Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 6 . June 2026 p-ISSN: 2774-6291 e-ISSN: 2774-6534 Available online at http://cerdika. id/index. php/cerdika/index Visualitas Ruang Komunal: Studi Kualitatif tentang Persepsi dan Identitas Visual Akhmad Farisan Garnida*. Wiryono Raharjo Universitas Islam Indonesia. Indonesia Email: afarisan@ymail. com*, raharjo@uii. Keywords: communal spaces. visual identity. Kata Kunci: ruang komunal. identitas visual. Abstract Communal spaces are places that support social interaction as part of community life. The existence of communal spaces is important to develop social identity and create a comfortable and appealing environment. One important aspect of communal spaces is visual identity. Visual identity is a graphic representation used consistently to shape public perception. This study aims to . explore the visual connection between perception and visual identity in communal spaces. formulate effective solutions to the problems of neglected communal spaces. The research method used is a qualitative approach with a literature review. The study shows that perception and visual identity influence each other and are connected in building a good communal space. An abandoned building can be revitalized into a good communal space by applying the concept of adaptive reuse, which also combines perception and visual identity. This research is hoped to serve as a foundation for designers and planners in creating communal spaces that are more communicative, aesthetic, and functional. Abstrak Ruang komunal merupakan tempat penunjang terjadinya interaksi sosial sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat. Keberadaan ruang komunal menjadi penting untuk mengembangkan identitas sosial dan menciptakan lingkungan yang nyaman serta menarik. Salah satu aspek penting di dalam ruang komunal adalah identitas visual. Identitas visual merupakan representasi grafis yang digunakan secara konsisten untuk membentuk persepsi publik. Penelitian ini bertujuan untuk . Mengeksplorasi keterkaitan visualitas antara persepsi dan identitas visual pada ruang . Merumuskan solusi efektif terhadap permasalahan ruang komunal yang terbengkalai. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kajian literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa persepsi dan identitas visual saling memengaruhi dan berkaitan untuk membangun ruang komunal yang baik. Suatu bangunan yang terbengkalai dapat direvitalisasi menjadi ruang komunal yang baik dengan penerapan konsep adaptive reuse yang juga menggabungkan antara persepsi dan identitas visual. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perancang dan perencana dalam menciptakan ruang komunal yang lebih komunikatif, estetis, dan fungsional. PENDAHULUAN Ruang Komunal adalah kebutuhan pokok untuk mengembangkan kehidupan bermasyarakat yang berfungsi sebagai ruang sosial (Sofia Roofina et al. , 2021. Wellman. Barry & Leighton, 1. Ruang komunal menjadi lokasi yang tepat untuk melakukan berbagai aktivitas yang memungkinkan terjadinya interaksi. Interaksi manusia secara alamiah akan berusaha untuk memperoleh keselarasan dengan lingkungannya, di mana lingkungan yang nyaman mampu menjadi daya tarik bagi orang untuk datang (Sofia Roofina et al. , 2. Di masa sekarang ini, hampir seluruh kehidupan masyarakat perkotaan dilakukan dalam sebuah lingkungan yang telah terbangun. Suatu area memerlukan daya tarik untuk menarik pengunjung berdatangan guna mempertahankan keadaan suatu area atau kawasan bangunan. Sebuah ruang dan penggunanya saling memengaruhi. Keberadaan ragam bentuk dan warna pada suatu kawasan bangunan menjadi sangat penting untuk mengetahui unsur visual suatu Berdasarkan hal tersebut, penting untuk mengetahui kualitas visual dari ruang-ruang publik di perkotaan. Kualitas estetika visual dipengaruhi oleh penilaian masyarakat yang menghabiskan waktu di jalan tersebut melalui pandangannya masing-masing. Ruang komunal berperan penting dalam perancangan kota yang lebih manusiawi dan berkelanjutan, serta mendorong interaksi sosial yang positif dan pembentukan identitas komunitas yang