Davar: Jurnal Teologi ISSN 2722-905X . , 2722-9041 . Vol. No. : 73-84 http://e-journalsangkakala. id/index. php/DJT REALITAS DAN PROBLEMATIKA KEMAJEMUKAN AGAMA DI INDONESIA: UPAYA MERAJUT PLURALITAS AGAMA Oey Natanael Winanto1. Jelita Wori Hana2. Daud Margiat3. Ronio Otniel Panggabean4 Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta1, 2, 3, 4 natanaelwinanto@gmail. com, jelitahana07@gmail. com, daudmargiat@gmail. roniopanggabean@gmail. ABSTRACT This research highlights the uniqueness of Indonesia's religious diversity. Indonesia comprises various ethnicities, cultures, religions, and beliefs, a reality that must be recognized and respected in national life. As a reality, religious plurality in Indonesian society is evident in the various religions practiced and embraced by Indonesians, as well as the various schools of thought and religious institutions within each religious community. This research aims to examine religious plurality in Indonesian society, along with its respective phenomena and challenges. How can religious communities in Indonesia accept the reality of plurality and resolve its problems? This research employs a qualitative method, focusing on observations based on actual events and emphasizing the quality of the entity. This study collects and analyzes relevant literature related to the reality and challenges of religious pluralism in Indonesia. The results of this study indicate that religious plurality in Indonesia is a historical fact that has become an inseparable part of Indonesian history. Therefore, this situation must be recognized and accepted by all religious communities in Indonesia. This approach is expected to foster a more harmonious and tolerant Indonesian society. Keywords: Religious Plurality. Reality. Problems. ABSTRAK Penelitian ini menyoroti keragaman agama di Indonesia yang memiliki keistimewaan. Negara Indonesia terdiri dari berbagai suku, budaya, agama dan kepercayaan dengan pluralitas yang merupakan realitas yang harus diakui dan dihargai dalam kehidupan berbangsa. Sebagai sebuah realitas, pluralitas keagamaan dalam kehidupan masyatakat Indonesia dilihat pada berbagai agama yang hidup dan dianut oleh masyarakat Indonesia serta berbagai aliran pemahaman dan lembaga keagamaan di dalam masingmasing intern umat beragama itu sendiri. Penelitian ini bertujuan mengkaji pluralitas keagamaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia dengan fenomena dan problematika masing-masing. Bagaimanakah umat beragama di Indonesia dapat menerima realitas pluralitas dan menyelesaikan problematikanya? Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang berfokus pada pengamatan berdasarkan peristiwa yang terjadi dan lebih menekankan pada kualitas entitasnya. Dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai literatur yang relevan terkait dengan realitas dan problematika kemajemukan agama di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa pluralitas keagamaan di Indonesia merupakan sebuah fakta sejarah yang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah bangsa indonesia, maka keadaan ini harus disadari dan diterima semua umat beragama di Indonesia. Pada pendekatan ini diharapkan dapat membentuk masyarakat Indonesia lebih haromonis dan toleran dalam beragama. Kata Kunci : Pluralitas Keagamaan. Realitas. Problematika. PENDAHULUAN Tidak banyak negara di dunia yang memiliki berbagai keistimewaan seperti Indonesia, yakni sebagai negara pluralis. Kenyataan ini bukan hanya tercermin pada suku bangsa, masyarakat dan adat-istiadatnya, tapi juga pada keyakinan keagamaannya. Kondisi sedemikian ini, disatu sisi merupakan suatu AuberkatAy yang amat luar biasa. Tetapi, disisi lainnya