Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 1. Nomor 2. Desember 2022, 114 - 123 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt Peran Guru Bimbingan Dan Konseling Dalam Penurunan Perilaku Bullying Dengan Pendekatan Psikoedukasi Wahyu Almizri1* . Firman1. Netrawati2 Abstrak Kekerasan yang terjadi pada remaja merupakan salah satu bentuk perilaku yang sering dijumpai dan kecenderungannya terus Salah satu kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah adalah bullying. Bullying adalah perilaku kekerasan yang dilakukan oleh seseorang terhadap sekelompok orang lemah secara berulangulang dengan memanfaatkan ketidakseimbangan kekuatan, yang dilakukan secara fisik, verbal atau psikologis. Guru bimbingan dan konseling berperan dalam memberikan bantuan kepada siswa agar mereka dapat mengenal dan menerima dirinya sendiri serta dapat mengenal dan menerima lingkungannya secara positif dan dinamis. Dan mampu mengambil keputusan. Mengarahkan dan mewujudkan diri secara efektif dan produktif untuk masa depan. Dalam kasus kekerasan yang terjadi khususnya bullying, tentunya hal ini menjadi urgensi bagi guru BK untuk dapat mengurangi perilaku tersebut, salah satunya dengan kelompok psikoedukasi. Tulisan ini akan memberikan tahapan-tahapan dalam pelaksanaan psikoedukasi karena tulisan ini merupakan kajian pustaka yang bersumber dari beberapa referensi. Kata Kunci: bimbingan dan konseling, psikoedukasi Abstract Violence that occurs in adolescents is a form of behavior that is often encountered and the trend continues to increase. One of the violence that occurs in the school environment is bullying. Bullying is violent behavior that is perpetrated by someone against a group of weak people repeatedly by taking advantage of an imbalance of power, which is done physically, verbally or psychologically. Guidance and counseling teachers have a role in providing assistance to students so they can know and accept themselves and can know and accept their environment positively and And being able to make decisions. Directing and realizing oneself effectively and productively for the future. In cases of violence that occur, especially bullying, of course this is an urgency for the counseling teacher to be able to reduce this behavior, one of which is with the psychoeducation group. This paper will provide stages in the implementation of psychoeducation because this paper is a literature review that comes from several references. Keywords: Guidance and Counseling, psychoeducation. Universitas Negeri Padang, almizri. wahyu@gmail. * Corresponding Author : Wahyu Almizri Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 1. Nomor 2. Desember 2022 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 1. Nomor 2. Desember 2022, 114 - 123 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt PENDAHULUAN Kekerasan yang terjadi pada remaja merupakan salah satu bentuk perilaku yang sering dijumpai dan trendnya terus meningkat. Kekerasan remaja merupakan penyebab kematian remaja tertinggi ke 4 di seluruh dunia dengan 200. 000 orang meninggal setiap tahunnya (World Health Organization, 2. Sementara di Indonesia kekerasan remaja diperkirakan mencapai 50% (UNICEF, dikutip dalam FK-KMK UGM, 2. Kekerasan remaja dapat terjadi di mana saja baik di sekolah, rumah, tempat bermain dan lain-lain. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan remaja sering kali terjadi di lingkungan sekolah. Sebanyak 50% siswa di seluruh dunia yang berusia 13-15 tahun atau sekitar 150 juta orang pernah menjadi korban kekerasan remaja di sekolah (UNICEF, 2. Pada tingkat Association of South East Asian Nations (ASEAN). Indonesia menempati posisi pertama kasus kekerasan di sekolah sebanyak 84%, angka tersebut lebih tinggi dari Vietnam dan Nepal, keduanya mencapai 79%, disusul Kamboja . %) dan Pakistan . %) (SINDO. Kekerasan remaja di sekolah terdiri atas beberapa jenis. Diantaranya kekerasan fisik, kekerasan psikologis, kekerasan seksual, dan bullying (UNESCO. Perilaku bullying merupakan kekerasan remaja yang sering terjadi di lingkungan sekolah. Bullying sendiri merupakan sebuah situasi dimana telah terjadi penyalahgunaan kekuatan yang dilakukan individu atau kelompok yang bertujuan untuk menyakiti orang lain (Yulia & Dewi, 2. Masalah bullying merupakan fenomena yang sering terjadi di seluruh penjuru dunia. Dalam UNICEF . , anak yang berusia 13-15 tahun pernah menjadi korban bullying dimana angka kejadiannya diperoleh data di Afrika . %). Amerika latin . %). Eropa dan Asia Tengah . %), serta di Indonesia . %). Dari data tersebut diperoleh bahwa Indonesia berada pada urutan ke-4 tertinggi angka kejadian korban bullying pada anak usia 13-15. Berdasarkan data yang dirangkum pada tahun 2018 menurut komisioner KPAI Retno Listyani kepada Tempo. co kasus kekerasan yang terjadi pada bidang pendidikan mengenai bullying di Indonesia, terdapat 41 kasus pelaku bullying dan 36 korban bullying Kompasiana (Oktaviana, 2. Namun pada tahun 2021 data yang dirangkum Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengenai kasus bullying yang terjadi di lingkungan sekolah sebanyak 17 kasus ditemukan dari 11 Provinsi. Tribun Jakarta. com (Liana, 2. Sedangkan penelitian yang dilakukan di sekolah oleh (Eldes, 2. mengenai Kontribusi Diri Terhadap Perilaku Bullying Siswa SMK Negeri 10 Padang, bahwa perilaku bullying siswa pada kategori sering dengan persentase 42,4%. Selanjutnya sebanyak 32,7% perilaku bullying siswa berada pada kategori sangat sering. Kemudian sebanyak 14,5% berada pada kategori jarang, 9,1% berada pada kategori kadang-kadang serta sebanyak 1,2% berada pada kategori sangat rendah. Selain itu Kaldera News . , mengatakan sebanyak 38,41% mengaku pernah menjadi pelaku tindakan cyberbullying, sadangkan 45,35% mengaku pernah menjadi korban bullying. Terkhusus provinsi Sulawesi Selatan. Farida Ohan peneliti Yayasan Indonesia Mengajar, melaporkan bahwa setiap hari 6-10 siswa mengalami dan melakukan bullying di lingkungan sekolah wilayah Makassar dan Gowa (SulselEkspres, 2. Menurut Hasanah & Sano . , ada beberapa faktor penyebab terjadinya remaja melakukan tindakan bullying seperti, faktor media sosial, faktor sekolah, lingkungan dan pergaulan dengan teman sebaya. Selain itu, bullying dapat disebabkan karena faktor individu termasuk ciri kepribadian buruk dan self Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 1. Nomor 2. Desember 2022 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 1. Nomor 2. Desember 2022, 114 - 123 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt kontrol yang rendah (Kendi, 2. Bullying juga terjadi di masa pandemi saat pembelajaran online maupun saat dimulainya kembali pembelajaran tatap muka. Kasus bullying khususnya cyberbullying semakin besar terjadi di masa pandemi Covid-19 dikarenakan meningkatnya penggunaan internet untuk pembelajaran jarak jauh sehingga risiko bullying rentan terjadi di ranah digital (Fitriyani & Nugraha, 2. Masa pandemi memberikan dampak buruk pada suasana hati Dimana seseorang dengan mudah mengalami depresi, kecemasan, dan marah yang mengakibatkan terjadinya peningkatan bullying. Sehingga saat diberlakukan pembelajaran tatap muka seseorang masih terbawa oleh suasana hati selama masa pandemi (Gillespie, 2. Semua faktor tersebut dapat memberikan dampak buruk bagi remaja. Remaja yang menjadi korban bullying akan mengalami gangguan mental maupun Adapun gangguan mental yang mungkin diderita pada korban bullying seperti depresi, rasa tidak aman dan kegelisahan sedangkan gangguan fisik yang dapat dialami yakni masalah tidur, penurunan semangat belajar hingga prestasi akademis (Nurlelah & Mukri, 2. Berdasarkan hasil wawancara pada salah seorang korban bullying, korban