kuat. Ruang komunal memungkinkan terjadinya perkumpulan suatu komunitas atau pengguna yang datang di waktu yang bersamaan sehingga terasa padat dan Perancangan di dalam ruang komunal dipikirkan secara khusus untuk mendorong interaksi sosial. Fasilitas pendukung interaksi sosial di antaranya adalah area duduk, ruang diskusi atau area kerja kelompok, hingga, perpustakaan mini (Sofia Roofina et al. , 2. Salah satu aspek penting di dalam ruang komunal adalah identitas visual. Identitas visual merupakan representasi grafis yang mencakup elemen seperti logo, warna, tipografi, tata letak, dan elemen visual lainnya yang digunakan secara konsisten untuk membentuk persepsi publik (Darmawan, 2. Identitas visual tidak hanya berperan sebagai penanda estetika, tetapi juga sebagai media komunikasi nonverbal yang memengaruhi persepsi dan pengalaman pengguna terhadap ruang tersebut. Persepsi terbentuk dari tiga aspek pengaruh yaitu karakteristik fisik dari stimulus, hubungan antara stimulus dengan lingkungannya, dan kondisi individu (Bintari, 2. Sering kali terjadi diskoneksi antara identitas visual yang direncanakan dengan persepsi yang dirasakan oleh publik. Ketika sebuah ruang komunal gagal mengkomunikasikan identitas visual, muncul fenomena ruang komunal menjadi terbengkalai dan tidak berfungsi sebagaimana tujuan awalnya. Ruang-ruang ini menjadi ruang AumatiAy karena perspektif negatif dari para penggunanya. Keberadaan bangunan yang terbengkalai cenderung menurunkan nilai visual dan fungsi suatu kawasan, menghambat perkembangan wilayah, serta menimbulkan berbagai hambatan dalam menciptakan lingkungan perkotaan yang berkelanjutan (Farhan. The novelty of this research lies in its integration of perception and visual identity as interconnected elements in communal space design and its application of three architectural strategiesAiAdaptive Reuse. Placemaking, and Tactical UrbanismAito address neglected Unlike most existing research that focuses on a single approach, this research compares and synthesizes these three strategies, providing a more nuanced understanding of when each is most appropriate. The discussion of Teras Cihampelas as a case study provides concrete context for theoretical concepts. The research also contributes to planning theory by demonstrating how perception and visual identity can be systematically integrated into communal space planning processes, as suggested by the PUPR guidelines. Tulisan ini akan merespon dua pertanyaan penelitian, yaitu: . Apa hubungan antara persepsi dan identitas visual pada sebuah ruang komunal? . Bagaimana menyelesaikan masalah terhadap ruang komunal yang terbengkalai? Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka tujuan dalam penelitian ini adalah . Menganalisis persepsi dan identitas visual pada sebuah ruang komunal. Merumuskan solusi efektif terhadap permasalahan ruang komunal yang terbengkalai. Batasan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh melalui kajian literatur. Karena keterbatasan data yang tersedia, tidak menutup kemungkinan terdapat faktor lain di luar dari kategori faktor yang telah ditelusuri dalam penelitian ini yang dapat melengkapi atau meneruskan penelitian ini di masa yang akan datang. Sehingga, untuk mengetahui lebih lanjut terkait signifikansi dan validitas hasil dalam penelitian ini, diperlukan pengujian lain melalui simulasi, kuesioner, atau wawancara pada penelitian selanjutnya. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menerapkan pendekatan studi literatur atau yang sering disebut sebagai studi kepustakaan. Metode ini merupakan teknik perolehan data dan informasi melalui analisis mendalam. HASIL DAN PEMBAHASAN Persepsi Persepsi merupakan hasil pengolahan informasi oleh otak. Otak menerima informasiinformasi berupa stimulus yang tertangkap oleh visual dengan mata, pendengaran, penciuman, rasa, dan perabaan. Persepsi manusia dipengaruhi oleh persepsi lingkungannya. Persepsi lingkungan yang dibentuk oleh ruang dengan warna, tekstur, perubahan bentuk, jarak, skala, dan bagaimana tata cahaya di dalam ruang. Persepsi di dalam ruang komunal maksudnya adalah pandangan