juga merupakan suatu tantangan dan pergumulan yang amat serius. Oleh karena itu, tidak dapat lagi dipungkiri atau bahkan ditutup-tutupi bahwa pluralitas keagamaan di Indonesia merupakan sebuah realitas dan problema yang harus disadari, digumuli dan dicarikan jalan keluarnya. Hal ini harus dilakukan oleh semua umat beragama di Indonesia, tanpa terkecuali, termasuk Kristen, agar terjalin relasi yang kondusif dalam suasana saling menghormati dan menghargai satu dengan lainnya. Sehingga dapat selalu tercipta keharmonisan dari waktu ke waktu, seirama dengan perkembangan zaman. Ruhulessin menyatakan bahwa pluralitas masyarakat Indonesia adalah fakta objektif dari kenyataan Indonesia yang sesungguhnya, baik secara agama, kultural, etnis, pandangan hidup, bahasa, adat istiadat, dan lain-lain. Pluralisme keagamaan di Indonesia bukanlah suatu ancaman, melainkan potensi besar untuk memperkuat persatuan dalam kebhinekaan. Dibutuhkan suatu komitmen bersama dari semua pihak untuk terus merawat hubungan antar umat beragama secara dialogis, damai, dan konstruktif demi masa depan Indonesia yang harmonis. Pluralitas keagamaan di Indonesia adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari, karena merupakan bagian dari identitas bangsa. Untuk menjagan keharmonisan, diperlukan sikap saling menghargai, keterbukaan dalam dialog, serta kebijakan negara yang adil bagi semua agama. Pluralitas agama harus dipandang sebagai bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dilenyapkan tetapi harus disikapi. Pluralitas bukan hal yang merugikan bagi keberadaan kehidupan. Pluralitas agama merupakan sebuah tantangan kompleks yang membutuhkan pemahaman yang mendalam serta upaya konkret dalam menjaga harmoni dan kebersamaan. 3 Adanya pluralitas dalam kehidupan masyarakat sesungguhnya membuat kehidupan masyarakat itu dinamis, penuh warna, tidak membosankan, dan membuat antara satu dengan lainnya saling melengkapi dan membutuhkan. Sebagai bagian dari pluralitas agama, kekristenan memiliki pandangan dan sikap terhadap pluralitas agama. Pluralisme adalah sikap dan keyakinan bahwa perbedaan dalam pandangan, agama, kepercayaan, etnisitas, budaya dan latar belakang sosial adalah sesuatu yang bernilai dan penting dalam masyarakat. 4 Pluralisme dalam kekristenan merupakan ajaran kasih sayang kepada sesama manusia yang tidak memandang perbedaan, sebagaimana terdapat Sekolah Tinggi et al. AuPluralitas Ke-Indonesian Sila Pertama : Suatu Realitas Ideal Dan Theologis Dalam Lensa Pancasila PendahuluanAy 4 . : 1Ae11. Muhammad Zainal Abidin et al. AuKONSEP TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA PERSPEKTIFAy 05, no. Meninggalkan Agama and Yang Dianut. AuMerawat Kebersaman Di Tengah Pluralitas Agama Tanpa Meningalkan Agama Yang Di AnutAy 3, no. : 682Ae688. Analisis Bentuk-bentuk Pluralisme and D A N Analisis. AuAnalisis Bentuk-Bentuk Pluralisme Dan Analisis Dasar Keanekaramagan KulturalAy 4, no. : 45Ae54. dalam Alkitab yang mengajarkan hukum kasih kepada Allah dan dan kasih kepada manusia (Matius 22:37-. 5 Saling menghargai dan memahami perbedaan dapat membangun pemahaman yang lebih baik dan mampu bekerja sama dilingkungan masyarakat. Pluralisme agama menekan pentingnya kesadaran komunal mengenai kesetaraan hak dan kewajiban antarumat beragama. 6 Pluralisme agama merupakan pengakuan dan penerimaan terhadap perbedaan dan keberagaman agama. Hidup berdampingan antarumat beragama secara harmonis tanpa harus mengubah keyakinan masing-masing. Para pengusung pluralisme agama berharap tidak ada lagi agama yang mengklaim sebagai pemilik kebenaran hakiki. 7 Paul Knitter mengatakan bahwa toleransi beragama itu didasarkan pada pandangan dan sikap yang acuh tak acuh terhadap pihak agama lain. Oleh karena itu, tidak seharusnya ada satu agama yang mengklaim sebagai pemilik tunggal kebenaran absolut. Sebagai sebuah realitas, pluralitas keagamaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia dilihat pada berbagai agama yang hidup dan dianut oleh masyarakat Indonesia serta berbagai aliran pemahaman dan lembaga keagamaan di dalam masing-masing intern umat beragama itu Kedua fenomena ini dengan sendirinya menimbulkan problema masing-masing. Yang menjadi tujuan penelitian ini adalah menjawab bagaimana umat beragama di Indonesia dapat menerima realitas pluralitas itu dan menyelesaikan problemanya? METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi literatur. Metode ini menjelaskan dan menganalisis fenomena individu atau kelompok, peristiwa, dinamika sosial, sikap, keyakinan, dan persepsi. Penelitian kualitatif merupakan studi yang meneliti suatu kualitas hubungan, aktivitas, situasi atau berbagai material, artinya penelitian kaulitatif lebih menekankan pada deskripsi holistik, yang dapat menjelaskan secara detail tentang kegiatan atau situasi apa yang sedang berlangsung. 9 Dalam kegiatan pengumpulan data rangkain kegiatan yang dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan, dengan menggunakan istrumen tertentu sesuai dengan kerakteristrik fakta yang akan dipelajari atau diselidiki. 10 Dapat simpulkan bahwa penilitian ini adalah suatu proses eksplorasi berbasis ilmiah untuk mendapatkan solusi yang tepat dengan metode ilmiah melalui mengumpulkan, mengelola. M Thoriqul Huda and Isna Alfi Maghfiroh. AuPluralisme Dalam Pandangan Pemuda Lintas Agama Di SurabayaAy 2 . : 1Ae21. Lasmaria Nami Simanungkalit et al. AuJurnal Ilmu Pendidikan Nasional Pluralisme Agama Ditinjau Dari Perspektif Kristen Dalam Pengajaran Pendidikan Agama Kristen ( PAK ) Jurnal Ilmu Pendidikan NasionalAy 2 . : 120Ae124. (Armayanto, n. Stanley R Rambitan. AuPLURALITAS AGAMA DALAM PANDANGAN KRISTEN DAN IMPLIKASINYA BAGI PENGAJARAN PAK Stanley R. RambitanAy 1, no. : 93Ae108. Fildza Malahati et al. AuKualitatif : Memahami Karakteristik Penelitian Sebagai Metodologi,Ay Jurnal Pendidikan Dasar 11, no. : 341Ae348. Djaali. Metodologi Penelitian Kuantitatif (Jakarta Timur: PT. Bumi Aksara, 2. menganalisis serta menyimpulkan data untuk menjawab permasalahan. 11 Penelitian ini berfokus pada pengamatan mendalam pada analisis literatur yang berkaitan dengan proses analisis serta eksplorasi mendalam terhadap berbagai konsep dan teori yang terkait dengan pendekatan pluralitas keagamaan umat beragama di Indonesia dalam menerima realitas pluralitas dan menyelesaikan problemanya. HASIL DAN PEMBAHASAN Agama-agama di Indonesia: Asli dan Pendatang Secara de facto berbagai agama-agama besar di dunia, memang hidup dan berkembang di Indonesia dengan suburnya. Meskipun mereka semua merupakan Auagama pendatangAy, dalam arti bukan agama asli yang dianut dan diimani oleh masyarakat Indonesia pada awalnya. Animisme dan berbagai isme lainnya yang lebih bersifat mistik telah ada sejak mulanya di Indonesia. Bukti-bukti secara arkeologi, maupun berbagai peninggalan yang masih tersisa hingga kini dapat menjelaskan hal itu, bahkan hingga kini masih ada sebagian suku-suku di berbagai pelosok Nusantara yang melakukan ritual keyakinannya. Misalnya, pada berbagai suku di pedalaman Papua. Kalimantan dan Sulawesi Tengah. Oleh karena itu, berbagai klaim yang disampaikan oleh pihak tertentu dengan menyatakan bahwa masyarakat Indonesia telah menganut agama tertentu sebelumnya, yang termasuk agama-agama besar di dunia, jelaslah tidak dapat dibenarkan. Dalam bukunya AuPantekosta Indonesia Suatu SejarahAy. Nicky. Sumual menjelaskan: AuJauh sebelum agamaagama datang menjamah Indonesia, manusia-manusia purbakala, nenek moyang Indonesia menyembah gunung-gunung atau pohon-pohon besar, atau benda yang dianggap keramatAy. Pada perkembangan selanjutnya seiring dengan berjalannya wakt, secara berturutan, berbagai agama mulai merambah dan menapakkan kakinya di bumi Indonesia. Sekitar Abad ke-tujuh, agama Buddha mulai singgah dan menetap di beberapa kerajaan Nusantara. Kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan Kerajaan Majapahit di Jawa merupakan contoh nyatanya. Walaupun saat ini populasi penganutnya tidak sebanyak waktu lalu, agama Buddha tetap hidup dan berkembang di Indonesia. Bahkan, agama Buddha telah meninggalkan warisan yang sangat monumental hingga kini, dan termasuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban di dunia, yaitu Candi Borobudur. Berdasarkan tradisi, agama Hindu berkembang di Bali di sekitar abad ke-lima, dengan tokohnya Sri Markandeya. Bahkan, diyakini beliaulah yang memberikan nama Bali untuk pulau itu. Tak mengherankan, jika agama Hindu menjadi sangat berakar di masyarakat Bali Feliks Arfid Guampe. Universitas Kristen Tentena, and Jakub Saddam Akbar. METODE PENELITIAN KUALITATIF (Teori & Panduan Praktis Analisis Data Kualitati. , 2023. Nicky J. Sumual. Pantekosta Indonesia Suatu Sejarah, 1981. Slamet Muijana. Runtuhan Kerajaan Hindu Jawa Dan Timbulnya Negara-Negara Islam Di Nusantara (Yogyakarta: Printing Cemerlang, 2. hingga kini. Sama seperti agama Buddha. Hindupun meninggalkan warisannya yang fenomenal yaitu berupa Pura Besakih. Kedatangan agama Islam di Indonesia terjadi di sekitar abad ke-tiga-belas . melalui jalur perdagangan dengan orang-orang India (Gujara. Persia dan Arab. Sesuai dengan karakteristiknya. Islam ternyata lebih mudah di terima sebagian besar masyarakat Indonesia sehingga ia dapat berkembang dengan cepat ke hampir seluruh Nusantara, sebagai anutan dari mayoritas rakyat Indonesia. Kalangan Katolik Roma menyebutkan bahwa agama Kristen telah hadir di Indonesia melalui kedatangan sejumlah pedagang yang beragama Kristen Nestorian dari Timur Tengah sejak abad ke-tujuh. Namun, selanjutnya hilang dan punah. 14 Fakta yang lebih jelas menyatakan. Katolik berkembang di Indonesia sejak kedatangan orang-orang . edagang dan prajuri. Portugis sejak tahun 1511. Agama ini pertama kali muncul di wilayah kepulauan Maluku. 15 Tokoh yang menonjol adalah Franciscus Xaverius. Kini, bersadarkan data Departeman Agama RI, jumlah umat Katolik di Indonesia berkisar 7-8 juta umat (Buku Data Depag 1993:33-. Agama Kristen Protestan mulai menyebar di Indonesia bersamaan dengan kedatangan VOC pada tahun 1602, setelah mereka menggantikan pengaruh Portugis yang sebelumnya telah memperkenalkan Kristen Katolik di beberapa wilayah Nusantara sejak abad ke-16. 16 Pada abad ke 17 hingga ke Ae19 penyebaran agama Kristen Protestan di Indonesia berkembang pesat seiring dengan pengaruh penjajahan Belanda. Penyebaran agama Kristen di Indonesia baik yang dilakukan oleh misionaris Katolik dan Protestan, menimbulkan konflik dan dampak sosial Ae politik yang besar. Dalam hal ini terlihat antara hubungan antara penjajah dan masyarakat lokal, serta perubahan sosial yang terjadi di masyarakat Indonesia. 17 Setelah mereka berhasil menaklukkan kekuatan dagang dan militer yang dikuasai Portugis dibeberapa kawasan Nusantara, selanjutnya agama Kristen dengan berbagai alirannya. Protestan. Pantekosta dan Injili terus berkembang hingga kini. Berbagai agama yang datang secara silih berganti dan melalui rentang waktu yang panjang tidaklah terjadi dengan mulus, melainkan melewati berbagai konflik yang masih tersisakan hingga kini. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai kerusuhan yang bermotifkan SARA, yang terus bergejolak di berbagai daerah Nusantara. Jan S. Aritonang. Berbagai Aliran Di Dalam Dan Di Sekitar Gereja. Cetakan Ke-15 . akarta: BPK Gunung Mulia, 2. Widyastuti Purbani Darmiyati Zuchdi. Belajar Bahasa Indonesia Berbasis Budaya (Yogyakarta: KMedia, 2. (Aritonang, 2003, 46-. Surimawati Laia and uuslina Halawa. AuSejarah Gereja Di Indonesia : Peran Misionaris Dalam Penyebaran Kekristenan Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar ( SETIA ) Jakarta . Indonesia Gereja-Gereja Katolik Dan Protestan Arus Calvinis Dan Lutheran . Selain Itu . Pembahasan Juga Gereja Nestorian Di Indonesia. Misi Gereja Katolik Di Indonesia . Tersebarnya Kristen ProtestanAy 2 . Pluralitas Keagamaan: Menerima atau Menolak Sejarah selalu mengungkapkan fakta yang jujur dan apa adanya. Meskipun, bergantung juga pada siapa yang memberikan apresiasi terhadapnya, prespektif dan posisinya dalam Oleh karena pluralitas keagamaan di Indonesia merupakan sebuah fakta sejarah yang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia, maka keadaan ini harus disadari dan diterima semua umat beragama di Indonesia. Namun demikian, hal ini tidaklah menutup kemungkinan adanya sikap yang bertentangan satu dengan lainnya, menerima atau menolak pluralitas keagamaan itu. Apapun sikap yang diberikan, semuanya tetap mengandung resiko. Bagi mereka yang menolak, mereka dikategorikan memiliki sikap anti-pluralisme, sedangkan yang menerima dikategorikan memiliki sikap pluralisme. Kelompok anti-pluralisme sering kali secara frontal dan keras menolak realitas keberagaman agama maupun aliran keagamaan, dan memandangnya sebagai kondisi yang tidak semestinya terjadi. Bagi mereka, hanya satu agama bahkan satu aliran tertentu dalam agama itu yang dianggap benar, sementara keyakinan di luar pemahaman tersebut dinilai keliru, menyimpang, bahkan sesat. Dalam pandangan mereka, para penganut Auagama palsuAy atau Aualiran sesatAy harus diarahkan untuk menerima kebenaran versi mereka, dan jika tidak, dianggap sebagai ancaman yang layak dimusuhi atau bahkan disingkirkan. Sikap eksklusif dan intoleran semacam ini menjadi lahan subur bagi lahirnya gerakan-gerakan radikal yang dibalut oleh fanatisme sempit dan menolak dialog antar-iman. Situasi dan kondisi ini tidak akan bisa disangkal lagi, maka sangat sulit bagi agama lain untuk menjadi eksklusif dalam dogmatisme Dari prespektif keberagamaan, sikap anti-pluralisme tidaklah semuanya keliru. Sebab sikap pluralis berawal dari penerimaan tentang sesuatu yang diyakini seseorang sebagai kebenaran sejati, yang membawa manusia pada kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan. Keyakinan agama merupakan sesuatu yang bersifat dogmatik, tidak memberi tempat pada keraguan dan pertanyaan. Tanpa hal itu, maka sikap pluralis tidak memiliki landasan yang kuat, pasti dan tidak dapat menimbulkan kesediaan berkorban untuk menegakkan kebenaran yang Masalahnya adalah sikap anti-pluralisme itu berujung pada sikap tidak toleran. Hal ini pada gilirannya akan melahirkan konflik di kalanganantar maupun inter umat beragama. Jadi jelaslah bahwa sikap anti-pluralisme merupakan sikap yang tidak sosial dan tidak Dalam hal ini dapat melemahkan nilaiAenilai kemanusiaan serta menimbulkan pontensi konflik didalam masyarakat. Maka sangat pentingnya membangun sikap toleransi yang bertujuan untuk menjaga harmoni sosial, tetap hidup berdampingan tanpa menimbulkan konflik-konflik sosial dilingkungan masyarakat. Hidup toleransi adalah cara hidup seseorang dimana mampu menghargai, menghormati dan menerima perbedaan orang lain, baik perbedaan suku, rasa, budaya bahkan agama. Toleransi dalam istilah budaya, sosial dan