KELAYAKAN USAHATANI CABAI RAWIT DI KECAMATAN WAE RII Dionisius Namput1*. Astried Priscilla Cordanis2. Robertus Hudin3 1,2,3 Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian dan Peternakan. Unika Santu Paulus Ruteng Email Korespondensi: dnamput@gmail. ABSTRAK Usahatani cabai rawit memiliki potensi dalam pengembangannya, meski demikian tanaman cabai merupakan salah satu tanaman yang cukup rentan terhadap serangan hama dan penyakit terutama pada daerah dengan curah hujan tinggi. Rentannya tanaman cabai terhadap serangan hama dan penyakit menyebabkan penurunan produksi pada musim-musim tertentu yang berakibat pada kelangkaan dan peningkatan harga cabai rawit. Oleh karena itu tujuan dalam penelitian ini yakni untuk mengetahui kelayakan usahatani cabai rawit di Kecamatan Wae Rii. Adapun sampel yang dipilih dalam penelitian ini yakni 30 sampel yang merupakan seluruh populasi petani cabai rawit yang berada di Kecamatan Wae Rii yang memiliki curah hujan tinggi. Analisis kelayakan usahatani yang dipilih dalam usahatani cabai rawit menggunakan analisis pendapatan. R/C ratio. BEP unit dan BEP rupiah. Penggunaan analisis tersebut didasari pada data usahatani cabai rawit yang dapat diperoleh merupakan data produksi 1 tahun, dimana dalam 1 tahun petani hanya melakukan 1 kali periode tanam. Hasil analisis kelayakan usahatani cabai rawit di Kecamatan Wae Rii yakni R/C Ratio adalah 5. BEP unit 8. 176 kg, dan BEP rupiah Rp39,661/kg. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa usahatani cabai rawit di daerah dengan curah hujan tinggi layak untuk dilakukan namun hanya pada 1 kali musim tanam dalam 1 tahun. Kata Kunci: Cabai Rawit. Kelayakan Usahatani ABSTRACT Chilli farming has potential for development, however, chilli plants are a plant that is quite vulnerable to pest and disease attacks, especially in areas with high rainfall. The vulnerability of chilli plants to pest and disease attacks causes a decrease in production in certain seasons which results in scarcity and an increase in the price of chilli. Therefore, the purpose of this study is to evaluate whether growing chilli plants in Wae Rii District is feasible. The 30 samples used in this study represented all of the chilli growers in the heavily precipitated Wae Rii District. Profit. R/C ratio. BEP unit and BEP rupiah analyses are used to determine whether the chosen farming enterprise for growing chilli plants is feasible. The chilli farming data included in this analysis comes from one year's worth of production data, during which growers plant during just one planting season. The Wae Rii District's feasibility study of chilli farming yielded the following results: an R/C ratio of 5, the BEP unit is 8. 176 kg, and the Rupiah BEP reaches Rp39,661/kg. is possible to grow chilli in regions with heavy rainfall, but only during one planting season per year, according to the analysis's findings. Keywords: Chilli. Feasibility of Farming ISSN: 2962-3634 CIWAL: Jurnal Pertanian https://jurnal. id/index. php/ciwal CIWAL: Jurnal Pertanian. Vol. 2 No. 2, 2023 PENDAHULUAN Indonesia mencapai Rp68,619/kg. Harga yang tinggi tersebut dapat disebabkan oleh agraris dengan kekayaan sumber daya produksi cabai di luar waktu tanam cabai memiliki risiko yang tinggi (Nurhafsah Indonesia juga dikenal dengan negara et al. , 2. Adapun periode tanam tropis yang memiliki dua musim, yaitu cabai rawit di Indonesia berkisar antara musim kemarau dan musim hujan. bulan Maret Ae Juni, yakni awal musim Namun pada beberapa tahun terakhir, hujan dan menjelang musim kemarau. sektor pertanian menghadapi tantangan Keadaan tersebut menyebabkan stok berupa perubahan cuaca dan iklim. cabai rawit di pasar pada bulan tertentu Perubahan iklim tersebut berdampak sangat terbatas. Selain Kabupaten Manggarai sebagai berujung pada tingkat pendapatan petani salah satu