Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . PERUBAHAN DESAIN PERPUSTAKAAN: STUDI KASUS PERPUSTAKAAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI Mouly Ika Lutfiati1*. Luki-Wijayanti1 Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Universitas Indonesia *Korespondensi: mouly. ika@ui. id, luki_w@ui. ABSTRAK Penelitian ini menjelaskan mengenai perubahan desain perpustakaan. Pada awalnya perpustakaan dikenal sebagai tempat yang sepi dan hanya digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman pola tersebut telah berubah menjadi ruang yang digunakan untuk saling berkumpul dan berinteraksi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan observasi. Terdapat enam orang informan yang terdiri dari tiga orang pustakawan dan tiga orang pengguna perpustakaan. Keenam orang tersebut diwawancarai untuk mendapatkan pendapat mereka terkait Perpustakaan Komisi Pemberantasan Korupsi. Data dianalisis dengan tahap pertama analisis sebelum dilapangan, analisis data di lapangan, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perpustakaan Komisi Pemberantasan Korupsi memiliki kesamaan ciri dengan perpustakaan abad 21 yang terdiri dari welcoming, flexibility, communal, zoned, innovation, dan connections. Keenam ciri tersebut menjadikan perpustakaan tidak hanya sebagai ruang penyimpanan koleksi tetapi juga sebagai ruang sosial yang digunakan untuk Ini menunjukkan bahwa kebutuhan pengguna yang selalu berubah dan berkembang. Pustakawan berusaha untuk memenuhi kebutuhan penggunanya dengan mendesain ulang ruang perpustakaan dan merevisi kebijakan yang sebelumnya berlaku di perpustakaan. Kata Kunci: Ruang sosial, pengguna perpustakaan, pustakawan PENDAHULUAN Pada awal abad 20 perpustakaan virtual berkembang pesat menjadikan bentuk fisik perpustakaan mulai hilang. Adanya bentuk fisik perpustakaan yang hilang, maka tidak diragukan lagi bahwa desain ruang perpustakaan akan berubah tetapi dapat dipastikan bahwa fungsi dasar perpustakaan sebagai tempat penyedia informasi akan tetap sama (Latimer, 2. Ruang di dalam perpustakaan lebih berfokus pada tempat penyimpanan koleksi dan tidak bertujuan sebagai tempat interaksi antar pengguna. Tempat yang didesain untuk pengguna merupakan tempat yang sepi (Hanson & Abresch, 2. Akan tetapi pada abad ke 21 desain ruang perpustakaan telah berubah menjadi ruang untuk bersantai, untuk saling berinteraksi satu sama lain dan juga untuk mencari inovasi. Pembangunan ruang dibuat lebih nyaman dan tersedianya pilihan tempat bagi pengguna untuk berinteraksi ataupun untuk menyendiri. Beberapa perpustakaan yang telah mengubah ruang yang dimilikinya menjadi ruang yang menekankan pada interaksi sosial dan teknologi adalah Seattle Public Library dan Delft Technical University Library (Latimer, 2. Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 Perubahan ruang perpustakaan yang pada awalnya digunakan untuk menyimpan koleksi, sekarang menjadi ruang yang menyediakan akses informasi dalam berbagai format dan sebagai ruang publik. Pustakawan harus mampu menyediakan ruang dan suasana yang menarik serta menyediakan ruang lainnya yang dapat digunakan untuk menyesuaikan dengan tren yang baru. Tujuannya agar dapat meningkatkan kebutuhan untuk belajar, sosial, dan penelitian. Perubahan fungsi ruang perpustakaan ini juga harus disertai dengan kesadaran dari pustakawan bahwa dirinya memiliki peran yang penting dalam perubahan fungsi ruang dengan mengamati bagaimana pengguna mereka memanfaatkan ruang perpustakaan dan mendengarkan kebutuhan dari penggunanya (Latimer, 2. Hal ini bertujuan agar semua yang dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan dapat disediakan oleh pustakawan, karena setiap pengguna tentunya memiliki variasi kebutuhan yang berbeda-beda. Agar ruang perpustakaan dapat menampung semua kebutuhan penggunanya diperlukan proses perencanaan yang baik. Salah satunya dengan melibatkan para ahli ruang dalam proses pembentukan ruang Pada kenyataannya perpustakaan saat ini membuat perencanaan ruang masih sama dengan model yang digunakan beradab-abad lalu, khususnya ruang perpustakaan yang digunakan untuk menyimpan buku dan hubungan antara pengguna dengan pustakawan masih berpusat pada meja pustakawan (Griffis, 2. Menurut Griffis . bahkan banyak pengguna perpustakaan merasa bahwa ruang yang ada di dalam perpustakaan merupakan ruang yang diperuntukkan untuk kebutuhan pustakawan. Pengguna selalu merasa diawasi ketika memanfaatkan koleksi oleh karena itu perpustakaan menerapkan model AuThe PanopticonAy yang digagas oleh Jeremy Bentham (Griffis, 2. Bangunan merupakan kreasi sosial sebagaimana halnya arsitektur. Mereka menstabilkan proses organisasi, mereka juga menstabilkan proses manusia khususnya interaksi sosial (Griffis, 2. Individu akan memberikan pola tindakan yang berbeda tergantung dimana mereka berada dan para ahli telah memikirkan hal ini ketika membangun ruang (Lawson, 2. Akan tetapi pustakawan ataupun orang yang berkaitan untuk mendesain ruang perpustakaan mungkin tidak terlalu memperhatikan hal tersebut. Mereka lebih berfokus pada hal-hal yang bersifat praktis seperti, koleksi perpustakaan dapat diakses dan terlindungi dari kerusakan dan kehilangan. Penelitian mengenai ruang perpustakaan sudah pernah dilakukan sebelumnya. Hickerson . melakukan penelitian mengenai desain ruang perpustakaan abad 21 yang hasilnya menunjukkan bahwa ruang perpustakaan khususnya perpustakaan perguruan tinggi sejak tahun 1970 hingga tahun 2020 terus mengalami perubahan. Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 Perubahan ini berkaitan dengan berkembangnya teknologi. Sehingga mengharuskan pustakawan untuk terus berinovasi menyesuaikan dengan lingkungannya. Penelitian lain yang berkaitan dengan ruang perpustakaan perguruan tinggi juga dilakukan oleh Maryatun . yang hasilnya menunjukkan bahwa perpustakaan harus mampu untuk memenuhi baik dalam segi kondisi fisik perpustakaan, ruangan perpustakaan, tata ruang, dan fasilitas ruangan perpustakaan. Penelitian yang berkaitan dengan ruang tidak hanya dilakukan pada perpustakaan perguruan tinggi tetapi juga dapat dilakukan pada perpustakaan khusus. Penelitian yang dilakukan oleh Noviani. Rusmana, & Rodiah . menyatakan bahwa ruangan perpustakaan yang memperhatikan unsur desain interior menarik minat pengguna perpustakaan untuk datang dan memanfaatkan Tempat penelitian yang dipilih pada penelitian ini adalah Perpustakaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Perpustakaan KPK merupakan perpustakaan khusus yang ada di Indonesia. Menurut Semertzaki . perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang berada dibawah lembaga tertentu dan memberikan pelayanan kepada anggota dari lembaga tersebut. Dipilihnya Perpustakaan KPK karena satu-satunya perpustakaan dengan subjek korupsi terlengkap di Indonesia. Selain itu ruangan Perpustakaan KPK jauh dari kesan kuno karena ruangan yang dibuat memiliki nilai estetika dengan adanya mural dan pemilihan furniture yang tepat memberikan kesan yang modern ketika pertama kali Maka dari itu, selain digunakan sebagai tempat penyimpanan koleksi ruang perpustakaan, seringkali dijadikan sebagai ruangan untuk wawancara dengan lembaga di luar KPK seperti kegiatan sarasehan pustaka, ruang kerja, ruang tunggu, ruang istirahat dan lainnya. Berdasarkan gambaran tersebut dapat dikatakan bahwa perpustakaan tidak hanya dijadikan tempat penyimpanan koleksi tetapi perpustakaan dapat berubah sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Untuk itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa ruangan perpustakaan yang pada awalnya kaku dapat berubah menjadi ruang perpustakaan yang fleksibel yang dapat menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna dan pustakawan. METODE PENELITIAN Penelitian mengenai perubahan desain perpustakaan KPK ini menggunakan metode Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, . ebagai lawannya adalah eksperime. di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi . , analisis data bersifat Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Penelitian studi kasus memungkinkan peneliti mendapatkan wawasan yang mendalam karena studi kasus melakukan penelitian secara mendalam, totalitas, intensif, dan utuh (Idrus, 2. Informan penelitian ini meliputi pustakawan dan anggota Perpustakaan KPK. Pemilihan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan memilih 3 pustakawan dan 3 pengguna perpustakaan. Adapun kriteria yang ditetapkan untuk pustakawan sebagai berikut pustakawan yang tugas utamanya melayani pengguna, pustakawan yang terlibat dalam pengambilan keputusan dan pustakawan yang melakukan kegiatan pengolahan. Sementara itu, kriteria untuk pengguna perpustakaan sebagai berikut: pegawai KPK, memanfaatkan koleksi perpustakaan, memanfaatkan ruangan perpustakaan dan mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh perpustakaan. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan melalui panggilan video pada 3 pustakawan Perpustakaan KPK dan melalui email pada 3 pengguna perpustakaan. Pertanyaan yang diajukan pada pustakawan terbagi menjadi tiga bagian yaitu pertanyaan mengenai perkembangan Perpustakaan KPK sejak pertama kali didirikan hingga saat ini, fungsi dan tugas perpustakaan, dan kegiatan yang terdapat di dalam perpustakaan. Untuk pengguna perpustakaan pertanyaan terbagi menjadi dua bagian yaitu pandangan mengenai Perpustakaan KPK dan kegiatan yang dilakukan di dalam Perpustakaan KPK. Selain melakukan wawancara, peneliti juga melakukan observasi untuk melihat kegiatan yang di dalam ruang perpustakaan dan bagaimana perilaku pengguna dan pustakawan di dalam perpustakaan. Data yang terkumpul selanjutnya akan dianalisis dan diinterpretasi. Analisis data kualitatif dapat dilakukan dengan beberapa tahap pertama analisis sebelum dilapangan, analisis data dilapangan, dan penarikan kesimpulan (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Seiring dengan perkembangannya, keberadaan perpustakaan tidak hanya dibutuhkan oleh pegawai internal KPK, namun juga pengguna eksternal, seperti akademisi, peneliti, praktisi, dan masyarakat umum untuk mencari informasi dan pengetahuan guna melakukan diskursus mengenai isu korupsi dan subjek lain yang terkait. Sehingga pada tahun 2014, pengelolaan perpustakaan berada di bawah Biro Hubungan Masyarakat dalam bagian Pelayanan Informasi dan Komunikasi Publik (PIKP). Meskipun pemanfaatan Perpustakaan KPK tidak lagi terbatas untuk pegawai internal KPK, tetapi sudah diperuntukkan bagi masyarakat umum tetap terdapat perbedaan pelayanan antara pegawai Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 internal KPK dengan masyarakat umum. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa fokus utama Perpustakaan KPK tetap kepada pegawai internal KPK itu sendiri. Ini sesuai dengan Undang-undang No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan yang menyatakan bahwa perpustakaan khusus memberikan layanan kepada pemustaka di lingkungannya dan secara terbatas memberikan layanan kepada pemustaka di luar lingkungannya. Pada tahun 2015 perpustakaan berpindah ke Gedung Merah Putih yang terletak di Jln. Kuningan Persada Kav. Kuningan Jakarta Selatan. Perpustakaan ini dalam lingkungan internal lebih dikenal dengan nama Perpustakaan K-4 sedangkan dalam lingkungan eksternal Perpustakaan KPK. Perpustakaan inilah yang hingga saat ini lebih dikenal oleh Perpustakaan KPK berperan sebagai pendukung terhadap tugas-tugas utama KPK sebagai lembaga antikorupsi. Peran Perpustakaan KPK sebagai pendukung terhadap tugas-tugas utama KPK. Adapun kegiatan yang dilakukan Perpustakaan KPK yaitu mengumpulkan serta mengelola data, informasi, dan pengetahuan publik mengenai Sehingga, perpustakaan dapat menjadi rujukan atau tautan utama para stakeholder, baik internal maupun eksternal. Perpustakaan KPK saat ini memiliki lebih dari 10. 