Jurnal Psikologi. Volume 11 Nomor 2. Desember 2015 Pengembangan dan Validasi Pengukuran Skala Pemaafan TRIM-18 Ivan Muhammad Agung Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau email:ivan. agung@uin-suka. Abstrak Pemaafan merupakan salah faktor penting dalam hubungan interpersonal. Metode dan jenis Pengukuran pemaafan banyak dilakukan oleh para ahli salah satu dengan menggunakan skala Transregression-Related Interpersonal Motivation (TRIM-. yang berfokus pada 3 faktor yaitu avoidance, revenge, dan benevolence. Penelitian ini bertujuan untuk pengembangan dan menguji validitas konstrak skala TRIM-18. Subjek penelitian berjumlah 207 mahasiswa. Hasil penelitian dengan analisis factor konfirmatori secara menunjukkan bahwa ketiga factor . voidance, revenge, dan benevolenc. memenuhi criteria fit model pengukuran. Artinya, aitem-aitem yang berada pada setiap factor mencerminkan kevalidan dalam mencerminkan setiap factor. Pengukuran pemaafan dengan skala TRIM-18 bersifat multidimensional dan setiap factor saling terkait satu sama lain. Implikasi hasil penelitian dibahas dalam konteks pengukuran Kata kunci: pengukuran, pemaafan, transregression-related interpersonal motivation, analisis faktor Abstract Forgiveness is one important factor in interpersonal relationships. Measurements of forgiveness has been done by researchers with various types of measurement. One of them is Transregression scale-Related Interpersonal Motivation (TRIM-. , which focuses on three factors: avoidance, revenge, and benevolence. This study aims to develop and test the construct validity of TRIM-18 scale. Participants were 207 undergraduate students. Results of the study with confirmatory factor analysis showed that all three factors . voidance, revenge, and benevolenc. meet the criteria of fit of the measurement model. It is means, the items that are located on each factor reflected the validity of each factor. Measurement of forgiveness with TRIM-18 scale is multidimensional contructs and each factor interconnected. Implications of the research results are discussed in the context of psychological measurement. Keywords: measurement, forgiveness, transregression-related interpersonal motivation, factor analysis Pendahuluan Hubungan interpersonal individu menjadi salah satu kajian menarik dalam penelitian psikologi social. Beberapa ahli berusaha untuk mengidentifikasi factor yang menyebabkan kesuksesan dan kegagalan dalam hubungan interpersonal, salah satunya adalah pemaafan (Allemand, dkk. , 2007. McCullough. Worthington & Rachal ,1. Pemaafan menjadi salah isu penting dalam hubungan interpersonal terutama berkaitan ketika individu mengalami suatu masalah atau konflik interpersonal. Sering kali pemaafan menjadi salah satu strategi koping individu dalam menyelesaikan masalahnya baik secara personal maupun interpersonal (Egan, & Todorov, 2. Pemaafan merupakan salah satu konsep yang banyak diteliti di berbagai bidang ilmu seperti, psikologi, sosiologi, agama, dan poli- tik. Pembahasan konsep pemaafan terus berkembangan seriring dengan perkembangan penelitian pemaafan. Penelitian pemaafan sudah banyak dilakukan baik di dalam dan di luar Indonesia. Beberapa penelitian mengkaitkan pemaafan dengan empati (Hodgson, & Wertheim, 2007. Angraini & Cucuani, 2. , kesehatan (Toussaint dkk. , religiusitas . ihat Davis, dkk 2. , well being (McCullough, 2. Komitment (Arif, 2. , kebahagiaan (Maltby,dkk, 2. , stress kerja (Setiyana, 2. , kepribadian Big Five (McCullough, dkk, 2. , keharmonisan keluarga (Nancy, 2. Tidak hanya itu, konsep pemaafan juga diaplikasi dalam bentuk intervensi dalam bidang pendidikan, klinis atau konseling, . Enright, dkk. , 2007. Syamsuddin, 2013. Huia & Chau, 2. Para