Paradigma. Volume 14. No. 1, 2025 pp. e-ISSN: x-x-x Diskursus Etnis Madura Dalam Materi Stand Up Comedy Maulana Vierry Airlangga Putra1* dan Farid pribadi. Sos. Sosio2 1,2Program Studi Sosiologi. Jurusan Ilmu Sosial. FISH-Unesa Maulanavierry. 21046@mhs. Abstract Abstract should state briefly the purpose of the research, design/methodology/approach, the main results and major conclusions. It should not exceed 200 words. No citations should be included in the abstract. This study aims to analyze the discourse of the Madurese ethnicity in stand-up comedy material. Using a qualitative approach, this research applies Teun A. van DijkAos discourse analysis and Michel FoucaultAos genealogy and archaeology of discourse theory. The findings indicate that Madurese stand-up comedy material can be seen as a collective effort to reclaim control over the narrative about the Madurese ethnic group. Comedians integrate social criticism, cultural pride, and humor as strategies to deconstruct stereotypes and construct a fairer In conclusion, these findings affirm that stand-up comedy plays a crucial role as an alternative discourse that challenges the dominance of urban cultural power and advocates for the sustainability of local culture. In this context, humor serves as an effective tool to critique, deconstruct, and reconstruct the cultural identity of Madura. Thus, stand-up comedy material functions not only as entertainment but also as a form of resistance against power structures that normalize cultural inequality and Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis diskursus etnis Madura dalam materi stand-up comedy. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menerapkan analisis wacana Teun A. van Dijk serta teori genealogi dan arkeologi wacana Michel Foucault. Hasil penelitian menunjukkan bahwa materi stand-up comedy etnis Madura dapat dipahami sebagai upaya kolektif dalam merebut kembali kendali atas narasi tentang etnis Madura. Para komika menggabungkan kritik sosial, kebanggaan budaya, dan humor sebagai strategi untuk mendekonstruksi stereotip serta membangun diskursus baru yang lebih adil. Kesimpulannya, temuan ini menegaskan bahwa stand-up comedy berperan penting sebagai diskursus alternatif yang mampu menggugat dominasi kekuasaan budaya urban serta memperjuangkan keberlanjutan budaya lokal. Dalam konteks ini, humor berfungsi sebagai alat yang efektif untuk mengkritik, mendekonstruksi, dan merekonstruksi identitas budaya Madura. Dengan demikian, materi stand-up comedy tidak hanya menjadi bentuk hiburan, tetapi juga sebagai perlawanan terhadap struktur kekuasaan yang menormalisasi ketimpangan dan marginalisasi budaya. Keywords: Stand Up Comedy. Madurese ethnicity. Discourse analysis . Michel Fooucault . Teun A. van dijk Pendahuluan Stand-up comedy merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang semakin populer di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Seni ini menekankan kemampuan komika dalam mengolah keresahan pribadi atau fenomena sosial menjadi materi komedi yang cerdas, lucu, dan sering kali mengandung kritik sosial. Tidak seperti teater atau musik, stand-up comedy bersifat lebih personal, langsung, dan fleksibel dalam menyampaikan pesan. George Carlin pernah menyatakan bahwa tragedi yang diberi waktu dapat diolah menjadi satire, yang menggambarkan bagaimana komedi dapat menjadi media untuk menyampaikan kritik terhadap realitas sosial secara halus namun Paradigma. Volume 14. No. 1, 2025 pp. e-ISSN: x-x-x Sejak kehadiran para pionir seperti Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono, stand-up comedy di Indonesia berkembang