Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar ISSN : 1907-8153 (Prin. e-ISSN : 2549-0567 (Onlin. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN. SIKAP DAN PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN (CTPS) DENGAN KEJADIAN PENYAKIT (SCABIES) DI PONDOK PESANTREN PUTRA DARUL ULUM WADDAHAoWAH The Relationship between the level of knowledge,attitude and behaviour of Handwashing using soap with scabies disease in Putra Darul Ulum Wassah'wah boarding school Muhammad Ihsan. Reni Suhelmi. Hansen Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur E-mail Korespondensi : Jrihsan18@gmail. ABSTRACT Background: Scabies is a skin disease caused by a mite parasite that can burrow into the skin. As a result, it can cause Scabies is itching, also known as palae-bees, pamaan itchy, seven-year itch, and in Indonesia, it is also known as scabies, gudik, or buduk. Methods: This research is an analytic observational study using a cross-sectional research design with observation, interview, and questionnaire techniques. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge, attitudes and behaviour of washing hands with soap (CTPS) and the incidence of scabies in Islamic boarding school students. This research was conducted at the Darul Ulum Waddah'wah Islamic Boarding School, with the sample being male students in the boarding school. The number of samples in this study was 66 students using total sampling. Results: Based on the analysis of the Fisher's Exact Test, it showed that there was no significant relationship between the level of knowledge of hand washing with soap (CTPS) and scabies. Based on the analysis of the Chi-Square test, it showed that there was no significant relationship between handwashing with soap and scabies. Based on the analysis of the Chi-Square test, it showed that there was no significant relationship between handwashing with soap and scabies. Conclusion: from the results of the Chi-Suare test the level of knowledge, attitudes and behaviour of washing hands with soap (CTPS) has no significant relationship with the incidence of scabies in students at Putra Darul Ulum Waddah'wah Islamic Boarding School. It is recommended to analyze the relationship between environmental factors and scabies prevalence for the next project. Keywords : Scabies Disease. Knowledge. Attitude. Behavior of Hand Washing with Soap ABSTRAK Latar Belakang : Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit kutu yang dapat terowongan di dalam kulit. Akibatnya, hal itu dapat menyebabkan gatal-gatal. Scabies adalah gatal, disebut juga dengan langit-lebah, pamaan gatal, tujuh tahun gatal, dan di Indonesia hal ini juga dikenal sebagai juga dikenal sebagai kudis, gudik, atau buduk. Metode : Penelitian ini adalah observasional analitik menggunakan desain penelitian cross sectional dengan teknik observasi, wawancara, dan kuesioner. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan kejadian penyakit scabies pada santri di pondok pesantren. Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Putra Darul Ulum WaddahAowah, dengan sampel adalah santri putra yang ada di Jumlah sampel pada penelitain ini adalah 66 santri dengan menggunakan total sampling. Hasil penelitian berdasarkan analisis Uji FisherAos Exact Test menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan penyakit scabies. Berdasarkan analisis Uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan penyakit Berdasarkan analisis Uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan penyakit scabies. Kesimpulan: Dari hasil uji Chi-Suare tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS) tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian scabies pada santri di Pondok Pesantren Putra Darul Ulum WaddahAowah. Diharapkan pada peneliti selanjutnya untuk menambahkan faktor lingkungan yang berhubungan dengan penyakit scabies. Kata Kunci : Penyakit Scabies. Pengetahuan. Sikap. Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun PENDAHULUAN Scabies ialah penyakit endemik di banyak negara berkembang. Wabah kemiskinan yang tinggi, tempat keramaian, dan kebersihan pribadi yang buruk (Weller et al. , 2. Scabies, di sisi lain, didefinisikan sebagai penyakit kulit yang disebabkan oleh spesies Sarcoptes scabiei membentuk terowongan di kulit. Akibatnya bisa menimbulkan rasa gatal. Sinonim scabies adalah gatal, tawon udara, gatal paman, gatal tujuh tahun, dan di Indonesia scabies disebut juga buduk (Sungkar, 2. Di Indonesia penyakit scabies mengingat Indonesia sebagai negara tropis, maka potensi penyakit scabies juga lebih cenderung tinggi, tercatat Tahun 2018 pravelensi angka pertumbuhan scabies mencapai 5,6%-12,95% (Depkes RI, 2. Jumlah penderita penyakit scabies pada tahun 2017 berkisar diangka 6. 135 juta orang . ,9%) tahun 2018 meningkat menjadi 231 juta orang . ,6%) prevalensi ini akan terus meningkat seiring rendahnya penangangan masyarakat pada kebersihan (Depkes RI, 2. Di Kalimantan Timur penyakit scabies juga meningkat, khususnya Wilayah Samarinda prevalensi yang terdampak Vol. XVi No. 1 Juni 2023 DOI: https://doi. org/10. 32382/medkes. Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar penyakit scabies mencapai 3,89%, tingginya dampak scabies di Samarinda salah satu penyebabnya karena wilayah Samarinda sering terjadi musim hujan, sehingga sangat rawan terjadi kelembapan. (Sumber: Dinas Kesehatan Samarinda, 2. Faktor penyebaran penyakit kulit seperti scabies, termasuk non-sanitasi lingkungan, status sosial ekonomi rendah, dan rendah kebersihan individu. Penyebab lain terjadinya penyakit scabies pada seseorang yaitu rendah faktor sosialekonomi, kurangnya kebersihan, seperti mandi, penggunaan simultan dari handuk dan jarang mencuci, jarang mengganti pakaian dan hubungan seksual (Frenki. Penyakit scabies pada dasarnya dapat dihindari dengan pola hidup sehat dan rutin menjaga kebersihan diri dan Dalam kebersihan diri umumnya disebut personal hygiene atau diartikan sebagai meliputi kehidupan masyarakat dan kegiatan Kebersihan pribadi adalah juga dikenal sebagai self-care untuk membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan, baik secara fisik dan psikologis. (Sekar. Personal hygiene dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk individu nilai-nilai sosial dan budaya, serta orang-orang yang pengetahuan dan pemahaman tentang (Desmawati, 2. Pengetahuan difungsikan dalam hal kesehatan, akan sangat membantu dalam memahami kejadian penyakit. Dengan pengetahuan yang memadai seseorang akan memahami bagaimana penyakit terjadi baik yang menular maupun yang tidak menular. Disisi pemahaman masalah penyakit, maka potensi terjangkitnya penyakit juga tinggi. Sikap seseorang juga menjadi faktor yang berhubungan dengan kejadian Sikap adalah perspektif tentang situasi yang mempengaruhi bagaimana seseorang berperilaku (Azwar, 2. Notoatmodjo . menambahkan bahwa Sikap pengetahuan positif, dan sebaliknya. Tanpa sikap positif, perilaku masyarakat tidak akan Hal ini disebabkan sikap yang dapat menimbulkan perubahan perilaku yang mendukung pemikiran rasional dan motivasi untuk berperilaku sehat. ISSN : 1907-8153 (Prin. e-ISSN : 2549-0567 (Onlin. Selain pengetahuan dan sikap, maka aspek melakukan cuci tangan pakai sabun (CTPS) juga mendukung seseorang terhadap kejadian penyakit scabies. Dengan kata lain semakin sering seseorang melakukan cuci tangan mengunakan sabun maka gejala penyakit scabies semakin rendah. Faktor-faktor diuraikan di atas, seperti pengetahuan, sikap dan perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS) jika dilakukan secara rutin oleh masyarakat maka kejadian penyakit scabies setidaknya dapat dihindari. Tindakan tersebut bagi semua elemen masyarakat perlu diterapkan, termasuk siswa disekolah atau santri di pondok Pesantren. Dalam penelitian ini fokus penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Putra Darul Ulum WaddaAowah. Dari hasil observasi pendahuluan, petugas Sanitasi puskesmas Makroman tahun 2020 kita bisa melihat kondisi fisik lingkungan Pondok Pesantren Putra Darul Ulum Wadawa'wah. Tempat berantakan, ventilasi