Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Journal Homepage: https://pusdikra-publishing. com/index. php/josr Peningkatan Kemampuan Literasi Budaya dan Berpikir Kritis Siswa Kelas V SD di Gugus PGRI Pangkatan Melalui Model Pembelajaran FIVES Berbasis Budaya Lokal Elly Agustina1. Sri Dewi Nirmala2. Fery Muhammad Firdaus3 1,2 Universitas Terbuka. Indonesia 3 Universitas Negeri Yogyakarta Corresponding Author: ellyagustina871@gmail. ABSTRACT Key Word This study aimed to analyze the improvement of cultural literacy and critical thinking skills of fifth-grade elementary school students in the PGRI Pangkatan cluster through the implementation of the FIVES learning model based on local culture. The study employed a quasiexperimental approach with a Nonequivalent PretestAePosttest Control Group Design. The research subjects were fifth-grade students of SDN 08 Pangkatan as the experimental class and SDN 02 Pangkatan as the control class. Data were collected through a cultural literacy questionnaire and a critical thinking skills test administered during the pretest and posttest stages. Data analysis was conducted using descriptive and inferential statistics, including HotellingAos TA MANOVA and the Independent Samples t-test. The results indicated that the improvement in cultural literacy and critical thinking skills of students in the experimental class was higher than that of the control These findings suggest that the implementation of the local culture-based FIVES model is effective in simultaneously enhancing both competencies. Critical Thinking. Cultural Literacy. FIVES Model Based on Local Culture How to cite https://pusdikra-publishing. com/index. php/josr ARTICLE INFO Article history: Received 25 January 2026 Revised 02 February 2026 Accepted 21 February 2026 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Pendidikan dasar memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan memperkuat identitas budaya generasi muda. Di era globalisasi, arus informasi dan budaya asing yang semakin masif turut memengaruhi pola pikir serta perilaku siswa sekolah dasar. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana pewarisan dan pengembangan kebudayaan (Aina, 2. Sejalan dengan itu. Jaya et al. , . menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses kebudayaan yang membimbing individu agar mampu mengembangkan potensi dirinya sekaligus menghadapi pengaruh lingkungan secara bijak. Tujuan akhirnya adalah Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 17-31 membentuk pribadi yang berkarakter dan bermoral luhur (Budiarsa et al. Budaya lokal mencakup nilai, norma, tradisi, bahasa, kesenian, hingga kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dalam suatu komunitas (Aisara et al. , 2. Budaya tersebut menjadi identitas pembeda sekaligus fondasi pembentukan karakter bangsa (Pebriani et al. , 2. Namun, derasnya pengaruh globalisasi menyebabkan banyak siswa lebih mengenal budaya populer luar dibandingkan budaya daerahnya sendiri (Rasyeed A et al. , 2. Kondisi ini berpotensi melemahkan keterikatan terhadap identitas budaya lokal apabila tidak diimbangi dengan penguatan melalui pendidikan. Penguatan tersebut dapat dilakukan melalui literasi budaya. Literasi budaya merupakan kemampuan memahami, menghargai, serta mengevaluasi nilai dan praktik budaya dalam kehidupan sosial (Surtuari et al. , 2020. Syakhrani & Kamil, 2. Literasi ini termasuk dalam enam literasi dasar abad ke-21 sebagaimana dikemukakan dalam laporan New Vision for Education oleh World Economic Forum . Literasi tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup pemahaman budaya, digital, finansial, dan aspek lainnya (Kemendikbud, 2. Data PISA 2022 menunjukkan adanya penurunan skor literasi membaca global, termasuk Indonesia, yang semakin menegaskan pentingnya penguatan literasi sejak pendidikan dasar. Literasi budaya berperan penting dalam membentuk identitas, karakter, serta kesadaran kebangsaan siswa (Kusumawati et al. , 2025. Nawir et al. , 2. Penguatan literasi budaya yang kontekstual dapat membantu siswa mencintai dan melestarikan budaya lokal sekaligus bersikap terbuka terhadap dinamika global (Fauziah & Rafianti, 2024. Prihatiningsih et al. , 2. Namun, literasi budaya perlu diiringi dengan kemampuan berpikir kritis agar siswa mampu menilai dan merefleksikan