TRADISI MAUDU LOMPOAA DI DESA CIKOANG KECAMATAN LAIKANG KABUPATEN TAKALAR : ANALISIS FILSAFAT NILAI MAX SCHELER Nur Anisa. Andi Nurbaethy. Astrid Veranita Indah UIN Alauddin Makassar Email: nurannisa150902@gmail. com, andi. nurbaethy@uin-alauddin. veranita@uin-alauddin. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keingintahuan penulis mengenai tradisi Maudu Lompoa di Desa Cikoang. Kecamatan Laikang. Kabupaten Takalar, yang merupakan bentuk perayaan keagamaan unik dengan perpaduan nilai budaya dan spiritualitas dan ajaran Menggunakan pendekatan kualitatif lapangan, data diperoleh melalui teknik observasi langsung, wawancara dengan informan, serta dokumentasi kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini memiliki nilai religius yang kuat dan mencerminkan dalam ajaran tasawuf: syariat, tarekat, hakikat, dan maAorifat. Berdasarkan filsafat nilai Max Scheler, tradisi ini mencerminkan keseluruhan hirarki nilai, mulai dari aspek kesenangan, nilai kehidupan, nilai spiritual, hingga puncak nilai kesucian. Tradisi Maudu Lompoa tidak hanya memperkuat nilai-nilai agama dan sosial, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya religius yang bernilai edukatif dan ekonomis. Kata Kunci : Maudu Lompoa. Filsafat Nilai. Max Scheler. Tradisi. Cikoang. Abstract This research was motivated by the author's curiosity about the Maudu Lompoa tradition in Cikoang Village. Laikang District. Takalar Regency, which is a form of unique religious celebration with a blend of cultural values and spirituality and Sufism teachings. Using a qualitative field approach, data was obtained through direct observation techniques, interviews with informants, and documentation of activities. The results show that this tradition has strong religious values and reflects in the teachings of Sufism: shariat, tarekat, hakikat, and ma'rifat. Based on Max Scheler's philosophy of value, this tradition reflects the entire hierarchy of values, ranging from aspects of pleasure, life value, spiritual value, to the peak value of holiness. The Maudu Lompoa tradition not only strengthens religious and social values, but also has the potential to be developed as a religious cultural tourism destination with educational and economic value. Keywords: Maudu Lompoa. Value Philosophy. Max Scheler. Tradition. Cikoang. JURNAL SULESANA LATAR BELAKANG Indonesia adalah negara yang menarik dengan keragaman budaya, suku, dan bahasa yang luar biasa kaya. Terdapat 719 bahasa daerah yang digunakan di seluruh nusantara, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan keragaman bahasa terbesar di dunia. Dengan 38 provinsi yang membentang dari Sabang di ujung barat hingga Merauke di ujung timur. Indonesia memiliki keindahan alam serta warisan budaya yang melimpah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebudayaan merujuk pada produk dari aktivitas dan kreativitas manusia, termasuk kepercayaan, seni, dan tradisi. Selain itu, kebudayaan juga diartikan sebagai hasil pemikiran yang diperoleh dari lingkungan sekitar dan dimanfaatkan untuk meningkatkan Kesejahteraan Manusia. 2 Budaya sekaligus berperan sebagai identitas dalam masyarakat dan sering disebut sebagai tradisi. Tradisi merupakan sifat atau kebiasaan yang dilakukan berulang kali dan berkesinambungan, sehingga melekat dalam perilaku individu di dalam Masyarakat. Tradisi keagamaan dalam komunitas Islam tradisionalis umumnya menunjukkan sikap yang lebih terbuka dan toleran terhadap nilai-nilai serta kebudayaan lokal. Mereka memandang bahwa Islam hadir dan menyebar ke penjuru dunia tidak dimaksudkan untuk menggantikan tradisi dan kebudayaan yang telah ada dengan budaya Arab yang merupakan latar geografis awal kerasulan Nabi Muhammad saw. Islam tidak melarang umatnya untuk mempertahankan kebudayaan dan adat istiadat masing-masing, karena budaya merupakan bagian esensial dari kehidupan manusia. Selama nilai-nilai budaya dan tradisi tersebut tidak 1 2017 Firmansyah. AoIr-Perpustakaan Universitas AirlanggaAo. Ir-Perpustakaan Universitas Airlangga, 74 . , h. 2 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kementerian Pendididikan dan Kebudayaan, 2. , h. JURNAL SULESANA bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat Islam, maka keberadaannya dianggap sah dan layak untuk terus dilestarikan3 Kabupaten Takalar adalah salah satu dari banyak daerah yang terdapat di Indonesia. Salah satu tradisi yang telah dilestarikan secara turun temurun di