AL-HUDA JURNAL PENDIDIKAN DASAR Penerbit: Prodi Pendidikan Guru MI STAI Miftahul Huda Subang Jl. Raya Rancasari Dalam No. B33. Rancasari. Kec. Pamanukan. Kabupaten Subang. Jawa Barat 41254 E-ISSN: P-ISSN: https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/alhuda/index IMPLEMENTASI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE TEBAK KATA DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA 1Idham Kholid, 2Pipit Puspitasari 1STAI Miftahul Huda Subang, 2STAI Miftahul Huda Subang Email: 1kholididham238@gmail. com 2pipitpuspitasari628@gmail. ARTICLE HISTORY Received: Juni 2025 Revised: Agustus 2025 Accepted: September 2025 Abstract: Penelitian ini dilatar belakangi permasalahan yang terdapat ketika kegiatan belajar mengajar, diantaranya aktivitas belajar yang membosankan, kurangnya komunikasi antara siswa dan guru atau siswa dan siswa, kurang aktifnya siswa ketika pembelajaran berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis seberapa besar pengaruhnya model cooperative learning tipe tebak kata dalam peningkatan hasil belajar Implementasi model cooperative learning tipe tebak kata terdiri dari langkah-langkah pembelajaran, adapun bentuk-bentuk tipe tebak kata yaitu tebak kata berpasangan, tebak kata kelompok, tebak kata berwaktu dan tebak kata menggunakan media. Dan juga faktor internal dan eskternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu dengan cara observasi, wawancara dan Pada tahap selanjutnya, hasil dari wawancara selanjutnya diinterpretasi, dideskripsi dan dianalisis. Khusus untuk hasil observasi, wawancara dan dokumentasi pada siswa dianalaisis berdasarkan indikator mengenai langkah-langkah model cooperative learning tipe tebak kata, bentuk- bentuk model cooperative learning tipe tebak kata dan faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Setelah analisis data dilakukan, peneliti mengecek keabsahan data dengan menggunakan ketekunan pengamatan dan triangulasi. Kemudian menyusun laporan dan melaporkan hasil Hasil analisis yang penulis lakukan dari penelitian ini ditemukan hasil yang baik, dapat dilihat dari siswa yang bersemangat, antusias dan lebih aktif saat pembelajaran berlangsung. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa guru telah memberikan peran yang baik kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran berlangsung. Implementasi model cooperative learning tipe tebak kata dalam peningkatan hasil belajar dapat dikatakan baik, terlihat dari siswa yang semakin bersemangat dan aktif AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 74 ketika pembelajaran berlangsung, dan pemahaman terhadap materi semakin kuat. Keywords: Model pembelajaran kooperatif. Tipe tebak kata. Hasil belajar siswa. PENDAHULUAN Pendidikan faktor terpenting dalam usaha pembangunan yang dilakukan oleh sebuah Negara. Karena pendidikan merupakan upaya pembangunan potensi manusiawi, agar potensi tersebut berfungsi bagi kehidupan. Untuk membangun sebuah negara yang maju, harus dimulai dari peningkatan kualitas pendidikan di Negara itu sendiri. Berarti pendidikan sangat penting bagi kehidupan manusia, sehingga setiap manusia memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan. Pada proses berjalannya pendidikan erat kaitannya dengan komponen pelaksanaan pendidikan. Komponen tersebut memberikan dampak yang nyata dalam berjalannya pendidikan untuk manusia. Komponen yang bisa terjadi dalam proses pelaksanaan pendidikan adalah peserta didik, orang tua, pendidik, perangkat desa ataupun tokoh tokoh masyarakat yang ada didalamnya. Hal tersebut menjadi sangat penting karena pada dasarnya dalam hidup perjalanan sehari-hari kita bersandingan atau dipengaruhi oleh komponen diatas. (Hardiyanti, 2. menjelaskan bahwa manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan, yang