Penerapan Konseling Kelompok Naratif Dengan Teknik Expressive Writing Untuk Meningkatkan Kemampuan Regulasi Emosi Di SMP Negeri 2 Surabaya PENERAPAN KONSELING KELOMPOK NARATIF DENGAN TEKNIK EXPRESSIVE WRITING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN REGULASI EMOSI DI SMP NEGERI 2 SURABAYA Chyntia Sukma Hardiantri Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya 20083@mhs. Retno Tri Hariastuti Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya retnotri@unesa. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah teknik expressive writing dapat meningkatkan regulasi emosi pada peserta didik kelas Vi SMP Negeri 2 Surabaya. Desain penelitian menggunakan penelitian pre-Experimental one-group pretest-posttest. Instrumen pengumpulan data yang digunakan yaitu skala regulasi emosi. Uji Validitas instrumen Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dengan sampel 10 orang peserta didik dari kelas Vi di SMP Negeri 2 Surabaya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa teknik expressive writing dapat meningkatkan regulasi emosi peserta didik. Dibuktikan dengan skor hasil rata-rata pretest sebesar 110 dan meningkat menjadi 124. Kata Kunci: Regulasiemosi. Expressive Writing Abstract The aim of this research is to find out whether expressive writing techniques can improve emotional regulation in class Vi students at SMP Negeri 2 Surabaya. The research design uses pre-experimental one-group pretest-posttest research. The data collection instrumen used was the emotional regulation scale, instrumen validity test. This research was carried out in two cycles with a sample of 10 students from class Vi at SMP Negeri 2 Surabaya. The results of this research show that expressive writing techniques can improve students' emotional regulation. This is proven by the average pretest score of 110 and increasing to 124. Keywords: Emotion Regulation. Expressive Writing dengan baik karena berbagai perubahan yang terjadi dapat menyebabkan remaja menjadi rentan terhadap stress sehingga remaja tersebut susah untuk mengendalikan Penelitian yang dilakanakan Fitri . menunjukan bahwa kesehatan mental dan emosional remaja dapat dipengaruhi oleh sejumlah variabel, termasuk lingkungan teman sebaya dan orang tua. Penelitian lain yang dilaksanakan oleh Wijayanti & Fasikhah . juga mengemukakan bahwasannya kompetensi yang dimiliki oleh remaja mempunyai hubungan dengan self-compassio (Kasih sayang pada diri sendir. , dalam hal ini dapat diartikan bahwa keterampilan dalam bantuan atau perhatian dan bersikap empati terhadap diri sendiri mampu untuk mengembangkan kompetensi emosi yang dimiliki oleh setiap individu khususnya pada remaja. Selain itu juga dijelaskan menurut slavin . bahwasannya remaja seringkali merasakan tekanan emosi pada tahap masa peralihan jenjang seprti dari SD menuju PENDAHULUAN Masa remaja (Adolescen. merupakan periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional (Santrock, 2012, hlm. Dengan demikian, banyak perubahan yang terjadi diantaranya perubahan cara berpikir, perubahan luapan emosional, perubahan sosial, dan perubahan minat yang berhubungan dengan suatu hal yang baru. Selain itu, terjadi pula perubahan tekanan, baik tekanan dari lingkungan sosial maupun akademis. Sehingga, remaja memiliki peran serta tanggung jawab yang berbeda dari masa perkembangan Adapun Haryono & Kurniasari . berpendapat bahwa perubahan yang signifikan pada masa remaja berasal dari faktor fisik dan psikologis. Perubahanperubahan yang terjadi selama masa remaja tersebut merupakan masa yang kritis (Azmy. Nurihsan, & Yudha, 2017, hlm. Oleh sebab itu, perlu diperhatikan Penerapan Konseling Kelompok Naratif Dengan Teknik Expressive Writing Untuk Meningkatkan Kemampuan Regulasi Emosi Di SMP Negeri 2 Surabaya SMP dan SMA/SMK. Dengan begitu. Remaja memerlukan suatu kemampuan yang dapat digunakan untuk dapat mengelola emosi negatif yang terdapat dalam dirinya agar dapat menjadi lebih positif. Kemampuan yang dibutuhkan tersebut adalah kemampuan dalam regulasi emosi. Regulasi emosi dibutuhkan tiap individu karena memiliki hubungan dengan kesehatan mental. Namun masih terdapat remaja yang kurang mampu dalam meregulasi emosi, sehingga muncul dampak negatif, salah satunya perilaku agresif individu, perasaan cemas, dan bentuk emosi negatif lainnya. Berdasarkan studi pendahuluan diperoleh data bahwa terjadinya perkelahian anatara peserta didik disebabkan oleh masalah emosi yang tidak