PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. 1, 2026 e-ISSN : 2622-6383 Peran Penting Kinerja Lingkungan. Biaya Lingkungan. Ukuran Perusahaan. Corporate Social Responsibility dan Pertumbuhan Penjualan Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Anika 1. Erma Setiawati 2* b200220494@student. id 1, es143@ums. id 2* Program Studi Akuntansi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Indonesia 1,2* Abstrak Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh Kinerja Lingkungan. Biaya Lingkungan. Ukuran Perusahaan. Corporate Social Responsibility (CSR), dan Pertumbuhan Penjualan terhadap Kinerja Keuangan perusahaan sektor basic materials yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2022-2024. Periode penelitian ini dipilih karena mencakup fase pemulihan perekonomian pasca pandemi COVID-19, normalisasi bisnis global, dan peningkatan tuntutan terhadap praktik Environmental. Social, and Governance (ESG). Teknik pengambilan sampel menggunakan pendekatan purposive sampling dengan unit analisis menghasilkan 34 perusahaan sehingga diperoleh 102 observasi. Metode analisis data mengaplikasikan teknik regresi linear berganda. Perolehan pengujian hipotesis mengindikasikan, kinerja lingkungan, biaya lingkungan, ukuran perusahaan, serta CSR tidak mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Sedangkan, pertumbuhan penjualan dapat mempengaruhi kinerja keuangan secara positif dan signifikan. Kata Kunci: Kinerja Lingkungan. Biaya Lingkungan. Ukuran Perusahaan. Corporate Social Responsibility. Pertumbuhan Penjualan. Kinerja Keuangan This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pesat tidak terlepas dari kontribusi signifikan sektor basic materials sebagai tulang punggung industri nasional. Perusahaan sektor basic materials yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak hanya dihadapkan pada tuntutan untuk meraih kinerja keuangan yang optimal, namun juga harus memberikan perhatian pada dimensi keberlanjutan lingkungan serta tanggung jawab sosial. Tuntutan ini semakin menguat mengikuti tingginya kesadaran investor serta pemangku kepentingan pada praktik perusahaan berkelanjutan, khususnya selama periode 2022-2024 yang mencakup masa pemulihan pasca pandemi COVID-19, normalisasi ekonomi global, dan peningkatan permintaan bahan baku akibat akselerasi pembangunan infrastruktur. Kinerja keuangan merupakan tolok ukur penting dalam menilai pencapaian Namun, kinerja keuangan perusahaan basic materials dipengaruhi oleh beragam aspek kompleks yang saling berinteraksi. Kinerja lingkungan menjadi aspek krusial mengingat sektor ini mempengaruhi lingkungan yang signifikan melalui aktivitas pertambangan, pengolahan bahan kimia, produksi logam, dan emisi karbon dari operasional industri berat. Penelitian terdahulu memperlihatkan temuan yang bervariasi terkait dampak kinerja lingkungan kepada kinerja keuangan. (Ramadhani et al. , 2022. Sinosi et al. , 2. menghasilkan temuan pengaruh positif, sementara (Kore & Prasasyaningsih, 2023. Prijayanti & Haq, 2. mengindikasikan tidak terdapat pengaruh atau bahkan pengaruh negatif. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 634 Implementasi kinerja lingkungan pada perusahaan basic materials selama periode 2022-2024 semakin diperkuat dengan Program PROPER dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta regulasi PP No. 22 Tahun 2021. Meskipun terdapat trade-off antara investasi lingkungan dengan profitabilitas jangka pendek, tuntutan investor global terkait Environmental. Social, and Governance (ESG) menuntut perusahaan agar terus memperbaiki kinerja lingkungan mereka. (Sinosi et al. , 2. mendukung bahwa investasi jangka panjang terhadap lingkungan memberikan keunggulan kompetitif dan mempengaruhi positif pada kinerja keuangan. Biaya lingkungan yang dialokasikan oleh entitas untuk pengelolaan dampak lingkungan juga menjadi variabel penting. Studi terdahulu menghasilkan temuan yang beragam, di mana (Aulia et al. , 2. menyatakan bahwa biaya lingkungan tidak berdampak pada kinerja keuangan, namun temuan dari (Ladyve et al. , 2. menunjukkan pengaruh signifikan. Inkonsistensi hasil studi ini menandakan eksistensi ruang riset yang membutuhkan penelaahan secara mendalam. Ukuran perusahaan sebagai representasi skala operasional juga menunjukkan hasil (Diana & Asesoga, 2020. Rosalinda et al. , 2022. Sahid & Henny I, 2. menyatakan ukuran perusahaan berpengaruh positif, sementara (Kurniawati et al. , 2. mengungkapkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan. Temuan tersebut menandakan, ukuran perusahaan masih menjadi faktor yang diperdebatkan dalam konteks sektor basic materials. Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai perwujudan tanggung jawab sosial entitas bisnis menunjukkan tren menarik. (Daffa & Hasnawati, 2024. Fitriaty et al. , 2021. Partalidou et al. , 2. mengonfirmasi dampak positif CSR terhadap kinerja keuangan, namun (Uyar et al. , 2. mengindikasikan ketiadaan hubungan signifikan bahkan menemukan korelasi negatif. (Kludacz-alessandri & Cyganska, 2021. Szegedi et al. , 2. memperkuat argumen bahwa implementasi CSR yang baik berkorelasi dengan peningkatan performa finansial, khususnya pada indikator ROE dan ROA. Pertumbuhan penjualan sebagai indikator ekspansi bisnis juga menunjukkan hasil (Primasari & Prasasti, 2. menemukan pengaruh positif, sementara (Cahyana & Suhendah, 2. menemukan dampak negatif. Perbedaan ini menjadi penting mengingat karakteristik unik sektor basic materials yang memiliki siklus komoditas dan fluktuasi harga dinamis, terutama selama periode pemulihan ekonomi pasca pandemi. Penelitian ini mengintegrasikan teori triple bottom line yang menekankan keterkaitan faktor lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam menilai kinerja perusahaan, teori stakeholder yang menggerakkan entitas bisnis untuk memperhatikan keperluan seluruh stakeholder, serta teori Legitimasi yang menjelaskan upaya perusahaan memperoleh legitimasi melalui tindakan etis dan bertanggung jawab. Kombinasi ketiga teori ini menyediakan kerangka komprehensif guna mengkaji kompleksitas faktor-faktor determinan kinerja keuangan perusahaan basic materials. Periode penelitian 2022-2024 dipilih untuk memberikan gambaran komprehensif tentang dinamika sektor basic materials di Indonesia selama masa pemulihan ekonomi pasca pandemi COVID-19, normalisasi kondisi bisnis global, dan fase konsolidasi pertumbuhan ekonomi industri. Pemilihan entitas bisnis sektor basic materials yang tercatat di BEI didasarkan pada pertimbangan bahwa sektor ini memainkan peranan krusial guna menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia dan memiliki karakteristik unik dalam upaya mengelola aspek lingkungan, sosial, hingga keuangan. Berdasarkan urgensi dan research gap yang telah diidentifikasi, studi ini bertujuan menganalisis pengaruh kinerja lingkungan, biaya lingkungan, ukuran perusahaan. CSR dan pertumbuhan penjualan terhadap kinerja keuangan perusahaan sektor basic materials yang teregistrasi di BEI periode 2022-2024. Pendekatan integratif ini harapannya dapat mengisi kesenjangan literatur yang tersedia serta menyajikan temuan baru terkait interaksi kompleks antara berbagai faktor yang membentuk kinerja keuangan. Temuan yang dihasilkan diharapkan mampu memberikan kontribusi konstruktif untuk perbaikan tata Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 635 kelola keuangan dan membantu perusahaan dalam mengoptimalkan kinerja keuangan Metode Analisis Studi ini berlandaskan pada pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder untuk menguji pengaruh kinerja lingkungan, biaya lingkungan, ukuran perusahaan. CSR, dan pertumbuhan penjualan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Metode yang diterapkan adalah analisis regresi linear berganda guna mengestimasi hubungan antar variabel secara sistematis dan objektif. Populasi dalam studi ini mencakup keseluruhan entitas bisnis sektor basic materials yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2022-2024. Pemilihan sampel dilakukan melalui pendekatan purposive sampling berdasarkan kriteria: . perusahaan sektor basic materials yang tercatat di BEI secara beruntun selama rentang waktu 2022-2024. perusahaan yang memperoleh peringkat PROPER pada periode 2022-2024. perusahaan yang melengkapi laporan tahunan (Annual Repor. dan laporan berkelanjutan . ustainability repor. pada kurun waktu 2022-2024. Mengacu kriteria yang sudah diberlakukan, tercatat 34 perusahaan yang memenuhi seluruh kriteria, yang menghasilkan 102 observasi. Pemilihan sektor basic materials didasarkan pada pertimbangan bahwa industri ini