akan mempengaruhi manusia secara bervariasi. Lingkungan pendidikan merupakan salah satu komponen dalam pendidikan. Peran siswa dan guru sangat penting kaitannya dengan pendidikan karena peran serta guru dalam proses pendidikan tidak bisa di pandang sebelah mata. Peran serta guru tersebut harus diimbangi dengan kemampuan atau kompetensi yang baik dalam pelaksanaan proses pendidikan. Proses pendidikan di sekolah melalui pembelajaran sehari-hari akan berdampak sangat signifikan manakala seorang guru atau pendidik mampu memiliki startegi dan persiapan dalam proses pembelajaran yang matang. Sesuai dengan perkembangan zaman dan dalam rangka mengimbangi perkembangan ilmu teknologi, maka kualitas pembelajaran perlu ditingkatkan. Guru mengajar harus menggunakan strategi metode dan model pembelajaran yang dapat menanamkan ilmu secara tepat kepada siswa sesuai dengan tujuan, sehingga pelaksanaan pembelajaran untuk semua disiplin ilmu yang di peruntukkan siswa dapat dimengerti dengan baik oleh siswanya. Setiap disiplin ilmu atau mata pelajaran memiliki karateristik yang berbeda sehingga guru harus menguasai berbagai strategi, metode dan model pembelajaran yang efektif, kreatif dan inovatif. Pemilihan model pembelajaran akan sangat berdampak terhadap pencapaian materi pembelajaran siswa. Dengan memilih model pembelajaran yang tepat sesuai karateristik siswa akan membantu siswa dalam meyerap materi ajar yang Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi yang optimal (E. Mulyasa, 2012: . AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 75 Hasil belajar siswa adalah salah satu indikator penting dalam dunia Rendahnya hasil belajar dapat menjadi indikasi adanya masalah dalam proses pembelajaran. Berikut beberapa faktor masalah umum yang sering dihadapi diantaranya: faktor internal siswa, faktor eksternal siswa, faktor guru dan sekolah, serta faktor sistem pendidikan. Untuk mengatasi hasil belajar, diperlukan upaya dari berbagai pihak seperti siswanya sendiri, dukungan orang tua, upaya dari guru, pihak sekolah bahkan dari pemerintahan. Dengan upaya bersama dari semua pihak, diharapkan masalah hasil belajar siswa dapat diatasi dan kualitas pendidikan di Indonesia dapat ditingkatkan. (Suwardi, 2. Dari sekian banyak model pembelajaran kooperatif yang berkembang, tipe tebak kata merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang dianggap paling efektif. (Aqib A. , 2. , karena merupakan metode pembelajaran berbasis permainan yang sesuai dengan karakter siswa SD atau MI yang senang bermain dan berkompetisi. Model pembelajaran kooperatif . ooperative learnin. tipe tebak kata memiliki beberapa keunggulan, diantaranya: meningkatkan minat dan motivasi belajar, meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi. Dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya, model pembelajaran kooperatif tipe tebak kata dapat menjadi salah satu alternatif model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. (Fajriani, 2. Penelitian menunjukan bahwa model cooperative learning tipe tebak kata salah satu model pembelajaran abad 21 karena siswa dituntut harus berfikir kritis, kreativitas, kolaborasi dan komunikasi . C). Menurut Marc Prensky . beliau dikenal dengan istilah Audigital nativeAy dan Audigital immigrantAy. Prensky menekankan pentingnya memahami perbedaan antara generasi yang tumbuh dengan teknologi . igital nativ. dan generasi yang beradaptasi dengan teknologi . igital immigran. Berdasarkan observasi awal melalui pengamatan peneliti di MIS Insan Cita Istiqomah pada bulan agustus 2023, ditemukan beberapa permasalahan ketika pembelajaran berlangsung, diantaranya : . Masih banyak siswa yang bermainmain saat pembelajaran dimulai, . Pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru lebih banyak menggunakan metode