Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha Volume. 3 Nomor. 2 Tahun 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 01-14 DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpab. Tersedia : https://journal. id/index. php/jbpab Hubungan Motivasi Belajar Dan Paycasila Buddhis Terhadap Kematangan Karir Pada Siswa SMA Negeri 1 Donorojo di Kabupaten Jepara Retnoningsih1A. Kabri2. Budi Utomo3 1-3 Pendidikan Keagamaan Buddha (S. - Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Smaratungga. Boyolali Email: retnoningsih918@gmail. com1*, kmbrata@gmail. com2, ditthisampanno@gmail. Alamat: Jl. Semarang-Solo Km. Ampel. Boyolali. Jawa Tengah *Penulis Korespondensi Absract. Specific research on factors influencing career maturity, including learning motivation and Buddhist Pancasila at Donorojo 1 Public High School. Jepara Regency, is still lacking. This study uses a quantitative method with a causal associative research design. The research population consists of 52 students, and the sample used is the entire student body. The data collection method is a questionnaire. The instrument used in this study is a questionnaire sheet. The data analysis technique uses inferential statistical analysis. The results of data analysis show that there is a significant positive effect between learning motivation and career maturity of 69. In addition, there is a significant positive relationship between Buddhist Paycasila and student career maturity Furthermore, there is a significant positive relationship between learning motivation and Buddhist Paycasila and student career maturity of 82. It can be concluded that the higher a person's learning motivation, the stronger the student's career maturity. In addition, the better the quality of the student's Buddhist Paycasila, the higher the student's career maturity. Thus, the higher the learning motivation and the better the Buddhist Paycasila, the stronger the student's career maturity will be. Keywords: Career maturity. Learning motivation. Buddhist Pancasila. High school students. Inferential statistical analysis. Abstak. Penelitian spesifik tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan karir, termasuk motivasi belajar dan Paycasila Buddhis di SMA Negeri 1 Donorojo. Kabupaten Jepara masih belum ada. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian asosiatif kausal. Populasi penelitian ini adalah 52 siswa dan sampel yang digunakan seluruh siswa. Metode pengumpulan data yaitu kuesioner. Instrumen dalam penelitian ini berupa lembar kuesioner. Teknik analisis data menggunakan analisis statistik inferensial. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan antara motivasi belajar terhadap kematagan karir sebesar 69,4%. Selain itu, terdapat hubungan positif yang signifikan antara Paycasila Buddhis terhadap kematangan karir siswa sebesar 64,9%. Selain itu, terdapat hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar dan Paycasila Buddhis terhadap kematangan karir siswa sebesar 82,5%. Disimpulkan bahwa semakin tinggi motivasi belajar seseorang, maka semakin kuat kematangan karir siswa. Selain itu, semakin baik kualitas Paycasila Buddhis siswa, maka semakin tinggi kematangan karir siswa yang dimiliki. Jadi, semakin tinggi motivasi belajar dan memiliki Paycasila Buddhis, maka kematangan karir siswa akan semakin kuat. Kata Kunci: Kematangan karir. Motivasi belajar. Paycasila Buddhis. Siswa SMA. Analisis statistik inferensial. LATAR BELAKANG Persaingan global saat ini menimbulkan tantangan bagi sumber daya manusia di berbagai aspek kehidupan, yang menuntut peningkatan kualitas dan produktivitas angkatan kerja (Rusman, 2022: . Pendidikan adalah sarana dalam mencetak generasi sumber daya manusia yang berkualitas (Halean et al. ,2021:. Pendidikan tersebut adalah SMA yang berfokus pada kurikulum umum sedangkan SMK menekankan pada keterampilan kejuruan (Dharmawan & Wijoyo,2023:. Penjurusan SMA mempersiapkan siswa untuk melanjutkan ke perguruan Naskah Masuk: 17 Agustus, 2025. Revisi: 1 September, 2025. Diterima: 20 September, 2025. Terbit: 23 September, 2025 Hubungan Motivasi Belajar Dan Paycasila Buddhis Terhadap Kematangan Karir Pada Siswa SMA Negeri 1 Donorojo di Kabupaten Jepara tinggi sedangkan penjurusan SMK diorientasikann untuk memasuki pasar tenaga kerja (Dharmawan & Wijoyo, 2023:. Perencanaan karir bagi siswa perlu