000 koleksi yang terdiri dari buku, majalah, jurnal, terbitan KPK atau segala terbitan yang berkaitan dengan KPK seperti audio visual, peraturan, referensi, koleksi popular, koleksi anak, buku dalam bentuk PDF, dan board game antikorupsi. Perpustakaan KPK merasa belum mampu 100% memenuhi kebutuhan penggunanya. Hal ini dikarenakan kebutuhan pengguna selalu bertambah setiap Namun Perpustakaan KPK terus melakukan pengembangan dan inovasi untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Ini dapat dilihat dari jumlah koleksi yang setiap tahunnya semakin bertambah. Agar koleksi yang dimiliki dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pengguna maka Perpustakaan KPK melakukan kegiatan pengadaan, pengolahan, pelayanan, dan pemeliharaan koleksi. Tugas pustakawan saat mengelola koleksi, menyimpan koleksi, dan menyebarkan informasi di Perpustakaan KPK menggunakan bantuan teknologi informasi yaitu komputer dengan menggunakan Senayan Library Management System (SLiMS) sebagai pangkalan data. Saat ini perpustakaan menggunakan SLiMS versi 8 yang akan menuju Penggunaan SLiMS pada Perpustakaan KPK juga didesain menyesuaikan dengan kebutuhan Perpustakaan KPK. Penggunaan SLiMS ini dinilai merupakan langkah yang tepat karena tampilan SLiMS yang dapat dikatakan user friendly memudahkan pustakawan dan pengguna ketika menggunakannya. Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 Selain menggunakan SLiMS Perpustakaan KPK saat ini sedang merencanakan penggunaan Radio Frequency Identification (RFID) yang sudah sampai tahap pemeriksaan Tujuan dari digunakannya RFID adalah untuk menghadirkan layanan mandiri, dimana pengguna dapat meminjam buku secara mandiri tanpa bantuan pustakawan. RFID ini hadir sebagai salah satu jawaban dari keluhan pengguna yang mengatakan bahwa pustakawan tidak selalu ada ditempat ketika mereka ingin meminjam koleksi. Adanya pembaharuan-pembaharuan yang terjadi di dalam Perpustakaan KPK menunjukkan bahwa perpustakaan tersebut selalu berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik dengan cara memperhatikan kebutuhan penggunanya dan mengikuti perkembangan zaman. Perpustakaan KPK juga memiliki koleksi dalam bentuk elektronik seperti buku dalam format PDF, lagu, film, dan hasil digitalisasi. Pustakawan akan melakukan digitalisasi pada jurnal-jurnal eksternal yang memiliki kaitan dengan subjek korupsi. Namun. Perpustakaan KPK tidak melanggan jurnal elektronik. Pustakawan KPK beranggapan bahwa harga jurnal cukup mahal ditambah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sudah cukup banyak melanggan jurnal. Apabila Perpustakaan KPK melanggan jurnal yang sama seperti yang sudah dilanggan oleh Perpustakaan Nasional maka akan mengakibatkan duplikasi langganan. Maka dari itu, pustakawan memutuskan untuk menjalin kerjasama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia agar dapat memanfaatkan jurnal yang telah dilanggan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Selain menjalin kerjasama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Perpustakaan KPK juga menjalin kerjasama dengan 21 universitas di Indonesia dalam pertukaran data dan informasi yang terdiri dari Institut Pertanian Bogor. Universitas Indonesia. Universitas Gajah Mada. Universitas Trisakti. Universitas Paramadina dan lain-lain. Perpustakaan KPK selalu melakukan pemeriksaan terhadap koleksi yang dimilikinya setiap pagi, bertujuan untuk menjaga kualitas koleksi yang dimiliki. Apabila dalam proses pemeriksaan koleksi ada bahan perpustakaan dalam keadaan rusak atau tidak utuh maka bahan perpustakaan tersebut akan ditarik dan diganti dengan bahan perpustakaan yang Adanya kegiatan tersebut mengakibatkan koleksi yang ditampilkan pada rak merupakan koleksi yang bagus bahkan terkesan seperti koleksi yang baru. Pengelolaan koleksi yang secara keseluruhan dapat dikatakan baik menjadikan Perpustakaan KPK sebagai focal point. Ini berarti perpustakaan merupakan garda terdepan untuk segala penyimpanan dan persebaran informasi yang berkaitan dengan subjek korupsi dan subjek terkait baik di dalam lingkungan lembaganya. Kelengkapan koleksi yang dimiliki dan sebagai satu-satunya perpustakaan dengan subjek korupsi mampu menarik pengguna yang membutuhkan informasi mengenai korupsi maupun subjek terkait Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 untuk datang dan menggunakan koleksi yang ada. Hal tersebut dikarenakan terkadang pengguna yang datang berasal dari luar JABODETABEK. Perpustakaan KPK juga memiliki kegiatan sarasehan pustaka . eminar, bedah buku, workshop kepustakaa. yang rutin dilakukan sebanyak empat kali dalam satu tahun. Hadirnya kegiatan sarasehan pustaka ini tidak lain bertujuan untuk menyebarkan informasi yang berkaitan dengan korupsi, subjek terkait dan juga sebagai bentuk promosi Pada awalnya kegiatan tersebut hanya diperuntukkan bagi pegawai internal, tetapi pustakawan merasa bahwa hal tersebut juga dibutuhkan oleh pengguna eksternal. Maka kegiatan sarasehan pustaka tersebut dibagi menjadi dua kategori, untuk internal dan Selain memiliki kegiatan sarasehan pustaka. Perpustakaan KPK juga memiliki Newsletter merupakan terbitan bulanan mengenai judul-judul buku dan penjelasan singkat mengenai isi buku yang dimiliki oleh Perpustakaan KPK. Terbitan tersebut nantinya akan disebarkan melalui e-mail, website, dan KPK Corner. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa fungsi dan tugas Perpustakaan KPK memiliki kesamaan dengan yang dijelaskan di dalam Badan Standardisasi Nasional tahun 2009 tentang Perpustakaan Khusus Instansi Pemerintah. Secara keseluruhan fungsi dan tugas yang dijalankan oleh perpustakaan khusus berfokus pada pemanfaatan dan pengelolaan koleksi, penggunaan teknologi, dan kegiatan literasi Ketiga hal tersebut dapat ditemukan pada kegiatan sehari-hari di Perpustakaan KPK. Adapun dilaksanakannya fungsi dan tugas tersebut agar dapat mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan-kegiatan lembaga induknya. Fungsi dan tujuan ini adalah dua hal yang saling berdampingan apabila keduanya dapat dijalankan dengan baik maka manfaat akan keberadaan perpustakaan semakin dirasakan di dalam lingkungan Agar fungsi dan tugas perpustakaan dapat berjalan dengan maksimal maka perpustakaan juga memberikan layanan kepada penggunanya. Layanan perpustakaan pada umumnya dibagi menjadi dua yaitu layanan teknis dan layanan pengguna. Layanan teknis merupakan layanan back office perpustakaan, yaitu kegiatan yang berhubungan dengan persiapan penyajian bahan pustaka pada pemustaka, seperti kegiatan pengadaan dan pengolahan bahan pustaka. Sedangkan layanan pengguna adalah layanan jasa yang berhubungan langsung dengan pengguna dalam memanfaatkan koleksi yang tersedia (Rahayu. Anggraeni . Sumiati. Makariam, & Permatasari, 2. Pada perpustakaan KPK kegiatan mengelola buku hingga siap untuk dipinjam merupakan layanan back office. Sementara itu untuk layanan pengguna Perpustakaan KPK menyediakan lima jenis Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 Perpustakaan KPK menyediakan lima jenis layanan yaitu, keanggotaan, dalam layanan ini pengguna akan diminta datanya berdasarkan KTP atau SIM yang berlaku agar pengguna dapat memanfaatkan layanan dan fasilitas yang disediakan. Kedua sirkulasi, layanan ini digunakan untuk peminjaman koleksi, pengembalian koleksi, dan perpanjangan koleksi. Ketiga referensi, ini merupakan layanan jasa yang disediakan oleh Perpustakaan KPK untuk membantu pengguna dalam menemukan informasi yang Keempat KPK Corner, merupakan perpustakaan mini yang berada di beberapa universitas di Indonesia. Layanan ini merupakan salah satu langkah dari Perpustakaan KPK dalam proses penyebaran informasi. Kelima sarasehan pustaka, merupakan kegiatan penyebaran informasi dalam bentuk seminar, bedah buku, dan workshop kepustakaan. Kelima layanan tersebut sebenarnya sesuai dengan yang dijelaskan oleh Badan Standardisasi Nasional tahun 2009 tentang Perpustakaan Instansi Pemerintah hanya saja terdapat perbedaan penggunaan istilah dalam beberapa layanan. Dalam Badan Standardisasi Nasional disebutkan bahwa perpustakaan khusus layanan yang disediakan berupa layanan sirkulasi, layanan kesiagaan informasi, layanan referensi, layanan penelusuran informasi, dan layanan bimbingan pengguna. Tetapi fungsi layanan tersebut sebenarnya sama. Perpustakaan pada umumnya memiliki dua jenis sistem pelayanan untuk mengakses koleksi yaitu sistem pelayanan tertutup . losed acces. dan sistem pelayanan terbuka . pen acces. Pada kebanyakan perpustakaan khusus sistem pelayanan yang digunakan ialah sistem pelayanan terbuka dengan akses terbatas. Hal ini untuk lebih memberikan peluang kepada penggunaan yang lebih luas namun tetap terkontrol. Terbuka artinya siapapun dapat memanfaatkan koleksi yang ada, sedangkan akses terbatas adalah pengaturan terhadap proses pemanfaatan koleksi seperti fasilitas pinjam, fasilitas baca, fotokopi, dan sebagainya (Surachman, 2. Hal tersebut diterapkan oleh Perpustakaan KPK. Pengguna internal maupun pengguna eksternal diberikan kebebasan untuk mencari secara mandiri koleksi yang dibutuhkannya. Tetapi untuk pengguna eksternal akses terhadap koleksi dibatasi. Sistem pelayanan terbuka dengan akses terbatas ini juga dijelaskan dalam Undang-Undang No. 43 tahun 2007 mengenai pelaksanan kegiatan yang berkaitan dengan layanan di perpustakaan. Perpustakaan khusus memberikan layanan kepada pemustaka di lingkungannya dan secara terbatas memberikan layanan kepada pemustaka di luar Adapun jenis layanan yang disediakan oleh perpustakaan khusus yaitu layanan baca ditempat, layanan sirkulasi, layanan kesiagaan informasi, layanan referensi, layanan penelusuran informasi, dan layanan bimbingan pengguna (SNI 7469:2. Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 Memasuki abad ke-21 mulai banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan Perubahan tersebut juga berdampak pada bangunan dan ruang perpustakaan, fungsi, tugas dan layanan yang diberikan. Perpustakaan abad 21 sudah tidak lagi dikenal sebagai tempat penyimpanan buku. Menurut Worpole dalam Yemi-Peters. Omoniwa, & Achunmu . perpustakaan telah dipikirkan dan didesain ulang yang mengakibatkan terjadinya perubahan pada perpustakaan. Perpustakaan sekarang menyediakan berbagai macam layanan yang berbeda-beda, menggunakan berbagai macam media dan telah mencapai pengguna yang lebih beragam daripada sebelumnya. Menurut Latimer . perpustakaan di abad 21 telah merubah ruang yang awalnya digunakan untuk penyimpanan buku menjadi ruang yang digunakan untuk berinteraksi. Ruang tersebut mulai dialihkan sebagai ruang-ruang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan anggotanya. Perubahan tersebut bertujuan agar perpustakaan dapat terus Akan tetapi, perubahan tersebut juga menghadirkan tantangan dalam upaya menyediakan ruang yang menarik dengan suasana yang nyaman. Selain itu juga menyediakan ruang terbuka lainnya yang dapat mendukung pembaharuan dalam meningkatkan kebutuhan akan ruang pembelajaran, sosial dan penelitian. Pada awal abad 21 banyak literatur yang memprediksi akan terjadi kematian dari bentuk fisik perpustakaan. Pada kenyataannya, perpustakaan mencakup teknologi dan menjadikan teknologi sebagai hal yang menarik yang dikelola dengan baik di dalam bangunan fisik yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan semua. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan maker space, gaming rooms, dan ruang digital lainnya menjadi sangat berlimpah di perpustakaan umum dan perpustakaan akademik. Tidak hanya teknologi yang digunakan untuk meningkatkan layanan perpustakaan seperti layanan mandiri atau pengembalian koleksi atau peminjaman koleksi, tetapi ruang yang kaya akan teknologi memungkinkan pengguna untuk mempelajari dan mendapatkan kembali informasi secara efektif adalah syarat untuk perpustakaan di masa depan (Latimer, 2. Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Wolpore . dan Latimer . keduanya sama-sama memaknai perpustakaan di abad 21 sebagai perpustakaan yang keberadaannya sudah tidak lagi digunakan untuk menyimpan buku. Perpustakaan di abad 21 sudah menjadi sebuah tempat yang digunakan untuk interaksi sosial. Berikut ini merupakan perubahan perpustakaan menurut Karen Latimer di abad 20 dengan abad 21. Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 Tabel 1. Perubahan perpustakaan menurut Karen Latimer Library building : a changing typology 20th century 21st century Imposing Welcoming/relexed Stability/permanence Flexibility/transience Solitide Communal/choice Quite Zoned/Quite-Social Status quo Innovation (IT) Collections Connections Berubahnya ruang perpustakaan menjadi ruang yang digunakan untuk interaksi sosial seperti seminar, bedah buku, workshop, rapat dan lainnya memiliki kesamaan konsep dengan pemikiran ruang sosial yang dikemukakan oleh Lefebvre dalam bukunya The Production of Space. Lefebvre dalam buku The Production of Space mengatakan bahwa Au. space is a . productAy (Lefebvre, 1. Ruang merupakan sebuah produk. Selain itu Lefebvre juga mengungkapkan Auspace is social producedAy dan Auwe are spatial producedAy. Berdasarkan kalimat-kalimat tersebut dapat disimpulkan bahwa ruang dapat tercipta akibat adanya kegiatan atau interaksi antar individu. Sementara interaksi yang terjadi antar individu juga dapat menciptakan ruang. Ketika ruang tersebut telah terbentuk maka akan terus menjadi sebuah tempat yang kemudian kembali menjalani tahap Inilah yang dinamakan reproduksi ruang. Tanpa adanya reproduksi ruang, sebuah ruang tidak dapat dikatakan sebagai sebuah produk. Ruang dapat tercipta apabila adanya interaksi sosial. Interaksi sosial juga dapat menciptakan ruang. Maka dari itu unsur pembentukan ruang terdiri dari energy, space, dan time (Lefebvre, 1. Hal ini menunjukkan dalam proses pembentukan ruang akan membutuhkan atau menghasilkan energi dalam bentuk apapun agar interaksi sosial dapat terjadi yang nantinya akan berdampak pada pembentukan ruang. Selain itu ruang terjadi dalam momentum tertentu yang dapat dikelompokkan oleh waktu. Hal ini berarti ruang dapat tercipta ditempat yang sama dalam waktu yang berbeda. Ketika ruang tersebut sudah tercipta nantinya ruang akan terus berubah-ubah menyesuaikan dengan interaksi sosial yang terjadi di dalamnya karena ruang merupakan organisme yang hidup. Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 Terdapat tiga unsur yang mempengaruhi proses pembentukan ruang sebagai hasil dari produksi kegiatan sosial : Tabel 2 Unsur pembentukan ruang Perceived Space : Ruang yang diciptakan berdasarkan indera manusia. Apa yang dilihat, dirasakan, dan dialami secara berulang-ulang yang kemudian akan membentuk Conceived Space : Ruang yang tercipta di dalam pikiran manusia. Ini bersifat subjektif karena setiap individu memiliki persepsi atau khayalan yang ada di dalam pikirannya. Lived Space : Ruang dimana terciptanya interaksi antar manusia dengan cara yang berbeda Manusia dapat menciptakan ruang berdasarkan pengalaman, konsep yang diketahui dan dipahami berdasarkan kebiasaan dari orang-orang disekitarnya. Ketiga unsur tersebut bukanlah kategori yang terpisah melainkan ketiganya saling berdamping. Hal terpenting adalah bagaimana manusia bisa merasakan ruang yang ada disekitarnya. Rasa tersebut bisa didapat dari indera yang dimiliki tubuh, sehingga tubuh akan merespon terhadap sekitar untuk membatasi ruang yang mereka anggap ruang dan bukan ruang. Konsep perpustakaan abad 21 dan pemanfaatan ruang berdasarkan pemaknaan dari penggunanya dapat ditemukan pada Perpustakaan KPK. Fokus Perpustakaan KPK tidak hanya seputar koleksi yang dimiliki. Perpustakaan KPK sangat memperhatikan interior yang digunakan di dalam perpustakaan. Perpustakaan dengan kesan kuno tidak dapat ditemukan pada Perpustakaan KPK Ruangan yang dibuat terang dan memiliki banyak kaca dengan berbagai macam hiasan, pemilihan furniture, dan mural yang bertema korupsi mampu memberikan kesan yang terbuka dan modern. Perpustakaan juga memberikan beberapa tanaman sintetis untuk memperindah ruangan. Ruangan yang didesain sedemikian rupa mampu memberikan konsep yang berbeda dari kebanyakan perpustakaan. Desain perpustakaan ini tentu saja tidak terlepas dari peran pustakawan. Perpustakaan yang dianggap sebagai tempat yang digunakan untuk menyimpan buku dan identik sebagai tempat yang sepi kini perlahan mulai dikonsepkan ulang oleh sebagian Salah satunya adalah pustakawan di Perpustakaan KPK. Saat perpustakaan dibentuk pustakawan terlibat langsung dalam proses pembentukan desain ruang Dalam pandangan pustakawan Perpustakaan KPK, perpustakaan masa kini semakin berkembang dan bertambah fungsinya. Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 Pustakawan Perpustakaan KPK beranggapan bahwa fungsi perpustakaan saat ini dapat dijadikan sebagai tempat refreshing. Konsep ini muncul berdasarkan pengalaman dari pustakawan ketika berkunjung ke beberapa perpustakaan kementerian yang sudah didesain lebih modern. Menjadikan perpustakaan sebagai tempat refreshing dengan menyediakan tempat yang menarik dan nyaman, akan mendorong orang untuk AubetahAy dan kemudian akan tertarik untuk memanfaatkan koleksi perpustakaan. Ini menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran keyakinan dari pustakawan Perpustakaan KPK mengenai konsep Selain dijadikan tempat penyimpanan koleksi dan tempat refreshing. Pemaknaan berbeda mulai bermunculan di kalangan pengguna. Khususnya pengguna internal . egawai KPK). Pengguna biasanya menggunakan perpustakaan sebagai tempat untuk wawancara, tempat bertemu, tempat untuk menunggu, bekerja . o-working spac. , tempat transit, diskusi kepustakaan . edah buku, dan kegiatan literasi lainny. , wawancara dengan media, wawancara penelitian mahasiswa atau akademisi atau peneliti dan masih banyak lagi . ived spac. Hadirnya kegiatan tersebut berawal dari bagaimana manusia mempersepsikan sebuah ruang. Persepsi yang dibuat oleh pengguna ini belum tentu sama antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan persepsi terhadap ruang ini dipengaruhi oleh pengalaman yang terjadi berulang kali yang dirasakan oleh penggunanya, nantinya akan berpengaruh pada rasa kepemilikan akan ruang tersebut . erceived spac. Ketika memasuki ruangan Perpustakaan KPK, pengguna akan langsung melihat berbagai macam kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat berbeda setiap waktunya. Pada hari-hari biasa Perpustakaan KPK pada pukul 9-11 siang akan cenderung lebih sepi. Kegiatan yang terjadi di dalamnya hanya ada dua orang pustakawan yang sedang bekerja di meja sirkulasi ataupun satu hingga dua orang pengguna yang duduk di sofa perpustakaan sambil membaca majalah tempo terbaru. Memasuki jam makan siang, perpustakaan akan lebih ramai. Saat jam makan siang mulai banyak pengguna yang berdatangan ke perpustakaan dengan tujuannya masing-masing. Banyaknya pengguna yang datang pada saat jam makan siang menimbulkan lahirnya berbagai kegiatan. Kegiatan yang paling sering terjadi saat jam makan siang adalah berkumpul dan bercerita mengenai pekerjaannya hari ini, makan siang bersama diselingi dengan cerita ataupun diskusi lainnya yang bersifat non-formal . ived spac. Adanya interaksi sosial tersebut disebabkan oleh energi yang dikeluarkan oleh setiap pengguna yang menyebabkan munculnya berbagai macam kegiatan. Ruang yang pada awalnya merupakan ruang kerja bagi pustakawan pada waktu tertentu dapat berubah menjadi ruang sosial. Hal ini menunjukkan bahwa dalam proses pembentukan ruang memerlukan energy, space, dan Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 time (Lefebvre, 1. Hal ini juga menunjukkan bahwa ruang Perpustakaan KPK akan terus berubah-ubah menyesuaikan dengan interaksi sosial yang terjadi di dalamnya karena ruang merupakan organisme yang hidup. Sesuai dengan hasil wawancara dengan AuMenurut saya perpustakaan itu oase di tengah rutinitas kerja jadi saya lebih sering memanfaatkan perpustakaan untuk kegiatan bertemu teman kerja dan mengobrol singkat mungkin 60-70%. Sisanya untuk memanfaatkan koleksi baik baca di tempat atau pinjam. Ay (Wawancara dengan pengguna, 6 Mei 2. Pada Perpustakaan KPK kegiatan tersebut terjadi secara berulang-ulang dan terus Hadirnya kegiatan yang terjadi di ruang Perpustakaan KPK akan membentuk persepsi dari tiap pengguna yang datang dan memanfaatkan ruang perpustakaan . erceived Persepsi yang terbentuk nantinya akan berbeda antar pengguna karena pengalaman yang dimiliki juga berbeda. Ketika indera manusia bekerja maka otaknya akan memberikan pemaknaan pada ruang tersebut. Itulah yang terjadi pada pegawai KPK. Ketika memasuki ruang perpustakaan pengguna melihat bahwa ruangan tersebut tidak hanya digunakan untuk menyimpan dan memanfaatkan koleksi tetapi juga untuk interaksi sosial dan istirahat. Kegiatan tersebut dapat terjadi karena Perpustakaan KPK memiliki fasilitas yang mampu menunjang kegiatan tersebut. Misalnya Perpustakaan KPK memiliki sofa yang empuk dan cukup besar, sehingga indera yang dimiliki oleh pengguna akan langsung bekerja dan memberikan persepsi bahwa ruangan tersebut dapat digunakan untuk tidur atau sekadar beristirahat. Begitu juga dengan kegiatan yang mengakibatkan adanya interaksi sosial seperti diskusi formal ataupun diskusi non-formal. Pengguna melihat kegiatan tersebut dapat berjalan dengan mudah dan tidak mendapatkan larangan dari Sejak saat itu pengguna mulai mempersepsikan bahwa ruangan perpustakaan dapat digunakan sebagai ruangan untuk tidur, bertemu, berkumpul dengan teman, dan Fasilitas yang lengkap dan tidak adanya larangan dari pustakawan dalam memanfaatkan ruang perpustakaan menimbulkan rasa nyaman bagi pengguna. Sehingga pengguna menganggap perpustakaan sebagai ruang pelarian. Pengguna mulai menganggap bahwa ruang perpustakaan sebagai ruang milikinya . ense of belongin. sehingga dalam waktu satu minggu pengguna akan mengunjungi perpustakaan tiga sampai lima kali. Sesuai dengan hasil wawancara dengan pengguna. Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 AuRuangan paling sering saya datangi setelah ruang kerja karena bisa menjadi tempat yang sangat nyaman untuk rehat sejenak dari pekerjaan untuk sekedar duduk, mengobrol, atau membaca. Ay (Wawancara dengan pengguna, 4 Mei 2. Pada kenyataannya ruang perpustakaan sudah mulai digunakan untuk berbagai interaksi sosial. Namun, ketika pengguna diminta untuk menjelaskan mengenai apa yang terlintas di benaknya tentang perpustakaan, pengguna akan menjawab bahwa perpustakaan merupakan tempat koleksi buku atau tulisan yang di dalamnya terdapat fasilitas untuk membaca, meminjam atau menyumbangkan buku. Konsep perpustakaan seperti yang dijelaskan oleh pengguna merupakan konsep yang diketahui dan dipahami banyak orang . onceived spac. Pada Perpustakaan KPK telah muncul berbagai macam kegiatan dikarenakan tidak adanya larangan yang diberikan oleh pustakawan dan perpustakaan. Tidak adanya larangan yang diberikan oleh pustakawan