merasa sedih, malu, enggan untuk bersekolah, dan bertemu temantemannya bahkan berniat untuk pindah sekolah serta dapat berdampak pada psikologis remaja yang mungkin akan membuat remaja gagal/terhambat dalam pencapaian tugas perkembangannya (Zakiyah et al. Perilaku bullying terbagi atas tiga bagian. Amini . yaitu: . Secara fisik, seperti memukul, melempar, mendorong, mencubit, mencakar, menjambak, menendang, meminta dengan paksa apa yang bukan hak miliknya, . Secara verbal, seperti meneriaki di depan umum, mencemooh, menjuluki nama, menghina, menertawakan, menggosipkan, menuduh, . Secara psikologis, seperti mengancam, mengucilkan, mengabaikan Hal yang dilakukan untuk mengentaskan perilaku bullying tersebut diperlukan kerjasama berbagai pihak. Pihak yang berperan penting untuk mengentaskan perilaku bullying yaitu Guru BK, hal yang dapat diberikan yaitu memberikan layanan-layanan kepada siswa seperti layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, bimbingan kelompok dan konseling kelompok. Namun tidak hanya guru BK, personil sekolah dan orang tua juga berperan penting dalam pembentukan karakter siswa agar terhindarnya siswa dari perilaku bullying. Dalam tulisan ini dirangkum beberapa referensi yang berkenaan dengan peran guru BK khususnya dalam menurunkan perilaku bullying melalui pendekatan Kelompok psikoedukasi menjadi bagian integral dari pemberian layanan dibidang konseling, mengembangkan keterampilan untuk merancang pengalaman konseling yang tepat sangat penting bagi praktisi saat ini hususnya di sekolah. Kelompok psikoedukasi mencakup berbagai topik mencakup topik afektif, dan eksistensial, serta perilaku kognitif (Furr, 2. KAJIAN TEORI Perilaku Bullying Bullying merupakan kekerasan yang banyak terjadi pada masa remaja dan suatu hal yang sering dibicarakan. Bullying adalah suatu tindakan kekerasan yang dilakukan seseorang secara berulang-ulang kepada orang yang dianggap lebih lemah dari dirinya. Perilaku bullying tersebut merupakan hasrat atau keinginan seseorang melihat orang lain menderita, merasa terancam oleh tindakannya arti bullying dalam bahasa Indonesia berarti perundangan, penindasan. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 1. Nomor 2. Desember 2022 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 1. Nomor 2. Desember 2022, 114 - 123 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt perisakan atau pengintimidasian (Aulia dkk, 2. Sebelum seseorang melakukan tindakan bullying terdapat tandatanda yang perlu dipahami. Hal tersebut berguna untuk mempermudah dalam mengetahui dan mencegah sebelum terjadinya tindakan bullying. Olweus (Heriansyah, 2. berpendapat terdapat tiga unsur bullying yaitu menyerang secara negatif, dilakukan berulangulang, dan tidak seimbangnya kekuatan antara pelaku dan korban. Di dalam buku Amini . menyatakan ada beberapa kelompok aspekaspek bullying yaitu . bullying Fisik yang merupakan bullying yang tampak, bisa dilihat oleh mata karena terjadinya kontak fisik antara pelaku dan korban. Contohnya memukul, berbuat kasar, meludahi, memalak, melempar dengan . bullying verbal yang merupakan bullying yang dilakukan melalui katakata, dan dapat terdengar. Kalimat yang dikeluarkan dapat berpengaruh buruk terhadap korban. Contoh perilaku bullying verbal: memaki, menghina, menjuluki, menuduh, menebar gosip, memfitnah. Contoh kalimat bullying verbal seperti dasar gendut, dasar kurus, bodoh dan lain sebagainya. bullying mental/psikologis, ini tidak tidak tampak oleh mata dan tidak bisa terdengar oleh kita, karena bullying mental ini terjadi tidak disadari oleh orang lain. Contohnya: memandang sinis, memandang penuh ancam, mempermalukan di depan umum, mendiamkan, mengucilkan, meneror. Perlu kita ketahui apa faktor yang menyebabkan perilaku bullying di kalangan siswa, agar kita sebagai guru, orang tua dapat mengatasi terjadinya tindakan