KESKOM. 2019;5(1):34 - 43 J JURNAL KESEHATAN KOMUNITAS ( J O U R N A L O F C O M M U N I T Y H E A LT H ) http://jurnal.htp.ac.id Hubungan Lingkar Pinggang Dengan Kejadian Hiperkolesterolemia Pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Tegal Gundil Kota Bogor R e l a t i o n s h i p O f Wa i s t C i r c u m f e r e n c e A n d Hypercholesterolemia Incidence In Patient With Hypertension in Tegal Gundil Public Health Center at Bogor City Siti Hana1,Ratu Ayu Dewi Sartika2 1,2 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ABSTRACT ABSTRAK Hypertension and hypercholesterolemia are the causes of coronary heart disease (CHD) so that the presence of hypercholesterolemia in pa ents with hypertension will increase the risk of CHD. Central obesity describes the accumula on of fat in the stomach which can lead to abnormali es in the amount of lipids in the blood, when it occurs in pa ents with hypertension can lead to progression of the occurrence of high blood cholesterol and the risk of causing atherosclerosis and heart diseases. The purpose of this study was to determine the rela onship of waist circumference and other factors with the incidence of hypercholesterolemia in pa ents with hypertension. This research was a quan ta ve study through secondary data with Cross Sec onal design. The data were obtained form primary research en tled socializa on of media nutri on toward preven on efforts of hypertension in selected popula on at Bogor City. Sample were 96 pa ents. The independent variables were waist circumference, Body Mass Index (BMI), age, sex, lipids consump on, physical ac vity while the dependent was incidence of hypercholesterolemia in pa ent with hypertension. According to the results of mul variate tests with mul ple logis c regression, there was a rela onship between waist circumference, sex and age a er being controlled by physical ac vity variables. Sex as a risk factor most associated with the incidence of hypercholesterolemia with a risk 8.5 mes higher in women than men, then carried out waist circumference stra fica on test by sex in hypertension pa ents with cases of central obesity found a significant rela onship that women with central obesity have a risk of experiencing hypercholesterolemia as much as 5.5 mes compared to central obesity in men with a value of p <0.05. There was a waist circumference rela onship with the incidence of hypercholesterolemia in women who are central obesity more at risk of developing hypercholesterolemia than central obesity in men. Keywords : Occupa onal Health Efforts, primary health care, Farmer Group. Adanya hiperkolesterolemia pada penderita hipertensi akan meningkatkan risiko terjadinya PJK dan stroke yang merupakan pembunuh nomor satu di Indonesia dan di dunia dimana hipertensi merupakan faktor risiko utama (WHO, 2015). Obesitas sentral menggambarkan penumpukan lemak di perut yang dapat mengakibatkan adanya keabnormalan jumlah lipid dalam darah, ke ka terjadi pada penderita hipertensi dapat menimbulkan progresifitas terjadinya kolesterol darah nggi dan berisiko menyebabkan aterosklerosis dan penyakit jantung. Tujuan peneli an ini untuk mengetahui hubungan lingkar pinggang dan faktor lainnya dengan kejadian hiperkolesterolemia pada penderita hipertensi. Peneli an ini merupakan studi kuan taf menggunakan data sekunder dengan desain Cross Sec onal yang diperoleh dari peneli an primer yang berjudul sosialisasi media gizi terhadap upaya pengendalian hipertensi pada populasi terpilih di Kota Bogor. Sampel dalam peneli an ini berjumlah 96 orang. Variabel yang diteli terdiri dari variabel independen (lingkar pinggang, IMT, usia, jenis kelamin, asupan lemak dan ak fitas fisik) dan variabel dependen kejadian hiperkolesterolemia pada pasien hipertensi. Hasil regresi logis k ganda menunjukan hubungan lingkar pinggang, jenis kelamin dan umur dengan kejadian hiperkolesterolemia setelah dikontrol oleh ak fitas fisik. Jenis kelamin sebagai faktor risiko yang paling dengan kejadian hiperkolesterolemia dengan risiko 8,5 kali lebih nggi pada wanita dibandingkan laki-laki. Hasil uji stra fikasi lingkar pinggang menurut jenis kelamin pada penderita hipertensi dengan kasus obesitas sentral didapatkan hubungan yang signifikan bahwa penderita obesitas sentral perempuan memiliki risiko mengalami hiperkolesterolemia sebanyak 5,5 kali dibandingkan obesitas sentral pada laki-laki (p<0,05). Terdapat hubungan lingkar pinggang dengan kejadian hiperkolesterolemia pada wanita yang obesitas sentral lebih berisiko mengalami hiperkolesterolemia dibandingkan laki-laki yang obesitas sentral. Kata Kunci : Hiperkolesterolemia, lingkar pinggang, obesitas sentral, perempuan, penderita hipertensi Correspondence : Ratu Ayu Dewi Sar ka, Departmen Gizi Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Gedung F Lantai 2 Kampus Baru UI Depok, Indonesia. Email : ratuayu. m.ui@gmail..com, 0896 0297 4813 • Received 16 Januari 2019 • Accepted 13 Maret 2019 • p - ISSN : 2088-7612 • e - ISSN : 2548-8538 • DOI: h ps://doi.org/10.25311/keskom.Vol5.Iss1.335 Copyright @2017. This is an open-access ar cle distributed under the terms of the Crea ve Commons A ribu on-NonCommercial-ShareAlike 4.0 Interna onal License (h p://crea vecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/) which permits unrestricted non-commercial used, distribu on and reproduc on in any medium 35 Keskom, Vol. 5, No. 1 April 2019 PENDAHULUAN Kadar kolesterol dalam tubuh adalah satu faktor terpen ng untuk menentukan risiko seseorang untuk menderita penyakit pembuluh darah jantung (Yekeen, Sanusi, & Ke ku, 2003). Sebagian besar gangguan kadar kolesterol terdapat pada penderita hipertensi dari pada normotensi (Feryadi, Sulastri, & Kadri, 2014). Kadar kolesterol total yang nggi berhubungan dengan ngginya tekanan darah sistolik, dengan menjaga kadar kolesterol total dalam batas normal merupakan salah satu upaya untuk menurunkan prevalensi hipertensi (Margarita et al., 2011). Hipertensi dan hiperkolesterol merupakan penyebab terjadinya penyakit jantung koroner (PJK) sehingga adanya hiperkolesterol pada penderita hipertensi