GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Analisis Aspek Perkembangan Remaja terhadap Prokrastinasi Akademik Siswa di Sman 92 Jakarta Sekar Aprilia1* . Melina Lestari1 . Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA. Indonesia Abstract Academic procrastination is a common issue among teenagers and students and can have negative effects on their academic performance and mental health. At the same time, adolescent development involves significant physical, emotional, and social changes that can impact how students manage their time and academic responsibilities. Therefore, it is important to understand how specific aspects of adolescent development contribute to academic procrastination. This research uses a qualitative approach with a narrative The participants in this study are students from SMAN 92 Jakarta. The aim of this research is to determine whether aspects of adolescent development influence academic The study uses interview guidelines as a tool for data collection. After gathering data from the field, the researcher will analyze it using an interactive model by Miles & Huberman, involving data reduction, data presentation, and drawing conclusions/verification. The results of this study indicate that respondentsAo perspectives on delaying the start of tasks include . lack of understanding of the task. intention to complete the task. underestimating the task. Students often fulfill their obligations as learners by completing assignments, earning grades, or honing their skills when given daily tasks. Enjoyable activities for students include engaging in non-learning-related activities and preferring to study or work on tasks in groups. Keywords: Procrastination. Academic. Adolescent Development Info Artikel Histori Artikel: Dikirim: 2024-05-15 | Diterbitkan: 2024-10-26 DOI: http://dx. org/10. 24127/gdn. Vol 14. No 3 . Halaman: 849 Ae 665 (*) Penulis Korespondensi: Sekar Aprilia. Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA. Indonesia. Email: sekaraprilia124@gmail. Ini adalah artikel akses terbuka yang disebarluaskan di bawah ketentuan Lisensi Internasional Creative Commons Atribusi 4. 0, yang mengizinkan penggunaan, penyebaran, dan reproduksi tanpa batasan di media mana pun dengan mencantumkan karya asli secara benar. PENDAHULUAN Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam tahap perkembangannya dapat digolongkan sebagai remaja akhir yang berusia antara 15 hingga 18 tahun. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang mutlak. Siswa harus mampu mengembangkan berbagai potensi Page | 649 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA yang dimilikinya secara optimal, selalu dihadapkan pada tugas-tugas akademik dan nonakademik. Namun penyelenggaraan pendidikan pada jenjang tersebut seringkali menghadapi banyak kesulitan dan hambatan. Biasanya permasalahan yang muncul antara lain kesulitan mengatur waktu belajar dengan waktu yang dihabiskan untuk bermain bersama teman atau bermain game online, serta seringnya guru frustasi dalam mengajar sehingga pekerjaan rumah yang diberikan menumpuk dan membuat siswa frustasi. Permasalahan ini terjadi akibat remaja yang sesuai perkembangannya kurang stabil dalam mengendalikan egonya. Tidak semua siswa mempunyai kemampuan mengatur waktu dengan baik. Banyak siswa yang mengeluh karena tidak dapat menemukan waktu untuk memulai dan melakukan sesuatu, membuang-buang waktu yang dapat bermanfaat. Kecenderungan untuk tidak segera memulai suatu tugas merupakan tanda dari perilaku penundaan dan manajemen waktu yang ceroboh, serta merupakan faktor penting yang menyebabkan individu menunda pelaksanaan dan penyelesaian tugas. Siswa terkadang lupa waktu ketika melakukan suatu kegiatan, termasuk kegiatan berorganisasi. Dalam Psikologi, melakukan penundaan tugas dikenal dengan istilah prokrastinasi. Prokrastinasi akademik adalah masalah umum di kalangan remaja dan pelajar dan dapat berdampak negatif terhadap kinerja akademik dan kesehatan mental mereka. Pada saat yang sama, perkembangan remaja melibatkan perubahan fisik, emosional, dan sosial yang signifikan, yang dapat mempengaruhi cara siswa mengatur waktu dan tanggung jawab akademik mereka. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana aspek-aspek tertentu dari perkembangan remaja berkontribusi terhadap prokrastinasi akademik. Prokrastinasi akademik, atau kecenderungan menunda-nunda sekolah, telah menjadi perhatian utama di kalangan pendidikan. Dalam beberapa dekade terakhir, fenomena penundaan akademik semakin mengkhawatirkan karena dampaknya terhadap keberhasilan akademik remaja. Penundaan akademik dapat berdampak negatif pada peningkatan prestasi akademik dan perkembangan pribadi remaja, sehingga menciptakan masa kritis dalam pembentukan identitas dan masa depan mereka. Rosario dkk. mengemukakan bahwa ketidakmampuan mengatur dan menggunakan waktu merupakan salah satu ciri prokrastinasi akademik. Beberapa ahli menafsirkan penundaan secara negatif dan pesimistis, menganggapnya sebagai gangguan terus-menerus yang tidak dapat dihilangkan, hanya diturunkan ke tingkat AunormalAy. Di sisi lain beberapa ahli lebih mengungkapkan optimisme dengan memandang penundaan sebagai suatu penyimpangan yang dapat dengan mudah diatasi melalui perubahan perilaku, pemikiran . , dan motivasi (Prawitasari, 2. Berdasarkan hasil penelitian (Abdullah dkk. menunjukkan bahwa penelitian dilakukan dalam banyak siklus, pada siklus I tingkat perilaku prokrastinasi siswa mengalami penurunan sebesar 19,62%. Sedangkan pada siklus 2 tingkat prokrastinasi siswa mengalami penurunan sebesar 13,59%. Berdasarkan data tersebut, kita dapat memahaminya sebagai tindakan penundaan. Selain itu, jika terus terjadi kelalaian siswa atau tertundanya penyelesaian tugas akan berdampak buruk bagi siswa. Keterlambatan dalam menyelesaikan tugas-tugas tersebut disebut prokrastinasi akademik. Orang yang suka menunda-nunda sering kali mengalami kurang tidur, depresi kronis, stres, dan banyak penyebab lain yang menyebabkan penyimpangan psikologis. Satiadarma . menjelaskan bahwa prokrastinasi akademik adalah ketidakmampuan menyelesaikan tugas akademik sebelum batas waktunya. Faktor-faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Menurut Ghufron . , faktor internal adalah faktor-faktor yang ada dalam diri individu. Page | 650 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA meliputi kondisi fisik dan keadaan psikisnya. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar diri individu, antara lain pengasuhan orang tua dan lingkungan yang mendukung, khususnya lingkungan yang baik hati. Penundaan sebenarnya tidak Melalui hal ini mereka mencoba mengatakan bahwa penundaan adalah perilaku yang dilakukan untuk menghindari sesuatu, bukan perilaku yang terjadi karena kurangnya waktu. Pada dasarnya siswa Sekolah Menengah Atas sedang berada di kondisi ideal yaitu berada di puncak nya untuk meningkatkan prestasi belajar, namun banyak siswa yang tidak berada di kondisi tersebut dan mengalami prokrastinasi akademik. Beberapa studi sebelumnya telah menjelaskan aspek perkembangan remaja yaitu karakteristik yang melakukan penundaan karena kurangnya rasa kepekaan, rasa keingintahuan, kemauan dan kemampuan terhadap pekerjaan yang sedang dihadapi. Beberapa karakteristik individu yang telah dijelaskan diatas masih saya temukan pada siswa SMAN 92 Jakarta. Selama proses kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan 2 lebih tepatnya saat melakukan interaksi dengan siswa. maka dari itu peneliti ingin mengkaji lebih dalam mengenai prokrastinasi akademik yang dikaitkan dengan aspek perkembangan remaja di SMAN 92 Jakarta. Dalam hal ini, penting untuk memahami hubungan antara perkembangan remaja dan prokrastinasi akademik. Perkembangan remaja merupakan proses kompleks yang mencakup perubahan fisik, kognitif, sosial, dan emosional yang signifikan. Faktor-faktor tersebut mungkin mempengaruhi perilaku prokrastinasi akademik remaja, namun pemahaman menyeluruh tentang bagaimana aspek perkembangan remaja mempengaruhi prokrastinasi akademik belum dapat dipahami dengan jelas. Perubahan identitas remaja, penemuan diri, dan hubungan sosial dapat berkontribusi terhadap perilaku prokrastinasi Identitas