dipersiapkan agar siswa dapat memutuskan pilihan karir sehingga bisa mencapai kematangan karir. Kematangan karir mencerminkan sejauh mana individu dapat membuat keputusan karir yang sesuai dengan kompetensi, minat, dan tujuan hidup mereka, serta kesiapan mereka untuk menghadapi tantangan yang terkait dengan pilihan karir tersebut. (Yuca et al. , 2023 : . Kematangan karir bagi siswa diperlukan karena pada masa ini siswa masuk dalam tahap masa perkembangan remaja. Fase remaja memiliki peranan yang penting dalam mengambil keputusan yang berkaitan dalam rencanan hidup dimasa mendatang seperti melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi atau memilih pekerjaan (Sari et al. , 2023 : . Permasalahan karir pada remaja masih mengalami kebingungan dalam menentukan arah karir karena harus memilih dan membuat keputusan yang efektif dalam merencanan karir (Qonitatin & Kustanti, 2021:. Hal yang harus dilakukan oleh remaja siswa dalam pemilihan karir yaitu dengan mengerti diri sendiri, dapat menetapkan rencana dan tujuan karir yang dibuat, dan mempersiapkan karir kedepan untuk pemilihan jenis studi lanjut atau pemilihan pekerjaan (Sari et al. , 2023 : . Badan Pusat Statistik 2024 menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka berdasarkan tingkat pendidikan tinggi yang ditamatkanyaitu 6,73% tingkat sekolah dasar, 8,62% tingkat sekolah menengah, dan 5,63% tingkat pendidikan perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pengangguran untuk lulusan sekolah menengah masih tergolong tinggi disbandingkan dengan lulusan tingkat pendidikan yang lain (Statistik, 2024 : . Orientasi siswa setelah lulus adalah melanjutkan keperguruan tinggi, akan tetapi beberapa siswa terkadang saat pertama sekolah sudah merasa salah masuk jurusan, jurusan yang diambil dirasa tidak sesuai dengan cita-cita, dan berusaha untuk bisa masuk kuliah di universitas yang sesuai dengan jurusan yang diinginkan. Fenomena lainnya yaitu banyak siswa yang setelah lulus ingin bekerja namun rata-rata masih belum siap untuk terjun kelapangan pekerjaan, hal ini juga membuat mereka ragu untuk bekerja atau kuliah sehingga mereka kurang mempersiapkan karir. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa siswa sekolah rata-rata sudah mampu merencanakan karir namun masih ada kebimbangan. Siswa juga sudah memiliki pandangan terkait karir kedepan namun perencanaan karir tersebut belum matang karena adanya kebingungan antara melanjutkan studi atau bekerja. Permasalahan diatas menunjukan bahwa pentingnya kematangan karir bagi siswa. Rendahnya kematangan karir bagi siswa yang belum memiliki kesiapan dan pengambilan keputusan karir jika dibiarkan berlanjut menyebabakan kesalahan dalam pengambilan Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 2 TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 01-14 keputusan karir. Kematangan karir diprediksi dipengaruhi oleh jenis kelamin, konsep diri, kesetaraan keluarga, prestasi yang kompetitif, upaya untuk sukses, motivasi belajar, nilai prestasi, dukungan sosial orang tua dan dukungan guru ( Farmer & Chung, 1995 :. Motivasi belajar adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kematangan karir siswa (Farmer & Chung, 1995 : . Motivasi belajar merupakan dorongan untuk mencapai tujuan dengan melakukan kegiatan belajar mencari dan menemukan informasi untuk menambah ketrampilan dan penglaman ( Eriyanto et al. , 2021: 2 ). Penelitian yang dilakukan oleh (Chen & Han, 2022 : . meunjukkan bahwa ada korelasi positif antara motivasi belajar dengan efikasi diri dan mempunyai peranan penting yang berdampak pada kematangan karir siswa. Paycasila Buddhis akan membawa seseorang menuju kebahagiaan, kemakmuran, memperoleh kehidupan yang baik seperti surga sebagai manusia atau sebagai dewa (Lisniasari & Ismoyo, 2020 : . Pentingnya pendidikan Paycasila Buddhis bagi perkembangan moralitas diri siswa Buddha memiliki potensi yang besar (Setiawan et al. , 2024 : . Pengendalian diri merupakan salah satu penerapan Paycasila Buddhis yang bertujuan agar tidak ada penyesalan dalam kegiuran memperoleh sebuah ketenangan, dan ketenangan akan memperoleh sebuah kebahagiaan (Setiawan et al. ,2024:. Perencanaan karir yang baik akan mempeoleh hasil yang baik sesuai dengan keputusan karir yang dipilih sehingga siswa dengan kematangan karir yang baik akan memeperoleh kebahagian sesuai dengan usaha yang telah dilakukan. Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini dianggap penting untuk dilakukan guna memahami sejauh mana motivasi belajar dan nilai-nilai Paycasila Buddhis dapat memengaruhi kematangan karir siswa SMA Negeri 1 Donorojo. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi pendidik dan pembuat kebijakan dalam merancang program pendidikan yang mendukung pengembangan karir siswa secara optimal. KAJIAN TEORITIS Kematangan Karir Kematangan karir merupakan kemampuan yang dimiliki individu dalam mengiuasai tahap perkembangan karirnya (Crites, 1973 : . Merencanakan dan memilih karir terutama dalam memasuki dunia kerja dibutuhkan kompetensi yang berkaitan dengan penilaian akan diri, informasi karir, pemilihan tujuan, perencanaan dan kemampuan memecahkan masalah. Kematangan karir juga erat kaitannya dengan kematangan perilaku yang ditunjukkan perilaku individu dalam usia tahap perkembangan karir, sehingga dua hal yang penting dalam kematangan karir adalah sikap dan kompetensi (Herr & Enderlein, 1976 : . Kematangan karir yang tinggi ditunjukkan dengan pengetahuan akan pekerjaan yang dinginkan, kemampuan Hubungan Motivasi Belajar Dan Paycasila Buddhis Terhadap Kematangan Karir Pada Siswa SMA Negeri 1 Donorojo di Kabupaten Jepara dalam pemilihan profesi, kesadaran akan diri, dan kemampuan memilih karir yang diinginkan sesuai dengan tahap perencanaan karir (Nurani, 2022 : 2 ). Motivasi Belajar Motivasi belajar menurut Santrock adalah proses yang memberikan arah, energy yang positif dan daya tahan yang lama. Motivasi sangat penting dalam proses belajar siswa, karena berperan dalam mencapai keberhasilan dan menghasilkan pembelajaran yang efektif. Motivasi terkait dengan beberapa aspek kunci yaitu penyediaan energi, pengarahan proses dan mempertahankan perilaku (Amriyati et al. , 2. Keuletan siswa dalam mengatasi kesulitan saat belajar dan keinginan mendalami materi adalah hal yang perlu dimiliki siswa untuk berhasil dalam proses belajarnya (Rakhmawati, 2018 : . Paycasila Buddhis Kitab Visuddhimagga menjelaskan sila sebagai sikap batin atau kehendak . yaitu menunjukkan penghindaran . dan termasuk dari unsur batin . , sebagai proses pengendalian diri . dan menunjukkan setiap aturan yang telah ditetapkan tiada pelangaran (Mukti, 2020:. Sila merupakan tahapan memasuki kehidupan yang luhur untuk memperoleh kebahagiaan duniawi dan surgawi (Mukti, 2020:. Terdapat sila dalam agama Buddha salah satunya adalah Paycasila Budhhis (Lima aturan moralitas Buddhi. Paycasila Buddhis terdiri dari latihan untuk menghindari pembunuhan, mencuri, perilaku yang melanggar kesusilaan, berbohong dan berkata kasar, makan dan minum yang menimbulkan lemahnya kesadaran Agama Budha mengajarkan bahwa dalam melakukan sesuatu perlu nilainilai yang mendasari agar tidak bertentangan dengan prinsip kebenaran. METODE PELITIAN penelitian ini berfokus pada pengaruh motivasi belajar dan Paycasila Buddhis terhadap kematangan karir siswa SMA Negeri 1 Donorojo. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif kausal untuk mengidentifikasi hubungan sebab-akibat antar Populasi penelitian mencakup seluruh siswa beragama Buddha sebanyak 52 orang, yang sekaligus dijadikan sampel dengan teknik sampling jenuh karena jumlah populasi kurang Data dikumpulkan melalui kuesioner berbasis skala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, sehingga instrumen penelitian terbukti sahih dan konsisten. Teknik analisis data yang digunakan meliputi statistik deskriptif, uji asumsi klasik . ormalitas, linearitas, multikolinearitas, dan autokorelas. , serta analisis regresi linier berganda untuk menguji pengaruh parsial maupun simultan antar variabel. Hipotesis penelitian yang diajukan terdiri dari tiga, yakni pengaruh motivasi belajar terhadap kematangan karir, pengaruh Paycasila Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 2 TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 01-14 Buddhis terhadap kematangan karir, serta pengaruh keduanya secara simultan terhadap kematangan karir siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Data hasil penelitian diperoleh dari 52 responden siswa Buddha SMA Negeri 1 Donorojo. Berikut deskrispsi hasil penelitian semua variabel: Tabel 1. Deskripsi Data Statistik Mean Median Mode Std. Deviation Variance Range Minimum Maximum Sum Motivasi Belajar Paycasila Budhhis Kematangan Karir Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa variabel motivasi belajar memiliki rata-rata 67,65 dengan median dan modus 66, standar deviasi 8,258, serta rentang nilai 33 . 