ahli berusaha mendefinisikan dan menjelaskan konsep pemaafan. Pemaafan meru- Pengembangan dan Validasi Pengukuran Skala . Ivan Muhammad Agung pakan konsep yang kompleks dan multidimensi konstrak. Pemaafan punya dua sisi, pertama, sisi dunia, yaitu berkaitan dengan fenomena social psikologis dan sisi transendent atau spiritual yang berakar pada agama (McCullough, & Worthington, 1. Beberapa ahli mendefinisikan pemaafan sebagai hilangnya emosi negative . erhadap offender (Rye. , dkk, 2. , seperti McCullough, dkk . yang mendefinisikan pemaafan merupakan upaya untuk mengurangi emosi negative . alas dendam dan menghinda. serta meningkatkan dorongan untuk konsiliasi hubungan. terhadap offender. Di sis lain, para ahli menyatakan bahwa pemaafan tidak hanya absensnya emosi negative, tetapi hadirnya emosi positif terhadap offender. Seperti yang dikatakan Rye. , dkk . yang menyatakan bahwa pemaafan merupakan respon terhadap offender dengan cara menghilangkan emosi negatif . fektif, kognitif dan perilak. dan menghadirikan emosi positif. Pemaafan merupakan suatu proses transformasi afektif, kognitif, penilaian dan motivasi dari negatif ke netral atau positif terhadap offender (Thompson & Snneyder. Denham. Pemaafan merupakan konstrak yang tidak biasa di psikologi karena bukan state tapi proses yang berubah kearah positif terhadap indvidu yang melakukan kesalahan pada masa lalu (McCullough. Bono,& Root ,2. Menjelaskan konsep pemaafan memerlukan kejelasan kedudukan konsep tersebut untuk dan kapan digunakan. McCullough dan Witoliet . ada tiga konteks dalam memahami pemaafan, pertama pemaafan sebagai properties atau respon, kedua pemaafan sebagai disposition kepribadian dan ketiga pemaafan sebagai karakter unit Pemaafan sebagai respon dapat dipahami sebagai perubahan pro social pada cara berpikir, emosi dan perilaku korban terhadap pelaku yang pantas disalahkan. Pemaafan sebagai disposition kepribadian dapat dipahami sebagai kecenderungan untuk memaafkan orang lain pada konteks variasi yang banyak dalam kejadian interpersonal. Pada kondisi ini, individu memiliki kontinum dalam kecenderungan memaafkan mulai dari memaafkan sampai tidak memaafkan. Terakhir, pemaafan sebagai kualitas unit sosial dapat dipahami sebagai atribut yang sama dengan kepercayaan, intimasi dan komitmen. Beberapa struktur social seperti keluarga, pernikahan yang memiliki atribut pemaafan cenderung akan mudah memberikan maaf atas kesalahan. Pemahaman konsep pemaafan yang berbeda-beda berimplikasi bagaimana pemaafan Pemaafan dapat dilihat pada konteks yang berbeda,dalam hubungan interpersonal seperti, sahabat, keluarga, suami-istri. Sebagian lain melihat bahwa pemaafan merupakan proses intrapersonal (Hall & Fincham. Menurut Hal dan fincham . melihat ada persamaan antara pemaafan diri sendiri . elf-forgivenes. dan pemaafan interpersonal. Persamaanya, keduanya merupakan proses yang terus berkembang dari waktu ke waktu dan membutuhkan kesalahan yang nyata untuk offender, intinya keduanya tidak menyiratkan bahwa kesalahan seharus dimaafkan atau dilupakan. Sementara perbedaannya pada motivasi menghindar terutama pada target. Pada pemaafan interpersonal fokus pada korban menghindari dari pelaku kesalahan . , sementara pada pemaafan diri sendiri focus pada korban/ pikiran, emosi dan situasi yang terkait dengan kesalahan. Kedua, berbeda pada persyaratan proses, pada pemaafan interpersonal tidak memerlukan persyaratan, sementara pemaafan diri banyak faktor mempengaruhi, seperti berkaitan dengan korban atau diri sendiri untuk tidak mengulangi kesalahan lagi. Terakhir, pemaafan diri sendiri dan pemaafan interpersonal berbeda dalam implikasi pada rekonsiliasi. Pada pemaafan interpersonal, tidak perlu berdamai