Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 13 No. Filsafat Pendidikan Politik Plato Sebagai Cara Untuk Menyiapkan Calon Pemimpin Indonesia Andika Setiawan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta *Corresponding email: setiawanandika802@gmail. Naskah diterima: 29 Maret 2021 | Disetujui: 25 April 2021 | Diterbitkan: 25 Mei 2021 Abstract This study aims to review the formulation of educational programs to prepare prospective leaders with Plato's philosophy of political education amid the problems of learning in Indonesia which is limited to rote practice so that it pays less attention to students' reasoning. Moreover, in this democratic regime students lack moral role models because many state officials commit corruption. This study is a descriptive qualitative research type of literature study. The primary sources are The Republic Plato, and secondary sources include books, journals, magazines, mass media, and writings relevant to the topic of discussion. The results obtained are . education and games have an important relationship in the learning process. the domain of discussion of Plato's political education philosophy refers to the human soul, so that its formation program is through music and gymnastics activities, then closed with dialectics as a provision for reasoning in society. Based on the analysis of Plato's political education philosophy which is integrated with the 2013 curriculum, to prepare virtuous future leaders, an offer of educational programs such as. reading the text of AlBarzanji Muslim or spiritual songs non Muslim. Pencak silat, and discussion in every lesson. Keywords: Leadership Candidates. Philosophy of Plato's Political Education. Students. Educational Program. Abstrak Penelitian ini bertujuan mengulas rumusan program pendidikan untuk menyiapkan calon pemimpin dengan filsafat pendidikan politik Plato di tengah problematika pembelajaran di Indonesia yang terbatas pada praktik hafalan sehingga kurang memperhatikan nalar peserta didik. Terlebih di rezim demokrasi ini anak didik minim figur teladan moral karena banyak pejabat negara yang melakukan Kajian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif berjenis studi literatur. Adapun sumber primer ialah The Republic Plato, dan sumber sekunder meliputi buku, jurnal, majalah, media massa, serta tulisan yang relevan dengan tajuk pembahasan. Hasil yang diperoleh adalah . pendidikan dan permainan memiliki hubungan yang penting dalam proses pembelajaran. domain pembahasan filsafat pendidikan politik Plato merujuk pada jiwa manusia, sehingga program pembentukannya melalui musik dan kegiatan gymnastike, kemudian ditutup dengan dialektika sebagai bekal bernalar dalam bermasyarakat. Berdasarkan analisis pada filsafat pendidikan politik Plato yang dintegrasikan dengan kurikulum 2013, untuk menyiapkan calon pemimpin yang bajik, maka lahir sebuah tawaran program pendidikan seperti. pembacaan teks Al-Barzanji muslim atau lagu-lagu rohani bagi non muslim, pencak silat, dan diskusi di setiap pembelajaran. Kata kunci: Calon Pemimpin. Filsafat Pendidikan Politik Plato. Anak Didik. Program Pendidikan 2656-9779 A 2020 The Author. Published by Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Program Pascasarjana IAI Sunan Giri Ponorogo. This is an open access article under the CC BY-SA 4. 0 license. DOI: 10. 37680/qalamuna. Filsafat Pendidikan Politik Plato Sebagai Cara Untuk Menyiapkan Calon Pemimpin Indonesia Andika Setiawan Pendahuluan Sekolah merupakan tempat yang tepat untuk menyiapkan dan mendidik calon pemimpin di masa depan (Nanik, 2013, p. Plato mengungkapkan bahwa untuk menyiapkan calon pemimpin, metode pembelajaran yang digunakan perlu mengarah pada pusat jati diri manusia, yaitu jiwa. Hal tersebut karena jiwa mempunyai karakteristik elastis dan mudah untuk dibentuk. Maka, pendidikan hendaknya memiliki visi yang jelas mengenai cara menyentuh dan mengarahkan jiwa anak didik menuju tujuan dan cita-cita (A. Wibowo, 2. Selain itu pembelajaran di Indonesia menurut pengamat pendidikan Mohammad Abduhrazen masih terlalu kaku, birokratis, dan hampa makna (Dewi, 2. Pendidikan di Indonesia juga terpaku pada praktik hafalan sehingga kurang nalar (A. Wibowo, 2. Bahkan kualitas pendidikan saat ini memperihatinkan dan mengalami kemerosotan moral dengan adanya tawuran di kalangan anak SMP hingga SMA (Sujarwo, 2. Permasalahan pendidikan terus berlanjut ketika pemimpin dan pejabat negara berbondong-bondong melakukan praktik korupsi sehingga berdampak buruk pada sektor pendidikan. Padahal melahirkan pemimpin yang berkebajikan merupakan hal yang sangat hal penting. Oleh karena itu, filsafat pendidikan politik Plato yang coba diintegrasikan dengan kurikulum 2013 berupaya merumuskan program pendidikan untuk menyiapkan calon/kader pemimpin berkarakter