bullying. Seorang anak menjadi pelaku bullying umumnya memiliki tenang yang lebih dari teman-temannya. Ketika menjadi pelaku bullying tidak jarang anak menjadi bangga terhadap dirinya, anak merasa dirinya lebih dari orang-orang. Amini . menyatakan sumber terjadinya bullying yaitu orang tua, dapat dilihat dari bagaimana orang tua dalam menegakkan disiplin pada anak, seperti orang tua menerapkan metode pola asuh otoriter, dapat kita ketahui anak adalah peniru yang baik, mereka akan menerapkan apapun yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. Jika kita mendidik anak dengan keras maka akan terbentuklah anak yang keras, sehingga kemungkinan besar anak akan mempraktekannya dalam tindakan bullying dan pada umumnya pelaku bullying anak yang temperamental. Mereka melakukan bullying kepada orang lain untuk melampiaskan rasa kekesalan dan kekecewaannya. Terkadang karena mereka tidak memiliki teman maka mereka melakukan bullying agar terlihat berani dan banyak yang ingin menjadi pengikut sehingga terbentuklah kelompok (Almizri & Karneli, 2. Dewi . menyatakan karakteristik perilaku bullying dan korban bullying yaitu pada pelaku bullying, suka mengambil keuntungan dari orang lain, hanya memikirkan diri sendiri, melukai fisik maupun psikologis seseorang, selalu melihat orang lemah daripada dia, tidak bertanggung jawab atas perbuatannya, tidak memikirkan masa depan, suka mencari perhatian dan merasa berkuasa di lingkungan pertemanannya. Lalu pada korban bullying, anak yang tidak bisa membela dirinya dari pelaku bullying sehingga dapat berpengaruh pada emosi korban, korban merasa geram, merasa selalu dalam bahaya, merasa malu, bahkan jika berlarut-larut lama kelamaan akan berdampak pada sulitnya korban melakukan interaksi dengan seseorang, dan merasa rendah diri. Dalam perilaku bullying ini tentu banyak dampak yang muncul. Menurut Simbolon . dampak bullying bagi pelaku yaitu pelaku merasa akan merasa malu, dalam lingkungan sosial pun pelaku akan merasa terhukum seperti Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 1. Nomor 2. Desember 2022 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 1. Nomor 2. Desember 2022, 114 - 123 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt dikucilkan, dan kemungkinan besar nantinya pelaku bullying berpotensi menjadi seorang kriminal. Coloroso . juga mengatakan bahwa dampak yang diterima oleh pelaku bullying yaitu pelaku tidak dapat untuk mengembangkan hubungan yang baik, kurang cakap untuk memandang dari perspektif lain, tidak memiliki empati, serta menganggap dirinya kuat dan disukai, sehingga dapat mempengaruhi pola hubungan sosialnya di masa yang akan datang. HASIL DAN PEMBAHASAN Bimbingan dan Konseling dengan pendekatan psikoedukasi Bimbingan konseling adalah pemberian bantuan kepada peserta didik agar dapat mengenal dan menerima diri sendiri serta dapat mengenal mengenal dan menerima lingkungannya secara positif dan dinamis. Serta mampu mengambil Mengarahkan dan mewujudkan diri sendiri secara efektif dan produktif untuk masa depan (Prayitno, 2. Di sampaikan oleh Prayitno . t erdapat sembilan jenis layanan bimbingan konseling yaitu layanan orientasi, layanan informasi, layanan penempatan dan penyaluran, layanan penguasaan konten, layanan konseling perorangan, layanan bimbingan kelompok, konseling kelompok, layanan konsultasi, layanan mediasi, dan layanan advokasi. Layanan BK yang dapat diberikan kepada siswa untuk menurunkan perilaku bullying adalah layanan Informasi. layanan ini yang diberikan kepada siswa agar siswa dapat memperoleh informasi-informasi yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui layanan informasi ini siswa dapat menerima informasi-informasi mengenai bullying, agar siswa dapat berperilaku dengan baik terhindar dari perilaku bullying. Selanjutnya, layanan konseling perorangan. Layanan ini yaitu layanan