akan meningkatkan risiko terjadinya PJK (Borghi, Urso, & Cicero, 2017). Data dari Mul ple Risk Factor Interven on Trial (MRFIT) menunjukkan bahwa risiko kema an yang disesuaikan dengan usia untuk penyakit arteri koroner adalah 10 kali lebih nggi (Stamler, et al., 2012). Pengendalian lemak darah pada penderita hipertensi melalui pengobatan dapat secara signifikan menurunkan risiko stroke dan infark miokard (Sirenko & Radchenko, 2017). Peneli an NHANES 1988-2010 diketahui bahwa pengobatan hiperkolestrolemia pada penderita hipertensi akan mengurangi risiko PJK sebesar >35% sedangkan pengobatan pada hipertensi saja hanya menurunkan risiko PJK sebesar 25% (Egan et al., 2014). Dengan demikian pengobatan hiperkolesterol pada penderita hipertensi agar kolesterol darah menjadi normal diketahui akan lebih dapat mengurangi risiko penyakit jantung koroner dari pada hanya normalisasi pada tekanan darah saja (Borghi C. , Urso, R., 2017) Berdasarkan peneli an pada penderita hipertensi di Indonesia, diketahui angka prevalensi dislipidemia di antara penderita hipertensi cukup nggi yaitu sebesar 78% dan lebih nggi pada proporsi kelompok penderita hipertensi dengan kategori obesitas yang mengalami dislipidemia sebesar 80% (Ompusunggu, 2010). Peneli an di kota Padang dan Jombang ditemukan sebanyak 60,9% dan 52,9% penderita hipertensi memiliki kadar kolesterol di atas normal (Feryadi, et al, 2014, Marya , 2017). Peneli an di Yogyakarta menemukan sebanyak 20% responden dengan hipertensi sedang memiliki kadar kolesterol di atas normal dan sebanyak 6,7% responden dengan hipertensi berat memiliki kadar kolsterol sangat nggi (Lestari, 2015). Peneli an di kota Surakarta, diketahui bahwa sebanyak 76% penderita hipertensi mengalami hiperkolesterolemia dan resiko perkembangan hipertensi pada pria dengan kadar kolesterol nggi lebih besar (23%) daripada pria dengan kadar kolesterol yang normal (Hasliani, 2017). Lingkar pinggang normal pada wanita adalah < 80 cm dan pada laki-laki < 90 cm (WHO, 2008). Apabila ukuran lingkar pinggang melebihi normal disebut obesitas sentral. Obesitas h p://jurnal.htp.ac.id sentral memiliki hubungan yang erat dengan peningkatan kolesterol darah total. Pada obesitas sentral terjadi penumpukan lemak di perut yang dapat mengakibatkan adanya keabnormalan jumlah lipid dalam darah, salah satunya adalah peningkatan kolesterol, selain itu obesitas sentral mempunyai risiko nggi mengalami retensi insulin dan komplikasi metabolik seper diabetes mellitus pe 2, hipertrigliseridemia, dan penurunan kolesterol HDL (high density lipoprotein), hipertensi serta penyakit kardiovaskular (Pusparini, 2007 dalam Lis yana, Prameswari, & Mardiana, 2013). Obesitas sentral lebih berbahaya daripada obesitas menurut indeks massa tubuh (IMT) terkait dengan kelainan athero-thrombo c-inflammatory dan resistensi insulin (Despre et al., 2008). Obesitas dan dislipidemia banyak dialami oleh para penderita hipertensi dan terbuk bahwa kejadian obesitas pada penderita hipertensi memiliki kadar LDL (low density lipoprotein) kolesterol nggi (Yao, et al., 2010). Peneli an di kota Bogor pada kelompok obesitas sentral kejadian dislipidemia lebih nggi dibandingkan responden yang dak mengalami obesitas sentral (Sudikno dkk, 2016). Hasil Riskesdas 2013 prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada umur ≥18 tahun di provinsi Jawa Barat sebesar 29,4% melebihi standar nasional yaitu sebesar 25,8% dan secara nasional hipertensi terus meningkat menjadi 34,1% pada tahun 2018. Pada tahun 2016 di provinsi Jawa Barat ditemukan 790.382 orang kasus hipertensi dari sejumlah kasus yang diperiksa sebanyak 8.029.245 orang (9,8%). Peneli an yang dilakukan di kelurahan Katulampa kota Bogor terdapat 59,1% kasus hipertensi (Safe’i, 2013). Berdasarkan buku laporan tahun 2016 Puskesmas Tegal Gundil kecamatan Bogor Utara ditemukan 5.850 orang menderita hipertensi primer (44,2%) dan terdapat 263 kasus hiperkolesterolemia. Laporan tahunan Puskesmas Tegal Gundil tahun 2017 diketahui bahwa hipertensi masih menduduki peringkat pertama pada kelompok penduduk dewasa usia >40 tahun yaitu penderita hipertensi primer sebanyak 2.906 orang (21%) dan peringkat ke ga pada semua golongan umur yaitu 3.409 (12,5%). Peneli an dilakukan mengingat ngginya prevalensi hipertensi di kota Bogor terutama di Puskesmas Tegal Gundil kecamatan Bogor Utara kota Bogor. Penyakit hipertensi biasanya disertai juga dengan penyakit lain dan juga akibat faktor risiko seper obesitas sentral yang dapat menimbulkan peningkatan progresifitas terjadinya kolesterol darah nggi dan berisiko menyebabkan aterosklerosis dan penyakit jantung. Diketahui prevalensi obesitas sentral di Jawa Barat sebesar 26,4% (Kemenkes, 2013) sedangkan prevalensi obesitas sentral kota Bogor sebanyak 51,3% (Sudikno dkk., 2016) namun belum diketahui prevalensi hiperkolesterolemia pada penderita hipertensi. Tujuan peneli an adalah untuk mengetahui hubungan lingkar pinggang dengan kejadian hiperkolesterolemia pada penderita hipertensi di Puskesmas Tegal Gundil di kecamatan Bogor Utara kota Bogor tahun 2017. Si , et al Hubungan Lingkar Pinggang dan Faktor Lainnya Dengan Kejadian Hiperkolesterolemia Pada Penderita Hipertensi Rela onship between Waist Circles and Other Factors with Hypercholesterolemia in Hypertension Pa ents METODE Jenis peneli an ini adalah peneli an anali k kuan ta f dengan disain cross sec onal. Variabel independen yang diteli yaitu lingkar pinggang, IMT, usia, jenis kelamin, asupan lemak, dan ak fitas fisik. Variabel dependen adalah kejadian hiperkolesterolemia. Peneli an ini dilakukan di Puskemas Tegal Gundil kecamatan Bogor Utara kota Bogor. Peneli melakukan peneli an dengan menganalisis data sekunder dari peneli an primer yang berjudul “sosialisasi media gizi terhadap upaya pengendalian hipertensi pada populasi terpilih di Kota Bogor” tahun 2017 di Puskesmas Tegal Gundil kecamatan Bogor Utara kota Bogor. Pengambilan data primer dilakukan di Puskesmas Tegal Gundil Bogor pada bulan Mei – Oktober 2017. Populasi peneli an adalah seluruh penderita hipertensi dewasa, usia 25 tahun sampai < 65 tahun yang