memiliki dampak signifikan pada lingkungan dan menghadapi tekanan regulasi yang ketat terkait keberlanjutan. Data penelitian didapat melalui beragam sumber terpercaya, meliputi laporan tahunan dan berkelanjutan perusahaan yang tersedia aksesnya di dalam portal resmi BEI . hingga situs resmi tiap entitas bisnis. Informasi mengenai kinerja lingkungan didapat dari laporan keberlanjutan serta peringkat PROPER sebagaimana dipublikasikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Data terkait aktivitas CSR, biaya lingkungan, ukuran perusahaan, dan pertumbuhan penjualan juga dihimpun dari laporan tahunan serta laporan keberlanjutan perusahaan. Studi ini menerapkan lima variabel independen, berupa kinerja lingkungan, biaya lingkungan, ukuran perusahaan. CSR, dan pertumbuhan penjualan. Variabel dependen yang dioperasionalisasikan dalam studi yaitu kinerja keuangan perusahaan. Berikut adalah pengukuran dari tiap-tiap variabel: Kinerja lingkungan melakukan pengukuran melalui peringkat PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidu. (Cahyani & Puspitasari, 2. yang terdiri dari 5 kategori, di antaranya. Tabel 1. Kriteria Penilaian Kinerja Lingkungan Nilai Kriteria Warna Keterangan Hitam Merah Biru Sangat Buruk Buruk Baik Hijau Baik Sekali Emas Sangat Baik Sekali Sumber: Setiai . Biaya lingkungan pada studi ini memanfaatkan indikator perbandingan antar pengeluaran perusahaan dalam menjalankan CSR (Veradine & Praptoyo, 2. Jumlah Biaya CSR BL = Laba Bersih Setelah Pajak Ukuran perusahaan direpresentasikan melalui logaritma natural total aset (Novianti & Permata, 2. UP = Ln (Total Ase. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 636 Corporate Social Responsibility diukur melalui besaran biaya CSR yang dikeluarkan perusahaan (Wulandari & Zulhaimi, 2. CSR = Biaya CSR Pertumbuhan penjualan merupakan rasio persentase yang menggambarkan peningkatan penjualan bersih perusahaan (Yuliani, 2. Analisis ini membantu manajemen dalam memahami tren pasar dan efektivitas strategi pemasaran yang Rumus pertumbuhan penjualan adalah: PP = (Penjualan Tahun SekarangOePenjualan Tahun Sebelumny. Penjualan Tahun Sebelumnya Return on Assets (ROA) diterapkan sebagai indikator kinerja keuangan, perihal tersebut memperlihatkan kapabilitas organisasi agar mendapat keuntungan dari asetnya (Jessica & Triyani, 2. Laba Bersih Setelah Pajak ROA = Total Aset Penelitian ini akan mengaplikasikan metode analisis regresi berganda guna mengujikan dampak variabel independen pada variabel dependen untuk entitas bisnis sektor basic materials yang teregistrasi di BEI kurun waktu 2022-2024. Studi ini memiliki persamaan regresi berupa: KK = 1KL 2BL 3UK 4CSR 5PP A Keterangan: = Kinerja Keuangan Perusahaan = Konstanta 1 - 5 = Koefisien regresi = Kinerja Lingkungan = Biaya Lingkungan = Ukuran Perusahaan CSR = Corporate Social Responsibility = Pertumbuhan Penjualan = Error term Hasil dan Pembahasan Hasil Statistik Deskriptif Analisis statistik deskriptif diterapkan sebagai cara menyajikan deskripsi menyeluruh terkait karakter data yang diambil mencakup skor minimum, maksimum, rata-rata, hingga standar deviasi pada setiap variabel yang dikaji. Berikut tabel yang menampilkan perolehan analisis ini pada semua variabel yang digunakan, di antaranya: Table 2. Analisis Deskriptif Min Max Mean Std. Deviation Kinerja Lingkungan Biaya Lingkungan -0,851546255 0,147117829 2,99 0,0020500136 0,738 0,0911293829 Ukuran Perusahaan CSR 25,64848119 0,00000000 32,87983682 1,62050E 11 29,41621685 1,29479E 10 1,612568648 3,18447E 10 Pertumbuhan Penjualan -0,99910631 1,65755246 0,0237801146 0,3004029176 Kinerja Keuangan -0,15550133 0,26559799 0,0368932397 0,0676321900 Sumber: Data diolah peneliti . Mengacu tabel 2, perolehan analisis deskriptif mengindikasikan, rata-rata kinerja lingkungan senilai 2,99 . ategori sedang, mendekati peringkat Bir. , biaya lingkungan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 637 memiliki mean 0,0020 melalui standar deviasi tinggi . ,0. menandakan variasi alokasi yang besar antar emiten. Ukuran perusahaan berkisar antara 25,65 hingga 32,88 dengan rata-rata 29,42. Variabel CSR memperlihatkan rentang sangat lebar dari 0 hingga Rp. 000 dengan rata-rata Rp. Pertumbuhan penjualan memiliki mean 0,024 melalui standar deviasi senilai 0,300, memperlihatkan variasi signifikan. Kinerja keuangan rata-rata senilai 0,037 melalui standar deviasi 0,068, mencerminkan kesenjangan profitabilitas antar perusahaan. Uji Normalitas Table 3. Perolehan Pengujian Normalitas Uji Normalitas Asymp. Sig. -taile. 