konseling yang dilakukan secara langsung oleh konselor kepada klien guna untuk mengentaskan permasalahan pribadi klien. Dimana pembahasannya bersifat mendalam yang membahas hal-hal penting yang menyangkut diri klien. Permasalahan yang dapat dientaskan melalui layanan konseling perorangan ini yaitu siswa yang menjadi pelaku dan korban bullying. Selanjutnya, layanan bimbingan kelompok layanan ini yaitu layanan yang berguna untuk pengembangan pribadi dan pemecahan masalah dengan topik umum dan dibahas secara bersama oleh anggota kelompok. Topik yang dikemukakan bersifat umum seperti informasi bullying, dampak bullying, dan bentuk-bentuk bullying, dan cara mengatasi perilaku bullying (Prayitno, 2. Fokus dalam tulisan ini tentu berkenaan dengan psikoedukasi. Posisi dari pendekatan psikoedukasi yang di lakukan dalam format kelompok. Ketiga layanan yang diberikan gambaran oleh penulis di atas bisa saja dengan pendekatan psikoedukasi karena pendekatan ini sebagai salah satu alternatif untuk bisa lebih memaksimalkan dalam penurunan perilaku bullying (Almizri. , & Neviyarni. The Association for Specialists in Group Work (ASGW), sebuah divisi dari American Counseling Association, telah mengembangkan ketrampilan dan pengetahuan yang terpisah sebagai pemimpin kelompok untuk task and work groups, psychoeducational groups, counseling groups, and psychotherapy groups (Brown, 2. Kelompok psikoedukasi, yang juga dikenal sebagai bimbingan kelompok atau pendidikan kelompok adalah kekuatan besar dalam praktikalisasi kelompok saat ini. Jenis kelompok ini disusun oleh tema sentral, biasanya berdurasi jangka pendek, dan sering kali bersifat preventif dan intruksional, fokusnya adalah pengajaran dan pembelajaran. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 1. Nomor 2. Desember 2022 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 1. Nomor 2. Desember 2022, 114 - 123 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt Kelompok psikoedukasi adalah metode penyampaian umum dalam program konseling di sekolah yang komprehensif, dimana yang dimaksudkan untuk memaksimalkan potensi pengembangan dan kesuksesan siswa yang sehat (Geroski & Kraus, 2. Kelompok psikoedukasi berfokus pada penyediaan topik informasi spesifik kepada peserta didik didalam kelompok kecil, informasi dirancang secara hati-hati agar dapat langsung diterapkan pada kehidupan siswa sesuai dengan usia dan perkembangan serta kesuksesan akademis (Perusse. Goodnough, & Lee, 2. Kelompok psikoedukasi juga dapat digunakan dalam sesi persiapan pra kelompok terapi dengan mengutamakan pendidikan, pelatihan, dan ketrampilan dimana anggota kelompok diajarkan bagaimana yang diharapkan sebelum memasuki kelompok terapi dan bagaimana menjadi anggota kelompok yang efektif (Brown, 2. Kelompok psikoedukasi adalah bentuk intervensi terapeutik yang menggabungkan psikoterapi dan pendidikan. Ini dapat digunakan pada individu, kelompok, keluarga, dan serta dapat diimplementasikan sendiri atau menerapkan teknik intervensi lainnya (Brown, 2. Tujuan secara khusus, jenis kelompok ini sangat membantu dalam menyediakan ketrampilan dan bimbingan selama masa transisi, mengurangi kecemasan, kemarahan, tekanan emosional lainya, memeperbaiki kemapuan interpersonal seperrti. memperkuat ketrampilan belajar. Sedangkan tujuan umum secara utamnya adalah untuk meningkatkan kesadaran ketrampilanketrampilan sesuai dengan kebutuhanya (Corliss & Corliss, 2. Tahapan kelompok psikoedukasi merupakan tahapan yang harus dilakukan ketika memulai proses kegiatan kelompok. Tahapan pelaksanaan kegiatan kelompok pada umumya dimulai dengan adanya pembukaan, kegiatan dan penutupan. Pelaksanaan kegiatan kelompok psikoedukasi mencakup semua tahapan pelaksanaan disetiap kegiatannya. Tahapan tersebut memandu jalannya kelompok psikoedukasi (Brown, 2. Kelompok psikoedukasi merupakan penggabungan antara