bijak serta bernalar bagi Indonesia di rezim demokrasi. Hal ini erat kaitannya dengan sistem politik. Ranciere . mengatakan AuThe evils of which our AodemocraciesAo suffer are primarily evils related to the insatiable appetite of oligarchs. Ay De facto. Rezim demokrasi bersifat praktik oligarki, baik di sisi partai kanan maupun kiri (Indiyastutik, 2. Ranceiri . menganalisis terdapat kaitan antara hasrat yang tidak terbatas dengan pelanggengan kekuasan menggunakan kendaraan demokrasi yang oligarkis. Dijelaskan pula oleh Plato . bahwa demokrasi memang menghasilkan orang yang memiliki hasrat . tau nafs. tidak terbatas akan uang . Dalam buku Vi The Republic, rezim uang dalam rumusan Plato secara jelas mengarah pada oligarki, namun kerangka bangunan dapat ditemui pada dua sistem rezim yang berbeda, yaitu timokrasi dan demokrasi (Nugroho, 2. Di sisi lain. Plato . juga mengatakan bahwa siapapun yang ingin membangun suatu negara, terlebih dahulu dia harus menemukan jalan ke negara demokrasi, maka dengan demikian bangsa dapat berkembang. Bagi pemikir dan filsuf, rezim demokrasi menjadi rumah yang baik, sebab seorang individu dapat berpikir bebas dan menulis dengan sesuka hati tanpa ada pengganggu (Strauss, 1. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, banyak ditemukan pemimpin dan pejabat negara yang melakukan korupsi. Berdasarkan penuturan peneliti ICW (Indonesia Corruption Watc. Wana Alamsyah, setidaknya terdapat 169 kasus korupsi di Indonesia selama periode semester I 2020 (Mashabi, 2. Sebagian besar pelakunya adalah lulusan pendidikan tinggi (Taselan, 2. Dengan adanya kelemahan demokrasi, pendidikan di rezim ini menjadi penopang dari manusia yang beradab dan mendorong anak didik mewarnai peradaban (Wattimena, 2012, p. Muliadi, 2019. Hal itu memungkinkan pembelajaran yang menjurus pada pendidikan karakter dan model program untuk mewujudkannya. Dipandang dari sudut manapun, tidak ada pemimpin besar yang tidak lahir dari suatu pendidikan (A. Wibowo & Cahyadi, 2. Adapun tulisan mengenai filsafat pendidikan politik Plato ini, bukanlah yang pertama kali. Sejauh penelitian penulis, terdapat beberapa tulisan yang menyinggung persoalan pemikiran Plato Di antaranya yang pertama ialah gubahan A. Wibowo . yang berjudul Paideia: Filsafat Pendidikan-Politik Platon. Secara spesifik dia memaparkan filsafat pendidikan-politik Plato Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 13 No. dengan dua kutub yang saling bertaut, yaitu mendidik calon pemimpin dan memikirkan keadilan. Pada awalnya Wibowo menyajikan problematika pendidikan Indonesia di tengah tantangan teknologi dan demokrasi. Kemudian dilanjutkan penjelasan mengenai cara memperbaiki sistem politik menggunakan paideia . dengan metode paidia . berupa musik bagi jiwa dan gymnastike untuk tubuh sebagai upaya mendidik moralitas anak didik. Dengan metode tersebut, diharapkan muncul pemimpin yang adil untuk membenahi tatanan masyarakat dan menarik perhatian orang banyak, demi mengikuti cerminannya. Namun, di gubahan tersebut tidak dijumpai usulan penyisipan pemikiran Plato ke dalam kurikulum pendidikan Indonesia, hanya sekadar pemaparan tanpa mencoba menyandingkan dan mengombinasikan ke lingkup yang jelas. Sehingga kesimpulan yang didapatkan hanya terdapat dua poin, yaitu paideia sebagai penghasil figur pemimpin yang tidak memiliki syahwat berkuasa dan tawaran memikirkan polis dari dinamika kesukaran negeri. Kedua, tulisan Haryanto Cahyadi . berjudul Paideia: Mendidik Negarawan Menurut Platon. Secara garis besar, isi dari tulisan terbut menjelaskan tentang calon negarawan kalos kagathos . lok dan bai. yang dibentuk menurut paideia Plato. Sofistik, dan Homerik-Sofistik. Telah dijelaskan secara detail oleh Cahyadi berdasarkan dialog Plato yang menyampaikan sinyal bahaya atas paideia sofistik karena kecerdasan menyusun sistem pendidikan formal tetapi lemah perihal dasar intelektual dan moral dalam pengajarannya. Begitu juga kritik Plato terhadap paideia homeriksofistik yang secara sepihak mengklaim telah memberikan pengetahuan sejati tentang keutamaan Penekanan esai terletak pada bagian paideia sebagai peristrophe-periagoge . embalikan dan Tanpa adanya kategori tersebut, paideia Plato akan sia-sia. Dalam paideia Plato, tahapan formasi eros sangat berguna karena istilah tersebut berdasarkan pada pendidikan karakter. Formasi eros bertujuan membentuk jiwa anak agar mencintai keluhuran, lebih peka sosial, berani, adil, jujur, dan bijaksana. Pada pendidikan dasar, anak didik dan dilatih melalui permainan kreativitas yang mengasyikkan . ousike dan gymnastik. untuk menumbuhkan sikap luhur dan berbudaya. Jika pendidikan dasar sudah dianggap tuntas, pendidikan selanjutnya ialah mengenai ilmu hitung dan Namun, dalam hal ini Cahyadi tidak memformulakan teori pendidikan politik Plato ke dalam kurikulum Indonesia, sehingga kesimpulannya hanya berupa rangkuman-rangkuman penjelasan sebelumnya. Ketiga, karya ilmiah A. MusyafaAo Fathoni . 