nilai budaya secara rasional (Azka et al. , 2. Kemampuan berpikir kritis melibatkan proses menganalisis, mengevaluasi, serta menyimpulkan informasi secara logis (Nirmala, 2020. Setiana & Purwoko. Studi pendahuluan di Gugus PGRI Pangkatan menunjukkan bahwa 70,4% siswa belum mampu menjelaskan budaya khas daerahnya secara rinci, dan 66,7% lebih memilih tokoh budaya populer luar dalam tugas narasi. Temuan ini sejalan dengan penelitian Nawir et al. , . dan Warastuti et al. , . yang menunjukkan rendahnya literasi budaya dan kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar akibat pembelajaran yang belum kontekstual. Wawancara dengan guru juga mengungkapkan bahwa integrasi budaya lokal dalam pembelajaran masih terbatas serta metode ceramah masih dominan (Listiantomo & Dwikoranto, 2. Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 17-31 Salah satu alternatif solusi adalah penerapan model pembelajaran FIVES (Facts. Inference. Vocabulary. Experiences. Summar. Model ini berbasis konstruktivisme dan mengintegrasikan strategi literasi yang mendorong siswa mengidentifikasi fakta, menarik inferensi, memperkaya kosakata, mengaitkan pengalaman, serta menyusun rangkuman (Shea & Roberts, 2. Struktur bertahap tersebut memungkinkan siswa membangun pemahaman melalui proses berpikir yang sistematis dan reflektif. Penelitian menunjukkan bahwa FIVES efektif meningkatkan literasi (Nirmala, 2020. Sari et al. , 2024. Wabiser & Itlay, 2. Selain itu, model ini berpotensi mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi karena setiap tahap menuntut aktivitas analisis, interpretasi, dan sintesis informasi. Namun demikian, penelitian yang mengintegrasikan FIVES secara eksplisit dengan konteks budaya lokal untuk meningkatkan literasi budaya dan kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar masih terbatas. Padahal, integrasi budaya lokal dalam pembelajaran berpotensi memperkaya pengalaman belajar sekaligus memperkuat identitas dan kesadaran sosial siswa. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Peningkatan Kemampuan Literasi Budaya dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas V SD di Gugus PGRI Pangkatan Melalui Model Pembelajaran FIVES Berbasis Budaya Lokal. Penelitian ini tidak hanya menguji efektivitas model dalam meningkatkan dua kemampuan secara terpisah, tetapi juga menelaah bagaimana keduanya berkembang secara simultan dalam satu desain pembelajaran yang terintegrasi. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual dan praktis terhadap pengembangan pembelajaran kontekstual di sekolah dasar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu . uasi-experimental desig. , yaitu The Nonequivalent PretestAe Posttest Control Group Design. Desain ini melibatkan dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, yang masing-masing diberikan pretest dan posttest. Kelompok eksperimen memperoleh pembelajaran menggunakan model FIVES berbasis budaya lokal, sedangkan kelompok kontrol menggunakan model Discovery Learning. Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026 di Gugus PGRI Pangkatan. Kabupaten Labuhanbatu. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas V sekolah dasar di gugus tersebut. Sampel ditentukan menggunakan teknik purposive sampling dengan mempertimbangkan kesetaraan karakteristik sekolah, meliputi jumlah siswa, kondisi sosial budaya. Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 17-31 serta capaian akademik. Berdasarkan kriteria tersebut. SDN 08 Pangkatan ditetapkan sebagai kelas eksperimen dan SDN 02 Pangkatan sebagai kelas Instrumen penelitian terdiri atas tes kemampuan berpikir kritis dan angket literasi budaya. Tes berpikir kritis disusun berdasarkan indikator kemampuan berpikir kritis yang meliputi kemampuan mengidentifikasi masalah, memberikan alasan logis, menarik kesimpulan, mengevaluasi informasi, serta mengomunikasikan gagasan (Handayani et al. , 2. Angket literasi budaya dikembangkan berdasarkan indikator pemahaman keberagaman budaya, penghargaan terhadap budaya lokal, komunikasi antarbudaya, serta sikap toleransi dalam kehidupan sosial (Kemendikbud. Seluruh instrumen telah melalui uji validitas isi oleh ahli serta uji validitas empiris dan reliabilitas menggunakan koefisien CronbachAos Alpha, dan dinyatakan valid serta reliabel. Prosedur penelitian diawali dengan pemberian