54 Ae . , yang menandakan distribusi data cukup konsisten dengan variasi yang tidak terlalu Pada variabel Paycasila Buddhis, diperoleh rata-rata 97,25 dengan median dan modus 97,50, standar deviasi 12,016, serta rentang 48 . 72 Ae maks. , sehingga distribusi data relatif simetris meskipun menunjukkan variasi lebih besar dibanding motivasi belajar. Sementara itu, variabel kematangan karir memiliki rata-rata tertinggi yakni 146,71 dengan median dan modus 143, standar deviasi 19,942, serta rentang nilai 84 . 101 Ae maks. yang menandakan variasi respon paling tinggi di antara ketiga variabel. Temuan ini memperlihatkan bahwa meskipun terdapat perbedaan tingkat penyebaran, ketiga variabel tetap menunjukkan kecenderungan distribusi data yang relatif normal dan wajar. Selanjutnya, hasil uji normalitas pada variabel Motivasi Belajar (X. Paycasilan Buddhis (X. dan Kematangan Karir (Y) disajikan pada tabel berikut: Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Variabel Motivasi Belajar (X. Paycasila Buddhis (X. Kematangan Karir (Y) Kolmogorov-Smirnova Statistic 0,123 0,098 0,145 Sigfikansi 0,067 0,15 Hubungan Motivasi Belajar Dan Paycasila Buddhis Terhadap Kematangan Karir Pada Siswa SMA Negeri 1 Donorojo di Kabupaten Jepara Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel Motivasi Belajar (X. memiliki nilai signifikansi sebesar 0,200, variabel Paycasila Buddhis (X. mencatat nilai signifikansi sebesar 0,067, dan variabel Kematangan Karir (Y) menunjukan nilai 0,150. Semua nilai signifikansi tersebut lebih besar daripada ambang batas = 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel yang diteliti memiliki distribusi data yang normal. Tabel 3. Hasil Uji Linieritas dengan Uji F Pasangan Variabel Bebas Terikat Linearitas F Hitung F Tabel Deviasi dari Linearitas Sig. Keterangan Linier Linier Hasil analisis linearitas menunjukkan adanya hubungan linier antara Motivasi Belajar (X. dan Kematangan Karir (Y), dengan nilai F hitung tercatat sebesar 8,320, yang lebih tinggi dibandingkan dengan F tabel yang bernilai 2,80. Selain itu, nilai signifikansi deviasi dari linearitas adalah 0,421 (> 0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang linier. Selanjutnya, analisis mengenai Paycasila Buddhis (X. terhadap Kematangan Karir (Y) menghasilkan nilai F hitung sebesar 5,675, yang juga dibandingkan dengan F tabel yang sama yaitu 2,80. Nilai signifikansi deviasi dari linearitas pada analisis ini adalah 0,290 (> 0,. Serupa dengan variabel sebelumnya, hasil ini menunjukkan bahwa hubungan antara Paycasila Buddhis (X. dan Kematangan Karir (Y) juga bersifat linier. Tabel 4. Hasil Uji Multikolinearitas Variabel X1. X2 dan Variabel Y Model (Constan. 1 Motivasi Belajar Paycasila Buddhis Collinearity Statistics Tolerance VIF Hasil analisis multikolinearitas menunjukkan bahwa variabel Motivasi Belajar (X. dan Paycasila Buddhis (X. memiliki nilai tolerance sebesar 0,762 dan nilai VIF (Variance Inflation Facto. sebesar 1,312. Nilai tolerance yang lebih tinggi dari 0,10 serta nilai VIF yang lebih rendah dari 10 menunjukkan bahwa tidak terdapat permasalahan multikolinearitas di antara variabel bebas dalam model regresi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa variabel bebas (X1 dan X. memiliki hubungan yang independen satu sama lain, sehingga keduanya layak digunakan dalam analisis regresi berganda untuk memprediksi variabel terikat, yakni Kematangan Karir (Y). Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 2 TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 01-14 Tabel 5. Hasil Uji Autokorelasi Variabel X1. X2 dan Y 4-dL 4-dU Hasil dari pengujian autokorelasi yang dilakukan dengan metode Durbin-Watson (DW) menunjukkan bahwa nilai yang diperoleh adalah 1,873. Nilai tersebut selanjutnya dibandingkan dengan batas bawah . L = 1,. dan batas atas . U = 1,. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan, jika nilai DW berada di antara dU . dan 4 Ae dU . , maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi. Mengingat bahwa nilai DW . terletak dalam rentang 1,70 < 1,873 < 2,30, dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi yang melibatkan variabel Motivasi Belajar (X. Paycasila Buddhis (X. , dan Kematangan Karir (Y), tidak ditemukan bukti adanya gejala autokorelasi. Selanjutnya dilakukan uji hipotesis untuk melihat hubungan antar variabel. Berikut adalah hasil uji hipotesis pada penelitian ini: Tabel 6 Model Summary Regresi Motivasi Belajar terhadap Kematangan Karir Model Summary Model 0,833a R Square 0,694 Adjusted R Square 0,688 Std. Error of the Estimate 11,1426 Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat dan positif antara motivasi belajar dan kematangan karir dengan nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,833. Nilai koefisien determinasi (R Squar. sebesar 0,694 mengindikasikan bahwa 69,4% variasi kematangan karir dapat dijelaskan oleh motivasi belajar, sedangkan 30,6% sisanya dipengaruhi faktor lain di luar model. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,688 memperkuat kecocokan model setelah disesuaikan dengan jumlah variabel dan sampel, sementara Standard Error of the Estimate sebesar 11,14255 menunjukkan galat prediksi yang relatif kecil. Dengan demikian, motivasi belajar terbukti berperan signifikan dalam memengaruhi tingkat kematangan karir. Tabel 7. Anova (F-Tes. Regresi Motivasi Belajar terhadap Kematangan Karir Model Regression Residual Total Sum of Squares 6207,82 ANOVAa Mean Square 124,156 113,365 Sig. 0,000b Hasil analisis ANOVA (Uji F) menunjukkan bahwa motivasi belajar berpengaruh signifikan terhadap kematangan karir, dengan nilai F hitung 113,365 dan signifikansi 0,000 (<0,. , sehingga model regresi dinyatakan layak untuk menjelaskan hubungan antarvariabel. Perbandingan nilai Sum of Squares Regression . dengan Sum of Squares Residual . juga memperlihatkan bahwa variasi kematangan karir lebih banyak dijelaskan oleh Hubungan Motivasi Belajar Dan Paycasila Buddhis Terhadap Kematangan Karir Pada Siswa SMA Negeri 1 Donorojo di Kabupaten Jepara motivasi belajar dibandingkan faktor lain di luar model, sehingga semakin menegaskan bahwa motivasi belajar memiliki peranan penting dalam meningkatkan kematangan karir responden. Tabel 8. Coefficients (Uji T) Motivasi Belajar terhadap Kematangan Karir Coefficientsa Unstandardized Coefficients Std. Error 34,981 10,091 0,416 0,039 Model (Constan. Motivasi Belajar Standardized Coefficients Beta 0,833 Sig. 3,467 10,647 0,001 Hasil uji parsial . menunjukkan bahwa konstanta sebesar 34,981 dengan signifikansi 0,001 (<0,. mengindikasikan bahwa tanpa motivasi belajar, kematangan karir berada pada angka tersebut. Sementara itu, koefisien regresi motivasi belajar sebesar 0,416 dengan t hitung 10,647 dan signifikansi 0,000 (<0,. menegaskan adanya pengaruh positif dan signifikan terhadap kematangan karir, di mana setiap peningkatan satu satuan motivasi belajar meningkatkan kematangan karir sebesar 0,416 satuan. Selain itu, nilai Standardized Coefficients Beta sebesar 0,833 memperlihatkan kontribusi yang sangat kuat, sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar merupakan faktor penting dalam meningkatkan kematangan karir. Tabel 9. Model Summary Regresi Paycasila Buddhis terhadap Kematangan Karir Model Summary Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 0,805a 0,649 0,642 11,9376 Berdasarkan analisis regresi pada Tabel 4. 9, diperoleh koefisien korelasi (R) sebesar 0,805 yang menunjukkan adanya hubungan sangat kuat antara Paycasila Buddhis dan kematangan karir. Nilai R Square . mengindikasikan bahwa 64,9% variasi kematangan karir dijelaskan oleh Paycasila Buddhis, sedangkan 35,1% dipengaruhi faktor lain seperti motivasi belajar, dukungan sosial, pendidikan, dan pengalaman kerja. Adjusted R Square . mempertimbangkan sampel dan variabel penelitian, sehingga model dapat dinilai stabil dan Adapun Std. Error of the Estimate sebesar 11,93756 menunjukkan tingkat kesalahan prediksi yang masih wajar dalam mengestimasi kematangan karir. Tabel 10. Anova (F-Tes. Regresi Paycasila Buddhis terhadap Kematangan Karir Model Regression Residual Total ANOVAa Sum of Squares 7125,26 Mean Square 142,505 92,33 Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 2 TAHUN 2025 Sig. e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 01-14 Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 4. 10, diperoleh nilai F hitung sebesar 92,330 dengan signifikansi 0,000 (<0,. , yang menunjukkan bahwa Paycasila Buddhis berpengaruh signifikan terhadap kematangan karir dan model regresi yang digunakan valid untuk menguji hubungan keduanya. Sum of Squares regresi sebesar 13. 