0, p. 98Ae. yang berjudul AuIdealisme Pendidikan PlatoAy. Artikel tersebut mencerminkan penjabaran idealisme Plato dan kaitannya dengan Berdasarkan analisis Fathoni, ditemukan kesimpulan bahwa terdapat kesamaan antara tujuan konsep pendekatan filsafat pendidikan Plato dan filsafat pendidikan Islam, karena sama-sama bertujuan mengarahkan anak didik menuju kebenaran hakiki. Pada tingkat dasar, anak didik diberi materi permainan, sedangkan pada jenjang berikutnya diberikan materi dialektika. Kurikulum idealisme Plato tidak diperuntukkan pada semua masyarakat, namun hanya untuk kalangan yang memiliki strata sosial tinggi. Menurutnya, model pendidikan Plato bertentangan dengan program pemerintah yang meliputi perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Di era globalisasi saat ini, idealisme Plato sulit direalisasikan karena berkembangnya industrialisasi, teknologi, dan laku materialistik yang mendominasi kehidupan modern. Berdasarkan hal tersebut, penulis menyesalkan sikap pesimistis Fathoni terhadap apa yang telah dibahas, bahkan tidak memberikan solusi untuk memecahkan masalah pendidikan di Indonesia. Sehingga kesimpulannya hanya sebatas menerangkan konsep idealisme Plato yang telah dijabarkan sebelumnya. Filsafat Pendidikan Politik Plato Sebagai Cara Untuk Menyiapkan Calon Pemimpin Indonesia Andika Setiawan Keempat, tertuang dalam makalah Heather L. Reid . 7, p. 160Ae. AuSport and Moral Education in PlatoAos RepublicAy. Makalah Reid mencoba mengulik secara detail alasan gymnastike dapat dikatakan sebagai pendidikan moral. Sesuai tujuan yang diingkan Socrates, gymnastike didirikan untuk melatih keharmonisan jiwa, dan bukan kepentingan tubuh semata. Reid juga ingin menunjukkan bukti, olahraga dapat membantu bidang pendidikan, integritas pribadi, prestasi akademik, dan kepentingan publik. Reid juga menyampaikan bahwa, olahraga dapat membangun karakter atau menumbuhkan arete . nggul/keunggula. Menurut Plato, arete merupakan kualitas yang membuat individu menjadi baik dan bahagia. Poin utama dari arete adalah keunggulan moral. Semua yang disampaikan oleh Plato terhadap arte merupakan tujuan dari pendidikan. Reid mengungkapkan bahwa, dasar anggapan Plato mengenai olahraga dapat menumbuhkan karakter, yaitu: . karena dia seorang atletik. jiwa merupakan sumber gerak tubuh. arete sebagai keutamaan jiwa, sehingga sangat identik dengan tubuh dan olahraga menjauhkan perasaan kantuk. Berdasarkan hal tersebut. Plato menyampaikan pendapat bahwa pendidikan moral adalah pendidikan Socrates menggambarkan arete menjadi 3 bagian, yaitu rasional/yang mencintai kebijaksanaan, cinta akan kehormatan, dan menyukai kesenangan. Jenis pemerintahan dan jiwa yang buruk merupakan tindakan rakus terhadap hukum. Plato mengkritik hal tersebut dan mencegahnya dengan Kesimpulannya, olahraga berkontribusi terhadap tujuan pendidikan Plato. Namun, tidak memperhatikan kurikulum, hanya berbicara dikotomi pendidikan yang tumbuh di Barat tahun 2007. Berdasarkan paparan di atas, penulis tidak menemukan pembahasan intens mengenai filsafat pendidikan politik Plato yang diintegrasikan dengan kurikulum pendidikan melalui sebuah analisis dalam konteks Indonesia. Sejumlah tulisan di atas hanya berkutat pada masalah pemahaman tentang konsep paideia untuk melahirkan pemimpin/negarawan, kritik pendidikan di Indonesia, tawaran memikirkan polis, menyibak sebab alasan Plato memasukkan olahraga ke dalam pendidikan moral, dan dikotomi pendidikan. Perbedaan terlihat jelas ketika menjelaskan konsep paideia dalam filsafat pendidikan politik Plato, alegori gua, menyinggung kurikulum yang berlaku di Indonesia, dan mendialogkan antar ketiganya sebagai bahan pertimbangan tawaran penulis terhadap pembentukan karakter . anak didik yang diharapkan mampu menciptakan calon pemimpin yang bijak . rete/ugahar. Seperti yang diungkapkan Horn, bahwa pendidik dan anak didik sepatutnya memberikan saran untuk menangani pengendalian masalah pembelajaran (Mason, 2. Goodlad juga mengungkapkan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab terhadap tatanan sosial . , namun umumnya hanya menekankan perkembangan individu (Ornstein & Hunkis, 2. Konsep Pemimpin dan Filsafat Pendidikan Menurut Aspizain . , pemimpin merupakan individu yang memiliki kecakapan mempengaruhi kelompoknya untuk mengerahkan usaha ke arah tujuan bersama. Sunarta . 