwa ciptaan serupa dengan Allah. Analogia entis memang didasarkan pada asumsi tertentu tentang adanya kesamaan being (di tengah-tengah ketidak-samaan) antara manusia dan Allah. Bagi Aquinas, antara Allah dan manusia pastilah terdapat suatu tatanan tertentu sehingga kata-kata kita dapat dikenakan secara analogis untuk Allah dan manusia, dan tatanan itu adalah tatanan being yang terjadi karena kausalitas.29 Menurutnya, “Whatever is said both of God and creatures is said in virtue of the order that creatures have to God as to their source and cause in which all the perfections of things pre-exist trans-cendently.”30 Tentu saja Aquinas juga menekankan bahwa suatu efek berbeda dari penyebab sejauh penyebab itu berasal dari jenis (genus) yang tidak sama Tetapi karena efek dan penyebab sama-sama memiliki eksistensi, mereka dapat dikatakan sama, yaitu suatu kesamaan analogis yang menyatukan segala sesuatu hanya semata-mata karena mereka masing-masing memiliki eksistensi. Dia berkata, “Hal-hal yang menerima eksistensi dari Allah menyerupai Allah, karena mereka (halhal yang memiliki eksistensi) menyerupai sumber utama dan universal dari semua eksistensi.”31 Jadi, ciptaan menyerupai Pencipta, sekalipun secara analogis, karena Allah pada dirinya adalah eksistensi dan ciptaan berpartisipasi dalam eksistensi. Karena ciptaan berpartisipasi dalam eksistensi yang disebabkan oleh Allah dan yang menjadi milik Allah, 28. Justo L. Gonzales, Essential Theological Terms (Louisville: WJK, 2005), 6. 29. Summa Theologica Ia.13.5. Selanjutnya buku ini akan disingkat ST. 30. ST Ia.13.5. 31. See ST Ia.4.3. 34 Jurnal Amanat Agung maka ciptaan dapat dikatakan menyerupai Allah. Tetapi kemiripan ini tidak dapat dibalik. Kita tidak dapat mengatakan Penciptaan mirip dengan ciptaan. Ciptaanlah yang berpartisipasi dalam eksistensi Allah, dan bukan sebaliknya. Fergus Kerr membuat pengamatan yang jelas ketika dia mengatakan bahwa baik Przywara maupun von Balthasar setuju bahwa “pandangan Aquinas tentang analogi bukanlah suatu teori semantik, hanya sekedar tentang penggunaan kata-kata, seperti yang banyak dikatakan oleh penafsir-penafsir Aquinas. Sebaliknya, ‘analogi keberadaan’…merujuk pada partisipasi nyata ciptaan dalam kehidupan ilahi, diantisipasi di sini dan saat ini dalam iman.”32 Konsekuensi dari pemikiran seperti ini kentara terlihat dalam pemahaman Aquinas mengenai sifat ajaib dari pembenaran yang Allah lakukan terhadap manusia. Menurutnya, dalam artian tertentu, pembenaran tersebut tidaklah dapat disebut sebagai mukjizat Allah “karena jiwa manusia pada hakekatnya mampu *untuk menerima+ dan terbuka bagi anugerah.” Dan dengan mengutip Agustinus, dia berkata “By the very fact that it is made to the image of God, it is capable of or open to God by grace.”33 Dengan kata lain, dalam peristiwa pembenaran “anugerah mengaktualisasi potensi yang telah ada di dalam sifat hakiki manusia.”34 Pandangan seperti ini memang cocok sekali dengan konsep besar Aquinas tentang “grace and nature” (yang anugerah dan yang alamiah). Sebab seperti yang umumnya sudah diketahui, bagi Aquinas “grace” selalu bersifat menyempurnakan “nature” (grace perfecting nature), bukan menghancurkan apalagi menihilkannya. 32. Fergus Kerr, “Balthasar and Metaphysics,” dalam The Cambridge Companion to Hans Urs von Balthasar, ed. Edwards T. Oakes, S.J. dan David Moss (Cambridge: CUP, 2004), 225-226. 33. ST Ia2ae.113.10. 34. George Hunsinger, How to Read Karl Barth: The Shape of His Theology (Oxford: OUP, 1991), 146. Barth, Przywara, dan Konsep Analogia Entis 35 Kritik Barth Terhadap Analogia Entis Ada dua hal yang membuat Barth sangat keberatan dengan konsep “analogy of being.” Yang pertama berkaitan dengan epistemologi, dan kedua berkaitan dengan konsep anugerah. Permasalahan Epistemologis Bagi Barth, analogia entis adalah suatu premis yang berada di belakang dan yang menjadi dasar teologi natural (natural theology) dari Roma Katolik. Konsep natural theology senantiasa menghendaki adanya dua sumber setara dalam