Third Conference on Research and Community Services STKIP PGRI Jombang Berinovasi di Masa Pandemi "Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di Era Kampus Merdeka-Merdeka Belajar" 11 SEPTEMBER 2021 ANALISIS PROSES BERPIKIR KRITIS MAHASISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL AKAR BILANGAN KOMPLEKS BERDASARKAN KEMAMPUAN MATEMATIKA Widya Ana Rahayu1. Wiwin Sri Hidayati2. Abd Rozak3 SMK PGRI 1 JOMBANG. Jln. Pattimura V/75 Jombang. Telp. /Fax . STKIP PGRI JOMBANG. Jln. Pattimura i/20 Jombang. Telp. /Fax . 861319/ . 854319 widyanar03@gmail. com , winrambo@ymail. com, 3abd. rozak8707@gmail. Abstract The purpose of this study is: analyzing the critical thinking process of students with high, moderate, low mathematical ability in solving complex number root problems based on Facione theory. This type of research is descriptive qualitative research. The subjects in this study were 3 students of semester 6 of Mathematics Education program STKIP PGRI Jombang with high, medium and low math skills. Instruments in the study are test sheet and interview guidelines. The results of this study show that: . subjects with high mathematical abilities have used critical thinking processes well in solving problems. subjects with moderate mathematical abilities also use critical thinking processes well in solving problems. subjects with low mathematical ability meet only 3 critical thinking indicators, namely indicators of analysis, evaluation and self-regulation. Keywords: Analysis. Critical Thinking. Math Skills. Abstrak Tujuan penelitian ini yaitu: menganalisis proses berpikir kritis mahasiswa berkemampuan matematika tinggi, sedang, rendah dalam menyelesaikan soal akar bilangan kompleks berdasarkan teori Facione. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah 3 mahasiswa semester 6 prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Jombang dengan kemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah. Instrumen dalam penelitian adalah lembar tes dan pedoman Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: . subyek dengan kemampuan matematika tinggi telah menggunakan proses berpikir kritis dengan baik dalam menyelesaikan soal. subyek dengan kemampuan matematika sedang juga menggunakan proses berpikir kritis dengan baik dalam menyelesaikan soal. subyek dengan kemampuan matematika rendah hanya memenuhi 3 indikator berpikir kritis yaitu indikator analisis, evaluasi dan regulasi diri. Kata Kunci: Analisis. Berpikir Kritis. Kemampuan matematika. PENDAHULUAN Dalam setiap kurikulum pendidikan nasional Indonesia, mata pelajaran matematika selalu diajarkan disetiap jenjang pendidikan, tidak terkecuali di perguruan tinggi. Salah satu aspek penting dalam matematika di perguruan tinggi adalah kemampuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang harus dimiliki mahasiswa di abad 21 ini. Sebab kemampuan berpikir kritis memungkinkan mahasiswa untuk menyelesaikan masalah yang rumit dan kompleks di dalam kehidupan sehari Ae hari. Kemampuan berpikir kritis didapat setelah belajar banyak teori dari beragam disiplin ilmu. Ilmu tersebut dikolaborasi untuk menyelesaikan suatu masalah. Hal ini sejalan dalam buku (Paul. , 2. menegaskan tentang pentingnya berpikir kritis dalam diri seorang mahasiswa yang bertujuan agar mampu mencermati berbagai fenomena dan Klurik dan Rudnick (Sabandar, 2. menyatakan bahwa yang termasuk berpikir kritis dalam matematika adalah berpikir yang menguji, mempertanyakan, menghubungkan, mengevaluasi semua aspek yang ada dalam suatu situasi maupun dalam suatu masalah. Ennis . mengemukakan bahwa berpikir kritis merupakan suatu proses yang bertujuan agar kita dapat membuat keputusankeputusan yang masuk akal, sehingga apa yang kita anggap terbaik tentang suatu kebenaran dapat kita lakukan dengan benar. Menurut Seriven dan Paul (Suwarma, 2. berpikir kritis merupakan sebuah proses intelektual dengan melakukan