Primary Journal of Multidisciplinary Research Vol. 1 No. December 2025, pp. E-ISSN 3090-0972 Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Al-QurAoan dan Hadis: Kajian Ulum al-QurAoan. Ulum al-Hadis, dan Pembentukan Karakter Masturah Yasmin Hafidzoh1* 1 Program Studi Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Sumatera Barat. Indonesia Email: yasminhafidzoh2@gmail. ARTICLE INFO Article history a. Received November 5, 2025 Revised November 8, 2025 Accepted November 13, 2025 Published December 7, 2025 Keywords Religious Moderation. Ulum al-QurAoan. Ulum al-Hadith. Thematic Tafsir. Character Building. ABSTRACT This article discusses the concept of religious moderation in the QurAoan and Hadith through the study approach of Ulum al-Qur'an and Ulum al-Hadith, along with its implications for character formation. Religious moderation is an essential value in fostering a balanced attitude in practicing religion, whether in aspects of worship, social life, or culture. This research employs thematic interpretation . afsir maudhuAo. to analyze QurAoanic verses and prophetic traditions related to the principles of moderation. In this study, religious moderation is understood as a teaching that avoids extreme attitudes both in belief and in action while emphasizing the importance of tolerance, justice, and balance. Through Ulum al-QurAoan and Ulum alHadith, this paper identifies texts that affirm the importance of moderation in religious practice and the development of personal character in accordance with Islamic teachings. The findings indicate that the concept of religious moderation serves not only as a guideline for worship but also for social interaction among human beings. Thus, character formation based on the values of religious moderation can contribute to creating a harmonious and just society. License by CC-BY-SA Copyright A 2025. The Author. How to cite: Hafidzoh. Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Al-QurAoan dan Hadis: Kajian Ulum al-QurAoan. Ulum al-Hadis, dan Pembentukan Karakter. Primary Journal of Multidisciplinary Research, 1. , 213-217. doi: https://doi. org/10. 70716/pjmr. PENDAHULUAN Perkembangan dinamika sosial dan kultural di masyarakat Muslim dewasa ini memunculkan tantangan serius terhadap pemahaman dan praktik keagamaan mulai dari kecenderungan ekstremisme, polarisasi, hingga intoleransi terhadap perbedaan. Di tengah kondisi tersebut, muncul kebutuhan mendesak untuk menggali kembali nilai-nilai dasar agama yang bersifat moderat yaitu agama yang mengedepankan keseimbangan, toleransi, dan keadilan. Nilai-nilai moderasi beragama bukan sekadar slogan, melainkan harus bersandar pada landasan tekstual dan metodologis agama: yakni pada teks suci Al QurAoan dan tradisi autentik Hadis dengan pemahaman yang benar melalui disiplin ilmu klasik dan kontemporer (Hasanah, 2. Studi keislaman telah lama mengembangkan disiplin ilmu yang dikenal sebagai Ulum al QurAoan Ai yaitu kumpulan ilmu yang membahas berbagai aspek Al QurAoan, termasuk sebab turunnya ayat . sbAb an-nuz. , klasifikasi ayat . akkiyah/madaniya. , nasikh-mansukh, qiraAoat, rasm mushaf, hingga ilmu tafsir (Marifati. Maldani, & Maslani, 2. Melalui Ulum al QurAoan, seseorang dapat memahami Al QurAoan tidak hanya secara tekstual, tetapi juga kontekstual sehingga interpretasi ayat dapat disesuaikan dengan konteks sosial-historis dan kebutuhan zaman. Hal ini sejalan dengan pendapat Juwari . , yang menekankan pentingnya pendekatan konteks dalam memahami ayat-ayat Al-QurAoan untuk menghindari tafsir yang sempit dan Di sisi lain, terdapat disiplin Ulum al Hadis ilmu yang mengkaji hadis dari aspek sanad . antai periwayata. , matan . , serta otentisitas dan interpretasinya. Ilmu ini penting karena Hadis merupakan sumber ajaran kedua setelah Al QurAoan. tanpa kajian Ulum al Hadis, penerapan hadis dalam kehidupan bisa berisiko munculnya kekeliruan. Juwari . juga menyebutkan bahwa tanpa kajian yang mendalam terhadap otentisitas hadis, bisa muncul interpretasi yang bertentangan dengan ajaran asli Islam. Oleh karena Primary Journal of Multidisciplinary Research Vol. No. December 2025, pp 213-217 