berteologi, yakni pengetahuan tentang Allah yang bersumber dari filsafat dan yang bersumber dari iman. Dalam pandangan Barth, menjejajarkan pengetahuan tentang Allah yang diambil dari teologi natural dengan pengenalan pada Allah dalam Yesus Kristus adalah suatu “pengkhianatan dari gereja.” Menempatkan unsur lain di samping pewahyuan Allah dalam Yesus Kristus adalah suatu penaklukan diri yang komplit.35 Sebenarnya ini adalah inti protes Barth yang tertuang dalam Barmen Declaration ketika ia mengkritik gereja-gereja dan teolog-teolog yang mendukung Nazi. Dalam konteks kritiknya terhadap Roma Katolik, Barth sebenarnya mengkritik cara berpikir skolastisisme dan Konsili Vatikan I yang “menyatukan Allah dan manusia dan dengan demikian membuat suatu hubungan sejajar manusia dan Allah, yang alamiah dan yang anugerah, akal budi dan iman, filsafat dan teologi.”36 Ini yang menjadi dasar dari kritiknya terhadap natural theology, seperti yang dikatakan oleh Alister McGrath, Barth’s hostility towards natural theology thus rests on his fundamental belief that it undermines the necessity and uniqueness of God’s self-revelation. If knowledge of God can be achieved independently of God’s self-revelation in Christ, then it follows that humanity 35. Eberhard Busch, The Great Passion: An Introduction to Karl Barth’s Theology (Grand Rapids: Eerdmans, 2004), 68. 36. Hans Küng, Theology for the Third Millennium: An Ecumenical View (New York: Doubleday, 1988), 265. 36 Jurnal Amanat Agung can dictate the place, time and means of its knowledge of God…As Barth understands the concept, natural theology concerns the human desire to find God on humanity’s own terms. Natural theology thus appears to posit a second source of revelation alongside Jesus Christ, 37 as he is attested in Scripture. Bagi Barth, satu-satunya sumber pengenalan pada Allah (dan karena itu sumber untuk berbicara tentang Allah) bersifat kristologis. “Allah dapat dikenal hanya melalui Allah, yakni di dalam peristiwa Allah memunculkan diri-Nya dalam pewahyuan-diri.”38 Dia tidak percaya kalau kita memiliki analogi yang menjadi dasar bagi kita untuk mengakses diri Allah sebagai Tuhan, Pencipta, Pendamai, dan Penebus.39 Bila kita memiliki akses kepada jati diri Allah yang sedemikian, itu sematamata karena pewahyuan diri Allah yang diberikan kepada kita oleh karena anugerah dan belas kasihan-Nya, semata-mata berdasarkan initisiatif dan kebebasan-Nya. Dia menilai, doktrin yang sebaliknyalah yang diajarkan oleh Roma Katolik dalam Konsili Vatikan I.40 Dalam konstitusi dogmatisnya, Konsili ini memang mengatakan bahwa “Gereja yang kudus percaya dan mengajarkan bahwa Allah, sumber dan tujuan segala sesuatu, dapat dikenal dengan kepastian dari menyimak hal-hal ciptaan, dengan menggunakan kekuatan alamiah pemikiran manusia.” Bahkan Konsili ini mengutuk orang-orang yang berpikiran beda dari pernyataan di atas. “Jika ada orang yang mengatakan bahwa Allah yang esa dan benar itu, Pencipta dan Tuhan kita, tidak dapat dikenal dengan pasti melalui apa yang telah diciptakan, dengan cahaya alamiah pemikiran manusia, terkutuklah orang tersebut.”41 37. Alister McGrath, A Scientific Theology, Volume I: Nature (Grand Rapids: Eerdmans, 2001), 269-270. 38. CD II/1, 79. 39. CD II/1, 75-79. 40. CD II/1, 79. 41. Dokumen Konsili ini diambil dari Norman Tanner (ed.), Decrees of the Ecumenical Councils, Volume II (London: Sheed & Ward Limited, 1990), 806, 810. Barth, Przywara, dan Konsep Analogia Entis 37 Barth sering mengutip pandangan ini untuk memperlihatkan betapa pandangannya dan pandangan Roman Katolik sangat kontras dan tidak dapat didamaikan. Bahkan dengan cukup lantang dia menyamakan Konsili Vatikan I (bersama dengan Schleiermacher) sebagai “monstermonster bersayap di sebelah kiri dan kanan Church Dogmatics.”42 Permasalahan Anthropologis Permasalahan analogia entis bukan sekedar masalah yang berkaitan dengan epistemologi. Yang lebih penting justru berkenaan dengan pemahaman mengenai struktur being manusia. Bagi Barth, seperti yang