ceramah sehingga siswa hanya mendengar penjelasan yang disampaikan oleh guru tanpa adanya interaksi aktif antara siswa dan guru atau siswa dengan siswa lainnya, . Minimnya respon atau interaksi dengan siswa. Dalam kegiatan belajar mengajar, . Kurangnya pemahaman materi pelajaran terutama hafalan. Dalam kegiatan belajar mengajar peran guru di MIS Insan Cita Istiqomah sangat dominan aktif dari pada siswa, sehingga ini memberikan efek kurangnya keaktfifan siswa mengeluarkan keterampilan dan ide-ide yang dimiliki siswa. Hal ini membuat siswa merasa bosan, jenuh, mengantuk dan kurang bersemangat ketika pembelajaran di kelas. Kompleksivitas pun lebih terasa di sekolah/madrasah, siswa sering dihadapkan pada berbagai masalah seperti kesulitan dalam belajar yang berdampak langsung pada emosi dan produktivitas mereka. Biasanya, keseimbangan emosi yang menjadi bagian dari proses pertumbuhan mereka sebagai anak-anak atau menjelang remaja, ditambah lagi dengan aktivitas sekolah yang begitu sibuk AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 76 menjadi gejala utama kehidupan mereka terasa lebih sulit dibanding sebelumnya. Hal ini tentunya berdampak pada kesehatan fisik maupun psikis siswa. (Sari, 2. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dikembangkan berbagai model pembelajaran oleh guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa seperti menggunakan model tebak kata. Alasannya agar siswa tidak cepat bosan dalam proses belajar mengajar, dengan penerapan model tebak kata, guru berusaha untuk membekali peserta didik untuk lebih berpikir kreatif dan kritis dalam memecahkan sebuah masalah agar siswa mampu mengkreasikan argumen-argumen mereka sehingga dalam pembelajaran bisa meningkatkan minat belajar siswa dan juga Berdasarkan hasil observasi dan wawancara diatas, sala satu cara guru/pendidik dalam rangka meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa adalah dengan mengimplementasikan model pembelajaran Cooperative Learning tipe tebak kata. Model pembelajaran berbasis permainan secara bekelompok yang bisa menimbulkan ketertarikan kepada siswa. METODE PENELITIAN Penerlitian ini menggunakan mertode deskriptif dan pendekatan kualitatif, yang di mana metode ini sering disebut juga sebagai metode penelitian naturalistic karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah natural setting, disebut juga sebagai metode etnographi, karerna pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya disebut sebagai kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. (Surgiono. Metode penelitian kualitatif deskriptif dipilih karena kegiatan penerlitian ini merupakan penerlitian yang bertujuan untuk menggambarkan bagaimana peran model cooperative learning tipe tebak kata dalam peningkatan hasil belajar siswa di MI Insan Cita Istiomah Kecamatan Binong Kabupaten Subang. Kemudian dari pembelajaran terserbut menggambarkan proses pembelajaran dalam menginternalisasikan implementasi model cooperrative learning tipe tebak kata kepada siswa dan faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dalam kegiatan tersebut, serta untuk mengetahui mengenai implementasi model cooperative learning tipe tebak kata dalam peningkatan hasil belajar siswa di MI Insan Cita Istiomah Kecamatan Binong Kabupaten Subang. HASIL DAN PEMBAHASAN Temuan Penelitian Tentang Langkah-Langkah Model Cooperative Learning Tipe Tebak Kata Langkah Persiapan Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan bahwa pada langkah persiapan, pendidik mempersiapkan segala bentuk seperangkat alat ajar yang diperlukan, hal pertama yang pendidik lakukan sebelum masuk kelas semua peserta didik berdiri di lorong kelas dibagi menjadi dua baris, satu baris laki-laki satu baris perempuan. Disitu ketua murid (KM) menyiapkan teman-temanya dalam keadaan