itu, kajian terhadap Ulum al Hadis membantu kita untuk memastikan bahwa hadis yang diambil untuk dijadikan pedoman adalah sahih dan relevan dengan konteks saat ini. Pemahaman terhadap Ulum al QurAoan dan Ulum al Hadis menjadi prasyarat utama sebelum seseorang menarik nilai nilai etis, moral, dan sosial dari teks-teks keagamaan. Tanpa landasan epistemologis tersebut, interpretasi bisa jatuh pada sikap ekstrem baik sektor Aukonservatif kakuAy maupun Auliberal semuAy (Naurah. Oleh sebab itu, kajian ilmiah yang sistematis penting untuk merumuskan nilai nilai moderasi beragama berdasarkan teks dan metodologi keilmuan, seperti yang diungkapkan oleh Pramudia . yang berfokus pada pentingnya pendidikan karakter berlandaskan nilai-nilai Islam moderat. Metode yang relevan dalam konteks ini adalah tafsir tematik yakni penafsiran Al QurAoan berdasarkan tema atau topik tertentu . isalnya: keadilan, toleransi, keseimbangan, moderas. Tafsir tematik memungkinkan penelusuran ayat-ayat yang relevan dengan suatu konsep nilai secara sistematis, tanpa terjebak pada fragmentasi ayat. Pendekatan ini semakin relevan dalam menghadapi persoalan kontemporer dan pluralitas sosial (Aziz, n. Dalam kajian moderasi beragama, beberapa istilah kunci sering muncul: tawAsuth . alan tenga. , tawAzun . , i dAl . egak/luru. , dan tasamuh . Nilai-nilai ini banyak diidentifikasi dalam literatur tafsir dan pendidikan Islam sebagai karakteristik moderasi beragama. Aziz . ) menjelaskan bahwa nilai tawasuth dan tawazun dalam Al-QurAoan dan Hadis menekankan pentingnya keseimbangan dalam segala aspek kehidupan umat Islam, baik dalam hubungan dengan Tuhan, sesama umat manusia, maupun Beberapa penelitian empiris telah menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai tawasuth, tawazun, i dAl, dan tasamuh melalui pendidikan agama dapat meningkatkan sikap moderat dan toleran di kalangan pelajar (Giovano, 2. Hal ini menunjukkan bahwa moderasi bukan sekadar wacana teoretis, tapi dapat dibumikan dalam pembentukan karakter dan interaksi sosial. Penelitian oleh Pramudia . menambahkan bahwa pengajaran nilai-nilai moderasi beragama di sekolah-sekolah dapat mengurangi potensi radikalisasi di kalangan generasi muda. Namun, untuk membumikan moderasi beragama secara autentik, perlu analisis mendalam terhadap teks baik Al QurAoan maupun Hadis menggunakan kerangka Ulum al QurAoan dan Ulum al Hadis. Hal ini karena teks suci diturunkan dan disampaikan dalam konteks sejarah tertentu, dan pemahaman tanpa metodologi bisa menimbulkan distorsi nilai (Giovano, 2. Pemahaman yang mendalam tentang asal usul, interpretasi, dan konteks historis ayat dan hadis sangat diperlukan agar dapat mengaplikasikan nilai moderasi dengan tepat dalam konteks kekinian. Penelitian sebelumnya yang mengeksplorasi moderasi dalam tafsir menunjukkan bahwa ayat ayat seperti dalam surat Al Baqarah . isalnya ayat tentang jalan tengah/wasathiya. diinterpretasikan dengan menekankan keseimbangan, keadilan, dan toleransi sebagai bagian nilai moderasi (Aziz, n. Giovano . juga menemukan bahwa tafsir moderat dapat mendorong umat Islam untuk menghindari pandangan ekstrem yang bisa merusak keharmonisan sosial. Demikian pula, pendekatan pendidikan Islam kontemporer menekankan bahwa moderasi . engan tawAsuth, tawAzun, i dAl, tasamuh dll. ) harus diinternalisasi sejak awal melalui kurikulum yang inklusif, agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh ideologi ekstrem (Arikarani, 2. Dengan cara ini, moderasi beragama bisa menjadi nilai dasar dalam membentuk individu yang bertanggung jawab, toleran, dan adil. Mengingat pentingnya aspek epistemologis dan pedagogis ini, penelitian ini bermaksud menggabungkan kajian Ulum al QurAoan. Ulum al Hadis, dan tafsir tematik untuk merumuskan nilai nilai moderasi secara sistematis. Selain itu, penelitian juga akan mengkaji bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterjemahkan dalam pembentukan karakter individu dan sosial (Hasanah, 2. Dengan fokus tersebut, penelitian diharapkan memberikan kontribusi akademik: memperkuat landasan teoritis moderasi beragama dalam konteks teks keagamaan, sekaligus memberi rekomendasi praktis untuk pendidikan karakter dan moderasi dalam masyarakat Muslim kontemporer (Pramudia, 2. METODE PELAKSANAAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur untuk menganalisis nilai-nilai moderasi beragama dalam Al-QurAoan dan Hadis. Pendekatan kualitatif dipilih karena bertujuan untuk mendalami dan memahami fenomena nilai-nilai moderasi dalam konteks teks-teks keagamaan, tanpa berfokus pada pengukuran numerik. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menelaah berbagai sumber Masturah Yasmin Hafidzoh. (Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Al-QurAoan dan Hadis: A. Primary Journal of Multidisciplinary Research Vol. No. December 2025, pp 213-217 referensi yang relevan, seperti buku, artikel ilmiah, jurnal internasional, dan sumber-sumber primer berupa tafsir dan hadis yang terverifikasi. Melalui metode ini, penelitian akan menggali berbagai tafsir tematik terkait dengan moderasi beragama yang terdapat dalam Al-QurAoan dan Hadis, serta relevansi nilai-nilai tersebut dalam pembentukan karakter umat Islam. Dalam tahapan pertama, penelitian ini akan melakukan kajian teori dengan merujuk pada literaturliteratur yang membahas Ulum al-QurAoan. Ulum al-Hadis, serta konsep moderasi beragama. Kajian ini bertujuan untuk memberikan landasan teoritis yang kuat mengenai konsep-konsep seperti tawasuth . alan tenga. , tawAzun . , i dAl . egak/luru. , dan tasamuh . , yang menjadi dasar bagi pengembangan moderasi dalam kehidupan beragama. Penelitian ini juga akan mengulas berbagai pendekatan dalam tafsir tematik, yang memungkinkan peneliti untuk memetakan dan menafsirkan ayat-ayat Al-QurAoan dan Hadis dalam kaitannya dengan nilai-nilai moderasi beragama secara sistematis dan Pada tahapan kedua, analisis dilakukan dengan menggunakan tafsir tematik untuk menelaah teks-teks Al-QurAoan dan Hadist yang berhubungan dengan moderasi beragama. Metode tafsir tematik digunakan untuk mengidentifikasi tema-tema kunci yang berkaitan dengan nilai-nilai seperti keadilan, keseimbangan, toleransi, dan moderasi yang menjadi pedoman dalam kehidupan umat Islam. Dalam tahap ini, penelitian akan memetakan bagaimana ayat-ayat dan hadis-hadis yang relevan mengajarkan pentingnya sikap moderat dalam menjalani kehidupan beragama. Selain itu, kajian ini juga akan mengidentifikasi aplikasi praktis dari nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari umat Islam, khususnya dalam konteks sosial dan interaksi antar umat beragama. Tahap akhir penelitian ini adalah pembentukan karakter berdasarkan Al-QurAoan dan Hadis, di mana penelitian akan mengaitkan nilai-nilai moderasi beragama yang ditemukan dalam tafsir tematik dengan pembentukan karakter pribadi dan sosial. Penelitian ini akan menelaah bagaimana nilai-nilai moderasi tersebut dapat diinternalisasi dalam pendidikan agama, serta bagaimana konsep-konsep tersebut dapat membantu menciptakan individu yang memiliki karakter yang moderat, toleran, dan adil. Dalam tahap ini, juga akan dikaji bagaimana implementasi nilai-nilai moderasi beragama dapat diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan agama Islam, baik di tingkat pendidikan formal maupun non-formal, untuk memperkuat pembentukan karakter umat Islam yang lebih inklusif dan seimbang. Metode pelaksanaan ini diharapkan mampu menghasilkan pemahaman yang mendalam mengenai nilai-nilai moderasi beragama dalam Al-QurAoan dan Hadis serta memberikan rekomendasi praktis untuk penguatan karakter moderat dalam masyarakat Islam. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kajian menunjukkan bahwa secara konsisten teks Al QurAoan dan hadis melalui tafsir dan analisis sanad-matan memuat nilai-nilai moderasi yang dapat dirumuskan sebagai prinsip seperti tawysu . alan tenga. , tawAzun . , i dAl . urus/tega. , dan tasamuh . oleransi/welas asi. Kajian ulumul QurAoan dan ulumul Hadis memperlihatkan bahwa moderasi bukan tambahan modern, melainkan bagian integral dari ajaran Islam. Sebagai contoh, studi ulumul dan interpretasi modern menunjukkan bahwa Islam menolak ekstremisme dan mendorong keseimbangan sebagai gaya hidup muslim (Hasanah, 2. Menurut Pramudia . , moderasi dalam Islam