pembuatan konsep, penerapan, melakukan sintesis, dan atau mengevaluasi informasi yang diperoleh dari observasi, pengalaman, refleksi, pemikiran atau komunikasi sebagai dasar untuk meyakini dan melakukan suatu Menurut (Wijaya, 2. berpikir kritis yaitu kegiatan menganalisis ide atau gagasan ke arah yang lebih spesifik, membedakannya secara tajam, memilih, mengidentifikasi, mengkaji dan mengembangkannya ke arah yang lebih Berpikir kritis adalah berpikir rasional dalam menilai sesuatu. Sebelum mengambil suatu keputusan atau melakukan suatu tindakan, maka dilakukan pengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang sesuatu tersebut. Pada dasarnya kemampuan berpikir kritis erat kaitannya dengan proses berpikir kritis dan indikator-indikatornya. Indikator berpikir kritis dapat dilihat dari karakteristiknya sehingga dengan memiliki karakteristik tersebut seseorang dapat dikatakan telah memiliki kemampuan berpikir kritis. Facione dalam Kowiyah . juga membagi proses berpikir kritis menjadi enam indikator yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, inference, penjelasan dan regulasi diri. Tabel 1. Indikator Proses Berpikir Kritis Menurut Facione Indikator Umum Interpretasi Analisis Indikator 1 Memahami maksud dari soal. 2 Menentukan apa yang diketahui dan ditanyakan dalam soal. 1 Mengidentifikasi konsep yang digunakan dalam menyelesaikan soal. 2 Menentukan ide dalam menyelesaikan Evaluasi Inferensi Eksplanasi Regulasi diri 1 Menggunakan strategi yang telah ditentukan untuk menyelesaikan soal 2 Mengevaluasi apakah ada kesalahan dalam menggunakan strategi yang digunakan dalam menyelesaikan soal. 1 Menduga alternatif lain 2 Menarik kesimpulan dari apa yang telah dilakukan. Menjelaskan kesimpulan yang diambil . Mereview dilakukan . erkait pada kinerja dir. Mahasiswa dalam suatu kelas mempunyai perbedaan, diantaranya adalah perbedaan dalam hal pengetahuan dan ketrampilan atau disebut kemampuan Menurut Aini . kemampuan matematika yaitu pengetahuan dan ketrampilan dasar yang diperlukan untuk dapat melakukan manipulasi matematika meliputi pemahaman konsep dan pengetahuan procedural. Siswono . menambahkan bahwa perbedaan kemampuan peserta didik dalam memahami konsep matematika dapat menyebabkan adanya perbedaan kemampuan peserta didik dalam memecahkan suatu masalah. Sehingga tingkatan kemampuan matematis dapat dibedakan menjadi 3 tingkatan yaitu tingkat kemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah. Pada penelitian ini, peneliti mengukur kemampuan matematika mahasiswa dalam 3 tingkatan yaitu kemampuan tinggi, kemampuan sedang dan kemampuan rendah. Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa . arangan, perbuatan, dan sebagainy. untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya . ebab musabab, duduk perkaranya, dan sebagainy. , dan kesalahan yang artinya perihal kealpaan (KBBI, 2. Tujuan penelitian ini yaitu: menganalisis proses berpikir kritis mahasiswa berkemampuan matematika tinggi, sedang, rendah dalam menyelesaikan soal akar bilangan kompleks. Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan berpikir kritis mahasiswa semester 6 prodi Pendidikan Matematika yang memprogram mata kuliah Fungsi Variabel Kompleks di STKIP PGRI Jombang. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan pada perkuliahan semester enam bulan Maret-Juni tahun 2021 di STKIP PGRI Jombang yang berlokasi di Jalan Pattimura i/20 Jombang. Jawa Timur. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester 6 prodi Pendidikan Matematika yang memprogram mata kuliah Fungsi Variabel Kompleks di STKIP PGRI Jombang. Mahasiswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan matematika, kemudian peneliti memilih satu mahasiswa dari setiap kelompok kemampuan matematika untuk dijadikan subjek penelitian. Instrumen pada penelitian ini ada dua, yaitu: Instrumen utama . dan instrumen pendukung . embar tes, pedoman wawancara dan dokumentas. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan Teknik keabsahan data pada penelitian ini menggunakan triangulasi waktu yaitu dengan cara memberikan tes dan wawancara dalam waktu atau situasi yang berbeda sampai di temukan kepastian datanya sehingga layak untuk dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Analisis data untuk menganalisis proses berpikir kritis berdasarkan teori Facione pada mahasiswa berkemampuan matematika tinggi, sedang, rendah dalam menyelesaikan soal akar bilangan kompleks. HASIL DAN PEMBAHASAN Subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa semester 6 prodi Pendidikan Matematika yang memprogram mata kuliah Fungsi Variabel Kompleks di STKIP PGRI Jombang. Untuk dapat mengetahui kemampuan awal matematika mahasiswa, penentuannya dilakukan melalui tes kemampuan awal sebagai tes awal yang merujuk pada indikator pembelajaran. Pelaksanaan tes kemampuan awal matematika mahasiswa dalam penelitian ini dilakukan pada bulan April Tes tersebut berlangsung selama 60 menit di akhir perkuliahan. Penggunaan jam tersebut sesuai dengan jadwal mata kuliah Fungsi Variabel Kompleks. Berdasarkan hasil tes kemampuan awal matematika mahasiswa dapat diperoleh data sebagai berikut. Tabel 2. Deskripsi Kemampuan Matematika Mahasiswa Semester 6 Prodi Matematika STKIP PGRI Jombang No. Kemampuan Matematika Banyak Mahasiswa Persentase Tinggi Sedang Rendah Total Didapatkan Rata-rata . = 67,30 dan nilai Standar Deviasi (SD) = 17. Kriteria pengelompokan subyek penelitian berdasarkan penilaian kemampuan awal mahasiswa sebagai berikut (Arikunto, 2. : . Kriteria kelompok mahasiswa dengan kemampuan awal tinggi , . Kriteria kelompok mahasiswa dengan kemampuan awal sedang , . Kriteria kelompok mahasiswa dengan kemampuan awal renda Berdasarkan data pada tabel 2, dari 26 mahasiswa semester 6 Prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Jombang, prosentase mahasiswa berkemampuan awal matematika tinggi, sedang, dan rendah masing-masing terdapat 12 %, 69 %, dan 5 % mahasiswa. Selanjutnya, untuk menentukan subjek penelitian tersebut dipilih 1 mahasiswa dari masing-masing kelompok kemampuan matematika dengan kriteria yang dapat mengemukakan pendapat dengan baik karena cara yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data adalah dengan wawancara berdasarkan hasil tes kemampuan berpikir kritis yang dikerjakan oleh subjek penelitian. Oleh karena itu, berdasarkan kecocokan data yang diperoleh, peneliti menentukan subjek penelitian dengan kemampuan awal matematika tinggi, sedang dan rendah sebagai subjek untuk mendapatkan data utama terkait informasi tentang kemampuan berpikir kritis mahasiswa berkemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah dalam mengerjakan soal fungsi variable kompleks materi akar bilangan kompleks. Adapun rincian masingmasing subjek yang terpilih disajikan dalam Tabel 3. Tabel 3. Penetapan Subjek Penelitian Kemampuan Awal Matematika Tinggi Sedang Rendah Skor Tes Kode Subyek Tabel 3 menunjukkan tiga subjek yang terpilih pada masing-masing kategori kemampuan awal matematika. Setelah dilakukan pemilihan subjek, selanjutnya subyek diberikan tes berpikir kritis dan diwawancarai. Berikut deskripsi proses berpikir kritis mahasiswa berdasarkan kemampuan matematika: Subyek S1 Pada indicator Interpretasi subyek menuliskan informasi yang diketahui dan yang ditanyakan dari soal dengan lengkap. Terlihat subyek juga mengidentifikasi setiap informasi yang diketahui dari soal. Gambar 1 menunjukkan hasil pekerjaan subyek S1 pada indicator menginterpretasi. Gambar 1. Hasil pekerjaan subyek S1 pada indikator menginterpretasi Hasil wawancara subyek menjelaskan soal adalah materi akar bilangan kompleks karena subyek mengidentifikasi informasi dalam soal ada elemen i yang merupakan bilangan kompleks dan juga bilangan itu berpangkat pecahan yang bisa diubah dalam bentuk akar. Subyek juga menjelaskan informasi yang diketahui dan pertanyaan yang dimaksudkan dalam soal dengan jelas dan logis. Pada indikator analisis subyek menuliskan informasi dalam soal ke dalam bentuk symbol dan konsep yang akan digunakan dalam menyelesaikan soal seperti yang terlihat pada gambar 2 berikut: Gambar 2. Hasil pekerjaan subyek S1 pada indikator analisis Hasil wawancara subyek menjelaskan setiap symbol yang digunakan dalam penyelesaian soal. Subyek juga menjelaskan ide yang dilakukan dalam menyelesaikan soal. Pada indikator evaluasi subyek menggunakan strategi yang telah dilakukan dalam menyelesaikan soal seperti gambar 3 berikut ini: Gambar 3. Hasil pekerjaan subyek S1 pada indikator evaluasi Hasil wawancara subyek juga menjelaskan penggunaan strategi yang dilakukan dalam menyelesaikan soal. Subyek juga mengevaluasi setiap langkah penggunaan strategi dalam menyelesaikan soal Pada indikator inferensi subyek tidak menuliskan kesimpulan dari penyelesaian soal namun menggambarkan nilai yang dihasilkan dalam diagram argand. Hasil wawancara subyek menjelaskan bahwa sementara hanya seperti yang dikerjakan untuk alternatif jawaban yang ada. Subyek juga menjelaskan kesimpulan bahwa hasil dari diperoleh 4 akar dan juga menggambarkan pada diagram argand, bahwasanya diperoleh pada kuadran 1, pada kuadran 2, pada kuadran 3, dan terletak pada Pada indikator eksplanasi subyek menjelaskan argumen dari kesimpulan yang diperoleh yaitu karena n =4 sehingga k = 0, 1, 2, 3 dan hasilnya , , . Pada indikator regulasi diri subyek menjelaskan merivew jawaban yang telah dilakukan setelah selesai mengerjakan soal yaitu dengan mengecek dari awal mulai nilai r, , penentuan n lalu substitusikan ke rumus dan hitung lagi untuk mencari akar bilangan kompleks mulai dari nilai , juga menggambar dalam diagram argand untuk meyakinkan ilustrasi hasil yang Subyek S2 Pada indikator Interpretasi subyek menuliskan informasi yang diketahui dan yang ditanyakan dari soal dengan lengkap. Terlihat subyek juga mengidentifikasi setiap informasi yang diketahui dan memahami permasalahan dari soal. Gambar 4 menunjukkan hasil pekerjaan subyek S2 pada indicator Gambar 4. Hasil pekerjaan subyek S2 pada indikator menginterpretasi Hasil wawancara subyek menjelaskan soal adalah materi akar bilangan kompleks karena subyek mengidentifikasi informasi dalam soal bahwa bilangan berpangkat yang bisa dinyatakan dalam bentuk akar pangkat 4. Subyek juga menjelaskan informasi yang diketahui dan pertanyaan yang dimaksudkan dalam soal dengan jelas dan logis. Pada indikator analisis subyek menuliskan informasi dalam soal ke dalam bentuk symbol dan konsep yang akan digunakan dalam menyelesaikan soal seperti r merupakan modulus dari Z, merupakan sudut. Z adalah bilangan kompleks, dan n adalah banyaknya data pada Z. Konsep yang digunakan yaitu konsep trigonometri, konsep teorema De Moivre Hasil wawancara subyek menjelaskan setiap symbol yang digunakan dalam penyelesaian soal. Subyek juga bisa menjelaskan ide dan langkah-langkah yang digunakan dalam menyelesaikan soal. Pada indikator evaluasi subyek menggunakan strategi yang telah dilakukan dalam menyelesaikan soal seperti gambar 5 berikut ini: Gambar 5. Hasil pekerjaan subyek S2 pada indikator evaluasi Hasil wawancara subyek juga menjelaskan penggunaan strategi yang dilakukan dalam menyelesaikan soal. Subyek juga mengevaluasi setiap langkah penggunaan strategi dalam menyelesaikan soal. Pada indikator inferensi subyek menuliskan kesimpulan dari penyelesaian sesuai dengan yang ditanyakan dalam soal seperti yang terlihat dalam gambar 6 Gambar 6. Hasil pekerjaan subyek S2 pada indikator inferensi Hasil wawancara subyek menjelaskan bahwa ada cara lain untuk menyelesaikan namun subyek berpendapat bahwa langkah yang digunakan lebih mudah dalam menyelesaikan soal tersebut. Subyek juga menjelaskan kesimpulan bahwa hasil yaitu nilai Pada indikator eksplanasi subyek menjelaskan argumen dari kesimpulan yang diperoleh karena n=4 maka k = 0, 1, 2, 3 sehingga hasil yang didapatkan yaitu Pada indikator regulasi diri subyek menjelaskan cara merivew jawaban yang telah dilakukan setelah selesai mengerjakan yaitu meneliti ulang pekerjaan dan menghitung lagi dari awal. Subyek S3 Pada indikator interpretasi subyek tidak menuliskan informasi yang diketahui dan yang ditanyakan dari soal. Berdasarkan wawancara subyek memang tidak terbiasa untuk menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan setiap kali menyelesaikan soal namun subyek menjelaskan bahwa soal itu mencari nilai akar bilangan kompleks dan hasilnya dinyatakan dalam bentuk Pada indikator analisis subyek menuliskan informasi dalam soal ke dalam bentuk symbol dan konsep yang akan digunakan dalam menyelesaikan soal seperti yang terlihat pada gambar 7 berikut: Gambar 7. Hasil pekerjaan subyek S3 pada indikator analisis Hasil wawancara subyek menjelaskan setiap symbol yang digunakan dalam penyelesaian soal. Subyek juga menjelaskan ide dan langkah yang digunakan dalam menyelesaikan soal yaitu pertama mengetahui apa saja yang diketahui dari Kedua, menentukan rumus akar bilangan kompleks (Dalil De Moivr. Ketiga, cari nilai dengan rumus Keempat, cari nilai dengan Kelima, cari nilai sebagai akar ke- dengan menggunakan rumus bilangan bulat dan anggota bilangan asli. Pada indikator evaluasi subyek menggunakan strategi yang telah dilakukan dalam menyelesaikan soal seperti gambar 8 berikut ini: Gambar 8. Hasil pekerjaan subyek S3 pada indikator evaluasi Hasil wawancara subyek juga menjelaskan penggunaan strategi yang dilakukan dalam menyelesaikan soal. Subyek juga mengevaluasi setiap langkah penggunaan strategi dalam menyelesaikan soal dengan mengecek kembali setiap langkah Pada indikator inferensi subyek tidak menuliskan kesimpulan dari penyelesaian soal namun setiap nilai yang dihasilkan diberi tanda garis dua dibawahnya sebagai pertanda memperjelas hasil yang didapatkan seperti yang terlihat pada gambar 8 di atas. Hasil wawancara subyek menjelaskan bahwa tidak ada cara lain untuk menyelesaikan soal tersebut selain cara yang digunakan Berdasarkan hasil wawancara subyek memang tidak terbiasa untuk menuliskan kesimpulan setiap kali menyelesaikan soal namun subyek dapat menjelaskan kesimpulan hasil yang didapatkan yaitu nilai akar dari Pada indikator eksplanasi subyek tidak menjelaskan argumen dari kesimpulan yang diperoleh. Pada indikator regulasi diri subyek menjelaskan merivew jawaban yang telah dilakukan setelah selesai mengerjakan soal dengan mengecek setiap langkah perhitungan serta membenarkan perhitungan yang tidak tepat. SIMPULAN DAN SARAN SIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa proses berpikir kritis mahasiswa dalam menyelesaikan soal berdasarkan kemampuan matematika adalah sebagai Berpikir kritis subyek dengan kemampuan matematika tinggi adalah: . Pada indikator interpretasi subyek menuliskan informasi yang diketahui dan yang ditanyakan dari soal dengan lengkap. Hasil wawancara subyek mengidentifikasi dan menjelaskan informasi yang diketahui dan pertanyaan yang dimaksudkan dalam soal dengan jelas dan logis. Pada indikator analisis subyek menuliskan informasi dalam soal ke dalam bentuk symbol dan konsep yang akan digunakan dalam menyelesaikan soal. Hasil wawancara subyek menjelaskan setiap symbol yang digunakan dan menjelaskan langkah yang dilakukan dalam menyelesaikan soal. Pada indikator evaluasi subyek menggunakan strategi yang telah dilakukan dalam menyelesaikan soal. Hasil wawancara subyek juga menjelaskan penggunaan strategi yang dilakukan dan mengevaluasi setiap langkah penggunaan strategi dalam menyelesaikan soal. Pada indikator inferensi subyek menuliskan kesimpulan dari penyelesaian soal dalam ilustrasi gambar. Hasil wawancara subyek menjelaskan bahwa sementara hanya seperti yang dikerjakan untuk alternatif jawaban yang ada. Subyek juga menjelaskan kesimpulan yang diperoleh. Pada indikator eksplanasi subyek menjelaskan argumen dari kesimpulan yang diperoleh . Pada indikator regulasi diri subyek menjelaskan merivew jawaban yang telah dilakukan setelah selesai mengerjakan. Berpikir kritis subyek dengan kemampuan matematika sedang adalah: . Pada indikator interpretasi subyek menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan dari soal dengan lengkap, subyek juga mengidentifikasi setiap informasi yang diketahui. Hasil wawancara subyek juga menjelaskan informasi yang diketahui dan pertanyaan yang dimaksudkan dalam soal dengan jelas dan logis. Pada indikator analisis subyek menuliskan informasi dalam soal ke dalam bentuk symbol dan konsep yang akan digunakan dalam menyelesaikan soal. Hasil wawancara subyek menjelaskan setiap symbol yang digunakan dan menjelaskan langkah-langkah yang digunakan dalam menyelesaikan soal. Pada indikator evaluasi subyek menggunakan strategi yang telah dilakukan dalam menyelesaikan soal. Hasil wawancara subyek juga menjelaskan penggunaan strategi yang dilakukan dan mengevaluasi setiap langkah penggunaan strategi dalam menyelesaikan soal. Pada indikator inferensi subyek menuliskan kesimpulan dari penyelesaian sesuai dengan yang ditanyakan dalam soal. Hasil wawancara subyek menjelaskan bahwa ada cara lain untuk menyelesaikan namun subyek berpendapat bahwa langkah yang digunakan lebih mudah dalam menyelesaikan soal tersebut. Pada indikator eksplanasi subyek menjelaskan argumen dari kesimpulan yang diperoleh. Pada indikator regulasi diri subyek menjelaskan cara meriview jawaban yang telah dilakukan dengan meneliti ulang pekerjaan dan menghitung lagi dari awal. Berpikir kritis subyek dengan kemampuan matematika rendah adalah: . Pada indikator interpretasi subyek tidak menuliskan informasi yang diketahui dan yang ditanyakan dari soal. Berdasarkan wawancara subyek memang tidak terbiasa untuk menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan setiap kali menyelesaikan soal. Pada indikator analisis subyek menuliskan informasi dalam soal ke dalam bentuk symbol dan konsep yang akan digunakan dalam menyelesaiakan soal. Hasil wawancara subyek menjelaskan setiap symbol yang digunakan dan menjelaskan langkah yang digunakan dalam menyelesaikan soal dengan rinci. Pada indikator evaluasi subyek menggunakan strategi yang telah dilakukan dalam menyelesaikan soal dan bisa menjelaskan ketika wawancara. Subyek juga mengevaluasi setiap langkah penggunaan strategi dalam menyelesaikan soal. Pada indikator inferensi subyek tidak menuliskan kesimpulan dari penyelesaian soal namun setiap yang dihasilkan diberi tanda garis dua dibawahnya sebagai pertanda memperjelas hasil yang didapatkan. Subyek menjelaskan bahwa tidak ada cara lain untuk menyelesaikan soal tersebut selain cara yang digunakan subyek. Berdasarkan hasil wawancara subyek memang tidak terbiasa untuk menuliskan kesimpulan setiap kali menyelesaikan soal. Pada indikator eksplanasi subyek tidak menjelaskan argumen dari kesimpulan yang diperoleh dengan rinci. Pada indikator regulasi diri subyek menjelaskan merivew jawaban yang telah dilakukan setelah selesai mengerjakan soal dengan mengecek setiap langkah perhitungan serta membenarkan perhitungan yang tidak tepat. SARAN Proses berpikir kritis mahasiswa dengan kemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah cenderung berbeda pada setiap tahapan proses berpikir Oleh karena itu peneliti menyarankan agar pendidik hendaknya sering melatih mahasiswa dengan soal-soal yang dapat mengembangkan berpikir kritis mahasiswa di masa yang akan atang. Penelitian ini hanya menggunakan materi akar bilangan kompleks. Oleh karena itu diharapkan bagi penelitian selanjutnya yang akan mengkaji hal serupa dengan menggunakan materi lainnya. Diharapkan deskripsi hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif masukan bagi pendidik dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. DAFTAR PUSTAKA