tidak terbuka, air di kamar mandi keruh, tidak ada cukup air untuk semua orang, atau bahkan tidak ada tempat untuk mencuci tangan. Sehingga potensi dalam penyebaran penyakit sangat tinggi terutama penyakit kulit. Mengacu latar belakang penelitian tersebut, dan agar dapat memperjelaskan penelitian ini, dengan ini peneliti mengambil judul: Hubungan Tingkat Pengetahuan. Sikap Dan Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) Dengan Kejadian Penyakit Scabies di Pondok Pesantren Putra Darul Ulum WaddahAowah. METODE Desain, tempat dan waktu Untuk penelitian yang dilakukan ini, mempergunakan desain penelitiannya ialah cross sectional agar dapat mengetahui dengan detail mengenai keterkaitan hubungan antara tingkatan pengetahuan, perilaku serta sikap mencuci tangan dengan menggunakan sabun (CTPS) dengan kejadian penyakit scabies terhadap santri pada Pondok Pesantren Putra Darul Ulum WaddahAowah. Penelitian ini di laksanakan pada bulan juli hingga agustus 2022. Vol. XVi No. 1 Juni 2023 DOI: https://doi. org/10. 32382/medkes. Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar Jumlah dan Cara Pengambilan Subjek Untuk penelitian yang dilakukan ini, populasi penelitiannya ialah seluruh Santri pada Pondok Pesantren Putra Darul Ulum WaddahAowa yang jumlahnya ialah 66 orang santri putra. Teknik pengambilan sampel mempergunakan total sampling. Jenis dan Cara Pengumpulan Data Untuk penelitian ini, teknik dalam dilaksanakan dengan melalui beberapa cara, yakni dengan melakukan wawancara, observasi serta menyebarkan kuesioner Penelitian ini dilakukan selama 4 hari dengan memiliki tahap pertama bertemu dengan pengurus pondok untuk memberikan informasi mengenai penelitian berikutnya, serta di hari terakhir dilakukan observasi dilokasi penelitian. Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data survei dengan langkah-langkah pengolahan sebagai berikut: Edit. Encode. Process. Aggregate. Save (Notoatmodjo. Sebelum instrumen dibagikan secara langsung kepada responden, sebagai langkah awalnya dengan dilakukan uji validitas dan reliabilitas kuesioner terhadap 30 orang. Untuk uji validitas didapatkan hasil nilai r tabel dengan 30 responden adalah 0,361, sehingga berdasarkan hasil seluruh indikator pernyataan pada masing-masing variabel memiliki nilai pearson correlation yang lebih dari dari r tabel 0,361. Maka seluruh indikator pernyataan memenuhi syarat validitas. Sedangkan untuk uji reliabilitas menunjukkan bahwa seluruh indikator pernyataan dalam variabel penelitian ini memiliki nilai CronbachAoc Alpha lebih besar dari 0,60. Sehingga dapat pernyataan pada kuesioner tersebut Selanjutnya didalam penelitian ini, analisis data penelitiannya ialah dengan Chi-square dengan berbantuan program Excel dan SPSS. Dari uji statistik tersebut dapat disimpulkan apakah ada keterkaitan hubungan signifikan antara kedua variabel penelitian ini. Koefisien peluangnya ialah tidak lebih dari 5% atau nilai p dianggap Hasil uji Chi-Square: Jika p-value ISSN : 1907-8153 (Prin. e-ISSN : 2549-0567 (Onlin. >0. 05 maka Ho diterima dan Ha ditolak, hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat keterkaitan hubungan signifikan antara kedua variabel penelitian tersebut serta apabila nilai dari p-value ini lebih tinggi dikommparasikan dengan 0. 05, dengan demikian Ha diterima dan sedangkan Ho ditolak, dalam hal ini berarti bahwa terdapat keterkaitan hubungan signifikan di antara dua variabel penelitian tersebut. HASIL Penelitian tanggal 24 Juni 2022 dengan jumlah responden sebanyak 66 siswa Pondok Pesantren Putra Darul Ulum WaddahAowa. Hasil olahan data akan ditampilkan dalam bentuk tabel dan narasi. Analisis Univariat Karakteristik responden Berdasarkan tabel 1 pada lampiran menunjukan bahwa usia responden terbanyak pada rentan usia 13 Ae 14 tahun yakni sebanyak 50 % sedangkan untuk kategori lama tinggal responden mendominasi dengan waktu kurang dari 1 bulan 5 % . Kategori Variabel Penelitian Berdasarkan tabel 2 pada responden mengalami kejadian scabies sebanyak 34 santri dengan 5 %. Sedangkan untuk distribusi frekuensi tingkat sebanyak 60 atau 90. 