dengan pelaku, sementara pada pemaafan diri sendiri . rekonsiliasi diri merupakan bagian penting dari pemaafan diri sendiri. Kompleksnya definisi dan seting berbeda dalam pengukuran pemaafan menjadi konsep ini masih menjadi perdebatan tentang pengukuran di kalangan ilmuwan sosial. Pemaafan merupakan konsep yang dapat diukur dari perspektif pemberi maaf dan juga offender McCullough, dkk . alam Rye, dkk 2005 ) membagi 3 kategori dalam pengukuran pemaafan, . pemaafan terhadap spesifik individiu untuk spesifik kesalahan, . emaafan spesifik individu untuk multiple kesalahan dan . dispositional kepribadian. Ada sebagian ahli melihat pemaafan sebagai respon terhadap kesalahan yang dilakukan offender. seperti Enright dkk . menyusun Enright Forgiveness Inventory (EFI) yang terdiri dari enam subscale dengan 60 McCullough, dkk . dengan TRIM inventory yang terdiri dari dua subscale yaitu revenge . alas denda. dan avoidance . Sementara yang beranggapan bahwa pemaafan sebagai disposition kepribadian, seperti Berry dkk . menyusun pengukuran dispositional pemaafan yang dinamakan dengan Transgression Narrative Test of Forgivingness (TNTF) yang terdiri dari dari 4 studi dalam mengkonstruk dispositional Berry, dkk . menganggap dispositional pemaafan lebih stabil pada rentang waktu dan kondisi situasi berbeda. Sementara Thompson dan Sneyder . melihat pemaafan sebagai proses intrapersonal yang memiliki target yaitu self, orang lain dan situasi, sehingga mereka mengembang pengukuran pemaafan yang bernama Heartland Jurnal Psikologi. Volume 11 Nomor 2. Desember 2015 Forgiveness Scale (HFS) terdiri dari 18 aitem. Fokus Studi Penelitian pemaafan di Indoensia telah banyak dilakukan oleh peneliti baik dari kalangan mahasiswa, dosen, dan peneliti. Beberapa studi menggunakan alat ukur berbeda sesuai dengan konsep yang digunakan. Salah satu yang banyak digunakan adalah dalam pengukuran pemaafan adalah Transregression-Related Interpersonal Motivation (TRIM) Inventory oleh McCullough, dkk . Alat ukur TRIM berawal dari penelitian McCullough,dkk . tentang pemaafaan pada konteks interpersonal. Berikutnya McCullough, dkk . melanjutkan studi pengukuran pemaafaan berdasarkan pada factor motivasi, yaitu avoidance dan revenge. Pada penelitian tersebut jumlah aitem yang digunakan sebanyak 18 aitem yang diambil dari penelitian Wade . Hasil penelitian menggunakan analisis factor menunjukkan bahwa hanya 12 aitem yang valid, 5 aitem pada revenge dan 7 aitem pada avoidance dan McCullough,dkk . menambahkan satu sub scale lagi, yaitu kebajikan . sehingga jumlah aitemnya menjadi 18 aitem. Pada penelitian ini menggunakan skala TRIM-18 inventory yang terdiri dari 18 aitem. Tujuan penelitian ini adalah untuk pengembangan dan melihat validitas konstrak pada skala TRIM-18 Metode Partisipan Partisipan dalam penelitian adalah mahasiswa Psikologi UIN Suska Riau dengan jumlah 207 mahasiswa rentang umur 18-22 Data penelitian dikumpulkan oleh Lestari . dalam rangka penyelesaian tugas akhir atau skripsinya. Alat ukur Alat ukur yang digunakan Lestari . adalah Transregression-Related Interpersonal Motivation (TRIM . yang diadaptasi dari penelitian McCullough,dkk . Skala TRIM-18 terdiri dari 3 komponen, yaitu revenge 5 aitem, avoidance 7 aitem dan benevolence 6 aitem. Model skala yaitu skala likert dengan 5 rating skala. Sebelum dilakukan penelitian dilakukan uji coba aitem dan diperoleh reliabilitas sebesar 0,87 dan 1 aitem di nyatakan gugur pada komponen benevolence karena memiliki daya diskriminasi rendah (< 0,. Jadi untuk tahap selanjutnya jumlah aitem pada skala TRIM berjumlah 17 aitem. Uji reliabilitas dengan konsisttensi internal . per komponen: avoidance 0. 