http://journal. id/index. php/anterior PENGGUNAAN METODE OUTDOOR LEARNING DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK PESERTA DIDIK KELAS i SDN 2 KEMUNING KOTA BANJARBARU The Use Of Outdoor Learning Methods In Thematic Learning For Students In Class i SDN 2 Kemuning Banjarbaru City Siti Faridah1* Abstrak Ridho Indra Saputra Saidah Tunnoor Mahrita4* Ihsan Ramadhani5* *1,3,4Universitas Achmad Yani. Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Indonesia *2Akademi Pariwisata Nasional Banjarmasin. Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Indonesia *5Universitas Borneo Lestari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran dengan metode outdoor learning, serta faktor pendukung dan penghambat yang dialami guru dalam menerapkan metode ini pada pembelajaran tematik di kelas i SDN 2 Kemuning. Banjarbaru. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan sumber data dari siswa, guru, lingkungan sekolah, dan dokumen terkait. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber dan teknik. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode outdoor learning sangat efektif meningkatkan antusiasme siswa dalam pembelajaran. Namun, metode ini memiliki faktor pendukung dan penghambat. Dari segi pembelajaran, kelebihannya adalah lebih aplikatif dan inspiratif karena memberikan contoh nyata kepada siswa. Sementara itu, hambatannya antara lain adalah kebutuhan waktu yang lebih banyak dalam Banjarbaru. Kalimantan Selatan. Indonesia *email: sitifaridah@uvayabjm. Kata Kunci: Outdoor Learning. Pembelajaran Tematik. Sekolah Dasar. Keywords: Outdoor Learning. Thematic Learning. Elementary School. Abstract This study aims to determine how the implementation of learning with outdoor learning methods, as well as the supporting and inhibiting factors experienced by teachers in applying this method in thematic learning in grade i SDN 2 Kemuning. Banjarbaru. The research used qualitative methods with data sources from students, teachers, school environment, and related documents. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation, and were tested for validity through triangulation of sources and techniques. Data analysis used the Miles and Huberman model: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that the outdoor learning method is very effective in increasing students' enthusiasm in learning. However, this method has supporting and inhibiting factors. In terms of learning, the advantages are that it is more applicable and inspiring because it provides real examples to students. Meanwhile, the obstacles include the need for more time in its implementation. A2025 The Authors. Published by Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). PENDAHULUAN Terciptanya sumber daya manusia yang memiliki visi global, komitmen nasional, dan aksi lokal agar mampu menempuh era globalisasi dibutuhkan kunci utama yaitu pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu pilar dan bekal pokok dalam menyongsong masa depan, sebab pendidikan senantiasa diorientasikan sebagai upaya pengembangan sumber daya peserta didik agar mampu mengambil peran di masa yang akan datang (Fan et al. , 2. Pengembangan sumber daya peserta didik yang mumpuni tentunya akan berdampak kepada meningkatnya sumber daya manusia di Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 BAB I Pasal 1 Ayat 1 tertuang bahwa AuPendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta Siti Faridah. Ridho Indra Saputra. Saidah Tunnoor. Mahrita dan M. Ihsan Ramadhani. Penggunaan Metode Outdoor Learning Dalam Pembelajaran Tematik Peserta Didik Kelas i SDN 2 Kemuning Kota Banjarbaru didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negaraAy (UU No. 20 Tahun 2. Sebagaimana hal tersebut, sudah jelas bahwasanya pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi dan membentuk watak atau karakter peserta didik guna menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berilmu, kreatif, mandiri, bertanggung jawab, bermartabat, dan demokratis. Guru sebagai komponen dalam tenaga kependidikan menjadi sumber daya yang sangat berpengaruh dan berperan dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional (Wardani et al. , 2. Oleh karena itu, guru patut memposisikan diri sebagai guru yang ideal dan inovatif, serta menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan yang