dari pengguna ruang terhadap tempat yang mereka datangi, berupa area publik atau ruang komunal yang berkaitan dengan elemen-elemen bangunan seperti harmoni massa dan ruang, proporsi, keseimbangan, simetri, keseimbangan, kontras, pattern, dekorasi, building massing, kesatuan, dan irama. Pandangan ini berasal dari panca indera manusia yang kemudian memunculkan perasaan dan pengalaman ruang. Ruang komunal . erasal dari kata AucommunalA. yang berarti berhubungan dengan umum dan merupakan ruang yang menampung kegiatan sosial dan digunakan untuk seluruh masyarakat atau komunitas. Artinya ruang komunal dapat terjadi di ruang luar atau dalam (Bintari, 2011. Inavonna, 2. Karakteristik dasar pembentukan dan fungsi antara ruang luar publik dan ruang luar komunal akan memengaruhi aspek-aspek kenyamanan ruangnya (Inavonna, 2. Masing-masing perancangan fisik ruang mempunyai faktor independen yang berpengaruh terhadap perlaku pemakainya. Faktor tersebut adalah ukuran dan bentuk, warna, serta unsur lingkungan seperti suara, temperatur, dan pencahayaan. Persepsi akan sebuah kompleksitas informasi yang diterima otak memengaruhi psikologis pelakunya. Hal ini terlihat dengan jelas ketika perancang mampu memainkan tekstur, keterbukaan dan ketertutupan, pencahayaan, warna, jarak, tinggi rendah, panjang pendek, kedalaman, skala, dan elemen perancangan rupa arsitektur lain (Bintari, 2. Identitas Visual Identitas visual di dalam ruang komunal merupakan strategi pemangku kebijakan untuk dapat menarik minat para pengunjung agar datang menuju ruang komunal yang dimaksud. Identitas visual dalam konteks bangunan memberikan peran penting bagi suatu tempat karena dapat meningkatkan citra dan daya tariik sebuah tempat sehingga lebih dikenal dan dikenang masyarakat (Geralda & Ramadhan, 2. Penggunaan aneka warna, tipografi yang baik, dan format yang konsisten dapat menarik minat pengunjung atau pengguna ruang komunal. Mata manusia, sebagai panca indera utama yang dapat menyaksikan visualitas ruang komunal menciptakan pengalaman dan membentuk kesan. Seluruh elemen yang muncul di dalam ruang komunal seharusnya bukan hanya untuk kepentingan estetika saja, tetapi harus memiliki alasan yang jelas dan dapat diterima pengguna. Elemen-elemen tersebut dapat berupa bentuk bangunan itu sendiri, landmark, atau obyek alami seperti vegetasi. Identitas visual yang kuat membantu pengguna mengenali karakter ruang, memperkuat orientasi, serta meningkatkan rasa nyaman. Hal ini menunjukkan bahwa desain ruang komunal memengaruhi pengalaman psikologis dan sosial penggunanya, tidak hanya berkaitan dengan fungsi fisik. Identitas visual di dalam arsitektur juga dapat berupa signage atau informasi visual yang bertujuan sebagai pemahaman spatial yang berguna dalam menemukan jalan atau wayfinding (Bintari, 2. Perbedaan bentuk ruang merupakan wayfinding di dalam arsitektur yang juga merupakan representasi dari identitas visual. Informasi visual tidak harus dengan sign berupa tanda rambu atau simbol, pictogram, atau penunjuk arah berupa kata dan arah Perubahan situasi dari ruang luar menuju ruang komunal, atau ruang satu menuju ruang lainnya yang masih di dalam bangunan yang sama dapat memengaruhi psikologis pelaku ruang dan menjadi identitas visual (Bintari, 2. Identitas visual merupakan media komunikasi nonverbal yang memengaruhi persepsi ruang. Ruang Komunal Ruang komunal merupakan bagian dari ruang publik namun lebih spesifik terkait fungsi dan kepemilikannya. Ruang komunal biasanya lebih menekankan pada komunitas atau kelompok tertentu, sehingga aktivitas yang terjadi di dalamnya tidak sebebas ruang publik meski masih memungkinkan terjadinya beragam aktivitas yang tidak saling terhubung. Karakteristik ruang komunal adalah sebagai ruang untuk menampung berbagai kegiatan bersama dengan menekankan pada aktivitas sosial walaupun di dalamnya terdapat kegiatan lain seperti ekonomi dan budaya, ruang yang dikontrol, diperuntukkan dan untuk kebutuhan bersama-sama (Nurwarsih & Wijaya, 2. Ruang komunal dikelompokkan menjadi beberapa klasifikasi, yakni berdasarkan kondisi ruang . uang terbuka dan ruang tertutu. , berdasarkan