Kabupaten Takalar, khususnya di Desa Cikoang, adalahTradisi Maudu Lompoaa merupakan perayaan tahunan yang memiliki makna mendalam, berfungsi untuk membangun moral, memperkuat solidaritas, dan menjalin tali silaturahmi dikalangan masyarakat Cikoang. Kegiatan ini tidak hanya menjadi momen berkumpulnya warga, tetapi juga meneguhkan rasa kebersamaan. dan identitas budaya yang kaya dalam komunitas tersebut. Maudu Lompoa, sebuah upacara keagamaan di Desa Cikoang kecamatan Laikang KabupatenTakalar. Sulawesi Selatan, telah menarik perhatian karena keunikan perayaannya. Upacara ini tidak hanya mampu menarik perhatian para wisatawan, tetapi juga telah diakui secara resmi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai salah satu warisan budaya dunia. Masyarakat Desa Cikoang membuat miniatur kapal phinisi sebagai bagian dari tradisi Maudu Lompoa. Miniatur tersebut dihias dengan berbagai kebutuhan sandang dan pangan. Para wanita memasak ayam kampung goreng dan telur berwarna, yang kemudian disusun dalam wadah anyaman pandan . epa-tep. Malam sebelum acara, seluruh masyarakat membunyikan gendang di rumah masing-masing. Pada hari pelaksanaan, mereka bergotong royong mengangkat miniatur yang telah dihias ke baruga pertemuan, diikuti dengan doa Setelah itu, miniatur diarak menuju sungai, di mana sebagian isinya dibagikan kepada pejabat dan tokoh yang hadir, sementara sisanya dibagikan kepada semua yang 3 Buhori Buhori. AoIslam Dan Tradisi Lokal Di Nusantara (Telaah Kritis Terhadap Tradisi Pelet Betteng Pada Masyarakat Madura Dalam Perspektif Hukum Isla. Ao. Al-Maslahah Jurnal Ilmu Syariah, 13. , h. 4 Fachrian Anugrah Alam and Dimas Maulana Irsan. AoStrategi Manajemen (POAC) Tradisi Maudu Lompoa Sebagai Event Pariwisata Di Desa Cikoang Kecamatan Mangarabombang Kabupaten TakalarAo, humanus : Jurnal Sosiohumaniora Nusantara, 1. , h. JURNAL SULESANA Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep nilai yang terdapat dalam tradisi kebudayaan Maudu Lompoaa dengan merujuk pada pemikiran dan teori filsafat nilai yang dikembangkan oleh Max Scheler. Pendekatan ini dipilih karena dianggap sesuai untuk membahas aspek-aspek filosofis dari tradisi kebudayaan Maudu Lompoaa yang berasal dari desa Cikoang. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti yang merupakan mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam terdorong untuk melakukan penelitian lebih mendalam mengenai nilainilai yang terkandung dalam tradisi Maudu Lompoa di Desa Cikoang. Kecamatan Laikang. Kabupaten Takalar. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi aspek filosofis tradisi Maudu Lompoa melalui perspektif filsafat nilai yang dikemukakan oleh Max Scheler, seorang filsuf asal Jerman. Dengan demikian, peneliti berinisiatif untuk melanjutkan penelitian ini dengan judul AuTRADISI MAUDU LOMPOA DI DESA CIKOANG KECAMATAN LAIKANG KABUPATEN TAKALAR : TINJAUAN FILSAFAT NILAI MAX SCHELERAy. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian lapangan . ield Pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan observasi di lokasi, wawancara dengan tokoh adat dan pelaku tradisi, serta dokumentasi. Proses analisis data dilakukan melalui pendekatan filosofis, teologis, dan historis guna mengungkap nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Maudu Lompoa, melalui struktur hierarki nilai yang dikemukakan oleh Max Scheler. PEMBAHASAN Makna Tradisi Maudu Lompoaa di Desa Cikoang Tradisi Maudu Lompoa di Desa Cikoang tidak hanya dipahami sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw, tetapi juga memiliki makna yang lebih dalam, baik dari JURNAL SULESANA sisi keagamaan, sosial, budaya, maupun pendidikan karakter masyarakat. Tradisi Maudu Lompoaa mengandung makna filosofis yang berkaitan erat dengan asal-usul alam semesta dan awal mula penciptaan roh manusia. Selain itu. Masyarakat Cikoang menganggap ritual ini sebagai kewajiban, karena mengenal dan mencintai Nabi Muhammad saw merupakan suatu keharusan bagi setiap Muslim di seluruh dunia, sekaligus menjadi dorongan untuk meneladani ajaran dan sunnah beliau. Dalam sebuah wawancara . Tuan Bahari mengatakan : AuMaudu Lompoa bukanlah peringatan maulid biasa namun ini adalah pembuktian dan kecintaan kami terhadap nabi, kami menganggap bahwa maulid ini akan menjadi penyelamat di akhirat, itulah yang kami percaya dan yakini karena maulid ini bersumber semua hukum-hukum yang ada di dalam islamAy5 Pernyataan bahwa AuMaulid ini akan menjadi penyelamat