pretest pada kedua kelompok untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Selanjutnya, kelompok eksperimen memperoleh pembelajaran dengan model FIVES berbasis budaya lokal selama enam pertemuan yang mencakup tahapan Facts. Inference. Vocabulary. Experiences, dan Summary, sedangkan kelompok kontrol mengikuti pembelajaran menggunakan model Discovery Learning dengan alokasi waktu yang sama. Setelah perlakuan selesai, kedua kelompok diberikan posttest untuk mengukur peningkatan kemampuan literasi budaya dan kemampuan berpikir Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan kecenderungan data melalui nilai rata-rata dan simpangan baku. Sebelum pengujian hipotesis, dilakukan uji prasyarat berupa uji normalitas dan homogenitas. Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan MANOVA dengan statistik HotellingAos TA untuk mengetahui peningkatan kedua variabel secara simultan, serta Independent Samples t-test untuk menganalisis perbedaan peningkatan masing-masing variabel antara kelompok eksperimen dan kontrol pada taraf signifikansi 0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan Kemampuan Literasi Budaya Siswa melalui Model Pembelajaran FIVES Berbasis Budaya Lokal Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa kemampuan literasi budaya siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol berada pada kondisi awal yang relatif setara sebelum perlakuan diberikan. Rata-rata nilai pretest kelas eksperimen sebesar 57,44, sedangkan kelas kontrol sebesar 57,04. Hasil uji Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 17-31 kesamaan rata-rata awal melalui MANOVA HotellingAos TA menunjukkan nilai signifikansi 0,879 (> 0,. , yang berarti tidak terdapat perbedaan kondisi awal antara kedua kelompok. Dengan demikian, peningkatan yang terjadi pada tahap posttest dapat dikaitkan dengan penerapan model pembelajaran. Setelah penerapan model FIVES berbasis budaya lokal selama empat kali pertemuan, rata-rata posttest kemampuan literasi budaya pada kelas eksperimen meningkat menjadi 94,70. Peningkatan sebesar 37,26 poin ini jauh lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang menggunakan Discovery Learning, yang hanya mengalami peningkatan sebesar 7,59 poin . ari 57,04 menjadi 64,. Selain peningkatan rata-rata, distribusi hasil belajar juga menunjukkan perbedaan yang mencolok. Varians posttest pada kelas eksperimen sebesar 51,68 (SD = 7,. , sedangkan pada kelas kontrol sebesar 86,39 (SD = 9,. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan pada kelas eksperimen lebih merata. Uji Independent Samples t-test menunjukkan nilai t hitung sebesar 8,485 dengan p = 0,000 (< 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa peningkatan literasi budaya pada kelas eksperimen secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Secara pedagogis, peningkatan ini dapat dijelaskan melalui karakteristik sintak FIVES yang secara sistematis mengintegrasikan budaya lokal dalam setiap tahapan pembelajaran. Lebih lanjut, analisis per indikator menunjukkan bahwa peningkatan paling dominan terjadi pada indikator pemahaman makna budaya dan penghargaan terhadap Hal ini terlihat dari peningkatan skor pada butir yang mengukur kemampuan siswa menjelaskan fungsi simbol budaya dan mengaitkannya dengan nilai kehidupan sehari-hari. Pada tahap Fact, siswa mengidentifikasi fakta budaya lokal seperti ulos, tortor, gondang, dan simbol adat lainnya. Kegiatan ini secara langsung menstimulasi indikator pemahaman budaya. Melalui aktivitas pengamatan, pencatatan, dan diskusi awal, siswa belajar mengenali unsur budaya secara lebih terstruktur, bukan sekadar menyebutkan nama atau bentuknya. Proses ini membantu siswa membedakan antara fakta budaya, fungsi sosialnya, dan konteks penggunaannya dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, tahap Fact tidak hanya memperluas wawasan budaya siswa, tetapi juga membangun dasar konseptual yang kuat sebelum mereka memasuki tahap analisis yang lebih mendalam. Prihatiningsih et al. , . menyatakan bahwa pembelajaran yang berakar pada konteks budaya lokal dapat memperkuat identitas budaya siswa dan meningkatkan kesadaran terhadap keberagaman. Tahap Inference mengajak siswa menganalisis makna dan nilai yang terkandung dalam simbol budaya. Kegiatan reflektif ini memperkuat indikator penghargaan terhadap