kabupaten yang berada di (Naura & Riana, 2. Provinsi NTT, memiliki potensi dalam Setiap pengembangan komoditi hortikultura, karakter tumbuh yang berbeda, begitu termasuk cabai rawit. Pengembangan juga dengan tanaman cabai rawit. cabai rawit memberikan potensi dalam Sebagai tanaman hortikultura, tanaman cabai rawit menjadi salah satu sumber kesejahteraan petani, walaupun risiko inflasi pada tahun 2022 yang diakibatkan yang dimiliki cukup tinggi. Risiko yang oleh kenaikan harga yang terus menerus. dihadapi oleh petani cabai di Kabupaten Pada tahun 2020 rata-rata harga cabai Manggarai yakni curah hujan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan daerah mengalami kenaikan terus menerus lain di Provinsi NTT. Pada tahun 2022, hingga pada tahun 2022 mencapai Kabupaten Manggarai memiliki curah Rp61,593/kg. Sepanjang tahun 2022, hujan yang tinggi jika dibandingkan harga cabai rawit mengalami fluktuasi dengan daerah lain di Provinsi NTT. yang diakibatkan oleh stok yang tersedia Bulan September sampai dengan April di pasar tidak dapat memenuhi jumlah memiliki jumlah curah hujan 300-500 permintaan dalam negeri. Di Provinsi mm, bulan Mei sampai bulan Juni curah NTT, harga cabai tertinggi berada di hujan menengah yakni 100-214 mm, dan bulan Januari dengan tingkat harga pada bulan Juli sampai bulan Agustus Rp60,445/kg CIWAL: Jurnal Pertanian. Vol. 2 No. 2, 2023 (<100 Panjangnya musim hujan di Kabupaten Manggarai METODE Pemilihan Lokasi dan Sampel Penelitian Pemilihan produksi Cabai Rawit. Risiko yang dilakukan secara sengaja berdasarkan dihadapi oleh petani cabai rawit pada pertimbangan bahwa daerah tersebut daerah dengan intensitas hujan yang berada di Kabupaten Manggarai dengan tinggi yakni adanya pembusukan di akar, batang, dan daun, pertumbuhan gulma Kecamatan Wae Rii. Adapun sampel yang dipilih yakni 30 orang responden antraknosa yang lebih cepat ketika petani cabai rawit yang dipilih secara musim hujan (Misqi & Karyani, 2. sengaja dengan kriteria bahwa petani Selain risiko yang tinggi, penggunaan tersebut masih aktif melakukan budidaya input produksi seperti pupuk organik, cabai rawit selama lima tahun terakhir. pupuk kimia, dan pestisida cenderung semakin meningkat pada musim hujan. Metode Pengumpulan Data Namun pupuk yang diberikan akan Adapun data dalam penelian ini mudah tercuci atau terbawah oleh air merupakan data cross section yang hujan, sehingga manfaat pemberian diperoleh dari wawancara langsung pupuk organik, kimia, dan pestisida tidak Dalam memitigasi risiko, menggunakan daftar pertanyaan yang usahatani cabai rawit disarankan dalam telah disiapkan sebelumnya. penerapannya berpedoman pada SOP (Miswati et al. , 2023. Setyanto, 2. Metode Analisis Berdasarkan permasalahan yang Dalam dihadapi oleh petani cabai rawit di penelitian yakni mengetahui pendapatan Kecamatan Wae Rii dengan daerah dan kelayakan dari usahatani cabai rawit, intensitas hujan tinggi, maka penelitian maka digunakan rumus berikut: = TR Ae TC pendapatan dan analisis kelayakan dari Dimana: = Pendapatan (R. Kecamatan Manggarai. Wae Rii. Kabupaten TR=Total Revenue (Penerimaan Tota. TC = Total Cost (Biaya Tota. CIWAL: Jurnal Pertanian. Vol. 2 No. 2, 2023 Total revenue merupakan total yang diterima oleh petani dari hasil penjualan (Price x Quantit. Sedangkan Jika R/C ratio> 1, maka usahatani cabai rawit layak diusahakan. biaya total diperoleh dari penjumlahan Jika R/C ratio< 1, maka usahatani cabai rawit tidak layak diusahakan. semua biaya yang dikeluarkan, baik biaya tetap maupun biaya variabel Jika R/C ratio = 1, maka usahatani cabai rawit berada pada posisi titik (Sukmayanto et al. , 2. Selain mengetahui pendapatan Break Even Point (BEP) adalah titik pulang pokok dimana Total Revenue sama dengan Total Cost. BEP yang akan petani tergolong layak atau tidak untuk dihitung adalah BEP unit dan BEP Adapun