157,506 yang lebih besar dibanding 125,263 menegaskan bahwa variasi kematangan karir lebih banyak dijelaskan oleh Paycasila Buddhis daripada faktor lain. Hal ini membuktikan bahwa penerapan nilai-nilai Paycasila Buddhis berperan krusial sebagai faktor internal individu dalam membentuk sikap, kemampuan mengambil keputusan, serta kedewasaan dalam memilih dan mengembangkan Tabel 11. Coefficients (Uji T) Paycasila Buddhis terhadap Kematangan Karir Model (Constan. Paycasila Buddhis Coefficientsa Unstandardized Coefficients Std. Error 36,473 11,019 0,395 0,041 Standardized Coefficients Beta 0,805 Sig. 3,31 9,609 0,002 Berdasarkan hasil uji koefisien regresi . pada Tabel 4. 11, diketahui bahwa konstanta sebesar 36,473 dengan signifikansi 0,002 < 0,05, yang berarti signifikan. Variabel Paycasila Buddhis memiliki koefisien regresi positif sebesar 0,395 dengan t hitung 9,609 dan signifikansi 0,000 < 0,05, sehingga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kematangan karir. Hal ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan Paycasila Buddhis akan meningkatkan kematangan karir sebesar 0,395. Nilai standardized coefficients (Bet. sebesar 0,805 menegaskan bahwa Paycasila Buddhis memiliki kontribusi dominan dalam model penelitian Dengan demikian, semakin tinggi penerapan nilai-nilai Paycasila Buddhis, semakin tinggi pula tingkat kematangan karir individu, yang menunjukkan bahwa nilai spiritual dan moral ini berperan penting dalam kesiapan menghadapi tantangan serta pengambilan keputusan karir yang lebih matang. Tabel 12. Model Summary Regresi Motivasi Belajar dan Paycasila Buddhis terhadap Kematangan Karir Model Summary Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 0,908a 0,825 0,817 8,52226 Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat antara motivasi belajar dan Paycasila Buddhis dengan kematangan karir, ditunjukkan oleh nilai R sebesar 0,908 dan R Square sebesar 0,825 yang berarti 82,5% variasi kematangan karir dapat dijelaskan oleh kedua variabel independen tersebut, sedangkan 17,5% dipengaruhi faktor lain di luar penelitian. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,817 semakin menegaskan keandalan Hubungan Motivasi Belajar Dan Paycasila Buddhis Terhadap Kematangan Karir Pada Siswa SMA Negeri 1 Donorojo di Kabupaten Jepara model, sementara standar kesalahan estimasi yang relatif rendah . ,52. menunjukkan prediksi yang cukup akurat. Tabel 13. Anova (F-Tes. Regresi Motivasi Belajar dan Paycasila Buddhis terhadap Kematangan Karir Model Regression Residual Total Sum of Squares 3558,82 ANOVAa Mean Square 8361,98 72,629 115,133 Sig. 0,000b Berdasarkan hasil analisis ANOVA (Uji F) diperoleh nilai F hitung sebesar 115,133 dengan signifikansi 0,000, lebih kecil dari = 0,05, yang menunjukkan bahwa model regresi signifikan secara statistik. Artinya, motivasi belajar dan Paycasila Buddhis secara simultan berpengaruh nyata terhadap kematangan karir. Nilai Sum of Squares Regression sebesar 723,952 menunjukkan besarnya variasi kematangan karir yang dapat dijelaskan kedua variabel tersebut, sedangkan nilai residual 3. 558,817 menggambarkan variasi yang tidak Tabel 14. Coefficients (Uji T) Motivasi Belajar dan Paycasila Buddhis terhadap Kematangan Karir Model (Constan. Paycasila Buddhis Motivasi Belajar Coefficientsa Unstandardized Coefficients Std. Error 11,862 8,615 Standardized Coefficients Beta Sig. 1,377 0,175 0,228 0,038 0,465 6,039 0,269 0,038 0,54 7,007 Hasil analisis uji parsial . menunjukkan bahwa meskipun konstanta sebesar 11,862 tidak signifikan, variabel Paycasila Buddhis dan motivasi belajar terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kematangan karir. Paycasila Buddhis memiliki koefisien regresi 0,228 dengan Beta terstandarisasi 0,465, menunjukkan kontribusi yang cukup kuat dalam meningkatkan kematangan karir. Sementara itu, motivasi belajar memiliki koefisien regresi 0,269 dengan Beta terstandarisasi 0,540, menjadikannya variabel yang paling dominan dalam menjelaskan variasi kematangan karir. Dengan demikian, kedua faktor ini berperan penting dalam membentuk kematangan karir, dengan motivasi belajar sebagai faktor yang paling Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 2 TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 01-14 Pembahasan Hubungan antara