datang secara ru n untuk berobat dan kontrol selama 6 bulan terakhir di Puskesmas Tegal Gundil kecamatan Bogor Utara kota Bogor. Sampel peneli an adalah seluruh penderita hipertensi yang memiliki kelengkapan data kolesterol total yaitu sebanyak 96 sampel. Analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat, analisis bivariat, analisis mul variat dan analisis stra fikasi. Analisis univariat dilakukan pada se ap variabel berupa distribusi dan presentase dari se ap karakteris k yang diteli . Analisis bivariat dengan uji chi square, analisis mul variat dengan uji regresi logis k ganda, dan uji stra fikasi. Uji chi square digunakan untuk mengetahui perbedaan variabel independen yang bersifat kategorik, yaitu status gizi (menurut lingkar pinggang dan IMT), umur, jenis kelamin, asupan lemak dan ak fitas fisik dengan definisi operasional asupan lemak adalah Jumlah makanan dan minuman mengandung lemak yang dikonsumsi dalam sehari sebelum wawancara sesuai dengan umur (Gibson, 2005) dan ak fitas fisik adalah kegiatan yang menghasilkan pengeluaran energi diukur dari ak vitas saat bekerja, bepergian, rekreasi, dan ak vitas saat santai yang dilakukan responden yang mennyebabkan perubahan kecepatan nafas dan atau denyut nadi (Riskesdas, 2013). Uji regresi logis k ganda digunakan untuk memprediksi faktor risiko yang paling berhubungan dengan kejadian hiperkolesterolemia. HASIL Tabel 1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Data Numerik 36 Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa rerata kadar kolesterol total terendah 132 mg/dl dan ter nggi 300 mg/dl. Rerata lingkar pinggang responden adalah 97,2 cm dan lingkar pinggang terbesar yaitu 121 cm. Rerata usia responden adalah 52,4 tahun dengan usia termuda berumur 32 tahun dan responden tertua berumur 65 tahun. Asupan lemak memiliki rata-rata dan nilai tengah secara berturut-turut sebesar 55,4 gram dan 47,6 gram. Data ak vitas fisik disajikan berdasarkan total nilai MET/menit responden adalah 465,2. Setelah dilakukan uji normalitas pada data numerik, dilakukan pengkategorian untuk mengetahui sebaran data berdasarkan kategori. Variabel asupan makanan dibatasi dengan nilai mean/median sesuai dengan normalitas ap variabel data. Khusus data asupan yang menunjukan data yang dak normal digunakan cut off median sebagai dasar untuk mengklasifikasikan data asupan makanan, selain per mbangan dari segi normalitas data, latar belakang dari karakteris k responden yang sebagian besar sudah menderita penyakit sehingga data asupan dak dapat mengiku cut off angka kecukupan gizi (AKG), pada dasarnya AKG digunakan untuk populasi sehat sehingga cut off pada tabel 2 adalah nilai median yang digunakan dalam mengklasifikasikan asupan lemak. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Data Kategorik Berdasarkan pada tabel 2, hasil analisis univariat menunjukkan terdapat 58,3% responden mengalami hiperkolesterolemia, sebagian besar responden mengalami obesitas sentral yaitu sebesar 92,7%. Status obesitas menurut IMT terdapat 26% yang mengalami obesitas. Jenis kelamin perempuan 87,6% lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Kejadian obesitas sentral pada perempuan lebih besar dibandingkan pada laki-laki, yaitu obesitas sentral pada perempuan sebesar 95,2% dan pada laki-laki sebesar 75,0%. responden dengan asupan lemak lebih sebanyak 29,2%. Umur dibagi menjadi dua kelompok yaitu dewasa (25-44 tahun) dan lansia (45-65 tahun). Berdasarkan data di atas, responden yang termasuk lansia sebesar 81,3%. Dari data SQFFQ (Semi Quan ta ve-Food Frequency Ques onnaire) responden yang J j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS 37 Keskom, Vol. 5, No. 1 April 2019 memiliki asupan lemak lebih sebanyak 29,2%. Responden yang tergolong dak ak f dengan nilai <600 MET/menit dan responden yang tergolong ak f dengna nilai ≥600 MET/menit. Berdasarkan tabel 2, responden paling banyak adalah dalam kategori dak ak f 77,1%. Tabel 3 Hasil Analisis Bivariat Hasil bivariat menunjukkan bahwa penderita hipertensi yang mengalami obesitas sentral memiliki prevalensi kejadian hiperkolesterolemia sebesar 57,3% sedangkan prevalensi kejadian hiperkolesterolemia pada yang dak obesitas sentral lebih nggi yaitu 71,4% (nilai p=0,696), begitu juga obesitas menurut IMT bahwa pada yang dak obesitas proporsi kejadian hiperkolesterolemia lebih nggi yaitu 63,3% (nilai p=0,427). Pada kelompok umur lansia proporsi kejadian hiperkolesterolemia adalah lebih nggi yaitu 62,8% dibandingkan kelompok umur dewasa (nilai p=0,112). Jenis kelamin perempuan lebih banyak mengalami hiperkolesterolemia yaitu 63,1% dengan hubungan yang signifikan (nilai p=0,028 dan OR 5,129) dimana penderita hipertensi pada perempuan lebih berisiko mengalami hiperkolesterolemia 5 kali lebih nggi dibandingkan laki-laki. Asupan lemak dalam batas lebih (66,0%) memiliki proporsi lebih besar dalam kejadian hiperkolesterolemia dibandingkan asupan lemak cukup (nilai p=0,202). Dari hasil univariat Ak fitas fisik sebagian besar dak ak f namun setelah dilakukan uji bivariat justru menunjukan hasil bahwa yang ak f memiliki proporsi kejadian hiperkolesterolemia lebih nggi (72,7%) dibandingkan dengan yang dak ak f (nilai p=0,189). Tabel 4 Hasil Analisis Mul variat dengan Regresi Logis k Ganda Variabel yang merupakan faktor risiko yang paling berhubungan dengan kejadian hiperkolesterolemia pada penderita hipertensi di Puskesmas Tegal Gundil adalah jenis kelamin dan variabel lainnya yaitu umur dan obesitas sentral h p://jurnal.htp.ac.id setelah dikontrol oleh ak fitas fisik. Variabel jenis kelamin adalah variabel yang memiliki nilai p <0,05 dengan nilai OR terbesar, sehingga jenis kelamin merupakan faktor risiko yang paling berhubungan dengan kejadian hiperkolesterolemia pada penderita hipertensi di Puskesmas Tegal Gundil dengan nilai OR 8,76 (95% CI: 1,68-45,75), ar nya penderita hipertensi yang berjenis kelamin perempuan berisiko sebesar 8,76 kali untuk mengalami hiperkolesterolemia. Dalam melihat hubungan lainnya yang signifikan terhadap kejadian hiperkolesterolemia dapat dilihat pada tabel 5 dan tabel 6: Tabel 5 Analisa