3, p. menjelaskan bahwa pemimpin adalah orang . yang memimpin sebagai bentuk manifestasi kepemimpinan institusi dan determinan terhadap tujuan organisasi, baik jangka panjang, menengah, atau pendek. Gibson et al. , . mengatakan AuLeader are agents of change. person whose acts affect other people more than other peopleAos acts affect them. Ay Handoko . memaknai kepemimpinan sebagai bagian penting dari manajemen, tetapi jauh berbeda dengan manajemen. Menurutnya, kepemimpinan merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja demi mencapai tujuan dan sasaran. Underdal . mendefinisikan AuAs an Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 13 No. asymmetrical relationship of influence in which one actor guides or directs the behavior of others toward a certain goal over a certain period of time. Ay Pada dasarnya, teori kepemimpinan merupakan studi tentang individu yang mempunyai karakteristik mental, sifat, dan posisi tinggi dalam satu komunitas kelompok instituti/organisasi/negara sehingga dapat mempengaruhi anggota/rakyat untuk bertindak menuju tujuan pada skala periode tertentu (U. Wibowo, 2. Menurut Plato . , memilih calon pemimpin harus dari keturunan yang baik, cinta kebijaksanaan, cinta pengetahuan/tekun belajar, cinta kebenaran, benci kebohongan, memiliki daya ingat yang bagus, dan mempunyai keunggulan moral. Berdasarkan aspek-aspek calon pemimpin tersebut, dalam psychologycal theory dijelaskan bahwa setiap orang berpeluang menjadi pionir jika sifat dan perilakunya dinilai pantas seperti keteladanan, fisik, emosi, dan intelektual (Djohan, 2. Sehingga, menurut Deden Suherman . 9, p. 265Ae. sikap kepemimpinan calon pemimpin dapat diperoleh melalui pembelajaran dan pengalaman. Filsafat pendidikan merupakan kajian tentang problematika seputar pendidikan dan penentu nasib para pelajar yang berfokus pada ingin dibawa ke mana dan apa yang harus dilakukan pendidik. Filsafat pendidikan pada dasarnya menerapkan analisis filsafat terhadap realitas pendidikan (Kristiawan, 2. Fokus kajiannya berkisar pada struktur sekolah, pedagogi, dan kurikulum (Idris. Menurut Uzun . 4, p. filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang secara khusus membahas tentang pendidikan. Tidak hanya itu. Uzun juga menyampaikan bahwa pada filsafat pendidikan mencakup beberapa bidang meliputi bidang terapan yang membahas tentang pertanyaan-pertanyaan mengenai tujuan pendidikan, pedagogi, kebijakan pendidikan, pengembangan kurikulum, dan proses pembelajaran. Jhon Dewey berpendapat, filsafat dapat didefinisikan sebagai teori umum mengenai pendidikan. Menurut Goodlad, filsafat adalah titik pengambilan keputusan penetapan kurikulum untuk keberlanjutan di masa yang akan datang. Fungsi filsafat bagi pendidikan dapat dipahami sebagai dasar pengembangan kurikulum dan saling terikat dengan fungsi lain dalam pengembangan kurikulum. Hampir semua kurikulum dibangun berdasarkan filsafat, karena ia merupakan bagian inti dari kurikulum (Ornstein & Hunkis, 2. Penelitian ini bertujuan mengulas rumusan program pendidikan untuk menyiapkan calon pemimpin dengan filsafat pendidikan politik Plato di tengah problematika pembelajaran di Indonesia yang terbatas pada praktik hafalan sehingga kurang memperhatikan nalar peserta didik. Terlebih di rezim demokrasi ini anak didik minim figur teladan moral karena banyak pejabat negara yang melakukan korupsi. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan jenis studi literatur . ibrary researc. , sehingga sumber data yang diperoleh berasal dari teks. Sumber data dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah The Republic Plato, sedangkan data sekunder meliputi buku, jurnal, majalah, media massa, serta tulisan yang relevan dengan judul pembahasan. Data dari berbagai sumber akan diolah secara deskriptif analitik mengenai filsafat pendidikan politik Plato, kemudian diintegrasikan dengan kurikulum 2013, lalu ditarik kesimpulan. Filsafat Pendidikan Politik Plato Pendidikan . merupakan cara menuntun anak didik dari tempat gelap ke tempat terang . untuk mencapai kebenaran/kebijaksanaan . (Plato, 2. Hal yang menarik dalam sistem paideia, yaitu pendidik harus serius dan bersungguh-sungguh mendidik anak didik. Filsafat Pendidikan Politik Plato Sebagai Cara Untuk Menyiapkan Calon Pemimpin Indonesia Andika Setiawan Segala usaha yang telah dilakukan pada akhirnya merupakan ketentuan-Nya. Selain itu. Plato juga mengingatkan pentingnya pendidikan melalui permainan dan artifisial. Jika individu ingin menjadi pemimpin, maka perlu bermain secara serius melalui permainan yang berhubungan dengan pengajaran moral (Plato, 1. Program Pendidikan Sensibilitas dan Gymnastike Pada jenjang pendidikan dasar. Plato menekankan pentingnya mousike bagi jiwa dan gymnastike untuk tubuh. Perlu diketahui bahwa mousike tidak hanya terbatas pada seni musik semata, namun juga segala bentuk sastra termasuk puisi, syair, dan teatral . ragedi dan komed. Ada beberapa cara mengekspresikan mousike, salah satunya dengan cerita-cerita mitos. Mitos dapat menjadi pilihan dalam mendidik anak dari hati. Dengan mitos anak didik akan menemui banyak kisah tentang