budaya. Winangun . , menjelaskan bahwa proses Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 17-31 analisis terhadap nilai budaya mendorong siswa untuk tidak hanya mengetahui budaya, tetapi juga menghargai dan memaknainya secara Tahap Vocabulary memperkaya kosakata budaya siswa dan meningkatkan kemampuan komunikasi antarbudaya. Temirton et al. , . menegaskan bahwa penguasaan istilah budaya secara kontekstual memperkuat literasi kultural dan mempermudah siswa dalam mengekspresikan gagasan secara tepat. Tahap Experience menjadi inti dalam proses internalisasi nilai Siswa mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman nyata, seperti menghadiri upacara adat atau melihat praktik budaya di lingkungan sekitar. Mayang et al. , . menyatakan bahwa pengalaman langsung memperkuat sikap toleransi dan penerapan nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Tahap Summary menuntut siswa menyusun kesimpulan komprehensif, sehingga seluruh indikator literasi budaya terintegrasi secara utuh. Proses sintesis ini menjadikan pembelajaran lebih bermakna karena siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi membangun pemahaman secara reflektif. Tahap ini terbukti menjadi fase integratif yang menggabungkan aspek kognitif dan afektif literasi budaya. Siswa mampu merumuskan simpulan yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga normatif, yaitu memuat nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa dampak FIVES tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan budaya, tetapi juga pada pembentukan kesadaran budaya . ultural awarenes. Sebaliknya, pada kelas kontrol, integrasi budaya lokal tidak dirancang secara sistematis dalam setiap tahapan pembelajaran. Analisis lembar observasi menunjukkan bahwa aktivitas diskusi di kelas kontrol lebih berfokus pada pemahaman konsep secara umum, tanpa eksplorasi mendalam terhadap nilai budaya yang melatarbelakanginya. Akibatnya, peningkatan terjadi terutama pada aspek kognitif dasar, sementara dimensi reflektif dan afektif literasi budaya berkembang lebih lambat. Model Discovery Learning yang diterapkan memang memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan konsep melalui proses mengamati, menanya, mencoba, dan menyimpulkan. Namun, orientasi utamanya tetap pada konstruksi pengetahuan konseptual. Bruner. menjelaskan bahwa Discovery Learning menekankan pada proses menemukan struktur pengetahuan melalui eksplorasi aktif. Akan tetapi, pendekatan ini tidak secara eksplisit mengarahkan siswa untuk melakukan refleksi terhadap nilai dan makna budaya yang terkandung dalam materi Akibatnya, pembelajaran lebih terfokus pada pencapaian kognitif dibandingkan penguatan kesadaran budaya. Literasi budaya tidak hanya dimaknai sebagai pengetahuan tentang keberagaman budaya, tetapi juga sebagai kemampuan memahami. Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 17-31 menghargai, serta menginternalisasi nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari (Kemendikbud, 2. Literasi budaya berkaitan erat dengan pembentukan identitas dan karakter siswa dalam konteks sosialnya. Oleh karena itu, pembelajaran yang tidak mengaitkan materi dengan konteks budaya lokal berpotensi membatasi pengalaman bermakna siswa. Sari et al. , . menegaskan bahwa pembelajaran yang responsif terhadap budaya . ulturally responsive teachin. mampu meningkatkan relevansi dan keterlibatan siswa karena materi dikaitkan dengan latar belakang sosial dan budaya mereka. Selain itu, refleksi merupakan elemen penting dalam penguatan literasi Freitas et al. , . menekankan pentingnya kesadaran kritis . melalui dialog dan refleksi terhadap realitas sosial. Dalam kelas kontrol, proses refleksi terhadap nilai budaya tidak difasilitasi secara eksplisit sehingga siswa tidak memperoleh kesempatan yang cukup untuk mengkaji makna budaya secara mendalam. Berbeda dengan model FIVES berbasis budaya lokal yang pada setiap tahapannya mengintegrasikan eksplorasi konteks budaya, diskusi nilai, dan penguatan makna, pembelajaran di kelas kontrol tidak memberikan ruang sistematis untuk internalisasi nilai budaya tersebut. Hal inilah yang menyebabkan peningkatan literasi budaya pada kelas kontrol lebih rendah dibandingkan kelas eksperimen. Meskipun terdapat peningkatan, hal tersebut lebih disebabkan oleh aktivitas belajar umum dan interaksi kelas, bukan karena adanya desain pembelajaran yang secara terstruktur mengintegrasikan budaya lokal. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa integrasi budaya lokal dalam pembelajaran secara signifikan dapat memperkuat literasi budaya sekaligus meningkatkan keterlibatan dan pemaknaan belajar siswa Dengan demikian, peningkatan kemampuan literasi budaya pada kelas eksperimen menunjukkan bahwa model FIVES berbasis budaya lokal efektif menciptakan pembelajaran kontekstual yang bermakna dan konsisten dalam menstimulasi seluruh indikator literasi budaya. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa melalui Model Pembelajaran FIVES Berbasis Budaya Lokal Kemampuan berpikir kritis siswa juga menunjukkan peningkatan signifikan setelah penerapan model FIVES berbasis budaya lokal. Pada kelas eksperimen, rata-rata skor meningkat dari 17,22 pada pretest menjadi 83,52 pada posttest, dengan selisih 66,30 poin. Sementara itu, pada kelas kontrol peningkatan terjadi dari 16,30 menjadi 67,96, dengan selisih 51,66 poin. Meskipun kedua kelas mengalami peningkatan, selisih kenaikan pada kelas eksperimen lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model FIVES Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 17-31 berbasis budaya lokal lebih efektif dalam mendorong perkembangan kemampuan berpikir kritis siswa dibandingkan pembelajaran yang tidak mengintegrasikan budaya lokal secara sistematis. Hasil uji t menunjukkan nilai t hitung sebesar 5,297 dengan p = 0,000 (< 0,. , yang berarti peningkatan kemampuan berpikir kritis pada kelas eksperimen secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Temuan ini menunjukkan bahwa perbedaan rata-rata yang muncul setelah perlakuan bukan terjadi secara kebetulan, melainkan merefleksikan adanya kontribusi nyata dari model pembelajaran yang diterapkan. Selain itu, selisih peningkatan skor antara kedua kelas memperlihatkan bahwa siswa pada kelas eksperimen mengalami perkembangan kemampuan analitis yang lebih kuat dibandingkan siswa pada kelas kontrol. Varians posttest kelas eksperimen . ,10. SD = 9,. juga lebih kecil dibandingkan kelas kontrol . ,72. SD = 12,. , menunjukkan bahwa peningkatan yang terjadi tidak hanya tinggi secara rata-rata, tetapi juga relatif merata di antara siswa. Hal ini mengindikasikan bahwa struktur pembelajaran yang sistematis dalam FIVES mampu memfasilitasi perkembangan berpikir kritis pada sebagian besar siswa, bukan hanya pada siswa dengan kemampuan awal yang tinggi. Jika dianalisis berdasarkan indikator berpikir kritis, peningkatan paling signifikan terjadi pada kemampuan menganalisis sebab-akibat dan menarik kesimpulan berbasis bukti. Tahap Inference dalam FIVES berperan dominan dalam melatih siswa menghubungkan fakta dengan argumen logis. Struktur ini selaras dengan kerangka berpikir kritis Syafitri et al. , . yang menekankan pentingnya kemampuan memberikan alasan dan mengevaluasi bukti dalam pengambilan keputusan. Peningkatan ini terjadi karena sintak FIVES secara bertahap melatih indikator berpikir kritis, yaitu mengidentifikasi inti masalah, memberikan alasan logis, menarik kesimpulan, mengevaluasi informasi, dan menyampaikan kembali gagasan dengan jelas. Tahap Fact melatih siswa mengidentifikasi informasi relevan dari fenomena budaya. Data menunjukkan bahwa siswa pada kelas eksperimen lebih mampu memilah informasi penting dari fenomena budaya yang disajikan. Hal ini menunjukkan bahwa FIVES membantu membangun kemampuan klarifikasi awal . asic clarificatio. yang merupakan fondasi berpikir kritis. Menurut Vong & Kaewurai. , . , kemampuan memilah fakta merupakan fondasi berpikir kritis. Tahap Inference mendorong siswa melakukan analisis dan penalaran sebab-akibat. Suryanti, . menyatakan bahwa pembelajaran berbasis konteks budaya mendorong siswa berpikir lebih reflektif dan analitis karena permasalahan yang dibahas dekat dengan kehidupan mereka. Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 17-31 Tahap Vocabulary memperkuat kemampuan argumentatif siswa karena mereka harus menggunakan istilah yang tepat dalam menyampaikan Proses ini menuntut ketepatan logika dan kejelasan gagasan. Tahap Experience melibatkan refleksi pribadi dan evaluasi pengalaman berdasarkan nilai budaya. Proses reflektif ini merupakan bagian penting dari berpikir kritis karena siswa belajar mengevaluasi tindakan dan nilai. Tahap Summary menuntut sintesis informasi dan penyusunan argumen secara sistematis. Pada tahap ini, siswa menunjukkan kemampuan mengintegrasikan berbagai sudut pandang sebelum merumuskan kesimpulan akhir. Hal ini menunjukkan bahwa FIVES tidak hanya melatih analisis, tetapi juga kemampuan sintesis dan generalisasi yang menjadi ciri berpikir tingkat tinggi. Handayani et al. , . menyatakan bahwa kemampuan menyintesis informasi merupakan indikator utama berpikir tingkat tinggi. Pada kelas kontrol, meskipun Discovery Learning mendorong siswa untuk melakukan eksplorasi dan menemukan konsep secara mandiri, proses berpikir yang terbentuk belum diarahkan secara sistematis sebagaimana pada model FIVES. Kegiatan penemuan lebih berfokus pada pencarian jawaban atau kesimpulan, tanpa tahapan yang secara jelas membimbing siswa untuk menganalisis secara mendalam, mengevaluasi argumen, dan menyintesis informasi secara terstruktur. Selain itu, tidak adanya tahapan refleksi nilai serta sintesis yang dirancang secara eksplisit menyebabkan siswa kurang terdorong untuk mengaitkan hasil temuannya dengan konteks yang lebih luas. Akibatnya, meskipun terjadi peningkatan kemampuan berpikir kritis, perkembangan tersebut belum mencapai tingkat yang optimal dibandingkan dengan kelas yang menerapkan model FIVES berbasis budaya lokal. Dengan demikian, peningkatan kemampuan berpikir kritis pada kelas eksperimen menunjukkan bahwa model FIVES berbasis budaya lokal tidak hanya memperkaya konteks pembelajaran, tetapi juga menyediakan struktur berpikir yang sistematis dan berulang. Peningkatan Literasi Budaya dan Kemampuan Berpikir Kritis Secara Simultan Uji MANOVA HotellingAos TA pada data posttest menunjukkan nilai TA = 1,870 dengan F = 47,682 dan p = 0,000 (< 0,. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi budaya dan kemampuan berpikir kritis secara simultan pada kelas eksperimen secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelas Temuan ini mengindikasikan bahwa perbedaan yang muncul bukan sekadar fluktuasi skor, melainkan mencerminkan adanya pengaruh perlakuan yang bekerja secara bersamaan pada kedua variabel. Dengan kata lain, penerapan model FIVES berbasis budaya lokal tidak hanya berdampak pada Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 17-31 satu aspek kemampuan siswa, tetapi mampu mendorong perkembangan dua kompetensi secara terpadu dalam satu proses pembelajaran yang sama. Keterpaduan ini menunjukkan bahwa desain pembelajaran yang terstruktur dan kontekstual memiliki kontribusi nyata terhadap pembentukan kemampuan kognitif dan kesadaran budaya siswa secara bersamaan. Secara teoretis, peningkatan simultan tersebut dapat dijelaskan melalui keterkaitan konseptual antara literasi budaya dan berpikir kritis dalam sintak FIVES. Pada tahap Fact dan Inference, siswa tidak hanya mengidentifikasi informasi faktual terkait budaya, tetapi juga dilatih untuk menarik kesimpulan berdasarkan bukti, sehingga pemahaman budaya berkembang bersamaan dengan kemampuan analisis kritis. Tahap Vocabulary membantu siswa memperkaya istilah dan konsep budaya, sekaligus memperkuat kemampuan menyampaikan argumen secara logis dan sistematis. Selanjutnya, tahap Experience mendorong siswa merefleksikan pengalaman belajar dalam konteks nilai budaya, yang secara tidak langsung melatih evaluasi dan penilaian kritis. Pada tahap Summary, seluruh proses berpikir dirangkum dalam bentuk sintesis komprehensif, sehingga siswa mampu mengintegrasikan pemahaman budaya dan penalaran kritis dalam satu kesatuan yang utuh. Vygotsky, . menekankan bahwa perkembangan kognitif terjadi melalui interaksi sosial dan konteks budaya. Ketika budaya lokal dijadikan sumber belajar, siswa membangun pengetahuan melalui pengalaman yang relevan dengan kehidupan mereka. Dalam konteks ini, pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai transfer informasi, tetapi sebagai proses konstruksi makna yang berlangsung melalui dialog, refleksi, dan kolaborasi. Proses tersebut memungkinkan literasi budaya dan berpikir kritis berkembang secara bersamaan karena siswa tidak hanya memahami informasi budaya secara deskriptif, tetapi juga menafsirkan, mengevaluasi, dan mengaitkannya dengan realitas sosial di sekitarnya. Data menunjukkan bahwa peningkatan literasi budaya . ean 94,. lebih