politik merupakan (Cardoso, 2023, . suatu simbol kompromi dari beberapa kekuatan yang saling tarik menarik atau saling berkonfrontasi untuk saling membela kepentingan bersama dan saling memperjuangkannya. Dalam kekeristen sangat menjujung tingi membagun hidup toleransi, berakar pada ajaran Yesus mengasihi sesama, serta menghormati orang lain tanpa memandang latar Toleransi merupakan satu sikap yang sangat diperlukan hidup ditengahAetengah masyarakat yang majemuk. Setiap manusia wajib menerima manusia lain dengan baik dan menjadi salah satu bentuk perilaku yang tidak tertutup, menerima secara iklas tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Toleransi dalam kekeristenan selalu berakar pada pondasi teologisnya yang berlandaskan kasih. Sikap toleransi kristen tidak bersifat pasif, melainkan proaktif dalam membangun relasi. Dalam kekeristenan mengembangkan konsep toleransi yang mengakomodasi perbedaan tanpa meniadakan komitmen iman. Dengan keunikannya terletak pada integrasi antara kasih, martabat manusia, komitmen iman, dan spritualitas. Merajut Jaring Kerja Sama Berbagai isu yang selalu berkembang dalam masyarakat adalah masalah penyebaran agama, yang dianggap mengganggu kerukunan hidup umat beragama. Dari perspektif keyakinan beragama masing-masing, penyebaran agama merupakan suatu tugas mulia, sebab bertujuan ingin menolong dan menyelamatkan orang lain dari kesesatan dan dosa mereka. Sebaliknya bagi pihak lainnya penyebaran agama itu dianggap sebagai ingin menyesatkan Kedua perspektif yang bertentangan ini sebenarnya didorong oleh niat dan motivasi yang baik untuk mengajak dan menolong orang lain pada keselamatan. Kini hal itu perlu dipikirkan bersama bagaimana tugas mulia bagi masing-masing umat beragama itu dapat dilaksanakan tanpa menimbulkan pertentangan dan keresahan. Berbagai sikap dan cara yang mengarah pada konfrontasi ataupun pertentangan sedapat mungkin dikurangi atau bahkan dihindarkan. Djohan Effendi dalam AuAgama dalam DialogAy mengusulkan, penggunaan media massa modern yang tidak Auface to faceAy sebagai sesuatu yang jauh lebih aman. 20 Dengan demikian manusia tidak lagi diperlakukan sebagai objek semata, melainkan sebagai subyek yang aktif dan bebas menentukan pilihannya sendiri yang sesuai dengan apa yang diyakininya. Sarana lain yang perlu dipikirkan dan ditindaklanjuti guna menjadi jembatan bagi saling pengertian diantara umat beragama adalah berbagai aktivitas yang bersifat sosial terhadap orang-orang lain yang tidak seagama, baik yang dilakukan secara bersama-sama atau sendiri-sendiri, secara murni tanpa dikaitkan dengan usaha-usaha penyebaran agama. Selain itu ada juga cara lainnya yang dapat diusulkan dan digumuli terus-menerus secara bersama- Suha Paramitha. AuPengaruh Berita Toleransi Beragama Dimedia Online Terhadap Sikap Toleransi Siswa Kelas 3 SMA Di PekanbaruAy 6 . : 1Ae6. Olaf Herbert Schumanan. AGAMA DALAM DIOLOG . akarta: BPK Gunung Mulia, 1. Baik yang berupa forum dialog, forum kerjasama atau hal-hal lainnya yang makin mempererat dan menyuburkan sikap pluralis, khususnya di kalangangenerasi muda. Persaudaraan Umat Beragama Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak ada yang serba kebetulan. Semuanya terjadi karena kehendak Allah agar manusia dapat belajar sesuatu dari dalamnya. Masalahnya, tidak semua orang dapat memahami hal ini . andingkan: Pengkotbah 3:. Sebuah fenomena baru yang menggembirakan dan memberikan harapan dalam kehidupan umat berbagai agama di Tanah Air pasca pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia adalah tumbuhnya rasa persaudaraan di antara umat berbagai agama bahkan kepercayaan. Hal ini nampak dengan munculnya lembaga-lembaga dialog antar-umat