menunjukkan bahwa telah terjadinya perubahan sikap pustakawan. Pustakawan menyadari apabila banyak larangan dalam memanfaatkan ruang perpustakaan akan menimbulkan rasa ketidaknyamanan bagi pengguna. Maka dari itu, pustakawan Perpustakaan KPK mengizinkan perpustakaan untuk dijadikan sebagai tempat pertemuan, tempat istirahat, ataupun tempat-tempat yang berpotensi menimbulkan Hal terpenting bagi pustakawan Perpustakaan KPK adalah perpustakaan tersebut dapat dimanfaatkan oleh penggunanya. AuPengalaman saya selama memanfaatkan perpustakaan sih tidak pernah dilarang ini itu ya karena harus tahu diri juga. Kalo sampe berkegiatan di perpustakaan dilarang-larang jujur aja sih malas datang ke perpustakaan. Ay (Wawancara dengan pengguna, 6 Mei 2. Alasan kedua yaitu, perpustakaan merupakan area publik. Area yang berada di dalam lingkungan lembaga KPK merupakan area yang tertutup dan terbatas. Tidak semua orang dapat mengakses area-area yang ada di dalam lingkungan lembaga tersebut. Maka dari itu, dijadikanlah perpustakaan sebagai area publik yang relatif mudah dijangkau oleh pihak internal maupun pihak eksternal dengan fasilitas yang cukup baik. Hal ini juga menunjukkan bahwa ruang perpustakaan bersifat welcoming (Latimer, 2. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa pustakawan menyadari bahwa konsep perpustakaan yang dulu jika diterapkan saat ini sudah tidak lagi sesuai dengan keadaan di lapangan. Sehingga baik dalam segi konsep perpustakaan dan aturan-aturan yang terdapat di dalam perpustakaan harus mulai berubah dan beradaptasi dengan kebutuhan yang ada. Hadirnya berbagai macam kegiatan di dalam ruang perpustakaan menyebabkan terjadinya interaksi sosial. Interaksi sosial yang terjadi di dalam perpustakaan tersebut Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 berupa interaksi yang terjadi antara pegawai KPK dengan pegawai KPK, pegawai KPK dengan pihak eksternal, dan pihak eksternal dengan pihak eksternal. Ini memiliki kesamaan dengan ciri perpustakaan di abad 21 yang dikemukakan oleh Latimer . mengatakan bahwa perpustakaan di abad 21 telah merubah ruang yang awalnya digunakan untuk penyimpanan buku menjadi ruang yang digunakan untuk berinteraksi. Selain memiliki kesamaan dengan konsep perpustakaan abad 21 yang dikemukakan oleh Latimer. Perpustakaan KPK juga memiliki kesamaan konsep yang diungkap oleh Worpole. Menurut Worpole dalam Yemi-Peters. Omoniwa, & Achunmu . perpustakaan telah dipikirkan dan didesain ulang yang mengakibatkan terjadinya perubahan pada perpustakaan. Perpustakaan sekarang menyediakan berbagai macam layanan yang berbeda, menggunakan berbagai macam media dan telah mencapai pengguna yang lebih beragam daripada sebelumnya. Penjelasan tersebut sesuai dengan Perpustakaan KPK, dimana konsep dari perpustakaan dipikirkan dan didesain ulang berdasarkan pengalaman dan pengamatan dari pustakawannya. Adanya perubahan tersebut mengakibatkan koleksi yang dimiliki mulai berkembang dan jenis layanan yang disediakan pun bertambah. AuJadi ketika perpustakaan mau dibangun di gedung baru KPK kita itu dikasih kebebasan penuh buat mendesain perpustakaan. Makannya kita pilih tuh semuanya yang bagus-bagus yang kesannya kekinian biar bikin perpustakaan itu jadi menarik. Kalo kata anak zaman sekarang biar bisa diupload di Instagram. Ay (Wawancara dengan pustakawan, 27 April 2. Konsep perpustakaan abad 21 Latimer menjelaskan bahwa terdapat perubahan tipologi gedung perpustakaan. Perubahan tersebut terdiri dari welcoming atau relaxed yang berarti gedung perpustakaan harus bisa menjadi sebuat tempat yang nyaman dan terbuka dalam artian siapapun boleh datang dan memanfaatkan fasilitas yang ada. Pada Perpustakaan KPK ciri tersebut dapat ditemukan. Dijadikannya perpustakaan sebagai area publik memberikan makna bahwa ruang perpustakaan dapat didatangi oleh berbagai macam kalangan baik pengguna internal atau eksternal. Ruang perpustakaan yang didesain modern dengan berbagai furniture yang digunakan serta tidak adanya aturan yang bersifat mengekang atau membatasi gerak-gerik pengguna menjadikan ruang tersebut terasa Perasaan nyaman nantinya akan menimbulkan rasa kepemilikan akan ruang tersebut . ense of belongin. yang nantinya akan membawa pengguna tersebut kembali mendatangi ruang perpustakaan . erveived spcac. Ruang Utama Perpustakaan KPK dapat dilihat pada Gambar 1 dibawah ini: Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 Gambar 1. Ruang Utama Perpustakaan KPK . umber: https://twitter. com/KPK_RI) Kedua, flexibility dapat diartikan sebagai ruang-ruang yang ada di dalam perpustakaan dapat diubah atau disesuaikan dengan kebutuhan dan trend yang ada. Ruang utama di Perpustakaan KPK mampu menampung 40 dengan tambahan mezzanine yang mampu menampung 10 orang. Keberadaan ruang tersebut khususnya ruang utama sering kali diubah menyesuaikan dengan kebutuhan. Apabila perpustakaan akan mengadakan kegiatan sarasehan pustaka maka ruang utama yang biasanya dipenuhi oleh sofa untuk istirahat, menunggu, ataupun bekerja akan ditata ulang. Sofa-sofa tersebut akan diganti dengan meja yang nantinya akan membentuk huruf U. Hal ini bertujuan untuk mempermudah proses diskusi ketiga kegiatan sarasehan pustaka sedang berlangsung. Pada Gambar 2 di bawah ini merupakan gambaran kegiatan sarasehan pustaka internal. Gambar 2. Sarasehan Pustaka Internal (Sumber : Dokumen Pribadi . ) Ketiga, communal yang dapat diartikan sebagai tempat untuk umum. Lingkungan lembaga KPK yang merupakan lingkungan yang tertutup dan terbatas, menjadikan perpustakaan sebagai area publik. Area tersebut merupakan area yang dapat dikunjungi oleh seluruh pegawai KPK dan masyarakat umum. Keempat, zoned ini berarti ruangan yang ada dikategorikan menjadi ruang yang digunakan untuk bersosialisasi dan ruang Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 