perilaku masyarakat . irencanakan dan dimanfaatkan dengan baik, direncanakan tapi tidak digunakan, dan tidak direncanaka. , serta berdasarkan kelompok pemakai atau aktivitas tertentu . etting pendidikan, perkantoran, dan perumaha. Tujuan awal dibangunnya ruang komunal baik itu secara terencana maupun tidak terencana memiliki perbedaan dengan realita. Salah satu studi kasus yang diambil pada peneitian Ini adalah Teras Cihampelas yang berlokasi di pusat Kota Bandung. Teras Cihampelas Gambar 1: Teras Cihampelas, 2025 Pada awalnya bertujuan sebagai alokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) agar jalanan lebih terawat dan terasa lega. Namun, antusias masyarakat setelah pembangunan selesai menurun, terdapat beberapa permasalahan yang diasumsikan tidak sesuai dari kaidah ruang publik (Damayanti. Resky Annisa & Jasjfi, 2. Kini Teras Cihampelas menjadi Auruang matiAy dan masih menunggu kebijakan selanjutnya dari pihak yang berwenang. Semakin lama bangunan terbengkalai maka bangunan akan mengganggu wajah kota dan tidak berharga lagi sehingga menurunkan kualitas dan identitas sebuah kota (Purwantiasning, 2. Mengacu kepada panduan PUPR tahun 2024 tentang pengelolaan ruang publik, beberapa pilihan aksi yang dapat diakukan oleh para pemangku kepentingan, antara lain . Mendorong keterlibatan lembaga swasta, filantropi, dan masyarakat dalam penyediaan ruang publik perkotaan. Mengidentifikasi lahan-lahan potensial sebagai ruang terbuka publik di kawasan permukiman, secara inovatif dan masif. Bekerja sama dengan asosiasi profesi atau perguruan tinggi dalam mengembangkan rencana dan rancangan ruang publik. Menyosialisasikan gerakan pertanian perkotaan melalui berbagai media. Hal ini sejalan dengan Planning Theory oleh Allmendinger . dan Communicative Planning Theory oleh Healey . yang menyatakan bahwa keberhasilan ruang komunal memerluan partisipasi banyak pihak, termasuk masyarakat di dalam perencanaan dan perancangannya agar tepat sasaran, sesuai kebutuhan calon pengguna. Diperkuat dengan A System View of Planning Theory oleh Chadwick . , teori ini, mengemukakan bahwa ruang komunal dipengaruhi oleh perspektif sistemik, di mana setiap elemen dalam ruang dianggap sebagai bagian dari sistem yang saling terkait. Dengan memahami bagaimana elemen-elemen tersebut berinteraksi, perencana dapat merumuskan kebijakan yang lebih efektif dan berkelanjutan. Teori ini menekankan pentingnya penggunaan teknologi dan data dalam analisis sistemik untuk meningkatkan akurasi perencanaan dan mengurangi potensi dampak negatif dari kebijakan yang tidak terintegrasi. Strategi Penyelesaian Adaptive Reuse Secara umum konsep adaptive reuse dilakukan sebagai alternatif untuk melindungi dan menjaga bangunan dengan langkah mengalihkan fungsi lama menjadi fungsi baru yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar maupun kawasan itu sendiri (Wibowo et al. , 2. Konsep adaptive reuse tidak hanya sekedar mengembalikan tampilan fisik arsitekturnya saja, melainkan berusaha menghormati dan menghargai nilai-nilai sejarah pada bangunan atau kawasan dengan pengembangan yang sifatnya tidak merubah struktural namun tetap dalam tujuan yang lebih bermanfaat. Terdapat dua fungsi utama dari pengaplikasian konsep adaptive reuse (Sofiana, n. ), yakni . Menjadikan kawasan atau bangunan sebagai sumber sejarah dan budaya dengan tetap mempertahankan nilai-nilai sejarah yang tersirat di dalamnya. Meningkatkan perekonomian masyarakat setempat dengan adanya fungsi baru dari kawasan atau bangunan tersebut. Berikut adalah beberapa contoh implementasi konsep Adaptive Reuse: Locaahands Tunjungan. Surabaya. Kondisi awal bangunan tetap dipertahankan dengan penyesuaian terhadap fungsi barunya. Perancangan ini tidak menghilangkan struktur atau bagian fisik yang menjadi ciri khas, justru semakin menonjolkan ciri khas gedung tersebut. Sebagaimana konsep Adaptive Reuse, perancangan ini mengubah kegunaan fungsi yang disesuaikan dengan kebutuhan masa kini tanpa melakukan perubahan menyeluruh atau bahkan mengakibatkan dampak sekecil mungkin (Gandarum et al. , 2. Kawasan Heritage Gajah Mada. Bali. Pendekatan