tinggi dibandingkan berpikir kritis . ean 83,. , namun keduanya meningkat secara signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa integrasi budaya lokal dalam sintak FIVES memberikan pengaruh yang sangat kuat pada aspek pemahaman dan internalisasi nilai budaya, sekaligus mendorong terbentuknya kemampuan analitis dan reflektif. Dengan kata lain, konteks budaya berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan pengalaman konkret siswa dengan proses penalaran tingkat tinggi. Dengan terpenuhinya asumsi normalitas dan homogenitas serta tidak adanya perbedaan kondisi awal, peningkatan simultan ini dapat dikaitkan secara langsung dengan penerapan model FIVES berbasis budaya lokal. Model Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 17-31 ini memberikan pengalaman belajar yang kontekstual, reflektif, kolaboratif, dan sistematis, sehingga mampu mengembangkan dua kompetensi abad ke-21 secara terpadu. Secara empiris, integrasi tersebut terlihat dari keterkaitan pola peningkatan skor pada kedua variabel yang menunjukkan arah perkembangan yang sejalan. Siswa yang mengalami peningkatan signifikan dalam literasi budaya juga menunjukkan kecenderungan peningkatan pada indikator analisis dan evaluasi dalam berpikir kritis. Hal ini mengindikasikan bahwa proses memahami makna budaya tidak berlangsung secara pasif, tetapi melalui aktivitas kognitif tingkat tinggi seperti menafsirkan, membandingkan, dan Dengan kata lain, penguatan konteks budaya dalam pembelajaran berfungsi sebagai stimulus yang memicu proses penalaran kritis secara simultan. Hasil simultan ini menunjukkan bahwa literasi budaya dan berpikir kritis berkembang secara interdependen dalam struktur FIVES. Ketika siswa menganalisis makna budaya . iterasi buday. , mereka secara bersamaan melatih penalaran logis . erpikir kriti. Integrasi ini memperlihatkan bahwa FIVES tidak mengembangkan kedua kemampuan secara terpisah, melainkan dalam satu ekosistem pembelajaran yang saling menguatkan. Hal ini mendukung pandangan Vygotsky, . bahwa perkembangan kognitif dan sosial-budaya berlangsung melalui interaksi kontekstual yang bermakna. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran FIVES berbasis budaya lokal di kelas V SD Gugus PGRI Pangkatan efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi budaya dan kemampuan berpikir kritis siswa, baik secara terpisah maupun simultan. Integrasi budaya lokal dalam setiap tahapan pembelajaran menjadi faktor utama yang menjadikan pembelajaran lebih bermakna, partisipatif, dan berdampak luas terhadap perkembangan kognitif dan karakter siswa. KESIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran FIVES yang dipadukan dengan konteks budaya lokal memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kemampuan literasi budaya dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas V SD di Gugus PGRI Pangkatan. Siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model tersebut mengalami peningkatan hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan siswa pada kelas yang menggunakan pembelajaran Discovery Learning. Proses pembelajaran yang terstruktur, kontekstual, serta memberikan ruang eksplorasi dan refleksi menjadikan siswa lebih memahami nilai dan praktik budaya di sekitarnya sekaligus mampu menganalisis, menilai, dan menyimpulkan informasi secara lebih logis. Temuan Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 17-31 ini menegaskan bahwa pengintegrasian budaya lokal dalam sintak FIVES mampu mengembangkan kedua kemampuan tersebut secara bersamaan dan lebih optimal. Berdasarkan temuan tersebut, guru dianjurkan untuk merancang pembelajaran yang mengaitkan materi dengan lingkungan budaya siswa melalui tahapan FIVES agar proses belajar menjadi lebih bermakna. Pendekatan yang melibatkan diskusi, refleksi, dan penyimpulan secara sistematis perlu terus dikembangkan untuk menumbuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Penelitian selanjutnya dapat memperluas penerapan model ini pada jenjang atau mata pelajaran lain guna melihat konsistensi efektivitasnya. Selain itu, sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan dapat mendukung integrasi budaya lokal dalam perencanaan pembelajaran serta memfasilitasi pelatihan guru agar implementasinya berjalan secara berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA