Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra P-ISSN: 1978-8800. E-ISSN: 2614-3127 http://journal. um-surabaya. id/index. php/Stilistika/index Vol. 13 No. Juli 2020, hal 127 - 138 HUBUNGAN PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP KETERAMPILAN MEMBACA INTENSIF SISWA KELAS X SMA BUDI MULIA THE RELATIONSHIP BETWEEN THE USE OF SOCIAL MEDIA AND CRITICAL THINKING ON THE INTENSIVE READING SKILLS IN STUDENTS CLASS X SMA BUDI MULIA Tiomas Redia Gultom1*. Yumna Rasyid2. Zainal Rafli3 Pascasarjana/Pendidikan Bahasa. Universitas Negeri Jakarta. Indonesia1,2,3 maydiaku@gmail. com1, yumzai. rasyid@gmail. com2, zainal. rafli@gmail. *penulis korespondensi Info Artikel ABSTRAK Sejarah artikel: Diterima: 24 April 2020 Direvisi: 7 Mei 2020 Disetujui: 10 Juni 2020 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunanaan media sosial dan berpikir kritis terhadap keterampilan membaca intensif. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dan desain penelitian adalah Populasi penelitian ini adalah anak milenial atau yang lebih dikenal dengan istilah Generasi Z, dalam lingkup khusus yaitu Siswa Kelas X SMA Budi Mulia di Jakarta dan Bogor. Instrumen penelitian ini dengan menyebarkan kuesioner kepada 139 orang siswa. Penulis telah membangun hipotesis melalui data yang terkumpul, lalu dianaliss dengan menggunakan fakto analisis korelasi, regresi dan load of factor. Hasil penelitian menunjukkan setidaknya terdapat lima dimensi keterampilan membaca para siswa: media sosial sebagai fokus bacaan dan sumber informasi, media sosial sebagai way of life, critical reading skill, self-dialogue saat membukamembaca media sosial, dan fokus berpikir kritis dalam menyampaikan gagasan dan juga selektif dan bijak dalam penggunaan media sosial. Penelitian ini memberikan penegasan akan adanya kebutuhan penggunaan media sosial untuk meningkatkan semangat membaca intensif di kalangan para siswa. Kata kunci: Media sosial, berpikir kritis, keterampilan membaca Article Info ABSTRACT Article history: Received: 24 April 2020 Revised: 7 May 2020 Accepted: 10 June 2020 This study aims to determine the relationship between the use of social media and critical thinking on intensive reading skills. This type of research is quantitative research and research design is correlation. The population of this research is millennial children or better known as Generation Z, in a special scope, namely Class X Students of Budi Mulia High School in Jakarta and Bogor. The instrument of this study was by distributing questionnaires to 139 The author has built hypotheses through collected data, then analyzed using facto correlation analysis, regression and load of factors. The results showed at least five dimensions of students' reading skills: social media as the focus of reading and information sources, social media as a way of life, critical reading skills, self-dialogue when opening and reading social media, and focus on critical thinking in conveying ideas and also selective and wise in the use of social media. This study provides an affirmation of the need for the use of social media to increase the enthusiasm of intensive reading among Keyword: Social media, critical thinking, reading skills Copyright A 2020. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra DOI: http://dx. org/10. 30651/st. Gultom. Rasyid, dan Rafli/Hubungan Penggunaan Media SosialA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Juli 2020 Hal 127Ae138 PENDAHULUAN Berbicara tentang kemajuan teknologi tidak bisa lepas dari media Salah satu yang paling menarik dari perkembangan media sosial adalah terciptanya ragam konten yang ditawarkan bagi para penggunanya. Media sekumpulan aplikasi internet yang berbasis teknologi Web 2. 0 yang memungkinkan penggunanya untuk saling berbagi berbagai hal (Chuah. Media sosial adalah media untuk interaksi sosial, dengan menggunakan teknik komunikasi yang sangat mudah dan scalable. Media sosial adalah penggunaan teknologi berbasis web dan mobile untuk mengubah komunikasi menjadi dialog interaktif (Ziveria. Sementara Meike dan Young . alam Sari Puspita, 2. mengartikan kata media sosial sebagai konvergensi antara komunikasi personal dalam arti saling berbagi diantara individu . o be shared one-to-on. dan media publik untuk berbagi kepada siapa saja tanpa ada batas individu. Media sosial telah menguasai hampir seluruh sisi kehidupan manusia masa kini. Hampir semua orang memiliki akun media sosial bahkan lebih dari satu. Perkembangan tersebut juga memengaruhi dunia pendidikan. Media sosial bukan lagi hanya sebatas media interaksi, tetapi telah berubah menjadi salah satu sarana dalam Salah satu generasi yang sangat akrab dengan internet dan media sosial adalah Generasi Z. Generasi Z adalah generasi yang lahir antara tahun 20002010. Generasi Z disebut juga dengan istilah digital native . enduduk digita. atau i-generation . enerasi interne. Istilah ini diperkenalkan oleh Marc Prensky dalam AuDigital Natives. Digital ImmigrantsAy. Tiga istilah untuk merujuk pada satu makna yang sama. Namun di sini, penulis hanya menggunakan satu istilah saja, yaitu Generasi Z (Putra. Generasi ini sudah sangat akrab dengan internet dan gawai sejak lahir. Hampir semua kegiatan yang mereka lakukan tidak terlepas dari gadget termasuk dalam belajar. Generasi Z sangat intens menggunakan gadget. Data Google Consumer Behaviour dalam Kemp 2018 . alam Supratman, 2. menyatakan bahwa 50% dari total 256,4 juta penduduk Indonesia Setengah jumlah pengguna internet tersebut adalah para digital Fakta ini sekaligus membawa Indonesia menempati posisi keenam pengguna internet terbanyak di dunia. Para ketertarikan tersendiri akan hal-hal yang Pelajar langsung berbondongbondong membuat akun di aplikasi media sosial yang lebih keren. Berbincang-bincang melalui media sosial ataupun messenger mempunyai keseruan tersendiri. Di samping itu, pelajar mempunyai uang saku yang terbatas, jika harus mengobrol di cafe, bertemu langsung atau hanya sekedar menelpon berjam-jam membuat mereka harus mengeluarkan uang lebih untuk hal tersebut. Dengan menggunakan sosial media ataupun messenger tersebut mereka akan lebih hemat dalam hal waktu dan uang mereka. Hal ini mendorong penulis untuk penggunaan gawai pada Siswa Kleas X SMA Budi Mulia. Jakarta dan Bogor. Oleh sebab itu, penulis mengadakan prapenelitian yang dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner secara random atau acak kepada 30 orang siswa. Gultom. Rasyid, dan Rafli/Hubungan Penggunaan Media SosialA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Juli 2020 Hal 127Ae138 Dari pra penelitian tersebut diperoleh hasil sebagai berikut: Siswa SMA Budi Mulia 100% memiliki dan menggunakan gadget setiap hari. Sekitar 66,6% menghabiskan waktu jam/hari, menghabiskan waktu selama 6-7 jam/hari, 10% menghabiskan waktu selama 4-5 jam/hari, dan 6,6% menghabiskan waktu selama jam/hari. Pemakaian gadget selama 8-9 jam sehari merupakan persentase yang paling tinggi menunjukkan bahwa hampir separuh waktu beraktivitas dipakai untuk bermain gadget. Sementara menggunakan gadgetnya untuk mencari hiburan sebesar 50%, chatting sebesar 20%, update status sebesar 16%, dan belajar sebesar 13%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa siswa menggunakan gawai dominan untuk mencari hiburan dan sangat kecil persentase yang menggunakan gawai untuk belajar. Sedangkan aplikasi yang paling banyak diakses adalah instagram sebesar 40%, facebook sebesar 33%, games online 16,6% dan youtube sebesar 10%. Dari hasil tersebut, disimpulkan bahwa siswa menggunakan gagdet untuk mengakses media sosial yang lebih banyak menyuguhkan Hal ini dibuktikan dari hasil pra penelitian yang menyatakan bahwa 57% siswa menggunakan gadget untuk belajar karena ada tugas/PR, atas inisiatif sendiri sebesar 23%, ingin hal baru sebesar 17% dan iseng sebesar 3%. Sayangnya frekuensi dan durasi penggunaan media sosial yang begitu peningkatan nilai dan prestasi siswa, terutama dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini terbukti dari nilai rata-rata Bahasa Indonesia sejak tahun ajaran 2016-2019: 52,3% berada di grade B . dan 47,7% grade C . Melihat hasil prestasi belajar tersebut, penulis melakukan wawancara pra penelitian kepada 15 orang siswa untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya nilai bahasa Indonesia Dari wawancara tersebut diperoleh faktorfaktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan siswa dalam berbahasa Indonesia, yakni: . malas membaca. teks bacaan terlalu panjang. terlalu banyak istilah atau kata-kata yang tidak dipahami. tidak memahami maksud pertanyaan. sulit menentukan kata kunci dalam teks. Malas membaca merupakan faktor utama. Rasa malas ini bisa timbul karena faktor ketidaktahuan atau rendahnya kemampuan berpikir kritis. Ketidakmampuan memahami teks secara mendalam tersebut secara otomatis dipengaruhi oleh lemahnya kemampuan berpikir kritis siswa. Menurut Paul. Fisher dan Nosich berpikir kritis adalah metode berpikir mengenai hal, substansi atau masalah meningkatkan kualitas pikirannya dengan menangani secara terampil struktur yang melekat dalam pemikiran standar-standar intelektual padanya (Fisher, 2. Sebagaimana menurut Ennis . alam Amir, 2. bahwa berpikir kritis merupakan berpikir logis atau masuk akal yang berfokus pada pengambilan keputusan tentang yang dipercaya dan dilakukan seseorang. Kemampuan berpikir kritis ini sangat diperlukan dalam pembelajaran keterampilan membaca intensif dalam pelajaran bahasa Indonesia seperti yang terdapat dalam kurikulum Nasional 2013, yaitu Kompetensi Inti 3 (K. Gultom. Rasyid, dan Rafli/Hubungan Penggunaan Media SosialA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Juli 2020 Hal 127Ae138 AuMemaham, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa pengetahuan, teknologi, seni,budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalahAy Lalremruati . alam Putri, 2. mengartikan membaca intensif adalah jenis bacaan yang mengharuskan pembaca untuk membaca dengan intens Jenis bacaan ini selalu memiliki tujuan tertentu. Tujuannya adalah untuk mencapai spesifik informasi dari teks yang sedang Dapat dibandingkan dengan bacaan yang luas. Sementara itu. Melinda . mengartikan membaca intensif sebagai aktivitas membaca yang ditempuh dengan sangat teliti, dengan tujuan memahami keseluruhan isi bacaan agar pesan yang disampaikan lebih merasuk ke otak dan hati, baik itu berupa pokokpokok pikiran dalam paragraf maupun pikiran penjelas yang terdapat dalam Menurut Gillet & Temple . alam Harras, membaca: Reading is making sense of written language. Membaca ialah memberi makna terhadap bahasa tulis. Jadi menurut definisi ini kegiatan yang paling mendasar dari proses membaca ialah membuat pengertian. Maksudnya ialah memperoleh dan menciptakan gagasan, informasi, serta imaji mental dari segala sesuatu yang dicetak. Pearson dan Tierney . alam Tristiantari Sumantri, membaca sebagai proses mental yang mendapatkan makna teks. Oleh sebab itu, proses memahami teks yang dibaca melibatkan aktivitas-aktivitas kognitif, khususnya yang melibatkan kesadaran Lebih jauh. Pearson dan Tierney membaca sebagai proses mental yang aktif melibatkan pengajaran untuk mendapatkan makna teks yang Berdasarkan latar belakang dan fenomena yang dipaparkan di atas, maka penulis ingin mengetahui lebih jauh tentang Hubungan Penggunaan Media Sosial dan Berpikir Kritis terhadap Keterampilan Membaca Intensif pada Siswa Kelas X SMA Budi Mulia Jakarta dan Bogor. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Anggraeni, dkk. , . dimana hasilnya menunjukkan bahwa gawai adalah salah satu media elektronik dan sumber informasi yang sering digunakan oleh kalangan masyarakat sebagai teknologi yang memiliki tujuan dan fungsi praktis. Gawai juga sangat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar dan menjadi media yang mudah digunakan. Sementara itu, hasil penelitian Resmiati . peningkatan kemampuan membaca intensif dan kemampuan analisis siswa dalam penelitian ini dapat terjadi karena melibatkan proses berpikir analisis pada Penggunaan keterampilan berpikir kritis secara bersama-sama memiliki hubungan yang erat dengan keterampilan membaca intensif siswa. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Sariyem . dan Husna . yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kemampuan berpikir kritis siswa Gultom. Rasyid, dan Rafli/Hubungan Penggunaan Media SosialA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Juli 2020 Hal 127Ae138 dengan minat baca dan kemampuan membaca siswa, siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis cenderung memiliki kemampuan membaca yang Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Prayitni . Changwong. Sukkamart, dan Sisan . Putu et al. Bin Tahir . penggunaan media sosial terhadap keterampilan membaca intensif. Penelitian ini mengajukan dan membatasi pada 3 . variabel, yaitu variabel pengunaan media sosial (X. dan variabel kemampuan berpikir kritis (X. ndependent mempengaruhi variabel keterampilan membaca intensif (Y) sebagai variabel terikat . ependent variabl. METODE Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian Penelitian korelasi adalah penelitian yang dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih, tanpa melakukan perubahan, tambahan, atau manipulasi terhadap data yang memang (Arikunto, 2010:. Penelitian ini terdiri dari dua variabel bebas, yaitu penggunaan media sosial (X. dan berpikir kritis (X. , dan satu variabel terikat yaitu keterampilan membaca intensif (Y). Data penelitian dikumpulkan Penelitian ini mendistribusikan 157 kuesioner kepada para siswa dengan baik dan hanya 139 kuesioner yang kembali dan dinyatakan layak untuk digunakan sebagai basis data penelitian. Seterusnya item-item atau parameter diberikan kode: 1 = sangat tidak setuju, 2 = tidak setuju, 3 = netral, 4 = setuju, dan 5 = sangat setuju. Di bawah ini adalah 27 item penelitian dengan kode dan penjelasan sebagai berikut: Tabel 2 Konstruksi Media Sosial. Berpikir Kritis, dan Ketrampilan Membaca Intensif Kode P10 P11 P12 P13 ITEMS Ae Parameter Dalam sehari saya mengakses media sosial 10-20 kali Dalam sehari saya mengakses media sosial 20-300 kali Dalam sehari saya menghabiskan 6 jam lebih Aktif di media sosial memberi banyak manfaat Saya merasa gelisah ketika tidak membawa gawai Saya merasa bahagia saat bisa eksis di media sosial Saya bahagia postingan saya mendapat respon yang positif Saya senang karena media sosial memberikan kemudahan. Saya marah ketika ada orang yang mengkritik saya secara terbuka di media sosial Saya menggunakan media sosial karena jangkauannya luas, tak terbatas ruang dan waktu Saya bisa mengakses apa saja yang saya inginkan Media sosial membantu saya untuk mengaktualisasikan diri Data atau dokumen saya tidak hilang, sewaktu-waktu bisa dipakai lagi Gultom. Rasyid, dan Rafli/Hubungan Penggunaan Media SosialA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Juli 2020 Hal 127Ae138 ITEMS Ae Parameter Media sosial mendorong saya ingin tahu Media sosial merupakan bagian dari gaya hidup saya Media sosial memberikan beragam pilihan atau konten sesuai kebutuhan Saya dapat memfokuskan pikiran saat membaca Saya langsung fokus pada pokok persoalan dalam membaca Saya menyampaikan ide atau gagasan disertai alasan Saya membandingkan Informasi yang saya terima dengan informasi lain Saya menyampiakan ide dan pikiran dengan jelas untuk menghindari makna ambigu Saya mengkaji ulang tindakan yang saya ambil Saya mengkaji ulang keputusan saya agar berjalan sesuai rencana Saya dapat memahami makna kata demi kata Saya memahami maksud dan tujuan bacaan yang saya baca Saya mengevalusi cara membaca Saya Saya mampu mengevaluasi sejuah mana penguasaan saya terhadap Kode P14 P15 P16 P17 P18 P19 P20 P21 P22 P23 P24 P25 P26 P27 HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Validitas dan Realiabilitas Uji validitas dan reabilitas dilakukan menggunakan Scale Corrected Item-Total Correlation. Nilai tersebut adalah nilai