0,200 Kolmogorov-Smirnov Keterangan Terdistribusi Normal Sumber: Data diolah peneliti . Mengacu tabel 3, perolehan pengujian Kolmogorov-Smirnov menunjukkan nilai Asymp. Sig. -taile. senilai 0,200. Nilai signifikansi yang dihasilkan melampaui 0,05 . ,200 > 0,. , yang menandakan data residual terdistribusi normal. Diartikan, asumsi normalitas dalam model regresi sudah dipenuhi serta model memenuhi kelayakan digunakan sebagai pengujian asumsi klasik lainnya serta analisis regresi berganda. Uji Multikolinearitas Tabel 4. Perolehan Pengujian Multikolinearitas Model Collinearity Statistics Tolerance VIF Keterangan Kinerja Lingkungan Biaya Lingkungan 0,772 0,968 1,296 1,034 Tidak Terjadi Multikolinearitas Tidak Terjadi Multikolinearitas Ukuran Perusahaan CSR Pertumbuhan Penjualan 0,727 0,696 0,992 1,375 1,437 1,008 Tidak Terjadi Multikolinearitas Tidak Terjadi Multikolinearitas Tidak Terjadi Multikolinearitas Sumber: Data diolah peneliti . Berdasarkan tabel 4, teridentifikasi bahwa seluruh variabel independen menghasilkan besaran Tolerance lebih dari 0,10 dan VIF di bawah 10. Temuan tersebut menandakan, model regresi dalam riset ini tidak menghadapi permasalahan Uji Heterokedastisitas Tabel 5. Perolehan Pengujian Heterokedastisitas dengan Glejser Model Sig. Keterangan Kinerja Lingkungan Biaya Lingkungan 0,148 0,829 Tidak Terjadi Heterokedastisitas Tidak Terjadi Heterokedastisitas Ukuran Perusahaan CSR Pertumbuhan Penjualan 0,118 0,855 0,168 Tidak Terjadi Heterokedastisitas Tidak Terjadi Heterokedastisitas Tidak Terjadi Heterokedastisitas Sumber: Data diolah peneliti . Mengacu tabel 5, perolehan pengujian Glejser mengindikasikan, seluruh variabel independen pada studi ini menghasilkan angka signifikansi yang melebihi tingkat signifikansi senilai 0,05 (Kinerja Lingkungan 0,148. Biaya Lingkungan 0,829. Ukuran Perusahaan 0,118. CSR 0,855. Pertumbuhan Penjualan 0,. Maka dari itu, model regresi yang diterapkan telah lolos uji asumsi homoskedastisitas. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 638 Uji Autokorelasi Tabel 6. Perolehan Pengujian Autokorelasi Durbin-Watson Variabel Durbin-Watson Unstandardized Residual Keterangan 2,199 Tidak Terjadi Autokorelasi Sumber: Data diolah peneliti . Mengacu tabel 6, diperoleh hasil Durbin-Watson senilai 2,199 berkedudukan pada rentang nilai dU . ,7. dan 4-dU . ,2. Temuan tersebut menandakan model regresi pada studi ini berada pada daerah bebas autokorelasi. Uji Regresi Linear Berganda Tabel 7. Perolehan Pengujian Regresi Linear Berganda (Constan. Kinerja Lingkungan Biaya Lingkungan Ukuran Perusahaan CSR Pertumbuhan Penjualan Unstandardized Coefficienst Std. Error -0,134 0,122 0,010 0,009 0,061 0,067 0,005 0,004 -3,632E-14 0,000 0,105 0,020 Standardized Coefficients Beta 0,108 0,083 0,113 -0,017 0,467 -1,093 1,074 0,922 1,091 -0,162 5,277 Sig. 0,277 0,285 0,359 0,278 0,872 0,001 Sumber: Data diolah peneliti . Berdasarkan tabel 7, persamaan regresi linear berganda dapat dirumuskan: KK = -0,134 0,010KL 0,061BL 0,005UP - 0,000CSR 0,105PP A Interpretasi dari persamaan regresi tersebut mengindikasikan, konstannya senilai 0,134 menandakan tanpa kontribusi dari variabel-variabel independen, perusahaan akan cenderung mengalami kinerja keuangan yang kurang optimal. Variabel Kinerja Lingkungan memiliki koefisien positif 0,010. Biaya Lingkungan senilai 0,061. Ukuran Perusahaan senilai 0,005. CSR senilai -0,000, dan Pertumbuhan Penjualan memiliki koefisien terbesar senilai 0,105. Koefisien Pertumbuhan Penjualan yang paling besar menandakan, variabel ini berkontribusi terkuat pada peningkatan kinerja keuangan perusahaan. Uji F Tabel 8. Hasil Uji F Model Sig. Keterangan Regression 6,541 0,001b Sumber: Data diolah peneliti . Berdasarkan tabel 8, perolehan uji F memperlihatkan angka Fhitung senilai 6,541 dengan tingkat signifikan senilai 0,001, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa keseluruhan variabel prediktor yang diteliti memiliki dampak signifikan secara simultan terhadap performa keuangan. Uji t Mengacu tabel 9, perolehan pengujian memperlihatkan hanya pertumbuhan penjualan yang mempengaruhi kinerja keuangan pada tingkat signifikan 0,001 serta koefisien beta 0,467. Kinerja lingkungan . , biaya lingkungan . , ukuran perusahaan . , dan CSR . tidak mempengaruhi kinerja keuangan. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 639 Tabel 9. Hasil Uji t Unstandardized Coefficienst Standardized Coefficients Std. Error Beta (Constan. -0,134 0,122 Kinerja Lingkungan 0,010 0,009 0,108 Biaya Lingkungan 0,061 0,067 Ukuran Perusahaan 0,005 CSR Sig. -1,093 0,277 1,074 0,285 H1 Ditolak 0,083 0,922 0,359 H2 Ditolak 0,004 0,113 1,091 0,278 H3 Ditolak -3,632E-14 0,000 -0,017 -0,162 0,872 H4 Ditolak 0,105 0,020 0,467 5,277 0,001 H5 Diterima Pertumbuhan Penjualan Keterangan Sumber: Data diolah peneliti . Uji Koefisien Determinasi Tabel 10. Perolehan Pengujian Koefisien Determinasi R Square 0,504a 0,254 Adjusted R Square 0,215 Std. Error of the Estimate 0,0599118865 Sumber: Data diolah peneliti . Mengacu tabel 10, perolehan Adjusted R Square senilai 0,215 mengindikasikan bahwa kelima variabel independen berkontribusi terhadap 21,5% variasi kinerja keuangan, sementara 78,5% dijelaskan oleh aspek lainnya yang bukan model yang diamati. Pembahasan Pengaruh Kinerja Lingkungan terhadap Kinerja Keuangan Analisis hipotesis pertama mengindikasikan kinerja lingkungan menghasilkan koefisien regresi senilai 0,108 dengan nilai thitung 1,074 dan signifikansi 0,285 (>0,. Temuan yang dihasilkan mengindikasikan, kinerja lingkungan tidak mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan, diartikan hipotesis pertama (HCA) ditolak. Temuan yang dihasilkan mengindikasikan, meskipun perusahaan memiliki peringkat PROPER yang baik, hal tersebut belum tentu berkontribusi langsung terhadap peningkatan Return On Assets (ROA) dalam jangka pendek. Kondisi ini dapat dijelaskan dalam kerangka perspektif teori triple bottom line yang menitikberatkan, investasi dalam pengelolaan lingkungan memerlukan waktu yang cukup panjang untuk dapat memberikan dampak finansial yang terukur. Investasi dalam pengelolaan lingkungan pada perusahaan sektor basic materials memiliki karakteristik jeda waktu yang panjang antara pengeluaran dengan realisasi manfaat finansial, dimana biaya untuk sistem pengendalian polusi, pengelolaan limbah tambang, dan teknologi ramah lingkungan memerlukan periode amortisasi yang melampaui jangka waktu pelaporan keuangan tahunan. Dari perspektif teori legitimasi, perusahaan sektor basic materials cenderung meningkatkan kinerja lingkungan mereka sebagai respons terhadap tekanan regulasi dan ekspektasi pemangku kepentingan, namun investasi tersebut belum secara otomatis menghasilkan efisiensi operasional atau penghematan biaya yang signifikan dalam jangka pendek. Sedangkan dari perspektif teori stakeholder menjelaskan bahwa meskipun kinerja lingkungan yang baik dapat mendorong kepercayaan stakeholder, manfaat ini lebih sulit diukur secara kuantitatif dan belum dapat langsung diterjemahkan menjadi peningkatan profitabilitas. Temuan yang dihasilkan relevan dengan temuan (Qotrunnada & Rahardjo, 2022. Setiawan & Honesty, 2. yang menghasilkan temuan, kinerja lingkungan tidak mempengaruhi kinerja keuangan entitas bisnis yang diteliti. Kesamaan temuan ini mengindikasikan, konteks industri di Indonesia, khususnya sektor basic materials, masih menghadapi tantangan dalam mengkonversi investasi lingkungan menjadi keuntungan finansial yang terukur dalam periode pelaporan keuangan tahunan. Implikasi praktis dari Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 640 temuan yang dihasilkan mengindikasikan, manajemen perusahaan sektor basic materials perlu mempertimbangkan investasi lingkungan sebagai strategi jangka panjang yang memberikan keunggulan kompetitif berkelanjutan. Mengingat tren peningkatan perhatian investor global terhadap kriteria lingkungan, sosial, dan tata kelola periode pengamatan 2022-2024, emiten yang secara berkelanjutan dalam meningkatkan kinerja lingkungan akan memiliki daya tarik investasi yang lebih baik, akses pembiayaan dengan biaya modal lebih rendah, dan kemampuan mempertahankan izin sosial untuk beroperasi di masa Pengaruh Biaya Lingkungan terhadap Kinerja Keuangan Analisis hipotesis kedua mengindikasikan biaya lingkungan menghasilkan koefisien regresi senilai 0,083 diperoleh nilai thitung 0,922 dan