Stra fikasi Lingkar Pinggang menurut Jenis Kelamin Berdasarkan hasil analisis stra fikasi pada perbedaan status obesitas sentral menurut jenis kelamin. Hasil uji stra fikasi pada subyek dengan status gizi obesitas sentral menunjukan bahwa perempuan yang obesitas sentral memiliki peluang untuk menderita hiperkolesterolemia sebesar 5,5 kali dibandingkan dengan laki-laki yang obesitas sentral. Secara sta s k terbuk signifikan dengan nilai p 0,034. Tabel 6 Analisa Stra fikasi Lingkar Pinggang menurut Ak fitas Fisik Pada tabel 6 hasil analisis stra fikasi pada status obesitas sentral menurut ak fitas fisik, bahwa penderita obesitas sentral yang memiliki ak fitas fisik yang ak f memiliki proporsi (70%) yang lebih besar menderita hiperkolesterolemia dibandingkan dengan penderita obesitas sentral yang memiliki ak fitas fisik dak ak f (53,6%). Untuk melihat ak fitas fisik pada keduanya maka dilakukan stra fikasi ak fitas fisik menurut status obesitas sentral seper pada tabel 7: Tabel 7 Analisa Stra fikasi Ak fitas Fisik menurut Lingkar Pinggang Si , et al Hubungan Lingkar Pinggang dan Faktor Lainnya Dengan Kejadian Hiperkolesterolemia Pada Penderita Hipertensi Rela onship between Waist Circles and Other Factors with Hypercholesterolemia in Hypertension Pa ents Meskipun dak diperoleh hubungan yang signifikan antara kedua variabel tersebut, penderita hipertensi yang ak f, baik pada obesitas sentral maupun yang dak obesitas sentral memiliki peluang menderita hiperkolesterolemia lebih besar dibandingkan yang dak ak f. oleh karena itu variabel ak fitas fisik dinyatakan sebagai variabel pengganggu dalam menganalisa hubungan antara lingkar ping gang dengan kejadian hiperkolesterolemia. PEMBAHASAN Gambaran dan Prevalensi Hiperkolesterolemia Pada Penderita Hipertensi Hipertensi dan hiperkolesterolemia sangat berkaitain erat dari sudut pandang patofisiologi dan koeksistensi keduanya dalam subjek yang sama meningkatkan risiko kardiovaskular (Borghi, 2017). Penyakit jantung sudah terbuk sebagai silent killer yang banyak mengejutkan masyarakat. Hipertensi dan gangguan pembuluh darah merupakan jenis dari penyakit jantung. Peranan jantung yang sangat pen ng dalam memompa darah ke seluruh tubuh dan mengedarkan makanan untuk tubuh beserta oksigen agar organ lain juga bisa berfungsi dengan baik oleh karena itu dalam peredaran darah dak boleh terhambat oleh apapun. Jika terjadi gangguan dalam sistem peredaran darah dan mengganggu otot janjung maka berisiko nggi menjadi penyakit jantung koroner. Otot jantung memerlukan energi dan oksigen yang disuplai dari darah yang dialirkan melalui pembuluh darah koroner kepada otot jantung agar selalu berdenyut dan berkontraksi. Gangguan pada pembuluh darah koroner salah satunya disebabkan adanya penyumbatan berupa plak yang terbentuk dalam pembuluh darah sehingga menyebabkan diameter pembuluh darah koroner menyempit dan suplai darah yang sampai ke otot jantung berkurang. Hipertensi dapat membuat pelindung pembuluh darah yang tadinya licin menjadi terluka dan mengalami inflamasi yang dapat memudahkan kolesterol menempel dan menumpuk di pembuluh darah dan mengeras atau plak kolesterol dapat terlepas terbawa aliran darah ke saluran yang lebih kecil dan menyumbat serta mengganggu kerja jantung. Pengobatan yang dilakukan untuk menurunkan kadar kolesterol penderita hipertensi dapat meningkatkan kontrol tekanan darah, kejadian hiperkolesterolemia pada penderita hipertensi dikaitkan dengan gangguan kapasitas vasodilatasi dan overekspresi reseptor angiotensin II vaskular karena terangsang ase lkolin, hiperkolesterolemia memiliki pengaruh langsung pada salah satu protein di angiotensin yang dapat berkontribusi pada perkembangan hipertensi (Ivanovic & Tadic, 2015). Peningkatan prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 34,1% pada tahun 2018. Sedangkan untuk hiperkolesterolemia Dari hasil peneli an ini, persentase hiperkolesterolemia pada 38 penderita hipertensi di Puskesmas Tegal Gundil kecamatan Bogor Utara adalah sebesar 58,3%. Jika dibandingkan dengan angka nasional berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 kejadian hiperkolesterolemia adalah sebesar 39,6% pada perempuan dan 30% pada laki-laki. Perbedaan persentase kemungkinan karena adanya perbedaan latar belakang penyakit dalam peneli an ini semua responden sudah menderita hipertensi dan berada dalam rentang usia 32-65 tahun, sedangkan dalam Riskesdas tahun 2013 latar belakang karakteris k responden lebih heterogen dan rentang usia lebih lebar dimulai dari usia 18 tahun. Kejadian hiperkolesterolemia masih sangat nggi dikalangan p e n d e r i ta h i p e r te n s i . Pa d a p e n e l i a n i n i ke j a d i a n hiperkolesteroelemia adalah sebesar 56,8% pada penderita prehipertensi, 76,5% pada penderita hipertensi derajat 1, dan 51,4% pada penderita hipertensi derajat II. Tingginya prevalensi hiperkolesterolemia pada penderita hipertensi mengindikasikan dibutuhkannya upaya untuk mengintervensi kejadian tersebut. Salah satunya melalui skrining, konseling, dan promo ng serta upaya terapi menurunkan kadar kolesterol darah untuk mencegah perkembangan hipertensi yang mengarah ke penyakit kardiovaskuler. Lingkar Pinggang Pada Hiperkolesterolemia Dalam mencari korelasi lingkar pinggang dengan profil lipid mungkin membutuhkan jumlah sampel yang lebih besar dan rentang usia yang lebih luas. Peneli an di Palembang yang menunjukan hampir semua hasil analisis hubungan antara obesitas dan profil lemak dalam darah dipengaruhi oleh jenis kelamin dan usia, dan dijelaskan bahwa hampir dak ada hubungan antara komposisi tubuh dan kolesterol total pada kelompok usia yang lebih tua pada wanita atau pria. Hubungan antara berbagai standar obesitas dan lemak diperkuat oleh banyak diet yang mengandung lemak dan kurangnya ak vitas (Darmawan & Irfanuddin, 2007). Hasil tersebut berbeda dari Peneli an Fasli, et al., 2010 yang menunjukan lingkar pinggang sebagai salah satu komponen pen ng yang dapat mendiagnosa kejadian sindroma metabolik. Lingkar pinggang terbuk dapat mendeteksi obesitas sentral dan sindroma metabolik dengan ketepatan yang cukup nggi