Validitas Butir. Sedangkan nilai CroncbachAos Alpha if Item Deleted adalah nilai Reliabilitas Butir. Untuk menilai apakah nilai-nilai di atas (Validitas Butir dan Reliabilitas Buti. valid dan reliabel, bandingkan dengan R Tabel Pada DF=N-2 pada tingkat Probabilitas 0,05. Nilai DF dalam penelitian ini di mana jumlah sampel . Ae 2 = 137. R Tabel pada DF 141 Probabilitas 0,05 adalah 0,1666. Tabel 1 Reliability Statistics Cronbach's Cronbach's Alpha N of Alpha Based on Standardized Items Items Nilai Corrected Item-Total Correlation > R tabel 0,1666 yang berarti ke-36 item pertanyaan dalam kuesioner tersebut valid. Dalam hal ini terdapat 13 parameter yang memiliki Corrected Item-Total Correlation >R tabel 0,1666. Artinya, ke-13 item pertanyaan tidak valid. Nilai CronbachAos Alpha Based Standardized Items adalah 0,795 > R tabel 0,1666. yang berarti tes secara keseluruhan reliabel. Sementara nilai CroncbachAos Alpha if Item Deleted pada semua item pertanyaan 1 - 49 nilainya > CroncbachAos Alpha minimum 0,6 yang artinya semua item pertanyaan yang digunakan dalam penelitian ini reliabel. Gultom. Rasyid, dan Rafli/Hubungan Penggunaan Media SosialA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Juli 2020 Hal 127Ae138 Tabel 2 Uji Korelasi Pearson Correlation Sig. -taile. Pearson Correlation Sig. -taile. Pearson Correlation Sig. -taile. Correlation is significant at the 0. 05 level . -taile. Analisis Korelasi Pada analisis korelasi di atas terlihat bahwa tingkat korelasi antara variabel Y dan X1 adalah 0. 829, yang berarti, nilai korelasi Young, ada hubungan substansial atau sangat kuat antara kedua variabel tersebut. Ini juga berarti bahwa variabel X1 (Penggunaan Media Sosia. memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap variabel Y (Keterampilan Membaca Kriti. Variabel X1 adalah penggunaan medsos, sedangkan Variabel Y adalah Sementara variabel Y memiliki nilai 720 dengan variabel X2 (Berpikir Kriti. yang berarti bahwa hubungan kedua variabel tersebut juga sangat substansial. Ini juga berarti bahwa variabel X2 memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap variabel Y. Analisis Regresi Analisis menggunakan pengujian Durbin Watson (DW). Ada dua analisis utama dalam analisis regresi. Pertama adalah analisis regresi linier, dan yang kedua adalah uji Analisis regresi dengan lebih dari memerlukan uji korelasi otomatis. Korelasi otomatis adalah hubungan yang terjadi antara variabel independen. Hubungan seperti itu tidak diperbolehkan. Tes korelasi otomatis dapat dilakukan dengan pengujian Durbin Watson (DW) sebagai berikut: 1,65 2. 79 ada korelasi-otomatis. Tabel 3 Model Summary Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate DurbinWatson Gultom. Rasyid, dan Rafli/Hubungan Penggunaan Media SosialA Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. No. Juli 2020 Hal 127Ae138 Seperti yang disajikan pada tabel 3 dapat dilihat bahwa kolom R adalah koefisien korelasi Pearson yang menunjukkan tingkat hubungan antara variabel dependen (Variabel Y) dan variabel prediktor (Variabel X1 dan X. Nilai 0,717 dalam kolom R menunjukkan bahwa hubungan di antara mereka sangat kuat. Kolom Adjusted R Square sebesar 0,714 berarti bahwa 71% dari variabel kemampuan membaca intensif dijelaskan oleh variable predictor, yaitu variabel penggunaan medsos dan keterampilan berpikir kritis. Setelah itu, periksa koefisien korelasi untuk setiap yang lebih besar dari 0,9. Jika ada yang ditemukan maka mungkin ada masalah yang bisa timbul karena singularitas data. Seperti dapat dilihat pada tabel 6 korelasi matriks, tidak ada nilai koefisien korelasi yang lebih kecil dari 0,05 dan yang lebih besar dari 0,9, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada masalah yang bisa muncul dalam penelitian. Hal ini juga berarti bahwa peran ataupun pengaruh media sosial bersama-sama dengan keterampilan berpikir kritis para siswa sangat kemampuan membaca intensif para Kolom Durbin-Watson (DW) memiliki nilai 1,742, yang berada di kisaran 1,65