signifikansi senilai 0,359 (>0,. Temuan yang dihasilkan mengindikasikan, biaya lingkungan tidak mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan, diartikan hipotesis kedua (HCC) ditolak. Temuan yang dihasilkan mengindikasikan, alokasi dana perusahaan dalam rangka menjalankan pengelolaan dan perlindungan lingkungan, yang diukur melalui rasio biaya lingkungan terhadap laba bersih, tidak mempengaruhi secara terukur pada ROA perusahaan dalam periode pengamatan. Kondisi ini dapat dijelaskan melalui perspektif bahwa pengeluaran untuk kegiatan lingkungan dalam industri basic materials cenderung dipandang sebagai biaya kepatuhan terhadap regulasi, bukan sebagai investasi strategis yang dapat meningkatkan efisiensi operasional atau menghasilkan arus pendapatan tambahan dalam jangka pendek. Dari perspektif teori triple bottom line, biaya lingkungan seharusnya dapat menciptakan nilai tambah melalui peningkatan efisiensi operasional, pengurangan risiko regulasi, dan peningkatan reputasi perusahaan. Namun, dalam konteks perusahaan sektor basic materials yang dikaji, investasi dalam pengelolaan lingkungan tampaknya belum mencapai skala atau efektivitas yang cukup untuk menghasilkan dampak finansial yang Temuan yang dihasilkan relevan dengan studi (Aulia et al. , 2023. Sinosi et al. , 2022. Siregar et al. , 2. yang menghasilkan temuan, biaya lingkungan tidak mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Konsistensi temuan yang dihasilkan dengan studi-studi sebelumnya mengindikasikan bahwa dalam konteks perusahaan di Indonesia, khususnya sektor basic materials, pengeluaran untuk pengelolaan lingkungan belum dapat dikonversi menjadi keuntungan finansial yang terukur dalam laporan keuangan tahunan. Implikasi praktis dari temuan yang dihasilkan mengindikasikan, manajemen perlu mengevaluasi kembali strategi alokasi biaya lingkungan agar tidak sebatas memenuhi persyaratan regulasi, melainkan juga menciptakan nilai tambah finansial. Perusahaan perlu mengembangkan sistem akuntansi biaya lingkungan yang komprehensif untuk mengidentifikasi area-area dimana investasi lingkungan dapat menghasilkan penghematan biaya operasional. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan Analisis hipotesis ketiga mengindikasikan ukuran perusahaan menghasilkan koefisien regresi senilai 0,113 diperoleh nilai thitung 1,091 dan signifikansi senilai 0,278 (>0,. Temuan yang dihasilkan mengindikasikan, ukuran perusahaan tidak mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan, diartikan hipotesis ketiga (HCE) ditolak. Temuan tersebut mengindikasikan, besaran aset perusahaan, yang dioperasionalisasikan menggunakan logaritma natural dari total aset, tidak secara otomatis menjamin tingkat profitabilitas yang lebih tinggi dalam konteks industri basic materials. Kondisi ini dapat dijelaskan melalui perspektif bahwa pada industri yang rentan terhadap dinamika harga bahan baku global, siklus ekonomi, serta volatilitas permintaan, ukuran perusahaan bukanlah faktor determinan utama yang dapat mempengaruhi ROA, melainkan efisiensi operasional, manajemen biaya, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kondisi pasar yang lebih menentukan kinerja keuangan. Dari perspektif teori stakeholder, perusahaan dengan skala operasi lebih luas seharusnya Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 641 memiliki keunggulan terkait akses terhadap modal, teknologi, dan pasar, serta kemampuan untuk memanfaatkan skala ekonomis. Namun, dalam konteks industri basic materials periode 2022-2024, keunggulan ini tampaknya tidak dapat sepenuhnya terealisasi karena berbagai faktor eksternal yang mempengaruhi industri ini, seperti fluktuasi harga komoditas global, perubahan regulasi pertambangan, dan dinamika permintaan dari sektor manufaktur dan konstruksi. Selain itu, dari perspektif teori legitimasi menjelaskan bahwa perusahaan besar maupun kecil di sektor basic materials sama-sama menghadapi tekanan untuk mempertahankan legitimasi operasional melalui kepatuhan terhadap regulasi lingkungan dan pemenuhan ekspektasi sosial tanpa memandang ukuran perusahaan, sehingga ukuran tidak menjadi pembeda dalam profitabilitas. Temuan yang dihasilkan relevan dengan (Kurniawati et al. , 2020. Mujiyati & Linuha. Purwanti, 2. yang mendapati ukuran perusahaan tidak mempengaruhi