Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies Volume 6. Number 2, 2023, pp. ISSN: 2622-6022 (Onlin. DOI: 10. 30872/adjektiva. Copyright A 2023 by Author. Strategi Asesmen Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Dalam Kurikulum Merdeka di SMP Ibni Wiryateja*. Restiana Dwi Hartati Universitas Sebelas Maret. Indonesia *Email: ibniwiryateja@student. ABSTRAK Strategi pelaksanaan asesmen dalam Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum yang baru saja diterapkan memiliki implikasi pada strategi guru dalam melaksanakan asesmen dalam Penelitian sebelumnya secara menyatakan bahwa asesmen Kurikulum Merdeka masih belum sesuai dengan ideal. Pengalaman dan referensi guru dalam menyusun perencanaan dan melaksanakan asesmen masih terbatas. Beranjak dari keterbatasan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi guru dalam perencanaan, pelaksanaan, dan hambatan dalam penerapan asesmen pada Kurikulum Merdeka. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dan sumber data terdiri dari peristiwa, informan, analisis dokumen, dan catatan lapangan. Teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling. Uji validitas data menggunakan metode triangulasi sumber data dan teori. Teknik analisis data menggunakan jenis interactive model analysis. Temuan . Perencanaan asesmen berupa penyusunan modul ajar dan perangkat asesmen. Pelaksanaan asesmen meliputi asesmen diagnostik, formatif dan sumatif. Hambatan berupa sumber, pengalaman, dan alokasi waktu yang terbatas. Penanganan dilakukan dengan diskusi internal maupun eksternal antar guru sehingga mampu memberikan perspektif lain mengenai pelaksanaan asesmen yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Keywords: asesmen, pembelajaran, kurikulum merdeka, bahasa Indonesia, sekolah menengah Article History Received: 3 September 2023 Revised: 15 October 2023 Accepted: 27 October 2023 Published: 31 October 2023 Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. PENDAHULUAN Asesmen merupakan salah salah satu sintak yang esensial dalam sebuah pembelajaran. Melalui asesmen guru dapat menjadikannya sebagai . dasar penetapan kebijakan strategis. panduan proses pembelajaran ke depan. dan kriteria penilaian sumatif serta formatif (Wilson, 2. Penetapan kebijakan strategis digunakan pada pembelajaran mendatang. Hasil asesmen ini membantu guru dalam menentukan arah, proporsi, model, media dan kedalaman materi untuk rencana pembelajaran. Panduan pembelajaran berada di taraf selanjutnya yaitu pada tahapan pelaksanaan pembelajaran. Pada tahap ini, hasil asesmen mampu dijadikan pegangan bagi guru untuk menerapkan rencana pembelajaran yang telah disusun. Pada tahap Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies ke tiga, hasil asesmen juga berimplikasi pada kriteria penilaian sumatif dan formatif. Hal ini terkait dengan penentuan tujuan, jenis instrumen, capaian, dan metode penyajian hasil Seluruh data yang diperoleh dari proses asesmen menjadi korpus pengetahuan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Secara spesifik, asesmen harus ditentukan pada kebutuhan masing-masing mata pelajaran dan level peserta didik. Begitu pula asesmen yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran dalam bahasa Indonesia didasarkan pada empat kompetensi berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat elemen ini yang sebenarnya menjadi materi utama dalam pembelajaran bahasa. Level ini dalam Kurikulum Merdeka disebut sebagai fase. Fase merupakan kumpulan etape yang harus ditempuh peserta didik dalam tiap jenjangnya (Anggraena et al. , 2. Mengacu pada Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka, pada level Sekolah Menengah Pertama menggunakan fase Fase ini. kemudian dirumuskan dalam CP . apaian pembelajara. Berangkat dari karakteristik pembelajaran dan kurikulum. Asesmen yang disyaratkan dalam Kurikulum Merdeka adalah asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif. Asesmen diagnostik merupakan asesmen yang berfungsi untuk . memilih peserta didik . emampuan & pelacaka. penentuan homogenitas kelas. penerimaan heterogenitas peserta