task and work groups (Brown, 2. Tahapan tersebut menurut Brown, . terdiri dari 4 tahapan yaitu . Begning, . conflict and controversy, . working and Cohesion, . Begning. Tahapan ini merupakan tahapan permulaan kegiatan, pada tahapan ini anggota kelompok ditandai dengan rasa antisipasi, kekembiraan, ketakuutan, kebingungan serta memungkinkan sulit untuk mengungkapkan diri kedalam Anggota kelompok merasa kurang yakin dengan apa yang mereka Hal terpenting untuk sesi pertama adalah bagaimana memulai pelaksanaan kegiatan, dikarenakan pemimpin kelopok akan berpengaruh terhadap kenyamanan, tingkat kepercayaan angota kelompok. Pemimpin kelompok harus memilki kehangatan, kepercayaan, memahami, dan berfikir Langkah selanjutnya peminimpin kelompok memprekenalkan diri, dan memberi arahan jalanya kelompok, waktu kegiatan kelompok, dan topik-topik umum yang dibahas pada tahapan ini. Tentunya pembahasan berkenaan dengan menurunkan perilaku bullying. Conflict and controversy. Pada tahap ini biasayan anggota kelompok mulai ragu dengan kegiatan kelompok, terjadi konflik. Meneurt Corey. Corey, & Corey . merupakan tahap transisi, dimana anggota kelompok mula merasakan kecemasan, kegelisahan, diam dan sulit untuk mengungkapkan pendapat dalam Apabila pemimpin kelompok merasakan ketidak nyamanan anggota kelompok, perencanaan yang tidak di pahami oleh anggota kelompok jangan untuk berpindah ke tahapan selanjutnya. Pada fase ini pemimipin kelompok membangun Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 1. Nomor 2. Desember 2022 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 1. Nomor 2. Desember 2022, 114 - 123 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/index. php/jgt tingkat kepercayaan, perhatian yang lebih besar atau dengan ice breaking atau manajemen konflik. Working and Cohesion. Tahapn ini dimana anggota sudah saling mengenal atau dimana setiap anggota kelompok dapat sharing pribadi dengan yang lain. Tahapan ini ditandai dengan kerja sama antar anggota kelompok, mendukung satu sama lain, kohesifiitas kelompok. Tahapan ini merupakah tahapan sebuah penugasan sesuai dengan tujuan kelompok. Topok atau isu-isu yang dibahas pada kegiatan ini seperti karir, perbedaan pendapat, menjaga hubungan, dan menghindari Termination Pada tahapan ini merupakan sesi pengahiran kegiatan Tahapan ini anggota kelompok sudah dapat menemukan solusi untuk permasalahan dengan menggunakn kontrol yang sesuai. Pemimpin kelompok menyimpulkan hasil yang telah dibahas, mengevaluasi kegiatan, memberikan tanggung jawab kepada setiap anggota kelompok yang menjadi tujuan kegiatan, memberikan suatu motivasi agara bisa terlaksana, serta menanyakan kembali berkenaan dengan pemahamannya perasaanya, langkah yang kan dilakukan, dan komitmen apa yang harus dimiliki setelah peroses kegiatan kelompok berahir. KESIMPULAN Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan psikoedukasi bisa dipadukan dengan layanan dalam bimbingan dan konseling. Dalam hal ini, sebagai rekomendasi bagi guru BK dan tentu formatnya ditentukan pula dengan kebutuhan apakah itu individu, kelompok dan klasikal. SARAN Berdasarkan temuan penelitian ini, disarankan bagi konselor untuk dapat menggunakan layanan bimbingan dan konseling dengan pendekatan psikoedukasi untuk menurunkan perilaku maladaptive yaitu bullying kemudian mengubahnya menjadi perilaku adaptif. layanan yang direkomendasikan dalam penelitian ini dikhususkan pada siswa yang memiliki perilaku bullying yang timbul dengan gejala yang dijelaskan dalam isi tulisan ini. Sedangkan untuk peneliti selanjutnya, dapat melihat dan menelaah kembali mengenai aspek- aspek perilaku bullying yang lebih kompleks karena perkembangan zaman khususnya pada kasus cyberbullying untuk kemudian diberikan intervensi menggunakan pendekatan dan teknik khusus lainnya untuk mengintervensi hal tersebut. DAFTAR PUSTAKA