pesat, bahkan melahirkan komunitas-komunitas seperti Stand Up Indo. Kompetisi Stand-Up Comedy Indonesia (SUCI) yang diadakan oleh Kompas TV menjadi panggung bagi lahirnya komika-komika baru, termasuk Tretan Muslim, seorang komika asal Madura yang dikenal karena membawakan materi seputar etnis dan budaya Madura dengan gaya khas dan jenaka. Materi Tretan yang menggambarkan karakteristik masyarakat Madura tidak hanya menghibur tetapi juga menjadi ruang diskursus tentang identitas etnis. Namun, penggunaan isu etnis dalam komedi tidak lepas dari kontroversi. Sebagian masyarakat menganggap bahwa membahas etnisitas dalam lelucon berisiko menyinggung kelompok tertentu, meskipun ada juga yang mengapresiasi keberanian komika dalam mengangkat isu-isu yang dianggap Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana diskursus etnis Madura dalam materi stand-up comedy dapat diterima sebagai bentuk humor dan bukan penghinaan? Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana komika seperti Tretan Muslim mengemas identitas etnis dalam bentuk humor, serta bagaimana respons masyarakat terhadap materi komedi bertema etnis tersebut. Kajian Pustaka 1 Analisis Diskursus Teun A. van Dijk Wacana merupakan kesatuan bahasa yang lengkap dan saling terkait, baik secara lisan maupun Menurut Eriyanto . , wacana bukan hanya studi kebahasaan, melainkan mengandung maksud tersembunyi dan dipengaruhi oleh konteks sosial. Dalam perspektif analisis wacana kritis, wacana dipandang sebagai bentuk praktik sosial yang memuat ideologi, relasi kekuasaan, serta kepentingan tertentu. Teun A. van Dijk menawarkan pendekatan yang dikenal dengan kognisi sosial, yaitu dengan menggabungkan analisis teks, kognisi, dan konteks sosial. Van Dijk menekankan bahwa pemahaman atas wacana tidak cukup hanya dari struktur teks, tetapi juga mencakup bagaimana teks diproduksi dan diterima dalam masyarakat, serta pengaruhnya terhadap pola pikir dan ideologi 2 Teori Genealogi Wacana Michel Foucault Michel Foucault melihat wacana sebagai instrumen kekuasaan yang membentuk pengetahuan, norma, dan realitas sosial. Lewat pendekatan genealogi, ia menelusuri asal-usul wacana dan menunjukkan bahwa konsep seperti kegilaan, seksualitas, atau rasisme adalah konstruksi sosial yang berubah mengikuti kepentingan kekuasaan. Dalam karyanya seperti Discipline and Punish dan The History of Sexuality. Foucault mengungkap bagaimana wacana mengatur tubuh, perilaku, serta membentuk hierarki sosial. Dalam konteks etnisitas, wacana dapat mereproduksi stereotip melalui media dan institusi. Foucault menunjukkan bahwa wacana menciptakan kenyataan, bukan sekadar mencerminkannya, dan penting untuk membongkar kekuasaan yang tersembunyi di balik klaim AukebenaranAy tersebut. Paradigma. Volume 14. No. 1, 2025 pp. e-ISSN: x-x-x Metode Penelitian 1 Sifat Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis wacana. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan pemahaman yang mendalam terhadap fenomena sosial secara alami di lapangan (Sulistiyawati, 2. Melalui analisis wacana, peneliti dapat mengungkap makna tersembunyi, kekuasaan, dan ideologi dalam teks. Pendekatan ini mengacu pada pemikiran Michel Foucault yang melihat diskursus sebagai produk historis dan sosial yang membentuk serta dibentuk oleh kekuasaan. Foucault menekankan bahwa pengetahuan tidak bersifat absolut, melainkan bergantung pada struktur sosial dan historis. Dalam The Archaeology of Knowledge dan Order of Discourse. Foucault menjelaskan bahwa diskursus menciptakan Autatanan pengetahuanAy yang membatasi cara berpikir dan memproduksi kebenaran melalui aturan dan institusi. 