remaja yang berkembang pesat dapat menyebabkan mereka mencari cara baru untuk mengekspresikan diri, termasuk menghindari tugas-tugas yang dianggap Autidak relevanAy. Selain itu, interaksi sosial dengan teman dan tekanan sosial dapat mempengaruhi keputusan manajemen waktu remaja. Dalam konteks perkembangan kognitif, remaja juga mengalami perubahan signifikan dalam cara berpikir dan memproses Hal ini dapat memengaruhi cara mereka merencanakan, memecahkan masalah, dan melakukan pendekatan terhadap tugas pembelajaran yang kompleks. Pemahaman yang lebih baik mengenai peran aspek perkembangan ini dalam penundaan akademik dapat membantu merancang intervensi yang lebih tepat. Penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi beberapa faktor yang mungkin berperan dalam penundaan akademik pada remaja, antara lain tingkat motivasi, manajemen waktu, tingkat stres, dan keterampilan manajemen diri. Namun, aspek-aspek tertentu dari perkembangan remaja, seperti perubahan identitas, penemuan diri, dan perubahan dalam hubungan sosial, mungkin juga memainkan peran penting dalam penundaan akademik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana aspek-aspek tertentu dari perkembangan remaja, seperti perubahan identitas, penemuan diri, dan interaksi sosial, mempengaruhi penundaan belajar di sekolah. Dengan lebih memahami hubungan antara perkembangan remaja dan prokrastinasi akademik, pendidik dan konselor dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mengurangi tingkat penundaan akademik pada remaja, yang pada gilirannya dapat membantu meningkatkan prestasi akademik dan kesejahteraan remaja selama masa penting ini di kehidupan mereka. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk menggali pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana aspek perkembangan remaja, seperti perubahan identitas, eksplorasi Page | 651 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA diri, interaksi sosial, dan perubahan kognitif, memengaruhi prokrastinasi akademik mereka. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi berharga untuk pengembangan strategi pendidikan dan konseling yang lebih efektif dalam membantu remaja mengatasi prokrastinasi akademik dan meningkatkan prestasi mereka di sekolah. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, penelitian ini akan difokuskan kepada analisis aspek perkembangan remaja yang mengalami prokrastinasi akademik di SMAN 92 Jakarta. METODE Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif naratif. Jenis penelitian naratif ini melibatkan penggambaran fenomena atau realitas yang ada, baik yang alami maupun buatan manusia. Dalam metode penelitian naratif, analisis data yang diperoleh dilakukan dalam bentuk kata-kata, gambar atau perilaku. Dan hal ini diungkapkan bukan dengan angka atau statistik melainkan dengan memberikan penjelasan atau gambaran mengenai situasi atau kondisi yang diteliti dalam bentuk deskripsi naratif. Penelitian naratif merupakan laporan naratif yang menceritakan serangkaian peristiwa secara rinci. Dalam desain penelitian naratif, peneliti mendeskripsikan kehidupan individu, mengumpulkan cerita tentang kehidupan masyarakat, dan menulis cerita tentang pengalaman pribadi (Clandinin, 2. Penelitian naratif berfokus pada satu orang untuk mendapatkan data Kumpulkan cerita, pengalaman pribadi dan diskusikan maknanya pengalaman pribadi. Proses pengambilan dilakukan secara tatap muka dengan wawancara Wawancara semi terstruktur merupakan metode pengumpulan data primer dalam penelitian ini. Wawancara akan dilakukan terhadap remaja usia 15 hingga 19 tahun yang mengalami prokrastinasi Wawancara dalam penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi secara mendalam dengan menggunakan pertanyaan terbuka kepada partisipan dan mencatat jawaban mereka lalu mentranskipkan untuk dianalisis. Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui wawancara terhadap beberapa anak terkait . prokrastinasi akademik. aspek perkembangan remaja. Setelah data terkumpul peneliti melakukan analisis data menggunakan model interaktif Miles&Huberman . , analisis mencakup tiga aliran kegiatan yang dilakukan secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Terjadi secara simultan berarti reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi sebagai sesuatu yang saling terkait dan merupakan proses dan interaksi yang bersifat siklis sebelum, selama, dan setelah pengumpulan. Pengumpulan data dalam bentuk paralel menimbulkan suatu visi bersama yang disebut AuanalisisAy. Langkah Ae Langkah dalam penelitian naratif (Creswell, 2. yang telah dilakukan dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi analisis perkembangan remaja yang mengalami prokrastinasi akademik di SMAN 92 Jakarta. Memilih responden dimana peneliti dapat mempelajari hal Ae hal yang berkenaan dengan prokrastinasi akademik di SMAN 92 Jakarta. Mengumpulkan kisah . dari individu yang bersangkutan. Mengisahkan Kembali cerita pengalaman responden. Berkolaborasi dengan responden. Menuliskan narasi tentang kisah pengalaman responden, dan validasi keakuratan laporan. Partisipan Responden pada penelitian ini sebanyak 8 orang, karakteristik dari sampel ini adalah peserta didik kelas X yang bersekolah di SMAN 92 Jakarta dengan usia 15 Ae 17 tahun. Page | 652 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Instrumen Penelitian Tabel 1. Pedoman Indikator Wawancara Aspek Prokrastinasi Akademik No. Aspek Indikator Penundaan Untuk Memulai Ketidakpahaman pada Keterlambatan Aktivitas yang Kondisi Linngkungan Kode Indikator A1a Pertanyaan Niat untuk mengerjakan A1b Apa tujuan anda mengerjakan tugas? Menganggap remeh A1c Bagaimana jika kenyataannya tugas tersebut tidak semudah yang kamu pikirkan? Mengerjakan tugas tidak sesuai dengan waktu pengumpulan. A1d Apakah kamu merasa cukup dengan waktu yang diberikan oleh gurumu dalam pengerjaan tugas? Mengandalkan teman sehingga terlambat A1e Apa yang akan kamu lakukan ketika teman mu sudah selesai mengerjakan tugas dan kamu belum selesai? Apakah kamu akan menjadikan itu motivasi atau kamu akan meminta jawaban? Lebih suka belajar A1f Apakah kamu akan mengajak teman untuk mengerjakan tugas bersama Ae sama? Meelakukan aktivitas yang tidak berkaitan dengan proses A1g Jika kamu sedang mengerjakan tugas, apa yang kamu lakukan dengan handphone kamu? Apakah kamu meletakkan di tempat yang aman? sehingga tidak akan mengganggu waktu kamu dalam mengerjakan tugas. Parenting orang tua A1h Bagaimana peran orang tua kamu ketika kamu sedang mengerjakan tugas? Pergaulan A1i Seperti apa lingkungan pertemanan kamu? Page | 653 Apakah anda dapat memahami tugas yang diberikan oleh guru mata Pelajaran? GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Tabel 2. Pedoman Indikator Wawancara Aspek Perkembangan Remaja No. Aspek Perkembangan fisik Perkembangan Indicator Kondisi fisik yang tidak memiliki Kondisi Kesehatan Kode B1a Kondisi psikologis B1c Mengikuti tes yang berkaitan dengan psikologi remaja B1d B1b Perkembangan Kecerdasan emosional remaja B1e Perkembangan Kepercayaan diri B1f Tanggung Jawab B1g Kemandirian B1h Kepedulian sosial B1i Empati B1j Peemahaman nilai nilai moral B1k Toleransi terhadap B1l Perkembangan Perkembangan Perkembangan etika dalam hubungan B1m Pertimbangan etika dalam pengambilan B1n Page | 654 Pertanyaan Apakah kamu memiliki keterbatasan fisik? Jika iya itu apa? Apakah kamu memiliki Riwayat penyakit yang Apakah anda menyalahkan orang lain atas kesalahan yang anda Pernahkaah anda mengikuti tes psikologi?jika pernah apa saja tes yang pernah anda Bagaimana cara anda mengelola emosi dengan baik dan perilaku atau tinddakan seperti apa yang ingin anda lakukan untuk mengelola emosi? Bagaimana anda melihat diri anda sendiri? Dapatkah anda memberi contoh saat anda merasa bertanggung jawab terhadap sesuatu? Seberapa mandiri anda saat melakukan tugas sehari Ae hari? Seperti belajar, mengerjakan pekerjaan rumah atau mengatur waktu? Apakah anda terlibat dalam kegiatan sosial atau pengabdian Masyarakat. Bisakah anda memberikan contoh kapan terakhir kali anda merasakan empati yang tulus terhadap Menurut anda apa nilai moral yang penting dalam hidup anda? Bagaimana reaksi anda terhadap orang yang mempunyai keyakinan atau nilai berbeda dengan Bagaimana Anda memperlakukan teman, keluarga, dan pasangan dalam hubungan pribadi Anda? Bagaimana Anda mempertimbangkan nilainilai etika ketika mengambil keputusan GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA penting dalam hidup Anda? Analisis Data Menggunakan Nvivo 14 dengan project map. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis data kualitatif, berikut akan di paparkan analisis aspek perkembangan remaja terhadap prokrastinasi akademik siswa di SMAN 92 Jakarta sebagai berikut : Penundaan Untuk Memulai Gambar 1. Penundaan Untuk Memulai Perspektif para responden mengenai penundaan untuk memulai mengerjakan tugas adalah . ketidakpahaman pada tugas. niat untuk mengerjakan tugas. menganggap remeh tugas. Ketidakpahaman pada tugas sering terjadi dikarenakan berbagai faktor diantaranya faktor tempat duduk, faktor mata pelajaran, faktor guru pada saat menjelaskan. Hasil penelitian dari (Lestari, 2. menyimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar kognitif siswa antara siswa yang menggunakan pengaturan tempat duduk setengah lingkaran dengan yang menggunakan pengaturan tempat duduk tradisional. Peserta didik Sekolah Menengah Atas jika ingin mengerjakan tugas harus menunggu niat untuk mengerjakan tugas. Peserta didik yang melakukan penundaan terjadi karena terlalu banyak pemikiran agar tugas yang dikerjakan sempurna hasilnya. Berdasarkan data yang didapatkan oleh peneliti peserta didik hanya menjalakan keawajiban sebagai siswa untuk mengerjakan tugas, mendapatkan nilai, mengasah kemampuan diri jika diberi tugas harian. Jika peserta didik tidak memiliki niat untuk mengerjakan tugas hal yang akan terjadi adalah peserta didik sulit untuk mengerjakan nya. Page | 655 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA sering kali peserta didik juga menganggap remeh tugas yang diberikan oleh guru di sekolah. Jika peserta didik sudah menganggap remeh tugas hal yang akan dilakukan oleh pesserta didik adalah berkeluh kesah kepada teman sebaya, bertanya kepada keluarga, bertanya ke teman, searching, bahkan tidak jarang peserta didik mencontek. Ellis dan Knaus memberikan penjelasan tentang prokrastinasi akademik dari sudut pandang cognitive Ae behavioral. Prokrastinasi akademik terjadi karena adanya keyakinan irasional yang dimiliki oleh seseorang. Keyakinan irasional tersebut dapat disebabkan suatu kesalahan dalam memersepsikan tugas sekolah. Keterlambatan Mengerjakan Gambar 2. Keterlambatan Mengerjakan Menurut Freud . berkaitan konsep tentang penghindaran dalam tugas mengatakan bahwa seseorang yang dihadapkan tugas yang mengancam ego pada alam bawah sadar akan menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Berdasarkan jawaban dari para responden mengenai hal yang membuat keterlambatan dalam mengerjakan tugas adalah mengandalkan teman sehingga terlambat mengumpulkan tugas yang diberikan. Hal ini sesuai dengan penelitian (Nasikin, 2. Dalam penelitian ini dukungan sosial dari teman sebaya berpengaruh signifikan terhadap motivasi dalam mengerjakan tugas. Dengan kata lain, semakin positif motivasi, maka dukungan teman sebaya akan semakin memotivasi seperti bertanya kepada teman untuk meminta diajarkan, mencari berbagai sumber, tidak melihat jawaban teman, bahkan menjadikannya sebagai motivasi. Akan tetapi jika motivasi yang didapatkan bersifat negatif maka hal yang akan dilakukan oleh peserta didik adalah meminta jawaban ke teman yang sudah selesai mengerjakan tugas Mengerjakan tugas tidak sesuai dengan waktu pengumpulan juga menyebabkan keterlambatan mengerjakan tugas, saat melakukan pengambilan data 4 orang peserta didik menjawab tidak cukup dalam mengerjakan tugas, 6 orang menjawab cukup dalam Page | 656 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA pengerjaan tugas, dan 2 orang menjawab keduanya, disesuaikan dengan mata pelajaran dan bagaimana guru menjelaskan. Aktivitas Yang Menyenangkan Gambar 3. Aktivitas Yang Menyenangkan Aktivitas yang menyenangkan bagi peserta didik diantaranya melakukan aktivitas yang tidak berkaitan dengan proses pembelajaran dan lebih suka belajar atau mengerjakan tugas secara berkelompok. Berdasarkan gambar diatas para peserta didik memberikan jawaban sangat beragam yaitu pada saat mengerjakan tugas peserta didik menggunakanhandphone untuk mendengarkan musik, tidak menggunakan handphone ketika belajar dan menggunakan handphone sebagai tutorial. Pada saat ini, teknologi telah membuat kemajuan luar biasa di masyarakat, dan penggunaan ponsel pintar menjadi sangat populer di kalangan pelajar. Ponsel pintar dan ponsel dianggap sebagai alat Hal ini sejalan dengan pernyataan Mulyanta . 