dikontrol. mampu mengenali perasaan yang dirasakan dalam diri, pemeliharaan emosi serta pengaturan emosi. Selanjutnya menurut Slamet . alam Vienlentia,2021:. mengemukakan faktor- faktor yang memengaruhi regulasi emosi ialah daktor internal dan faktor eksternal dimana sebagai berikut: Faktor Eksternal, yaitu mencakup keluarga,sekolah dan faktor masyarakat Faktor Internal yaitu mencakup jasmaniah . esehatan dan cacat tubu. Faktor psikologis . ntelegensi, perhatian, minat, bakat,motif, kesiapan dan kematanga. Konseling Naratif Konseling naratif merupakan sebuah pendekatan yang menggali masalah individu dengan menggunakan cerita . Konseling naratif berusaha untuk mengeksplorasi pengalaman manusia melalui cerita konseli membawa ke dalam proses konseling. Dalam proses kolaborasi, konselor membantu konseli mengeksplorasi kisah mereka. Konseli didorong untuk menggunakan kata-kata mereka sendiri untuk menceritakan kisah mereka sendiri yang membawa arti sendiri (Parry & Doan dalam Semmler & Carmen, 2000:. Konseling naratif memiliki tujuan membantu individu mengarang kembali cerita kisahnya, menerapkan kisah ini dalam lingkungan mereka dan menolong seseorang menyelesaikan transisi kehidupannya (McLeod, 2. Konseling naratif mampu menangani seseorang yang mengalami distressing combination pada kondisi pesimis hebat, keraguan atas dirinya, mudah marah, lalai, ketidak pedulian, gelisah, cemas dan beberapa perasaan yang menunjukan masalah depresi yang dialami (White & Epston dalam Payne,2. Tahap-tahap proses konseling konseling naratif menurut Wolter, dkk . adalah sebagai berikut : Eksternalisasi masalah Pemberian nama pada masalah Menggunakan eksternalisasi bahasa Memetakan pengaruh dari masalah dalam kehidupan seseorang dengan pertanyaan pengaruh relatif Memetakan pengaruh kehidupan seseorang terhadap pengembangan masalah Pertanyaan hasil unik Pertanyaan akun unik Pertanyaan deskripsi ulang yang unik Pertanyaan kemungkinan unik Pertanyaan sirkulasi unik Pertanyaan historis hasil unik Regulasi Emosi Keterampilan mendasar dalam pengloalan emosi adalah kemampuan dalam mengetahui emosi diri atau mengetahui perasaan yang sedang dirasakan, sehingga dengan mengetahui emosi diri atau individu dapat mampu melakukan pengelolaan emosi (Prasetya & Gunawan Regulasi emosi mecakup semua proses yang terlibat dalam prosduksi, pemeliharaan, dan modulasi pada bagian emosi (Holodynski & Friedlmeier, 2. Emosi yang dikelola pada penangan masalah yang dihadapi remaja diperlukan ketrampilan dalam pengendalian, pengontrolan, pemeliharanaa, serta pengaturan emosi. Keterampilan dalam pengelolaan emosi yang dipunyai oleh seseorang dapat membantu dalam mengendalikan emosi yang negatif sehingga dapat membimbing diri agar tidak terjerumus pada perilaku yang menyimpang. Dalam proses regulasi emosi adapun keterampilanketerampilan yang dianggap perlu untuk dapat mencapai kompetensi emosional, menurut Howells . Keterampilan untutk menyeleksi antar pengalaman emosional subjektif internal dan ekspresi emosional dari luar. Ketampilan dalam mengenali dan mengerti emosi orang lain Kemampuan untuk terlibat dengan empati. Keterampilan dalam menerapkan kosa kata emosi dan ekspresi kemamouan untuk menjadi efektif secara emosional Keterampilan dalam beradaptasi an melewati perasaan dan situasi yang sulit. Bisa disimpulkan bahwa dari pemaparan yang dikemukakan oleh para ahli dan peneliti diatas yaitu regulasi emosi adalah kemampuan untuk mengelola, mengontrol, mengevaluasi, dan mengubah tanggapan yang dibuat oleh seseorang. Selain itu, regulasi emosi juga mencakup kemampuan dalam mengenali emosi diri. Konseling Kelompok Menurut Prayitno . , konseling kelompok memiliki kelebihan yaitu berkembangnya kemampuan sosialisai Penerapan Konseling Kelompok Naratif Dengan Teknik Expressive Writing Untuk Meningkatkan Kemampuan Regulasi Emosi Di SMP Negeri 2 Surabaya seseorang, khususnya kemampuan berkomunikasi. Melalu konseling kelompok, hal-hal yang dapat menghambat atau menggangu sosialisasi dan komunikasi diungkap dan didinamikakan melalui berbagai teknik, sehingga kemampuan sosialisasi dan komunika seseorang berkembang secara optimal. Menurut Winkes dan Hastuti . Para anggota kelompok mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu sama lain sehingga mereka dapat saling memberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan yang khas pada fase perkembangan mereka. Masingmasing anggota kelompok memahami dirinya dengan baik dan