Adaptive Reuse di kawasan ini tampak pada bangunan-bangunan yang mengalami perubahan jenis usaha. Dalam artian, fungsi bangunan tetap sebagai bangunan komersial, akan tetapi produk yang diperjual belikan mengalami perubahan, sehingga ada tuntutan pemenuhan ruang yang berbeda (Zakharia. Placemaking Konsep placemaking adalah pendekatan yang dapat dilakukan untuk melakukan revitalisasi terhadap ruang yang mengalami degradasi, maupun ruang terbengkalai atau ruang mati (Yusuf, 2. Di dalam arsitektur, terdapat istilah space . dan place . Perbedaan space dan place terletak pada pemaknaan dari sisi penggunanya, space mengarah kepada keberadaan tempat itu sendiri, sementara sebuah space akan menjadi place ketika memiliki rasa, pengalaman, dan esensi terhadap seseorang selaku pengguna (Yusuf, 2. Proses pembentukan place . bertujuan agar dapat memberikan makna lebih pada suatu tempat sehingga dapat berfungsi baik dan berkelanjutan. Menurut Roger Trancik, sebuah space akan menjadi place jika mempunyai arti dari lingkungan yang berasal dari budaya Adapun budaya dalam lingkup spasial ruang memiliki dimensi fisik, sosial, dan mental (Zahnd, 1. Dimensi budaya tersebut didefinisikan kualitas-kualitasnya yang menurut organisasi Project for Public Spaces (PPS) adalah sebagai berikut: Dimensi fisik: adaptable, culturally aware, context-sensitive . Dimensi sosial: diverse, friendly, interactive, welcoming . Dimensi mental: spiritual, charming, attractive, memorable Placemaking . aking a plac. adalah sebuah proses untuk menciptakan tempat yang berkualitas . uality place. di mana orang dapat hidup, bekerja, dan belajar (Romadhon, 2024. Wyckoff, 2. Hal ini dapat membuat lingkungan menjadi bermakna karena pendekatan placemaking dapat meningkatkan sense of place yang membuat suatu ikatan antara manusia dengan lingkungannya, menyediakan area yang baik dan menarik untuk sosialisasi antar sesama manusia maupun antara manusia dengan lingkungannya. Prinsip placemaking adalah sebagai berikut (Kamila. Hilda. Pratama. Aditya. Ananta. Asti. Rostiana, 2. Merespon skala kesadaran inderawi manusia . Mengintegrasikan tradisi, alam, dan inovasi . Menekankan pada pembentukan identitas Beberapa contoh implementasi konsep Placemaking adalah sebagai berikut: The Hallway Space. Pasar Kosambi Bandung. Sebuah ruang publik yang berhasil menghidupkan area lantai dua pasar tradisional yang terbengkalai menjadi sebuah ruang multifungsi yang mengakomodasi kebutuhan ekonomi kreatif sekaligus menjadi tempat interaksi sosial yang inklusif (Kusumo, 2. Kelurahan Petamburan. Jakarta. Mitra pengimplementasian Placemaking adalah warga dan tim PKM Universitas Trisakti. Indikator keberhasilan jangka pendek . meliputi antusiasme keterlibatan aktivitas masyarakat dan kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi masalah, merumuskan kesepakatan, dan menyampaikan pendapat. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah pendekatan mitra dengan warga menghasilkan topik utama berupa penataan ruang terbuka publik sebagai place di permukiman padat (Gandarum et al. , 2. Tactical Urbanism Tactical Urbanism yang berpengaruh yaitu elemen, dampak, dan partisipasi masyarakat yang berarti jika Tactical Urbanism ditingkatkan akan meningkatkan pula tingkat Tactical Urbanism merupakan pendekatan dalam desain dan perencanaan yang menggunakan intervensi dan kebijakan yang memiliki biaya rendah, berjangka pendek, dan terukur sebagai katalis perubahan jangka panjang. Pendekatan ini juga menjelaskan berbagai bentuk intervensi produk kompleksitas yang terjadi di dalam wilayah perkotaan (Silva, 2. Pada umumnya. Tactical Urbanism juga digunakan jika adanya permasalahan dari sebuah kota atau hanya sekedar memperbaiki situasi yang ada bahkan memulai yang baru. Pengaplikasian Tactical Urbanism terbagi menjadi tiga, yaitu: Inisiatif masyarakat untuk menyampaikan aspirasi mereka. Keikutsertaan dari pihak pemerintah, pengembang, dan suatu organisasi penggerak proyek. Pendekatan Tactical Urbanism sebagai instrumen untuk menguji sebuah proyek sebelum investasi dalam jangka panjang yang akan dilakukan kedepannya. Tactical