didik. sehingga dapat ditentukan bentuk pembelajaran berdasarkan kebutuhan peserta didik . ndividualisasi & personalisas. (Csapy & Molnyr, 2. Asesmen formatif merupakan asesmen dapat memproyeksi kemajuan belajar. Asesmen formatif digunakan untuk memperbaiki program yang berlangsung (Bennett, 2. Asesmen sumatif merupakan asesmen paripurna. Asesmen ini digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa. Asesmen ini dapat digunakan sebagai stimulus dalam mendorong efektivitas pembelajaran, peningkatan kompetensi, dan keberhasilan program (Kibble, 2017. Asesmen sumatif memungkinkan penilaian berlangsung secara kumulatif (Dixson & Worrell, 2. Artinya, penilaian mampu memproyeksikan tingkat belajar siswa, kualitas pembelajaran, dan penilaian kinerja sekaligus. Strategi pelaksanaan asesmen dalam kerangka Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum yang baru saja diterapkan memiliki implikasi yang beragam. Misalnya jika mengacu pada temuan penelitian sebelumnya, asesmen yang berlangsung pada sekolah yang memberlakukan Kurikulum Merdeka masih terkendala dalam akses pelatihan yang kurang, panduan asesmen yang bias, jumlah peserta didik yang banyak, dan keterbatasan alokasi waktu (Sayifuddin. Penelitian lain yang dilakukan menyatakan bahwa bahkan dalam proses perencanaan termasuk asesmen, guru masih terkendala karena pengalaman yang kurang dalam mengimplementasikan kurikulum ini (Dwi Damayanti et al. , 2. Berdasarkan temuan penelitian sebelumnya dapat diketahui keseragaman pola yang menyatakan bahwa bekal guru dalam menyusun perencanaan dan melaksanakan asesmen masih terbatas. Masih terbatasnya penelitian terdahulu yang secara spesifik membahas mengenai strategi dalam melaksanakan asesmen dalam kurikulum merdeka menjadi kendala untuk memahami dinamika yang terjadi. Beranjak dari keterbatasan ini diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai strategi guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan hambatan dalam penerapan asesmen pada Kurikulum Merdeka. SMPN 8 Surakarta adalah salah satu sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka dengan status mandiri belajar. Status mandiri berubah merupakan etape kedua bagi sekolah yang Melaksanakan Kurikulum Merdeka secara masif. Penelitian lain yang telah dilakukan belum secara spesifik mampu menggambarkan strategi asesmen pada pembelajaran bahasa Indonesia dalam kerangka Kurikulum Merdeka pada sekolah dengan status mandiri berubah. Hal ini menjadi subjek yang menarik untuk diteliti lebih jauh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan hambatan dalam asesmen dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VII dalam kerangka Kurikulum Merdeka. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 8 Surakarta. Penelitian yang dilakukan Wiryateja. Hartati merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini memungkinkan data dipaparkan terperinci dan mendalam berdasarkan fakta dan teori yang ada (Nurmalasari & Erdiantoro, 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Artinya penelitian dilakukan dengan mengacu pada fenomena dengan memperhatikan fakta ilmiah dan bersifat komparatif, holistik, dan komprehensif (Rahardjo, 2. Data dan sumber data terdiri dari peristiwa, informan, analisis dokumen, dan catatan Peristiwa merupakan proses pembelajaran Bahasa Indonesia yang berlangsung di kelas VII. Informan yang digunakan berupa guru pengampu mata pelajaran bahasa Indonesia dan siswa kelas VII berjumlah tiga orang. Analisis dokumen yang digunakan adalah modul ajar dan perangkat asesmen. Catatan lapangan berupa catatan hasil observasi yang dilakukan peneliti selama proses penelitian di lapangan. Teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling. Peneliti menentukan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu (Etikan, 2. Sampel yang dipakai adalah guru pengampu bahasa Indonesia dan tiga orang peserta didik didasarkan pada capaian asesmen tinggi, sedang, serta rendah di atas kriteria ketuntasan minimum. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa data observasi, wawancara, dan catatan lapangan. Uji validitas data menggunakan metode triangulasi sumber data dan teori. Triangulasi ini berusaha unutuk mengkomparasikan berbagai data dan teori dari sumber yang berbeda untuk mendapatkan data mendekati valid (Alfansyur & Mariyani, 2. Teknik analisis data menggunakan jenis interactive model analysis Milles & Huberman. Analisis ini mengikuti alur pengumpulan, reduksi, penyajian, dan proses penarikan simpulan (Latifah & Supena, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Perencanaan Perencanaan asesmen mengacu pada kebutuhan peserta didik sesuai dengan panduan Kurikulum Merdeka yang mendorong sekolah dan guru untuk mengidentifikasi kebutuhan dan latar belakang peserta didik. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VII. Menyatakan bahwa dalam proses perencanaan guru terlebih dahulu menggali informasi mengenai mekanisme pelaksanaan asesmen sesuai panduan pembelajaran dan asesmen yang telah dikeluarkan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. Pertama, terlebih dahulu guru melihat dan memahami definisi dasar dari CP . apaian Pemahaman terhadap capaian pembelajaran berimplikasi pada penentuan jenis, parameter, dan luaran asesmen. Memahami CP ini, guru merujuk pada buku panduan guru dan informasi yang tercantum dalam laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Guru juga memanfaatkan forum diskusi antar guru sebagai bahan untuk menambah referensi dalam pengembangan rencana asesmen. Kedua, penyusunan dokumen asesmen. Tapahan ini guru berupaya untuk jenis, parameter, dan luaran asesmen yang diperlukan dalam pelaksanaan asesmen. Dokumen yang dimaksud termasuk modul ajar yang memuat LKPD . embar kerja peserta didi. , rumusan pertanyaan, dan instrumen penilaian. Mengacu pada modul ajar, asesmen disusun berdasarkan tiga jenis, yaitu asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif. Asesmen diagnostik direncanakan dengan memberikan pertanyaan terkait sikap mental dan kesiapan peserta didik pada tahap Instrumen yang terlampir dalam modul ajar berupa rangkaian pertanyaan pada tahap Asesmen formatif mengacu pada modul ajar digunakan untuk memproyeksikan kinerja dan sikap mental peserta didik selama mengikuti pembelajaran dan dilampirkan instrumen pada modul ajar. Asesmen sumatif, mengacu pada modul ajar, direncanakan dengan pengisian LKPD tanpa disertai instrumen penilaian. Pelaksanaan Pelaksanaan asesmen yang telah direncanakan oleh guru melalui perangkat Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies pembelajaran dilakukan pada pembelajaran teks cerita fantasi di kelas VII. Berdasarkan temuan hasil observasi guru melakukan asesmen diagnostik pada awal pembelajaran atau apersepsi untuk melihat kesiapan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dapat diketahui bahwa asesmen diagnostik dilakukan guru dengan memberikan beberapa stimulus seperti sapaan dan pertanyaan pemantik. Asesmen formatif dilakukan saat pembelajaran berlangsung. Mengacu pada hasil observasi dapat diketahui bahwa guru melakukan penilaian terkait kinerja individu terhadap kepentingan pribadi maupun kelompok dalam melaksanakan pembelajaran. Guru menilai dengan mengobservasi peserta didik secara individual. Proses asesmen berlangsung selama peserta didik menyusun pekerjaan yang telah diprogramkan dalam LKPD. Asesmen sumatif, mengacu pada hasil observasi dan analisis dokumen modul ajar menunjukkan bahwa asesmen terbatas pada pemenuhan penugasan pada peserta didik dengan mengisi LKPD. Modul ajar tidak mencantumkan instrumen dan skala penilaian. Asesmen dilanjutkan dengan review guru pada hasil peserta didik di depan kelas pada akhir Kendala Asesmen Kendala yang muncul dalam asesmen dimulai pada tahap perencanaan. Mengacu pada wawancara, guru menyatakan bahwa pemahaman mengenai asesmen dalam Kurikulum Merdeka masih sangat kurang. Akibatnya, guru kesulitan dalam menentukan jenis dan perangkat asesmen yang diperlukan. Alokasi waktu yang terbatas juga menjadi kendala. Penerapan P5 dengan sistem blok mengharuskan guru untuk memadatkan asesmen dalam pembelajaran yang berlangsung. Masalah ini ditambah lagi dengan rombel . ombongan belaja. peserta