5: . bahwa telepon genggam dan telepon seluler merupakan perangkat yang sangat berguna yang memungkinkan komunikasi berlangsung dimana saja, tanpa dibatasi oleh ruang atau panjang kabel yang cocok. Dari hasil penelitian 5 peserta didik menjawab lebih suka belajar bersama dan 4 peserta didik menjawab tidak suka belajar bersama. Page | 657 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Kondisi Lingkungan Gambar 4. Kondisi Lingkungan Kondisi lingkungan peserta didik yang mempengaruhi prokrastinasi akademik dibagi menjadi dua yaitu parenting orang tua dan pergaulan. Hasil penelitian (Ferrari, 1. menemukan bahwa tingkat pengasuhan yang salah seperti otoriter ayah menyebabkan munculnya kecenderungan perilaku prokrastinasi yang kronis untuk anak Perempuan. Orang tua yang mengetahui anaknya tidak berprestasi di sekolah akan merasa kesal dan merasa gagal sebagai orang tua dalam mendidik anak. Akan tetapi hal tersebut tidak menjadikan kesadaran diri bagi orang tua sendiri, contohnya seperti orang tua akan menyalahkan anak mereka yang malas dan menganggap kebiasaan buruk tersebut berasal dari pengaruh yang tidak baik dari teman Ae temannya. Orang tua kerap kali tidak bisa membedakan antara mendukung anak dengan memaksa anak untuk belajar, padahal jelas ada perbedaan yang besar dalam konteks tersebut. Ada banyak orang tua yang hanya menyuruh anak untuk belajar tapi tidak pernah membantu atau menemani anak belajar, jika anak mendapatkan nilai yang jelek memarahinya. Millgram . tingkat atau level sekolah, juga apakah sekolah terletak di desa ataupun di kota tidak mempengaruhi perilaku prokrastinasi seseorang. Teman sebaya merupakan lingkungan kedua setelah lingkungan keluarga yang turut berpengaruh bagi kehidupan peserta didik (Latifah 2. Setelah peserta didik menjadi bagian dari anggota kelompok pertemanan, persetujuan teman sebaya menjadi lebih penting daripada persetujuan orang tuanya. Hal ini mengakibatkan peserta didik lebih cenderung untuk mengikuti perkataan teman dibandingkan perkataan orang tuanya. Pergaulan dengan teman sebaya itu baik untuk pengembangan siswa, melalui kelompok teman sebaya ini dapat mempelajari caranya bekerja sama dan belajar keterampilan menyampaikan pendapat. Page | 658 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Perkembangan Fisik Gambar 5. Perkembangan Fisik Aspek perkembangan fisik sangat mempengaruhi prokrastinasi akademik peserta didik. Fisik atau tubuh manusia terbentuk dari dalam kandungan . Perkembangan fisik individu meliputi empat aspek yaitu ,. sistem saraf, yang sangat mempengaruhi perkembangan intelektual dan emosional, . otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan keterampilan motorik, . kelenjar endokrin yang menyebabkan munculnya pola perilaku baru, seperti pada masa remaja berkembang. emosi: kebahagiaan ketika berpartisipasi dalam aktivitas yang melibatkan beberapa anggota lawan jenis dan . struktur fisik termasuk tinggi badan, berat badan dan proporsi (Hurlock, 1. Factor dari dalam diri individu yang turut mempengaruhi munculnya prokrastinasi akademik adalah keadaan fisik dan kondisi kesehatan individu, misalnya fatigue. Seseorang yang mengalami fatigue akan memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk melakukan prokrastinasi daripada yang tidak (Bruno, 1. Berdasarkan gambar diatas responden yang menjawab tidak memiliki keterbatasan fisik, akan tetapi kondisi kesehatan remaja generasi sekarang sangat mudah untuk lelah, capek, dan gampang mengeluh. Ada 2 orang responden yang memiliki kondisi kesehatan kurang baik, diantaranya