motivasi belajar dan kematangan karir memiliki tingkat kedekatan yang sangat erat dan signifikan, memberikan dampak yang besar bagi keberhasilan baik siswa maupun mahasiswa. Selain itu, mereka juga biasanya memiliki rencana karir yang lebih terstruktur dan jelas. Penelitian yang dilakukan pada siswa SMK di Bandung menunjukkan bahwa motivasi akademik dapat memberikan kontribusi yang signifikan, sebesar 15,8%, terhadap kematangan karir mereka. Ini jelas menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat motivasi belajar yang dimiliki siswa, semakin matang dan siap pula mereka dalam membuat keputusan penting yang berkaitan dengan karir mereka dan dalam menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya (Meyshera & Hamdan, 2. Penelitian lain yang dilakukan di Salatiga juga menemukan adanya korelasi positif yang kuat, dengan nilai r sebesar 0,735, antara motivasi belajar dan kematangan karir, yang menunjukkan bahwa peningkatan motivasi belajar berbanding lurus dengan perkembangan kematangan karir yang dialami oleh individu tersebut (Della et al. , 2. Dengan demikian, motivasi belajar jelas merupakan faktor yang sangat krusial dan dapat memberikan pengaruh positif dalam meningkatkan kematangan karir. Oleh sebab itu, upaya untuk menumbuhkan dan meningkatkan motivasi belajar di lingkungan pendidikan sangat dianjurkan dan perlu dilakukan, sebagai langkah strategis untuk mendukung kesiapan karir peserta didik. Pelaksanaan nilai-nilai Paycasila Buddhis terbukti dapat secara nyata meningkatkan kecerdasan spiritual, yang mencakup berbagai aspek seperti kesadaran diri, empati mendalam, kemampuan dalam pengambilan keputusan yang etis, serta keterampilan sosial yang penting seperti kerja sama dan partisipasi aktif dalam berbagai komunitas yang ada (Wijanata et al. Kecerdasan spiritual yang dihasilkan dan karakter positif yang dibangun melalui praktik Paycasila Buddhis sangat relevan dan signifikan terhadap kematangan karir individu. Individu yang memiliki kecerdasan spiritual yang baik serta karakter yang kuat cenderung lebih mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan, bertanggung jawab dalam setiap tindakan, serta menunjukkan inisiatif dan pengaturan diri yang baik dalam berbagai situasi. Semua aspek ini merupakan elemen penting dan sangat fundamental dalam mencapai kematangan karir yang diinginkan di era modern ini, seperti yang diungkapkan oleh Firdaus & Abdulkarim . Secara umum, penerapan Paycasila Buddhis tidak hanya bertujuan untuk membentuk karakter dan kualitas diri, tetapi juga mendukung kematangan karir melalui penguatan nilai-nilai moral, spiritual, dan sosial yang sangat diperlukan dalam dunia kerja saat ini yang semakin kompetitif dan penuh tantangan. Hubungan Motivasi Belajar Dan Paycasila Buddhis Terhadap Kematangan Karir Pada Siswa SMA Negeri 1 Donorojo di Kabupaten Jepara Motivasi belajar dan internalisasi nilai-nilai Paycasila Buddhis memiliki peranan yang sangat signifikan dan penting dalam membentuk kematangan karir siswa dan mahasiswa. Motivasi belajar yang tinggi, khususnya yang bersifat intrinsik, mendorong individu untuk lebih aktif dan terlibat dalam seluruh proses pembelajaran, yang pada gilirannya berkontribusi secara positif terhadap hasil belajar serta memperkuat kesiapan dan kepercayaan diri dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan karir di masa depan (Le, 2023. Kim et al. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan dengan jelas bahwa motivasi belajar memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pencapaian akademik dan kematangan karir yang diharapkan. Siswa yang memiliki motivasi tinggi cenderung lebih matang dalam merencanakan, mempersiapkan, serta menghadapi berbagai tantangan karir yang mungkin muncul (Hsu et al. , 2. Secara keseluruhan, kombinasi yang kuat antara motivasi belajar yang tinggi dan internalisasi nilai-nilai Paycasila Buddhis sangat mendukung kematangan karir dari berbagai aspek penting, termasuk pengetahuan, keterampilan, serta karakter yang KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara motivasi belajar, nilai-nilai Paycasila Buddhis, dan kematangan karir siswa. Motivasi belajar berperan penting dalam meningkatkan kesiapan karir, sementara internalisasi Paycasila Buddhis memperkokoh karakter, etika, dan tanggung jawab, sehingga keduanya saling melengkapi dalam membentuk individu yang matang secara akademik, moral, dan Implikasinya, lembaga pendidikan perlu merancang program pembelajaran yang tidak hanya mendorong motivasi belajar tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai Buddhis ke dalam pembentukan karakter dan pengembangan karir siswa. Bagi siswa, penting untuk meningkatkan motivasi belajar dan menginternalisasi nilai-nilai Paycasila Buddhis sebagai bekal dalam pengambilan keputusan karir. Bagi sekolah, dukungan sistematis berupa kurikulum terpadu, layanan konseling, dan program pengembangan diri sangat diperlukan untuk mendukung kesiapan karir peserta didik. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperluas cakupan dengan mempertimbangkan faktor eksternal, menggunakan metode campuran, serta melibatkan konteks pendidikan yang lebih beragam agar hasilnya lebih komprehensif dan bermanfaat secara praktis bagi dunia pendidikan maupun masyarakat. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 2 TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 01-14 DAFTAR REFERENSI Amriyati. Salija. , & Talib. The students' learning motivation in EFL online Journal of Excellence in English Language Education, 1. , 324Ae329. Chen. , & Han. Achievement motivation and career maturity of high school students: The mediating role of career self-efficacy (Issue . Atlantis Press International BV. https://doi. org/10. 2991/978-94-6463-044-2_103 Crites. Career maturity . 1Ae. Dharmawan. , & Wijoyo. Sinkronisasi pasar tenaga kerja: Analisis peran SMK pada perkembangan pasar tenaga kerja di Indonesia. Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan, 15. , 97Ae108. https://doi. org/10. 24832/jpkp. Farmer. , & Chung. Variables related to career commitment, mastery motivation, and level of career aspiration among college students. Journal of Career Development, 21. , 265Ae278. https://doi. org/10. 1007/BF02106151 Halean. Kandowangko. , & Goni. [Artikel dalam Journal Holistik, 14. Journal Holistik, 14. , 1Ae12. https://doi. org/10. 53649/jutau. Herr. , & Enderlein. Vocational maturity: The effects of school, grade, curriculum and sex. Journal of Vocational Behavior, 8. , 227Ae238. https://doi. org/10. 1016/0001-8791. Lisniasari. , & Ismoyo. Payca-Sla Buddhis. Jurnal Pendidikan Buddha dan Isu Sosial Kontemporer (JPBISK), 2. , 22Ae31. https://doi. org/10. 56325/jpbisk. Eriyanto. Roesminingsih. Soedjarwo, & Soeherman. The effect of learning motivation on learning independence and learning outcomes of students in the package C equivalence program. IJORER: International Journal of Recent Educational Research, 2. , 455Ae467. https://doi. org/10. 46245/ijorer. Mukti. Wacana Buddha Dharma. Yayasan Karaniya. Nurani. Factors influencing students' career maturity in vocational and general high school. IJORER: International Journal of Recent Educational Research, 3. , 750Ae761. https://doi. org/10. 46245/ijorer. Qonitatin. , & Kustanti. Models of career maturity in adolescents. Proceedings of the International Conference on Psychological Studies (ICPSYCHE (Vol. 95Ae. Atlantis Press. https://doi. org/10. 2991/assehr. Rakhmawati. Teams games tournament (TGT): Improve motivation of studying social study elementary school students. DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik, 2. , 17Ae25. https://doi. org/10. 20961/jdc. Rusman. Tantangan sumber daya manusia di era globalisasi. Forecasting: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen, 1. , 78Ae84. https://doi. org/10. 55904/nautical. Hubungan Motivasi Belajar Dan Paycasila Buddhis Terhadap Kematangan Karir Pada Siswa SMA Negeri 1 Donorojo di Kabupaten Jepara Sari. Nanere. , & Ernawati. Kematangan karir siswa remaja dalam menghadapi dunia pekerjaan. Jurnal Suluh Pendidikan (JSP), 11. , 1Ae6. https://doi. org/10. 36655/jsp. Setiawan. Supartono. , & Mujiyanto. Pengaruh pendidikan Buddhis terhadap penguatan moralitas Pancadharma siswa beragama Buddha. Academy of Education Journal, 15. , 648Ae656. https://doi. org/10. 47200/aoej. Badan Pusat Statistik. Data statistik pengangguran (Vol. 36, pp. 1Ae. Yuca. Suherman. , & Budiamin. Differences of adolescent career maturity in Indonesia: A gender and job aspirations based approach. Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia, 9. , 154Ae165. https://doi. org/10. 29210/1202322355 Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 2 TAHUN 2025