81, revenge 0,72 dan benevolence 0,79. Dapat disimpulkan semua komponen memiliki reliabilitas yang baik. Analisis Data Analisis data dilakukan menggunakan analisis factor konfirmatori dengan bantuan program AMOS 6. Analisis faktor konfirmatory merupakan salah satu analis data untuk mengevaluasi dan menguji validitas konstrak pengukuran dan untuk melihat kecocokan model dengan prosedur Maximum Likelihood Estimation . stimasi kecocokan maksimu. Ada beberapa kriteria untuk menguji kecocokan model . oodness of fit mode. , yaitu: . chi square dan tingkat probability dengan criteria chi square mendekati nol atau kecil dan nilai p> 0,05 yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara model dengan data Chi square sangat sensitive dengan jumlah sampel, sehingga perlu beberapa criteria tambahan. The Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA) model Model ini untuk melihat kecocokan model dengan data empiric dengan criteria indeks lebih kecil atau sama dengan 0,08. Root MeanAasquare Residuals (RMR) lebih kecil 0,10. Kriteria tambahan antara lain adalah Goodness of Fit Index (GFI). Adjusted Goodness of Fit (AGFI). Normed Fit Index (NFI), dan Comparative Fit Index (CFI). Mode/ dikatakan fit bila indeks lebih besar 0,09. CMIN/DF merupakan ukuran yang diperoleh dari nilai chi-square dibagi dengan degree of freedom. Menurut Hair dkk. nilai yang direkomendasikan untuk menerima kesesuaian sebuah model adalah nilai CMIN/DF yang lebih kecil atau sama dengan 2,0 atau 3,0. Hasil Hasil analisis factor konfirmatori dilakukan terhadap tiga komponen pada skala TRIM 18 yaitu avoidance . , revenge . dan benevolence . Sebelum dilakukan analisis lanjutan dilakukan Pengujian kecocokan model . oodtness of fit mode. berdasarkan kriteria yang ditentukan. Pada tabel 1 menunjukkan bahwa ketepatan model secara umum kurang baik karena nilai p sebesar 0,02 . <0,. , namun demikian hasil criteria tambahan menunjukkan bahwa model dapat diterima dengan baik. Pengembangan dan Validasi Pengukuran Skala . Ivan Muhammad Agung Tabel 1. Goodness of fit pada komponen avoidance pada skalaTRIM 18 Goodness of fit index Cut of value Hasil Model Keterangan Chi square Probability RMSEA GFI AGFI CFI RMR CMIN/DF Kecil/rendah p>0,05 O 0,08 Ou 0,9 Ou 0,9 Ou 0,9 O 0,05 O 2 atau 3 26,45 0,02 0,06 0,96 0,92 0,03 1,88 Kurang baik Sementara pada komponen Revenge skala TRIM 18 menunjukkan bahwa hasil chi Square sebesar 3,44 dengan probabilitas 0,63(P>0,. Hasil ini menunjukkan bahwa bahwa model dapat diterima dengan baik. Demikian juga dengan criteria tambahan. RMSEA. GFI. AGFI. RMR menunjukkan bahwa model dapat diterma dengan baik . ihat tabel Tabel 2. Goodness of fit pada komponen Revenge pada skalaTRIM Goodness of fit index Cut of value Hasil Model Keterangan Chi square Probability RMSEA GFI AGFI CFI RMR CMIN/DF Kecil/rendah p>0,05 O 0,08 Ou 0,9 Ou 0,9 Ou 0,9 O 0,05 O 2 atau 3 3,44 0,63 0,06 0,99 0,98 0,01 Sementara pada komponen Benevolence skala TRIM-18 menunjukkan bahwa hasil chi Square sebesar 8,6 dengan probabilitas 0,12 (P>0,. Hasil ini menunjukkan bahwa bahwa model dapat diterima dengan Demikian juga dengan criteria tambahan. RMSEA. GFI. AGFI. RMR menunjukkan bahwa model dapat diterma dengan baik . ihat Tabel . Tabel 3. Goodness of fit pada komponen Benevolence pada skalaTRIM Goodness of fit index Cut of value Hasil Model Keterangan Chi square Probability RMSEA GFI AGFI CFI RMR CMIN/DF Kecil/rendah p>0,05 O 0,08 Ou 0,9 Ou 0,9 Ou 0,9 O 0,05 O 2 atau 3 0,12 0,06 0,98 0,95 0,98 0,02 Tahap selanjutnya adalah melakukan analiss factor konformatori pada skala pemaafan TRIM-18 yang melibatkan tiga komponen . voidance, revenge, dan benevolenc. Pada tabel 4 menunjukkan bahwa hasil chi square menunjukkan angka besar yaitu 283, 737 dengan