didik dan kelas yang diampu tidak proporsional jika dibandingkan dengan alokasi waktu yang tersedia. Guru juga merasa kesulitan jika harus menerapkan asesmen yang bersifat individual dan personal. Kurikulum Merdeka mendorong agar asesmen dapat diprogramkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu. Hal ini tentu menjadi kendala bagi guru karena hal demikian di luar kemampuan guru untuk menyusun dan melaksanakan asesmen. Pembahasan Perencanaan asesmen Temuan pada perencanaan asesmen menunjukkan bahwa setidaknya terdapat dua hal yang dilakukan guru untuk merencanakan asesmen. Keduanya terdiri dari memahami capaian pembelajaran dan menyusun asesmen. Mengacu pada panduan asesmen dan pembelajaran, menunjukkan bahwa untuk menyusun sebuah pembelajaran, dalam hal ini asesmen guru harus memahami capaian pembelajaran (Anggraena et al. , 2. Selain itu pada penelitian lain yang dilakukan oleh Prideaux, . dalam proses memahami, guru juga harus memahami kebutuhan peserta didik. Berdasarkan fakta dan ideal perencanaan asesmen, jelas bahwa terdapat kesenjangan. Proses penyusunan yang berlangsung guru tidak melakukan tinjauan pada kebutuhan peserta didik. Hal ini tentu berkaitan dengan keterbatasan akses pada panduan resmi dan kesempatan yang kurang menunjang bagi guru untuk melakukan asesmen secara individual dan personal pada peserta didik. Mengacu pada pendapat Damayanti et al. , . mengatakan bahwa dalam menerapkan Kurikulum Merdeka guru masih kurang dalam pengalaman menerapkanya. Berdasarkan temuan ini masuk akal apabila guru belum sepenuhnya memperhatikan kebutuhan individual peserta didik dalam menyusun perencanaan Modul ajar yang disusun memuat perangkat asesmen berupa jenis, instrumen, dan LKPD. Hal ini mengacu pada Panduan pembelajaran dan asesmen dapat dipahami jika modul ajar harus memuat setidaknya tiga jenis asesmen, yaitu diagnostik, formatif dan sumatif. Pada modul ajar direncanakan memuat ketiganya dengan mencantumkan definisi asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif. Pada dasarnya sebuah modul ajar yang ideal tidak hanya mencantumkan definisi pada asesmen yang dilakukan. Wiryateja. Hartati Menyoal mengenai asesmen, mengacu pada pendapat Shadri et al. , . menyatakan bahwa asesmen harus berlangsung secara kontinu untuk mengetahui keberhasilan dalam belajar dan kinerja baik secara individu maupun kelompok. Lebih jauh modul ajar harus mencakup perangkat asesmen yang utuh sehingga mampu memproyeksikan kondisi peserta didik secara aktual. Kesempatan pengembangan, akses pada panduan, dan alokasi waktu yang kurang mengakibatkan guru kurang optimal dalam menyusun modul ajar. Pelaksanaan Asesmen Menyoal mengenai asesmen pada pembelajaran, tentu diawali dengan asesmen Mengacu pada modul ajar sebenarnya telah disebutkan jika asesmen diagnostik merupakan bagian dari pembelajaran. Namun, jika ditelaah lebih jauh dari sudut pandang praktiknya, dapat diketahui bahwa asesmen diagnostik belum disusun secara proporsional. Mengacu pada pendapat Suwandi, . menyatakan bahwa dalam sebuah asesmen harus mencakup jenis, tujuan, manfaat, strategi dan hasil. Pendapat lain mengungkapkan jika asesmen diagnostik harus mampu mengidentifikasi peserta didik sehingga mampu memproyeksi homogenitas kelas, dan heterogenitas peserta didik sehingga mampu dijadikan sebagai pijakan bagi guru untuk menentukan asesmen secara personal dan individualis (Csapy & Molnyr, 2. Praktik asesmen diagnostik tidak dijelaskan secara implisit maupun dilaksanakan dengan aktual dan proporsional dalam proses pembelajaran. Asesmen yang tidak mencantumkan instrumen dan skala penilaian yang jelas menyebabkan hasil asesmen tidak terekam dan terproyeksi secara jelas. Hasil asesmen hanyan diketahui oleh guru dan sulit untuk dijadikan sebagai rujukan dalam pembelajaran selanjutnya. Asesmen formatif yang direncanakan pada modul ajar berfungsi untuk menilai kemajuan kinerja dan sikap peserta didik dalam mengikuti pembelajaran secara individual. Mengacu pada Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka. Anggraena et al. , tidak disyaratkan secara spesifik mengenai