siap, kemudian mulai menghafalkan hadist-hadist yang rutin dilakukan setiap akan masuk AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 77 kelas, lalu periksa kuku setelah itu masuk kelas, pendidik pun tetap di mengawasi sampai semua peserta didik masuk kelas. Kemudian setelah masuk kelas semua peserta didik berdoa setelah itu pendidik Kemudian pendidik menjelaskan tujuan pembelajaran, menentukan cara pembelajaran menggunakan media agar saat berlangsung bisa berjalan dengan kondusif. Ketika akan dimulai pembelajaran, pendidik memasangkan terlebih dahulu tali rapia ke Langkah Pelaksanaan Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan bahwa pada langkah pelaksanaan, kegiatan pembelajaran dilaksanakan di ruang kelas karena model pembelajaran cooperative learning tipe tebak kata harus fokus dan tidak terganggu dengan suara-suara lain. Dilanjut dengan penjelasan pendidik terkait materi yang akan disampaikan. Pendidik memilih dua peserta didik untuk kedepan, satu peserta didik sebagai penebak diikat kartu jawaban dibagian kepala tepatnya di peci oleh pendidik Peserta didik satunya memegang kartu yang berisikan kategori untuk mempraktekan agar penebak bisa menjawab dengan Peserta didik. Pembelajaran pun dimulai, jika penebak bisa menjawab maka permainan selesai tapi jika penebak tidak bisa menjawab maka permainan dilanjut sampai selesai, kecuali jika peserta didik penebak bilang pas maka permainan selesai atau bisa dilanjut oleh peserta didik lainnya sampai jam pelajaran selesai. Peserta didik lainnya diharuskan untuk mengamati objek pembelajaran. Tindak Lanjut Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan bahwa pada langkah tindak lanjut. Pendidik mempersilahkan peserta didik yang kedapan untuk duduk kembali lalu pendidik menanyakan kepada peserta didik bagaimana kegiatan pembelajaran barusan, diakhir pelaksanaan pembelajaran, pendidik dan peserta didik membahas dan mendiskusikan bersama tentang pembelajaran model cooperative learning tipe tebak kata berlangsung. Berdasarkan observasi yang diperoleh peneliti, bahwa terhadap langkah-langkah model cooperative learning tipe tebak kata pendidik menyiapkan model pembelajaran dari rumah dan melaksanakan dikelas. Pendidik menyiapkan kartu yang akan digunakan kemudian pendidik menjelaskan tujuan pembelajaran, menentukan cara pembelajaran menggunakan media agar saat berlangsung bisa berjalan dengan kondusif. Ketika akan dimulai pembelajaran, pendidik memasangkan terlebih dahulu kartu kepada kepala peserta didik yang menjawab dan memberikan kartu jawaban ke peeserta didik yang akan memberikan pertanyaan. Sejalan dengan pendapat Ali Murtadlo dan Zainal Aqib . Pendidik mempersiapkan kartu yang akan digunakan dalam proses . Pendidik menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai atau materi kurang lebih 45 menit. Pendidik menyuruh peserta didik berdiri berpasangan didepan kelas. Seorang peserta didik diberi kartu yang AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 78 berukuran 10x10 cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. Seorang peserta didik lainnya diberi kartu yang berukuran 5x2 cm yang isinya tidak boleh dibaca . kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan di . Sementara peserta didik membawa kartu 10x10 cm membacakan kata-kata yang tertulis di dalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud dalam kartu 10x10 cm. jawaban tepat bila sesuai denga nisi kartu yang ditempelkan di dahi atau telinga. Apabila jawabannya tepat . esuai yang tertulis di kart. , maka pasangan itu boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang telah di tetapkan boleh mengarahkan dengan katakata lain asal jangan langsung memberi jawabannya dan seterusnya. Temuan Penelitian Tentang Bentuk-bentuk Model Cooperative Learning