Vol. No. November 2025, hal, 130-140 https://doi. org/10. 54214/efada. Vol2. Iss02. Revitalisasi Tradisi Tafsir: Penguatan Literasi Al-QurAoan melalui Tafsir alSyawi di Wonosobo Asep Sunarko. Nur Hanifansyah. Yusuf Arisandi. Segaf Baharun. 2,3,. Universitas Sains Al-Qur'an Wonosobo. Indonesia Universitas Islam Internasional Darullughah WaddaAowah Pasuruan. Indonesia E-mail: . asepsunarko@unsiq. id , . nurhanifansyah@uiidalwa. yusufarisandi@uiidalwa. id, . segafbaharun@uiidalwa. Info Artikel Kata kunci : Tafsir al-Syawi Literasi Al-QurAoan Pengabdian Masyarakat Tradisi Tafsir Community-Based Religious Education Penulis Koresponden : Nur Hanifansyah E-mail : nurhanifansyah@uiidalwa. ABSTRAK Perubahan sosial dan teknologi telah menggeser cara masyarakat Muslim memahami Al-QurAoan dari kajian mendalam menuju pemahaman instan berbasis media sosial, sehingga tradisi membaca tafsir klasik di pedesaan mulai Program pengabdian ini bertujuan merevitalisasi tradisi tafsir dan memperkuat literasi Al-QurAoan masyarakat melalui kajian kitab Tafsir al-Syawi di Kabupaten Wonosobo. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) dengan pendekatan community-based religious education melalui teknik talaqq wa syaru. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pengajian rutin, diskusi reflektif, dan pendampingan Hasil menunjukkan peningkatan minat terhadap kajian tafsir, kemampuan memahami makna ayat secara kontekstual, serta tumbuhnya kesadaran religius dan etika Masyarakat tidak lagi memaknai Al-QurAoan secara literal, tetapi mulai memahami pesan moralnya melalui perspektif tafsir klasik. Program ini membuktikan bahwa penguatan literasi QurAoani berbasis komunitas desa efektif dalam menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam. PENDAHULUAN Dalam beberapa dekade terakhir, perubahan sosial dan teknologi telah membawa dampak signifikan terhadap cara masyarakat Muslim mempelajari dan memahami Al-QurAoan. Di era digital ini, banyak masyarakat lebih akrab dengan potongan ayat yang berseliweran di media sosial ketimbang dengan kajian tafsir yang utuh dan mendalam. Fenomena ini melahirkan bentuk baru Autafsir instanAy pemahaman keagamaan yang cepat, emosional, dan kadang terlepas dari tradisi keilmuan Islam yang komprehensif. Di pedesaan seperti Wonosobo, meskipun masyarakatnya dikenal religius dan memiliki tradisi pesantren yang kuat, kebiasaan membaca kitab tafsir klasik mulai menurun. Banyak generasi muda yang memahami Al-QurAoan hanya secara terjemahan tanpa melalui bimbingan sanad keilmuan yang sahih. Masalah utama yang dihadapi masyarakat pedesaan bukan hanya keterbatasan akses terhadap kitab tafsir turats, tetapi juga ketiadaan ruang belajar kolektif yang sistematis untuk Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Asep Sunarko dkk. menghidupkan kembali tradisi tafsir berbasis komunitas. Di sisi lain, lembaga pendidikan Islam modern lebih menitikberatkan pada pembelajaran formal, sementara masyarakat umum terutama jamaah non-pesantren kehilangan kesempatan untuk mendalami Al-QurAoan melalui metode klasik yang bersifat talaqq dan musyAfahah. Kondisi ini berpotensi melahirkan kesenjangan spiritual dan intelektual antara masyarakat dan khazanah keilmuan Islam klasik. Oleh karena itu, muncul kebutuhan mendesak untuk merancang program pengabdian masyarakat yang mampu menghubungkan kembali masyarakat pedesaan dengan tradisi tafsir sebagai bentuk literasi AlQurAoan yang hidup dan membumi. Kitab Tafsir al-Syawi karya Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Syawi al-Maliki menjadi pilihan ideal dalam konteks ini karena memiliki karakteristik bahasa yang mudah, gaya penafsiran yang moral-spiritual, dan relevansi tinggi terhadap kehidupan sosial masyarakat Muslim. Kitab ini banyak digunakan di pesantren