2 Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah tayangan Stand-Up Comedy dari kanal YouTube Stand Up Kompas TV, khususnya yang dibawakan oleh Tretan Muslim. Aan, dan Fuad Sasmita. 3 Waktu Penelitian Penelitian dilakukan dari bulan Juni hingga Desember. Observasi awal telah dilakukan untuk memudahkan penyusunan proposal dan pelaksanaan penelitian. 4 Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui teknik purposive sampling dengan memilih materi yang relevan sesuai tujuan penelitian. 5 Teknik Analisis Data Data dianalisis menggunakan model analisis wacana Teun A. van Dijk dan konsep genealogi wacana Michel Foucault untuk memahami relasi kuasa, ideologi, dan konstruksi sosial dalam teks. Hasil dan Pembahasan . 500 kat. 1 Stand-Up Comedy di Indonesia Lawakan tunggal di Indonesia telah ada sejak era 1970-an melalui grup seperti Srimulat dan Warkop DKI. Meski tampil secara kolektif, beberapa anggotanya memulai pertunjukan dengan melawak secara individu. Gaya ini kemudian berkembang menjadi format Stand-Up Comedy modern, di mana komika menyampaikan keresahan pribadi dalam bentuk lelucon yang menyentil isu sosial secara menghibur (Leonardo & Junaidi, 2. Popularitas stand-up comedy meningkat sejak 2011 dengan berdirinya Komunitas Stand-Up Comedy Indonesia oleh Ernest Prakasa. Pandji Pragiwaksono. Raditya Dika, dan lainnya. Kompas TV kemudian menginisiasi Stand-Up Comedy Indonesia (SUCI), kompetisi televisi pertama di bidang ini. SUCI menjadi ajang penting bagi para komika dan memunculkan banyak talenta baru. Format kompetisi ini terus berkembang, termasuk audisi digital, tantangan mingguan, serta babak khusus seperti Call Back dan UTS. Paradigma. Volume 14. No. 1, 2025 pp. e-ISSN: x-x-x Platform digital seperti YouTube turut memperkuat eksistensi stand-up comedy. Kanal YouTube Stand-Up Comedy Kompas TV memfasilitasi penayangan ulang penampilan para komika, memperluas jangkauan audiens, dan mengarsipkan materi komedi. Kanal ini menjadi medium penting dalam memperkenalkan komika ke publik lebih luas. Nama-nama seperti Raditya Dika. Pandji. Arie Kriting. Babe Cabita. Tretan Muslim. Aan, dan Fuad Sasmita turut meraih popularitas melalui platform ini, membuktikan bahwa media digital memainkan peran besar dalam perkembangan stand-up comedy Indonesia. Konsep lawak tunggal di Indonesia telah dikenal sejak era 1970-an melalui grup lawak seperti Srimulat dan Warkop DKI. Tokoh seperti Gepeng dari Srimulat sering memulai pertunjukan secara individu, begitu juga anggota lain seperti Basuki dan Mamiek Prakoso. Sementara itu. Warkop DKIAiyang dikenal melalui film-filmnyaAijuga kerap menampilkan lawakan tunggal dari Dono. Kasino, dan Indro. Stand-Up Comedy sebagai bentuk seni lawakan tunggal modern diperankan oleh seorang komika yang menyampaikan keresahan personal dalam bentuk lelucon. Komika menggunakan pendekatan komedi untuk mengkritik berbagai isu sosial secara tidak langsung dan menghibur. Acara stand-up comedy kemudian berkembang menjadi tayangan populer, khususnya sejak munculnya komunitas Stand-Up Comedy Indonesia pada tahun 2011 yang digagas oleh Ernest Prakasa. Ryan Adriandhy. Raditya Dika. Pandji Pragiwaksono, dan Isman H. Suryaman. Salah satu bentuk penting perkembangan ini adalah kompetisi Stand-Up Comedy Indonesia (SUCI) yang disiarkan oleh Kompas TV. SUCI merupakan ajang pencarian bakat stand-up comedy pertama di televisi Indonesia dan berbeda dengan Stand-Up Comedy Show Metro TV yang lebih bersifat hiburan. Dengan slogan "Let's Make Laugh!". SUCI menjadi tolok ukur kesuksesan bagi para komika di Indonesia. Kompetisi ini pertama kali tayang tahun 2011 dan melibatkan tokoh-tokoh