9 % responden. Untuk responden yang setuju dengan penerapan cuci tangan pakai sabun (CTPS) di pondok 7 % atau sebanyak 48 Responden yang menjawab setuju pada perilaku cuci tangan pakai sabun dimana terdapat pada 44 santri atau 66. 7 % responden. Analisis Bivariat Analisis dengan uji chi square ini tujuannya ialah agar dapat mengetahui terdapatnya keterkaitan pengetahuan, perilaku serta sikap terhadap kejadian scabies pada Pondok Pesantren Putra Darul Ulum WaddahAowah. Adapun uraian analisis Vol. XVi No. 1 Juni 2023 DOI: https://doi. org/10. 32382/medkes. Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar ISSN : 1907-8153 (Prin. e-ISSN : 2549-0567 (Onlin. chi square sebagai berikut: Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kejadian Scabies Berdasarkan tabel pada lampiran dapat diketahui bahwa responden yang mengalamai Scabies sebanyak 30 responden dengan persentase sebesar 45. 5 %. Dengan nilai p sebesar 0. Hasil analisis dengan FisherAos Exact Test tingkatan pengetahuan dengan kejadian scabies pada Pondok Pesantren Putra Darul Ulum WaddahAowah didapatkan nilai korelasinya senilai 0,673, dengan demikian apabila dikomparasikan dengan tingkatan signifikansinya 05, ini dinyatakan bahwa nilai p . dikomparasikan dengan 0. Hubungan Sikap Kejadian Scabies Berdasarkan tabel 4 pada lampiran dapat diketahui bahwa responden yang mengalamai Scabies dengan sikap yang kurang baik terhadap cuci tangan pakai sabun sebanyak 10 responden dengan persentase sebesar 15 %. Dengan nilai p Hasil analisis dengan mempergunakan pengujian ChiSquare menunjukkan bahwa sikap tentang CTPS dengan kejadian scabies di Pondok Pesantren Putra Darul Ulum WaddahAowah korelasi sebesar 0. 688 dengan demikian, apabila dikomparasikan 0,05 dengan demikian, nilai p ini ialah . ini lebih tinggi dikomparasikan Hubungan Perilaku Kejadian Scabies Berdasarkan tabel 5 pada lampiran dapat diketahui mengalamai Scabies dengan perilaku CTPS yang kurang baik terhadap cuci tangan pakai sabun sebanyak 10 responden dengan persentase sebesar 15. 5 %. Dengan nilai p sebesar 0. Hasil analisis dengan mempergunakan pengujian ChiSquare menunjukkan bahwa perilaku CPTS dengan kejadian scabies di Pondok Pesantren Putra Darul Ulum WaddahAowah diperoleh nilai korelasi sebesar 486 dengan demikian, apabila dikomparasikan dengan tingkatan taraf signifikansinya 0. 05 dengan demikian, nilai p ini ialah . ini lebih tinggi dikomparasikan PEMBAHASAN Kejadian Scabies di pondok pesantren Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 66 responden yang diperiksa dokter 34 atau 51. 5% di antaranya mengalami kejadian scabies. Hal ini sesuai dengan penelitian Abdillah . di salah satu pondok pesantren di kota Padang yang menemukan bahwa kejadian scabies tertinggi pada kelompok usia 12-13 tahun yaitu 34. Hal yang sama berlaku untuk karyanya oleh Egeten et al. menemukan bahwa kejadian scabies tertinggi terjadi pada usia remaja awal, yaitu sebesar 54,2%. Kejadian ini perlu perhatian khusus dengan baik agar tingkat penularan scabies bisa teratasi. Pada penelitian ini responden yang paling rentan terjadi penularan pada usia 1314 tahun dengan jumlah 33 atau 50 % sedangkan lama tinggal kurang dari 1 bulan sebanyak 36 atau 54. 5 %. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang baru masuk atau belum lama tinggal menetap di pondok lebih rentan mengalami kejadian scabies dari pada responden yang sudah lama menetap Kejadian scabies saat ini sedang dalam masa transisi, sehingga paling sering menyerang anak-anak dan remaja muda. Dengan demikian, mengendalikan serta menjaga perilaku, mencakup dengan kebersihan diri. Vol. XVi No. 1 Juni 2023 DOI: https://doi. org/10. 32382/medkes. Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar selain itu, disebabkan dengan faktor tempat tinggal baru yang masih beradaptasi dan menyesuaikan (Anwar. Dari didapatkan masih banyak kasus scabies yang terjadi dipondok pesantren di mana lebih dari 50 % responden mengalami scabies. Ini menandakan bahwa selain higiene perseorangan, faktor lingkungan pondok pesantren terjadinya penyakit scabies dimana kurangnya ruangan atau tempat tinggal sehingga santri berkumpul dalam ruangan dengan kapasitas yang kecil untuk dijadikan tempat istirahat, belajar dan tidur. Selain itu kondisi gedung atau tempat tinggal kurang ventilasi dan cahaya yang masuk kurang sehingga ruangan tersebut menjadi lembah yang penularan penyakit kulit salah satunya penyakit scabies. Hubungan Tingkat Pengetahuan CTPS dengan Kejadian Scabies di Pondok Pesantren Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 66 responden yang paling rentan mengalami kejadian scabies yaitu responden dengan tingkat pengetahuan yang baik memahami tentang CTPS dengan kejadian scabies yaitu 30 responden atau 45. 5 %. Hal ini menunjukkan bahwa responden sudah mengetahui tentang pentingnya CTPS untuk menghindari terjadinya penyakit scabies namun pada penelitian ini berbanding terbalik dimana masih banyak yang terkena penyakit scabies. Tingkat pengetahuan tentang CTPS terhadap kejadian scabies dan Perilaku kesehatan lingkungan ini nantinya akan berpengaruh terhadap upaya pencegahan scabies. Untuk penelitian ini, didapatkan hasil bahwa tidak terdapat keterkaitan hubungan antara tingkatan pengetahuan CTPS dengan kejadian scabies. Responden pada penelitian ini memiliki tingkat pengetahuan yang baik terhadap penerapan CTPS. Hal ini dapat dilihat menjawab setuju dengan pernyataan yang diberikan. Dari ISSN : 1907-8153 (Prin. e-ISSN : 2549-0567 (Onlin. didapatkan bahwa tingkat pengetahuan santri tentang cuci tangan pakai sabun tertinggi dengan kategori baik namun masih banyak kasus penyakit scabies yang terjadi di pondok pesantren. Tingkat tentang cara mencegah scabies tidak selalu berkorelasi langsung dengan kejadian scabies di lingkungan tempat tinggal atau berkumpulnya orang-orang, seperti di pondok pesantren. Ada beberapa faktor lain yang juga dapat memengaruhi kejadian scabies, seperti faktor lingkungan, sanitasi, dan interaksi sosial yang mungkin terjadi di antara penghuni pondok. Selain itu, pengetahuan yang berdampak pada tindakan atau perilaku yang dilakukan. Seorang individu mungkin sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang cara mencegah scabies, namun jika tidak menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari mempraktikkannya secara konsisten, maka risiko terkena scabies tetap ada. Dalam pesantren, kejadian scabies mungkin juga dapat dipengaruhi oleh faktorfaktor lain seperti banyaknya orang yang tinggal dalam satu ruangan atau tempat yang sama, kurangnya fasilitas ketidakmampuan untuk mempraktikkan cara-cara pencegahan scabies yang sudah diketahui karena terbatasnya sumber daya. Dalam pencegahan scabies perlu dilakukan Selain itu, penyuluhan dan edukasi tentang cara pencegahan scabies juga perlu diberikan secara konsisten dan terus-menerus agar dapat meningkatkan pengetahuan dan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan diri serta lingkungan. Hasil pengajar menyampaikan bahwa setiap proses belajar mengajar sudah sering disampaikan bahwa pentingnya cuci tangan pakai sabun (CTPS) namun faktor lingkungan di pondok pesantren Vol. XVi No. 1 Juni 2023 DOI: https://doi. org/10. 32382/medkes. Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar ini yang kurang perhatian. Tempat tinggal yang sempit dengan banyak orang/santri terjadinya penyebaran penyakit. Dari hasil pemantauan di lingkungan pondok pesantren selain ruangan yang sempit tempat menyimpan pakaian atau lemari pakaian tidak ada sehingga santri menyimpan pakaiannya dengan cara di gantung di sekeliling tempat tinggal dengan bercampur pakai yang satu dengan yang lain. Hal ini sangat memudahkan terjadinya penularan penyakit kulit dari orang yang sakit ke orang yang sehat selain itu karna ruangan yang lembab dan pakaian yang digunakan berulang-ulang sehingga terjadi penularan penyakit scabies. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan selain kebersihan pribadi faktor lingkungan sangat berperan aktif terhadap penularan Kondisi sanitasi lingkungan di lokasi penelitian masih perlu perhatian khusus karena masih ada beberapa titik atau sudut pondok pesantren yang masih kotor serta terdapat beberapa sampah yang berserakan, kamar mandi (WC) yang sudah mulai rusak dan belum cukup untuk di gunakan santri. Selain itu kondisi higiene perorang santri yang masih kurang di mana masih banyak pakaian yang digantung sekeliling kamar yang saling bercampur dengan pakaian yang lain baik yang bersih maupun yang sudah kotor. Hubungan Sikap Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dengan Kejadian Scabies di pondok pesantren Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 66 responden berdasarkan sikap responden, dimana sikap yang baik mengalami scabies sebanyak 24 responden atau 36 %. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan antara sikap terhadap cuci tangan pakai sabun dengan kejadian scabies. Hal ini terjadi karena sikap yang dimiliki sebanding dengan perilaku yang dilakukan dimana pada penelitian ini responden sudah paham terhadap perilaku cuci tangan pakai sabun dengan kejadian scabies namun pada kenyataannya masih ada beberapa responden yang mengalami ISSN : 1907-8153 (Prin. e-ISSN : 2549-0567 (Onlin. Sikap positif yang dimiliki oleh santri tidak terlepas dari pengetahuan dan informasi yang telah diperolehnya. Pengetahuan dan informasi yang dimiliki tersebut akan membentuk sikap positif atau penilaian santri yang baik terhadap cuci tangan pakai sabun dengan kejadian scabies. Menurut Notoatmodjo . bahwa sikap seseorang dalam mencegah scabies dan upayanya dalam melaksanakan pencegahan terhadap prognosis yang lebih buruk yang dipengaruhi dengan pengetahuan serta sikapnya mengenai penyakit ini. Sikap buruk ini nantinya akan berimplikasi terhadap kegagalan dalam upayanya untuk menanggulangi penyakit scabies tersebut. Untuk penelitian ini, responden penelitiannya ialah mempunyai sikap baik terhadap penerapan dari cuci tangan pakai sabun (CTPS). Hal ini dapat dilihat dari sebagian besar pernyataan yang di berikan. Salah satu menganjurkan santri dalam hal baik, bersih dan sehat, sehingga sesuai dengan sifat manusia yang terdiri dari komponen kognitif dimana apabila manusia mempercayai dan mensetujui akan suatu hal maka manusia tersebut akan cenderung melakukan dan Dalam kasus ini, tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan kejadian scabies di pondok pesantren, artinya sikap seseorang tidak secara signifikan mempengaruhi risiko terkena scabies di pondok Hal ini bisa terjadi karena sikap seseorang yang tidak memiliki hubungan langsung dengan kebersihan dan sanitasi lingkungan, yang menjadi faktor risiko utama terjadinya infeksi scabies di pondok pesantren. Kebersihan menyebabkan penyebaran dan infeksi penyakit menular, termasuk scabies. Tungau penyebab scabies bisa hidup dalam lingkungan yang kotor dan tidak bersih selama beberapa hari, dan Vol. XVi No. 1 Juni 2023 DOI: https://doi. org/10. 32382/medkes. Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar mudah menyebar melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Oleh karena itu, kebersihan dan sanitasi lingkungan yang baik sangat penting untuk mencegah penyebaran scabies di pondok pesantren. Sementara itu, sikap seseorang perasaan, atau evaluasi terhadap suatu objek atau peristiwa. Sikap seseorang bisa mempengaruhi perilaku, seperti mematuhi aturan kebersihan dan sanitasi, tetapi tidak secara langsung mempengaruhi kebersihan lingkungan. Dalam hal kejadian scabies di pondok pesantren, faktor-faktor yang mempengaruhi kebersihan dan sanitasi lingkungan, seperti kondisi sanitasi yang buruk, ketidakmampuan untuk menjaga kebersihan lingkungan, atau kurangnya fasilitas sanitasi yang memadai, dapat menjadi faktor risiko utama terjadinya infeksi scabies. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran dan kebersihan dan sanitasi lingkungan di pondok pesantren untuk mencegah penyebaran scabies. Dari didapatkan bahwa sikap santri terhadap cuci tangan pakai sabun tertinggi dengan kategori baik namun masih banyak kasus penyakit scabies yang terjadi di pondok pesantren. Hasil menyampaikan bahwa setiap proses disampaikan bahwa pentingnya cuci tangan pakai sabun (CTPS) namun faktor lingkungan di pondok pesantren ini yang kurang perhatian. Tempat tinggal yang sempit dengan banyak orang/santri terjadinya penyebaran penyakit. Dari hasil pemantauan di lingkungan pondok pesantren selain ruangan yang sempit tempat menyimpan pakaian atau lemari pakaian tidak ada sehingga santri menyimpan pakaiannya dengan cara di gantung di sekeliling tempat tinggal dengan bercampur pakai yang satu dengan yang lain. Hal ini sangat ISSN : 1907-8153 (Prin. e-ISSN : 2549-0567 (Onlin. memudahkan terjadinya penularan penyakit kulit dari orang yang sakit ke orang yang sehat selain itu karna ruangan yang lembab dan pakaian yang digunakan berulang-ulang sehingga terjadi penularan penyakit scabies. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan selain kebersihan pribadi faktor lingkungan sangat berperan aktif terhadap penularan Kondisi sanitasi lingkungan di lokasi penelitian masih perlu perhatian khusus karena masih ada beberapa titik atau sudut pondok pesantren yang masih kotor serta terdapat beberapa sampah yang berserakan, kamar mandi (WC) yang sudah mulai rusak dan belum cukup untuk di gunakan santri. Selain itu kondisi higiene perorang santri yang masih kurang di mana masih banyak pakaian yang digantung sekeliling kamar yang saling bercampur dengan pakaian yang lain baik yang bersih maupun yang sudah kotor. Hubungan Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dengan Kejadian Scabies di pondok pesantren Mengacu pada hasil penelitian berdasarkan 66 responden penelitian terhadap CTPS yang baik mengalami kejadian scabies sebanyak 24 orang responden atau 36. Hal ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan perilaku CPTS dengan kejadian scabies pada penelitian ini. Scabies Penularan terjadi melalui Oleh karena itu scabies pesantren (Soedarto, 2. Kebiasaan mencuci tangan, mengganti pakaian, mengganti pakaian dalam serta mandi memotong kuku, tidak bertukar handuk ini akan dapat menyebabkan risiko terjangkit scabies ini berkurang. Penularan Scabies lingkungan dan biologis daripada perilaku individu. Penularan scabies terjadi melalui kontak langsung dengan kulit orang yang terinfeksi atau melalui Vol. XVi No. 1 Juni 2023 DOI: https://doi. org/10. 32382/medkes. Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar benda yang terkontaminasi dengan tungau scabies. Oleh karena itu, faktorfaktor seperti kondisi lingkungan di pondok pesantren dan faktor biologis seperti sistem kekebalan tubuh individu yang lebih memengaruhi kejadian scabies daripada perilaku individu. Oleh karena itu, meskipun perilaku individu seperti kebersihan diri juga penting dalam pencegahan scabies, faktor lingkungan dan biologis dapat memiliki pengaruh yang lebih besar dalam penularan scabies di lingkungan seperti pondok pesantren. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan pengendalian infeksi scabies di pondok pesantren harus mencakup langkahlangkah untuk meningkatkan kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat, serta untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang scabies dan cara mencegah penularannya secara menyeluruh kepada warga pondok. Penyakit didefinisikan dengan satu dari berbagai Penularannya tersebut dapat dengan melalui hubungan kontak, baik itu secara langsung ataupun secara tidak Dengan demiikian, scabies ini kebersihan personal seorang individu, khususnya pada pesantren (Soedarto. Kebiasaan mencuci tangan, mengganti pakaian, mengganti pakaian menggunakan sabun, memotong kuku, tidak bertukar handuk ini akan dapat menyebabkan risiko terjangkit scabies ini berkurang. Perilaku yang kurang baik CTPS mempengaruhi kesehatan pada santri, namun dari hasil rekapitulasi kuesioner yang didapatkan bahwa santri sudah melakukan cuci tangan pakai sabun dengan baik dan benar. Hal ini tidak sejalan dengan perilaku yang sudah di lakukan tetapi masih ada beberapa