peringatan, penggambaran dewa atau pahlawan, pujian maupun sanjungan dari orang-orang baik di masa lalu. Dalam hal ini, pendidik harus berhati-hati dalam menceritakan mitos kepada anak didik, karena ingatan mereka cukup kuat dalam menagkap informasi sehingga sukar dihilangkan dan susah Dengan pertimbangan itu, mitos yang akan diceritakan kepada anak didik sebelumnya harus dipilih secara selektif, sebab tidak semua cerita di dalamnya berunsur baik (Plato, 2. Secara tegas Plato menolak mitos yang berisi kematian . ermasuk proses pembusukan manusia, di alam bawah atau hade. , kebencian-kebencian, dan kesedihan-kesedihan, karena calon pemimpin harus memiliki kebebasan berpikir . alam arti positi. serta takut akan adanya perbudakan dan bersifat menindas. Plato meminta untuk menghapus mitos yang berkisah tentang dewa-dewa yang kehilangan batas diri atau pahlawan yang suka korupsi dan gemar melakukan tindak asusila. Baginya cerita itu palsu dan jahat, bagaimanapun para dewa dan pahlawan mustahil jika melakukan perbuatan tidak senonoh. Plato juga menegaskan bahwa yang Illahi tidak akan pernah menampilkan kejahatan. Maka dari itu. Plato tidak bertanggung jawab atas suatu kejahatan (Plato, 2. Pengekspresian muosike selanjutnya melalui puisi dan syair. Untuk permulaan. Plato menganjurkan berlatih deklamasi narasi secara sederhana, imitatif, dan gabungan keduannya terkait imitasi representasi artistik. Selain itu, ada pula deklamasi berupa dialog, yang disebut sebagai seni tragedi dan komedi. Teatral merupakan drama yang menceritakan kisah-kisah puitis dalam sebuah Pemeran laki-laki dalam drama tidak boleh memerankan tokoh perempuan dan begitupun sebaliknya. Dalam memainkan peran, anak didik secara total harus meniru tokoh yang dikisahkan pada alur cerita. Namun, anak didik perlu memilih tokoh dengan karakter yang baik, berani, disiplin, bebas, dan tidak meniru perilaku yang buruk, seperti perbudakan maupun penindasan. Aktivitas mencontoh atau meniru merupakan sesuatu yang penting, karena akan menjadikan habitus pada diri, mulai dari sifat, ucapan, dan pikiran. Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan musabab yang ada. Plato hanya mengizinkan meniru orang-orang baik, dan menolak mencontoh orang-orang yang Plato juga menganjurkan calon pemimpin di setiap polis . aca: kota/negar. meneladani keutamaan-keutamaan/kebaikan-kebaikan tokoh. Pembiasaan-pembiasaan baik kepada jiwa dan tubuh dengan frekuensi yang tinggi, dapat menumbuhkan hasrat anak didik menuju yang diinginkan (Plato, 1. Sehubungan dengan musik. Plato melarang anak didik mendengarkan genre harmoni Lydia yang cenderung melo dan sedih. Tidak jauh berbeda, genre harmoni Ionia juga dinilai tidak cocok jika digunakan untuk mendidik para calon pemimpin, sebab hanya pantas diputar saat berbincang Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 13 No. santai dan berpesta. Plato menganggap musik Dorian dan Phrygialah merupakan jenis musik yang tepat untuk mendidik calon pemimpin, karena dapat memantik keberanian dalam menghadapi krisis hidup, kematian, dan menjadi pecinta keindahan. Selain itu. Plato beranggapan bahwa musik sebagai sarana pendidikan calon pemimpin agar dijauhkan dari unsur penyebab kemalasan dan merasa cepat Sehingga Plato meminta jenis musik yang berbahaya dihilangkan (Plato, 2. Menurut Plato, alat musik yang paling sesuai untuk mendidik calon pemimpin adalah lira dan sejenis seruling kecil. Secara tegas Plato menolak alat musik jenis flute. Plato menyarankan instrumen harmoni musik yang dipakai cukup menggunakan alat yang sederhana. Hal ini bertujuan apabila negara ideal terwujud, tidak perlu lagi mempertahankan profesi-profesi pembuat alat-alat Selain itu. Plato juga mengajak individu memahami ritme untuk mendukung keteraturan dan rasa keberanian (Plat. Plato yakin, ritme sangat berpengaruh kepada jiwa, baik harmonis maupun disharmonis. Keharmonisan ritme akan menghasilkan wacana yang tersusun dengan baik, keselarasan, dan keanggunan karakter. Berbanding terbalik dengan ritme yang terkesan disharmonis, justru akan menjerumuskan individu pada wacana buruk dan sifat tercela (Plato, 2. Plato berpendapat bahwa sesungguhnya sifat terpuji dan disiplin muncul dari ritme yang Calon pemimpin yang bernalar rasional dan memiliki kepekaan sosial akan selalu ada seiring dengan hadirnya musik dan puisi beritme bagus. Inilah kemudian yang menjadi alasan Plato jika mousike sangatlah penting bagi setiap anak. Bahkan sejak dini, anak-anak seharusnya sudah diberi pemahaman tentang mousike untuk menyiapkan insan kalos kagathos di masa depan. Hingga sampai pada puncak pendidikan mousike, yaitu cinta pada keindahan. Bagaimanapun mousike berpengaruh besar pada kehidupan, seseorang tidak dapat dikatakan sebagai pemain mousike jika belum bisa mengenali bentuk dan format