menemukan dirinya sendiri. ANT Tinggi Meningkat AKD Sedang Meningkat MAN Sedang Meningkat RJA Sedang Meningkat Sedang Meningkat Tinggi Meningkat Tinggi Meningkat METODE Pada penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dimana dalam penelitian ini membutuhkan penggunaan angka, mulai dari proses pengumpulan data hingga pada proses penginterprestasian data dengan latar belakang data tersebut, serta tampilan hasilnya. Desain yang digunakan adalah penelitian pre-Experimental one-group pretestposttest. Adapun langkah-langkah penelitian eksperimen dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Prestest, yaitu kegiatan menguji tingkatan pengetahuan peserta terhadap materi yang akan Secara sederhana, pengertian pre test adalah tes yang dilakukan sebelum guru memulai kegiatan pembelajaran. Pre test diberikan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik terkait materi yang akan disampaikan. Treatment (Perlakua. Konseling kelompok metode Expresive Writing adalah bentuk perlakuan. Tujuan dari konseling kelompok metode Expresive Writing adalah untuk membantu orang mengendalikan emosi 5 sesi konseling selama 45-60 menit. Posttest, yang diberikan kepada peserta didik yang mengikuti perlakuan konseling kelompok metode Expresive Writing. Tujuan dari posttest adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan regulasi emosi peserta didik setelah perlakuan . NBA DAP Sedang Tinggi MFS KJN Dari hasil perhitungan tabel diketahui bahwa setiap setiap subyek mengalami peningkatan skor dan skor rata-rata juga meningkat. Peningkatan skor rata-rata yaitu sebanyak 14 sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan konseling kelompok Teknik expressive writing dapat meningkatkan regulasi emosi siswa sehingga hipotesis yang berbunyi Au Penerapan Konseling Kelompok dengan Metode Expresive Writing dapat meningkatkan regulasi emosi peserta didikAy diterima. Dengan demikian perlakuan konseling kelompok teknik Expresive Writing dapat meningkatkan regulasi emosi kelas Vi di SMP Negeri 2 Surabaya. Setelah pemberian perlakuan teknik expressive writing terdapat perbedaan skor antara pre-test dan post-test tingkat regulasi emosi siswa. Oleh sebab itu disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada skor regulasi emosi siswa antara sebelum dan sesudah pemberian teknik expressive writing. Dari analisis diatas, maka dapat dikatakan bahwa hipotesis yang diajukan dalam peneliian ini, yaitu AuPenerapan konseling kelompok dengan teknik expressive writing dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan regulasi emosiAy dapat diterima. Dengan demikian perlakuan dengan teknik expressive writing dapat meningkatkan kemampuan regulasi emosi siswa kelas 8 SMP Negeri 2 Surabaya. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel Analisis Pre-Test dan Post-test PrePostNo Ssiswa Kategori Ket Sedang AMA Meningkat ABB PENUTUP Simpulan Penelitian ini dilakukan untuk menguji pemanfaatan teknik expressive writting untuk membantu meningkatkan pengelolaan emosi marah siswa. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Suarabaya dengan tingkat kemampuan regulasi emosi siswa yang rendah. Berdasarkan hasil pre Meningkat Meningkat Penerapan Konseling Kelompok Naratif Dengan Teknik Expressive Writing Untuk Meningkatkan Kemampuan Regulasi Emosi Di SMP Negeri 2 Surabaya Niederhoffer. , & Pennebaker. Sharing one's story: On the benefits of writing or talking about emotional experience. In S. Lopez & C. Snyder (Eds. Oxford Handbook of Positive Psychology . 621- . New York: Oxford University Press. test diperoleh 10 siswa yang dipilih sebagai subyek 10 siswa sebagai subyek penelitian ini diberikan perlakuan sebayak 5 kali, dalam proses pemberian perlakuan subjek penelitian diminta unuk menuliskan pengalaman emosional yang berkaitan dengan Regulasi Emosi. Noor. Juliyansyah. Metodologi Penelitian. Jakarta. Kencana Prenada Media group. Saran Dari penelitian yang telah dilakukan peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut: Untuk konselor Sekolah konselor diharapkan dapat menerapkan konseling dengan teknik expressive writing dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling pengelolaan emosi marah siswa. Untuk pihak sekolah Hasil penelitian ini diharapkan bisa sebagai masukan bagi sekolah dalam pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah. Pennebaker. Opening up: The healing power of expressing emotion. New York: Guilford Press. DAFTAR PUSTAKA