beragama dan Ada pula forum bersama para rohaniwan dari berbagai agama dan kepercayaan yang didasari semangat persaudaraan sesama umat beriman. Semangat persaudaraan itu bahkan diwujudkan dalam kegiatan ritual keagamaan seperti: Doa Bersama Bagi Bangsa, juga beberapa kegiatan lainnya. Uniknya, para aktivis dan pendukung forum persaudaraan umat beriman itu bukan hanya kalangan awam, tetapi terutama para pemuka agama-agama: Kyai. Pendeta. Pastor. Pedanda. Bhikku dan Haksu, yang tanpa ragu dan risih duduk bersama, berdialog dan bercengkerama penuh rasa persaudaraan. Fenomena seperti ini tumbuh dari bawah, dari kesadaran masyarakat sendiri. Fenomena itu berakar dari kesadaran di antara umat beragama Pluralisme Internal Agama Realitas dan pergumulan pluralitas keagamaan tidak berhenti hanya pada pluralitas agama, akan tetapi juga pada berbagai aliran atau paham masing-masing agama. Di kalangan umat Islam terdapat dua aliran yang menonjol: golongan tradisional dan moderat. Golongan tradisional adalah umat Islam yang tetap menganut mazhab SyafiAoi, salah satu mazhab fiqh yang terkenal di kalangan Sunni, selain mazhab Hanafi. Maliki dan Hambali. 21 Sedangkan golongan kedua langsung menyatakan bahwa mereka tidak menganut salah satu mazhab, melainkan berpegang langsung pada AlqurAoan dan Hadis. Selain itu muncul pula di kalangan umat Islam kelompok-kelompok yang mempunyai paham sendiri, yang biasanya disebut sebagai kelompok sempalan yang cukup heterogen. Perlu dicatat pula munculnya penganut SyiAoah di sekitar tahun 1970-an setelah Revolusi Islam di Iran. Belum lagi ditambah dengan berbagai gerakan ataupun lembaga-lembaga keagamaan lainnya. Di kalangan agama Kristen khususnya Protestan, pluralitas ditandai dengan kehadiran berbagai gereja. Bukan saja yang tergabung dalam Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta di Indonesia (PGPI), dan Persekutuan Injili Syamsyul Rijal Hamid. Buku Pintar Agama Islam, cetak 4. (Jakarta: Penebar Salam, 1. Indonesia (PII), serta Gabungan Gereja-gereja Baptis Indonesia (GGBI), melainkan juga berbagai gereja diluarnya yang jumlahnya cukup banyak dan beragam. Pada umumnya, penganut Katolik di Indonesia di dalam organisasi dan pelayanan tunduk pada hirarkhi Gereja Katolik Roma sedunia dan kepemimpinan Paus di Vatikan, dibawah koordinasi Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), sehingga lebih terasa monopolitasnya dari pada pluralitasnya. Meskipun beberapa waktu terakhir ini muncul gerakan yang menamakan dirinya Katolik Karismatik. Umat Hindu di Indonesia juga hidup dalam suatu pluralitas yang cukup kuat. Kerukunan antar-umat Hindu di Indonesia mempunyai sejarah budaya yang berakar jauh ke masa lampau, tanpa diatur dengan peraturan pun kerukunan berlangsung dengan dilandasi sistem nilai yang membudaya, ada rasa saling menghargai dari hati ke hati. 22 Umat Hindu yang sebagian besarnya merupakan penduduk pulau Bali, dahulu dikenal dengan AuHindu BaliAy. Sekarang ini sebutan Hindu Bali itu telah diganti dengan AuHindu DharmaAy. Agaknya penggantian ini mengandung unsur pembaruan. Selain penduduk Bali, orang-orang Tengger juga menganut agama Hindu yang dikenal dengan agama Hindu Tengger. Di Kalimantan, orang-orang Dayak yang menganut agama asli mereka. Kaharingan, demi pengakuan eksistensi mereka menerima penghinduan, hingga disebut sebagai Hindu Kaharingan. Menurut Dayak. Kaharingan telah ada beribu-ribu tahun sebelum datangnya agama Hindu. Buddha. Islam dan Kristen. Istilah Karingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah Danum Kaharingan . ir kehidupa. yang bermakna agama suku atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa. Disamping itu, penduduk Indonesia keturunan India merupakan penganut agama Hindu yang sama dengan agama Hindu di tanah leluhur mereka. Sebagian orang menganggap orang-orang Sikh sebagai penganut agama Hindu, walaupun bagi mereka merupakan agama tersendiri, yaitu: agama Sikh. Agama Sikh adalah sebuah agama sinkretisme antara agama Hindu dan Islam yang lahir sebagai respon atas pertengakaran dan konflik yang sering terjadi pada kedua agama itu di India. Penganut agama Buddha secara garis besar terbagi pada dua aliran. Hinayana dan Mahayana. 