dielaborasi oleh George Hunsinger, “The analogia entis is conceived as embracing two matters at once: a constitutive state of affairs and an epistemic procedure based on it. The state of affairs is one in which human beings are in some sense inherently open to and capable of knowing God. The procedure is then one in which this inherent openness and capacity are exercised 43 such that God becomes known, regardless of how provisionally.” Barth menentang pandangan yang menganggap being manusia memiliki keterbukaan dan kapasitas inheren dan alamiah untuk mengenal Allah dan untuk mendapatkan anugerah-Nya. Bagi Barth, tidak ada kontinuitas ontologis antara Allah dan ciptaan. Soal hubungan Allah dan dunia, Barth senantiasa menekankan ketiadaan korespondensi alamiah antara Pencipta dan ciptaan. Dalam mengkritik pandangan Przywara yang percaya manusia memiliki struktur keberadaan yang terbuka kepada Allah dan memiliki kapasitas untuk taat kepada Allah, Barth mengatakan, “Man as creature is not in a position from which he can establish and survey (e.g., in a scheme of the unity of like and unlike) his relation to God and thereby interpret himself as ‘open upward,’ as Erich 42. Dikutip oleh Busch, Karl Barth, 361. 43. Hunsinger, How to Read Barth, 283. 38 Jurnal Amanat Agung Przywara says, and consequently describe his own knowledge as if it means that God’s revealedness were within the compass of his own 44 understanding by itself.” Barth juga mengkritik ajaran Agustinus yang dianggap sebagai peletak dasar dari ajaran analogia entis mengenai keserupaan struktural antara Pencipta dan ciptaan. Menurut Barth, Agustinus berusaha mencari kontinuitas antara Roh yang tak diciptakan dan roh manusia yang adalah ciptaan.45 Dengan kata lain, Roh Allah dianggap dapat dipersepsi sebagai suatu objek nostalgia (rekoleksi) masa lalu, seperti dalam pemikiran Platonik. Agustinus menyebut Roh ini sebagai “the Ancient Beauty.”46 Dengan kata lain, manusia memiliki kesadaran bawaan tentang Allah sebagai Keindahan dari Masa Lalu. Pengetahuan tentang Allah dipersepsi sebagai suatu hasil rekoleksi. Memang Agustinus menekankan bahwa proses rekoleksi ini dibantu oleh anugerah Allah, tetapi pencapaian pengetahuan tentang Allah dianggap sebagai suatu tahap akhir dari self-transcendence manusia. Dalam kata-kata Barth, itu adalah “tangga terakhir dari perjalanan naik yang panjang berdasarkan usaha manusia sendiri.”47 Dengan nada yang ironis, Barth berkata bahwa “the great opponent of Pelagianism did not realize that righteousness by works as such was contained in this idea of God.”48 Barth menyimpulkan bahwa konsep anugerah dalam Agustinus “could not be so plain as to have made the Reformation doctrine unnecessary.”49 Karena sesungguhnya, dalam doktrin anugerah Agustinus, terdapat “racun yang manis.”50 Semua pemahaman 44. Barth, Holy Spirit, 5. 45. Barth, Holy Spirit, 3. 46. Barth, Holy Spirit, 5. Barth merujuk pada tulisan Agustinus, Confessions 10.27.38. 47. Barth, Holy Spirit, 4. 48. Barth, Holy Spirit, 4. 49. Barth, Holy Spirit, 4. 50. Barth, Holy Spirit, 22. Barth, Przywara, dan Konsep Analogia Entis 39 anugerah yang berbahaya ini dianggap datang dari konsep yang salah tentang kontinuitas manusia dan Allah.51 “The discontinuity between God the Creator and creature, when one considers the relation of Creator and creature, must mean that between being Lord and being lorded over there exists an irreversibility such as excludes the idea of God as an object of whom, 52 in Platonic fashion, we have a reminiscence, as ‘Ancient Beauty.’” Bagi Barth, anugerah bukan lagi anugerah yang memiliki sifat bebas dan berdaulat bila ia terkondisi oleh sesuatu di luar dirinya. Tidak seperti halnya Aquinas yang memahami yang anugerah dan yang alamiah sebagai dua hal yang saling bergantung, menurut Barth, anugerah “tidak dapat dipahami kecuali secara konseptual harus ditempatkan mendahului kebebasan manusia dan secara utuh independen dari kebebasan tersebut.”53 Dalam kata-kata Barth sendiri, “Jika