JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Penguatan Motivasi Belajar Melalui Reward dan Punishment dalam Kokurikuler Tahfidz Al-QurAoan dan Hadits di MIN 2 Nagan Raya *Asnidar1. Sri Suyanta2. Syahminan3. 1,2,3 Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Banda Aceh. Aceh. Indonesia Email: asnidarnagano@gmail. Abstract Learning motivation is a crucial factor in the success of Tahfidz programs in Islamic elementary schools. This study aims to examine the forms of reward and punishment implemented in the co-curricular Tahfidz Al-QurAoan and Hadith program at MIN 2 Nagan Raya, studentsAo responses to these strategies, and their impact on learning motivation. Employing a descriptive qualitative approach, data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation involving the principal, teachers, students, and parents. The findings reveal that rewards in the form of verbal praise, certificates, small gifts, and symbolic recognition, such as the opportunity to lead prayer, foster studentsAo enthusiasm and self-confidence in memorization. Meanwhile, punishments such as additional assignments, verbal warnings, and written commitments are accepted positively as constructive guidance rather than punitive measures. The consistent and contextual application of both strategies contributes to improved attendance, discipline, and achievement of memorization targets. This study suggests that reward and punishment, when designed in a humanistic and proportional manner, serve not only as motivational tools but also as a medium for cultivating studentsAo religious character and learning discipline. Keywords: Reward. Punishment. Motivation. Tahfidz. Co-curricular Abstrak Motivasi belajar merupakan faktor penting dalam keberhasilan program Tahfidz di madrasah ibtidaiyah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk-bentuk reward dan punishment yang diterapkan dalam program kokurikuler Tahfidz Al-QurAoan dan Hadits di MIN 2 Nagan Raya, respons siswa terhadap strategi tersebut, serta dampaknya terhadap motivasi belajar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi yang melibatkan kepala madrasah, guru, siswa, dan orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reward berupa pujian lisan, piagam, hadiah sederhana, serta penghargaan simbolis seperti kesempatan menjadi imam shalat mampu menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri siswa dalam menghafal. Sementara itu, punishment berupa tugas tambahan, teguran lisan, dan penulisan surat komitmen diterima secara positif sebagai bentuk pembinaan, bukan hukuman yang menjatuhkan. Penerapan kedua strategi secara konsisten dan kontekstual berkontribusi pada peningkatan kehadiran, kedisiplinan, serta pencapaian target hafalan siswa. Penelitian ini menegaskan bahwa reward dan punishment yang dirancang secara humanis dan proporsional tidak hanya berfungsi sebagai penguat JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. motivasi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter religius dan disiplin belajar siswa. Kata Kunci: Reward. Punishment. Motivasi. Tahfidz. Kokurikuler *** PENDAHULUAN Motivasi belajar merupakan determinan kunci keberhasilan proses pendidikan, terutama pada pembelajaran berbasis nilai religius seperti tahfidz AlQurAoan dan Hadits di madrasah ibtidaiyah. Penelitian Mahmud. Akmal, dan Arias . menunjukkan bahwa motivasi intrinsik siswa di Aceh cenderung lebih dominan dibandingkan motivasi ekstrinsik (Mahmud et al. , 2. Temuan ini menegaskan perlunya strategi pembelajaran yang tidak hanya mempertahankan motivasi intrinsik, tetapi juga memperkuat motivasi ekstrinsik agar prestasi belajar dapat meningkat secara optimal. Dalam konteks kegiatan tahfidz, keseimbangan antara kedua jenis motivasi ini menjadi penting agar siswa terdorong untuk menghafal Al-QurAoan bukan semata karena tuntutan eksternal, tetapi juga karena dorongan internal yang kuat untuk mencapai keberhasilan. Kegiatan menghafal di madrasah ibtidaiyah bukan sekadar rutinitas akademik, tetapi juga sarana internalisasi nilai keagamaan, pembentukan karakter, dan pembinaan identitas religius peserta didik (Kumalasari, 2. Di Aceh, program tahfidz memiliki peran strategis karena selaras dengan visi pendidikan Islam yang menekankan integrasi ilmu pengetahuan dengan spiritualitas. Meskipun demikian, pengamatan awal di MIN 2 Nagan Raya menunjukkan bahwa implementasi program tahfidz masih menghadapi kendala motivasional. Beberapa siswa terlihat kurang antusias, bahkan cenderung mudah menyerah ketika menemui kesulitan menghafal. Rendahnya motivasi ini seringkali dipicu oleh kurangnya penguatan positif dari guru atau ketidakterlibatan siswa dalam proses pembelajaran yang bermakna. Kondisi ini berpotensi menghambat pencapaian target hafalan sekaligus mengurangi efektivitas program kokurikuler tahfidz. Madrasah sendiri telah berupaya menjalankan berbagai strategi untuk menumbuhkan motivasi siswa. Salah satunya adalah menerapkan metode reward dan punishment di dalam program kokurikuler tahfidz. Guru memberikan pujian JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. secara langsung kepada siswa yang berhasil menyelesaikan target hafalan, serta memberi penghargaan kecil seperti alat tulis atau sertifikat bagi siswa yang Sebaliknya, bagi siswa yang belum memenuhi target, guru lebih memilih memberi tugas tambahan atau nasihat pribadi, bukan hukuman yang bersifat memaksa atau menjatuhkan mental. Pendekatan ini dianggap lebih manusiawi dan sesuai dengan karakter anak-anak madrasah. Sejumlah penelitian terdahulu telah menyoroti pengaruh reward terhadap motivasi belajar (Kumalasari, 2023. Waqiah & Zuhri, 2. serta kontribusi punishment edukatif dalam pembinaan disiplin siswa (Fauzi & Permadi, 2023. Sabartiningsih et al. , 2. Raihan . juga menemukan bahwa penerapan reward berupa pujian verbal, hadiah, hingga penulisan nama pada papan tulis, serta punishment berupa bimbingan lisan, tugas tambahan, dan pembersihan ruang kelas terbukti efektif dalam meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam di SMA Kabupaten Pidie (Raihan, 2. Namun, dari kajian literatur yang penulis lakukan, masih sangat jarang ditemukan penelitian yang secara khusus membahas penerapan kedua strategi ini secara bersamaan dalam konteks kokurikuler tahfidz, khususnya di lingkungan madrasah ibtidaiyah Aceh. Kebanyakan studi justru berfokus pada pembelajaran di kelas atau pada aspek reward saja, tanpa menyinggung secara detail bagaimana punishment yang diterapkan dapat tetap diterima secara positif oleh siswa. Berdasarkan latar belakang inilah, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji secara lebih mendalam bagaimana bentuk-bentuk reward dan punishment diterapkan di MIN 2 Nagan Raya, bagaimana respons siswa terhadap kedua metode tersebut, serta dampak nyata yang muncul terhadap motivasi belajar mereka dalam kegiatan tahfidz Al-QurAoan dan Hadits. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata, bukan hanya secara teoritis dalam pengembangan kajian motivasi belajar di madrasah, tetapi juga secara praktis bagi guru, kepala madrasah, dan pihak pengelola pendidikan Islam di tingkat dasar, khususnya dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih manusiawi dan berorientasi pada kebutuhan siswa. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Pemilihan pendekatan ini dilandasi oleh tujuan untuk memahami secara mendalam fenomena penerapan reward dan punishment dalam program kokurikuler Tahfidz Al-QurAoan dan Hadits di MIN 2 Nagan Raya, serta untuk menangkap pengalaman, persepsi, dan dinamika interaksi para pihak yang terlibat. Pendekatan kualitatif deskriptif dinilai tepat karena memungkinkan peneliti menggali makna dan konteks sosial yang melatarbelakangi proses pembelajaran, yang tidak dapat dijelaskan secara kuantitatif (Sugiyono, 2. Penelitian dilaksanakan di MIN 2 Nagan Raya yang terletak di Jalan Nasional Jeuram. Kecamatan Seunagan. Kabupaten Nagan Raya. Madrasah ini dipilih secara purposive karena dikenal aktif dan konsisten menyelenggarakan program tahfidz secara kokurikuler. Penelitian lapangan dilakukan selama dua minggu pada bulan Mei 2025, bertepatan dengan masa evaluasi akhir semester sehingga aktivitas tahfidz lebih intensif. Subjek penelitian mencakup kepala madrasah, empat