Urbanism merupakan alat untuk menjembatani kesenjangan antara pihak internal atau masyarakat dengan pihak eksternal semisal pemerintah, pengembangan, atau yang lainnya dengan menciptakan suasana yang positif bagi kedua pihak. Konsep ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas ruang dengan kapasitas lahan dan finansial yang terbatas. Adapun karakteristik penerapan Tactical Urbanism adalah sebagai berikut: Pendekatan kontemporer . Implementasi konsep . Intervensi perkotaan skala kecil . Peningkatan kualitas hidup . Setiap desain TU Beberapa contoh implementasi konsep Tactical Urbanism adalah sebagai berikut: A Kampung Wisata Hidroponik. Simomulyo. Kampung ini merupakan kampung tematik hasil dari kerjasama binaan PT Pelindo i dengan Pusat Kajian Potensi Daerah dan Pembedayaan Masyarakat (PDPM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Hasil dari penerapan Tactical Urbanism di kampung ini adalah terbentuknya konsep rancang untuk 5 zona kegiatan eduwisata . estival, transisi menuju rest area, dan edukas. Total realisasi dari yang direncanakan sebesar 20% dan direkomendasikan untuk kegiatan pengabdian selanjutnya (Fitri, 2. A RW 08. Cipinang. Jakarta Timur. Kawasan ini dikelola oleh Ampar Adhum Community yang berhasil mengubah gang kosong menjadi ruang hijau sepanjang 700 meter dengan mengelola 5000 pot hias, 2000 pot tanaman obat, 3000 pot tanaman buah, 500 lubang tanam untuk sayuran (Pranata, 2. KESIMPULAN Keterkaitan antara persepsi dengan identitas visual di dalam ruang komunal bersifat terhubung atau saling memengaruhi. Identitas visual, yang dipresentasikan melalui elemen arsitektural, material, dan tata letak membentuk persepsi positif pengguna terhadap karakter dan fungsi ruang tersebut sehingga berpeluang untuk datang kembali. Dalam membentuk pengalaman ruang yang positif, pengguna ruang tentu menilai kemudahan dalam mengakses seluruh ruang. Signage yang menarik dan jelas untuk dilihat dapat meningkatkan kemampuan wayfinding atau mencari arah pada pengguna ruang. Penelitian ini menegaskan bahwa kualitas ruang komunal perkotaan sangat dipengaruhi oleh keterpaduan antara persepsi dan identitas Dalam tipologi ruang kota, informasi visual menjadi penanda untuk membangun orientasi dan persepsi. Kualitasnya bergantung kepada penilaian yang muncul dari persepsi dan perasaan manusia ketika melihat sesuatu yang berkaitan dengan indra penglihatan. Sementara itu, beberapa ruang yang telah terbangun mengalami kegagalan baik dari segi daya tarik maupun ketidaksesuaian dengan fungsi aslinya. Ruang-ruang seperti ini pada akhirnya terbengkalai karena dibiarkan terlalu lama. Ruang komunal yang terbengkalai memerlukan evaluasi lebih lanjut, dimulai dari proses perencanaan yang perlu secara matang dipikirkan, sebagaimana panduan dari PUPR terkait perencanaan ruang komunal, di antaranya yakni perlu adanya partisipasi dari seluruh pihak, termasuk di dalamnya adalah masyarakat. Hal ini bertujuan agar ruang komunal tepat sasaran, baik dari segi kebutuhan maupun dari segi persepsi calon pengguna. Terdapat tiga konsep arsitektur untuk menyelesaikan permasalahan ruang komunal yang terbengkalai, yakni . Adaptive Reuse, konsep ini memanfaatkan kembali bangunan lama dengan fungsi baru namun tetap mempertahankan sebagian besar karakter atau struktur bangunan yang ada. Fokus utama pada konsep ini adalah bangunan fisiknya. Placemaking, konsep ini berusaha menciptakan tempat yang memiliki makna bagi penggunanya sehingga berpusat pada kebutuhan, pengalaman, sosial, dan budaya penggunanya . Tactical Urbanism, merupakan intervensi sementara untuk menguji ide sebelum diterapkan secara Revitalisasi ruang yang terbengkalai perlu diidentifikasi lebih dulu terkait segala aspek yang dibutuhkan, khususnya pada fungsi bangunannya. Setelah dilakukan identifikasi, maka akan ditemukan konsep arsitektur yang cocok dan tepat. Penelitian ini masih terbatas pada kajian literatur. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam, diperlukan penelitian lanjutan melalui studi lapangan, kuesioner, atau wawancara untuk menguji persepsi pengguna secara empiris. REFERENSI