dibandingkan indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar panggul (Lean, Han, Morrison, 1995 dalam Fasli, et al., 2010). Rata-rata kadar kolesterol total lebih nggi pada kelompok obesitas sentral (215 mg/dl) dibandingkan dengan lingkar pinggang normal (208 mg/dl). Status Gizi (IMT) pada Kejadian Hiperkolesterolemia Tidak terdapat hubungan status gizi menurut IMT dengan kejadian hiperkolesterolemia pada penderita hipertensi di peneli an ini. Hal ini juga dak sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa peningkatan risiko hipertensi yang terkait dengan obesitas dapat dilihat dari perubahan profil lipid dalam J j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS 39 Keskom, Vol. 5, No. 1 April 2019 darah. Kadar lipid darah dalam tubuh sangat terkait dengan seluruh obesitas dan obesitas sentral. Namun, hubungan itu mungkin dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seper usia dan jenis kelamin yang dapat mengakibatkan subjek vitas dan menutupi hubungan yang sebenarnya. (Darmawan & Irfanuddin, 2007). Peneli an pada penduduk Indonesia tahun 2010 menemukan bahwa ada hubungan antara penduduk yang mengalami obesitas (IMT>27) dengan kadar kolesterol HDL yang dak normal (Mamat & Sudikno, 2010). Penambahan indeks massa tubuh terbuk secara signifikan terhadap peningkatan kadar kolesterol darah dengan risiko sebesar 1,18 kali lebih nggi mengalami hiperkolesterolemia dibandingkan orang dengan penurunan IMT (Lee., et al, 2012). Usia pada Kejadian Hiperkolesterolemia Dalam peneli an ini secara sta s k dak ada hubungan antara hiperkolesterolemia dengan usia, namun ditemukan kasus hiperkolesterolemia lebih banyak terjadi pada kelompok usia dewasa lansia (45-65 tahun) yaitu sebesar 87,5%. Usia berpengaruh pada terjadinya hiperkolesterolemia sebab adanya perubahan fisiologis tubuh di usia yang semakin menua. Hubungan antara obesitas dan kolesterol total tampaknya lebih kuat pada kelompok usia lansia dibandingkan usia muda, karena usia berhubungan kuat dengan ngginya kadar kolesterol darah seiring dengan peningkatan prevalensi obesitas (Flegal, 2000). Penumpukan lemak yang berlebihan di jaringan adiposa viseral dapat melepaskan sejumlah asam lemak bebas yang berlebihan, semakin besar jaringan adiposa viseral maka semakin besar pula asam lemak yang dilepaskan ke ha (Bays, 2003; Pandey, et al,. 2017). Selain itu, umur merupakan salah satu faktor risiko alami terjadinya hiperkolesterolemia. Menurut NCEP ATP (2002), kategori umur yang berisiko lebih besar menderita hiperkolesterolemia adalah lebih dari 45 tahun. Beberapa ahli berpendapat bahwa semakin tua seseorang, maka makin berkurang kemampuan reseptor LDL-nya. Sedangkan reseptor LDL merupakan faktor penghambat (inhibitor) sintesis kolesterol dalam tubuh. Ar nya, menurunnya ak vitas reseptor LDL akibat semakin bertambah usia akan memyebabkan sintesis kolesterol menjadi meningkat sehingga kadar total kolesterol nggi (Sari, Prihar ni, & Brantas, 2014). Jenis kelamin pada kejadian Hiperkolesterolemia Ada hubungan antara jenis kelamin dengan hiperkolesterolemia pada penderita hipertensi. Dalam peneli an ini prevalensi hiperkolesterolemia lebih banyak pada jenis kelamin perempuan (63,1%) daripada pada laki-laki (25,0%) dan rata-rata kadar kolesterol pada perempuan (217,8 mg/dl) lebih nggi dibandingkan laki-laki (193,1 mg/dl). Dari beberapa peneli an di Italia dan dari peneli an NHANES-III menunjukan h p://jurnal.htp.ac.id pevalensi hiperkolesterolemia pada pria dengan populasi hipertensi adalah dua kali lebih nggi dibandingkan pada populasi dengan tekanan darah normal sedangkan pada wanita ga kali lebih nggi daripada laki-laki (NHANES III dalam Borghi C. , Urso, R., 2017). Hasil peneli an ini dak sejalan dengan beberapa peneli an lainnya seper yang dilakukan oleh Djuwita (2013) bahwa prevalensi hiperkolesterolemia pada laki-laki lebih nggi dibandingkan pada perempuan. Hal tersebut sejalan dengan teori yang mengatakan bahwa perempuan memiliki konsentrasi HDL yang lebih nggi dibandingkan laki-laki akibat efek hormon estrogen. Kadar kolesterol plasma akan menurun oleh hormon roid dan estrogen sebab kedua hormon ini meningkatkan jumlah reseptor LDL di ha (Ganong, 2008). Hasil peneli an ini dak sejalan dengan peneli an Djuwita karena terdapat perbedaan rentang usia pada sampel dan latar belakang penyakit responden. Pada peneli an ini didominasi oleh kelompok umur dewasa akhir dimana pada rentang umur tersebut produksi estrogen mengalami penurunan yang berakibat turunnya sintesis HDL. Hal ini telah dibuk kan dalam peneli an di Amerika yang menunjukan prevalensi hiperkolesterolemia pada lansia adalah lebih nggi pada kelompok wanita dan lebih banyak terjadi pada rentang umur 6574 tahun, setelah usia itu, kejadian hiperkolesterolemia mulai menurun (Palmisano et al., 2018). Asupan Lemak Berdasarkan hasil analisis bivariat dak terdapat perbedaan asupan lemak pada kejadian hiperkolesterolemia pada penderita hipertensi. Hasil peneli an ini dak sejalan dengan teori yang ada. Diet nggi lemak dapat menurunkan kadar Lep n yang lebih banyak dibandingkan diet nggi karbohidrat. Lep n yang semakin rendah akan meningkatkan nafsu makan kelompok diet nggi lemak, mempunyai nafsu makan atau rata-rata asupan energi yang lebih nggi. Hal ini menjawab adanya implikasi hubungan antara diet nggi lemak dengan kenaikan berat badan (Tsalissavrina, Iva , Wahono, Djoko , Handayani, 2006) Konsumsi lemak total maksimal per hari yang dianjurkan adalah 30% dari energi total. Menurut Faisal Baraas (2003), konsumsi diet yang kaya akan lemak dapat menyebabkan peningkatan jumlah lemak yang terdeposit pada jaringan adiposa terutama yang berada dibawah kulit dan di rongga perut. Se ap jumlah lemak dan karbohidrat makanan yang berlebihan dan dak langsung digunakan akan disimpan di jaringan adiposa dalam bentuk trigliserida. Kelebihan lemak dalam bentuk trigliserida di jaringan adiposa dibawah kulit ataupun di rongga perut inilah yang menyebabkan peningkatan berat badan. Hal ini karena semakin banyaknya jumlah sel lemak di dalam tubuh (hiperplas k) maupun semakin bertambah besar ukuran