indikator kelayakan rupiah, dengan rumus sebagai berikut: usahatani dapat dilihat dari analisis R/C BEP unit = POeVC ratio. BEP unit dan BEP rupiah (Prasetyo et al. , 2. BEP rupiah = Analisis R/C ratio bertujuan 1Oe untuk mengetahui perbandingan antara Total Revenue (TR) dan Total Cost (TC), yang secara matematis dapat dilihat pada rumus berikut: R/C ratio =TC Dimana. R/C Keterangan: BEP = Break Event Point = Harga jual produk per unit = Variable Cost (Biaya Variabe. = Fixed Cost (Biaya Teta. perbandingan antara penerimaan dan HASIL DAN PEMBAHASAN Adapun kriteria kelayakan dalam Karakteristik Petani Cabai Rawit analisis R/C ratio adalah sebagai berikut: Rata-rata umur responden adalah 45 tahun dengan persentase tertinggi . %) berkisaran antara 41-50 tahun. Dengan demikian disimpulkan bahwa yang lebih dominan dalam melakukan kegiatan usahatani cabai rawit di Kecamatan Wae Rii didominasi oleh petani yang berumur CIWAL: Jurnal Pertanian. Vol. 2 No. 2, 2023 41-50 tahun. Umur petani merupakan salah satu faktor yang berhubungan meminimumkan biaya tenaga kerja dengan kemampuan kerja petani dalam (Hasan et al. , 2. melaksanakan kegiatan usahatani (Hoar & Fallo, 2. Karakteristik Usahatani Cabai Rawit Selain umur, tingkat pendidikan Karakteristik usahatani cabai rawit di formal merupakan salah satu karateristik Kecamatan Wae Rii dapat dilihat pada yang dapat mencerminkan kapasitas Tabel 1. Luas lahan yang dikelola petani Rata-rata pendidikan formal yang yang berada di Kecamatan Wae Rii ditempuh petani responden adalah 10 Kabupaten Manggarai rata-rata yaitu tahun atau setara dengan tamat SMP. 25 ha dengan frekuensi 1 kali tanam Pendidikan yang relatif tinggi juga setiap tahun. Luas lahan rata-rata yang didukung dengan pengalaman yang dimiliki untuk usahatani cabai rawit Tingkat pendidikan menjadi termasuk dalam golongan lahan yang salah satu faktor keberhasilan petani sempit (Susilowati & Maulana, 2. Luas petani yang memiliki pendidikan yang dikarenakan petani masih menganut lebih tinggi akan lebih mudah untuk tradisi membagi luas lahan yang dimiliki bertindak rasional (Hoar & Fallo, 2017. Adhadika & Pujiyono, 2. digunakan oleh petani untuk kegiatan Berdasarkan Lahan usahatani cabai rawit merupakan lahan dengan petani responden diperoleh data bahwa 39% petani bergabung dalam sebelumnya digunakan untuk usahatani kelompok tani dan 60% petani tidak bergabung dalam kelompok tani. Petani Benih yang digunakan oleh petani yang tidak bergabung lebih banyak responden adalah varietas Kastilo F1. Cakra Hijau dan Pertiwi. Rata-rata kelompok tani. Keikutsertaan petani jumlah benih yang digunakan oleh petani dalam kelompok tani dapat menjadi responden yakni 2. 571 gram, yang dibeli salah satu faktor yang memberikan di toko pertanian dengan dana pribadi. Pelaksanaan kegiatan budidaya menggunakan beberapa jenis pupuk CIWAL: Jurnal Pertanian. Vol. 2 No. 2, 2023 yakni pupuk kandang. NPK, dan Urea. ataupun negatif terhadap kemajuan Pupuk kandang adalah pupuk yang usahatani jika tenaga kerja tersebut benar-benar dipelihara oleh petani itu sendiri seperti Rata-rata biaya tenaga kerja kotoran kambing, kotoran sapi, dan dalam usahatani cabai rawit di tempat kotoran babi. Rata-rata kebutuhan pupuk penelitian yaitu Rp1,238,571. kandang untuk usahatani cabai rawit Tabel 1. Karateristik usahatani cabai rawit di Kecamatan Wae Rii 214 karung dengan biaya petani cabai rawit yaitu merk Proksi. Keterangan Jumlah Luas Lahan 25 ha Benih 571 gram Pupuk Kandang 214 karung Pupuk NPK 75 kg Pupuk Urea 5 kg Pestisida 53 ml. Biaya Tenaga Rp1,238,571 Kerja Sumber: Data primer diolah . Pengunaan Proksi disesuaikan dengan Pendapatan Usahatani kebutuhan petani. Rata-rata pestisida Pendapatan Rp1,225,000. Pupuk digunakan dalam tempat penelitian adalah pupuk NPK dan pupuk Urea. Rata-rata pengunaan pupuk NPK 100. kg dan pupuk Urea 20. 