di akhiratAy mencerminkan keyakinan masyarakat bahwa penghormatan dan cinta yang mendalam kepada Nabi Muhammad saw dapat menjadi jalan untuk memperoleh syafaat di hari kiamat. Hasil wawancara yang dikemukakan oleh Tuan Halik bahwa : AuKenapa harus ayam 1 ekor 1 orang karena dia diibaratkan nyawa, beras dari sisi agama diibaratkan tubuh, kenapa telur karena dia diibaratkan rahasia, kelapa diibaratkan hati, kita ibaratkan ini maulid satu bentuk tubuh manusia, ada tubuhnya ada nyawanya, ada hatinya dan ada rahasianya. Dalam hal memahami agama ini kita harus tau ada tubuh nyawa hati dan rahasia. Tubuh ini adalah syariat, hati adalah hakikat, nyawa adalah tarikat dan rahasia adalah magrifat, ini semua tidak terlepas dari bagian maulid yang dilaksanakan. Ay6 Salah satu aspek menarik dan khas dari perayaan Maudu Lompoa di Cikoang adalah adanya kanre maudu, yaitu sajian makanan khas yang tidak sekadar hidangan biasa, melainkan memiliki makna simbolik yang mendalam. Kanre maudu dianggap merepresentasikan empat unsur utama dalam ajaran Islam, yaitu syariat, tarekat, hakikat, dan ma'rifat. Keempat unsur tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk empat jenis bahan makanan yang masing-masing memiliki nilai filosofi tersendiri yaitu : Beras sebagai simbol manusia 5 Tuan Bahari. Hasil Wawancara Tokoh Masyarakat (Cikoang 27 Januari 2. 6 Tuan Halik. Hasil Wawancara Tokoh Masyarakat (Cikoang 28 Januari 2. JURNAL SULESANA Ayam sebagai simbol ruh Telur sebagai simbol rahasia Kelapa sebagai Simbol hati. Perlengkapan dan bahan yang dipakai dalam tradisi Maudu Lompoaa bukanlah barang biasa, melainkan memiliki makna khusus yang sangat dihormati dan diyakini oleh masyarakat Cikoang, yaitu: Tubuh ini dilambangkan sebagai syariat. beras melambangkan syariat, yaitu tahap awal atau fondasi dalam ajaran Islam. Syariat mencakup segala bentuk aturan lahiriah yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim, seperti salat lima waktu, puasa di bulan Ramadan, membayar zakat, dan menjauhi perbuatan yang dilarang. Tanpa menjalankan syariat, seorang Muslim belum dianggap menunaikan kewajiban dasarnya terhadap Allah. Syariat adalah pijakan awal sebelum seseorang bisa melangkah ke tahap spiritual yang lebih dalam, yaitu tarekat, hakikat, dan maAorifat. Ayam digunakan sebagai simbol tarekat karena sifat sifatnya yang mencerminkan kehidupan rohani yang aktif. Dalam perayaan Maudu Lompoa, kehadiran ayam dalam kanre maudu mengingatkan masyarakat bahwa ibadah tidak cukup hanya dikerjakan dari luar, tetapi juga harus dijiwai dan dimaknai dari dalam. Ini adalah inti dari tarekat menjadikan setiap ibadah sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah, bukan hanya karena kewajiban. Ayam juga menunjukkan bahwa spiritualitas itu harus aktif dan tumbuh, tidak stagnan. Seperti ayam yang selalu mencari makan dan bergerak, manusia juga harus terus mencari ilmu, berzikir, dan memperbaiki akhlak dalam proses menuju kesempurnaan iman. Kelapa dalam Maudu Lompoa melambangkan hakikat, simbol kelapa menjadi pengingat bahwa agama bukan hanya soal ritual dan ibadah yang tampak, tapi juga tentang bagaimana kita memahami dan menghayatinya secara mendalam. Perayaan ini bukan JURNAL SULESANA hanya untuk meramaikan kelahiran Nabi Muhammad saw, tetapi juga untuk luar semata. menghidupkan ajaran beliau di dalam hati, melalui pemahaman spiritual yang utuh. Kelapa juga memberi pelajaran bahwa meski bentuk luarnya kasar, bagian dalamnya sangat bermanfaat dan menyegarkan. Ini menggambarkan bahwa hakikat itu tersembunyi dalam kesederhanaan dan kedalaman hati, bukan dalam penampilan Dalam Maudu Lompoa, telur-telur yang berwarna warni dipahami sebagai simbol cahaya yang terang benderang yang mengelilingi kelahiran Nabi. Telur berwarna-warni bisa dianggap sebagai simbol dari kehidupan yang datang dengan penuh warna dan keberkahan, yang semua berasal dari ciptaan Allah swt. Telur tersebut bukan hanya mewakili kehidupan duniawi, tetapi juga kehidupan spiritual yang terang benderang, yang datang dengan kelahiran Nabi Muhammad saw. Perahu atau julung-julung dipercaya sebagai simbol kain yang akan melindungi kita pada saat akhir hayat. Hal ini mengandung makna bahwa kehidupan ini ibarat sebuah Perahu ini melambangkan kita hidup ini penuh perjuangan kehidupan dunia kita terombang ambing ada dua pilihan sampai atau tenggelam. Di dalam kehidupa terombang ambing dilautan itulah makna kehidupan. Bakul yang bulat dan dianyam dengan warna putih memiliki makna mendalam sebagai simbol tubuh manusia. Bentuk bulat pada bakul menggambarkan bahwa apapun titik awal perjalanan hidup kita, pada akhirnya akan kembali ke titik awal yang sama, yaitu kepada Allah Swt, karena tidak ada kehidupan manusia yang abadi. Proses dianyamnnya bakul mencerminkan tubuh manusia yang tersusun dari dari sekitar roh sebelum Allah. 