diajarkannya, terlebih pada tingkat Sekolah Dasar yang merupakan landasan awal dalam membangun kepribadian dan proses berpikir peserta didik. Selain itu, guru harus mampu beradaptasi dengan tuntutan zaman yang semakin maju dan kompetitif, serta harus kreatif untuk senantiasa menciptakan terobosan-terobosan baru. Berkenaan dengan masalah pendidikan dan guru, tentunya tidak terlepas dari yang namanya pembelajaran. Sebagai pokok dalam pendidikan, guru harus mampu berperan sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, yang mana guru harus menyediakan lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan guna tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Hal ini sejalan dengan Permendikbud Nomor 16 Tahun 2022 tentang Standar Proses pada Pendidikan Anak Usia Dini. Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah BAB i Pasal 9 Ayat 1 yang berbunyi AuPelaksanaan Pembelajaran diselenggarakan dalam suasana belajar yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, dan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didikAy (Permendikbud No. 16 Tahun 2. Kurikulum 2013, pembelajaran di Sekolah Dasar menggunakan pembelajaran tematik yang memadukan seluruh muatan pelajaran ke dalam tema tertentu. Dengan pembelajaran tematik ini, diharapkan dapat tercipta pembelajaran yang terintegrasi antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap sehingga melahirkan peserta didik yang aktif dan inovatif. Selain itu, guru juga diharapkan menjadi partner peserta didik yang mampu memahami karakteristik dan kebutuhan mereka. Pembelajaran tematik memungkinkan siswa meneliti, mengeksplorasi konsep secara holistik, serta mengaitkannya dengan pengalaman nyata (Setiawan et al. , 2. Teori ini berakar pada Psikologi Gestalt dan pemikiran Piaget yang menekankan pembelajaran bermakna dan kontekstual. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak guru yang menggunakan metode monoton, sehingga peserta didik merasa jenuh. Sebagian guru masih beranggapan bahwa pembelajaran cukup dilakukan di dalam kelas, padahal variasi metode sangat dibutuhkan (Karlina et al. , 2. Ngalimun . juga menyatakan bahwa kemampuan memilih metode pembelajaran yang tepat dan inovatif merupakan aspek penting dalam keberhasilan pembelajaran. Maka dari itu, guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan menantang, salah satunya melalui metode outdoor learning. Metode outdoor learning merupakan metode pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media belajar. Dengan metode ini, peserta didik tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga psikomotorik dan afektif melalui pengalaman langsung (Hines, 2. Selain memberikan penyegaran dari rutinitas kelas, metode outdoor learning juga mampu meningkatkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan serta memperkuat daya ingat mereka terhadap materi Metode ini dianggap relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini yang mengedepankan pengalaman bermakna, keterampilan abad 21, dan keseimbangan emosional peserta didik. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini dipilih karena peneliti ingin memahami secara mendalam proses dan makna dari suatu peristiwa, bukan sekadar melihat data dalam bentuk angka. Menurut Afrizal . , penelitian kualitatif berfokus pada pengumpulan data berupa cerita, tulisan, dan perilaku manusia, yang kemudian dianalisis tanpa harus mengubahnya menjadi angka. Hal ini berbeda dengan penelitian kuantitatif yang cenderung menghitung dan mengukur data secara statistik. Sugiyono . juga menyebutkan bahwa penelitian kualitatif bertujuan memahami kondisi yang alami, artinya peneliti langsung terjun ke lapangan, mengamati dan berinteraksi dengan objek yang diteliti. Data dikumpulkan dari berbagai sumber dan dianalisis secara deskriptif. Fokus utamanya adalah makna, bukan generalisasi. Jenis penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah studi kasus. Menurut Hariwijaya . , studi kasus memungkinkan peneliti menggali informasi secara menyeluruh dari berbagai sumber, untuk memahami satu peristiwa, kelompok, atau tempat secara mendalam. Dalam studi kasus, data bisa dikumpulkan lewat wawancara, observasi, dokumen, atau bahkan rekaman suara. Anterior Jurnal. Volume 24 Issue II. Mei 2025. Page 53 Ae 57 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 Dalam penelitian