5 kg. Pestisida yang digunakan oleh yang digunakan petani cabai rawit di diperoleh dari suatu kegiatan usahatani tempat penelitian yaitu 2. 53 ml. Adapun fungsi dari penggunaan Proksi oleh mengendalikan hama dan penyakit. tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhi seperti luas lahan, tingkat produksi, dan tingkat efisiensi tenaga Tenaga kerja dalam usahatani cabai rawit di tempat penelitian hanya keluarga (TKDK). Ketersedian tenaga Pendapatan usahatani cabai rawit diperoleh dari selisih antara penerimaan dan total biaya produksi (Ramli et al. keberlangsungan usahatani. Kehadiran tenaga kerja dapat berdampak positif Tabel 2. Pendapatan usahatani cabai rawit di Kecamatan Wae Rii Uraian Penerimaan Produksi . Nilai Rp20,586,786 CIWAL: Jurnal Pertanian. Vol. 2 No. 2, 2023 Harga (Rp/k. Rp40,030 Biaya Tetap Pajak Rp13,000 Penyusutan peralatan Rp246,675 Total biaya tetap Rp246,675 Biaya Variabel Benih Rp154,286 Pupuk kandang Rp1,225,000 Pupuk NPK Rp941,250 Pupuk Urea Rp102,500 Pestisida Rp380,357 Tenaga Kerja Rp1,238,571 Total biaya variabel Rp4,104,107 Total biaya Rp4,350,782 Pendapatan Rp16,236,003 Sumber: Data primer diolah . Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa kandang dan biaya tenaga kerja. Rata- rata-rata produksi yang dihasilkan oleh rata biaya variabel yang dikeluarkan oleh petani cabai rawit di Kecamatan Wae Rii petani cabai rawit di Kecamatan Wae Rii 4 kg dalam satu kali digunakan oleh petani cabai rawit di Dengan Rp40,030/kg. rata-rata Sehingga rata-rata Rp4,104,107. Kecamatan Wae Rii Pupuk penerimaan yang diperoleh petani cabai kandang, dan pupuk kimia seperti pupuk rawit di Kecamatan Wae Rii yaitu NPK, pupuk urea, pestisida dan tenaga Rp20,586,786. Biaya yang dikeluarkan Rata-rata biaya pupuk kandang oleh petani cabai rawit seperti biaya tetap yang dikeluarkan petani cabai rawit dan biaya variabel. Rata-rata 1,225,000, rata-rata penggunaan pupuk urea dan NPK . upuk kimi. yaitu Rp 1,043,750. Kecamatan Wae Rii per produksi sebesar Pestisida Rp246,675, yang terdiri dari biaya pajak, usahatani cabai rawit adalah produk dan biaya penyusutan peralatan. merk Proksi dengan rata-rata biaya Biaya variabel yang digunakan Rp380,357. Pestisida digunakan oleh petani cabai rawit Kecamatan Wae Rii terdiri atas: biaya sebesar 254 ml dengan rata-rata biaya Rp benih, biaya pupuk NPK, biaya pupuk 150 per ml. Rata-rata biaya tenaga kerja urea, biaya pestisida, biaya pupuk yaitu Rp1,238,571 yang terdiri dari biaya CIWAL: Jurnal Pertanian. Vol. 2 No. 2, 2023 16,236,003 per rata-rata luas lahan 0. ha dalam satu periode usahatani. penyemprotan dan panen. Dengan ratarata Kegiatan usahatani ini cukup Rp20,586,786 dan rata-rata total biaya dikembangkan dalam skala usaha rata- yang dikeluarkan untuk produksi cabai rata luas lahan 0. 25 ha. Nilai BEP pada rawit adalah Rp4,350,782 maka total usahatani cabai rawit berada pada harga pendapatan yang diterima petani cabai cabai rawit Rp39,661/kg dan jumlah rawit yaitu Rp16,236,003. 784 kg per musim. Nilai R/C ratio sebesar 5 yang menunjukan usaha Kelayakan Usahatani Cabai Rawit layak untuk dilakukan. Artinya setiap Hasil analisis kelayakan usahatani cabai rawit dapat digunakan sebagai pengeluaran Rp100,- akan memperoleh penerimaan sebesar Rp500,- . acuan dalam mempertimbangkan suatu KESIMPULAN menolak suatu gagasan/proyek yang Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini dapat Tabel 3. Analisis kelayakan usahatani usahatani cabai rawit per satu kali cabai rawit di Kecamatan Wae Rii produksi di Kecamatan Wae Rii adalah Uraian Nilai Kriteria Pendapatan Rp16,236,003 R/C BEP Unit Rp16,236,003 per rata-rata luas lahan 25 ha. Nilai R/C sebesar 5 yang berarti Layak usahatani cabai rawit layak untuk Nilai BEP unit sebesar Titik BEP Rupiah Rp39,661 Titik Sumber: Data primer diolah . BEP Rupiah Rp39,661. DAFTAR PUSTAKA