000 urat saraf, yang menghubungkan setiap bagian tubuh. Warna putih pada bakul melambangkan Darul Baidaa, tempat berkumpulnya JURNAL SULESANA Sombala atau kain hiasan yang berwarna-warni diyakini bahwa kain itu akan memayungi pada saat akhir hayat dan maknanya bahwa kehidupan ini ibarat berlayar dengan sebuah perahu dan terombang ambing untuk mencapai tujuan yang hakiki. Proses Pelaksanaan Tradisi Maudu Lompoaa di Desa Cikoang Berdasarkan wawancara dengan salah satu tokoh adat sekaligus panitia pelaksana, proses pelaksanaan tradisi Maudu Lompoa di Desa Cikoang dilakukan secara bertahap dan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Kegiatan ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga merupakan bentuk kerja sama yang mempererat hubungan sosial warga. Dalam Wawancara salah satu warga yang Bernama Ibu syarifah makawiyah menjelaskan AuDalam pelaksanaan tradisi Maudu Lompoa, terdapat beberapa tahapan penting yang harus dijalani secara berurutan. Proses dimulai dengan mengurung ayam selama kurang lebih 40 hari sebelum acara berlangsung, yang bertujuan agar ayam tetap bersih dan sehat sebelum dikonsumsi. Sekitar seminggu menjelang perayaan, masyarakat mulai menumbuk padi hingga menjadi beras secara tradisional. Selanjutnya, tiga hari sebelum acara, dilakukan proses pengolahan kelapa menjadi minyak, melalui kegiatan menanak kelapa. Dua hari sebelum hari H, ayam dipotong dan dimasak menggunakan minyak kelapa yang dibuat sendiri, bukan minyak yang dibeli dari luar, karena dianggap lebih murni dan sesuai dengan tradisi. Sehari sebelum puncak acara, beras dicuci dan dimasak hingga setengah matang, agar nasi tidak mudah basi. Pada malam harinya, dilakukan kegiatan mengisi bakul, yaitu 42 memasukkan nasi dan ayam yang telah dimasak ke dalam wadah khusus . Setelah itu, bakul dihias dengan telur-telur yang telah diberi warna cerah, sebagai simbol keindahan dan keberkahan. Bakul bakul tersebut kemudian dikumpulkan di pinggir Sungai Cikoang, sebagai bagian dari ritual utama dalam perayaan Maudu LompoaAy7 Adapun proses dan persiapan yang dilakukan oleh masyarakat Cikoang dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad saw adalah sebagai berikut: Tahap Persiapan Mandi safar . Aojene-jene sappar. , dimulai pada 10 bulan safar yang diawali dengan 7 Syarifah Makawiyah. Hasil Wawancara Tokoh Masyarakat (Cikoang 27 Januari 2. JURNAL SULESANA b. Pengurungan ayam (Annyongko jangan. , ayam dikurung paling lama 40 hari dan diberi makanan yang suci agar nanti bersih dari hadas. Ayam yang digunakan biasanya adalah ayam kampung, dan proses mengelola waktu dan kesabaran. pengurungan ini juga dimaknai sebagai bentuk pelatihan dalam mengelola kesabaran waktu dan kesabaran. Angnganang baku, yaitu wadah yang biasanya terbuat dari daun lontar, meskipun saat ini juga dapat dibeli di pasar. Wadah ini digunakan untuk menyajikan makanan . anre maud. yang berisi ayam, telur, songkolo, kerupuk, dan rengginang. Ukuran bakul bervariasi dan dibuat bertingkat, disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga dalam satu rumah yang ikut serta dalam perayaan Maudu. Namun, tidak menutup kemungkinan setiap anggota keluarga juga menyiapkan bakul Maudu secara terpisah. Tumbuk padi hingga menjadi beras, warga menjemur padi di dalam area yang dikelilingi pagar melingkar. Pagar ini dibuat sebagai pembatas di sekitar padi, yang secara filosofis melambangkan bahwa beras yang dipersiapkan untuk perayaan Maudu Lompoaa harus tetap suci dan terhindar dari segala bentuk najis. Menanak Kelapa, karena minyak yang digunakan adalah minyak yang dibuat sendiri bukan yang dibeli Tahap Pelaksanaan Mengisi bakul (Ammone Bak. , adalah tahapan yang hanya boleh dilakukan oleh perempuan yang berada dalam keadaan suci, yakni tidak sedang mengalami haid, serta diwajibkan untuk berwudhu sebelum memulai. Tahapannya dimulai dengan menaruh nasi setengah matang sebagai dasar dalam bakul. Setelah itu, ayam yang telah dimasak atau digoreng dibungkus daun pisang dan diletakkan di bagian bawah bakul. Bagian atas bakul kemudian ditutup menggunakan