penyakit kulit dan sinus. Perkembangan fisik pada remaja disesuaikan oleh gizi yang seimbang. Dampak yang terjadi jika remaja mengalami kekurangan gizi adalah menurun nya fungsi kognitif, menurunnya fungsi kekebalan tubuh dan mengakibatkan stunting. Begitu juga sebaliknya, jika remaja memiliki gizi yang cukup maka semakin matang perkembangan sistem syaraf otak yang mengatur otot dan keterampilan motorik. Dari penjelasan diatas maka dapat ditarrik kesimpulan keberhasilan perkemabangan fisik remaja dikarenakan faktor genetik orang tua dan gizi yang tercukupi. Page | 659 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Perkembangan Kognitif Gambar 6. Perkembangan Kognitif Chaplin . mengartikan inteligensi sebagai kemampuan beradaptasi menyesuaikan diri dengan cepat dan efektif terhadap situasi baru. keberhasilan siswa dalam belajar tidak hanya didasari oleh kecerdasan inteligensi saja, ada beberapa faktor salah satunya adalah kecerdasan emosional karena merujuk pada kemampuan kemampuan mengendalikan diri. Woolfolk . mengemukakan bahwa menurut teori teori lama, intelegensi itu meliputi tiga pengertian, yaitu . kemampuan untuk belajar . keseluruhan pengetahuan yang diperoleh . kemampuan untuk beradaptasi secara berhasil dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya. Berdasarkan data yang didapatkan kondisi psikologis responden masih belum Tumbuhnya daya pikir remaja membuka wawasannya cakrawala kognitif dan sosial baru. Pemikiran mereka menjadi semakin abstrak . emaja berpikir lebih abstrak dibandingkan anak-ana. , logis . emaja mulai berpikir seperti itu ilmuwan yang mengembangkan rencana untuk memecahkan masalah dan secara sistematis menguji solusi terhadap masala. dan idealism (Remaja sering kali berpikir tentang apa yang dapat mereka lakukan. Mereka memikirkan tentang karakteristik cita-cita diri sendiri, orang lain dan duni. lebih mampu memeriksa pikiran sendiri diri mereka sendiri, apa yang dipikirkan orang lain, dan apa yang dipikirkan orang lain tentang diri mereka sendiri serta cenderung menafsirkan dan memantau dunia sosial (Santrock, 2. Menurut A. Rizvi . kepribadian individu sangat mempengaruhi munculnya perilaku penundaan, misalnya kemampuan sosial self regulation dan tingkat kecemasan dalam berhubungan sosial. Responden cenderung marah Ae marah, menuduh teman. Seluruh responden sudah mengikuti test IQ dan test penjurusan di sekolahnya. Berbagai hasil penelitian juga menemukan aspek Ae aspek lain pada diri individu yang turut mempengaruhi seseorang Page | 660 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA untuk mempunyai suatu kecenderungan perilaku prokrasstinasi, antara lain rendahnya control diri (Green, 1. Perkembangan Emosi Gambar 7. Perkembangan Emosi Berdasarkan hasil data yang didapatkan jawaban responden sangat beragam terkait dengan kecerdasan emosional remaja, diantaranya yaitu tidur, diam, melakukan aktivitas fisik, sabar, pergi keluar rumah, istigfar, marah Ae marah, memakan makanan yang manis Ae manis. Emosi adalah suatu perasaan dan pikiran yang memberikan warna untuk menyertai setiap keadaan atau perilaku seseorang. Emosi sangat berpengaruh terhadap perilaku individu, emosi yang positif bisa memperkuat semangat sedangkan emosi yang negatif bisa melemahkan semangat, menghambat kegiatan yang sedang dilakukan, mengganggu konsentrasi belajar. Emosi adalah perasaan dan pikiran yang khas, keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan tindakan (Goleman. Page | 661 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Perkembangan Sosial Gambar 8. Perkembangan Sosial Perkembangan sosial dapat diartikan sebagai proses belajar untuk beradaptasi menyeesuaikan diri terhadap lingkungan, dan norma norma yang berlaku di kehidupan hubungan sosial remaja bisa dikatakan berhasil jika sudah melalui pencapaian kematangan. Dari hasil jawaban responden, rasa empati yang dimiliki beberapa responden cukup baik, akan tetapi ada satu orang yang kurang peka akan hal sekitar sehingga kurang memiliki empati antar sesama. Sebanyak 5 responden pernah mengikuti kegiatan kepedulian sosial di lingkungan sekolah maupun masyarakat, sedanfkan sebanyak 3 responden belum pernah mengikuti kegiatan kepedulian sosial dikarenakan belum mencoba hal Ae hal baru dan tidak mengikuti kegiatan organisasi. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, bagaimana pola asuh orang tua, dan norma Ae norma yang berlaku di sekitar. (Ambron, 1. mengartikan proses bersosialisasi dipengaruhi oleh orang tua. Sosialisasi dari orang tua ini sangatlah penting bagi anak. Upaya yang dapat dilakukan orang tua dalam rangka Page | 662 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA sosialisasi dan perkembangan sosial yang dicapai diantaranya melatih dan menyalurkan kebutuhan fisiologis, mengajar dan melatih keterampilan berbahasa, mengenalkan lingkungan kepada anak dan menjalankan tentang budaya. Orang tua juga harus mengembangkan keterampilan yang anak kuasai, seperti mendaftarkan anak kursus sesuai dengan keahliannya. Perkembangan Moral Gambar 9. Perkembangan Moral Pemahaman nilai moral yang dimiliki oleh responden yaitu responden mengerti terkait moral, responden sudah memiliki nilai Ae nilai moral yang penting dalam hidup responden, perkembangan moral juga dapat dilihat dari bagaimana cara responden berteman dengan teman yang berbeda kepercayaan, ketika responden memiliki teman yang memiliki perbedaan kepercayaan sikap responden adalah tidak membeda bedakan dengan teman yang sama kepercayaan nya, responden tetap berteman dan saling menghormati ketika teman responden ingin menjalankan ibadahnya. Etika yang dimiliki responden dalam berteman sangat baik, begitu juga dengan keluarga. Saat responden ingin mengambil keputusan responden selalu mempertimbangkan dengan nilai nilai etika. Menurut (Bertens, 2. menjelaskan definisi arti kata moral berasal dari bahasa latin Ae mos . amak : more. yang berarti : kebiasaan, dalam bahasa Indonesia, habbit dalam bahasa Inggris. Perkembangan moral berkembang melalui pengalaman interaksi Pada usia paruh baya, perilaku tidak hanya didasarkan pada pemenuhan kebutuhan fisik tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan psikologis. Remaja pada tataran Page | 663 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA konvensional, berperilaku sesuai dengan kebutuhan dan harapan kelompok, mematuhi norma atau peraturan yang ada dan diakui. Seperti halnya aspek-aspek pembangunan lainnya, unsur-unsur pokok perkembangan moral juga dipengaruhi oleh lingkungan. Anakanak setiap hari menyerap nilai-nilai moral dari orang tuanya. Jika orang tua nya mengajarkan nilai yang baik maka anak pun akan menjadi remaja yang mempunyai moral baik, lingkungan di rumah juuga sangat berpengaruh untuk perkembangan moral pada Tidak bisa dipungkiri lingkungan di perumahan komplek atau elite bagus untuk perkembangan moral karena adanya kualitas tetapi setiap kelebihan ada kekurangan, contohnya walaupun lingkungan di perumahan komplek elite bagus untuk perkembangan moral tetapi kurangnya interaksi sosial antar sesama karena kesibukkan mereka. Bukan berarti lingkungan di rumah biasa tidak baik untuk perkembangan moral, akan tetapi kita harus lebih bisa memilah yang baik untuk perkembangan moral kita, dan membuang yang tidak baiknya. SIMPULAN Kesimpulannya, penundaan pengerjaan tugas oleh peserta didik disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kurangnya pemahaman akan tugas, niat yang lemah, dan anggapan bahwa tugas tersebut remeh. Faktor lain yang mendukung perilaku ini meliputi lingkungan sosial, baik dari keluarga maupun teman sebaya, yang mempengaruhi kebiasaan belajar Penelitian juga menunjukkan bahwa kondisi tempat duduk yang kondusif dapat meningkatkan hasil belajar kognitif. Dari segi perkembangan fisik dan psikologis, responden mengalami ketidakstabilan emosional dan kondisi kesehatan tertentu yang turut memengaruhi keterlambatan. Aspek perkembangan moral dan nilai-nilai sosial juga berperan penting dalam pembentukan sikap siswa dalam mengerjakan tugas, dimana responden cenderung beradaptasi dengan baik terhadap norma yang berlaku, meski menghadapi tantangan dalam mengatur kecerdasan emosional dan kebiasaan belajar. REFERENSI