guru pengampu Tahfidz Al-QurAoan dan Hadits, sepuluh siswa yang aktif mengikuti program, serta lima orang tua siswa. Seluruh informan dipilih secara purposive dengan mempertimbangkan keterlibatan langsung mereka dalam pelaksanaan atau penerimaan reward dan punishment, pengalaman minimal satu semester mengikuti program, serta kesediaan untuk memberikan informasi secara jujur dan terbuka. Pemilihan ini diharapkan dapat menghasilkan data yang kaya informasi dan relevan dengan fokus penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi (Satori & Komariah, 2. Observasi dilakukan dengan kehadiran peneliti pada beberapa sesi tahfidz untuk mencatat interaksi guru dan siswa, bentuk reward dan punishment yang diberikan, serta suasana kelas selama proses pembelajaran. Wawancara semi-terstruktur dilakukan dengan kepala madrasah untuk memperoleh informasi mengenai kebijakan dan strategi pelaksanaan, guru tahfidz untuk mengetahui proses implementasi dan kendala yang dihadapi, siswa untuk menggali pengalaman dan persepsi mereka, serta orang tua untuk memahami bentuk dukungan keluarga dan perubahan perilaku JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Setiap wawancara berlangsung selama 20 hingga 40 menit dan direkam dengan persetujuan informan. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data lapangan, mencakup rencana pelaksanaan tahfidz, daftar penerima reward, laporan evaluasi guru, absensi siswa, dan foto kegiatan. Validitas data dijamin melalui triangulasi sumber, dengan membandingkan informasi dari guru, siswa, orang tua, dan kepala madrasah, serta triangulasi metode dengan mengombinasikan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selain itu, peneliti menerapkan teknik member check dengan memberikan ringkasan hasil wawancara kepada informan untuk memastikan kebenaran interpretasi (Miles et al. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan model interaktif Miles. Huberman, dan Saldaya yang mencakup tiga tahapan, yaitu reduksi data untuk memfokuskan informasi sesuai tujuan penelitian, penyajian data dalam bentuk narasi tematik yang mencerminkan tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan respons siswa, serta penarikan kesimpulan yang dilakukan secara bertahap dan diverifikasi dengan data pendukung. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Bentuk-bentuk Reward dan Punishment yang Diterapkan di MIN 2 Nagan Raya Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kepala madrasah, guru tahfidz, siswa, dan orang tua, ditemukan bahwa reward yang diterapkan di MIN 2 Nagan Raya bersifat variatif dan menyesuaikan kondisi siswa. Bentuk reward yang paling sering diberikan adalah pujian lisan di hadapan kelas, seperti "Alhamdulillah, hafalan kamu sangat baik hari ini" atau "Bagus, sudah bisa menambah hafalan. " Selain itu, guru juga memberikan reward materil berupa alat tulis, bintang penghargaan, piagam, serta sesekali hadiah khusus seperti Al-QurAoan kecil untuk siswa yang berhasil mencapai target tertentu. Penghargaan simbolis diberikan dalam bentuk kesempatan menjadi imam shalat atau membacakan ayat pada kegiatan keagamaan madrasah. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Adapun punishment yang diterapkan lebih bersifat edukatif dan mengedepankan pembinaan karakter. Guru jarang memberi hukuman fisik atau teguran keras. Bentuk punishment yang paling umum adalah tugas tambahan hafalan bagi siswa yang belum mencapai target, atau nasihat dan teguran lisan secara pribadi. Siswa yang sering absen juga diminta untuk menuliskan surat komitmen yang berisi janji memperbaiki kehadiran dan hafalan. Guru dan kepala madrasah sepakat bahwa punishment harus dilakukan tanpa mempermalukan siswa dan bertujuan memotivasi, bukan menjatuhkan mental. Respons Siswa terhadap Reward dan Punishment Sebagian besar siswa merespons positif penerapan reward. Dari wawancara yang dilakukan terhadap sepuluh siswa, delapan di antaranya menyatakan merasa lebih semangat menghafal setelah mendapat pujian atau hadiah dari guru. Mereka juga merasa dihargai dan berusaha untuk lebih giat mencapai target berikutnya. Salah satu siswa kelas V