seperti Pandji. Raditya, dan Indro Warkop. Awalnya. SUCI menyeleksi 13 komika dari audisi di kota-kota besar. Seiring waktu, jumlah kota audisi dan peserta bertambah, bahkan mencakup audisi digital lewat YouTube. Dalam kompetisi, komika tampil selama 3Ae7 menit dengan tema dan tantangan berbeda tiap minggu. Sistem eliminasi disebut "close-mic", dan format acara terus diperbarui, seperti dengan babak Pre Show. Call Back, serta UTS (Ujian Team Stand-U. SUCI juga memperkenalkan tantangan improvisasi pada musim ke-5, yang menuntut komika tampil tanpa naskah. Peran media digital, khususnya YouTube, sangat besar dalam mendukung penyebaran seni stand-up comedy di Indonesia. Kanal YouTube Stand-Up Comedy Kompas TV dan Stand-Up Comedy Academy milik Indosiar menjadi platform penting bagi pertunjukan komika. Kanal Kompas TV menyajikan video lengkap dari babak awal hingga final SUCI, serta konten tambahan seperti open mic, showcase, dan kolaborasi antar komika. Kanal ini konsisten menghadirkan konten berkualitas yang bisa diakses luas, termasuk oleh penonton di luar jangkauan televisi nasional. YouTube membantu memperluas jangkauan dan membangun popularitas komika melalui sistem algoritma dan interaksi penonton. Banyak komika yang sebelumnya hanya dikenal di komunitas lokal kini terkenal secara nasional, seperti Raditya Dika. Pandji. Arie Kriting. Babe Cabita, hingga Tretan Muslim. Aan, dan Fuad Sasmita. Dengan ini, stand-up comedy menjadi medium alternatif untuk menyampaikan kritik sosial secara segar, ringan, dan menghibur. Paradigma. Volume 14. No. 1, 2025 pp. e-ISSN: x-x-x 2 Profil Tretan Muslim Tretan Muslim, bernama asli Aditya Muslim, lahir pada 10 Maret 1991 di Bangkalan. Madura. mulai dikenal publik setelah mengikuti Stand-Up Comedy Indonesia (SUCI) musim ketiga pada Meski hanya mencapai enam besar, ia menarik perhatian lewat materi khas yang mengangkat kehidupan masyarakat Madura dan pengalaman pribadinya. Julukan AuMMAy (Madura Move O. menjadi simbol niatnya memperbarui citra Madura dalam dunia hiburan. Setelah SUCI. Muslim pindah ke Jakarta dan sempat kuliah di jurusan Kesehatan Masyarakat di Universitas Esa Unggul. juga memiliki latar belakang sebagai lulusan D-3 Keperawatan dan pernah bekerja sebagai perawat di Surabaya. Pengalaman ini kerap menjadi materi stand-up-nya yang unik dan relatable. Muslim kemudian membentuk grup komika "Overacting" dan aktif di kanal YouTube Tretan Universe, di mana ia memproduksi konten komedi seperti Tretan Barber Soup dan Last Hope Kitchen. Pada 2017, ia mendirikan Majelis Lucu Indonesia (MLI) bersama Coki Pardede, yang berkembang menjadi salah satu platform komedi terkemuka di Indonesia. Namun, pada 2018, keduanya terlibat kontroversi terkait video yang dianggap menistakan agama, membuat mereka vakum Tretan kembali aktif pada 2019, bermain dalam film seperti Yowis Ben dan Cek Toko Sebelah, serta mengembangkan bisnis kuliner AuBebek CarokAy. Identitas budaya Madura dan latar kesehatan menjadikan materi komedinya khas dan otentik, mengukuhkannya sebagai komika multitalenta di dunia hiburan Indonesia 3 Profil Ansori Anwar (Aa. Ansori Anwar, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Aan, adalah komika asal Sampang. Madura. Ia mulai dikenal publik setelah mengikuti ajang Stand-Up Comedy Indonesia (SUCI) musim ke-10 yang diselenggarakan oleh Kompas TV. Materi komedinya khas karena mengangkat kehidupan masyarakat Madura dengan sudut pandang yang segar, termasuk membahas stereotip seperti anggapan bahwa orang Madura hanya bekerja sebagai tukang sate. Aan memulai karier melawak di kampung halamannya lewat undangan hajatan sebelum merantau