Tipe Tebak Kata Tebak Kata Perpasangan Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan bahwa pada bentuk tebak kata berpasangan, pendidik menyuruh kepada dua orang peserta didik untuk maju kedepan, setelah itu pendidik memakaikan kartu jawaban kepada salah satu peserta didik dengan cara mengikatkan di kepala penjawab, peserta didik satu laginya membacakan kartu yang akan dijawab oleh temannya. Sementara peserta didik lainnya mengamati kedua temannya yang kedepan dengan catatan peserta didik yang duduk tidak boleh memberitahukan kepada penjawab dan tidak boleh berisik. Tebak Kata Berkelompok Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan bahwa pada bentuk tebak kata berkelompok, pendidik menunjuk 10 orang peserta didik kedapan lalu dibagi menjadi dua kelompok. Sebelum dimulai, pendidik menjelaskan terlebih dahulu cara bermainnya, setelah itu masingmasing kelompok diberi satu kertas jawaban, kemudian pendidik yang membacakan pertanyaannya. Setelah pendidik selesai membacakan pertanyaan, peserta didik mulai diskusi untuk menemukan jawaban yang benar, jika sudah ada jawaban langsung ditulis dikertas yang dibagikan tadi. Tebak Kata Berwaktu Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan bahwa pada bentuk tebak kata berwaktu, pendidik memilih dua orang peserta didik kedepan, setelah itu pendidik memberi penjelasan terlebih dahulu. Pendidik melihatkan satu gambar siluet kepada kedua peserta didik itu lalu siapa yang paling cepat menjawab itu pemenangnya dan seterusnya sampai siapa diantara kedua peserta didik tersebut yang paling banyak Tebak Kata dengan Media Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan bahwa pada bentuk tebak kata dengan media, pendidik menjelaskan cara bermain tebak kata dengan media setelah itu pendidik memberikan kertas kosong kepada AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 79 semua peserta didik dikelas. Ketika semua peserta didik sudah memegang kertas dan alat tulis, pendidik melihatkan media gambar kepada semua peserta didik, dan peserta didik harus menulis jawaban dikertas yang sudah dibagikan oleh peserta didik. Setelah selesai peserta didik melihatkan jawabannya dengan mengangkat kertas jawaban Berdasarkan oservasi yang diperoleh peneliti, bahwa bentuk-bentuk model cooperative learning tipe tebak kata dapat memberikan motivasi dan juga semangat dalam pembelajaran, karena dalam setiap bentuk tipe tebak kata, peserta didik diberi tantangan masing-masing, seperti bentuk berpasangan yang saling menebak antar peserta didik, bentuk tebak kata berkelompok yang mengharuskan bekerja sama dalam menjawab, tebak kata berwaktu tantangan untuk peserta didik yang harus cepat dan tepat menjawab karena kalau tidak sudah kalah oleh temannya, dan tebak kata dengan media membuat peserta didik berpikir lebih kritis karena bukan hanya menebak gambar tapi juga harus menjadi kalimat yang benar dari beberapa gambar. Sejalan dengan pendapat Agus NuAoman . variasi bentuk permainan model pembelajaran kooperatif tipe tebak kata: . Tebak kata berpasangan: setiap siswa dalam kelompok berpasangan dan saling bertukar peran sebagai penebak dan pemberi petunjuk. Tebak kata berkelompok: satu kelompok secara bergiliran memberikan petunjuk tentang kata kunci atau definisi pada kelompok lain. Tebak kata berwaktu: setiap kelompok diberikan waktu tertentu untuk menebak kata kunci atau definisi. Tebak kata dengan media: guru dapat menggunakan media gambar, audio, atau video untuk membantu siswa dalam menebak kata kunci atau definisi. Temuan Penelitian Tentang Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Faktor Internal . Kesehatan Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan bahwa pada faktor internal yang mempengaruhi kesehatan, salah satunya dengan berolahraga dan makan