daun sekaligus lambang simbolis. pisang atau daun kelapa muda. Telur yang telah dihias dan ditusukkan pada tusukannya dipasang di sekeliling bakul sebagai ornamen. JURNAL SULESANA Menghias bakul maulid (A'belo-Belo Kanre maud. A'belo-belo kanre maudu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dalam perayaan Maudu, yang mencakup penghiasan berbagai elemen seperti keranjang, kandawari, dan julung-julung. Keranjang biasanya dipercantik dengan bunga-bunga dari kertas atau plastik yang ditempatkan di bagian Sementara itu, kandawari dan julung-julung dihias menggunakan kain atau layar berwarna-warni yang digantung dengan cara menarik agar menghasilkan tampilan yang menarik dan mencuri perhatian. Mengantar persiapan maulid (Angngantara Kanre maud. Setelah Kanre maudu selesai dihias, selanjutnya dibawa ke acara Maudu Lompoa. Perayaan ini dilangsungkan secara khusus di tepi Sungai Cikoang. Terdapat perbedaan cara penyampaian tergantung jarak tempat tinggal keluarga dari lokasi acara. Bagi keluarga yang tinggal jauh, mereka membawa Kanre maudu menggunakan perahu tradisional yang disebut julung-julung menuju tempat perayaan. Sementara itu, keluarga yang tinggal di sekitar lokasi cukup menghias julung-julung atau kandawari langsung di tempat berlangsungnya acara Maudu Lompoa. Penerimaan makanan maulid (Pannarimang Kanre maud. , dilakukan setelah Kanre maudu dibawa oleh pemiliknya. Kanre maudu tersebut kemudian diserahkan secara resmi kepada anrongguru, yaitu tokoh atau pemimpin yang memimpin jalannya ritual. A'rate/Azzikkiri. A'rate atau azzikkiri adalah inti dari rangkaian acara dalam perayaan Maudu Lompoa yang dipimpin langsung oleh seorang anrongguru. Dalam prosesi ini, dibacakan untaian pujian dalam bentuk syair berbahasa Arab yang ditujukan kepada Allah swt serta salam dan penghormatan kepada Nabi Muhammad saw beserta keluarganya. Bacaan tersebut dilantunkan dengan irama dan nada khas yang menyentuh kalbu, berlangsung selama kurang lebih dua jam dan dilaksanakan di dalam baruga . angunan utama tempat proses. Usai pelaksanaan AAorate/Azzikkiri, para tamu yang hadir di baruga JURNAL SULESANA disambut dengan hidangan. Biasanya, tamu-tamu ini merupakan keturunan dari Sayyid. Makanan yang disajikan disebut Pattoana, yakni santapan perjamuan yang disiapkan oleh panitia, bukan dari kanre maudu. Sementara itu, kanre maudu yang telah didoakan dan melewati prosesi khusus kemudian dibagikan kepada pihak-pihak tertentu yang telah ditentukan sebelumnya. Membagikan makanan maulid (A'bage Kanre maud. Setelah para tamu dijamu, tahap berikutnya adalah pembagian makanan maulid yang dikenal dengan A'bage Kanre maudu. Makanan maulid, atau disebut juga baku', dibagikan kepada para imam maupun anrongguru yang terlibat dalam prosesi sebagai bentuk penghormatan dan kenang Selain itu, makanan ini juga diberikan kepada para pejabat pemerintah daerah yang turut hadir dan meramaikan perayaan Maulid. Analisis Filsafat Nilai Max Scheler Dalam tradisi Maudu Lompoa terdapat nilai absolut. Scheler membagi hirarki nilai absolut ini menjadi empat tingkatan yaitu: Nilai kesenangan Nilai kesenangan dalam teori hierarki nilai Max Scheler, menempati tingkatan paling Nilai ini erat kaitannya dengan pengalaman pengalaman yang diperoleh melalui pancaindra, seperti rasa nikmat maupun rasa sakit, kenyamanan ataupun penderitaan. Dalam realitas kehidupan, manusia umumnya lebih cenderung memilih hal-hal yang menyenangkan dibandingkan dengan yang menyusahkan. Pilihan ini bukan hanya didasari oleh pengalaman inderawi semata, melainkan karena nilai kesenangan memiliki sifat apriori yakni nilai yang tidak bergantung pada pengalaman empiris, tetapi sudah melekat dalam struktur nilai itu sendiri. Dalam wawancara salah satu warga Tuan Bahari mengatakan : AuKalau kami di kampung setiap tahun menantikan acara Maudu Lompoa. Ini jadi momen yang menggembirakan untuk semua, dari anak-anak sampai orang tua. Banyak makanan, 8 Scheler Max. AoFenomenologi NilaiAo, 1973. JURNAL SULESANA hiburan, dan suasana ramai yang bikin hati senang. Tapi di balik itu semua, tetap niatnya untuk memperingati kelahiran Nabi dan sebagai bentuk syukur kepada AllahAy9 Hasil wawancara menunjukkan bahwa aspek kesenangan dalam tradisi Maudu Lompoa merupakan bentuk ekspresi budaya dan sosial yang memperkuat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan yang bernuansa religius. Kesenangan ini membangun atmosfer kebersamaan yang penuh kegembiraan