signifikansi 0,000 . <0,. Hal ini mengindikasikan bahwa model tidak memenuhi kriteria fit. Pengujian chi square cenderung sensitive pada jumlah sampel yang besar sehingga perlu criteria tambahan seperti CFI. GFI. AGFI. RMR. CMIN/DF, yang menunjukkan semua memenuhi kriteria yang tetapkan . ihat Tabel . Namun jika di bandingkan dengan model 2, 3 dan 4, maka dapat disimpulkan bahwa semua model relative sama, namun dari semua model, model 4 lebih baik dibandingkan dengan model-model Jurnal Psikologi. Volume 11 Nomor 2. Desember 2015 Tabel 4. Perbadingan ukuran kecocokan (Fit Measure. model 1, 2, 3. Goodness of fit Cut of value Model 1: (A,R. Model 2: (A-R) Model 3: (A-B) Model 4: (R-B) Chi square Probability RMSEA GFI AGFI CFI RMR CMIN/DF 0,001 0,06 0,93 0,90 0,94 0,04 0,000 0,07 0,92 0,88 0,93 0,04 2,08 0,006 0,06 0,95 0,92 0,95 0,03 Kecil/rendah p>0,05 O 0,08 Ou 0,9 Ou 0,9 Ou 0,9 O 0,05 O 2 atau 3 0,000 0,063 0,90 0,86 0,04 Note. A: Avoidance. Revenge. B: Benevolence Berdasarkan hasil analis factor konfirmatori menunjukkan bahwa semua aitem memiliki factor loading > 0,5 kecuali aitem 3 (AuSaya ingin dia mendapatkan apa yang layak dia dapatkan karena kesalahannyaA. pada factor revenge . ihat Tabel . Hal ini menunjukkan bahwa aitem yang berada pada setiap factor mencerminkan kevalidan dalam mencerminkan setiap komponen atau factor. Hubungan antar factor menunjukkan nilai korelasi sebesar -0,59, p < 0,01 . voidance vs benevolenc. , 0,43, p < 0,01 . voidance vs reveng. , dan -0,55, p < 0,01 . enevolence vs reveng. Hal ini menunjukkan bahwa nilai variance ketiga factor tidak melebihi 35%, artinya ketiga factor tersebut menilai sesuatu yang sama tetapi tidak saling overlap secara Tabel 5. Factor Loading Skala TRIM dengan Menggunakan Analisis Factor Comfirmatory N= 207. Pengembangan dan Validasi Pengukuran Skala . Ivan Muhammad Agung Gambar 1 menunjukkan analisis konfirmatori pada 3 faktor model . voidance, revenge dan benevolenc. Hasil menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antar 3 fak- tor model, misalkan hubungan negatif antara avoidance dan revenge dengan benevolence dan hubungan positif antara avoidance dengan revenge. Gambar 1. Nilai standardize estimate pada model skala TRIM-18 Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk pengembangan dan validasi pengukuran pemaafan dengan menggunakan skala pemaafan TRIM-18 yang dikembangkan oleh McCullough, dkk . Skala TRIM-18 didasarkan pada motif dalam pemaafan, yang terdiri dari tiga motif, yaitu avoidance, revenge dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga komponen memiliki reliabilitas yang baik. Ketiga komponen tersebut memiliki hubungan signifikan, yang artinya ketiga komponen tersebut menilai sesuatu yang sama namun tidak terjadi overlap secara berlebihan pada ketiga komponen tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara avoidance dengan benevolence, demikian juga pada hubungan revenge dengan. Sementara terdapat hubungan positif antara avoidance dengan revenge. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian McCullough, dkk . yang menyatakan bahwa hubungan ketiga motif adalah positif . voidance vs reveng. dan juga negative . evenge vs benevolence Jurnal Psikologi. Volume 11 Nomor 2. Desember 2015 dan avoidance vs benevolenc. Orang yang memiliki pemaafan yang tinggi akan memiliki motif avoindance dan revenge rendah terhadap offender (McCullough, dkk 1. serta adanya keinginan untuk berbuat baik atau benevolence (McCullough, dkk 2. Sementara validitas konstrak dengan analisis factor konfirmatori terhadap ketiga komponen . voidance, revenge dan benevolenc. menunjukkan bahwa secara umum model revenge dan benevolence dapat diterima, artinya model