bersama, kebetulan ketika saya observasi ke Madrasah sedang diadakan senam sehat bersama semua pendidik dan juga peserta didik, senam sehat bersama ini rutin dilakukan pada hari sabtu diawal bulan setelah senam sehat langsung acara makanmakan bersama. Dan untuk minggu kedua atau selanjutnya senam dan makan bersama dilakukan sesuai dengan jadwal kelas masingmasing. Intelegensi dan Bakat Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan bahwa pada faktor intelegensi dan bakat yang mempengaruhi hasil belajar, dokumentasi pertama saat kegiatan kenaikan kelas. Dokumentasi yang kedua, saat bel masuk bunyi peserta didik langsung menuju ke AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 80 Mesjid untuk melaksanakan sholat duha, sedangkan pendidik memastikan lagi ke kelas takut siswanya ada yang masih di kelas, kegiatan sholat duha ini rutin setiap hari dan dibimbing langsung oleh guru kelas masing-masing. Dokumentasi ketiga dan empat, beberapa peserta didik sedang melaksanakan ekstrakulikuler pramuka dan bahasa yang rutin dilakukan setiap hari sabtu, pendidik membagi beberapa orang untuk mengajar ekstrakulikuler bahasa dan beberapa pendidik mengajarkan ekstrakulikuler pramuka. Dokumentasi kelima, peserta didik sedang melaksanakan kegiatan belajar dikelas, peserta didik sedang melaksanakan pembelajaran praktek langsung dengan tanaman yang ada dilingkungan sekolah, pendidik menyuruh peserta didik untuk mencari daun atau apapun yang ada dilingkungan sekolah setelah itu harus Digambar dengan cat air. Sedangkan dokumentasi keenam, pendidik menyuruh peserta didik untuk membaca dahulu sebelum nanti akan ada tanya jawab dari pendidik. Minat dan Motivasi Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan bahwa pada faktor minat dan motivasi yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Pendidik mengarahkan ke seluruh peserta didik untuk mengikuti kegiatan yang diadakan di sekolah, baik kegiatan rutin sekolah seperti sholat duha, tahfidz dan rutinan jumat, kegiatan tersebut wajib diikuti oleh seluruh peserta didik. Sedangkan untuk kegiatan ekstrakulikuler, pendidik hanya mengarahkan dan memberitahu apa saja kegiatan ekstrakulikuler, peserta didik boleh memilih salah satu atau lebih untuk mengikuti kegiatan tersebut. Cara Belajar Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan bahwa pada cara belajar yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Pendidik menyiapkan buku untuk panduan belajar dan juga absen terlebih dahulu agar tahu siapa saja peserta didik yang tidak masuk sekolah, peserta didik pun harus membawa buku tulis dan juga buku pelajaran sesuai dengan jadwal pelajaran, setelah itu kegiatan belajar dimulai seperti biasa. Faktor Ekternal . Keluarga Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan bahwa pada faktor eksternal keluarga yang mempengaruhi hasil belajar siswa, orangtua sedang menemani anaknya mengerjakan pekerjaan rumah (PR), orangtua hanya mendampingi dan memastikan pekerjaan rumah (PR) anaknya selesai, jika anak ada yang belum paham, orangtua baru mengajari anaknya menyelesaikan pekerjaan rumah (PR). Sekolah Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan bahwa pada faktor eksternal sekolah yang mempengaruhi hasil belajar siswa. AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 81 terdapat sarana dan prasarana pendukung peserta didik dalam belajar, seperti kelengkapan buku. Masjid, rumah tahfidz, halaman bermain, tempat parkir, toilet, lapang upacara dan bangunan sekolah keadaan kursi dan meja. Semuanya masih layak pakai. Masyarakat Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan, terdapat peserta didik yang tinggal di lingkungan masyarakat yang berpendidikan, lokasi masyarakat ini ada disekitar MIS Insan Cita Istiomah. Walaupun tidak semua berprofesi pendidik