kinerja Implikasi praktis dari temuan yang dihasilkan mengindikasikan, manajemen tidak boleh mengandalkan ukuran perusahaan sebagai jaminan kinerja keuangan yang lebih baik, melainkan harus fokus pada peningkatan efisiensi operasional dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar. Perusahaan perlu mengembangkan strategi yang fokus pada keunggulan operasional seperti manufaktur ramping, optimalisasi manajemen rantai pasok, dan peningkatan produktivitas aset. Manajemen juga perlu melakukan manajemen aset strategis dan mengembangkan kapabilitas dinamis untuk cepat beradaptasi dengan fluktuasi harga komoditas global dan perubahan regulasi, serta melakukan inovasi berkelanjutan dalam proses produksi dan diversifikasi produk. Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Kinerja Keuangan Hasil riset hipotesis keempat mengungkapkan CSR menghasilkan koefisien regresi senilai -0,017 diperoleh nilai thitung -0,162 dan signifikansi senilai 0,872 (>0,. Temuan yang dihasilkan mengindikasikan. CSR tidak mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan, diartikan hipotesis keempat (HCE) ditolak. Temuan studi mengungkapkan bahwa pengeluaran perusahaan terkait aktivitas CSR, yang diukur melalui biaya CSR yang dikeluarkan, belum memberikan kontribusi yang terukur secara statistik pada ROA perusahaan dalam periode pengamatan. Kondisi ini dapat dijelaskan dalam kerangka perspektif teori legitimasi, yang pada konteks perusahaan sektor basic materials melakukan aktivitas CSR lebih sebagai respons terhadap tekanan regulasi dan ekspektasi stakeholder untuk mempertahankan hak operasional, bukan sebagai strategi bisnis yang terintegrasi untuk menciptakan nilai tambah finansial dalam jangka pendek. Meskipun perusahaan mengalokasikan dana untuk program pemberdayaan masyarakat sekitar tambang, pengembangan infrastruktur sosial, dan pelestarian lingkungan, manfaat reputasional dan peningkatan loyalitas pemangku kepentingan belum optimal dalam meningkatkan profitabilitas dalam periode Dari perspektif teori triple bottom line, temuan yang dihasilkan mengindikasikan bahwa perusahaan sektor basic materials belum berhasil mengintegrasikan ketiga dimensi . konomi, sosial, lingkunga. secara sinergis dalam program CSR mereka. Program CSR yang dilaksanakan cenderung berorientasi kepada dimensi sosial dan lingkungan untuk memenuhi tuntutan legitimasi, namun belum terkoneksi dengan strategi penciptaan nilai ekonomi yang dapat meningkatkan profitabilitas. Temuan yang dihasilkan relevan dengan temuan (Cahyaningrum et al. , 2022. Ramadhan & Sulistyowati, 2022. Septiani & Wahyuni, 2. yang menghasilkan temuan, tidak terdapat hubungan signifikan antara CSR dan kinerja keuangan. Kesamaan temuan ini menandakan, pada konteks tertentu, terutama pada industri dengan karakteristik operasional khusus seperti basic materials, investasi dalam CSR belum dapat dikonversi menjadi keuntungan finansial yang terukur dalam laporan keuangan tahunan. Implikasi praktis dari temuan yang dihasilkan mengindikasikan, manajemen perlu mengevaluasi kembali strategi CSR dengan mengadopsi pendekatan strategis untuk mengintegrasikan tujuan sosial dengan tujuan bisnis untuk menciptakan nilai bersama. Perusahaan perlu mengembangkan program CSR yang berpotensi menghasilkan kontribusi sosial positif Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 642 sekaligus memberikan manfaat bisnis, seperti pemberdayaan pemasok lokal, pengembangan pasar baru melalui program pengembangan masyarakat, dan inovasi Pengaruh Pertumbuhan Penjualan terhadap Kinerja Keuangan Analisis hipotesis kelima mengungkapkan pertumbuhan penjualan memperlihatkan koefisien 0,467 dengan nilai thitung 5,277 serta tingkat signifikansi senilai 0,001 (<0,. Temuan yang dihasilkan mengindikasikan, pertumbuhan penjualan mempengaruhi secara positif dan signifikan pada kinerja keuangan perusahaan, diartikan hipotesis kelima (HCI) diterima. Temuan yang dihasilkan memperlihatkan bagaimana setiap peningkatan dalam persentase pertumbuhan penjualan akan diikuti oleh peningkatan yang signifikan dalam ROA perusahaan, dengan asumsi faktor-faktor lain tetap konstan. Kondisi ini dapat dijelaskan berdasar perspektif bahwa dalam industri basic materials yang beroperasi dengan struktur biaya tetap yang tinggi, peningkatan volume penjualan