ke Jakarta. Awalnya bekerja di rumah makan sate taichan, ia kemudian bergabung dengan komunitas Stand Up Indo Jakarta Timur. Ketika menghadiri agenda open mic. Aan secara tak terduga diminta tampil dan berhasil menunjukkan potensinya berkat pengalaman tampil di Surabaya dan daerah asalnya. Dalam penampilannya. Aan sering mengangkat keresahan terkait bagaimana masyarakat Madura kerap dipandang sebelah mata karena stereotip dan asumsi pendidikan yang rendah. Sebagai sarjana hukum, ia ingin mematahkan stigma tersebut melalui komedi. Aan juga pernah tampil dalam ajang Super Playground Vol. 1, membawakan cerita personal dan lucu seputar bibinya yang meyakini acara televisi scripted sebagai tayangan nyata. Lewat gaya penyampaian yang santai, humoris, dan berbasis realitas sosial. Aan berhasil membawa warna baru dalam panggung stand-up comedy nasional. menjadi representasi suara Madura yang tidak hanya menghibur tetapi juga mencerdaskan dan membuka perspektif audiens terhadap isu sosial dan budaya masyarakat Madura. 4 Profil Fuad Sasmita Fuad Sasmita adalah komika asal Pulau Kangean. Madura, yang dikenal lewat materi komedinya yang kuat mengangkat budaya dan kehidupan masyarakat Madura. Ia mulai tertarik pada dunia komedi setelah menonton acara seperti API dan Ngelaba, dan kemudian mengikuti komunitas Standupindo Surabaya sejak tahun 2015. Fuad mengikuti kompetisi Stand-Up Comedy Academy (SUCA) musim Paradigma. Volume 14. No. 1, 2025 pp. e-ISSN: x-x-x ketiga dan berhasil masuk 35 besar, meski hanya bertahan di minggu pertama. Ia juga mengikuti audisi SUCI X namun gagal lolos ke babak utama. Meski langkahnya di kompetisi besar belum terlalu panjang. Fuad tidak menyerah. Ia aktif membangun kehadiran di media sosial, terutama lewat akun Instagram @fuadsasmitaa yang memiliki lebih dari 89 ribu pengikut, tempat ia membagikan konten komedi sehari-hari. Fuad pernah menjadi komika pembuka untuk pertunjukan Stand-Up Comedy Pandji Pragiwaksono di Surabaya, sebuah pencapaian yang menunjukkan pengakuan atas kualitas komedinya. Namun, ia tetap rendah hati, menjalani kehidupan sebagai pengemudi ojek Bahkan saat dikenali oleh penumpangnya. Fuad menganggapnya sebagai pengalaman biasa, bukan sesuatu yang membuat hidupnya berubah secara signifikan. Dengan latar belakang sederhana. Fuad terus berkarya dan menunjukkan bahwa komedi adalah ruang ekspresi sekaligus perjuangan. Meski tidak selalu tampil di panggung besar, ia membuktikan bahwa semangat dan konsistensi bisa membuatnya tetap relevan di dunia hiburan. Fuad menjadi sosok inspiratif yang menyuarakan identitas Madura melalui panggung dan media digital 5 Materi Etnis Madura dalam Materi Stand-Up Comedy Sebagai bagian dari analisis diskursus dalam materi stand-up comedy, penampilan Tretan Muslim. Ansori Anwar (Aa. , dan Fuad Sasmita menjadi fokus utama dalam penelitian ini. Ketiga komika ini dikenal memiliki gaya penyampaian yang khas, mulai dari kritik sosial hingga eksplorasi isu-isu keseharian, yang dikemas melalui pendekatan humor dengan sentuhan identitas etnis Madura. Materi komedi yang dianalisis diambil dari video penampilan mereka yang tersedia di kanal YouTube Stand-Up Comedy Indonesia dan Stand-Up Comedy Academy. Seluruh materi dari video-video tersebut ditranskrip secara rinci dan dijadikan bahan utama dalam analisis diskursus. Pemilihan video didasarkan pada keberadaan tema yang eksplisit maupun implisit mengenai etnisitas Madura, baik melalui penyebutan identitas, stereotip, hingga pengalaman hidup sebagai bagian dari masyarakat Madura. 1 Materi Stand-Up Comedy Tretan Muslim: AuBerhenti Merokok Itu Sulit. Karena Pemerintah. Ay Ae SUCI 3 Audisi Dalam bit pembuka. Tretan Muslim memperkenalkan diri sebagai orang Madura, lengkap dengan logat khas yang ia pertahankan sepanjang penampilan. Bit pertama membahas kesulitan mempelajari bahasa Madura, dengan punchline bahwa anak kecil Madura dapat berbicara bahasa sendiri, namun perlu TOEFL 1000 untuk memahaminya. Bit-bit selanjutnya mencakup pengalaman sebagai perawat, kritik terhadap kampanye rokok, serta stereotip tentang orang Madura yang dikemas dalam format satire dan hiperbola. Ia juga menyinggung sepak bola Madura United serta budaya supporter Madura, yang dibingkai dalam gambaran humoris tetapi tetap menyimpan kritik sosial tersirat. 2 Materi Stand-Up Comedy Tretan Muslim: AuSaya Akan Bikin Acara Pengganti Malam Minggu Miko. Ay Ae SUCI 3 Tretan Muslim kembali memperkenalkan identitas etnisnya secara eksplisit dengan menyatakan bahwa ia berasal dari Madura dan merasa bangga bisa tampil di televisi tanpa harus menjadi penjual sateAisebuah stereotip yang ia kritik melalui humor. Bit berikutnya menyinggung representasi simbolik etnis Madura seperti celurit, yang ia plesetkan menjadi tanda tanya sebagai lambang Kritik sosial dibungkus dengan metafora kreatif dan ironi, seperti transformasi film Transformers menjadi "Kutimbang Kau dengan Bismillah" yang mencerminkan budaya rombeng . engumpul besi tu. di Madura. Paradigma. Volume 14. No. 1, 2025 pp. e-ISSN: x-x-x 3 Materi Stand-Up Comedy Tretan Muslim: AuKoruptor Gentayangan Saat Nonton TenisAy Ae SUCI 3 Penampilan ini berfokus pada kritik terhadap sinema horor Indonesia. Tretan menyampaikan ketidaksukaannya terhadap penggambaran profesi perawat secara tidak realistis dalam film. Humor etnis muncul ketika ia mengaitkan kebiasaan masyarakat Madura dengan tema film hororAiseperti setan yang diminta muntah paku sampai keluar baut dan rel Suramadu. Materi ini mengandung kritik terhadap korupsi dan komersialisasi horor, yang dibalut dengan narasi kultural Madura secara satiris dan hiperbolik. 4 Materi Stand-Up Comedy Tretan Muslim: AuHiburan Anak-anak di LautAy Ae SUCI 3 Materi ini diawali dengan kritik terhadap tempat wisata konvensional seperti kebun binatang, lalu mengarah pada pengalaman berlibur ke Madura. Humor muncul dari perbandingan pelabuhan Bali dan Madura, dengan punchline anak-anak Madura menerima jangkar alih-alih koin. Penampilan ini juga menyinggung infrastruktur Jembatan Suramadu, keterbatasan internet di Madura, serta popularitas kuliner lokal seperti Bebek Sinjay. Seluruh materi memadukan nostalgia, identitas lokal, dan kritik sosial dalam bentuk narasi personal. 5 Materi Stand-Up Comedy Aan: AuGak Ada Konser, di Madura Hanya Ada MarawisAy Ae Super Playground Vol. Aan membuka dengan memperkenalkan diri sebagai orang Madura dan memulai materi dengan stereotip lokal mengenai kebiasaan nongkrong. Ia kemudian menyinggung komentar-komentar minor dari tetangga soal prospek pendidikannya, yang ia balas dengan punchline ironi: merantau ke Jakarta untuk membuktikan bahwa mereka benar. Bit utama menyoroti grup marawis lokal yang ia ikuti, dengan muatan humor tentang lagu-lagu yang diaransemen ulang dan populer, seperti lagu Coca-Cola. Materi ini memperlihatkan bagaimana budaya populer Madura dibenturkan dengan respons masyarakat luar. 6 Materi Stand-Up Comedy Aan: AuKerja di Perusahaan China. Namanya TaichanAy Ae Audisi SUCI X Jakarta Aan membuka dengan menyebut data rendahnya tingkat pendidikan di Madura dan menyisipkan pengalaman personal sebagai sarjana hukum yang kini bekerja di gerai sate taichan. Humor muncul dari cara ia menyamarkan pekerjaannya sebagai karyawan Auperusahaan ChinaAy. Bit berikutnya menyinggung literasi masyarakat terhadap tayangan televisi dan budaya populer, serta bagaimana persepsi Jakarta terhadap orang Madura kerap diwarnai stereotip. Materi ditutup dengan penjelasan istilah lokal AuKanak des tak desAy sebagai pengganti AujametAy, menampilkan dinamika linguistik khas Madura. 