secara jelas tertuang dalam berbagai ayat yang mendorong umat untuk menghindari fanatisme dan kebencian. Analisis literatur dalam kerangka pendidikan dan sosial memperlihatkan bahwa penerapan nilai-nilai moderasi . awasuth, tawazun, i dAl, tasamu. dalam proses pendidikan baik di sekolah, madrasah, maupun pesantren terbukti efektif membentuk karakter moderat, toleran, dan inklusif. Misalnya, penelitian pada siswa MTs Negeri 01 Kota Bengkulu menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman dan internalisasi moderasi beragama setelah materi nilai moderasi diajarkan melalui mata pelajaran Al-QurAoan-Hadis (Hasanah, 2. Selain itu, penelitian oleh Giovano . mengungkapkan bahwa ketika materi moderasi beragama diberikan dalam konteks pembelajaran, siswa menunjukkan perubahan positif dalam sikap dan perilaku sosial mereka, berlandaskan pada nilai toleransi dan keadilan. Lebih lanjut, kajian empiris di masyarakat multikultural memperlihatkan bagaimana moderasi beragama terwujud dalam interaksi sosial nyata: sikap toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, dan Masturah Yasmin Hafidzoh. (Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Al-QurAoan dan Hadis: A. Primary Journal of Multidisciplinary Research Vol. No. December 2025, pp 213-217 harmoni hidup bersama antar umat beragama bahkan dalam konteks pluralitas. Hal ini sejalan dengan temuan Sirojuddin . yang menunjukkan bahwa moderasi beragama menjadi kunci dalam mengelola perbedaan dan menjaga kerukunan antar kelompok di Indonesia. Berdasarkan penelitian ini, moderasi bukan hanya idealisme teoretis, melainkan relevan secara sosial ketika diterapkan secara konsisten dalam kehidupan masyarakat. Kajian hadis terkait moderasi . engan analisis sanad dan mata. mendukung bahwa banyak hadis sahih yang mendorong sikap moderat, adil, dan toleran menjauh dari kekerasan, fanatisme, dan ekstremisme. Sebagai contoh, hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, yang menyatakan bahwa umat Islam harus menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, menunjukkan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menghindari ekstremisme baik dalam ibadah maupun dalam hubungan sosial (Juwari, 2. Interpretasi ini memvalidasi bahwa moderasi beragama memiliki fondasi tekstual kuat, bukan sekadar hasil reinterpretasi modern belaka. Namun, hasil kajian juga mengindikasikan bahwa implementasi moderasi dalam pendidikan dan kehidupan sosial memerlukan struktur pendidikan Islam yang mendukung kurikulum inklusif, pendekatan pedagogis yang membuka dialog dan pluralitas, serta konsistensi dalam pengajaran nilai moral/spiritual . ukan dogmatisitas semat. Banyak sekolah dan pesantren yang berhasil membumikan moderasi dengan demikian (Juwari, 2. Penelitian oleh Arikarani et al. juga menunjukkan bahwa kurikulum pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai toleransi dan keadilan berbasis moderasi mampu menciptakan siswa yang lebih terbuka dan memiliki perspektif yang lebih luas terhadap perbedaan agama dan budaya. Dalam konteks kontemporer pluralitas agama, globalisasi, kemajemukan sosial moderasi beragama . ashAiyya. membuktikan relevansinya sebagai sikap adaptif yang mampu menjaga kohesi sosial, menghormati perbedaan, dan mencegah radikalisme. Hal ini konsisten dengan pandangan ilmuwan bahwa moderasi adalah karakteristik dasar dalam tradisi Islam, bukan fenomena baru (Aziz, n. Penelitian oleh Giovano . juga menegaskan bahwa moderasi dalam Islam menjadi model yang relevan dalam menjaga keharmonisan masyarakat yang multikultural dan plural. Secara metodologis, studi terhadap Ulum al-QurAoan dan Ulum al-Hadis menunjukkan bahwa pemahaman yang mendalam terhadap sebab turunnya ayat . sbAb an-nuz. , klasifikasi ayat, serta analisis sanad/matan hadis sangat penting untuk menghindari tafsir ekstrem dan mis-interpretasi. Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengekstrak nilai-nilai etis dan sosial moderasi dengan landasan tekstual dan historis (Giovano, 2. Dalam kajian ini, tafsir tematik telah menjadi metode yang sangat berguna untuk menggali ayat-ayat yang berkaitan dengan moderasi dalam Al-QurAoan dan menjadikannya pedoman untuk kehidupan beragama yang seimbang. Pembahasan lebih lanjut mengindikasikan bahwa karakter moderasi tawAzun, tawysu, i dAl, tasamuh bukan hanya harus diajarkan, tetapi juga dihidupkan dalam praktik keseharian: dalam pendidikan, interaksi sosial, dakwah, serta struktur masyarakat. Nilai-nilai ini sekaligus menjadi antitesis terhadap radikalisme, diskriminasi, dan fanatisme sehingga moderasi beragama dapat menjadi fondasi bagi masyarakat plural dan harmonis (Aziz, n. Penelitian oleh Sirojuddin . menunjukkan bahwa penguatan moderasi dapat menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan adil, dengan memperkuat komunikasi antar kelompok dan meningkatkan toleransi sosial. Keterbatasan temuan literatur menunjukkan bahwa meskipun banyak teks dan interpretasi mendukung moderasi, penerapan di lapangan seringkali terkendala oleh faktor eksternal: interpretasi selektif, politisasi agama, tekanan identitas, dan kurangnya pendidikan toleransi yang sistematis. Oleh karena itu, penguatan moderasi harus sistemik: melalui pendidikan formal, kebijakan sosial, dan dialog antar umat (Arikarani et al. , 2. Penelitian oleh Pramudia . juga menunjukkan bahwa kurikulum pendidikan yang berfokus pada nilai-nilai moderasi beragama memiliki dampak positif terhadap sikap dan perilaku siswa. Dengan demikian, hasil kajian menegaskan bahwa moderasi beragama berdasarkan Ulum al-QurAoan. Ulum al-Hadis, dan tafsir tematik bukanlah opsi tambahan, melainkan inti dari ajaran Islam yang relevan bagi zaman sekarang. Nilai-nilai moderasi harus dikaji, diajarkan, dan diaplikasikan untuk membentuk karakter dan masyarakat yang toleran, adil, dan seimbang (Hasanah, 2. Sebagai tambahan, kajian lebih lanjut Masturah Yasmin Hafidzoh. (Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Al-QurAoan dan Hadis: A. Primary Journal of Multidisciplinary Research Vol. No. December 2025, pp 213-217 perlu dilakukan untuk mengembangkan pendekatan yang lebih aplikatif dan sistemik dalam penguatan moderasi di berbagai sektor, termasuk pendidikan, sosial, dan keagamaan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis terhadap nilai-nilai moderasi beragama dalam Al-QurAoan dan Hadis, dapat disimpulkan bahwa moderasi beragama bukanlah ajaran yang bersifat baru dalam Islam, melainkan sudah tercermin sejak awal diturunkannya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Nilai-nilai tawAsuth, tawAzun, i dAl, dan tasamuh yang terkandung dalam teks-teks keagamaan seperti Al-QurAoan dan Hadis menunjukkan pentingnya keseimbangan, toleransi, dan keadilan dalam menjalani kehidupan beragama. Pendekatan tafsir tematik memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai prinsip-prinsip moderasi yang dapat diterapkan dalam konteks sosial yang lebih luas. Pentingnya implementasi moderasi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam konteks pendidikan agama, juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Pembentukan karakter berdasarkan nilai-nilai moderasi beragama dapat menciptakan individu dan masyarakat yang lebih toleran, adil, dan inklusif. Penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum pendidikan yang memasukkan nilai moderasi beragama, baik di tingkat sekolah maupun di tingkat pesantren, dapat menghasilkan perubahan sikap yang signifikan di kalangan siswa dalam hal toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Dengan penguatan nilai-nilai ini dalam pendidikan, moderasi dapat menjadi budaya yang diterima secara luas di masyarakat. Sebagai rekomendasi, penelitian ini menyarankan agar pendidikan Islam lebih menekankan penerapan nilai moderasi secara sistematis melalui kurikulum yang lebih inklusif dan mendalam. Hal ini akan membentuk generasi muda yang tidak hanya memahami moderasi dalam teori, tetapi juga dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sosial, sehingga moderasi beragama dapat menjadi pondasi bagi terciptanya masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Oleh karena itu, penerapan moderasi dalam konteks kehidupan kontemporer menjadi sangat relevan dan mendesak untuk diterapkan lebih luas dalam masyarakat. DAFTAR PUSTAKA