ketentuan penilaian dilakukan secara individual atau kelompok. Namun, dalam modul ajar yang disusun dapat diketahui bahwa penilaian yang dilakukan mampu memproyeksikan kinerja dan sikap mental peserta didik baik tanggungjawab individual maupun pada kelompok. Praktiknya, mengacu hasil observasi diketahui bahwa guru melakukan asesmen formatif secara aktual. Guru menilai capaian dan kemajuan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran melalui instrumen yang telah disiapkan. Mengacu pada pendapat ahli, menyatakan bahwa asesmen sumatif dilakukan untuk mengetahui kemajuan peserta didik dalam pembelajaran (Bennett, 2. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dibahami bahwa asesmen yang dilakukan telah sesuai dengan ideal penilaian yang Asesmen sumatif yang disusun pada modul ajar didasarkan pada LKPD yang terlampir. Modul ajar sebatas melampirkan LKPD tanpa diikutsertai dengan instrumen dan skala Mengacu pada pendapat memproyeksikan tingkat belajar siswa dan penilaian kinerja (Kibble, 2. Mengacu pada kebutuhan tersebut tentu salah satu asesmen yang ideal adalah penilaian produk. Penilaian produk mengacu pada pendapat Suwandi . menyatakan penilaian jenis ini menggunakan teknik analitik atau holistik. Implikasinya, guru dapat memilih menerapkan penilaian proses . atau keseluruhan produk . Asesmen pada kasus ini sebenarnya guru telah memilih penilaian pada produk atau holistik. Namun, guru belum menyusun instrumen dan skala penilaian yang akan diterapkan unutuk menganalisis produk peserta didik. Hambatan Asesmen Mengacu pada hasil observasi dan wawancara sebenarnya dapat dipahami hambatan yang berlangsung dalam proses asesmen telah terjadi sejak awal perencanaan asesmen. Tahap awal asesmen guru telah menemukan hambatan berupa pengalaman yang kurang dalam proses penerapan kurikulum dan keterbatasan referensi berupa panduan penyusunan asesmen yang Tentu hal ini juga didukung dengan temuan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa hambatan terbesar guru dalam menerapkan Kurikulum Merdeka adalah keterbatasan Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies pengalaman Damayanti et al. dan referensi baku (Susilowati, 2. Kedua hal ini sebenarnya wajar terjadi mengingat Kurikulum Merdeka baru saja diterapkan. Sekolah objek penelitian berstatus sebagai mandiri berubah, artinya sekolah berada pada tahun pertama melaksanakan kurikulum ini. Menghadapi masalah ini tantu guru mengandalkan forum group Forum ini meliputi diskusi internal maupun eksternal sekolah. Melalui forum yang dikembangkan, guru berusaha untuk memilih jenis dan proporsi asesmen. Hambatan pada tahap awal ini tentu berimplikasi pada produk perangkat asesmen dan pelaksanaan asesmen itu sendiri. Ditinjau dari segi perangkat asesmen, dapat diketahui bahwa modul ajar yang disusun tidak secara lengkap memuat perangkat asesmen terutama pada asesmen diagnostik dan sumatif. Dokumen kurikulum yang kurang sesuai ini tentu berdampak pada praktik asesmen yang dilaksanakan pada proses pembelajaran menjadi kurang optimal. Tahapan ini belum ada langkah yang diambil untuk mengatasi masalah ini. KESIMPULAN Berdasarkan paparan terhadap temuan di lapangan, penelitian, sebelumnya, dan pendapat pakar dapat disimpulkan bahwa strategi pelaksanaan asesmen sebagai berikut. Pertama perencanaan asesmen adalah proses bagi guru untuk memahami kaidah dasar dan menentukan jenis asesmen. Dalam tahap ini guru menyusun kriteria asesmen yang sesuai dengan kebutuhan. Kedua, perencanaan asesmen dilakukan dengan menyusun perangkat asesmen yang termuat dalam modul ajar. Ketiga, kendala dalam asesmen berupa kurangnya panduan, alokasi waktu, dan pengalaman melaksanakan asesmen Kurikulum Merdeka yang terbatas menyebabkan proses asesmen tidak maksimal. Penelitian yang dilakukan, berimplikasi pada proses asesmen yang berlangsung secara garis besar telah mencakup tiga jenis yang direkomendasikan oleh Kurikulum Merdeka. Namun, proses asesmen yang berlangsung pada subjek penelitian belum dapat berjalan dengan dengan optimal. Asesmen yang disusun masih memerlukan banyak evaluasi dan perbaikan REFERENSI