sebagai bahan kajian tafsir yang ringan namun padat makna, menghubungkan pemahaman ayat dengan etika, akhlak, dan nilai keseharian. Melalui kegiatan pengajian kitab Tafsir al-Syawi di Wonosobo, program pengabdian ini berfokus pada revitalisasi tradisi tafsir di pedesaan guna menumbuhkan literasi QurAoani dan memperkuat hubungan spiritual masyarakat dengan Al-QurAoan. Ruang lingkup kegiatan ini mencakup dua fokus utama: pertama, pembinaan kemampuan membaca dan memahami kitab tafsir berbahasa Arab melalui pendekatan talaqq wa syaru . endengar dan penjelasan langsung dari usta. kedua, pendampingan masyarakat dalam mengaitkan pesan ayat dengan realitas sosial yang mereka hadapi, seperti etika bermasyarakat, penguatan ukhuwah, dan pemeliharaan lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kembali tradisi keilmuan Al-QurAoan di tingkat komunitas, menjadikan masyarakat sebagai subjek pembelajar aktif, serta memperkuat fungsi pesantren sebagai pusat pengabdian sosial-religius. Tujuan utama dari program ini adalah untuk memperkuat budaya baca tafsir di kalangan masyarakat pedesaan, meningkatkan pemahaman kontekstual terhadap ayat-ayat Al-QurAoan, dan menumbuhkan generasi muda yang mampu menjadi kader tafsir berbasis komunitas. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu menghidupkan kembali nilai-nilai turats Islam di tengah masyarakat modern serta memperkaya praktik pengabdian masyarakat berbasis literasi keagamaan. Adapun keterbatasan kegiatan ini terletak pada cakupan geografis yang masih sempit . ingkup Wonosob. dan jumlah peserta terbatas, serta belum dilengkapi dengan platform digital yang dapat memperluas jangkauan dakwah tafsir. Secara akademik dan praktis, program ini memiliki signifikansi yang besar. Secara akademik, ia menjadi kontribusi bagi model community-based QurAoanic literacy yang menggabungkan tradisi pesantren dengan pendekatan partisipatif masyarakat. Secara praktis, kegiatan ini memperkuat hubungan antara lembaga pendidikan tinggi Islam dan komunitas lokal Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Revitalisasi Tradisi Tafsir: Penguatan Literasi Al-QurAoana dalam menghidupkan tradisi keilmuan berbasis Al-QurAoan. Manfaat yang diharapkan mencakup peningkatan kemampuan literasi keagamaan, penguatan karakter religius masyarakat, dan terciptanya pola pembelajaran tafsir yang berkelanjutan dan kontekstual. Sejumlah kajian pengabdian masyarakat dalam bidang pendidikan Islam menunjukkan bahwa literasi keagamaan berbasis pembelajaran kitab memiliki dampak signifikan dalam meningkatkan pemahaman keislaman masyarakat. Studi mengenai literasi kitab kuning dengan metode halaqah menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran tradisional berbasis komunitas mampu meningkatkan kemampuan peserta dalam membaca dan memahami teks Arab klasik secara signifikan (Rokimin & Much. Hasan Darojat, 2. Hasil kajian tersebut menegaskan bahwa metode halaqah tidak hanya berdampak pada capaian kognitif, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif dan motivasi belajar santri. Dalam konteks pengabdian masyarakat berbasis tafsir, pelatihan kajian ayat-ayat kesalehan sosial membuktikan bahwa pemahaman Al-QurAoan yang dikaitkan dengan realitas sosial berkontribusi besar dalam penguatan karakter dan perilaku religius masyarakat (SaAodullah dkk. Kajian tersebut menunjukkan bahwa tafsir dapat berfungsi sebagai instrumen transformasi sosial apabila dikemas secara kontekstual dan partisipatif. Sementara itu, berbagai kajian pengabdian yang berfokus pada pembinaan bahasa Arab dasar, seperti pelatihan maharah kalam dan bimbingan bahasa Arab tingkat masyarakat umum, menunjukkan bahwa intervensi pembelajaran berbasis meningkatkan penguasaan kosakata, keberanian berkomunikasi, serta motivasi