dapat menghasilkan leverage operasional yang menguntungkan, di mana kenaikan pendapatan akan memperbesar margin keuntungan perusahaan secara substansial. Temuan tersebut mendukung konsep triple bottom line, yang mengindikasikan, pertumbuhan penjualan yang berkelanjutan bukan sekedar indikator peningkatan pendapatan perusahaan, melainkan memperlihatkan efektivitas strategi pemasaran, kualitas produk, dan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan di pasar yang dinamis. Sedangkan dari perspektif teori stakeholder menjelaskan bahwa pertumbuhan penjualan mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi ekspektasi stakeholder, terutama pelanggan dan investor, melalui penyediaan produk berkualitas dan keunggulan layanan yang meningkatkan kepuasan pelanggan dan nilai pemegang saham. Dalam konteks perusahaan sektor basic materials periode 2022-2024, pertumbuhan penjualan sangat dipengaruhi oleh kondisi recovery perekonomian dunia setelah masa pandemi COVID-19, meningkatnya permintaan terhadap bahan baku dari sektor manufaktur serta konstruksi, sekaligus akselerasi pembangunan infrastruktur dan industrialisasi berkelanjutan di Indonesia. Perusahaan yang berhasil memanfaatkan momentum ini dengan meningkatkan kapasitas produksi, mengoptimalkan rantai pasok, dan mempertahankan kualitas produk dapat mencapai pertumbuhan penjualan yang signifikan, yang pada gilirannya meningkatkan profitabilitas melalui pemanfaatan skala ekonomis dan efisiensi operasional. Temuan yang dihasilkan relevan dengan temuan (Ayuningtyas & Mawardi, 2022. Darmo, 2021. Primasari & Prasasti, 2. yang menghasilkan temuan, pertumbuhan penjualan mempengaruhi secara positif dan signifikan pada kinerja keuangan perusahaan. Konsistensi temuan studi ini dibanding studi sebelumnya memperkuat argumen bahwa pertumbuhan penjualan termasuk pendorong utama kinerja keuangan perusahaan, terutama dalam konteks industri yang memiliki karakteristik operasional dengan skala ekonomis yang signifikan seperti sektor basic materials. Implikasi praktis dari temuan yang dihasilkan mengindikasikan, manajemen perlu mengembangkan strategi pertumbuhan penjualan yang komprehensif yang mencakup penetrasi pasar domestik, ekspansi ke pasar ekspor, dan diversifikasi segmen pelanggan. Perusahaan perlu melakukan intelijen pasar berkelanjutan untuk memahami tren permintaan komoditas dan peluang ekspansi pasar, termasuk memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi global dan akselerasi pembangunan infrastruktur nasional. Manajemen juga perlu mengembangkan manajemen hubungan pelanggan yang efektif, melakukan inovasi produk, dan membangun kemitraan strategis untuk memastikan pertumbuhan pendapatan yang Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9. | 643 Simpulan dan Saran Studi ini mengkaji pengaruh kinerja lingkungan, biaya lingkungan, ukuran perusahaan, corporate social responsibility, dan pertumbuhan penjualan terhadap kinerja keuangan perusahaan sektor basic materials yang teregistrasi di BEI periode 2022-2024. Temuan studi mengindikasikan, kinerja lingkungan, biaya lingkungan, ukuran perusahaan, dan CSR tidak mempengaruhi kinerja keuangan. Temuan yang dihasilkan mengindikasikan bahwa investasi dalam praktik keberlanjutan belum dapat dikonversi menjadi perolehan ekonomi terukur dalam rentang waktu pendek, terutama mengingat karakteristik jeda waktu panjang antara pengeluaran dengan realisasi manfaat. Sedangkan, pertumbuhan penjualan mempengaruhi secara positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan dimana angka parameter regresi sebesar 0,467, yang merefleksikan bahwa peningkatan pendapatan merupakan pendorong utama profitabilitas dalam industri basic materials. Keterbatasan penelitian meliputi periode pengamatan yang relatif pendek . , pengukuran variabel yang terbatas pada indikator kuantitatif, dan fokus pada satu sektor industri. Penelitian mendatang disarankan untuk memperpanjang periode pengamatan guna menangkap dampak jangka panjang investasi keberlanjutan, menggunakan pengukuran komprehensif seperti ESG score atau GRI disclosure index, serta memperluas sampel ke sektor industri lain untuk studi komparatif yang mengidentifikasi bagaimana karakteristik industri mengkondisikan asosiasi antara implementasi keberlanjutan dan kinerja keuangan. Referensi