sel lemak yang ada (hipetropik). Si , et al Hubungan Lingkar Pinggang dan Faktor Lainnya Dengan Kejadian Hiperkolesterolemia Pada Penderita Hipertensi Rela onship between Waist Circles and Other Factors with Hypercholesterolemia in Hypertension Pa ents Simpanan trigliserida yang berlebihan ini juga sewaktu-waktu potensial sebagai bahan pembentukan VLDL dan LDL di hepar, hal ini jelas beresiko pula terhadap semakin meningkatnya kadar LDL darah yang merupakan faktor risiko terjadinya aterosklerosis (Tsalissavrina, Iva , Wahono, Djoko , Handayani, 2006). Jaringan lemak (adiposa) yang sebelumnya hanya dianggap sebagai deposit energi, kini terbuk mempunyai peran pen ng sebagai suatu organ endokrin dengan menghasilkan berbagai protein ak f yang disebut adipositokin atau adipokin, yang masing-masing mempunyai peran dalam homeostasis dan metabolisme tubuh. Salah satu di antara adipokin tersebut adalah adiponek n. Berbeda dengan adipositokin lainnya, kadar adiponek n berkurang pada keadaan obesitas dan berbanding terbalik dengan resistensi insulin, dislipidemia, dan sindrom metabolik. Menurut peneli an, adiponek n mempunyai efek an inflamasi dan an aterogenik sehingga disimpulkan adiponek n bermanfaat karena mempunyai efek kardioprotek f (Juanda, MA, Ruhimat, & Suardi, 2009; Marsche et al., 2017; Sung, Chuang, Sheu, & Lee, 2001) Ak fitas Fisik Ak vitas fisik sangat mempengaruhi terjadinya hipertensi, dimana pada orang yang kurang ak vitas akan cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung lebih nggi sehingga otot jantung harus bekerja lebih keras pada ap kontraksi. Makin keras dan sering otot jantung memompa maka makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri. Ak vitas fisik berupa olahraga dan kegiatan harian yang dilakukan secara ru n dapat meningkatkan konsentrasi HDL dan bermanfaat untuk mencegah mbunan lemak di dinding pembuluh darah. Ak vitas yang ringan cenderung mengakibatkan penimbunan lemak pada arteri sehingga terjadi aterosklerosis yang merupakan faktor risiko terhadap PJK. Hal ini sesuai dengan hasil analisa dari uji chi square antara ak fitas fisik, IMT dan kejadian hiperkolesterol menunjukan bahwa dari kelompok responden yang dak ak f terdapat sebesar 80% yang mengalami obesitas. Lebih banyaknya jumlah penderita hipertensi dengan status gizi di atas normal menunjukkan beberapa kemungkinan, salah satunya karena keseimbangan kalori yang posi f dan kurangnya ak vitas fisik (Bays et al. 2013). Meskipun dari hasil univariat menunjukan bahwa sebagian besar responden memiliki ak fitas fisik yang dak ak f (77,1%) namun pada Tabel 5.16 menunjukan bahwa ngkat ak fitas fisik pada kelompok yang ak f justru memiliki proporsi hiperkolesterolemia yang lebih besar (71,4%) dibandingkan yang dak ak f, setelah dilakukan uji mul variat ternyata terbuk bahwa variabel ak fitas fisik menjadi variabel pengganggu hubungan antara lingkar ping gang dengan kejadian hiperkolesterolemia. Hal ini dak sesuai dengan teori yang 40 menyatakan bahwa ak fitas fisik yang rendah akan mendorong keseimbangan energi ke arah posi f sehingga mengarah pada penyimpanan energi dan penambahan berat badan, akibatnya akan berpengaruh terhadap peningkatan kadar kolesterol darah, hal ini dapat terjadi karena energi dalam tubuh digunakan untuk metabolisme basal serta ak vitas fisik lainnya, jika kurang ak vitas fisik maka energi dalam tubuh akan disimpan sebagai glikogen dalam otot dan ha , atau disimpan sebagai lemak di jaringan adiposa sehingga dapat menyebabkan peningkatan pelepasan asam lemak bebas yang menyebabkan dislipidemia (Gropper et al. 2009). Pada tabel output hasil mul variat dari analisa regresi logis k menunjukan bahwa ak fitas fisik justru menjadi faktor protek f terhadap kejadian hiperkolesterolemia hal ini terjadi kemungkinan karena pada kelompok responden yang ak f ternyata sebagian besar (80%) sudah mengalami obesitas sentral. Jenis kelamin sebagai faktor risiko yang paling berhubungan dengan kejadian Hiperkolesterolemia Hasil analisis mul variat dengan menggunkaan uji regresi logis k ganda adalah terdapat hubungan lingkar pinggang, umur, jenis kelamin dengan kejadian hiperkolesterolemia setelah dikontrol oleh ak fitas fisik. Dari hasil mul variat dapat diketahui bahwa variabel jenis kelamin sebagai faktor risiko yang paling berhubungan dengan kejadian hiperkolesterolemia, kelompok perempuan lebih banyak yang mengalami hiperkolesterolemia daripada kelompok laki-laki. Hal ini berkaitan dengan teori yang menyatakan bahwa perempuan memiliki penyimpanan lemak yang lebih besar dibanding laki-laki, sedangkan laki-laki memiliki penyimpanan otot yang lebih besar dibanding perempuan. Lakilaki menyimpan lemak pada regio gluteal (pantat) dan femoral (paha). Laki-laki cenderung memiliki penyimpanan lemak viseral sedangkan wanita cenderung lebih memiliki penyimpanan lemak pada jaringan subkutan. Oleh karena itu, cut off lingkar pinggang pada pria lebih nggi dibanding perempuan. Dalam peneli an Mamat dan Sudikno 2010 juga didapatkan bahwa faktor jenis kelamin adalah faktor yang pengaruhnya paling besar terhadap terjadinya kadar kolesterol dak normal dengan nilai odds rasio 2,64. Peneli an lain di Kota Bogor tahun 2016 menunjukan bahwa obesitas sentral sebagai faktor risiko yang paling dominan terhadap profil lipid darah setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin, usia, dan kebiasaan merokok (Sudikno dkk, 2016). Menurut (Darmawan & Irfanuddin, 2007) hubungan antara obesitas dan profil lipid tergantung pada umur dan jenis kelamin. Pengaruh umur dan jenis kelamin juga dapat berbeda tergantung pada standar obesitas yang digunakan dalam se ap asosiasi. Ak fitas fisik dalam peneli an ini menjadi faktor konfonding. Ak fitas fisik yang seharusnya dapat mempengaruhi dan mengurangi distribusi lemak, namun karena sebagain besar J j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS 41 Keskom, Vol. 5, No. 1 April 2019 responden dalam peneli an adalah wanita yang ternyata menurut teori bahwa ak fitas fisik sendiri bagi wanita kurang efek f dalam mengurangi lemak sedangkan bagi pria efek f dalam mengurangi lemak