tidak berbeda dengan data empiric di lapangan . ihat Tabel 2 dan . Sementara pengujian model pada komponen avoidance menunjukkan hasil bahwa model secara umum tidak didukung oleh data empiric, namun pengujian dengan criteria tambahan menunjukkan bahwa bahwa model masih dapat diterima . ihat Tabel . Pada awalnya pengukuran pemaafan menggunakan dua factor model yaitu, avoidance dan revenge (McCullough, dkk 1998. Orth, dkk 2. dan pada penelitian selanjutnya menggunakan tiga faktor model . voidance, revenge dan benevolenc. , seperti (McCullough, dkk 2006. Cornick, dkk. Ketiga factor ini bersifat terpisah atau Misalkan avoidance dengan revenge. Orang yang memiliki pemaafan akan memiliki avoidance dan revenge yang rendah, namun tidak berarti orang yang avoidance rendah belum tentu memiliki niat untuk revenge . alas denda. juga rendah. Lain lagi dengan benevolence . ebaikan hat. , yang berpotensi overlap dengan avoidance. Artinya pengukuran avoidance dan benevolence dapat bersifat bipolar atau berlawanan, misalkan, individu yang memiliki avoidance tinggi akan memiliki benevolence yang rendah terhadap orang yang berbuat salah. Namun hasil ini tidak konsisten, pada penelitian McCullough, dkk . menunjukkan pada avoidance, dan revenge mengalami penurunan, sementara benevolence tidak berubah, sedangkan McCullough, dkk . menunjukkan hubungan berlawan antara benevolence dengan avoidance, dan revenge sehingga McCullough, dkk . membagi skala TRIM 18 menjadi dua factor yaitu avoidance vs benevolence dan Revenge. Kondisi ini yang dapat menjelaskan kenapa uji kecocokan model dengan 3 faktor tidak lebih baik dengan dua factor . ihat Tabel . Akhirnya, pengembangan pengukuran pemaafan dengan skala TRIM-18 harus memperhatikan beberapa hal. Pertama, pengukuran pemaafan skala TRIM-18 berfokus pada hubungan interpersonal sehingga hanya dapat digunakan pada konteks tersebut, kedua, dalam penggunaan skala TRIM-18 teknik penghitungan reliabitas karena skala TRIM-18 bersifat konstrak multidimensional. Ketiga, hubungan antara 3 motif . voidance, benevolence dan Reveng. dalam skala TRIM-18 bersifat saling berkaitan tetapi tetap mengukur secara mandiri sehingga harus memperhatikan indikator dalam penulisan aitem agar tidak terjadi overlap. Keterbatasan penelitian adalah variasi subjek sehingga perlu penggunaan subjek lebih bervariasi dalam penelitian selanjutnya. Selain, itu perlu dilakukan pengujian validitas discriminant atau konvergent dengan melibatkan variabel-variabel psikologi lainnya. Kesimpulan Pengukuran pemaafan dengan skala TRIM-18 merupakan pengukuran pemaafan yang berfokus pada hubungan interpersonal dengan menggunakan pendekatan pada tiga motif, yaitu . voidance, revenge dan benevolence. Ketiga motif ini bersifat terpisah terutama dalam pengukuran dan analisis data. Hasil analsis faktor konfirmatori secara mandiri menunjukkan bahwa ketiga motif memiliki validitas konstrak yang baik dan dapat diterima. Namun ketiga diuji secara bersamaan baik dengan 3 dan 2 faktor tidak memenuhi criteria fit uji kecocokan model. ini artinya, bahwa model tersebut harus dimodifikasi dengan memperhatikan aitem-aitem yang ada pada ketiga factor tersebut. Ada potensi overlap dalam pengukuran pada tiga factor khususnya avoidance dan benevolence. Impilkasinya, adalah pengukuran pemaafan dengn TRIMc 18 dapat menggabungkan aitem pada factor avoidance dan benevolence menjadi satu factor, atau dengan menghilang aitem yang saling overlap pada factor tersebut. Kedua, avoidance, revenge dan benevolence merupakan 3 faktor yang bersifat mandiri dan saling terkait dan bukan merupakan aspek dari pemaafan Oleh karena itu dalam pengukuran dan analisis data harus dilakukan secara terpisah. Daftar Pustaka