menyebutkan. AuSenang kalau dipuji di depan teman-teman, jadi makin ingin menambah hafalan. Ay Siswa yang pernah menerima reward materiil, seperti piagam atau hadiah alat tulis, mengaku merasa bangga dan ingin mempertahankan prestasi. Untuk punishment, respons siswa umumnya netral hingga positif. Meskipun pada awalnya merasa kecewa atau takut saat menerima tugas tambahan, namun setelah mendapat penjelasan dan dukungan dari guru, siswa dapat memahami tujuan punishment. Tidak ada siswa yang merasa dipermalukan di depan kelas. Sebaliknya, punishment yang bersifat pembinaan justru membuat siswa merasa diperhatikan dan termotivasi untuk memperbaiki diri. Wawancara dengan orang tua juga menguatkan temuan ini, di mana orang tua menilai punishment yang diberikan guru cenderung mendidik dan tidak menimbulkan trauma. Dampak Nyata terhadap Motivasi Belajar Siswa dalam Tahfidz Penerapan reward dan punishment di MIN 2 Nagan Raya membawa perubahan nyata dalam motivasi belajar siswa pada program tahfidz. Berdasarkan data kehadiran dan rekap evaluasi guru tahfidz, terjadi peningkatan kehadiran siswa pada kegiatan tahfidz dan bertambahnya jumlah siswa yang mencapai target hafalan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. setiap bulannya. Sebelum sistem reward dan punishment dijalankan secara konsisten, guru mencatat sekitar sepertiga siswa sering absen atau pasif dalam kegiatan tahfidz. Namun setelah sistem ini diterapkan, lebih dari 80% siswa rutin hadir dan aktif berpartisipasi. Guru juga melaporkan adanya perubahan perilaku siswa, seperti meningkatnya kepercayaan diri, disiplin, dan antusiasme dalam menghafal. Siswa yang sebelumnya kurang aktif atau sering tidak hadir mulai menunjukkan inisiatif belajar lebih mandiri. Orang tua memberikan testimoni bahwa anak-anak mereka lebih mudah diingatkan untuk menghafal di rumah, serta lebih antusias mengikuti kegiatan tahfidz di madrasah. Selain itu, suasana kelas menjadi lebih kondusif, siswa saling memotivasi, dan terjadi kompetisi sehat untuk meraih reward. Siswa yang pernah mendapat punishment ringan umumnya mengalami peningkatan disiplin pada bulan-bulan Berdasarkan pengamatan dan catatan guru, kombinasi reward dan punishment yang proporsional telah menciptakan lingkungan belajar yang lebih produktif dan menumbuhkan motivasi intrinsik siswa untuk berprestasi dalam hafalan Al-QurAoan dan Hadits. Pembahasan Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan reward dan punishment pada program kokurikuler Tahfidz Al-QurAoan dan Hadits di MIN 2 Nagan Raya dilakukan dengan cara yang sederhana namun efektif. Hal pertama yang sangat terasa di lapangan adalah bahwa siswa lebih menghargai bentuk-bentuk reward yang diberikan secara terbuka di hadapan teman-temannya. Pemberian reward dalam bentuk pujian lisan, hadiah sederhana, piagam penghargaan, dan penghargaan simbolis seperti kesempatan menjadi imam shalat terbukti berpengaruh signifikan terhadap peningkatan rasa percaya diri, semangat, dan motivasi belajar siswa. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Febianti yang menunjukkan bahwa pemberian reward dan punishment yang positif mampu membangun antusiasme belajar peserta didik dan mendorong mereka untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi (Febianti, 2. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Dalam konteks MIN 2 Nagan Raya, bentuk reward tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghargaan, tetapi juga sebagai pengakuan sosial yang meningkatkan capaian hafalan mereka. Hal ini sejalan dengan pandangan Djamarah bahwa motivasi belajar siswa akan meningkat ketika mereka mendapat penguatan positif yang jelas dan konkret (Djamarah, 2. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Masnadi dkk. yang mengungkap bahwa motivasi belajar siswa dalam Pendidikan Agama Islam dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal, seperti minat dan rasa percaya diri serta faktor eksternal seperti dukungan guru, orang tua, dan lingkungan belajar yang kondusif (Masnadi et al. , 2. Keseimbangan faktorfaktor ini penting untuk memastikan bahwa motivasi yang tumbuh dari penerapan reward bersifat berkelanjutan dan berdampak pada praktik belajar siswa di dalam maupun di luar kelas. Menariknya, punishment di madrasah ini diterapkan dengan pendekatan yang sangat AumendidikAy, jauh dari praktik hukuman keras yang seringkali masih ditemukan di tempat lain. Guru cenderung memilih menegur secara pribadi, memberi tugas tambahan hafalan, atau nasihat ringan, bukan menghukum secara fisik apalagi mempermalukan siswa. Sikap seperti ini sangat sesuai dengan prinsip pendidikan Islam, di mana punishment bertujuan membina, bukan menjatuhkan mental anak (Irfansyah et al. , 2024. Kompri, 2. Respons siswa juga memperlihatkan dinamika yang menarik. Pada awalnya, beberapa siswa memang merasa kecewa saat mendapat punishment. Namun, setelah diberi penjelasan dan diajak berdialog, sebagian besar anak justru merasa diperhatikan dan akhirnya termotivasi untuk memperbaiki diri. Ini mempertegas argumen Sabartiningsih . bahwa punishment yang diberikan dengan pendekatan dialogis dapat diterima anak sebagai bentuk kepedulian, bukan ancaman (Sabartiningsih et al. , 2. Dampak nyata dari strategi reward dan punishment ini terlihat dari perubahan perilaku dan motivasi belajar siswa, baik di lingkungan madrasah maupun di rumah. Guru mencatat peningkatan disiplin, kehadiran, serta antusiasme siswa dalam menghafal. Orang tua juga memberikan kesaksian bahwa anak-anak menjadi lebih rajin dan semangat, bahkan lebih mudah diingatkan untuk menghafal JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. tanpa perlu dipaksa. Jika sebelumnya ada kecenderungan sebagian siswa absen atau hanya sekadarnya mengikuti program, setelah sistem reward dan punishment diterapkan secara konsisten, suasana kelas menjadi lebih hidup, dan kompetisi sehat pun tercipta. Kondisi ini memperkuat temuan Maimunah yang menyebut bahwa reward dan punishment yang konsisten dapat menumbuhkan disiplin, rasa tanggung jawab dan motivasi intrinsik siswa (Maimunah & Yuliana, 2. Tentu saja, penerapan reward dan punishment di MIN 2 Nagan Raya masih menghadapi beberapa tantangan. Guru harus cermat menyesuaikan bentuk reward agar tidak menimbulkan kecemburuan atau kesan pilih kasih di antara siswa. Sementara untuk punishment, guru dituntut lebih kreatif agar sanksi yang diberikan tetap mendidik tanpa menimbulkan trauma. Namun, secara umum, pengalaman empiris di madrasah ini membuktikan bahwa reward dan punishment yang humanis, konsisten, dan berbasis pembinaan sangat efektif dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa pada program tahfidz Al-QurAoan dan Hadits. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kombinasi reward dan punishment yang diterapkan secara proporsional, kontekstual, dan penuh empati telah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memperkuat motivasi belajar siswa, dan membangun karakter religius serta disiplin dalam diri peserta didik MIN 2 Nagan Raya. Temuan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi madrasah lain yang menghadapi masalah serupa, serta memperkaya khasanah kajian strategi pembelajaran dalam pendidikan Islam berbasis tahfidz. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan reward dan punishment dalam program kokurikuler Tahfidz Al-QurAoan dan Hadits di MIN 2 Nagan Raya dilaksanakan secara variatif, proporsional, dan selaras dengan karakteristik peserta Reward berupa pujian lisan, hadiah sederhana, piagam penghargaan, dan penghargaan simbolis terbukti efektif dalam meningkatkan rasa percaya diri, motivasi, dan partisipasi siswa. Sementara itu, punishment yang bersifat edukatif melalui tugas tambahan, teguran pribadi, dan penulisan surat komitmen dapat diterima siswa secara positif sebagai bentuk pembinaan, bukan hukuman yang JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Konsistensi penerapan kedua strategi ini berdampak pada peningkatan kehadiran, disiplin, dan pencapaian target hafalan siswa. Hasil penelitian ini mempertegas bahwa reward dan punishment yang dirancang secara humanis dan kontekstual tidak hanya memotivasi siswa untuk berprestasi, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan karakter religius dan kedisiplinan mereka. *** DAFTAR PUSTAKA