atau mempertahankan berat ideal karena massa otot pria lebih besar dibandingkan massa lemak sehingga dapat membantu metabolisme lemak (Bagchi, 2013). Peneli an ini menunjukkan bahwa hampir semua hubungan antara obesitas dan kejadian hiperkolesterolemia dipengaruhi oleh jenis kelamin dan umur seper yang ditunjukan dalam peneli an ini bahwa dak ada hubungan antara obesitas (baik menurut lingkar pinggang maupun IMT) dengan kejadian hiperkolesterolemia. Hal ini membuk kan bahwa umur mempengaruhi penurunan fungsi fisiologis dan mempengaruhi perubahan hormon wanita pada risiko hiperkolesterolemia yang lebih nggi hal ini dibuk kan pada hasil uji stra fikasi antara status obesitas sentral menurut jenis kelamin dengan kejadian hiperkolesterolemia diketahui bahwa perempuan pada kelompok obesitas sentral memiliki proporsi lebih nggi mengalami hiperkolesterolemia (61,3%) dan dari 4 wanita kelompok usia lansia (yang masing-masing berusia 49 tahun, 52 tahun, 54 tahun dan 58 tahun) pada kasus yang yang dak mengalami obesitas sentral ternyata ditemukan 100% mengalami hiperkolesterolemia. Hasil analisa mul variat tabel 5 . 2 8 d a p at m e m b u k ka n h i p o te s i s b a hwa s e m a k i n bertambahnya usia maka risiko terjadinya hiperkolesterolemia juga semakin meningkat. Ar nya responden dengan usia ≥45 tahun mempunyai risiko hiperkolesterolemia 3,47 kali dibandingkan dengan responden yang berusia <45 tahun. KESIMPULAN Prevalensi hiperkolesterolemia pada penderita hipertensi adalah 58,3% dan obesitas sentral sebanyak 92,7%, Jenis kelamin sebaian besar adalah wanita (87,5%). Sebagian besar penderita hipertensi termasuk dalam kategori umur lansia (45-65 tahun) yaitu sebanyak 81,3%. Dari hasi uji mul variat faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hiperkolesterolemia adalah jenis kelamin, lingkar pinggang dan umur setelah dikontrol oleh variabel ak fitas fisik. Jenis kelamin sebagai faktor risiko yang paling berhubungan dengan kejadian hiperkolesterolemia dengan risiko 8,5 kali lebih nggi pada wanita dibandingkan lakilaki. Obes as sentral menurut jenis kelamin berhubungan dengan kejadian hiperkolesterolemia dengan risiko 5 kali lebih nggi pada wanita obesitas sentral dibandingkan laki-laki obesitas sentral. Konflik Kepen ngan Tidak ada konflik kepen ngan dalam peneli an Ucapan Terima Kasih Peneli mengucapkan terimakasih kepada Prof Ratu Ayu Dewi Sar ka, Apt, M.Sc selaku Ketua Departemen Gizi h p://jurnal.htp.ac.id Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia sebagai pemilik data. DAFTAR PUSTAKA Badan Peneli an dan Pengembangan Kesehatan. (2013). Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013. Laporan Nasional 2013, 1–384. Desember 2013 B a g c h i D, P r e u s s H G . O b e s i t y : E p i d e m i o l o g y, Pathophysiology, and Preven on. 2nd ed. US: CRC Press Taylor&Francis Group; 2013. P. 424-427 Bays, H. (2003). Early-onset type 2 diabetes mellitus : a condi on with elevated cardiovascular risk ? Abstract RE IO ) L ED N IM IN. Diabetes, 3, 356–360. B o r g h i , C . , U r s o , R . , & C i c e r o , A . F. ( 2 0 1 7 ) . Renin–angiotensin system at the crossroad of hypertension and hypercholesterolemia. Nutri on, Metabolism and Cardiovascular Diseases, 27(2), 1 1 5 – 1 2 0 . h ps://doi.org/10.1016/j.numecd.2016.07.013 Darmawan, H., & Irfanuddin, I. (2007). Effect of age and sex on the associa on between lipid profile and obesity among telecomunica on workers in Palembang. Medical Journal of Indonesia, 16(4), 251. h ps://doi.org/10.13181/mji.v16i4.286 Després JP1 , Lemieux I, Bergeron J, Pibarot P, Mathieu P, Larose E, Rodés-Cabau J, Bertrand OF, P. P. (2008). Abdominal obesity and the metabolic syndrome: contribu on to global cardiometabolic risk. Arterioscler Thromb Vasc Biol., 28(6), 1039–1049. h ps://doi.org/doi: 10.161/ATVBAHA.107.159228. Epub 2008 Mar 20. Djuwita, R. (2013). Asupan Gizi dan Kadar Low Density Lipoprotein Kolesterol Darah pada Kalangan Ekseku f. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 8(2). Egan, Brent, Li, Jiexiang , Qanungo, Suparna, and Wolfman, T. E. (2014). Blood Pressure and Cholesterol Control in Hypertensive Hypercholesterolemic Pa ents: NHANES 1988–2010. NIH Public Access, Circula on. Author Manuscript; Available in PMC 2014 July 02. P u b l i s h e d , 1 2 8 ( 1 ) , 2 9 – 4 1 . h ps://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.112.00 0500.Blood Faisal Baraas. (2003). Mencegah Serangan Penyakit Jantung dengan menekan kolesterol. Jakarta: Kardia Iqratama. Fasli, J., Nur Indrawaty, L., Novia, S., & Fadil, O. (2010). Hubungan Lingkar Pinggang dengan Kadar Gula Darah, Trigliserida dan Tekanan Darah pada Etnis Minang di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Universitas Andalas, 2010 Repository.Unand.Ac.Id, 1–23. Si , et al Hubungan Lingkar Pinggang dan Faktor Lainnya Dengan Kejadian Hiperkolesterolemia Pada Penderita Hipertensi Rela onship between Waist Circles and Other Factors with Hypercholesterolemia in Hypertension Pa ents Feryadi, R., Sulastri, D., & Kadri, H. (2014). Hubungan Kadar Profil Lipid dengan Kejadian Hipertensi pada Masyarakat Etnik Minangkabau di Kota Padang Tahun 2012. Jurnal Kesehatan Andalas, 3(2), 206–211. Feryadi, R., Sulastri, D., & Kadri, H. (2014). Hubungan Kadar Profil Lipid dengan Kejadian Hipertensi pada Masyarakat Etnik Minangkabau di Kota Padang Tahun 2012. Jurnal Kesehatan Andalas, 3(2), 206–211. Flegal, Katherine M. (2000). Obesity, Overweight, Hypertension, and High Blood Cholesterol: The Importance of Age. Obesity Research Vol. 8 No. 9 December 2000 Ganong, William F. (2008). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 22 alih bahasa: Brahm U, editor: Andita Novrian , et al. Jakarta: EGC Gropper SS, Smith JL, Groff JL. 2009. Advanced Nutri on and Human Metabolism. Fi h Edi on. USA: Wadsworth Cengage Learn- ing. Hasliani. (2017). Hubungan Kadar Kolesterol dengan Hipertensi pada Penderita Penyakit Ginjal Kronik Di R S U D D r. M o e w a r d i . h p://eprints.ums.ac.id/50480/24/naskah publikasi dian.pdf Ivanovic, B., & Tadic, M. (2015). Hypercholesterolemia and Hypertension: Two Sides of the Same Coin. American Journal of Cardiovascular Drugs, 15(6), 403–414. h ps://doi.org/10.1007/s40256-015-0128-1 Juanda, H., MA, T., Ruhimat, U., & Suardi, E. (2009). Kadar Adiponek n Sebagai Faktor Risiko Penebalan Tunika In ma Media Arteri Karo s. Majalah Kedokteran B a n d u n g , 4 1 ( 2 ) , 1 4 – 2 1 . h ps://doi.org/10.15395/mkb.v41n2.186 Kaulina, F. (2009). Hubungan antara asupan kolesterol, lingkar pinggang dengan profil lipid. Ar kel Peneli an. Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran. Universitas Dipeonegoro Laporan Tahunan Puskesmas Tegal Gundil (2017) Lee, R. D., & Nieman, D. C. (2012). Nutri onal Assessment. Gastroenterology Clinics of North America (Vol. 27). h ps://doi.org/h ps://doi.org/10.1016/S08898553(05)70007-8 Lestari. (2015). Hubungan Kadar Kolesterol dengan Tekanan Darah pada Pra Lansia Hipertensi di Posyandu Lansia Dusun Je s Bantul Yogyakarta Madhur, A. M. S., Editor, C., & Maron, D. J. (2014). Hypertension Treatment & Management, 1–22. Lis yana, A., Prameswari, G. N., & Mardiana. (2013). Obesitas Sentral Dan Kadar Kolesterol Darah Total. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9(1), 37–43. h ps://doi.org/ISSN 1858-1196 42 Mamat, & Sudikno. (2010). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kadar Kolesterol HDL (Analisis Data of The Indonesian Family Life Survey 2007/2008), 33(2), 143–149. Margarita, Y., Andi, P., Erwina, M., Valen nus, R., Kidarsa, B., Sutrisna, B., (2011). Kadar Kolesterol Total dan Tekanan Darah Orang Dewasa Indonesia Total Cholesterol and Blood Pressure Among Indonesian Adults, (1),79–84. Marsche, G., Zelzer, S., Meinitzer, A., Kern, S., Meissl, S., Pregartner, G., … Mangge, H. (2017). Adiponec n Predicts High-Density Lipoprotein Cholesterol Efflux Capacity in Adults Irrespec ve of Body Mass Index and Fat Distribu on. J Clin Endocrinol Metab, 102, 4117–4123. h ps://doi.org/10.1210/jc.2017-00933 Marya , H. (2017). Hubungan Kadar Kolesterol dengan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Di Dusun Sidomulyo Desa Rejoagung Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang, 8, 128–137. NHANES. (2017). Cholesterol among adults aged 20 and over , by selected characteris cs : United States , selected years 1988 – 1994 through 2013 – 2016 Table 55 . Cholesterol among adults aged 20 and over , by selected characteris cs: United States , select. R e t r i e v e d f r o m h ps://www.cdc.gov/nchs/hus/contents2017.htm #055 Ompusunggu, Intan Juliana. (2010). Model Prediksi dan Sistem Skor Terjadinya Dislipidemia pada Penderita Hipertensi Dewasa Urban. Universitas Indonesia. Palmisano, B. T., Zhu, L., Eckel, R. H., & Stafford, J. M. (2018). Sex differences in lipid and lipoprotein metabolism. M o l e c u l a r M e t a b o l i s m , 1 5 ( M ay ) , 4 5 – 5 5 . h ps://doi.org/10.1016/j.molmet.2018.05.008 Pandey, A. K., Pandey, D., & Pandit, A. (2017). Obesity and Lipid Profile Study in Type 2 Diabetes Pa ents with Auditory and Reac on Time Deficits and Nondiabe c Control Subjects. Advances in Diabetes and M e t a b o l i s m , 5 ( 1 ) , 1 – 5 . h ps://doi.org/10.13189/adm.2017.050101 Safe’i, A. (2013). Hubungan Antara Jenis Makanan dengan Angka Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Kelurahan Katulampa Kota bogor. Sari, Y. D., Prihar ni, S., & Brantas, K. (2014). Asupan serat makanan dan kadar kolesterol-LDL Penduduk Berusia 25-65 Tahun di KelurahanKEbon Kelapa, Bogor. Peneli an Gizi Dan Makanan, 37(1), 51–58. R e t r i e v e d f r o m h p://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/pg m/ar cle/view/4008 J j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS 43 Keskom, Vol. 5, No. 1 April 2019 Simbar M, Pandelaki K, Wongkar MCP. Hubungan Lingkar Pinggang dengan Profil Lipid pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal e-Clinic (eCl. 2015; 3(1). Sirenko, Y., & Radchenko, G. (2017). Impact of Sta n Therapy on the Blood Pressure-Lowering Efficacy of a Single-Pill Perindopril/Amlodipine Combina on in Hypertensive Pa ents with Hypercholesterolemia. High Blood Pressure and Cardiovascular Preven on, 24(1), 85–93. h ps://doi.org/10.1007/s40292-0170184-5 Stamler, J., Neaton, J. D., Cohen, J. D., Cutler, J., Eberly, L., Grandits, G., Prineas, R. (2012). Mul ple Risk Factor Interven on Trial Revisited : A New Perspec ve. Journal of the American Heart Associa on, 1–7. h ps://doi.org/10.1161/JAHA.112.003640 Sudikno, Hidayat Syarief, Cesilia Me Dwiriani, Hadi Riyadi, J. P. (2016). Hubungan Obesitas Sentral Dengan Profil Lipid Pada Orang Dewasa Umur 25-65 Tahun Di Kota Bogor (Baseline Studi Penyakit Tidak Menular di Kota Bogor, Jawa Barat) The. Journal of The Indonesian Nutri on Associa on, 39(2), 81–92. Sung, S., Chuang, S., Sheu, W. H., & Lee, W. (2001). ADIPONECTIN IS ASSOCIATED WITH EARLY STAGE OF HYPERTENSION IS THERE ASSOCIATION BETWEEN AMBULATORY BLOOD PRESSURE P2-40. In 16th Asian Pacific Congress of Cardiology (p. 92). Taipei. Tsalissavrina, Iva , Wahono, Djoko , Handayani, D. (2006). T h e I nfl u e n c e O f H i g h - C a r b o hyd rate D i et Administra on In Comparison With High-Fat Diet Toward Triglyceride And HDL Level In Blood On Ra us Novergicus Strain Wistar Iva. Kedokteran Brawijaya, XXII(2). WHO. (2008). Waist Circumference and Waist-Hip Ra o: Report of a WHO Expert Consulta on (Geneva, 8-11 Desember 2008). World Health Organiza on, ( D e c e m b e r ) , 8 – 1 1 . h ps://doi.org/10.1038/ejcn.2009.139 Yao, Zhou, Frommlet, Wang, H., & Yan, Zhi-Tao , Luo, Wen-Li , Hong, Jing , Wang, Xin-Ling, Li1, N.-F. (2010). Prevalence of hypertension, obesity, and dyslipidaemia among over 30-year-old minority individuals from the pasture area of Xinjiang. Circula on, 122(2), e187. Retrieved from h p://ovidsp.ovid.com/ovidweb.cgi?T=JS&PAGE=r eference&D=emed9&NEWS=N&AN=70232386 Yekeen, L. ., Sanusi, R. ., & Ke ku, A. . (2003). Prevalence Of Obesity And High Level Of Cholesterol In Hypertension: Analysis of Data from the University College Hospital, Ibadan. African Journal of Biomedical Research, 6(January 1998), 129–132. h ps://doi.org/10.4314/ajbr.v6i3.54040 h p://jurnal.htp.ac.id