ini, peneliti hadir secara langsung di lokasi penelitian. Sebagai "alat utama" dalam penelitian kualitatif, peneliti tidak hanya mengamati tapi juga berinteraksi dengan lingkungan dan subjek yang diteliti. Kehadiran ini penting untuk menangkap makna yang mungkin tidak bisa ditemukan hanya lewat dokumen atau angka. Penelitian bertempat di SDN 2 Kemuning Kota Banjarbaru yang terletak di Jalan Kartini. Melibatkan dua kelas, yakni kelas i A dan kelas i B, dengan jumlah peserta didik sebanyak 34 orang yang terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 15 siswa Sekolah ini berada di tengah kota, dekat dengan perkantoran dan sekolah lain, sehingga cukup ramai. Fasilitas sekolah cukup lengkap, terdiri dari 12 ruang kelas dan beberapa ruangan pendukung. Data dalam penelitian ini berupa deskripsi, seperti hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumen. Prastowo . dan Afrizal . menyebutkan bahwa data kualitatif umumnya berupa kata-kata dan perilaku, bukan angka-angka. Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua : Data primer: berasal langsung dari lapangan dan orang-orang yang terlibat, seperti kepala sekolah, guru, peserta didik, dan lingkungan kelas serta sekolah. Data sekunder: berasal dari dokumen pendukung seperti profil sekolah, data guru dan siswa, jurnal harian, serta dokumen administrasi sekolah lainnya. Untuk memperoleh data yang akurat, peneliti menggunakan tiga teknik utama, yaitu observasi, wawancara, dan Melalui observasi, peneliti mengamati langsung proses pembelajaran di kelas, khususnya bagaimana metode outdoor learning diterapkan dan bagaimana respons peserta didik terhadap metode tersebut. Teknik wawancara dilakukan dengan melibatkan guru, kepala sekolah, dan siswa agar peneliti mendapatkan perspektif dari berbagai pihak yang terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, peneliti juga mengumpulkan berbagai dokumen relevan seperti jadwal pembelajaran, perangkat ajar, serta data sekolah lainnya sebagai pelengkap informasi. Untuk memastikan keabsahan data, peneliti melakukan triangulasi, yaitu membandingkan data dari berbagai sumber . epala sekolah, guru, dan sisw. dan berbagai teknik . bservasi, wawancara, dan dokumentas. , sebagaimana dijelaskan Afrizal . Langkah ini penting untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan valid dan tidak bias. Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan sejak awal pengumpulan data dan berlangsung secara terus-menerus. Mengacu pada Miles dan Huberman . , analisis dilakukan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap reduksi data, informasi yang diperoleh diseleksi dan dikodekan untuk mempermudah analisis lebih lanjut. Selanjutnya, data yang telah dikodekan disajikan dalam bentuk tabel, matriks, atau diagram agar lebih mudah dipahami. Terakhir, peneliti menarik kesimpulan berdasarkan interpretasi terhadap data yang telah dianalisis secara menyeluruh. Ketiga tahapan ini dilakukan secara berulang hingga peneliti mendapatkan pemahaman yang benar-benar merefleksikan kondisi nyata di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Untuk memperoleh data yang akurat, peneliti menggunakan tiga teknik utama, yaitu observasi, wawancara, dan Melalui observasi, peneliti mengamati langsung proses pembelajaran di kelas, khususnya bagaimana metode outdoor learning diterapkan dan bagaimana respons peserta didik terhadap metode tersebut. Teknik wawancara dilakukan dengan melibatkan guru, kepala sekolah, dan siswa agar peneliti mendapatkan perspektif dari berbagai pihak yang terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, peneliti juga mengumpulkan berbagai dokumen relevan seperti jadwal pembelajaran, perangkat ajar, serta data sekolah lainnya sebagai pelengkap informasi. Untuk memastikan keabsahan data, peneliti melakukan triangulasi, yaitu membandingkan data dari berbagai sumber . epala sekolah, guru, dan sisw. dan berbagai teknik . bservasi, wawancara, dan dokumentas. , sebagaimana dijelaskan Afrizal . Langkah ini penting untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan valid dan tidak bias. Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan sejak awal pengumpulan data dan berlangsung secara terus-menerus. Mengacu pada Miles dan Huberman . , analisis dilakukan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap reduksi data, informasi yang diperoleh diseleksi dan dikodekan untuk mempermudah analisis lebih lanjut. Selanjutnya, data yang telah dikodekan disajikan dalam bentuk tabel, matriks, atau diagram agar lebih mudah dipahami. Terakhir, peneliti menarik kesimpulan berdasarkan interpretasi terhadap data yang telah dianalisis secara menyeluruh. Ketiga tahapan ini dilakukan secara berulang hingga peneliti mendapatkan pemahaman yang benar-benar merefleksikan kondisi nyata di lapangan. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, terlihat bahwa peserta didik tampak lebih antusias dan bersemangat saat mengikuti pembelajaran tematik dengan metode outdoor learning. Mereka tampak aktif bekerja sama dalam kelompok, saling berdiskusi, dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran di alam terbuka. Kegiatan belajar tidak hanya menjadi lebih hidup, tetapi juga memberi ruang bagi anak-anak untuk mengeksplorasi dan memahami materi dengan cara yang lebih Siti Faridah. Ridho Indra Saputra. Saidah Tunnoor. Mahrita dan M. Ihsan Ramadhani. Penggunaan Metode Outdoor Learning Dalam Pembelajaran Tematik Peserta Didik Kelas i SDN 2 Kemuning Kota Banjarbaru Guru pun menjalankan perannya dengan baik, membimbing dan mengarahkan peserta didik melalui tahapan-tahapan pembelajaran yang telah dirancang. Di kelas i A dan i B, metode ini diterapkan secara berkelompok, meskipun terdapat sedikit perbedaan dalam pendekatan. Guru kelas i A tidak menyertakan aktivitas observasi dalam tugas kelompok, sementara guru kelas i B menjadikannya bagian penting dalam proses belajar. Perbedaan juga tampak pada lokasi pembelajaran: kelas i A lebih sering belajar di luar lingkungan sekolah, sedangkan kelas i B memanfaatkan area sekolah seperti halaman dan taman sebagai ruang belajar. Interaksi antara guru dan peserta didik pun berlangsung hangat dan dinamis. Anak-anak aktif bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru, menunjukkan keterlibatan mereka dalam pembelajaran. Setiap kelompok bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, lalu mempresentasikan hasil kerja mereka di depan kelas secara bergiliran. Suasana belajar pun terasa hidup dan penuh semangat. Selain observasi, peneliti juga menggali data melalui wawancara. Ketika ditanya tentang pengalaman belajar dengan metode outdoor learning, para peserta didik dari kelas i A dan i B, seperti DM. RJ. MS, dan PI, menyampaikan kesan yang Sebagian besar merasa bahwa belajar di luar kelas itu menyenangkan dan memberi pengalaman baru. Mereka menyukai udara segar dan suasana yang tidak membosankan. Namun, ada pula yang merasa kurang nyaman karena tidak adanya meja, kursi, dan kipas angin seperti di dalam kelas. Perbedaan preferensi ini menunjukkan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan dan cara belajar yang berbeda, dan hal itu menjadi pertimbangan penting dalam perencanaan Dari sisi guru. Ibu R . elas i A) dan Ibu N . elas i B) sama-sama menyatakan bahwa pembelajaran tematik dengan metode outdoor learning sangat efektif. Mereka merasa bahwa kegiatan ini memberi peluang bagi peserta didik untuk melihat dan memahami materi secara lebih konkret. Ibu Ra, misalnya, merasa bahwa pembelajaran di taman kota atau lapangan terbuka membuat siswa lebih kreatif dan berpikir luas. Sementara Ibu Ne lebih sering menggunakan lingkungan sekolah sebagai tempat belajar demi efisiensi waktu dan tenaga, meskipun sesekali juga mengajak siswa keluar, seperti ke museum atau kebun raya. Keduanya sepakat bahwa pengalaman nyata di lapangan membantu siswa mengaitkan teori dengan kehidupan sehari-hari dan membentuk pemahaman yang lebih mendalam. Namun, pelaksanaan metode ini tentu tidak lepas dari tantangan. Menurut kedua guru, beberapa hambatan yang sering muncul antara lain adalah keterbatasan waktu, tenaga, dan dukungan dari berbagai pihak. Selain itu, proses persiapan yang lebih kompleks, pengelolaan kelas yang lebih menantang di ruang terbuka, serta potensi gangguan konsentrasi juga menjadi catatan penting. Beberapa siswa bahkan bisa kehilangan fokus karena terlalu menikmati suasana di luar kelas. Meski demikian, para guru tetap optimis dan bersemangat dalam menerapkan metode ini. Mereka percaya bahwa metode outdoor learning tidak hanya memberi variasi dalam pembelajaran, tetapi juga membantu siswa untuk lebih aktif, kreatif, dan bertanggung jawab. Harapannya, dengan dukungan