yang digunakan untuk menyendiri. Pada Perpustakaan KPK pengkategorian tersebut tidak terlalu jelas. Namun, apabila diamati lebih lanjut ruang utama lebih sering digunakan untuk bersosialisasi dan ruang tambahan . digunakan untuk ruang menyendiri. Dikatakan demikian dikarenakan ruang tambahan jarang sekali didatangi oleh pengguna sehingga menjadikannya lebih sepi. Secara tidak langsung pengkategorian ruang sebenarnya telah terbentuk dengan sendirinya. Terdapat dua faktor yang membuat ruang tambahan . menjadi jarang Pertama, koleksi yang diletakkan di ruang tersebut merupakan bahan perpustakaan dengan subjek yang jarang dipinjam seperti sejarah, tokoh, koleksi populer, peraturan dan koleksi referensi. Koleksi utama dan yang paling sering dicari oleh pengguna berada di ruang utama. Kedua, ruang tambahan . berada di lantai atas dan tidak seluas ruangan utama. Kedua faktor tersebut membuat ruang tambahan . menjadi kurang diminati oleh pengguna. Sehingga berbagai macam kegiatan biasa dilakukan di ruang utama. Adanya perbedaan dalam pemanfaatan ruang ini dapat menimbulkan persepsi bagi pengguna bahwa ruang utama adalah ruang untuk interaksi sosial dan ruang tambahan . adalah ruang individu . erceived spac. Kelima innovation (IT), di dalam sebuah perpustakaan tentunya akan ada unsur teknologi yang terlibat di dalamnya. Pada Perpustakaan KPK sebenarnya penggunaan teknologi sangat terbatas. Pada Perpustakaan KPK tidak tersedia maker space dan gaming room (Latimer, 2. Tetapi Perpustakaan KPK memiliki ruang multimedia yang digunakan untuk menunjang koleksi dalam bentuk audio visual. Pada kenyataannya ruang tersebut tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Ruang tersebut lebih digunakan sebagai ruang istirahat ataupun berkumpul. Teknologi yang digunakan hanya untuk meningkatkan layanan perpustakaan seperti layanan mandiri, pengembalian koleksi atau peminjaman koleksi. Meskipun demikian Perpustakaan KPK tetap berupaya untuk meningkatkan penggunaan teknologi. Salah satunya dengan menggunakan RFID yang saat ini sedang dalam proses penilaian data. Terbatasnya penggunaan teknologi juga dapat dilihat dari tidak adanya jaringan Wi-Fi di dalam perpustakaan. Belum tersedianya jaringan Wi-Fi pada Perpustakaan KPK memiliki beberapa alasan yaitu, apabila dilihat dari segi lembaga keberadaan Wi-Fi di dalam perpustakaan belum menjadi prioritas karena sudah tersedianya jaringan Wi-Fi tersendiri bagi pengguna internal. Berdasarkan hal tersebut maka departemen Pengolahan Data dan Informasi KPK memutuskan bahwa keberadaan Wi-Fi di perpustakaan belum menjadi prioritas. Meskipun demikian pustakawan setiap tahunnya tetap berusaha untuk mengajukan pemasangan jaringan Wi-Fi. Secara keseluruhan apabila dinilai dalam bidang Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 teknologi Perpustakaan KPK masih sangatlah terbatas. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Latimer . yang menyatakan bahwa ruang yang kaya akan teknologi memungkinkan pengguna untuk mempelajari dan mendapatkan kembali informasi secara efektif, hal tersebut adalah syarat untuk perpustakaan di masa depan. Keenam, connections yang berarti perpustakaan tersebut dapat terhubung ke ruangan lain seperti kantin. Konsep ini sudah terjadi di beberapa perpustakaan misalnya EPFL Rolex Learning Centre di Lausanne. Ruang yang berada pada EPFL Rolex Learning Centre dapat terhubung dengan ruang lain yang ada di dalam gedung tersebut seperti bookshop, a learning technologies lab, the cafeteria, dan area belajar informal lainnya yang memungkinkan siswa-siswi dari berbagai macam disiplin ilmu untuk membaur tanpa adanya halangan (Latimer, 2. Pada Perpustakaan KPK konsep ini tidak dapat diterapkan karena keterbatasan yang dimiliki oleh gedung KPK itu sendiri. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut Perpustakaan KPK menyediakan pantry dan coffee maker agar nantinya ketika pengguna merasa lapar ataupun ingin minum, pengguna dapat menggunakannya tanpa harus pergi ke kantin. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa Perpustakaan KPK telah mencerminkan suatu growing organism, yang terus berkembang menyesuaikan dengan tuntutan pengguna. Koleksi Perpustakaan KPK tidak sekadar sebagai sumber informasi bagi penggunanya saja, tetapi dengan desain, furniture, fasilitas teknologinya berfungsi juga sebagai common room, tempat pengguna melakukan interaksi dan sosialisasi. Hal tersebut menjadikan Perpustakaan KPK memenuhi lima dari enam tipologi gedung perpustakaan abad 21 yang dikemukakan oleh Karen Latimer. Meskipun pada bagian teknologi. Perpustakaan KPK belum secara utuh mengadaptasi perkembangan teknologi ke dalam ruangannya. Hal tersebut bukanlah sebuah masalah karena baik pengguna maupun pustakawan sudah merasa cukup dengan teknologi yang dimiliki oleh perpustakaan saat ini. Kekurangan lain yang dimiliki oleh Perpustakaan KPK adalah Akibat keterbatasan ruang yang dimiliki maka tidak memungkinkan bagi Perpustakaan KPK untuk memenuhi tipologi tersebut. Kekurangan tersebut tidak menjadikan Perpustakaan KPK ditinggalkan begitu saja oleh penggunanya justru keberadaan Perpustakaan KPK saat ini semakin diperhitungkan keberadaannya di dalam lingkungan lembaga. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pengelola perpustakaan, terutama pengelola perpustakaan khusus. Seiring dengan perkembangannya, keberadaan Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 5 . 2020 perpustakaan tidak hanya dibutuhkan oleh pegawai internal saja, namun juga pengguna eksternal seperti akademisi, peneliti, praktisi, dan masyarakat umum. Selain itu juga perpustakaan tidak hanya untuk mencari informasi saja, namun juga untuk berdiskusi dan bekerja, sehingga ruang perpustakaan perlu didesain ulang. DAFTAR PUSTAKA