santri yang mengalami scabies. Dari hasil pengamatan yang peneliti lakukan sebagian besar santri sudah mencuci tangan pakai sabun namun faktor lingkungan yang kurang memadai ISSN : 1907-8153 (Prin. e-ISSN : 2549-0567 (Onlin. penularan penyakit scabies. Dari didapatkan bahwa sikap santri terhadap cuci tangan pakai sabun tertinggi dengan kategori baik namun masih banyak kasus penyakit scabies yang terjadi di pondok pesantren. Hasil menyampaikan bahwa setiap proses disampaikan bahwa pentingnya cuci tangan pakai sabun (CTPS) namun faktor lingkungan di pondok pesantren ini yang kurang perhatian. Tempat tinggal yang sempit dengan banyak orang/santri terjadinya penyebaran penyakit. Dari hasil pemantauan di lingkungan pondok pesantren selain ruangan yang sempit tempat menyimpan pakaian atau lemari pakaian tidak ada sehingga santri menyimpan pakaiannya dengan cara di gantung di sekeliling tempat tinggal dengan bercampur pakai yang satu dengan yang lain. Hal ini sangat memudahkan terjadinya penularan penyakit kulit dari orang yang sakit ke orang yang sehat selain itu karna ruangan yang lembab dan pakaian yang digunakan berulang-ulang sehingga terjadi penularan penyakit scabies. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan selain kebersihan pribadi faktor lingkungan sangat berperan aktif terhadap penularan Kondisi sanitasi lingkungan di lokasi penelitian masih perlu perhatian khusus karena masih ada beberapa titik atau sudut pondok pesantren yang masih kotor serta terdapat beberapa sampah yang berserakan, kamar mandi (WC) yang sudah mulai rusak dan belum cukup untuk di gunakan santri. Selain itu kondisi higiene perorang santri yang masih kurang di mana masih banyak pakaian yang digantung sekeliling kamar yang saling bercampur dengan pakaian yang lain baik yang bersih maupun yang sudah kotor. KESIMPULAN Tidak bermakna tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan kejadian scabies di Pondok Vol. XVi No. 1 Juni 2023 DOI: https://doi. org/10. 32382/medkes. Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar Pesantren Putra Darul Ulum WaddahAowah. SARAN Peneliti menggunakan hasil penelitian ini sebagai sumber data untuk penelitian, selanjutnya dengan menambahkan beberapa faktor lain yang mempengaruhi penyebab scabies, seperti: Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kejadian scabies di pondok UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Ibu pembimbing yang selalu sabar dalam memberikan masukkan untuk pembuatan skripsi ini. Bapak/ibu penguji yang telah memberikan saran serta kritik yang membangun, teman-teman Puskesmas Makroman yang selalu mendukung dan memberikan masukkan dalam penelitian ini. Teruntuk pimpinan Pondok Pesantren Putra Darul Ulum WaddahAowah beserta stafnya yang telah mengizinkan dan membantu penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Abdillah. Kemas Yahya. Hubungan Pengetahuan Dengan Kejadian Scabies Di Pondok Pesantren Audhah. Umniyati. , & Siswati. Faktor Resiko Scabies Pada Siswa Pondok Pesantren. Jurnal Buski. Azwar. Sikap dan Perilaku. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Badri. Moh. Hygiene Perseorangan Santri Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Vol 17. No 2. Hal. Boediardja dan Handoko, 2017. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 7. diedit oleh Menaldi. SLSW. Bramono. K, dan Indriatmi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Damanik. Muhammad Farid Zulkhair. Hubungan Perilaku Kebersihan Perseorangan Dengan Kejadian Scabies Di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah Kota Medan. Departemen Kesehatan RI. Survei Kesehatan Dasar Indonesia. Jakarta: ISSN : 1907-8153 (Prin. e-ISSN : 2549-0567 (Onlin. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Departemen Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2018. Jakarta : Depkes RI Jakarta Desmawati. Hubungan Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Scabies Di Pondok Pesantren Al-Kautsar Pekanbaru. Vol. No. Donsu. Jenita DT. Psikologi Keperawatan. Yogyakarta. Pustaka