secara emosional. Namun, jika dicermati lebih dalam, kesenangan tersebut bukanlah tujuan utama, melainkan sarana untuk mencapai nilai-nilai yang lebih tinggi, seperti nilai spiritual dan keimanan. Dalam hierarki nilai menurut Max Scheler, unsur kesenangan inderawi dapat terlihat jelas dalam tradisi Maudu Lompoa, terutama melalui penyajian hidangan khas, yakni kanre Makanan ini umumnya disiapkan dalam jumlah besar dan dibagikan secara cumacuma kepada para warga serta tamu yang hadir. Selain cita rasanya yang enak, penyajian nasi Maudu juga menarik secara visual karena warna-warninya yang mencolok dan menggoda selera. Momen ini menghadirkan kebahagiaan tersendiri, karena masyarakat bisa menikmati makanan bersama dalam suasana akrab dan penuh kehangatan. Selain hidangan makanan, aspek lain yang menghadirkan kenikmatan fisik dalam Maudu Lompoa adalah keindahan visual dari perahu-perahu tradisional yang dihias meriah. Dalam prosesi tersebut, perahu dihiasi dengan kain-kain berwarna cerah, rangkaian bunga, dan ornamen khas yang mencerminkan identitas budaya lokal. Tampilan yang menawan ini tidak hanya menyenangkan secara visual, tetapi juga membangkitkan rasa bangga terhadap warisan budaya leluhur yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi. antusias dalam kemeriahan acara tersebut. Di samping itu, iringan musik tradisional juga memperkaya nuansa dalam perayaan Maudu Lompoa. Alat musik seperti gendang, rebana, dan seruling dimainkan sepanjang prosesi, menghadirkan irama yang khas dan menggugah semangat. Dentingan musik ini 9 Bahari. JURNAL SULESANA menambah keceriaan suasana, khususnya bagi anak-anak dan kalangan muda yang turut serta dengan penuh antusias dalam kemeriahan acara tersebut. Dengan demikian. Maudu Lompoa menyuguhkan berbagai bentuk kenikmatan yang dapat dinikmati secara langsung oleh indera, mulai dari rasa lezat makanan, tampilan visual yang memikat, hingga lantunan musik yang semarak. Seluruh elemen ini merepresentasikan nilai-nilai yang bersifat inderawi sebagaimana diuraikan dalam teori nilai Max Scheler. Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan yang dirasakan masyarakat berasal dari pengalaman lahiriah yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga kaya akan makna budaya dan sosial. Meski demikian, dalam pandangan Max Scheler, kesenangan tidak sepatutnya dijadikan sebagai tujuan utama agar tidak terjerumus pada sikap hedonistik. Dalam pelaksanaan Maudu Lompoa, kenikmatan yang dirasakan bukanlah sesuatu yang berdiri terpisah, melainkan bagian dari rangkaian nilai yang lebih luas, mencakup dimensi sosial, keindahan, dan spiritualitas. Oleh karena itu, kesenangan dalam tradisi ini memiliki arti yang lebih mendalam karena berpadu dengan nilai-nilai yang lebih tinggi dan mulia. Nilai vitalitas Nilai vitalitas menempati posisi yang lebih tinggi dari nilai kesenangan dalam hierarki Max Scheler. Nilai ini mencakup aspek-aspek yang berkaitan dengan luhur, halus, lembut, dan Pada tingkat ini, nilai-nilai yang dibahas berhubungan dengan kondisi kesejahteraan secara umum. Hal-hal tradisi ini. yang termasuk dalam kategori ini antara lain kesehatan, energi hidup, penyakit, proses menua, kelemahan fisik, hingga perasaan mendekati ajal. Nilai vitalitas atau nilai kehidupan yang dijelaskan dalam hierarki nilai Max Scheler dapat ditemukan dalam beberapa aspek tradisi Maudu Lompoa, yang hingga kini masih terus Tradisi ini diselenggarakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, namun lebih dari sekadar itu. Maudu Lompoa juga melambangkan semangat, kekuatan, serta 10 Michael Jibrael Rorong. Fenomenologi, 2020. JURNAL SULESANA kebersamaan komunitas. Di sinilah nilai vitalitas tersebut nampak jelas dalam pelaksanaan tradisi ini. Dalam wawancara salah satu warga Tuan Khalik mengatakan: AuAcara Maudu Lompoa bukan cuma untuk upacara keagamaan saja, tapi juga ajang menunjukkan semangat dan kekompakan masyarakat. Kami gotong royong menghias perahu, masak makanan, dan menjaga keamanan. Semua ikut andil. Kalau tidak ada semangat dari warga, acara ini tidak akan bisa berjalan dengan baikAy11 Partisipasi aktif warga dalam berbagai kegiatan seperti bekerja sama menghias perahu, menyiapkan makanan, serta menjaga ketertiban menunjukkan adanya nilai kolaborasi dan tanggung jawab kolektif. Kegiatan bersama ini menjadi wadah bagi masyarakat Desa Cikoang untuk memperkuat hubungan sosial dan meningkatkan rasa solidaritas di antara sesama warga. Dari