7 Temuan Data Materi Stand Up Comedy Fuad Sasmita | Stand Up Fuad: Sticker Happy Family di Sampan | Audisi SUCI X Jakarta Fuad membuka penampilannya dengan memperkenalkan diri sebagai orang Madura, lalu menyelipkan kalimat berbahasa Madura AuBedeh beddenah beddek bedheAy yang secara lucu ia artikan sebagai AuKompas TV inspirasi IndonesiaAy. Pada bit pertama. Fuad menyampaikan bahwa ia berasal dari Pulau Kangean, bagian dari Madura Timur yang terletak di Kabupaten Sumenep. menggunakan gestur untuk menunjukkan letaknya. Ia mengeluhkan kebingungan orang-orang soal Paradigma. Volume 14. No. 1, 2025 pp. e-ISSN: x-x-x Kangean Auikut daerah manaAy dan menjawab dengan punchline absurd bahwa Kangean Auikut MeksikoAy. Bit selanjutnya membahas anak muda Kangean yang dianggap modern. Punchline muncul saat Fuad menyebut bahwa AumodernAy di sana artinya bermain Facebook, menyindir ketertinggalan Fuad lalu menyoroti lambatnya arus informasi di Kangean. Ia menggambarkan keterlambatan itu dengan koran yang baru sampai dua minggu setelah terbit. Ia menambahkan tag bahwa Kompas TV masih audisi SUCI 3, presiden masih Gus Dur, dan wakilnya adalahA Jose Mourinho. Dalam bit berikutnya, ia menjelaskan bahwa Pulau Kangean lebih banyak sampan daripada mobil. Punchline muncul saat ia menyebut banyaknya sampan diberi stiker AuHappy FamilyAy, layaknya mobil di kota. Mobil di sana begitu sedikit, hingga satu mobil bisa lewat, lalu satu jam kemudian lewat lagiAiternyata mobil yang sama sedang putar balik. Fuad menutup dengan menyarankan Citayem Fashion Week dipindah ke Kangean yang sepi. Jalanannya penuh zebra cross, cocok untuk catwalkA hanya saja penontonnya cuma satu: Jose Mourinho Kesimpulan Melalui analisis genealogi kekuasaan Foucault, ditemukan bahwa materi stand-up comedy Tretan Muslim. Aan, dan Fuad Sasmita mencerminkan wacana etnisitas Madura yang selama ini terpinggirkan oleh budaya dominan. Ketiganya memanfaatkan humor sebagai medium untuk menggugat stereotip dan ketimpangan sosial yang dilekatkan pada identitas Madura. Humor mereka tidak hanya menghibur, tetapi juga bertindak sebagai bentuk resistensi terhadap dominasi budaya urban yang kerap menempatkan budaya lokal dalam posisi subordinat. Dalam materi mereka, identitas Madura kerap digambarkan secara satir sebagai tertinggal, keras kepala, atau tidak modern. Namun, justru melalui narasi tersebut, mereka menyuarakan kritik terhadap wacana dominan yang menormalkan ketimpangan dan meminggirkan budaya lokal. Humor dijadikan senjata untuk merebut kembali narasi dan menegaskan bahwa masyarakat Madura memiliki keunikan, daya tahan, dan martabat yang layak dihargai. Tretan Muslim merayakan identitas lokal sembari menyindir budaya urban yang gemar mengecilkan nilai-nilai Madura. Aan mengangkat pengalaman sebagai perantau untuk mengungkap ketimpangan sosial dan diskriminasi yang dialami masyarakat Madura di kota Sementara Fuad Sasmita memanfaatkan isolasi Pulau Kangean sebagai simbol ketertinggalan sekaligus kritik terhadap ketimpangan akses informasi. Keseluruhan materi mereka menunjukkan bahwa stand-up comedy bisa menjadi wacana alternatif yang efektif untuk mendekonstruksi hegemoni budaya dominan, serta membangun kembali identitas Madura dengan cara yang reflektif dan memberdayakan. Paradigma. Volume 14. No. 1, 2025 pp. e-ISSN: x-x-x Daftar Pustaka