anugerah diletakkan di sisi yang alamiah, berapa pun tingginya ia ditempatkan, ia tidak lagi menjadi anugerah Allah, tetapi anugerah yang dikenakan oleh manusia kepada dirinya sendiri.”54 Misalnya dalam peristiwa pewahyuan dan keselamatan, manusia sepenuhnya tergantung pada anugerah agar dapat mem-persepsi dan menerimanya. Karena itu peristiwa-peristiwa seperti ini selalu dianggap sebagai mujijat. Barth senantiasa menolak konsep sinergisme, karena itu, seperti yang diungkapkan oleh Hartwell, Barth percaya bahwa “man is incapable of co-operating with God in any way except in the power of the Holy Spirit and thus in faith and therefore by grace, this means that nature cannot operate alongside grace without depriving 51. Barth, Holy Spirit, 21-22. 52. Barth, Holy Spirit, 4-5. 53. Hunsinger, How to Read Barth, 146. 54. CD II/1, 139. 40 Jurnal Amanat Agung the sovereign and free grace of God of its true character as grace; this 55 applies also to natural theology as a human activity.” Dalam teologi Roma Katolik, ada semacam kombinasi yang nyaman antara yang anugerah dan yang alamiah, antara wahyu dan teologi natural, dan penempatan yang sejajar antara keterbukaan dan kesiapan manusia untuk menerima anugerah Allah dan Allah yang memberi anugerah. Pandangan seperti ini dianggap Barth dapat “menjinakkan” anugerah dan wahyu Allah, dan berakhir pada keinginan untuk mengontrol kasih karunia Allah.56 Ini yang menjadi penolakan fundamental Barth terhadap analogia entis. Karena, dalam teologi Barth, kebebasan Allah dan tindakan anugerah Allah yang bebas selalu mendapatkan fokus terutama. Jadi, mencoba menguasai Allah dan anugerah-Nya adalah suatu pengkhianatan terhadap kebebasan Allah. Seperti yang dikatakan oleh McGrath, Salah satu niat utama Barth [dalam menolak teologi natural] adalah untuk mengekspos mitos mengenai otonomi manusia...Keinginan manusia menonjolkan diri dan menguasai segala sesuatu dilihat oleh Barth sebagai salah satu sumber fundamental terjadinya kesalahan 57 dalam berteologi. Karena itu, walaupun belakangan Barth menjadi lebih positif di dalam pandangannya mengenai ciptaan sebagai refleksi kemuliaan Allah, dia tidak banyak berubah di dalam memandangan analogia entis sebagai penemuan anti-kristus. Dalam menolak analogia entis, Barth juga beralasan bahwa doktrin ini tidak terlalu mempertimbangakan kondisi manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Dia mengatakan, bagi gereja Roma Katolik, doktrin analogia entis adalah suatu konsep mengenai “keserupaan 55. Herbert Hartwell, The Theology of Karl Barth (London: Gerald Duckworth, 1964), 52. 56. CD II/1, 141. 57. McGrath, Scientific Theology: Nature, 269. Barth, Przywara, dan Konsep Analogia Entis 41 dengan dan kemampuan untuk wahyu Allah, yang dimiliki oleh dunia semenjak ciptaan, akrab pada kita dan dapat kita kenali dengan baik sekalipun manusia sudah jatuh ke dalam dosa, seolah-olah sekarang Allah sepenuhnya terikat olehnya.”58 Pada tempat lain dia juga mengatakan, “According to this view, the fall does not alter the fact that man’s imitative knowledge is capable and to that extent partakes of true being even without grace, and therefore—analogia entis—of communion with the supreme essential being, with God…*T+he fall has not made this knowledge absolutely impossible. A remnant is left 59 of the adjustment of man to God in creation.” Salah satu hasil yang paling nyata dari analogia entis dalam Roma Katolik adalah doktrin Mariologi. Doktrin ini, bagi Barth, menjadi semacam contoh atau model terbaik dari “prinsip metodologis dari keseluruhan kepercayaan Roma Katolik.”60 Barth memprotes doktrin ini karena sesungguhnya pernyataan-pernyataan dalam Alkitab tentang Maria senantiasa berada dan berfungsi dalam konteks Kristologi, tetapi dengan asumsi analogia entis sedemikian, pernyataan-pernyataan tersebut menjadi suatu doktrin Mariologi yang independen, yakni dogma tentang dan ibadah kepada Maria. “Perjanjian Baru, demikian pula Konsili Efesus dan Chalcedon, berbicara tentang Maria hanya dalam hal-hal yang berkaitan secara kristologis.”61 Doktrin ini adalah contoh nyata dari asumsi analogia entis, karena Maria dianggap mampu untuk bekerja sama dengan anugerah Allah dalam penyelamatan manusia. Maria dipandang sebagai seseorang yang memiliki “living, passive and active receptivity to generating grace.”62 Dengan mengutip 58. CD I/2, 37. 