perspektif Max Scheler, nilai vitalitas memperkuat peran tradisi Maudu Lompoa sebagai sebuah kegiatan yang tidak hanya bersifat keagamaan, tetapi juga menggambarkan kehidupan komunitas yang dinamis dan sehat. Vitalitas di sini bukan hanya berarti energi fisik semata, melainkan juga mencakup kecintaan pada tradisi, semangat solidaritas, serta kekuatan hidup yang menunjukkan keberlanjutan budaya yang tetap terjaga. Dalam tradisi Maudu Lompoa, nilai vitalitas tampak jelas melalui partisipasi aktif masyarakat, baik secara fisik maupun mental, dalam persiapan, pelaksanaan, dan pelestarian Aktivitas seperti menghias perahu . ulung-julun. , menyiapkan hidangan dalam jumlah besar, menjaga keamanan, serta melaksanakan berbagai kegiatan bersama menggambarkan semangat kebersamaan dan kekuatan sosial yang tinggi. Warga tidak hanya berperan sebagai penonton, melainkan sebagai pelaku utama yang mencerminkan kehidupan komunitas yang hidup dan energik. Menurut pandangan Max Scheler, nilai vitalitas menempati posisi yang lebih tinggi dibandingkan nilai kesenangan karena berkaitan dengan kelangsungan hidup dan ketahanan Tradisi Maudu Lompoa bukanlah sekadar ritual yang dijalankan secara pasif, melainkan dilakukan dengan penuh energi dan semangat yang tinggi. Hal ini menegaskan 11 Rahmollah Krg. Opua. Hasil Wawancara Pendiri Maudu Lompoa (Cikoang 27 Januari 2. JURNAL SULESANA bahwa nilai vitalitas memegang peranan penting dalam praktik budaya dan keagamaan di Nilai Spiritualitas Menurut Max Scheler, nilai spiritual menempati posisi ketiga dalam hierarki nilai. Nilai ini bersifat independen dari hal-hal fisik dan lingkungan sekitar. Nilai utama yang termasuk dalam kategori spiritual adalah nilai estetis, yang berkaitan dengan penilaian tentang benar atau salah, indah atau tidak, serta baik atau buruk. Tradisi Maudu Lompoa, yang diperingati sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Oleh masyarakat Cikoang, menyimpan makna spiritual yang sangat kuat. Hal ini tercermin dari pelaksanaan tradisi yang dilakukan dengan penuh kesungguhan, rasa kasih, dan penghormatan terhadap Nabi sebagai panutan bagi umat Islam. Dalam sebuah wawancara, seorang warga bernama Ibu Makawiyah menyampaikan pendapatnya mengenai hal ini : AuTujuan utama kami melaksanakan Maudu Lompoa adalah sebagai bentuk cinta kepada Nabi Muhammad saw. Ini bukan sekadar acara seremonial, tapi bentuk ibadah, pengingat sejarah, dan sarana untuk memperkuat iman. Kami membaca maulid, bershalawat, dan berdoa bersama agar mendapatkan keberkahan dari Allah swtAy13 Dalam tradisi Maudu Lompoa, perayaan ini tidak sekadar ritual formal, melainkan juga merupakan ungkapan kasih yang mendalam dari masyarakat kepada Nabi Muhammad. Melalui kegiatan seperti pembacaan barzanji, zikir, serta persembahan makanan dan simbolsimbol ritual lainnya, warga berharap mendapatkan syafaat dari Nabi di akhirat. Walaupun perayaan berlangsung dengan suasana yang meriah dan dipenuhi unsur budaya lokal, esensi utama dari tradisi ini tetap berfokus pada aspek spiritual, yakni memperkuat iman dan mempererat hubungan dengan Tuhan. 12 Ahmad Rama Dony. AoMembangun Kesadaran Ekologis Di Era Digital : Eksplorasi Filsafat Nilai Max Scheler Dalam Konten Pandawara GroupAo, 7. , h. 13 Makawiyah. JURNAL SULESANA Kecintaan terhadap Nabi merupakan bentuk nilai keagamaan tertinggi yang membawa seseorang pada kecintaan sejati kepada Allah. Tradisi Maudu Lompoa sebagai wujud rasa cinta kepada Rasulullah tidak semata-mata merupakan warisan budaya, melainkan dapat menjadi ibadah yang memiliki nilai spiritual mendalam apabila dilaksanakan dengan niat ikhlas karena Allah swt . Oleh karena itu, tradisi Maudu Lompoa dapat dipahami sebagai wujud nyata dari penghayatan nilai spiritual masyarakat Cikoang yang sejalan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Tradisi ini juga mencerminkan konsep nilai spiritualitas menurut Max Scheler, yakni keterhubungan batin yang mendalam antara manusia dengan yang transenden, yang diwujudkan melalui rasa cinta, hormat, dan pengabdian kepada Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, nilai spiritual dalam tradisi Maudu Lompoa tidak hanya terlihat sebagai bagian dari warisan budaya, tetapi juga sebagai manifestasi nyata dari keimanan, rasa cinta kepada Nabi Muhammad, serta kesadaran akan pentingnya mempererat hubungan antara manusia dan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai kesucian Nilai tertinggi yang terkait dengan "objek absolut" sering disebut sebagai nilai sakral atau suci. Nilai-nilai ini biasanya berhubungan dengan hal hal yang bersifat transenden dan banyak muncul dalam konteks keagamaan. Pada tingkat manusia, contohnya dapat ditemukan pada sosok orang suci, biarawan, atau tokoh agama seperti pendeta. Sedangkan pada tingkat yang melampaui manusia, nilai ini merujuk pada aspek ketuhanan. Dalam tradisi Maudu Lompoa yang dijalankan oleh masyarakat Sulawesi Selatan sebagai bentuk peringatan atas kelahiran Nabi Muhammad saw, nilai kesucian terefleksikan melalui kegiatan bersama yang menunjukkan iman dan kasih sayang kepada Rasulullah serta Sang Pencipta. Perayaan ini bukan sekadar upacara budaya, melainkan juga merupakan bentuk pengabdian spiritual yang sarat makna. 14 R. Parmono. AoKonsep Nilai Max SchelerAo. Jurnal Filsafat, 34. , h. 43Ae51 JURNAL SULESANA Dalam wawancara salah satu warga mengatakan : AuKami menganggap Maudu Lompoa bukan sekadar acara kebudayaan, tapi momen Setiap langkahnya kami niatkan karena Allah dan untuk menghormati Nabi Muhammad saw. Sebelum acara dimulai, kami selalu membaca tahlil, bershalawat, dan berdoa memohon keberkahan. Ay15 Dalam konteks tradisi Maudu Lompoa, yang dilaksanakan oleh masyarakat di Sulawesi Selatan, terutama dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw, nilai kesucian ini diwujudkan melalui tindakan kolektif yang mencerminkan iman dan cinta kepada Rasulullah dan Sang Pencipta. Tradisi ini bukan semata-mata seremoni budaya, melainkan bentuk pengabdian spiritual yang penuh makna. Dari perspektif Max Scheler, nilai kesucian dalam tradisi Maudu Lompoa menggambarkan puncak nilai spiritual yang tercermin melalui sikap hormat dan penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa. Masyarakat tidak sekadar melestarikan tradisi sebagai warisan nenek moyang, tetapi juga melaksanakan dengan penuh rasa takut dan cinta kepada Tuhan serta penghormatan mendalam kepada Nabi sebagai utusan-Nya. Upacara ini sarat dengan simbol-simbol keagamaan yang memiliki makna mendalam, seperti perahu hias . ulung-julun. yang melambangkan perjalanan spiritual, pembacaan barazanji maulid sebagai wujud penghormatan kepada Nabi, serta doa yang dipanjatkan dengan penuh harapan dan keyakinan akan dikabulkan oleh Allah. Oleh karena itu. Maudu Lompoa lebih dari sekadar tradisi budaya. perayaan ini merupakan sebuah pengalaman spiritual yang menghubungkan manusia dengan yang transenden, sehingga menjadi bentuk ibadah yang penuh dengan makna suci. Hal ini juga menjadikannya berbeda dari sekadar acara seremonial atau festival biasa. Menurut teori fenomenologi nilai Max Scheler, nilai kesucian yang tertinggi ini bersifat apriori, yaitu nilai yang telah ada sebelumnya dan tidak diciptakan oleh pengalaman Nilai ini tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai yang lain seperti nilai kehidupan, nilai estetika, dan nilai utilitas, melainkan saling melengkapi dan menyempurnakan. 15 Syarifa Maulana. Hasil Wawancara Tokoh Masyarakat (Cikoang 27 Januari 2. JURNAL SULESANA Keempat tingkatan nilai tersebut saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena masing-masing berperan penting dalam membentuk kesatuan yang utuh. Jika salah satu nilai hilang, maka struktur hierarki nilai tersebut belum lengkap. Hal ini juga terlihat dalam tradisi Maudu Lompoa, di mana semua unsur nilai baik spiritual, sosial, keindahan, maupun perasaan batin harus hadir secara keseluruhan. Ketika salah satu nilai tidak terealisasi dalam pelaksanaannya, maka makna sempurna dari tradisi tersebut akan berkurang, begitu pula esensi pengabdian kepada Tuhan yang terkandung di dalamnya menjadi kurang. Kesimpulan Tradisi Maudu Lompoa di Desa Cikoang bukan hanya perayaan Maulid Nabi, tetapi manifestasi cinta dan penghormatan mendalam kepada Rasulullah. Tradisi ini sarat nilai spiritual dan sufistik melalui empat tingkatan: syariat, tarekat, hakikat, dan maAorifat. Pelaksanaan Maudu Lompoa dilakukan secara bertahap dengan partisipasi bersama Proses ini meliputi persiapan seperti mandi safar, pengurungan ayam, menanak kelapa, hingga penyusunan kanre maudu. perayaan ini dipusatkan di pinggir Sungai Cikoang, yang menjadi lokasi utama pelaksanaan puncak acara. Dalam perspektif Max Scheler, tradisi ini mencakup seluruh hirarki nilaidari kesenangan, vitalitas, spiritualitas, hingga kesucian sekaligus menjadi sarana pelestarian budaya lokal yang selaras dengan ajaran Islam. Daftar Pustaka