25 Di Indonesia, dikenal beberapa sekte yang masing-masing memiliki sanghan Salah satu diantaranya merupakan sekte Tridharma, yang sangat dipengaruhi oleh ajaran Khonghucu. Selain itu, ada pula sekte agama Buddha yang berasal dari Jepang, dikenal dengan nama Nichiren Shoshu Indonesia (NSI), yang dianggap sebagai aliran sempalan di (Yewangoe, 2009, . Endang Ekowati. Agama-Agama Di Indonesia (Merdeka Kreasi Group, n. Mohammad Zazuli. Sejarah Agama Manusia (Yogyakarta: Narasi, 2. (Ema Sujar Wati. Rani Nurhasanah, 2023, . kalangan umat Buddha Indonesia. Oleh karena itu, ia dikeluarkan dari Perwalian Umat Buddha Indonesia. Memperhatikan barbagai kondisi saat ini nampak jelas bahwa pluralitas di intern umat beragama sendiri cukup besar dan sewaktu-waktu dapat menjadi pemicu timbulnya masalah keagamaan seperti yang terjadi pada beberapa waktu yang lalu di sinode gereja HKBP yang menyebar hingga ke tingkat jemaat di seluruh Indonesia. Oleh sebab itu untuk mengembangkan persatuan di kalangan masing-masing umat beragama, dibentuk lembaga yang mewadahi keberbagaian aliran atau organisasi agama. Di kalangan umat Islam dibentuk Majelis Ulama Indonesia (MUI), umat Protestan membentuk Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Umat Hindu mendirikan Parisada Hindu Dharma Indonesia dan umat Buddha mempunyai wadah Perwalian Umat Buddha Indonesia. Di kalangan umat Katolik juga terdapat Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) sebagai organisasi bersama para uskup. Selain itu, sewaktuwaktu diselenggarakan berbagai acara baik yang bersifat kedaerahan maupun nasional di kalangan sendiri umat beragama untuk memberikan sikap, sumbangan dan partisipasinya bagi pembangunan nasional, khususnya kerukunan antar-umat. KESIMPULAN Puralitas keagamaan di Indonesia merupakan sebuah fakta sejarah yang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia, maka keadaan ini harus disadari dan diterima semua umat beragama di Indonesia. Sikap anti-pluralisme merupakan sikap yang tidak asosial dan humanis. Bagi masyarakat pluralis seperti Indonesia, tidak ada pilihan lainnya kecuali terus-menerus mengembangkan sikap pluralisme, yakni: mengakui, menghormati, menjamin, bahkan membela orang lain dengan ketotalannya, hak dan pola hidupnya, paham dan keyakinannya. Menyadari akan realitas pluralisme keagamaan di Indonesia, mau tidak mau, harus dan perlu selalu diupayakan berbagai upaya terobosan baru bagi perkembangan kerukunan hidup umat beragama di Indonesia. Apalagi menyongsong abad baru dengan tantangan dan pergumulan yang baru di dunia yang semakin mengglobal. Dalam menghadapi Pluralitas keagamaan di indonesia yang merupakan realitas dan probelematika yang tidak bisa dihindari, implementasi pendekatan ini diharapkan dapat membentuk masyarakat Indonesia lebih haromonis dan toleran dalam beragama. Mengembangkan kesadaran akan pentingnya toleransi, membangun dialog antara agama, mengembangkan kebijakan yang inklusif dan tidak diskriminatif terhadap agama-agama tertentu dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kerja sama antara umat Olaf herbet Schumanm. Agama Dalam Dialog : Pencerahan. Pendamaian Dan Masa Depan . BPK Gunung Mulia, 2. RUJUKAN