tapi masyarakat sangat antusias terhadap dunia pendidikan terutama untuk anak-anaknya. Lingkungan Sekitar Berdasarkan hasil dokumentasi yang ditemukan terhadap faktor eksternal lingkungan sekitar, pada dokumentasi satu sampai empat bahwa akses jalan menuju ke sekolah dari sebelum di cor sekarang sudah di cor, dan dokumentasi kelima keadaan jalan dari jalan raya menuju ke sekolah cukup jauh sehingga ketika peserta didik sedang belajar tidak terganggu oleh suara bising kendaraan, lingkungan sekitar sekolah juga ketika pagi sangat sepi sehingga tidak mengganggu siswa sedang belajar. Berdasarkan observasi yang diperoleh peneliti, bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar secara umum dibedakan menjadi 2, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal segala sesuatu yang berasal dari dalam diri sendiri, dalam kata lain pendukung dalam belajar yang didorong oleh diri sendiri, yaitu menjaga kesehatan diri sendiri, intelegnsi dan bakat, minat dan motivasi, dan cara belajar. Sejalan dengan pendapat Muhibbin Syah . Segala sesuatu yang berasal dari dalam diri individu yang belajar. Faktor ini bersifat bawaan atau diperoleh melalui pengalaman dan pembelajaran sebelumnya. Faktor internal ini sangat berpengaruh terhadap keberhasilan seseorang dalam belajar. Dikuatkan lagi dengan pendapat Siodjang . Dalam tubuh terdapat kondisi sehat dan sakit, di mana sehat sangat tergantung pada kondisi keseimbangan unsur-unsur yang ada dalam tubuh manusia, jika keseimbangan tubuh terganggu akan mengakibatkan kondisi tubuh yang tidak sehat di mana akan menimbulkan penyakit yang dapat menghambat aktifitas hidup sehari-hari, dapat mengakibatkan pikiran terganggu. Secara umum sakit merupakan suatu keadaan terhadap diri dan lingkungan yang tidak seimbang. Dengan demikian jika seseorang tidak dapat menjaga keseimbangan diri dan lingkungannya, atau organisme tubuh tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka orang tersebut dapat dikatakan Sedangkan faktor eksternal segala sesuatu yang berasal dari luar individu, seperti keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan sekitar. Kedua faktor tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap hasil belajar karena jika peserta didik lalai akan faktor internal akan membuat rugi diri AL-HUDA: Jurnal Pendidikan Dasar. Volume 1 No 2 Tahun 2025 | 82 sendiri, begitu pun dengan faktor internal sangat berpengaruh dalam hasil belajar siswa. Oleh karena itu, dalam upaya meningkatkan prestasi belajar, baik guru, orang tua, maupun siswa perlu memperhatikan dan berusaha untuk mengoptimalkan faktor-faktor tersebut. Sejalan dengan pendapat Sulistyorini . mendefinisikan faktor eksternal sebagai segala sesuatu di luar diri individu yang dapat mempengaruhi proses belajar. Faktor-faktor ini berasal dari lingkungan sekitar dan tidak berasal dari dalam diri individu. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang didapat dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi mengenai implementasi model cooperative learning tipe tebak kata dalam peningkatan hasil belajar siswa di MIS Insan Cita Istiqomah Kecamatan Binong Kabupaten Subang maka dapat diambil kesimpulan langkah-langkah model cooperative learning tipe tebak kata di bagi menjadi tiga yaitu langkah pelaksanaan, langkah pelaksanaan dan Langkah tindak lanjut, bentukbentuk model cooperative learning tipe tebak kata di bagi menjadi empat, yaitu tebak kata berpasangan, tebak kata berkelompok, tebak kata berwaktu dan tebak kata menggunakan media, dan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa di bagi menjadi dua yaitu faktor internal meliputi kesehatan, intelegensi dan bakat, minat dan motivasi, cara belajar. Faktor eksternal meliputi keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan sekitar. REFERENSI