belajar bahasa Arab (Abrar & Asriani, 2023. Ahmad & Karunia, 2022. Amir & Nurjannah, 2. Meskipun demikian, kajian-kajian tersebut lebih menekankan pada aspek kebahasaan dan belum menyentuh pembinaan literasi tafsir secara substantif. Di sisi lain, pengabdian berbasis teknologi digital dalam bidang tafsir menunjukkan bahwa pelatihan pemanfaatan Maktabah Syamilah berkontribusi dalam meningkatkan akses terhadap kitab tafsir dan hadis, khususnya di lingkungan pendidikan tinggi dan komunitas dai muda (Fajar & Munir, 2023. Romziana dkk. , 2. Pengabdian ini menegaskan bahwa literasi keislaman kontemporer perlu ditopang oleh literasi digital yang mumpuni. Meskipun demikian, dari keseluruhan kajian pengabdian tersebut, tampak bahwa belum banyak pengabdian yang secara eksplisit mengintegrasikan kajian tafsir berbasis kitab turAth dengan pendekatan komunitas desa dalam kerangka revitalisasi tradisi tafsir. Sebagian besar kajian masih terfokus pada pendidikan pesantren, pelatihan bahasa, atau aspek teknologis, sementara dimensi penguatan tradisi tafsir klasik di tingkat masyarakat pedesaan masih relatif minim dieksplorasi. Meskipun berbagai kajian pengabdian menunjukkan bahwa pembelajaran kitab, pelatihan tafsir tematik, pembinaan bahasa Arab dasar, dan pemanfaatan teknologi digital berkontribusi Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Asep Sunarko dkk. positif terhadap literasi keislaman, belum ditemukan model pengabdian yang memadukan secara utuh antara pembelajaran tafsir berbasis kitab turAth dengan pendekatan komunitas pedesaan yang partisipatif dan berkelanjutan. Sebagian besar kegiatan masih bersifat tematik, teknis, atau institusional dengan sasaran santri atau mahasiswa, belum menyentuh masyarakat umum sebagai subjek utama penguatan tradisi tafsir. Kegiatan pengabdian ini menghadirkan kontribusi baru dengan membangun model revitalisasi tradisi tafsir berbasis komunitas desa melalui pengkajian kitab Tafsir al-Syawi sebagai rujukan utama. Kontribusi pengabdian ini tidak hanya terletak pada peningkatan pemahaman keagamaan, tetapi juga pada pelembagaan tradisi tafsir sebagai praktik sosial keagamaan yang hidup di tengah masyarakat. Selain itu, pengabdian ini memperluas paradigma literasi QurAoani dari sekadar penguasaan bahasa atau teknologi akses kitab menjadi pembelajaran tafsir yang kontekstual, reflektif, dan berorientasi pembentukan karakter sosial. Kajian ini menempatkan diri pada persilangan antara studi literasi Al-QurAoan, pemberdayaan masyarakat, dan revitalisasi tradisi keilmuan Islam. Berbeda dari pegnabdian sebelumnya yang berfokus pada keterampilan bahasa Arab, penguasaan kitab kuning, atau pemanfaatan teknologi digital, pengabdian ini menawarkan pendekatan tafsir berbasis komunitas pedesaan dengan menjadikan kitab turAth sebagai pusat pembelajaran keagamaan. Kebaruan pengabdian ini terletak pada pergeseran fokus literasi QurAoani dari institusi formal menuju ruang sosial masyarakat, serta dari pendekatan tematik menuju pengkajian sistematis kitab tafsir klasik. Pengabdian ini juga menawarkan model praksis tafsir yang tidak hanya berorientasi kognitif, tetapi juga transformatif, yakni menjadikan tafsir sebagai sarana pembentukan kesalehan Dengan demikian, pengabdian ini berkontribusi dalam memperluas wacana pengabdian masyarakat berbasis tafsir ke arah pengembangan ekosistem literasi QurAoani yang berkelanjutan, kontekstual, dan berakar pada tradisi keilmuan Islam. METODE PENGABDIAN Program pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang dipadukan dengan model community-based religious education (Myndez , 2. , dengan tujuan menjadikan masyarakat sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran Pendekatan ini dipilih karena relevan dengan karakter masyarakat pedesaan yang memiliki tradisi religius kuat, namun membutuhkan model pembelajaran yang partisipatif dan kontekstual agar kajian tafsir tidak dipahami sebagai aktivitas elitis pesantren semata, melainkan sebagai ruang belajar bersama yang hidup di tengah masyarakat. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Revitalisasi Tradisi Tafsir: Penguatan Literasi Al-QurAoana Kegiatan dilaksanakan di wilayah pedesaan Kabupaten Wonosobo. Jawa Tengah, dengan melibatkan jamaah pengajian, tokoh masyarakat, dan generasi muda desa sebagai peserta utama. Subjek pengabdian ditentukan secara purposif berdasarkan keterlibatan aktif dalam kegiatan keagamaan serta minat terhadap kajian Al-QurAoan. Fokus kegiatan diarahkan pada pendampingan pembacaan Tafsir al-Syawi sebagai kitab tafsir berbasis turAth yang memiliki karakter bahasa sederhana, muatan moral-spiritual yang kuat, dan relevansi sosial yang tinggi bagi kehidupan Tahap awal program diawali dengan observasi lapangan dan wawancara informal dengan tokoh agama setempat untuk memetakan kondisi literasi tafsir masyarakat. Data awal menunjukkan bahwa sebagian besar jamaah memahami Al-QurAoan hanya pada level terjemahan, sementara kebiasaan membaca kitab tafsir berbahasa Arab cenderung menurun. Berdasarkan temuan tersebut, tim pengabdian menyusun rancangan program berupa kurikulum mini pengajian tafsir berbasis tema-tema kehidupan harian, seperti etika keluarga, interaksi sosial, muamalah, dan kesadaran lingkungan, dengan tujuan agar peserta mampu memahami pesan Al-QurAoan secara kontekstual dan Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui pengajian rutin menggunakan metode talaqq wa syaru, yakni pembacaan teks tafsir oleh ustaz disertai penjelasan makna, konteks ayat, dan relevansinya dengan realitas sosial jamaah. Untuk memperkuat pemahaman, kegiatan juga dilengkapi dengan diskusi reflektif dan tanya jawab interaktif agar peserta terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran dan tidak hanya menjadi pendengar pasif. Pendekatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran kritis jamaah dalam memahami Al-QurAoan sebagai pedoman hidup yang membumi, bukan sekadar teks ritual. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui pengajian rutin menggunakan metode talaqq wa syaru, yakni pembacaan teks Tafsir al-Syawi oleh ustaz yang disertai penjelasan makna lafaz, konteks ayat, serta relevansinya dengan realitas sosial jamaah. Kegiatan pengajian dilaksanakan secara berkala satu kali dalam sepekan, dengan durasi setiap pertemuan sekitar 60Ae90 menit, dan berlangsung selama A8 kali pertemuan dalam satu siklus pengabdian. Untuk memperkuat pemahaman, setiap sesi dilengkapi dengan diskusi reflektif dan tanya jawab interaktif agar peserta terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran dan tidak hanya menjadi pendengar pasif. Pendekatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran kritis jamaah dalam memahami Al-QurAoan sebagai pedoman hidup yang membumi, bukan sekadar teks ritual. Selama pendampingan, data dikumpulkan melalui observasi kegiatan, wawancara semiterstruktur, dokumentasi aktivitas pengajian, serta catatan lapangan untuk merekam dinamika proses belajar yang terjadi. Data tersebut digunakan untuk memahami perubahan perilaku keagamaan, peningkatan minat membaca tafsir, serta perkembangan pemahaman religius peserta terhadap Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Asep Sunarko dkk. kandungan ayat-ayat Al-QurAoan. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan tematik guna mengungkap pola perubahan literasi QurAoani dalam komunitas. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui refleksi bersama peserta dan tokoh masyarakat untuk menilai dampak program terhadap keberlanjutan tradisi tafsir di lingkungan desa. Keberhasilan program diukur dari meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengajian tafsir, terbentuknya komunitas belajar berbasis tafsir, serta munculnya kesadaran baru untuk menjadikan kajian AlQurAoan sebagai kebutuhan spiritual harian. Seluruh kegiatan dilaksanakan dengan menjunjung prinsip etika pengabdian, seperti persetujuan sukarela, penghormatan terhadap kearifan lokal, serta perlindungan data pribadi peserta yang digunakan semata-mata untuk kepentingan akademik dan pengembangan program. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan program pengabdian masyarakat melalui kajian rutin kitab Tafsir al-Syawi di Kabupaten Wonosobo menunjukkan dampak positif terhadap peningkatan literasi QurAoani masyarakat desa. Sejak pertemuan awal, terlihat adanya perubahan signifikan dalam minat peserta terhadap kajian tafsir, yang sebelumnya lebih terbatas pada pembacaan terjemahan Al-QurAoan tanpa penjelasan mendalam. Peserta mulai menunjukkan ketertarikan terhadap pembacaan teks Arab tafsir serta pemaknaan ayat berdasarkan penjelasan ulama. Hal ini terlihat dari meningkatnya kehadiran jamaah pada setiap sesi pengajian serta bertambahnya durasi diskusi yang berlangsung setelah penyampaian materi tafsir. Gambar 1. Kegiatan pengajian Tafsir al-Syawi sebagai penguatan literasi Al-QurAoan berbasis komunitas di Wonosobo. Dari aspek pemahaman keagamaan, kegiatan ini berhasil mendorong peserta untuk tidak lagi memahami Al-QurAoan secara literal semata, tetapi mulai mengenali dimensi kontekstual ayat. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Revitalisasi Tradisi Tafsir: Penguatan Literasi Al-QurAoana Pembacaan Tafsir al-Syawi dengan metode talaqq wa syaru memperkenalkan peserta pada cara berpikir ulama dalam menafsirkan Al-QurAoan, sehingga peserta tidak hanya menangkap makna lahiriah ayat, tetapi juga pesan moral dan hikmah di baliknya. Sebagai contoh, ketika membahas ayat-ayat tentang hubungan sosial, peserta mampu mengaitkan kandungan tafsir dengan konteks kehidupan bertetangga, etika bermuamalah, dan tanggung jawab sosial di desa. Dari sisi partisipasi sosial, pengajian tafsir menjadi ruang dialog dan refleksi bersama. Peserta tidak lagi bersikap pasif sebagai pendengar, melainkan mulai aktif mengajukan pertanyaan, mengaitkan isi tafsir dengan kondisi keluarga, serta mengungkapkan pengalaman pribadi dalam menjalani nilai-nilai QurAoani. Diskusi-diskusi tersebut memperkuat fungsi pengajian tidak sekadar sebagai forum pengajaran, tetapi juga sebagai ruang pembinaan karakter dan kesadaran sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa tafsir mampu berfungsi sebagai media internalisasi nilai, bukan hanya transfer informasi keagamaan. Gambar 2. Sesi pembelajaran Tafsir al-Syawi dengan metode talaqq wa syaru dalam penguatan literasi Al-QurAoan masyarakat di Wonosobo. Penguatan budaya literasi juga terlihat dari perubahan sikap peserta terhadap kitab turAth. Sebelum program berjalan, kitab tafsir klasik dipersepsikan sebagai bacaan berat dan hanya dapat diakses oleh kalangan pesantren. Namun, setelah mengikuti pengajian secara berkelanjutan, peserta mulai memiliki kepercayaan diri untuk menyimak teks Arab, memahami istilah dasar, serta menyerap penjelasan tafsir secara bertahap. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan literasi QurAoani berbasis kitab klasik dapat dilakukan di lingkungan non-pesantren sepanjang pendekatannya bersifat komunikatif dan partisipatif. Dari perspektif spiritual, pengajian tafsir berkontribusi terhadap peningkatan kesadaran religius masyarakat. Peserta mengaku lebih berhati-hati dalam bersikap, lebih reflektif dalam memaknai ibadah, dan lebih peduli terhadap lingkungan sosial. Tafsir tidak lagi dipahami sebagai ilmu abstrak, melainkan sebagai bimbingan hidup yang konkret. Nilai-nilai akhlak seperti kejujuran. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Asep Sunarko dkk. kesabaran, dan kepedulian sosial menjadi tema yang terus dirujuk dalam praktik keseharian masyarakat desa. Temuan ini sejalan dengan kajian yang menegaskan bahwa pembelajaran kitab berbasis komunitas mampu meningkatkan kualitas pemahaman keagamaan (Rokimin & Darojat, 2. serta memperkuat karakter melalui pengkajian tafsir tematik dalam konteks sosial (SaAodullah et al. Namun, temuan dalam kajian ini memperluas perspektif tersebut dengan menempatkan kitab tafsir klasik sebagai pusat pembelajaran dan keluarga desa sebagai ruang sosial utama internalisasi nilai QurAoani. Menariknya, meskipun program ini tidak menggunakan media digital secara intensif sebagaimana beberapa kajian tentang Maktabah Syamilah, efektivitas pembelajaran tidak Justru, pendekatan berbasis pertemuan langsung memperkuat relasi emosional antara pengajar dan peserta, yang menjadi elemen kunci dalam internalisasi nilai keagamaan. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam konteks pedesaan, pendekatan tradisional yang humanistik memiliki daya transformasi yang kuat. Dengan demikian, hasil kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa revitalisasi tradisi tafsir tidak harus dilakukan melalui formalisasi kelembagaan atau teknologi canggih, tetapi dapat dimulai dari ruang-ruang komunitas desa melalui kitab klasik yang dibimbing secara sistematis. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya literasi QurAoani, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dan identitas religius masyarakat. Meskipun kegiatan pengabdian ini menunjukkan dampak positif terhadap peningkatan literasi QurAoani masyarakat, pelaksanaannya tidak terlepas dari sejumlah kendala. Salah satu tantangan utama adalah heterogenitas latar belakang peserta, baik dari sisi kemampuan membaca teks Arab maupun pengalaman mengikuti kajian keilmuan Islam, yang menyebabkan perbedaan tingkat pemahaman dalam proses pembelajaran tafsir. Selain itu, keterbatasan waktu pertemuan serta padatnya aktivitas ekonomi masyarakat pedesaan membuat kehadiran peserta belum selalu stabil pada setiap sesi. Kendala lain yang juga muncul adalah ketergantungan awal jamaah pada figur pengajar, sehingga keberlanjutan kajian masih memerlukan pendampingan intensif dari tim pengabdian pada fase awal pelaksanaan. Namun demikian, hasil refleksi bersama peserta dan tokoh masyarakat menunjukkan potensi keberlanjutan kegiatan yang cukup kuat. Hal ini ditandai dengan munculnya inisiatif jamaah untuk melanjutkan pengajian tafsir secara mandiri, penunjukan beberapa peserta sebagai koordinator lokal, serta integrasi kajian tafsir ke dalam agenda rutin keagamaan desa. Ke depan, keberlanjutan program dapat diperkuat melalui pelatihan kader pengajar tafsir di tingkat komunitas, penyusunan modul kajian sederhana berbasis Tafsir al-Syawi, serta pemanfaatan dokumentasi pengajian sebagai bahan belajar lanjutan. Dengan demikian, pengabdian ini tidak berhenti sebagai kegiatan temporer. Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Revitalisasi Tradisi Tafsir: Penguatan Literasi Al-QurAoana tetapi berpotensi berkembang menjadi ekosistem literasi QurAoani yang berkelanjutan di lingkungan masyarakat pedesaan. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Program pengabdian masyarakat melalui kajian kitab Tafsir al-Syawi di Kabupaten Wonosobo menunjukkan keberhasilan revitalisasi tradisi tafsir di tingkat komunitas pedesaan, yang tercermin dari beberapa indikator nyata. Indikator tersebut meliputi meningkatnya partisipasi jamaah secara konsisten dalam pengajian tafsir, bertambahnya durasi dan kualitas diskusi reflektif setelah penyampaian materi, serta pergeseran pola pemahaman Al-QurAoan dari sekadar pembacaan terjemahan menuju pemaknaan kontekstual berbasis tafsir ulama. Selain itu, terbentuknya kebiasaan pengajian tafsir yang berkelanjutan dan munculnya inisiatif jamaah untuk melanjutkan kajian secara mandiri menunjukkan bahwa tradisi tafsir tidak hanya dihadirkan secara temporer, tetapi mulai mengakar sebagai praktik sosial-keagamaan di masyarakat. Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa pembelajaran tafsir berbasis kitab turAth tetap relevan di tengah perubahan sosial dan mampu meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat secara lebih kontekstual dan reflektif. Masyarakat tidak lagi memahami Al-QurAoan sebatas bacaan ritual atau terjemahan literal, tetapi sebagai pedoman hidup yang terhubung dengan realitas sosial sehari-hari, seperti etika bermasyarakat, penguatan ukhuwah, dan kesadaran moral kolektif. Pendekatan talaqq wa syaru yang digunakan dalam kegiatan ini menunjukkan efektivitas pedagogis berdasarkan temuan lapangan, khususnya dalam membangun kedekatan emosional antara pengajar dan jamaah serta mendorong partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini tercermin dari meningkatnya intensitas interaksi selama pengajian, bertambahnya jumlah pertanyaan dan tanggapan jamaah, serta keterlibatan peserta dalam diskusi reflektif setelah penyampaian materi Pembacaan dan penjelasan kitab tafsir secara langsung juga memperkenalkan masyarakat pada cara berpikir ulama dalam memahami Al-QurAoan, yang tampak dari kemampuan peserta mengaitkan penjelasan tafsir dengan pengalaman sosial dan praktik keagamaan sehari-hari. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan talaqq wa syaru tidak hanya berfungsi sebagai metode transmisi pengetahuan, tetapi juga sebagai medium internalisasi nilai dan pembentukan kesadaran religius yang lebih reflektif. Dengan demikian, pengabdian ini menegaskan bahwa revitalisasi tafsir berbasis komunitas merupakan strategi yang efektif dalam membangun ekosistem literasi QurAoani di masyarakat Tradisi tafsir tidak harus dibatasi dalam ruang pesantren atau pendidikan formal, tetapi dapat dihidupkan sebagai praktik sosial-keagamaan yang berkelanjutan di tengah masyarakat. Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian ini, direkomendasikan agar program kajian tafsir berbasis komunitas dikembangkan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A Asep Sunarko dkk. Islam, pesantren, dan tokoh masyarakat setempat. Penguatan kapasitas lokal, khususnya melalui pelatihan kader pengajar tafsir di tingkat desa, perlu dilakukan agar tradisi tafsir tidak bergantung sepenuhnya pada pendamping eksternal. Selain itu, ke depan disarankan untuk mengintegrasikan teknologi digital sebagai pendukung pembelajaran tafsir, seperti penggunaan aplikasi kitab digital atau dokumentasi kajian dalam bentuk audio-visual, agar jangkauan pembelajaran dapat diperluas tanpa menghilangkan karakter humanistik dalam pengajian tradisional. Upaya ini penting terutama untuk menjangkau generasi muda yang lebih akrab dengan media digital. Pengabdian lanjutan juga perlu memperluas cakupan wilayah dan variasi kitab tafsir yang dikaji agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang efektivitas model pembelajaran tafsir berbasis komunitas. Selain itu, penguatan instrumen evaluasi kuantitatif pada penelitian selanjutnya dapat membantu mengukur dampak pengabdian secara lebih objektif dan terukur. Akhirnya, kegiatan semacam ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan pendidikan keagamaan berbasis masyarakat yang menempatkan Al-QurAoan sebagai sumber nilai, pembebasan intelektual, dan transformasi sosial. Dengan demikian, tafsir tidak hanya menjadi objek kajian akademik, tetapi juga energi spiritual yang menghidupkan peradaban. DAFTAR PUSTAKA