dari keugaharian, keberanian, kebebasan, integritas, serta segala sesuatu yang berlawanan dengannya. Dari dua pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan calon pemimpin semestinya diawali dengan mempelajari mousike, yang bertujuan menanamkan karakter yang berbudaya dan bermoral (Plato, 2. Setelah pendidikan mousike selesai di usia dini sampai tujuh belas tahun, kemudian Plato menggiring anak didik mempelajari gymnastike dalam rentang usia delapan belas hingga dua puluh Gymnastike hanya bertujuan untuk menyempurnakan jiwa, bukan tubuh. Sebab, tubuh yang baik tidak menjamin adanya jiwa yang bagus. Sebaliknya, jiwa yang baik menjamin adanya tubuh yang bagus. Seperti yang telah disinggung di awal, bahwa postulat pendidikan filsafat Plato terletak pada jiwa, sehingga tidak benar jika dikatakan gymnastike dapat menyempurnakan tubuh dan jiwa. Di bagian ini, untuk pertama kalinya Plato membahas tentang makanan dalam mengolah fisik, seperti melarang menenggak minuman keras, karena mengandung alkohol yang dapat memabukkan. Selain itu menjaga tubuh agar tetap sehat, diet makan, kuat begadang, memiliki pendengaran dan penglihatan yang tajam, serta siap sedia dalam menghadapi tugas-tugas militer merupakan bagian penting dari menjaga tubuh. Dalam kegaiatan diet makan di serangkaian program latihan fisik. Plato melarang memakan makanan yang berbau amis, berlebih-lebihan dalam makan, dan menahan diri dari godaan hubungan seksual. Menjadi hal yang menarik bahwa Plato mengatakan kesederhanaan dalam makan turut menjadi wasilah menjaga kesehatan diri anak didik. Plato juga memperingatkan agar merawat tubuh sewajarnya, seperti halnya memberikan obat pada seorang pasien dengan dosis yang ditentukan (Plato, 2. Plato . kembali menegaskan, tujuan utama gymnastike bukanlah melatih fisik, namun untuk kepentingan jiwa. Jika tanpa latihan fisik, individu cenderung gegabah, dan pemarah. Anak Filsafat Pendidikan Politik Plato Sebagai Cara Untuk Menyiapkan Calon Pemimpin Indonesia Andika Setiawan yang tidak bisa mengarahkan thumos melalui latihan fisik, akan tumbuh menjadi individu penakut, begitu pun sebaliknya. Proses-proses itu tidak dapat dipisahkan dari kegiatan mousike. Dalam menyampaikan materi mousike dan gymnastike kepada anak didik, pendidik perlu memperhatikan takaran, jika berlebih akan membuat karakter anak tidak terkendali dan malas. Menurut Plato, pendidikan yang tepat dengan mengharmoniskan gymnastike dan mousike akan menjadi orang yang berbudaya sebagai pengawas . upervisor, epistate. dalam negara (Plato, 2. Bagi Plato . , individu dengan potensi demikianlah yang pantas memimpin sebuah negara. Alegori Gua: Metafora Pembelajaran Alegori gua menceritakan beberapa manusia yang sejak kecil terkurung di dalam sebuah gua dengan pencahayaan yang minim dalam kondisi terantai dari kaki sampai leher yang menyebabkan mereka tidak dapat bergerak dan pandangan hanya mengarah ke dinding gua. Mereka hanya diterangi api yang membelakangi tembok pembatas dengan ketinggian lebih rendah dibanding dinding gua yang memisahkannya dengan jalan setapak para budak pembawa benda-benda di balik tembok Benda-benda itu melahirkan bayang-bayang berkat nyala api yang terproyeksi ke dinding gua dan mereka menganggapnya sebagai realitas, termasuk suara para budak. Tidak mengherankan, karena sepanjang hidupnya hanya dihabiskan di dalam gua . ambaran orang tidak terdidi. Hingga akhirnya, secara kebetulah salah satu di antara mereka berhasil melepaskan diri dari ikatan rantai. Dia menoleh, mencoba melihat nyala api beserta sumber bayangan benda yang selama ini dia lihat. Setelah melihat itu, dia merasakan sakit pada mata dan leher . elukiskan pikiran yang mulai terbuka, permulaan paidei. (Plato, 2. Selanjutnya dia harus menapaki medan yang curam untuk mencapai mulut gua. Setelah sampai di luar mulut gua, kemudian mulai menatap ke arah matahari sumber dari semua cahaya yang ada di luar gua. Namun, matanya terasa sakit dan sementara waktu hanya bisa melihat bayangan benda yang ada di permukaan air. Dia mulai mampu melihat keindahan benda-benda di luar gua . isebabkan cahaya matahar. setelah terbiasa dengan lingkungan . roses paidei. Matahari pada dasarnya sulit untuk dilihat dengan mata, karena ia merupakan simbol dari sumber idea kebaikan yang bersifat melampaui esensi. Tawanan yang bebas dari dalam gua masih memiliki pekerjaan yang belum selesai, dia harus turun lagi ke dalam gua untuk mencerahkan tawanan lain. Meskipun ada yang mencemooh, menertawakan, dan menganggapnya gila karena menyampaikan kebijaksanaan pengetahuan. Plato menerangkan, sebelum kembali lagi ke dalam gua . engabdi dan mencerahkan masyarakat dengan kebijaksanaa. , pertama yang dilakukan adalah dengan mempelajari matematika, geometri dan astronomi agar memiliki pikiran yang tangkas, serta