yang memadai dari sekolah dan orang tua, pembelajaran tematik melalui metode outdoor learning dapat terus dikembangkan demi menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan bagi semua peserta didik. Pembahasan Penelitian ini merupakan bagian dari upaya untuk memahami secara mendalam bagaimana metode outdoor learning diterapkan dalam pembelajaran tematik di Sekolah Dasar Negeri 2 Kemuning. Kota Banjarbaru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan melibatkan dua kelas, yakni kelas i A dan kelas i B, dengan jumlah peserta didik sebanyak 34 orang yang terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Fokus penelitian terletak pada aktivitas guru dan peserta didik selama pembelajaran tematik berlangsung di luar kelas. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil observasi, terlihat bahwa pelaksanaan outdoor learning telah dilakukan dengan sangat baik. Peserta didik tampak begitu antusias, aktif, dan menikmati proses belajar yang tidak lagi terbatas oleh dinding kelas. Mereka berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar, bekerja sama dalam kelompok, serta mengeksplorasi materi pembelajaran melalui pengalaman nyata. Guru juga menunjukkan peran yang sangat penting dalam keberhasilan metode ini, dengan menyusun alur pembelajaran secara runtut dan menerapkan perangkat ajar dengan baik. Proses pembelajaran terasa lebih hidup, menyenangkan, dan penuh makna. Hasil wawancara dengan guru dan peserta didik turut memperkuat temuan observasi. Guru menyampaikan bahwa metode outdoor learning memberikan contoh konkret dari materi yang diajarkan, sehingga mendorong siswa berpikir lebih luas dan kreatif. Sementara itu, peserta didik mengungkapkan bahwa mereka merasa lebih semangat dan senang ketika belajar di luar kelas. Lingkungan terbuka memberi ruang bagi mereka untuk bergerak bebas, berinteraksi, dan belajar melalui pengalaman nyata. Pembelajaran dapat dilakukan di halaman sekolah maupun di luar lingkungan sekolah, tergantung pada tujuan dan materi yang ingin dicapai. Hal ini sejalan dengan pandangan Crismono . yang menyatakan bahwa Anterior Jurnal. Volume 24 Issue II. Mei 2025. Page 53 Ae 57 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 pembelajaran tematik berbasis outdoor learning memiliki nilai penting karena memberi pengalaman langsung yang berpengaruh terhadap perkembangan peserta didik. Meski begitu, dalam pelaksanaannya terdapat faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung antara lain: pembelajaran menjadi lebih inspiratif dan bermakna karena lingkungan belajar yang berbeda dari biasanya. didik menjadi lebih kreatif dalam menyusun dan menyimpulkan informasi. kejenuhan belajar dapat diminimalkan karena suasana belajar yang segar dan tidak monoton. aktivitas fisik meningkat karena siswa dapat bergerak dengan lebih bebas. hubungan emosional antara guru dan siswa menjadi lebih erat. dan pembelajaran menjadi lebih aplikatif karena materi dikaitkan dengan peristiwa nyata di sekitar mereka. Sementara itu, faktor penghambat meliputi: anggapan bahwa metode ini sulit diterapkan dan kurang efektif. membutuhkan waktu lebih banyak dalam perencanaan dan pelaksanaan. kelas menjadi lebih menantang terutama jika terjadi gangguan cuaca atau situasi tak terduga lainnya. potensi siswa kehilangan fokus karena terlalu asyik bermain. serta tuntutan waktu dan tenaga bagi guru untuk menyusun perangkat ajar yang sesuai. Temuan dari penelitian ini diperkuat oleh penelitian Nugraha et al. yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Primary Education berjudul AuDesain Pembelajaran Tematik Berbasis Outdoor Learning di Sekolah DasarAy. Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa outdoor learning mampu menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik serta memberikan pengalaman belajar yang nyata dan menyenangkan. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran tematik dengan metode outdoor learning layak untuk terus dikembangkan karena dapat memberikan dampak positif terhadap keterlibatan, kreativitas, dan pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran. Lebih dari itu, pembelajaran menjadi sebuah proses yang lebih humanis mendekatkan siswa pada lingkungan dan kehidupan nyata serta menguatkan hubungan antara guru dan peserta didik dalam suasana yang lebih alami dan menyenangkan. REFERENSI