59. CD II/2, 530. 60. Dikutip oleh Busch, Karl Barth, 371. 61. CD I/2, 139. 62. CD I/2, 144. Ini bukan kalimat asli Barth. Dia mengutip dari teolog Katolik, Scheeben. 42 Jurnal Amanat Agung Przywara, Barth memperlihatkan bahwa Mariologi sesungguhnya adalah analogia entis: From the standpoint of the Catholic doctrine of the analogia entis creation in its totality is the vision, mounting from likeness to likeness, of the God who is beyond every likeness. It is, therefore, a receptive readiness for Him. In the final essence it is, as it were, already Mary’s ‘Behold, the handmaid of the Lord. Be it unto me 63 according to Thy Word.’ Penutup Pada dasarnya, perdebatan analogia entis antara Barth dengan Przywara pada khususnya dan dengan Roma Katolik pada umumnya adalah bagian perdebatan klasik antara Roma Katolik dan Protestan tentang teologi natural dan wahyu khusus, dan hal-hal seputar topik tersebut. Apa yang menjadi pandangan Barth dalam meng-encounter pandangan Roma Katolik jelas terbaca dalam Pengakuan Iman Westminster, yang menjadi salah satu pilar pengakuan iman Protestantisme. Pada artikel pertama dikatakan, “Walaupun terang dari alam dan karya dalam penciptaan dan pemeliharaan memanifestasikan kebaikan, hikmat dan kuasa Allah, yang membuat manusia tidak dapat berdalih, tetapi semua itu tidaklah cukup mendatangkan pengetahuan tentang Allah dan tentang kehendak-Nya, yang diperlukan untuk keselamatan; karena itu sesuai dengan perkenanan Allah, pada saatsaat dan cara-cara yang beragam, Allah mewahyukan diri-Nya...” Barth memang membawa pandangan Protestantisme itu ke aras yang sangat fundamental, sehingga tidak heran Przywara menyebutnya sebagai “the rebirth of the genuine Protestantism.” Memang, apa yang ditulis di atas adalah peristiwa teologis di suatu episode sejarah teologi, yang belum memaklumkan dirinya final. Barth sendiri kemudian sangat banyak berbicara tentang doktrin ciptaan yang mengupas mengenai “the lights and the truths of the 63. CD I/2, 144-145. Barth, Przywara, dan Konsep Analogia Entis 43 creation.” Barth juga mengajukan suatu teori analogi, yang ia sebut sebagai analogi iman (analogia fidei), yang berbicara mengenai tindakan anugerah Allah berdasarkan keputusan internal diri-Nya untuk berelasi dengan manusia, dan respon manusia berdasarkan iman dalam menerima anugerah Allah. Ini bukanlah keserupaan being antara Allah dan manusia, tetapi seserupaan antara hubungan Allah dalam diri-Nya dan hubungan-Nya dengan manusia. Walaupun dalam tulisan ini tidak diulas mengenai analogia fidei (analogy of faith), tetapi jelas apa yang menjadi penekanan Barth adalah tindakan Allah yang berdasarkan kebebasan dan anugerah-Nya. Tindakan ini tidak dapat diikat maupun dijinakkan oleh kapasitas manusia. Walaupun diskusi demikian telah berlangsung cukup lama, dan perdebatan Roma Katolik dan Protestantisme dalam topik tersebut bahkan jauh lebih lama lagi dibandingkan dengan era Barth dan Przywara, tetapi topik demikian tetap menarik untuk dikupas, mengingat perkembangan teologi yang selalu bersentuhan dengan wilayah-wilayah alamiah (nature) dan wahyu umum. Bila dulu teologi banyak bersentuhan dengan filsafat, kini pergeseran telah terjadi, ketika teologi banyak bersentuhan dengan agama-agama dan budayabudaya religius. Bila dulu teologi natural menjadi bahan perdebatan, kini mungkin adalah teologi agama-agama. Bila dulu filsafat yang dikaitkan dengan iman, saat ini agama-agama telah menjadi suatu padanan bagi iman. Teologi Protestan yang sangat menekankan anugerah Allah dan wahyu khusus Allah dalam Yesus Kristus masih harus terus menerus merumuskan diri dalam konteks dan wilayah demikian.