dialektika sebagai pendidikan tertinggi. Para pemimpin polis, seharusnya mendorong anak didik sebagai tunas muda untuk mencapai pengetahuan yang tinggi dan baik (Plato, 2. Melalui metafora ini. Plato . juga mengkritik keras gaya pendidikan kaum Sofis yang menganggap dapat memasukkan pengetahuan atau penglihatan mata kepada anak didik. Anak didik bukan seperti ember kosong yang siap diisi dengan air, karena baginya pendidik hanya bisa membebaskan daya atau membimbing. Plato . juga menegaskan bahwa pengetahuan atau ilmu akan berbahaya jika dimiliki individu dengan tujuan yang jahat. Oleh sebab itu, pendidikan tidak bisa dijauhkan dari keutamaan-keutamaan . jiwa manusia. Arete berkembang melalui latihan rutin Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 13 No. dan pembiasaan-pembiasaan. Keutamaan-keutamaan jiwa diimplementasikan lewat praktik pengetahuan (Plato, 2. Tawaran Pendidikan: Program Untuk Menyiapkan Calon Pemimpin Indonesia Pendidikan . dengan permainan . dalam The Republic memiliki hubungan yang sangat erat dan penting. Sebab terdapat sistematika yang terukur mulai dari aktivitas mousike, gymnastike . tletik, olaharag. , dan berpuncak pada dialektika (Krentz, 1998, p. Sedangkan dari segi bahasa. Brandwood . alam Krentz, 1998, p. menjelaskan bahwa paideia dan paidia memiliki akar kata dan konteks yang sama, yaitu paideuein, paidzen, pais, dan paides. Georges Loroux . alam A. Wibowo, 2. memahami bahwa paideia di Yunani umumnya mencangkup kurikulum pendidikan dan penyampaian kebudayaan setempat kepada generasi muda. Terkait dengan persoalan yang ada pada pendidikan di Indonesia, mulai dari satuan pendidikan dasar sampai atas, saat ini tengah menjalankan kurikulum 2013 setelah adanya perubahan kompendium di setiap periodenya (Alhamuddin, 2014, p. Rumusan produk dalam kurikulum 2013 meliputi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Pada bidang sikap, anak didik diharapkan memiliki keimanan kepada Tuhan yang esa, berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggung jawab. Pada ranah keterampilan mampu berpikir dengan baik, produktif dan kreatif di sektor yang konkret. Sedangkan pada ranah pengetahuan, anak didik diharapkan dapat menguasai pengetahuan, berwawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban (Kemendikbud, 2. Berdasarkan teori jiwa merdeka, rumusan tersebut selaras dengan pendapat Ki Hajar Dewantara tentang tujuan konsep pendidikan merdeka, yang menurutnya pembelajaran bermanfaat untuk memerdekakan hidup dan kehidupan anak didik, baik lahir maupun batin (Hendratmoko et al. , 2017, Merdeka lahir dan batin merupakan implikasi dari pendidikan yang mengutamakan sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Dalam pendidikan, sikap selalu beriringan dengan moral dan jiwa. Menurut Salam . alam Faradila et al. , 2. moral memiliki pengertian yang serupa dengan kesusilaan, memuat ajaran mengenai kebaikan dan keburukan sikap. Jiwa yang terdidik atau merdeka, menurut Ki Hajar Dewantara dapat menginisiasi jalannya individu untuk berpikir secara positif, berperasaan luhur dan indah, serta bertekad mulia (Hendratmoko et al. , 2017, p. Hal ini ekuivalen dengan pernyataan Plato . yang menurutnya, jiwa akan berjalan sesuai kehendak dewa dengan usaha yang dilakukan manusia. Dengan asumsi-asumsi tersebut, rumusan produk kurikulum 2013 di atas perlu berintegrasi dengan jiwa-jiwa yang merupakan domain filsafat pendidikan politik Plato agar anak didik mudah diarahkan/dinasehati, karena mereka memiliki fitrah yang membutuhkan bimbingan untuk mencapai kematangan intelektual, emosional, dan spiritual (Sifa, 2020, p. Secara normatif filsafat pendidikan politik Plato mengandung tuntunan bagaimana mendidik calon pemimpin. Hal tersebut juga berfungsi sebagai penata jiwa yang bertaut dengan moral anak didik. Mengajarkan sensibilitas . dan gymnastike kepada anak didik dalam tahapan filsafat pendidikan politik Plato, hakikatnya telah mengarahkan jiwa mereka menjadi pribadi yang baik. Berdasarkan analisis penulis, program sensibiltas dalam lingkungan muslim Indonesia ialah menggunakan teks Al-Barzanji, sedang di wilayah Nasrani memakai lagu-lagu rohani, begitu pun agama-agama lain. Kitab AlBarzanji merupakan karya sastra yang berisikan riwayat, salawat kepada Nabi Muhammad SAW, dan memiliki gaya serta irama khas (Mirnawati et al. , 2016, p. 471 & . Suasana akan menjadi khusyuk Filsafat Pendidikan Politik Plato Sebagai Cara Untuk Menyiapkan Calon Pemimpin Indonesia Andika Setiawan ketika Mahalul Qiyam dilantunkan setelah imam membaca lirik prosa kelahiran Nabi Muhammad SAW (Ashari, 2012, p. Umumnya, pembacaan Al-Barzanji diiringi musik rebana dengan ritme teratur dan harmoni yang indah. Mirnawati et al. , . 6, p. 480Ae. mengurai, dalam kitab Al-Barzanji terdapat eksistensi mitos jika dilihat dari semiotika Roland Barthes, sebab ada semacam komunikasi yang mengandung Sinyal ini semakin membuat kokoh kedudukan Al-Barzanji sebagai sarana membimbing jiwa anak didik. Sebelumnya telah dijelaskan bahwa mitos dari sudut pandang Yunani klasik selalu saja merujuk pada kisah-kisah para dewa dan kepahlawanan yang heroik, meskipun terkadang ada juga kisah yang menceritakan kejahatan, dan atas permintaan Plato cerita seperti itu kemudian Penulis menilai, dengan pembacaan Al-Barzanji secara rutin saat sebelum pembelajaran, jiwa anak akan terarah. Meraka akan meniru mimesis/artifisial sosok Nabi Muhammad SAW dengan keistimewaannya dalam teks tersebut. Merujuk program Plato selanjutnya, sesuai konteks Indonesia, pencak silat menjadi olahraga yang dekat dengan gymnastike dari segi fisik maupun jiwa. Pencak silat merupakan olahraga seni bela diri khas Indonesia yang mengandung aspek spiritual . etakwaan, keberanian/kepercayaan diri, dan persaudaraa. , dan budaya. Bahkan pencak silat dapat melatih ketahanan mental, membina jiwa ksatria, membentuk kedislipinan dan keuletan yang tinggi (Kholis, 2016, p. 76Ae. Merujuk pemahaman gymnastike Plato, tidak hanya untuk melatih otot, tetapi juga berguna mengarahkan Thumos merupakan bagian jiwa yang terkait dengan moral, terletak antara rasio dan nafsu perut/uang . Ia dipenuhi rasa bangga diri, harga diri/kehormatan, dan amarah-amarah tidak terkendali ketika melihat ketidakadilan (A. Wibowo, 2. Dengan pencak silat, anak didik diharapkan dapat mengendalikan thumos dan jiwanya akan terarah secara apik. Dialektika yang merupakan program pamungkas Plato sebelum turun ke lingkungan masyarakat seperti tersirat dalam alegori gua. Wibowo . yang menafsirkan dialektika Plato sebagai proses kemajuan berpikir melalui diskusi-diskusi sehingga para wicara pelan-pelan berkembang dari bayang-bayang sampai ke perubahan idea. Program dialektika ini dinilai selaras dengan kurikulum 2013, karena mengharuskan anak didik active learning. Pengajar memberikan fasilitas dengan membuatkan kelompok diskusi dalam setiap sesi pertemuan, dan masing-masing anak didik saling mempresentasikan ke teman-teman lain. Dari diskusi ini, anak didik dilatih bernalar, berpikir secara sistematis, dan memecahkan masalah suatu topik. Berdasarkan analisis dan integrasi filsafat pendidikan politik Plato dengan kurikulum 2013 seperti yang telah dikemukakan, maka muncul tawaran program pendidikan untuk menyiapkan calon pemimpin Indonesia pada rezim Hal tersebut meliputi pembacaan teks Al-Barzanji untuk muslim atau lagu-lagu rohani untuk non muslim, pencak silat, dan diskusi di setiap sesi pembelajaran. Berikut cara penerapan tawaran-tawaran tersebut. Jenis Program dan Pelaksanaan Pengorganisasian Pembacaan teks Al-Barzanji atau lagu-lagu rohani: MI/SD kelas 3Ae6 Alokasi waktu 60 Menit. Salah satu anak didik ditugaskan memimpin yang dipandu Dilakukan setiap dua kali dalam seminggu. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 13 No. Pencak silat: Dijadikan mata pelajaran muatan lokal. Pelatihan berjenjang dengan jurus baku IPSI dan kerohanian. MTs/SMP kelas 7Ae9 Diskusi: MA/SMA kelas 10Ae12 Setiap sesi pembelajaran. Pendidik memberikan kisi-kisi materi di pertemuan yang akan datang kepada anak didik. Anak didik rumpun sosial, dibebaskan membaca buku apapun, terpenting relevan dengan kisi-kisi materi berdasarkan sumber Memaparkan hasil diskusi kelompok ke teman-teman lain. Kesimpulan Sasaran utama filsafat pendidikan politik Plato adalah jiwa, maka program pendidikan . untuk menyiapkan calon pemimpin mengisyaratkan sebuah artifisial . imesis, imitas. yang diperoleh lewat mousike dan gymnastike untuk mengarahkan thumos. Jiwa selalu mengikuti apa yang diarahkan. Mousike, gymnastike, dan dialektika merupakan sebuah paidia . yang menjadi perpaduan dalam proses pendidikan tersebut. Dialektika dalam alegori gua menjadi komponen yang penting untuk bekal anak didik sebelum terjun ke dalam masyarakat. Selain dialektika, ilmu perhitungan seperti matematika juga dibutuhkan. Unsur-unsur tersebut memiliki keterkaitan dengan wilayah pembahasan rumusan kurikulum 2013, sehingga keduanya dapat Pembacaan teks Al-Barzanji atau lagu-lagu rohani sesuai dengan kepercayaan anak didik, ialah bagian dari mitos karena memiliki pesan tersurat bagi pembacanya dan percontohan keteladanan di dalamnya. Pencak silat bukan hanya soal fisik, namun juga berkaitan dengan melatih sikap dan jiwa. Nalar anak didik di lingkungan sekolah juga dapat dibentuk dengan diskusi bersama dengan cara guru membebaskan anak didik mengutarakan pendapat. Tiga tawaran program pendidikan hasil integrasi filsafat pendidikan politik Plato dan kurikulum 2013 dapat menjadi pertimbangan inovasi pembelajaran dalam mendidik anak agar tumbuh menjadi calon pemimpin Indonesia yang bijak dan bernalar. Referensi